[ONESHOT] When I Was Your Man

Title : When I Was Your Man
Author : Ndayoongie
Cast : Lee Donghae
Im Yoona
Support  cast : Choi Siwon
Lee Hyukjae
Kwon yuri as Im Yuri
Kim Hyoyeon
Genre : Hurt, Romance
Length : One Shoot
Rate : T
Disclaimer : I only have the story. All cast belongs to them self. I only borrow their name.

image

Baca lebih lanjut

Blue Eyes

cover yeyul

Author n Cover : Dian Senja

Genre   : Fantasy, Romance

Length  : Oneshoot

Cast       : Yesung (SJ)

Yuri (SNSD) dll.

hallooooo, ketemu lagi di ff abal-abal aku.. kali ini makin geje jalan ceritanya..hehe

aku ga bisa bikin cover yang bagus jadi seadanya aja..hehe *maksa.com aku dah pernah post ff ini di WP pribadi aku jadi jangan kaget ya klo ada yang pernah baca.. *GR bgt aku* Oya, tolong jangan di bash castnya ini hanya FF jadi aku hanya pinjam namanya aja.. aku yakin kok readers semuanya bijak. :D

no bash, no plagiat, its just fanfiction, sorry for typo and don’t forget give your comment. ok?

Baca lebih lanjut

Under The Rain

Title :
Under the Rain (비에서)

Author :
Cho Hyeyoung (@kitiwkhys)

Main Cast :
- Jessica Jung / Jung Sooyeon
- Lee Donghae

Support Cast :
- Jung Jinho [OC] (Sica’s Oppa)
- Kim Hyoyeon

Genre :
Romance, Friendship, Family

Rating :
T

Type :
AU (Alternative Universal), One Shoot

Disclaimer :
Plot is MINE and the Characters are belong to God.
DO NOT TRY TO RE-POST / COPYCAT THIS FANFICTION!

*Note :
1. Pernah di publish di Account Facebook pribadiku dengan Main Cast “Myungsoo – Naeun”
2. Mungkin karakter pemain asli tidak sesuai dengan ff ini.
3. Sorry for typos that i made ^^v

Author juga minta maaf karna come back author tidak disertai kelanjutan dari FF ‘Black Soshi’. Karna kesibukan tugas-tugas yang diberikan guru author ㅜ.ㅜ

Baca FF ini? WAJIB COMMENT! #Sekian


Spring…
Incheon, February 2013

Seorang yeoja dengan sebuah koper besar ditangannya, berlari-lari kecil menuju luar sebuah bandara di Incheon. Namun sebelum ia benar-benar keluar dari area bandara, tubuhnya berhenti, menatap nanar kearah luar. Dengan kesal ia berdecak pelan, “Hujan…”

Yeoja itu mengeluarkan smartphone nya, menekan digit-digit nomor yang sudah ia hafal diluar kepalanya dan tombol hijau disana.

“Yoboseo. Oppa! Apa kau tega membiarkanku terdampar di Incheon?! Jemput ak—”

“Mianhae Sooyeon-ya, oppa sedang ada rapat.”

‘Tuut ttuuut

Kesal dengan oppanya, yeoja itu memekik, “YA! MWOYA IGE!!”

Tapi pada akhirnya, yeoja yang dipanggil Sooyeon itu menghela nafas, ia tau akan seperti ini. Buruknya, ia tidak membawa payung. Kini ia hanya menunggu sampai hujan berhenti sebelum ia melangkah lagi menuju halte bis terdekat.

Sebut saja Sooyeon, Jung Sooyeon. Hari ini adalah kepulangannya setelah 10 tahun menetap di California. Ia tinggal disana lantaran orang tua nya yang bercerai 10 tahun lalu, dan alhasil ia dibawa ke daratan perfilm-an dunia oleh ibunya—sementara ayahnya menghilang tanpa jejak.

Hampir satu jam Sooyeon berdiri disana, melihat hujan yang turun dengan damai di awal musim semi ini. Sampai seorang namja—yang tak ia kenal—menyodorkan sebuah payung, “Pakailah.”

Sooyeon mematung, menatap punggung namja yang memberikannya payung. Namja itu sudah berlarian dibawah derasnya hujan tanpa apapun yang melindunginya. Tanpa sadar, senyuman tulus terukir manis dibibirnya.

Dengan perlahan, ia membuka payung tersebut, berjalan melalui rintikan hujan yang mulai mereda dengan payung tersebut.

Seoul…

Kini Sooyeon berdiri terperangah didepan sebuah gedung perkantoran di pusat kota Seoul. Matanya terbelalak tak percaya, dibenaknya saat ini muncul sebuah pertanyaan, ‘Apa benar ini kantornya?’. Dengan langkah ragu-ragu, ia menyeret kakinya memasuki lobby gedung tersebut.

Seorang resepsionis menyambutnya, “Annyeonghasimnikka, Ada yang bisa saya bantu, agassi?” dengan lembut ia menjawab, “Ne, saya ingin bertemu Jung Jaeyeon.”

“Sajangnim? Apa anda sudah membuat janji?”

“Mungkin…” ucapnya ragu, “Tapi tolong antarkan saya ke ruangannya.”

“Mianhamnida agassi, tapi Sajangnim—”

“Huh,” Naeun menghembuskan nafasnya kasar, “Ruangannya ada di lantai 8 bukan? Kalau begitu aku permisi.”

“Agasshi!” resepsionis itu mencoba menahan Naeun, namun seorang namja menahan resepsionis itu terlebih dahulu dengan berkata “Gwaenchanhseumnida, geuyeoja-neun Jaeyeoni hyung yeodongsaengimnida. (Tidak apa-apa, gadis itu adik Jaeyeon hyung)”

***

Tanpa mengetuk dan menghiraukan seorang sekertaris yang duduk di kursinya—tidak jauh dari tempatnya berdiri, Sooyeon langsung menerobos pintu dihadapannya—yang kebetulan tidak dikunci—dan ia mendecak seraya menemukan ruangan besar namun kosong, “Geusaram-eun jinjjayo! (Orang ini benar-benar!)”

“Huh,” Sooyeon menghempaskan tubuhnya di sebuah sofa besar, meregangkan tubuh pegalnya kemudian memejamkan matanya.

Tak terasa sudah lebih dari 30 menit ia disana, dan tanpa sadarnya seorang namja bertubuh tegap dengan lesung pipit menawan masuk kedalam ruangan tersebut dan terperanjat begitu melihat adik sematawayangnya memejamkan mata di sofa, “Sooyeonie.”

“Ngh,” Sooyeon membuka matanya, “Oppa-ya, wasseo?”

“Eung, sejak kapan kau disini?”

“1 abad lalu.” kesalnya, “Darimana saja kau? Adikmu datang berkunjung kau malah mengabaikannya! Oppa macam apa kau ini?” ucap Sooyeon pura-pura marah.

“Arrata, arrata,” ucap namja itu malas, “Geundae, mengapa kau tiba-tiba datang? Ada masalah? Kau bertengkar dengan eomma?”

“Aku ingin hanya ingin liburan. Itu saja.”

“Jinjjayo? Bukankah kau belum libur? Lagipula, mengapa tidak mengajak eomma?”

“Sudahlah, lebih baik kita mencari makanan, aku sangat lapar. Makanan pesawat sangat tidak memuaskanku. Kajjayo, oppa!!”

“Hey, ada apa ini?!”

“Oppa akan tau sendiri nanti.”

Jaeyeon memiringkan kepalanya tanda tak mengerti, adiknya bertingkah sangat aneh beberapa bulan terakhir. Ditambah deringan tanda telpon masuk dari Jaeyeon—yang terhubung dengan telpon rumah—yang tidak pernah dijawab oleh Sooyeon—ataupun ibunya—sejak beberapa bulan lalu. Dan semua persoalan itu makin menjadi ketika Jaeyeon terperangah melihat adik semata wayangnya berada diruangannya.

***

Jaeyeon memperhatikan adiknya yang makan dengan lahap. Seperti seorang yang tidak makan selama beberapa hari. Terlebih dengan tubuh Sooyeon yang—sangat—terlihat kurus dimata Jaeyeon, semuanya cocok.

“Apa masakan oppa sangat enak?” ucap Jaeyeon sambil menyodorkan air putih kehadapan Sooyeon.

“Eung! Kimchinya enak! Bulgoginya sempurna! Daging sapinya tidak terlalu matang—seperti yang kusuka. Lagipula aku sudah lama tidak makan makanan rumah.”

Jaeyeon terkaget. Apa yang dimaksud dengan ‘sudah lama tidak makan makanan rumah’?, pikir Jaeyeon. Sooyeon yang menyadari perkataannya hanya berkata, “Besok kan hari sabtu, ayo kita pergi jalan-jalan!” untuk mengalihkan perhatian Jaeyeon.

