She’s Yours [Part 1]

She’s Yours [Part 1]

Cast:

  • Kim Ki Bum   [Super Junior]
  • Im Yoon Ah   [SNSD]
  • Lee Donghae [Super Junior]

Other Cast:

  • Jessica Jung
  • Lee Eunhyuk

Outhor: Noviyanti Indahsari

Genre: Friendship, romance

 

Anyyeong haseyo, readers. Ini ff Yoonhaebum ku yang pertama, biasanya aku buat pairing seokyu, kalau ngak taeteuk, tapi kali ini saya coba pairing yang lain. Moga kalian pada suka yah?  oke langsung baca aja yah! Hope you like it! Happy reading!

 

“Apakah kau harus benar-benar pergi oppa? selama berapa lama?” Tanya seorang Yeoja cantik yang sedang menikmati kopinya sambil mengobrol dengan kekasihnya dicafe favorit mereka.

“Ne… kau tenang saja Yoona aku hanya akan pergi untuk 2 minggu. Eomma memintaku untuk datang kerumahnya di Amerika.” Kata namja tampan berbadan kekar dan bermata indah itu lembut.

“Oppa, jangan pergi pokoknya tidak boleh!” perintah Yoona pada kekasihnya.

“Ya! Jangan seperti anak kecil dong, chagiya. Oppa akan pergi! Toh Hanya ssebentar saja! 2 minggu! Itu bukan waktu yang lama kan!” kata Namja itu lembut.

“Ah… baiklah kalau begitu jaga dirimu baik-baik.” kata yeoja cantik bernama Yoona itu sambil memeluk namja yang sedari tadi setia duduk disampingnya. Namja itu membelai rambut Yoona. “Ne. kau juga jaga dirimu selama tidak ada aku.”

Donghae POV

@Bandara Incheon

“Donghae-ah. Jaga dirimu baik-baik.” kata kibum kepadaku.  Kibum adalah sahabat baikku dari kecil. Ia adalah namja yang manis, dia memiliki tubuh yang kecil dan pendek sepetiku, senyum yang menawan dan rambut yang gelap.

“Ne, baikklah. Kau juga jaga dirimu baik-baik.” Kataku sambil memeluk erat sahabatku yang satu itu.

“Titipkan salamku untuk Mrs. Lee.” Katanya padaku, aku hanya tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah.. sampai jumpa, Kibum ah” Kataku, aku melambaikan tanganku padanya. Ia juga melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku menarik nafas dan aku mulai, Aku menyeret koperku,  aku melangkah maju memasuki bandara.

“Oke. I’m coming america” teriakku semangat. Aku melangkahkan kakiku memasuki bandara.

“Donghae-oppa… Donghae-oppa….” teriak seorang yeoja memanggil, manggil namaku. Aku menghentikan langkahku. Kulihat datangnya sumber suara. Kulihat sesesok yeoja bertubuh langsing dan berambut panjang sedang berlari-lari ke arahku. Yeoja itu adalah kekasihku, Im Yoona.

“Donghae oppa..” katanya sambil mengatur nafasnya.

“Yoona? Kenapa kau ada disini?” tanyaku kaget. Ia langsung memelukku. Aku tahu ia tidak ingin aku pergi ke Amerika, entah kenapa, ia tidak seperti biasanya, biasanya ia mengijinkanku pergi kemanapun kusuka, ke Jepang, ke Ausi, ke Korea Utarapun ia tak pernah melarangku, tapi entah kenapa kali ini dia melarangku untuk pergi. Ia memelukku dengan erat.

“Oppa… aku mohon jangan pergi.” Katanya padaku. Kulepaskan pelukannya dan kutatap ia dalam.

“Yoona. Aku harus pergi. Aku ada urusan penting.” Kataku tegas pada kekasiku itu. Aku memang mempunyai urusan penting. Yaitu untuk bertemu dengan eommaku yang sekarang sedang stay di amerika. Aku ke amerika untuk meminta doa restu karena aku akan segera melamar Yoona. Tetapi tentu saja aku tidak mengatakan hal ini pada Yoona, karena aku kan berencana membuat surprise.

“Sepenting apa? Tolong, jangan pergi oppa.” katanya sedih, ia menarik-narik tanganku, bisa kulihat air mata menetes perlahan dimatanya.

“Kau ini kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini. kan Cuma 2 minggu sayang!” kataku lembut, kupeluknya tubuh kecilnya erat dan kubelai rambutnya panjangnya yang indah itu.

“Firasatku tidak enak oppa.” katanya sambil menangis dipelukanku. aku membelai rambutnya perlahan.

“ahaha. Mwo? Firasat tidak enak? Ada-ada saja.” Kataku tidak mempedulikan perkataanya barusan. Aku melepasnya dari pelukanku. Aku melihat jam tanganku waktu menunjukkan tepat pukul 12 :55. Itu menandakan bahwa  Pesawatku akan take of 10 menit lagi.