“Mianhae, jika besok oppa tidak bisa, ada meeting. Bagaimana kalau lusa? Oppa akan mengajakmu ke Lotte World. Oppa janji.” Sooyeon bernafas lega, setidaknya walaupun ia tidak bisa berjalan-jalan esok namun perhatian Jaeyeon sudah teralihkan.

“Gwaenchanhayo,” ucap Sooyeon, “Ah, sudah malam, sebaiknya oppa mandi lalu tidur, aku akan membereskan semuanya.”

Jaeyeon mengangguk, meninggalkan Sooyeon yang mulai mencuci piring.

Seusai Sooyeon mencuci piring, ia langsung masuk ke kamarnya. Tapi bukanya bersiap untuk tidur, Sooyeon malah menuju balkon dan duduk di sebuah kursi yang ada disana, menatap langit bertabur bintang yang menjadi betuk keindahan alam favoritenya.

“Seandainya hujan, pasti lebih indah.”

Hujan. Entah mengapa Sooyeon sangat suka melihat butiran air yang terjatuh lebih dari langit bertabur bintang. Dan omong-omong tentang hujan, Sooyeon teringat akan peristiwa tadi siang, dimana seorang namja merelakan tubuhnya diguyur air hujan yang dingin karna memberikan payungnya untuk Sooyeon. Seulas senyum kembali terukir di bibir tipis Sooyeon.

Sooyeon meraih payung lipat tersebut, ia perhatikan setiap detilnya. Dan Seoyeon menemukan sebuah bordiran kecil huruf ‘H’ disana. Semakin ia perhatikan, ia merasa bersalah. Merasa bersalah karna tidak mengucapkan rasa terimakasih.

Saat itu karna kesal—dan kaget, Sooyeon tidak sempat mengucapkan terimakasih ataupun tersenyum, bahkan wajah namja itupun ia tidak ingat. Yang Sooyeon ingat hanyalah; rambut coklat pekat acak, bau parfum khas-—yang Sooyeon duga tidak dijual komersil—, dan suara bass yang mengucapkan kata ‘Pakailah’. Dan saat mengingatnya, kembali senyuman itu menghiasi wajah cantiknya.

Namun ingatan itu buyar tatkala ponselnya bordering. Dengan segera, Naeun meraihnya dan men-tap tombol hijau yang ada disana, “Yoboseo.”

“Yoboseo. Ya!!” seseorang memekik disebrang sana, membuat Sooyeon menjauhkan ponselnya. Pekikan yang sangat ia hafal, yang berasal dari sahabat karibnya, “Hyoyeon-ah!!”

“Yaa!! Mengapa ponselmu baru bisa dihubungi?! Aku—” Sooyeon kembali menjauhkan ponselnya dari telinganya sebagai bentuk dari antisipasi nyata(?) terhadap omelan panjang dari seorang Kim Hyoyeon.

Kim Hyoyeon. Gadis berdarah Korea. Sahabat karib Sooyeon yang menetap di California seperti dirinya. 1 point penting tentang Hyoyeon bagi Sooyeon, Kim Hyoyeon adalah seorang yang patut dianggap sebagai kakak.

“Kau dengar itu, Jung Sooyeon?!”

Sooyeon segera mendekatkan ponselnya kembali, “Ne, ajhumma-nim.”

“Yaa! Berani sekali kau!” ucap Hyoyeon, “Ah geundae, aku tidak berminat adu mulut sekarang, langsung to the point saja. Jawab dengan jujur, apa kau kabur dari rumah?”

Sooyeon terdiam, cukup lama tidak muncul perkataan dari sambungan telpon mereka sampai Hyoyeon berkata, “Yoboseo? Sooyeoni, kau disana?”

“Eung,” gumam Sooyeon, “Aku tidak kabur kok, aku hanya liburan.”

“Pergi begitu saja tanpa kabar, bahkan eommamu tidak tau kau di Korea. Apa-apaan kau ini? –”

“Kau ke rumahku kemarin? Dan..dan.. bagaimana kau tau aku ada di Korea?”

“Ne, aku kerumahmu karna ada kuliah pagi—yang pastinya kau lupakan. Masalah kau ada di Korea, ponselmu tidak tersambung saat ditelpon jika aku menelponmu dengan nomor biasa.”

“Ternyata kau cukup pintar, Hyoyeon-ah” ucap Sooyeon. Setelahnya, mereka saling becerita, termasuk insiden tadi siang di bandara. Dan Hyoyeon yang mendengarkan hanya tertawa cekikikan.

“Haha! Ya! Kau menyukai namja itu eoh?”

“Baboya, wajahnya saja aku tidak tau-_-”

“Bahkan kau sampai hafal bau parfumnya~”

“YAA!!”

Hyoyeon tertawa terbahak, dan merekapun mengobrol satu sama lain sampai keduanya diserang hawa kantuk. *Omoya, nelpon interlokal ga mahal tuh? #plak #abaikan-_-*

Keesokan harinya…

Sinar matahari mulai masuk melalui celah sempit jendela kamar Sooyeon, membuat gadis yang terlelap itu membuka matanya perlahan.

Dengan setengah mengantuk, Sooyeon beranjak ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan membasuh wajahnya. Kemudian ia menuju dapur dan menyapa oppa nya yang sedang berkutat dengan peralatan dapur, “Morning oppa.”

“Sudah bangun? Duduklah, oppa sedang membuat pancake.”

Tak beberapa lama, Jaeyeon datang menghidangkan 2 porsi pancake serta coklat panas dan duduk dihadapan Sooyeon.

Di pagi yang cerah itu mereka sarapan dalam diam—hanya beberapa kata saja yang mereka ucapkan, sampai Jaeyeon memakai setelan jas nya dan pergi memenuhi panggilannya di kantor.

Sooyeon memutuskan untuk pergi ke swalayan begitu melihat persediaan makanan mereka menipis. Cuaca memang kurang bersahabat, namun hujan tidak turun sampai Sooyeon menginjakkan kakinya di swalayan terdekat.

Setelah apa yang dibutuhkannya ia dapat, Sooyeon berniat pulang dengan kantung belanja yang penuh. Akan tetapi, baru saja ia sampai di halte bis, hujan mengguyur Gangnam dan sekitarnya, membuat tatapan nanar dan gumaman “Hujan…” kembali terlihat dan terdengar dari Sooyeon.

Bis sedari tadi terus saja melewatinya, tapi Sooyeon tetap setia berdiam diri disana. Untuk apa menaiki bis sedangkan jarak apartment oppa hanya 1 blok dari sini? Pikirnya.

Kembali ia menungu berhentinya hujan sembari menikmati rintikan air yang jatuh indah didepan matanya.

“Mm, ano…”

Sooyeon terkaget, sebuah tangan mengulurkan sebuah payung lipat kehadapannya. “Ye?” ucapnya.

“Pakailah.” Sooyeon kembali mendengar suara bass yang sangat diingatnya. Dan tanpa permisi(?) indra penciumannya mulai mencium aroma parfum yang sama dengan hari sebelumnya. Dan dari semua itu, Sooyeon tercenggang dengan keberadaan seorang namja yang lebih tinggi darinya, berperawakan tampan, dan… mempunyai rambut coklat pekat acak.

Masih sibuk terheran dengan namja itu, tanpa sadarnya Sooyeon, namja itu sudah berbalik, berniat untuk melangkahkan kaki menembus terpaan angin dan hujan. Sebelum itu terjadi, Sooyeon tersadar dan mengatakan sesuatu—secara tak tersadar—yang membuat namja itu terhenti.

“Bagaimana kalau kita pakai bersama?”

Sooyeon segera menutup mulutnya dengan tangan dan bergumam, “Mian, aku—”
Namja itu segera berbalik dan tersenyum yang membuat Sooyeon membeku ditempat. Jantungnya bekerja tak karuan, wajahnya memerah. Lalu semua itu makin menjadi ketika namja itu menarik Sooyeon kebawah payungnya dan mulai mengajaknya berjalan dibawah rintikan hujan yang tidak terlalu deras.

Mereka terus berjalan tanpa bicara satu sama lain, sampai mereka menginjakkan kaki tepat didepan sebuah gedung apartment megah dan hilangnya namja itu secara tiba-tiba.

Minggu…

Minggu ini hujan kembali turun. Membuat seorang gadis dengan paras cantik tersenyum senang ke luar jendela café tempat ia berada saat ini. Setidaknya hujan membuat keadaan hatinya yang suntuk karna menunggu oppa nya mereda.

Hampir dua jam Sooyeon duduk disana, terus memandang keluar jendela. Tapi rasa suntuk dan bosan sudah menguasainya, hingga ia memutuskan untuk keluar café.

Sooyeon mengeluarkan sebuah payung lipat—pemberian namja tak dikenal tersebut. Tepat saat Sooyeon membuka payungnya, namja yang akhir-akhir ini selalu pikirkannya berlari tergesa-gesa dibwah hujan dengan sebuah tas guna menghalau air hujan mengenai kepalanya.

Namja itu berhenti tiba-tiba saat seseorang memayunginya. Ia berbalik, dan mendapati seorang yeoja tengah tersenyum manis. Yeoja yang menggigil terguyur hujan akibat menyodorkan seluruh payungnya pada namja didepannya. Yeoja itu… Sooyeon.

“Pakailah.” Ucap Sooyeon sembari tetap tersenyum.

_____
Is this love?
This heart is beating when you are next to me.
_____

Namja itu mengulas senyumnya dan mendekap Sooyeon dengan tiba-tiba. Sooyeon yang terkejut hanya terdiam, mematung ditempat. Payung dengan bordiran ‘H’ itupun terjatuh begitu saja.

“Seharusnya kau tidak memayungiku, lihat, kau menggigil.” namja itu mengelus rambut Sooyeon perlahan, mencoba membuat gadis dalam dekapannya terasa nyaman dan hangat.

Namja itu melepaskan dekapannya, “Lain kali jangan lakukan hal ini lagi,” wajahnya mendongak ke langit, “Aku sangat suka hujan dan aku ingin membiarkan tubuhku basah olehnya, namun aku akan sangat merasa bersalah jika melihatmu menggigil dan sakit sebab hal yang aku sukai.”

Sooyeon terdiam, wajahnya memanas, darahnya berdesir mendengar kalimat namja dihadapannya. Mungkin kalimat tersebut masuk dalam kategori ‘terindah’ yang pernah didengarnya.

Namja itu memungut payungnya yang jatuh, lalu menyodorkannya pada Sooyeon, membuat gadis itu kembali menggenggam payungnya, “Pakailah ini untuk pulang dan segera ganti pakaianmu. Aku tidak mau kau sakit.”

Kembali namja itu membentuk lengkungan ke atas dengan sudut bibirnya. Tubuhnya berbalik, berniat melangkah menjauh sebelum hatinya enggan meninggalkan gadis dihadapannya.

___
Is this love?
I didn’t hope to know your personality, but I hope our heart knows each other.
___

Baru beberapa meter menjauh, namja itu mendengar suara Sooyeon, “Boleh aku tau namamu?”

“Hmm, sebut aku dengan sebuah kata, 3 huruf, 2 suku kata. Hae. Ingat itu, Jung Sooyeon.”
Hae. Hae Hae. Sooyeon sangat mengingat kata itu mulai sekarang.

Kini Sooyeon terdiam, bingung akan apa yang harus di katakannya saat ini. Dan saat ia tau dan ingin menyuarakannya, sosok namja misterius itu sudah lenyap menghilang di bawah derasnya hujan. Sooyeon meringis, lagi-lagi ia tidak mengungkapkan rasa terima kasih nya.

Tapi dibalik itu, hati gadis dua puluh tahun tersebut membuncah senang. Senang karena tau sebutan namja tersebut. Bahkan walalupun ia tidak mengetahui sebutan namja tersebut, Sooyeon akan tetap senang—dan bersyukur—sebab ia bertemu lagi dengan namja—yang tanpa ia sadari—menjadi tambatan hatinya kini.

Sooyeon mendongakkan kepalanya, membiarkan air hujan menerpa wajah cantiknya, tersenyum bahagia disela-sela kegiatannya.

____
Under the rain, I felt,
Feel that feeling, feel that strong feeling.
And under the rain, I knew,
I know about love.
Yeah, I know this is love, now.
____

***

Seorang namja berambut coklat pekat tengah berdiri menatap hujan yang turun dengan damai di sore hari. Senyumannya terus mengembang, menambah kadar ketampanan yang dimilikinya. Sesekali matanya terpejam mengingat kejadian siang hari ini. Beberapa kali decakan tak percaya keluar dari mulutnya.

“Aku memeluknya ditengah hujan…”

“Ya! Harus beberapa kali aku memencet bel agar kau mau membuka pintu!!??” Pekikan itu mengusik kegiatan namja tersebut, membuatnya menoleh ke asal suara dan mengucapkan “Mianhae Jaeyeon hyung… Sejak kapan kau datang?” tanpa rasa bersalah yang tersisip dikalimatnya.

“Kau ini! Hash!”

Namja itu tidak memperdulikan geraman Jaeyeon, “Hyung, aku mau menikah.”

“Menikah? Dengan siapa? Gadis yang kau temukan di Incheon minggu lalu?” namja itu menyambut pertanyaan Jaeyeon dengan senyuman.

Beberapa menit terasa hening diantara keduanya. Sampai namja itu berkata sesuatu, “Hyung, bagaimana reaksimu jika adikmu disunting sahabatmu sendiri?”

“Senang dan tidak perlu khawatir. Juga— eh! Tunggu dulu! Jangan-jangan gadis itu—”

“Bingo!” pekik namja itu, “Manhi-manhi kamsahamnida, atas restunya hyung-nim!”

“YAK! AKU TIDAK MAU PUNYA IPAR ANEH SEPERTIMU, LEE DONGHAE!!”

***
____
Under the rain, i got you.
Who standing there with white wedding dress,
Smiling with clumsy smile.
Under the rain, I said,
“Just relax and we will be a happy married couple, forever.”
____
Still spring,
Jeju Island, End of April 2013…

“Sooyeon-ah, ireonayo. Sooyeon-ah!”

Sooyeon membuka matanya perlahan dan langsung memasang wajah heran dan bingung. Ia mendapati kakaknya mengenakan tuxedo hitam tepat dihadapannya, namun bukan itu yang membuatnya bingung.

“MENGAPA AKU MENGENAKAN GAUN PENGANTIN?!!!”

“Hey, tidak usah berteriak seperti itu,” ucap Jaeyeon, “Lekas berdiri dan apit lengan oppa.”

“Oppa, mwoya ige?! Seharusnya aku tidur di Cottage!”

“Jangan banyak bicara! Cepat apit tangan oppa! Pendeta sudah menunggu.”

“Pendeta?”

Sooyeon bertanya-tanya apa yang terjadi saat ini, namun yang ia dapat hanyalah sebuah senyuman oleh Jaeyeon disetiap pertanyaannya. Sampai ia berdiri di sebuah pintu besar pun, tidak ada yang menjelaskan apa yang terjadi saat ini.

Pintu besar itu terbuka. Awalan mars pernikahan terdengar memekakkan telinga. Dan saat itu pula, Sooyeon tersadar akan sesuatu, bahwa ia ada di gereja dengan dirinya dan Jaeyeon berjalan menuju altar dan ungkapan “Aku akan menikah…??”

Ia kesal. Ingin sekali Sooyeon menghempas tangan Jaeyeon dan melarikan diri. Namun rencana picik itu hilang seketika tatkala melihat seorang namja yang sudah berdiri menunggunya didepan altar. Namja yang selalu memayunginya. Namja yang dirindukan kehadirannya dua minggu terakhir.

Jaeyeon menyerahkan Sooyeon pada sang pengantin pria saat sampai altar, “Tolong jaga adikku, Donghae-ya.”

“Of course, hyung.”

Awalnya Sooyeon yang sangat kesal pada oppanya karna—Sooyeon menduga—kakaknya itu memaksanya jatuh dalam ikatan pernikahan bersama seorang pria yang tak dikenalnya. Tapi kini ia sangat berterima kasih pada kakaknya.

Janji suci telah terucap oleh keduanya. Pada saat yang sama, hujan turun mengiringi pengucapan janji tersebut. Membuat keduanya makin bahagia.

Sooyeon kini tersenyum canggung pada mempelai prianya. Saat ini Donghae tengah tersenyum hangat padanya, menenangkan gadis yang sudah sah menjadi istrinya.

“Tenanglah dan kita akan menjadi pasangan pengantin yang bahagia, selamanya.”

THE END

[sequel] I’ll Be Waiting For You

req-waiting

 

cover by : http://myartposter.wordpress.com (ZhyaART) @ http://shinleekrystalized.wordpress.com (YooRaART Design)

 

Judul : I’ll Be Waiting for You (sequel)

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Seohyun, Kyuhyun, etc

Genre : sad

Type : oneshoot or drabble

Rate : general

Disclaimer : ide cerita murni milik author. Cast hanya meminjam nama.

 

Annyeong …kekeke, ini author bawain sequel dari I’ll be waiting for you J … yang kemarin emang sengaja author buat gantung endingnya …hahahaha… oke deh selamat membaca.. jangan lupa untuk meninggalkan jejak ne J semoga readers sekalian pada suka.. aminn

 

*****

Gadis cantik berambut panjang itu menghentikan langkahnya. Ia baru saja tiba di Incheon Airport setelah pesawat yang ia tumpangi mendarat di bandara internasional di Korea Selatan itu. Gadis itu merentangkan tangannya, menengadahkan kepalanya, memejamkan kedua mata sambil menghirup udara yang telah 5 tahun ini tidak ia rasakan. Ya, gadis itu, Seo Joohyun telah kembali ke Seoul setelah 5 tahun menuntut ilmu di Negeri Paman Sam. Cita-cita bersekolah di Cambridge University dapat ia wujudkan, dan kini ia resmi menyandang gelar sarjana kedokteran. Sebuah rumah sakit swasta milik teman ayahnya siap menerima gadis yang biasa di panggil Joohyun itu untuk bekerja disana. Oleh karenanya gadis itu pulang.