“Oppa, berangkat dulu yah!! Tuhkan, Sudah kubilangkan kau jangan kesini? Oppa jadi tidak enak meninggalkanmu sambil menangis seperti ini. kalau seperti ini oppa kan jadi kepikiran kamu terus nanti diperjalanan!” kataku lembut. Aku menghapus air matanya. “Sudah kau jangan menangis.”

“Kibum-sii… kemarilah!” perintahku sambil memberi isyarat pada sahabatku agar mendekat ke kami.

“Ne? waeyo Donghae-ah??” Tanyanya lembut. Aku mengedipkan mata kananku padanya.

“Yoona… selama kau ada di Seoul Kibum yang akan menjagamu. jadi kau anggap saja dia adalah aku. Kalau ada apa-apa kau bilang saja pada dia.” Kataku lembut pada kekasihku..

Ia melepaskan pelukannya dari tubuhku dan ia menatap Donghae yang sedang berdiri disebelah kami. “Mwo? A. a.. aku?” Tanya Donghae heran. Tentu saja dia heran mana mungkin aku menitipkan yeoja kesayanganku ke orang lain, selain aku sendiri. Tapi aku tidak punya keputusan lain, tidak mungkin aku meninggalkan Yoona dengan keadaan menangis seperti ini.

“Iya. Kau harus menjagaa Yoona dengan baik. Arraso?” kataku padanya. Ia hanya mengangguk, meng-iyakan. “Ah… Ne. baiklah!”

“Kau lihat kan Yoona. Sekarang Kibum oppa yang akan menjagamu. hanya dua minggu saja. Ok? Kau jangan menangis lagi.” Aku membelai rambutnya, dan mencubit kecil pipinya. dia hanya mengangguk.

“Kau jangan menangis lagi. Berjanjilah padaku.” Aku mengeluarkan sapu tangan yang ada di sakuku dan menghapus air matanya. “Ne aku janji, donghae oppa” Katanya pelan. Aku tersenyum padanya, dan iapun membalas senyumku.

“Ok. Time to go!” kataku sambil melihat jam tangan pemberian mendiang ayahku. Waktu tepat menunjukan angka 13:03, itu berarti pesawatku akan segera berangkat, tanpa banyak bicara aku segera pamit kepada kekasihku dan sahabatku.

“Aku pergi dulu yah.. bye.” Aku mengecup kening kekasihku dan memeluk sahabatku lagi. “Good bye.” Aku melambaikan tanganku, dan buru-buru menggeret koperku masuk kedalam bandara.

Kibum POV

Donghae melambaikan tangannya pada kami, dan ia langsung berlari masuk kedalam Bandara. Aku melirik, yeoja cantik yang berdiri disampingku, ia sedang melambaikan tangannya terus menerus meskipun Donghae sudah berlari jauh.

“Noona.” panggilku pada Yeoja cantik itu. Aku sudah mengenalnya. Dia adalah mantan adik kelasku dulu di SMA. Dia adalah adik kelas yang sangat ramah, baik dan cantik. Semua namja dan oppa disekolahku mungkin akan jatuh cinta padanya, hanya dengan melihat senyumnya saja. Senyumannya benar-benar menawan, ia juga memiliki mata yang indah. Akupun begitu meskipun aku tahu dia sedang berpacaran dengan sahabatku aku diam-diam tetap menganguminya sebagai seorang adik kelas.

“Ne? Kau Kibum oppa? sepertinya.. aku pernah melihatmu” katanya mengingat-ingat. Aku hanya diam saja dan berharap dia ingat bahwa aku adalah, mantan kakak kelasnya dulu.

“Ah.. aku mengingatmu. Kau kakak kelasku, dulu kan?” tanyanya sambil menghapus sisa air matanya yang masih membekas di pipinya.

“Ne… kau masih mengingatku?” tanyaku senang padanya.

“Ne. tentu saja. Kibum oppa kan? Ah aku ingat sekali kau kan orang yang waktu itu tersandung pada acara pensi kan? hahaha” katanya sambil tertawa.

“Ne? Ah sudah sudah! Itu pengalaman yang memalukan” kataku kesal.

“Aku masih ingat, kau tersandung kabel hingga mendorong kepala sekolah dari panggung, dan karena hal itu ia masuk rumah sakit, dan koma selama 3bulan. hahaha” katanya puas sambil tertawa.

Aku menatapnya kesal. Hingga ia berhenti tertawa. “Haha.. mianhe… mianhe.” Katanya ketika ia sudah berhenti tertawa.

“Sudah-sudah, itu sama sekali tidak lucu. Kita pulang saja! Aku akan mengantarmu pulang! dimana rumahmu?” tanyaku padanya.

“Ah  ne tidak jauh dari sini kok!” katanya lagi, sambil tersenyum padaku..