“Joohyun-ah..” teriak seseorang. Joohyun, menghentikan aktivitasnya tadi, menatap orang yang memanggilnya yang berada tak jauh darinya. Keduanya sama-sama tersenyum.

“Yoona..” gumam gadis itu. Gadis yang memanggilnya tadi -Yoona- menghampiri Joohyun. Lantas memeluk sahabat yang amat sangat ia rindukan.

“Bogoshippo Yoon…” ucap Joohyun setelah melepas pelukan mereka berdua.

“Nado. Sudah kajja kita pulang dulu. Acara melepas rindunya nanti saja di rumah.” Joohyun mengangguk. Yoona mengambil alih satu koper Joohyun, kemudian mereka menuju pintu keluar bandara tersebut.

 

“Kau banyak berubah Joohyun..” Yoona kembali membuka percakapan saat mereka tengah berada di dalam mobil. Yoona yang mengendarai mobil itu.

“Kau juga.”

“Tapi tidak se drastis dirimu.”

“Jinjja? Apakah aku benar-benar berbeda dari Joohyun yang dulu?”

“Aniyo.. maksudku penampilanmu. Kacamata tebalmu, rambutmu yang selalu kau kepang serta kawat gigi itu sudah tidak ada lagi padamu.” Joohyun terkekeh pelan.

“Tapi sifatku tidak ada yang berubah kan?”

“Tidak. Kau masih sama seperti dulu. Sahabat terbaikku. Sahabat yang hangat, pengertian, dan ceria.”

“Kau bisa saja Im Yoona.” Joohyun mencubit pipi sahabatnya. Yoona hanya mempoutkan bibirnya sebal.

“Joohyun-ah, apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Joohyun kembali menoleh pada Yoona. Alisnya berkerut.

“Tentang apa?”

“Kau…. emmm apa masih memiliki perasaan pada Kyuhyun?” Joohyun terhenyak. Tidak di sangka Yoona akan menanyakan hal itu sekarang. Yoona memang satu-satunya orang yang mengetahui rahasia Joohyun, rahasia terbesar Joohyun, mengagumi Kyuhyun. Ah ralat, mungkin telah mencintai namja itu. Dulu Yoona juga bersekolah di SMA yang sama dengan Joohyun dan Kyuhyun. Namun saat kenaikan kelas 2, Yoona pindah ke Daegu, karena appanya pindah tugas kesana. Namun selama Joohyun di Amerika mereka masih sering memberi kabar satu sama lain. Yoona telah kembali ke Seoul sejak 3 tahun yang lalu. Saat mendengar Joohyun akan pulang ia sangat senang dan dengan senang hati mau menjemput sahabatnya. Joohyun menunduk. Ia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Ia telah berjanji akan menunggu seseorang. Seseorang yang memberinya surat di malam perpisahan sekolah. Seseorang berinisial CK. Namun tak bisa ia pungkiri bahwa perasaannya untuk Kyuhyun masih ada.

“Mollaseo Yoon..” jawab Joohyun lirih. Yoona mengelus lengan sahabatnya itu. Ia sangat tau bahwa kini Joohyun sedang dilanda sebuah perasaan -galau- . namun tanpa Joohyun tau, Yooa tersenyum samar.

‘Kau tunggu saja Joohyun-ah. Dia pasti datang.’ Gumam Yoona dalam hati.

 

*****

Seorang namja yang berusia sekitar 23 tahun tengah tersenyum samar. Ia duduk di kursi, kursi kebanggannya. Kursi seorang direktur perusahaan besar.

Ceklek. Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka, membuat namja itu terkesiap.

“Yak noona, bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?”

“Memangnya salah? Kan kau yang memintamu datang ke kantor sampai-sampai aku harus mengurungkan niatku jalan-jalan dengan nenek.”

“Dasar, vampir cina jelek.”

“Apa katamu?” pletak. Sebuah jitakan telah mendarat di kepala namja tersebut. Sang namja mengelus kepalanya yang menjadi korban jitakan sambil bersungut-sungut sebal.

“Sudahlah, katakan apa yang mau kau bicarakan?” mendengar hal itu, namja tersebut lantas tersenyum. Menampilkan evil smirknya.

“Yi Siao noona, noonaku yang paling cantik, baik, sudah tau kan yeoja yang aku taksir telah kembali?”

“Hmm… aku tau. Lantas?”

Sebenarnya yeoja itu, Luo Yi Siao sudah bisa menebak arah pembicaraan adik sepupunya ini. Ia hanya berpura-pura. Yi Siao adalah anak dari ahjummanya. Neneknya memiliki 2 anak, ahjummanya serta ayahnya. Kemudian ahjummanya menikah dengan orang China dan punya anak Yi Siao.

“Aishh noona kau pabo sekali.” Sebuah jitakan hendak mendarat di kepala namja itu namun ia segera menahannya.

“Ampun noona. Jangan terus menjitak kepalaku, nanti kepintaranku hilang.”

“Kau sih.”

“Ne, maaf. Emmm, jadi begini aku mempunyai rencana. Aku ingin memintamu untuk membantuku. Ya, hampir mirip dengan yang dulu. Anggap saja ini kelanjutan yang dulu itu.”

“Kau menyuruhku mengerjai gadis itu lagi?”

“Bukan mengerjai noona. Hanya kejutan saja. Ya noona? Ya, ya, ya?? Jebal…” Yi Siao memutar kedua bola matanya jengah. Memang julukan evil pada adik sepupunya ini tak akan pernah bisa hilang.

“Baiklah.”

“Gomawo noona..” namja itu, memeluk noonanya karena begitu senang.

*****

Yoona sesekali melirik jam tangannya. Sudah hampir satu jam ia menunggu seseorang di cafe ini. Ia kembali menyesap cappucino pesanannya.

“Maaf membuatmu menunggu lama Yoona-ssi.” Seseorang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Yoona menghembuskan nafas lega. Setidaknya meskipun terlambat, namja itu tetap datang dan tak membuat usahanya menunggu sia-sia.

“Gwaenchana… emmm… lantas sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?”

“Haha, to the point sekali kau ini. Tanpa ku beritahu kau pasti sudah bisa menebaknya kan?” yoona mengerutkan keningnya.

“Yang aku bisa tebak kau akan menemuinya dan mengatakan semuanya.”

Namja itu semakin tertawa keras.

“Aku ingin memberinya kejutan sedikit.”

“5 tahun dia menunggumu seperti orang bodoh. Mengharapkan seseorang yang ia pun tak tahu, mencoba menghapus perasaannya pada orang yang ia kira orang lain. Padahal 2 orang itu adalah orang yang sama.”

“Kau tau sendiri Yoona-ssi, saat itu aku belum siap. Tak mungkin aku membuatnya susah berangkat ke Amerika karena memberatkanku. Aku juga harus ke China kan.”

“Cish, pede sekali kau Cho Kyuhyun bahwa ia akan berat meninggalkanmu untuk berangkat ke Amerika. Dia itu Seo Joohyun, orang yang selalu menomorsatukan pendidikan serta apa yang menjadi impiannya.”

“Oleh karena itu Yoona-ssi. Ah sudahlah daripada berdebat denganmu yang tidak akan selesai-selesai mending aku beritahukan saja rencanaku padamu. Kuharap kau bisa ku ajak bekerja sama serta tak akan menghancurkan rencanaku ini.” Yoona menatap sebal namja yang di hadapannya ini.

*****

Joohyun merapatkan hoodie yang ia pakai. Tangannya sesekali saling mengusap untuk mengurangi rasa dingin yang menyerangnya. Saat ini ia berada di taman yang tak jauh dari rumahnya. Duduk di sebuah ayunan, dengan membawa sebuah buku yang berhiaskan bunga-bunga kering. Buku yang berisi foto-foto seseorang yang ia sayangi. Ia mulai membuka cover buku itu. Sebuah surat dengan amplop merah muda terselip di sana. Kini kedua tangannya memegang dua benda yang sama-sama berarti untuknya. Ia bingung harus bagaimana. Selama ini memang ia mencoba melupakan orang yang fotonya ada dalam buku, untuk menerima orang yang memberinya surat. Namun jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih belum siap 100 % untuk melupakan namja yang berhasil mencuri hatinya itu. Ia juga semakin pesimis karena sudah 5 tahun sejak namja yang memberinya surat itu belum menemuinya ataupun memberinya surat lagi. Seperti sebuah harapan kosong. Ia menggeleng pelan. Namja yang fotonya ada dalam buku itu telah bertunangan dengan orang lain. Ia tak boleh mengharapkan namja itu lagi. Ia harus benar-benar membuka hati untuk namja yang mengiriminya surat.