Kamipun pergi dari bandara. Sekarang kami sedang berada didalam mobilku. “Dimana rumahmu?” tanyaku padanya.

“Kau sekarang belok ke kiri nanti kembali ke kanan. Tengah jalan kau belok lagi ke kiri kau akan menemukan sebuah apartemen, disitu aku tinggal.  Itu apartementku.” Katanya sambil menunjukkan arah jalan.

“Oh baiklah” sesuai konstruksinya aku membelokkan mobilku ke kiri.

Baby.. baby… baby.. noo. Like baby baby baby baby oh, suara nada dering handphone berbunyi. suara imut Justin Bieber sedang bernyanyi terdengar sangat keras didalam mobilku. Aku melirik ke yeoja yang sedang sibuk mengobrak-abrik tasnya. Ia mengeluarkan sebuah i-phone dari tassnya dan mengangkat panggilan suara dari hapenya.

“Ne.. waeyeo?” katanya berbicara pada sekotak besi, yang orang biasa sebut dengan I-phone itu. “Ahni. aku dalam perjalanan pulang. Ah baiklah. Ne.” dia menutup teleponnya.

Lalu dia memandangku sambil menggenggam handphonenya. Aku melirik ke arahnya “Kenapa kau memandangiku seperti itu? Aku ganteng yah?”kataku sambil menyetir.

“Mwo? Ah.. ahni.. aku tidak memandangimu!”katanya padaku. “

“Ah yasudah kalau begitu” kataku tidak menghiraukan.

“Oppa..” katanya lagi padaku.

“Ne? Waeyo?” tanyaku pada Yoona.

“Temanku memintaku untuk mengambil kuenya di toko bisa kah kita turun berhenti di took café yang berada didepan?” pintanya padaku.

Aku tersenyum dan mengangguk. “O.. café itu? Tentu saja.” Kataku ramah. Aku segera membelokkan mobilku ke kiri jalan, tapat berada didepan café yang bernuansa eropa itu. Aku memarkirkan mobilku disana.

@Took Café.

“Permisi. Aku ingin mengambil pesanan kue atas nama Jessica Jung” katanya pada kasir yang berada didepan.

“Oh maaf tapi kue anda belum selesai, anda bisa mengambilnya tiga jam lagi.” Kata kasir itu ramah pada Yoona.

“Oh.. masih lama yah. Baiklah aku akan menunggunya saja.” Kata Yoona pada kasir itu.

“Oppa, Aku akan menunggu kueku. Oppa pulang saja. Kamsamida, sudah mau mengantarku kemari” Kata Yoona sambil membungkungkan badannya 90 derajat.

“Ah  ne. ayo kita makan dulu saja, aku dengar steak disini sangat enak. Aku akan mentraktirmu.” Tawarku pada yeoja itu.

“ah tidak usah oppa. kau pulang saja.” Katanya padaku.

“Ah tidak papa kita makan siang saja dulu.” kataku. Aku menarik tangan Yoona dan kami duduk di sebuah meja di kafe itu.

“Aku mau steak terenak di café ini, dan sebuah orange juice. Kau mau apa?” tanyaku pada Yoona yang sedang sibuk melihat daftar makanan.

“Bingung. aku minta menu yang sama sepertimu saja.” Katanya padaku sambil tersenyum. Akupun membalas senyumannya.

“Baik tolong buatkan 2 steak dan 2 orange juice untuk kami” kataku kepada pelayan itu. “Ne tunggu sebentar” pelayan itu mencatat pesanan kami dan pergi meninggalkan kami.

‘Tet.. tet… tet… tet…’ suara hapeku berbunyi menandakan ada sms masuk. Aku mengambil blackberryku dari celana jeansku, kulihat nama ‘Donghae’ tertera dilayar blackberryku.

‘Aku akan segera berangkat, aku akan menghubungimu setelah aku sampai nanti. Tolong jaga yeojaku dengan baik, jangan biarkan namja lain mendekatinya! Arraso? Dan tolong kau jaga dirimu dengan baik juga, aku akan merindukanmu! Donghae-ah saranghe!’ kata pesan singkat yang dikirim oleh Donghae padaku. Dengan cepat aku menggerakkan ibu jariku yang sudah terlatih ini.

‘Nado.. saranghe! Yeojamu aman padaku! Tenang saja! Oia Jangan lupa salamku untuk Mrs,Lee. Hati-hati dijalan!’ kukirimkan pesan singkat dan aku menaruh kembali blackberryku kedalam kantongku.

Aku melihat Yoona juga sedang asik dengan I-phonenya. “Ah lowbat! Matikan sajalah!” gumamnya kesal, ia lalu mematikan iphonenya, dan menaruhnya ditasnya

”Jadi, bagaimana kau bisa mengenal Donghae?” tanyaku memulai pembicaraan sambil menunggu pesanan makanan siang kami disajikan.

“Ah itu aku mengenalnya semenjak SMA, aku kenal Donghae oppa karena dia pernah tidak sengaja melemparkan bola ke kepalaku hingga aku jatuh pingsan.” Katanya sambil mengingat ingat.

“Lalu?” tanyaku, melanjutkan pembicaraan.

“Lalu ia menolongku dan mengantarku pulang. Sejak itu kami semakin akrab” Katanya padaku, sembari tersenyum manis.

“Oh jadi begitu.” aku meneruskan pembicaraan kami, tidak terasa sudah dua jam kami mengobrol sambil memakan makan siang kami.

Ia melihat jam tangannya. “Sudah dua jam kita disini, oppa. apakah oppa tidak ada kegiatan lain?” Tanya padaku. Aku mengangguk yakin

“Gwenchana. hari ini, kantor libur.” Kataku padanya. Tentu saja aku bisa libur sesukaku, aku adalah seorang penulis, jadi aku bisa mengambil waktu liburku kapan saja sesuka.

“Oh. Begitu. Aku takut menganggu kegiatanmu, mianhe. kau pulang saja oppa.” katanya padaku. “Ahni tinggal satu jam saja kan? Mari kita menunggu kue pesanan temanmu bersama.” Kataku padanya. Ia hanya tersenyum.

‘Breaking News… kali ini saya akan membawakan berita terbaru dari kawasan asia.’ Di café itu terdapat sebuah tv flat screen berukuran sangat besar.  Kali ini tv itu sedang menyiarkan siaran berita. Aku tak tahu kenapa, aku jadi tertarik untuk menontonnya sebentar.

‘Beberapa menit lalu, pesawat tujuan Seoul-New York City terjatuh di atas samudra pasifik.’ Kata reporter itu dengan penuh keyakinan. Aku melotot kaget. Kucermati berita di TV itu dengan serius, kudengarkan perkataan reporter paruh baya itu dengan teliti.

“itu kan pesawat yang Donghae tumpangin.” Gumamku pelan. “Ada apa oppa? Gwenchanayo? Kok melotot begitu? Menyeramkan!” Tanya Yoona kepadaku. Aku hanya diam saja.

“Hey ada apa, oppa?” tanyanya lagi. Ia melihatku melototi kea rah tv, sehingga iapun melihat tv itu.

‘Belum dapat dipastikan berapa korban yang tidak selamat dalam tragedy ini. tetapi dapat dilihat pesawat meledak berkeping-keping. Bisa dikatakan bahwa semua yang berada dipesawat juga turut hancur’ Kata seorang narasumber, yang kelihatannya adalah seorang Polisi.

Setelah itu, Tv itu menayangkan beberapa gambar pesawat yang telah terbakar sehingga hanya menyisakan puing-puingnya saja. Badanku lemas seketika, perasaan dan otakku campur aduk rasanya. Rasanya  itu seperti dadaku telah dihantam oleh benda yang sangat berat. Aku tidak mimpikan? Ini nyatakan? Aku hampir tidak bisa bernafas.

“Donghae-ah.” Kataku lemah. Aku melihat Yoona. “Itu pesawat yang ditumpangi Donghae oppa kan?” tanyanya padaku meyakinkan. “Ne.” kataku. “Andwe!!!!! Andwe!!” katanya pelan, suaranyapun hampir tidak terdengar olehku. Ia memukul mukul tangannya dimeja.

Aku mendekatinya dan membelai pundaknya. Aku tahu dia pasti sangat sedih, “Donghae oppa…..” katanya pelan. aku memeluknya dari samping. “Sa… bar…” aku ikut menangis bersamanya. Ia pun mulai menagis, ia menangis di dadaku.

*********************

Hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan bagiku, aku kehilangan sahabatku yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri, Kami melawati segala hal bersama.

Malam ini aku tidak bisa tidur, aku tidak memejamkan mataku sama sekali, aku memandangi fotoku bersama Donghae dan aku waktu kami SMA. Ia terlihat masih sangat muda, ia begitu lucu, ia adalah sahabatku. Di foto itu ia tersenyum.

 

“Kenapa kau melakukan ini ? Kau belum mati kan? Katakan kau baik-baik saja!” kataku pada foto Donghae yang sedang tersenyum itu. “Kenapa kau diam saja? Jawab!!” perintahku pada foto itu. Tentu saja Donghae hanya diam saja sambil tersenyum, itukan foto, manamungkin bisa menjawab. Aku pun mulai menangis sendirian di apartemenku hingga pagi.

***********************

Keeseokan harinya aku datang kerumah sahabatku yang tidak berada jauh dari apartemenku, biasanya aku akan sangat senang jika aku mengunjungi rumahnya, itu berarti kita akan bermain bersama, tapi tidak kali ini, kali ini aku sangat sedih, bukan bermain tujuanku kali ini, tapi untuk berduka cita bersama keluarganya, tentu saja aku tidak suka hal itu.