“Permisi noona..” seorang namja kecil tiba-tiba menghampirinya.

“Ne, ada apa?” Joohyun menampilkan senyuman manisnya pada namja yang berusia sekitar 7 tahunan itu.

“Ige..” namja kecil itu menyerahkan sebuah surat dengan amplop merah muda. Joohyun mengernyit.

“Untukku?” tanya Joohyun pada namja kecil itu. Sang namja kecil mengangguk.

“Dari siapa?” tanya Joohyun lagi.

“Orang yang sangat mencintaimu.” Setelah itu, namja kecil tersebut berlari menuju sekelompok anak-anak kecil yang tengah bermain di taman itu juga. Joohyun membuka amplop itu lantas membaca isi suratnya.

 

From : Your Secret Admirer

Anneyong Joohyun-ah..

Hmmm….. 5 tahun sudah berlalu. Maaf selama ini aku tak pernah memberi kabar apapun padamu lagi setelah surat di malam perpisahan itu. Mianhae, jeongmal mianhae jika aku membuatmu bingung.

Aku ingin kau tahu, perasaanku padamu bukanlah perasaan sesaat dan hanya main-main. Aku bersungguh-sungguh akan perasaanku. Aku mencintaimu Seo Joohyun. Yeoja berkacamata minus tebal, rambut kepang dua dan selalu memakai rok di bawah lutut, aku benar-benar mencintaimu.

Ku dengar kau telah kembali dari Amerika ya? Whooaa selamat ya, kini kau telah menyandang gelar dokter.

Mengenai permintaanku padamu, pasti kau penuhi kan?? Hehe, tak lama lagi aku akan datang padamu Joohyun-ah. Kali ini aku sudah siap. Benar-benar siap.

Sekali lagi aku memintamu menunggu. Tunggu beberapa waktu lagi. Aku janji tidak akan sampai bertahun-tahun seperti kemarin.

Aku mencintaimu Seo Joohyun, saranghae

 

CK

Air mata Joohyun telah mengalir di pipinya. Inisial nama pada surat itu ia usap dengan ibu jarinya.

 

*****

 

Pagi-pagi sekali Yoona telah berkunjung ke rumah Joohyun. Ada sesuatu yang akan ia berikan pada gadis itu sekaligus ingin mengajaknya berbelanja.

“Joohyun-ah..” Yoona memanggil Joohyun yang menurut eommanya sedang di kamar dan belum bangun. Ceklek, karena masih belum ada yang menjawab Yoona langsung membuka kamar Joohyun.

“Aisshh jinjja.” Yoona menggelengkan kepalanya melihat Joohyun masih meringkuk di bawah selimut. Yoona menggoyang-goyangkan tubuh Joohyun agar yeoja itu bangun.

“Joohyun-ah.. bangunlah…”

“Emmhhhh” Joohyun menggeliat. Perlahan gadis cantik itu membuka kedua mata bulatnya.

“Yoona..” Joohyun sedikit kaget karena Yoona sudah berada di kamarnya sepagi ini.

“Aku datang ke sini karena mau menyerahkan undangan untukmu. Ige.” Yoona menyerahkan sebuah undangan pada Joohyun. Joohyun lantas membukanya dan membaca isi undangan itu.

“Reuni?” Joohyun menatap Yoona penuh tanya. Yoona mengangguk.

“Kajja kita cari baju ke butik. Sudah mandilah. Tidak ada waktu lagi.”

“Aishhh kenapa kau baru memberikannya sekarang? Acaranya nanti sore lagi.” Joohyun menggerutu sambil beranjak menuju kamar mandinya.

Yoona hanya tersenyum samar. ‘Dasar Cho Kyuhyun, kau benar-benar menyebalkan. Kalau bukan karena aku ingin melihat sahabatku ini bahagia aku tak akan mau menuruti permainan konyolmu.’ Gumam Yoona dalam hatinya.

30 menit, Joohyun telah siap. Ia dan Yoona akan berbelanja ke butik untuk mencari pakaian yang pas untuk acara reuni nanti.

“Kenapa undanganku kamu yang memberikan?” kini mereka dalam perjalanan menuju mall. Yoona sudah mempersiapkan jawaban, karena ia tau sahabatnya itu pasti akan bertanya tentang undangan.

“Kau tau Choi Siwon kan? Salah satu teman kita di SMA dulu? Nah, dia salah satu panitia acara reuni ini. Karena aku sedang dekat dengannya belakangan ini jadi dia memberikannya padaku. Dia juga tau kalau kita bersahabat.”

“Jadi kau sedang dekat dengannya?” pipi Yoona seketika merona. Gadis bertubuh kurus itu mengangguk malu.

“Ciee ciee..” Joohyun mencolek dagu Yoona.

“Joohyun jangan menggodaku seperti itu.”

 

Joohyun POV

Aku dan sahabatku Yoona telah sampai di butik. Butik ini adalah milik saudara Yoona. Aku memilih – milih gaun yang terpajang di sana. Gaun-gaun di butik ini bagus-bagus dan sudah terkenal sampai luar negeri.

“Joohyun-ah, bagaimana yang ini?” Yoona mencoba salah satu gaun. Aku menggeleng. Kurang cocok untukmu Yoon. Yoona kembali memilih-milih gaun. Mataku tak sengaja menangkap sebuah gaun yang terpasang pada sebuah manekin. Gaun berwarna putih tulang, dengan hiasan pita keemasan. Ku dekati manekin itu. Saat tanganku menyentuh gaun indah itu, sebuah tangan juga menyentuh gaun tersebut. Aku melihat pemilik tangan yang ada di sebelahku ini. Seorang yeoja cantik kini tengah menatapku juga.

“Yi –ah, apakah sudah?” seorang namja datang menghampiri yeoja tadi. Aku tertegun menatap namja itu. dia, namja itu Cho Kyuhyun. Tak kusangka aku akan kembali bertemu dengannya saat ini, di tempat ini. Kami saling tatap. Hingga suara yeoja tadi membuyarkan semuanya.

“Eh Kyu, eengggg di tempat ini tak ada yang menarik untukku. Kajja kita ke tempat lain.” Kyuhyun mengangguk. Mereka berbalik akan meninggalkan tempat ini.

“Tunggu!!” mereka berhenti dan berbalik menatapku. Aku tau yeoja itu juga menginginkan gaun ini. Aku tidak enak hati jika harus berebut dengannya. Biarlah yeoja itu yang memiliki gaun indah ini. Aku bisa mencari yang lain.

“Ambil saja gaun ini. Aku tidak jadi mengambilnya. Aku tadi hanya ingin melihatnya.” Ucapku, aku mencoba tersenyum pada yeoja itu.

“Tidak, kau saja yang mengambilnya agassi. Aku juga tadi hanya ingin melihat gaun ini kok. Ku rasa gaun ini cocok untukmu.”

“Tapi-“

“Kajja Kyu, kita ke tempat lain.”

“Permisi agassi.” Mereka kemudian pergi meninggalkan butik ini. Aku masih tercengang. Kyuhyun, namja itu apa tidak mengenaliku? Ah pabo kau Joohyun. Mana mungkin namja itu bisa mengenalimu. Kalaupun Kyuhyun mengingatku mungkin ingat pernah menabrakku dulu. Tak mungkin ia tau namaku karena dulu ia tak pernah melihatku.

 

*****

 

“Kau kenapa Joohyun-ah?” Yoona yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu segera angkat bicara. Saat ini mereka sudah sampai di tempat acara reuni diadakan.

“Tidak apa-apa. Aku hanya lelah.”

“Setelah acara inti, kita langsung pulang saja. Aku tidak ingin membuatmu semakin sakit.” Joohyun hanya mengangguk.

Seorang MC tengah memulai acara reuni. Joohyun mengedarkan pandangannya. Ia berharap namja yang menjadi dambannya saat SMA dulu juga datang. Meskipun hanya melihat dari jauh ia berharap tetap bisa bertemu dengan namja itu untuk yang terakhir kali. Karena ia sadar jika Kyuhyun telah bertunangan.

“Joohyun, orang yang kamu cari ada di sana.” Yoona menyenggol lengan Joohyun, dan dagunya mengarah ke panggung. Joohyun mengikuti arah yang di tunjuk Yoona. Benar saja, di sana Kyuhyun tengah berdiri. Di sampingnya juga ada seorang yeoja. Yeoja cantik yang Joohyun lihat di butik tadi. Pasti itu adalah tunangan Kyuhyun. Hal itu yang ada di benak Joohyun saat ini.