Aku turun dari mobilku, kulihat rumah besar Donghae sudah penuh dengan orang berpakaian hitam tanda berduka cita. Aku mengambil serangkaian mawar merah yang tadi aku beli di jalan, sebelum aku datang kemari.

Dengan berat hati aku melangkahkan memasuki rumah itu. Didalam rumah kulihat Mrs. Lee, eomma Donghae sedang menangis sambil memeluk foto Donghae.  kali ini kuputuskan untuk tidak tidak menghampirinya, biasanya aku akan dengan ramah menyapanya dan memeluknya, aku sudah menganggapnya sebagai eommaku sendiri. Tapi tidak kali ini, mungkin nanti jika dia sudah agak tenang.

Aku melangkahkan kaki ke tempat orang-orang berkumpulku. Aku melihat foto besar hitam putih Donghae sudah dipajang  dengan dihiasi mawar dan melati dibingkai fotonya. Aku menaruh mawarku disamping fotonya.

“Donghae-ssi… Mianhe.. aku tahu aku bukanlah teman yang baik, aku orang yang usil, tapi aku selalu berusaha menjadi teman yang baik untukmu, kau selalu menjagaku semasa SMA, aku akan selalu mengingatnya hikss.. hikss.. gomawo kau sudah mau menjadi teman terbaikku ..” kataku pada Foto itu sambil menangis. Aku menghapus air mataku, dan berusaha tersenyum, aku tahu sahabatku yang satu itu tidak akan suka melihatku menangis.

Aku melihat Im Yoona datang, ia memakai baju serba hitam, dengan membawa mawar merwarna putih. Matanya terlihat sangat sembab, dan hidungnya juga sangat merah, mungkin ia menangis seharian. Aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Kenapa begitu cepat kau pergi? Sudah kubilang kan oppa. jangan berangkat! Tapi kau malah berangkat! Aku mencintaimu oppa sangat mencintaimu. Oppa kau pergi meninggalkanku begitu saja! Aku akan berusaha mengiklaskanmu oppa, tapi tolong ingatlah aku akan tetap mencintaimu sampai kapanmu” kata Yoona pada foto Donghae yang sudah dipajang di ruang tamu itu.

Aku mendekatinya. Belum sempat aku menyapanya. Tapi ia malah berlari keluar rumah. Aku langsung mengikutinya dan berlari mengejarnya. Dia berlari ke danau yang berada tepat dibelakang rumah Donghae.

“Donghaaaaaee….. opppaaaa….” Teriaknya dengan kencang ke danau itu. Ia meneriakkan nama Donghae oppa beberapa kali.

“Aku bennncccccii.. kau…. Kenapa kau meningggkalkanku… begitu cepat…..??” teriaknya lagi. Aku mendekatinya. Aku memegang pundaknya.

“Lepaskan!” katanya.

“Sudahlah Yoona, kau ikhlaskan saja dia.” Kataku menenangkannya.

“Andwe.. Donghae oppa jahat!” katanya sambil menangis. Hujan mulai turun rintik-rintik.

Aku mengandeng tangannya. Bermaksud membawanya kedalam rumah, agar tidak kehujanan. “Yoona, disini hujan. Ayo kita masuk rumah saja! Cuaca sangat dingin.” Aku menarik tangannya. Ia melepaskan gandengan tanganku.

“Lepaskan aku KIBUM-ssi!!” perintahnya dengan kasar, dia kembali menangis.

Aku menatapnya iba, sekaligus kesal. “Kau mau begini sampai kapan, ha? Bukan kamu saja yang sedih! aku juga! Aku bahkan mungkin lebih sedih darimu! Tapi apakah kau tidak berfikir jika kau bersedih dia akan lebih bersedih disana! Makannya jangan kau bersedih lagi! demi Donghae!” kataku agak membentak.

“Tidak bisaa.. ia terla… lu berharga” katanya sambil terisak. Kini hujan sudah mulai deras, aku membiarkan tubuhku basah oleh hujan itu, Aku memeluk Yoona erat erat. Ia menangis di pundakku.

“Aku sangat mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpanya.” Kata Yoona sambil menangis.

“Kau bisa tentu saja kau bisa! Kau harus berusaha! Demi orang-orang yang mencintaimu, dan demi dia!” kataku padanya. Aku tidak ingin ia terlarut dalam kesedihan. Aku yakin Donghae akan melakukan hal yang sama jika melihat Yeojanya menangis seperti ini.

“Aku tidak bisa… ” katanya. “Berusahalah! Demi dia!” kataku lembut padanya.

*******

Keesokan harinya aku pergi ke apartement Yoona. Ia tinggal sendirian dikota Seoul ini. Eomma dan appanya tinggal diluar kota. ia bekerja sebagai arsitektur di sebuah perusahaan design.

Aku sekarang sudah berada didepan pintu apartemennya, aku membawakan sarapan dan sebotol susu untuknya. Aku takut ia lupa akan lupa makan, dan akhirnya ia sakit, karena itu aku memutuskan untuk membuatkan sarapan untuknya.