“Annyeong teman-teman semua..” Kyuhyun membuka sambutannya dengan menyapa teman-teman alumni SMA, karena ia putra pemilik sekolah jadi saat ini mewakili ayahnya untuk memberi sambutan.

“ Tidak terasa 5 tahun sudah kita berpisah. Dan pasti dalam 5 tahun itu banyak sekali perubahan pada kalian semua. Bahkan mungkin sudah ada yang mempunyai suami serta anak. Aku senang kalian masih mau menyempatkan hadir dalam acara reuni ini meskipun aku tau kesibukan kalian sangatlah padat. Ekhhm.. dalam acara ini sekaligus aku juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada kalian semua. Ada satu hal yang ingin ku ungkapkan saat ini. Mengenai aku bertunangan dengan yeoja asal China itu hanya sandiwara.” Para undangan mulai berkasak-kusuk mengenai pengakuan Kyuhyun barusan.

“Aku meminta ayahku untuk membantuku dalam sandiwara itu. Sebenarnya aku tidak pernah bertunangan dengan siapapun setelah lulus hingga saat ini. Dan yeoja yang ada di sebelahku ini adalah kakak sepupuku yang dari China. Aku memang melanjutkan sekolah kesana, namun bukan untuk bertunangan. Sekali lagi aku meminta maaf pada kalian semua.”

Yoona menatap Joohyun. Ternyata yeoja itu sedari tadi hanya menunduk. Entahlah, pengakuan Kyuhyun barusan membuatnya ingin menangis.

“Joohyun….tenanglah..” Yoona mengusap punggung sahabatnya itu. bahu Joohyun bergetar, gadis itu kini telah menangis. Namun masih mencoba menahan isakan agar tak terdengar teman-temannya yang lain. Detik berikutnya gadis itu, Joohyun berlari keluar dari gedung itu. mencari tempat sepi agar ia leluasa meluapkan perasaannya saat ini. Yoona ingin mengejar, namun tangannya tertahan oleh tangan Kyuhyun yang kini berdiri di sampingnya.

“Biar aku saja.” Yoona mengangguk. Ia tersenyum. Sudah saatnya Joohyun tau semuanya.

 

*****

Mendengar suara langkah seseorang yang mendekat, Joohyun mengusap air matanya. Mungkin Yoona akan mengajaknya pulang. Ia berdiri lantas berbalik.

Matanya terbelalak kaget saat melihat siapa yang menghampirinya. Bukannya Yoona, melainkan namja itu. Cho Kyuhyun.

“K..Kyuhyun-ssi..kenapa-“

“Maafkan aku.” Kyuhyun menyela ucapan Joohyun.

“Maaf untuk apa?” Joohyun berusaha bersikap setenang mungkin.

“Maaf telah membohongimu.”

“Bukannya tadi saat di panggung kau telah meminta maaf pada teman-teman, itu sudah ku anggap kepadaku juga.”

“Bukan itu maksudku.” Joohyun mengerutkan keningnya bingung.

“Yang memberimu surat saat perpisahan dulu adalah aku. Apa kau tidak curiga dengan inisial yang tertera di surat itu? CK adalah Cho Kyuhyun.” Kedua mata bulat Joohyun semakin melebar.

“Kyuhyun-ssi, bagaimana bisa?”

“Sebelum Yoona pindah ia telah memberitahuku bahwa kau telah lama menaruh hati padaku. Sejak saat itu aku mulai mengamatimu diam-diam. Mencari tahu tentangmu. Dan seperti yang ku tulis dalam suratku bahwa kau adalah gadis yang berbeda. Kau apa adanya dirimu Seo Joohyun. Dan tanpa kusadari aku lama-lama aku juga mengagumimu hingga mencintaimu.” Joohyun merasa seperti beku, tak dapat bergerak, berkata apa pun. Kyuhyun mengunci tatapannya.

“Aku berbohong mengenai tunangan itu karena aku memang belum siap mengungkapkannya padamu. Sekaligus aku ingin menguji seberapa besar cintamu padaku. Maaf aku telah membuatmu bingung dengan perasaanmu.”

Isakan Joohyun kembali menyeruak. Gadis itu menunduk, bahunya bergetar hebat. Isakannya semakin menjadi. Tak ia sangka semuanya akan terjadi seperti ini. Seperti yang ia mimpikan saat SMA dahulu. Ingin rasanya gadis itu memeluk namja yang berada di hadapannya ini. Namun ia berusaha menahannya. Hanya menangis yang ia bisa lakukan saat ini.

Greepp…kini gadis itu telah berada dalam pelukan hangat seseorang yang amat sangat ia sayang sejak SMA. Keraguan itu kini hilang karena 2 orang yang ia kira berbeda ternyata adalah orang yang sama.

“Maafkan aku Joohyun-ah.. maaf… aku benar-benar mencintaimu. Saranghae Seo Joohyun. Jeongmal saranghaeyo…” tangan Joohyun kini mulai membalas pelukan namja itu.

“Aku….aku…hikkss…” Joohyun tak mampu berkata-kata.

Chuu~  Namja itu, Kyuhyun menciumnya. Lembut dan hangat, itu yang gadis itu rasakan. Kedua mata Joohyun terbuka setelah Kyuhyun melepas ciumannya. Kini matanya menatap mata hazel Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum hangat padanya.

“Apa kau masih mencintaiku?” Joohyun mengangguk. Senyum Kyuhyun kian melebar. Kyuhyun kembali membawa gadis itu dalam pelukannya.

“Gomawo kau mampu menjaga cintamu untukku. Aku janji, mulai sekarang aku tak kan membiarkanmu menangis lagi.”

 

 

END

Duty 719 -4Shine-

Title                :           DUTY 719 ~4Shine~

Author           :           Denzycus

Cast                :           Seohyun, Kyuhyun, Woosung

Genre             :           Thriller, Tragedy, Romance

Length            :           2.300 word

duty

DUTY 719 ~4Shine~ Baca lebih lanjut

I’ll Be Waiting For You

Judul : I’ll be waiting for you

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Seohyun, Kyuhyun

Genre : sad

Type : oneshoot or drabble

Rate : general

Disclaimer : ide cerita murni milik author. Cast hanya meminjam nama.

 

Annyeong… kali ini author bawa ff SeoKyu yang oneshoot.. ff ini pernah di publish di STAR MUSEUM SM FAMILY sebagai freelance.. jika ada yang pernah baca disana, itu ff saya. perhatikan nama authornya :D

 

Meskipun menyakitkan, tak apa

Sejak awal aku sadar akan perasaanku

Ku putuskan untuk bersabar

Bersabar menunggu

Menunggu dirimu membalas rasa ini

Yang entah sampai kapan akan mampu bertahan

Hanya satu yang ku tahu

Aku mencintaimu

I’ll be waiting for you

 

*****

“Joohyun aneh, Joohyun cupu, Joohyun si kutu buku” cibiran-cibiran yang selalu aku dengar dari teman-temanku di sekolah. Namun semua itu tak ku hiraukan. Mungkin karena sudah terbiasa dengan cibiran seperti itu sejak sekolah dasar. Bahkan terkadang aku merasa ada yang kurang jika sehari tak ada satupun yang mengucapkan kalimat ‘indah’ itu di depanku. Aku sadar, cukup sadar malah. Dengan penampilanku yang seperti ini tak heran teman-temanku mencibirku seperti itu. Selalu memakai rok dibawah lutut, kacamata minus tebal, memakai kawat gigi, serta rambut yang selalu ku kepang. Mungkin kucingpun akan takut melihatku. Namun aku sama sekali tak menyesal berpenampilan seperti ini. Karena inilah aku, diriku yang sebenarnya. Dan bersikap pede dimanapun aku berada. Biarlah orang lain menilaiku seperti apa, yang terpenting aku tak pernah menyakiti ataupun mengganggu orang lain.

Menginjak kelas tiga SMU, aku semakin bergelut dengan buku-buku. Aku ingin lulus dengan nilai yang memuaskan serta dapat diterima di perguruan tinggi yang ku inginkan. Cambridge University. Sebenarnya aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Berkecukupan untuk menyekolahkanku di universitas bergengsi itu. Namun lulus tes disana sangatlah sulit. Jadi aku harus bisa mewujudkan keinginanku.

Istirahat ini ku gunakan untuk pergi ke perpustakaan, kegiatan rutinku. Membaca beberapa buku untuk menambah pengetahuanku. Sekaligus akan mengembalikan buku yang ku pinjam beberapa hari yang lalu. Seperti biasa, saat melewati lorong-lorong menuju perpustakaan, teman-teman yang berpapasan atau yang tak sengaja melihatku selalu melontarkan kalimat-kalimat ‘indah’. Aku tetap tak peduli. Aku tetap berjalan tenang, menatap lurus ke depan. Namun cibiran-cibiran itu semakin menjadi-jadi. Aku yang tak tahan, hanya bisa menunduk. Ingin rasanya aku berteriak pada mereka semua. Memangnya salah dengan penampilan seperti ini? Toh aku sama sekali tak pernah merugikan mereka dengan penampilanku. Aku juga kesal dengan diriku sekarang, yang tak bisa tegar seperti biasanya. Menunduk, akan semakin membuat mereka puas mengejekku. Ku gigit bibir bawahku. Mataku mulai memanas. Ah, Joohyun kenapa kau jadi cengeng seperti ini. Pandanganku mulai mengabur karena terhalang air mata yang masih ku tahan agar tidak jatuh.

Brruukk..

“Aww..” rintihku. Aku terjatuh. Terjatuh karena menabrak seseorang. Tiba-tiba sebuah tangan terulur padaku. Ku beranikan diri untuk mendongak. Mataku semakin melebar, saat melihat tangan milik siapa yang ada di depanku.

“Mianhae karena telah menabrakmu. Terlalu asik bercanda membuatku tidak melihat arah jalan sehingga menabrakmu. Mianhae.” Ucapnya masih dengan mengulurkan tangan. Aku masih menatapnya tak percaya. Dia, namja yang selalu ku lihat diam-diam saat dia bermain basket, yang selalu ku mimpikan tiap malam, yang selalu membuat jantungku berdebar tak karuan saat melihat senyumnya itu, kini telah berdiri di hadapanku. Oh betapa beruntungnya kau Joohyun. Aku menggeleng, aisshhh bagaimana mungkin aku berpikiran seperti itu. Aku segera berdiri, memunguti bukuku. Tanpa membalas ulurannya.

“Maaf.” Ucapku, lantas membungkuk. Detik berikutnya kakiku membawaku untuk meninggalkan tempat itu. Dapat ku dengar ucapan teman-teman namja itu.

“Ayolah Kyu. Kita masih ada urusan dengan Kim seongsaengnim untuk membahas lomba basket.”

“Iya Kyu. Kenapa kau masih menatap yeoja aneh itu.”

 

*****

“Joohyun..” kulihat eomma masuk ke kamarku membawa segelas susu yang selalu ku minum sebelum tidur.

“Eomma…” aku tersenyum menatap eomma yang kini duduk di sampingku.

“Tumben kau sudah selesai belajar.”

“Ne eomma. Aku lelah, ingin cepat beristirahat.”

“Baiklah. Ini susunya. Kamu minum dulu.” Aku menerima segelas susu putih dari eomma. Setelah meneguknya hingga habis, eomma mengambil gelas itu kembali.

“Eomma keluar dulu ya. Mimpi indah.” Eomma lantas mencium keningku.

Setelah eomma benar-benar keluar dari kamarku, aku membuka kembali sebuah buku. Buku yang ku hias dengan berbagai bunga hidup yang di keringkan. Ku buka buku itu. Di dalamnya terdapat berbagai macam foto seseorang. Seseorang yang ku kagumi sejak awal masuk SMU. Foto-foto yang ku dapatkan secara tidak sengaja. Selama ini, diam-diam saat melihatnya aku mengambil fotonya menggunakan ponselku. Tak sopan memang, namun dengan memandangi fotonyalah membuatku senang. Setidaknya aku bisa memandang wajahnya sepuas yang aku mau tanpa harus takut ada yang mengetahui. Dia, Cho Kyuhyun. Namja favorit di sekolah. Putra pemilik sekolah, pintar, tampan, hampir semua yeoja tergila-gila padanya, termasuk diriku. Sekali lagi aku cukup mengetahui diriku, diriku yang seperti ini harus bisa menerima jika aku hanya bisa menatapnya, mengaguminya dari jauh. Setiap lembaran dalam buku ini, selalu ada fotonya disertai tulisan-tulisanku. Ungkapan hatiku padanya selama ini yang ku pendam. Cho Kyuhyun, taukah dirimu bahwa aku begitu mengagumimu??

Aku menghela nafas.  Hampir tiga tahun aku hanya bisa menyimpan perasaan ini diam-diam. Lelah, terkadang aku merasa lelah. Lelah melihatnya bercanda bersama yeoja lain, lelah karena ia tak pernah melihatku, lelah mendengar gosip-gosip tentang dirinya dengan yeoja-yeoja cantik di sekolah. Aku lelah Tuhan…. namun dengan menatap fotonya seperti ini, semangat itu kembali datang. Semangat untuk tidak menyerah dengan perasaanku ini. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan perasaanku ini.

Fighting Joohyun !!

*****

Langkah kakiku telah membawaku ke tempat ini. Kantin. Tempat yang selalu ramai saat jam istirahat ini sebenarnya tempat yang sangat tidak ingin kukunjungi. Tatapan-tatapan tidak suka dari berbagai mata telah tertuju padaku. Namun rasa hausku berhasil mengalahkan engganku menuju tempat ini. Biasanya aku membawa sebotol air mineral dari rumah. Namun hari ini aku lupa membawanya, karena tadi aku kesiangan bangun serta hampir saja telat. Aku membeli air mineral. Aku memang sangat menjaga kesehatan tubuhku, serta tidak sembarangan mengkonsumsi makanan maupun minuman. Selesai membayar, aku berbalik hendak menuju taman belakang sekolah. Namun langkahku terhenti saat mendengar sesuatu.

“Eh, kalian sudah mendengar gosip baru tentang Kyuhyun tidak?” beberapa yeoja yang duduk tak jauh dariku itu rupanya sedang membicarakan orang yang semalaman tadi terus ku bayangkan. Aku mencoba mendengarkan gosip itu. Ingin tahu, kabar apalagi yang menyangkut namja itu. Namun masih tetap pada posisiku, berdiri.

“Memangnya ada apalagi dengan Kyuhyun?”

“Kudengar, setelah lulus dari sini beberapa bulan lagi ia akan bertunangan dengan yeoja.”

“Mwo?? Jinjja??”

“Whooaaa, yeoja mana yang beruntung bisa mendapatkannya??”

“Dengar-dengar juga, yeoja itu berasal dari China. Setelah lulus kan Kyuhyun tampan itu akan melanjutkan kuliah di China. Karena di sana juga ada neneknya.”

“Jadi calon tunangannya yeoja China?”

Hatiku serasa di tusuk ribuan jarum setelah mendengar berita itu. Meskipun itu masih gosip, namun aku tak bisa menyembunyikan rasa sedih dan kecewa yang kurasakan saat ini. Selama ini memang Kyuhyun selalu digosipkan dekat dengan beberapa yeoja di sekolah ini, namun semua hanyalah isapan jempol. Selama bersekolah disini, Kyuhyun tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi siapa tahu ia memiliki yeoja spesial di luar sana?

Kembali ku langkahkan kakiku. Ku urungkan niatku untuk ke taman belakang sekolah. Aku memilih kembali ke kelas. Saat melewati lapangan basket, aku kembali berhenti. Disana, di tengah lapangan sana, Kyuhyun serta teman-temannya sedang bermain basket. Peluh di tubuhnya tetap membuat namja itu kharismatik. Cho Kyuhyun, kapan aku bisa mengungkapkan isi hatiku ini?? Aku….begitu mencintaimu..

 

*****

Ujian kelulusan telah berakhir. Aku sangat bersyukur selain karena aku lulus juga  mendapat nilai yang memuaskan. Yang tentunya dapat membuat kedua orang tuaku senang. Aku juga telah mengikuti tes seleksi untuk masuk ke Cambridge University. Hari ini adalah hari pengumuman penerimaan seleksi tersebut. Aku begitu cemas menantikannya. Jika memang aku tidak lolos, aku akan melanjutkan kuliah tetap disini saja, Seoul.

Kubuka laptop milikku, melihat hasil tes tersebut melalui internet.

“Eomma…..appa……..” aku berteriak keluar kamar, mencari keberadaan eomma dan appaku.

“Ada apa Joohyun? Kenapa kau berlari seperti itu?” eomma dan appa ternyata sedang ada di ruang keluarga.

“Eomma, appa, aku…..aku lolos seleksi. Aku diterima di Cambridge University.”

“Jinjja?” aku mengangguk mantap.

“Whoaa, chukkae sayang..” eomma dan appa menghampiriku. Memelukku. Ah betapa bahagianya aku karena impianku terkabul untuk bisa bersekolah disana.

“Oya sayang, bukannya nanti malam akan ada pesta perpisahan di sekolahmu?” eomma mengatakan sesuatu yang aku malas untuk jawab.

“Joohyun…”

“Ne eomma, appa. Memang nanti ada pesta disekolah. Tapi aku malas datang. Aku ingin menyiapkan semuanya sebelum pergi ke Amerika.”

“Tapi kan masih beberapa hari lagi keberangkatanmu sayang. Sebaiknya kau tetap datang.”