Tok.. tok tok… kuketuk pintu apartemennya perlahan. Seseorang yeoja membukakan pintu. Aku melihat seorang yeoja memakai kemeja dan hotpants berdiri didepanku.

“Anyyeong Haseyo.” Sapanya padaku.

“Annyeong haseyo” sapaku balik. “Ini apartemen Im Yoona kan?” tanyaku.

“Ne betul. Kau siapa?” Tanya Yeoja itu padaku.

“Kibum imnida. Aku adalah temannya Yoona.” Kata ku ramah. Aku mengulurkan tanganku, dan yeoja itu menjabatnya.

“Oh… silahkan masuk. Perkenalkan Jessica Imnida.” Katanya. Aku diperseilahkan duduk diruang tamu yang berukuran besar itu.

“Apakah Yoona ada?” tanyaku sopan.

“Ia dia sedang tertidur dikamar. Sejak semalam dia belum tidur. Apakah kau mau aku membangunkannya?” tawarnya padaku.

“Ah ahni… aku hanya sebentar saja! Biarkan dia tidur! Jadi, kau siapanya Yoona?” tanyaku langsung padanya.

“Aku adalah temannya. Aku sangat sedih melihatnya, kekasihnya, Lee Donghae yang sangat ia sayang baru saja pergi, dia memang adalah orang yang sangat sensitive jadi sering menangis, jadi kuputuskan untuk menjanganya sementara waktu.” Kata Jessica dengan nada iba.

“Oh jadi begitu. Baiklah kalau begitu, aku mohon pamit saja. Tolong berikan sarapan ini pada Yoona” kataku. Aku memberikan makanan yang tadi sudah kusiapkan pada Noona yang bernama Jessica itu.

“Baiklah…” Jessica menerima makananku.

Aku pergi melangkah ke pintu untuk pulang.

“Oiya.. berikan ini juga untuknya. Tolong katakan padanya jika ada apa-apa ia bisa meneleponku. Dan katakan aku sangat mengkhawatirkannya” Kataku sambil memberikan kartu namaku pada Yeoja bernama Jessica itu.

Ia mengangguk pelan “ne baiklah” ia membaca kartu itu. “Baiklah, Mr. Kim KIbum!” katanya lagi. Aku hanya tersenyum dan pergi meninggalkannya.

**************

Sudah 3 bulan berlalu semenjak kepergian Ki Bum. aku selalu memperhatikan Yoona. Aku tidak mau dia terus larut dalam kesedihan. Aku dan Yoona semakin akrab akhir-akhir ini. Setiap pagi aku selalu mengiriminya makanan. Dan diakhir pekan aku selalu mengajaknya bermain mengitari kota Seoul dan bermain-main bersama-sama.

“Oppa terimakasih makanannya. Aku sangat suka!” kata Yoona ditelepon.

“Ceonmaneyo! Aku suka kalau kau juga suka” kataku mengombal padanya.

“Ih oppa gombal!” katanya padaku.

“Ih biarin! Oia.. kau nanti malam ada acara tidak?” tanyaku padanya.

“nanti malam yah? Ah aku akan pergi mengantarkan Jessica ke Mall, tapi aku akan pulang jam 8. Kenapa oppa?” katanya didalam telepon.

“Benarkah? Baiklah bagaimana kalau kita pergi jam 8? Ayo kita pergi! Aku akan mentraktirmu minum lagi.” kataku menawarinya minum.

“Ne.. baiklah! Jemput aku, nanti malam!” katanya padaku.

Jam kini menunjukkan pukul 06:00 aku segera mandi dan mempersiapkan diri untuk menjemput Yoona.

Kini Aku sudah sampai di apartemennya sekarang. aku mengetuk pintunya. Keluarlah sesosok yeoja cantik dengan senyuman yang menawan. “Kibum oppa. kau sudah datang?” katanya senang.

“Ne. Sudah siap?” kataku sambil tersenyum .

”Ne. ayo kita bermain lagi.” Katanya senang. “Jessica onnie. Aku pergi dulu. Bye” kata Yoona pada onnienya yang berada didalam kamar, menonton tv.

“Ne… jangan pulang larut2!” suara Jessica berteriak dari dalam.

********************************

Aku dan Yoona kali ini memutuskan untuk mengunjungi sebuah taman hiburan yang berada ditengah kota seoul. Kami bermain ice skating, komedi putar, mobil-mobilan dan balapan bersama-sama. Ia tersenyum sepanjang malam. Aku merasa lega bisa melihatnya tersenyum dengan bahagia. Sekarang, Kami sedang berjalan menuju taman yang ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati kota Seoul.

“Oppa aku mau itu?” katanya padaku ia menunjuk-nunjuk stand pedagang Lolipop.

“Apa? Lolipop itu?” Tanyaku heran, ia menggangguk dengan penuh pengharapan. Aku menarik nafas panjang, dan melangkah mendekati pedagang lollipop itu. Dari sekian banyak pembeli hanya kami yang berumur diatas 10 tahun, aku jadi sangat malu.

“Bang, satu! Yang warna biru” kataku pada penjual Lolipop itu. “Aku mau yang pink” kata Yoona, memintaku..

“Yasudah yang pink saja. Berapa?” aku mengeluarkan beberapa lembar uang didompetku dan membayarnya.

“Nih! Lolipopmu!” kuberikan lolipo itu padanya. Ia tersenyum senang, Aku hanya memandanginya aneh.

Setelah itu kami berjalan-jalan mencari tempat untuk mengobrol. Kami duduk ditaman yang berada agak jauh dari keramaian, karena aku tidak suka kebisingan, jadi aku memutuskan untuk pergi untuk mencari tempat yang lebih sepi. Aku duduk disebah Yoona. Ia sedang menjilati lollipop  seperti anak kecil.

“Slurp… slurp… hem enak…” katanya sambil menjilati lolipopnya.

“Yoona! Berhentilah bertingkah seperti anak-anak!” kataku agak membentak padanya.

“Terserah aku dong! Kau mau apa? wek!” katanya menantang sambil menjulutkan lidahnya. Aku hanya menggeleng gelengkan kepalaku melihat tingkahnya.

“Kamsamida oppa.” katanya padaku.

Aku mengangkat alisku “Terimakasih untuk apa?” tanyaku serius,

“Untuk lolipopnya.” Katanya sambil kembali menjilati lolipopnya.

“YA! Kukira terimakasih untuk apa! ih dasar!” kataku sambil mengacak-acak rambutnya.

“Aduh… apa’an sih?” ia merapikan rambutnya dengan tangannya.

“Yoon..” kataku memanggilnya.

“Ne?” dia tetap sibuk dengan lolipopnya. Aku menunjuk-nunjuk kebibirnya

“Itu belepotan.” Kataku padanya. Ia lalu mengelap bibirnya dengan tangannya.

“Sudah tidak ada kan oppa?” tanyanya lagi.

“Masih ada disini!” akupun mengelap lollipop yang berada dibibirnya. Suasana menjadi hening sesaat. Aku masih tetap memegangi bibirnya. Aku jadi sangat tergoda untuk menciumnya. Kudekatkan bibirku ke bibirnya, aku tidak melihat reaksi penolakan ia memejamkan matanya dan kukecup lembut bibirnya, rasanya sangat manis, seperti strawberry. Mungkin kerena bekas lollipop itu.

‘APA YANG TELAH KAU LAKUKAN?’ teriakku dalam hati.

“Oppa?” katanya sambil memegangi bibirnya.

“Ne?” tanyaku gugup. “Apa yang sudah kita lakukan?” tanyanya padaku. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, sehingga aku membiarkan suasana jadi sangat kikuk.

***************************

Keesokan harinya, aku datang ke apartemennya lagi, setelah lama aku fikir selama semalaman, aku ternyata mulai mencintai Yoona dan aku ingin memilikinya, sehingga kuputuskan hari untuk mengatakannya padanya.  Aku tahu milik siapa dia sebelumnya, tapi aku yakin Donghae tak akan keberatan. Meskipun ia keberatan, itu tidak akan mengurangi rasa cintaku pada Yoona sedikitpun.

Aku mengetuk pintu apartemenya, beberapa menit kemudian Yoona membukanya. Aku tersenyum padanya, “Ayeong haseyo” kataku sambil tersenyum. Dia membalas senyum dan salamku. Dan ia mempersilahkanku masuk.

Aku duduk di ruang tamu apartemennya. “Dimana Jessica?” tanyaku pada Yoona.

“Dia sedang kepasar, membeli makanan. oppa, ada apa kesini? Mencariku?” Tanyanya padaku.

“Ne.” kataku lembut. “Yoona, mengenai malam itu… aku… ah apapun yang terjadi semalam, aku ingin kau tahu bahwa aku… ak aku sangat tidak menyesalinya. Em….. Bagaimana denganmu? Apakah kau juga tidak menyesalinya?” tanyaku langsung to the point padanya.

‘Bodoh! Kibum PABO! Kenapa aku langsung to the point sih! Aku seharusnya basa-basi dulu.’ kataku dalam hati.

“Oppa…” katanya lembut.

“Haha! Aku bodoh yah! Mianhe membuatmu bingung.” kataku malu. rasanya mau kubuang saja wajah tampanku ini ke laut. Tubuhku jadi sangat berkeringat.

“Oppa. aku.. aku.. ah.. juga tidak menyesalinya sama sekali, aku juga sangat suka.” Katanya padaku. “Mwo?” kataku kaget. Rasanya sangat S.E.N.A.N.G mendengar perkataanya barusan. Akupun tersenyum padanya. Ia membalas senyumku. “Ne oppa. aku suka kamu!”