“Ne Joohyun. Kau tidak boleh seperti itu. Gunakan kesempatan perpisahan itu untuk meminta maaf pada teman-temanmu atas kesalahanmu selama ini. Jangan sampai ada penyesalan setelah kau lulus dan tak bisa bertemu mereka lagi.”

‘Sebenarnya bukan maaf yang ingin ku ungkapkan, melainkan isi hatiku appa, eomma.’ Gumamku dalam hati.

Setelah aku mendegar gosip mengenai Kyuhyun waktu itu, memang semuanya tetap berjalan seperti biasanya. Tak ada sesuatu yang begitu menghebohkan di sekolah. Kyuhyun pun hanya diam menyikapi gosip itu. Biasanya ia akan segera konfirmasi jika ada berita yang tidak benar menyangkut dirinya. Namun kali ini, ia hanya diam. Dan bersikap seperti biasa, seolah tak ada gosip apa-apa.

*****

Dengan sedikit terpaksa, aku melangkah masuk ke aula sekolah yang digunakan untuk pesta perpisahan malam ini. Dengan memakai pakaian yang sebenarnya aku kurang pede, aku terus melangkah masuk. Sejak sore, eomma mendandaniku. Kacamata tebal yang selama ini menemaniku kini berganti kontak lens. Rambut yang biasa ku kepang dua, kini terurai dengan sedikit di curly oleh eomma serta sebuah jepitan kecil bertengger manis di rambutku. Pakaian ini juga membuatku sedikit menggigil. Gaun sebatas lutut. Tas selempang kecil berwarna biru yang senada dengan gaun yang ku kenakan menemaniku kali ini.

Suasana ramai sudah terlihat di dalam aula ini. Berbagai mata kini tertuju padaku. Namun tatapan-tatapan itu bukanlah tatapan yang biasa ku lihat. Tatapan kali ini ku rasa sebagai tatapan kagum. Namun jujur, aku masih merasa risih dengan tatapan itu.

“Dia, bukankah dia yeoja cupu itu?” dapat ku dengar ucapan salah seorang siswa yang tak jauh dari tempatku.

“Mana mungkin? Penampilannya begitu berbeda dari biasanya.”

“Mungkin saja dia merubah penampilannya.”

“Dia cantik ya.”

Baru kali ini ada siswa di sekolah ini yang memujiku seperti itu. Dari arah podium, terdengar MC memulai acara.

“Sebelum masuk ke acara inti, kita dengarkan terlebih dahulu sambutan dari pemilik sekolah ini. Kepada Tuan Cho Jae Young kami persilahkan.” Seorang pria paruh baya, yang semua orang sudah tau jika dia adalah ayah dari Cho Kyuhyun, maju menuju podium. Menyampaikan beberapa pesan untuk kami siswa yang baru lulus.

“Dan aku akan menyampaikan sedikit berita, mengenai putraku Cho Kyuhyun.” Mendengar nama itu di sebut, aku semakin intens mendengarkan penuturan pria yang aku akui sangat berwibawa itu.

“Selama ini, mengenai gosip Kyuhyun akan bertunangan saya akui memang benar adanya.”

Serasa disambar petir, hatiku sakit mendengar kenyataan itu. Jadi, semua itu benar. Ia akan bertunangan dengan yeoja asal China.

“Setelah lulus, Kyuhyun akan melanjutkan studynya ke China. Keluarga kami juga akan pindah kesana. Setelah selesai mengurus keperluan kuliah Kyuhyun, acara pertunangan itu segera keluarga kami laksanakan.” Mataku mulai memanas. Jangan sekarang, kumohon. Aku tak boleh meneteskan air mataku saat ini. Karena tak kuat, aku berlari keluar. Aku mencari tempat sepi, agar aku bisa mengeluarkan semuanya disini. Air mataku, tangisku. Tuhan…… ku mohon kuatkan aku. Jika memang dia bukan orang yang kau takdirkan untukku, buatlah aku tegar menghadapi kenyataan ini. Buatlah aku mudah untuk melupakannya. Meskipun aku sadar, perasaan ini tak akan mudah ku hilangkan. Setelah puas menangis, ku usap kembali wajahku yang basah oleh air mata tadi. Ku putuskan untuk pulang. Aku sudah tidak kuat jika kembali ke ruangan itu.

Setelah menelepon eomma agar menjemputku, aku memutuskan untuk menunggu di depan gerbang. Angin yang begitu dingin ini, sesekali membuatku mengusap lenganku dengan kedua tanganku. Memang musim dingin akan segera tiba.

“Permisi noona..” seorang anak kecil, namja menghampiriku.

“Nde? Ada apa?” tanyaku bingung.

“Ige?” dia menyerahkan sepucuk surat padaku. Ku amati dengan seksama surat itu.

“Ini dari siap-?” ternyata anak kecil itu telah pergi. Karena penasaran, ku buka amplop surat yang berwarna merah muda tersebut.

 

From : your secret admirrer

Hai Seo Joohyun.. maaf membuatmu bingung. Aku memanglah seseorang yang telah mengagumimu. Mengagumimu sejak lama. Kau yang menurutku berbeda dengan gadis lain. Kau yang bisa apa adanya. Bisa bersabar selama tiga tahun mengahadapi sikap teman-teman yang selalu bersikap buruk padamu. Aku salut terhadapmu Joohyun-ah. Oh ya, ku dengar kau diterima di unversitas impianmu ya. Waahh chukkae kalau begitu. Sebenarnya aku ingin mengucapkannya secara langsung, namun waktunya belum tepat. Ekkhmm…

Sebenarnya aku bukanlah seseorang yang pandai merangkai kata, jadi aku akan langsung pada intinya saja. Sekali lagi maafkan aku. Maaf aku telah lancang memiliki perasaan padamu. Telah lancang menyebut perasaan ini adalah cinta. Ya, aku telah mencintaimu. Rasa kagumku, berubah menjadi rasa cinta. Namun aku belum bisa mengutarakannya padamu. Aku terlalu takut mendengar jawaban darimu. Hanya lewat surat ini aku berani mengungkapkan semuanya. Hahaha,, betapa bodohnya ya aku ini.

Aku berharap, kau bisa mewujudkan cita-citamu setelah bisa diterima di Cambridge University. Kau juga harus tetap menjadi dirimu sendiri, apa adanya. Dan satu hal,  ku mohon tunggulah aku. Tunggu hingga aku bisa membanggakan diriku sendiri, membawa kesuksesan tanpa adanya campur tangan orang tua. Tunggu aku, hingga saat itu tiba saat dimana aku akan datang padamu, mengutarakan secara langsung isi hatiku padamu. Aku akan terus menyimpan rasa cintaku ini Joohyun-ah.

 

CK

“Siapapun dirimu, kenapa kau bisa mengagumiku sebesar itu. Siapalah aku yang berhak mendapat perhatianmu secara diam-diam?” tak terasa, air mata kembali mengalir dipipiku. Entahlah, firasatku mengatakan bahwa aku harus memenuhi permohonan si pembuat surat ini. Baiklah, aku akan menunggunya. Untuk cinta ku pada Kyuhyun, aku akan mencoba mengikhlaskannya.

 

END

My Destiny

Judul : My Destiny

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Choi Sooyoung

Length : oneshoot

Rating : general

Genre : romance

 

Disclaimer : Author Cuma minjem nama para tokoh, selebihnya karya author, milik author sendiri. Jika ada kesamaan judul maupun jalan cerita itu hanya kebetulan semata karena ini MURNI IDE SAYA.

 
Baca lebih lanjut

Just a little scary

Tittle : Just a little scary
Author : L’danger
Cast :
-Im Yoona
-Lee Donghae

Genre : Romaction, Sad
Type : Oneshoot
Disclaimer : Semua cast yang ada disini hanya pinjem dari God, our parent and sment. Dari awal sampai akhir murni pikiran saya
Dont Plagiator, Dont Siders and Dont Bashing this cast !
Warning typo bertebaran !

^^Happy Reading All^^
Baca lebih lanjut

The Cherry Blossoms

Author :L’danger

Cast : -Seohyun

-Kyuhyun

Length :Oneshoot

Genre :Romaction

Disclaimer :Cast yang ada disini hanya pinjem dari God, our Parent and sm ent.

FF ini pernah di post di Maknae Couple Love Story

Dari awal sampai akhir crita ini murni dari pikiran saya. Kalau ada kesamaan dalam tempat atau alur itu hanya faktor kebetulan, oke.Don’t plagiator and Don’t bashing reader, oke J.Ya udah dari pada banyak ngomong mending langsung aja, cekidot ! dan maaf kalau banyak typo bertebaran xD
Dan untuk FF saya yang sherlock itu masih tahap pembuatan, jadi saya post yang ini dulu

***The cherry blossoms***

Musim semi telah melanda kota Seoul. Seuntai demi seuntai bunga sakurapun berjatuhan. Menutupi jalanan yang terbentang luas disana. Baca lebih lanjut