*********************

Semenjak hari itu aku dan Yoona menjadi sangat dekat, bahka aku dan dia sekarang bisa dikatakan sepasang kekasih. Kami berdua sudah resmi berpacaran.

Sudah 3 bulan aku berpacaran dengan Yoona, dan aku sangat mencintainya. dia adalah yeoja termanis yang pernah kumiliki. 3bulan sudah kami melawati hari-hariku bersamanya. Bagiku hari-hari bersamanya adalah hari terindah yang pernah kualami.

Aku tidak yakin Donghae suka atau tidak jika tahu Yeojanya jatuh ketanganku. Tapi aku tidak peduli, yang aku tahu aku mencintai Yoona apa adanya. Dan Yoona ternyata juga menyukaiku melebihi dari rasa suka kepada teman. Kami juga tidak melupakan Donghae ah sepenuhya setiap minggu kami akan datang ke tempat favorite Donghae dan menganangnya.

“Ayo kita pergi.” Kataku kepada kekasihku yang bernama Yoona itu.

“Kemana oppa?” tanyanya padaku.

“Kemana saja. Yang kau suka!” Kataku. Aku membawanya pergi keluar apartement dan berjalan-jalan mengelilingi kota Seoul.

“Oppa. pemandangan disini sangat indah!” katanya padaku.  Aku membawanya kesubuah bukit yang luas. Sekarang kami sedang duduk diatas bukit itu sambil menikmati gemerlap malam kota Seoul dan menikmati pemandangan bintang.

“Ne! aku tahu!” balasku. Aku memeluknya dan kami memandangi langit yang bertaburan bintang bersama-sama.

Tet.. tet… *Suara getar hape* “Hahahahahaha aduh aduh” kataku, sambil memegangi saku celanaku.

“Waeyo oppa? kok ketawa?” Tanya Yoona heran padaku.

“Ahni.. hapeku bergetar. Geli rasanya.” Aku mengambil hapeku yang berada di saku celana jeansku.  Dan Aku melihat ke layar i-phoneku.

20 panggilan tak terjawab? 3 pesan? “Omona? Dari siapa ini?” gumamku penasaran.

Aku membuka pesanku terlebih dahulu, SMS terbaru adalah dari Eunhyuk, salah satu sahabatku si Universitas. Aku buka sms dari Eunhyuk itu.

From: Lee HyukJae

‘Kibum-ah. kau dimana? Aku mendatangi rumahmu tapi kau tak ada, kutelepon tak kau angkat. Sudah lihat berita belum? ADA KABAR BAIK SEKALIGUS MENGEJUTKAN. Kau ingat Donghae, tidak? Ternyata Ia belum mati ia selamat, ada 2 penumpang yang selamat, Donghae dan seorang penumpang lain terjun dengan parasut terlebih dahulu sebelum pesawat meledak. Dan selama ini ia terdampar disebuah pulau kecil, penduduk setempat menyelamatkannya. Dan ia koma selama 6 bulan. Sehingga ia baru bisa ditemukan hari ini. Malam ini dia akan pulang kembali ke Seoul. Makannya malam ini Mrs. Lee meminta kita untuk menjemputnya di Bandara. Ia akan ke Korea besok pagi. Bagaimana kau bisa tidak? Kau dimana?  -Tolong balas. HyukJae!’

“Mwo? Jah… jad.. jadi di… dia belum…. “ aku menjatuhkan i-phoneku… Tak… Pyar

To Be Continue.

Oke alhamdullilah part 1 udah selesai.. maunya dibuat one shoot, tapi susah ah terlalu panjang males mendekinnya! aku buat 2shoot ajah yah?😀 This ff is inspired by Pearl Horbour Movie daaaaan ff ini hanya dibuat selama 2 jam (?) jadi mianhe kalau ancyurs.

aku belum buat yang part 2 insyaalah kalau readers suka aku buat yang selanjutnya yah!  makannya kalian tulis comet kalian ya ! oke sekian.  Yang baca tapi gak coment, harap coment dong Jangan jadi silent reader!! dan yang udah komen tapi belum baca harap dibaca yah #dleh #plak #plak #plak gomawo! Wassalamualaikum wr.wb.

20 thoughts on “She’s Yours [Part 1]

  1. yaaaaaaaaaaaaahhhh. ini kenapa donghae munculnya lama banget.
    yoona udah keburu suka kan tuh ama kibum huhu -__-
    autor yang baik semoga yoona eonni pas ketemu ama hae oppa perasaannya masih tetep kayak dulu.
    hwaiting aku tunggu next chap nya🙂

  2. Thor cpt lanjutinnya y…. plss aku ska bgt sma ni cerita
    request : nti akhirnya donghae sma yoona y…. sal’a aku fans’a yoona sma donghae

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s