[FF Lomba] Good Morning

Good Morning

Author : Arintya PF

 

Good morning, Seo Hyun-ah,”ucapku saat melihatnya membuka mata.

“Oppa, good morning,”senyum mengembang dari bibir manisnya.

***

                                “Kyu Hyun-ah, Kyu Hyun-ah!”aku mendengar teriakan eomma dari dalam kamar. Seketika aku bangun kemudian berlari menuju eomma.

Waeyo, eomma?”tanyaku panik.

“Siapkan mobil. Siapkan mobil,”kulihat eomma menangis sambil memeluk Seo Hyun yang terkulai lemah. Wajahnya pucat. Tanpa berpikir panjang aku segera membuka garasi dan menghidupkan mobil.

Tuhan, ada apa dengan Seo Hyun. Tolong selamatkan dia. Sembuhkan dia. Biarkan aku saja yang menggantikan posisi Seo Hyun.

***

                                “Keadaan nona Seo Hyun sudah semakin parah. Kanker sudah menyerang hampir 60% dari paru-parunya. Untuk saat ini kita hanya bisa memasang slang untuk membantunya bernafas,”ucap dokter yang menangani Seo Hyun.

Eomma sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Digenggamnya tangan Seo Hyun dengan erat. Sementara aku berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.

Semalaman eomma merawat Seo Hyun tanpa tidur sedikitpun. Aku khawatir dengan keadaan eomma. Apalagi semalam Seo Hyun harus dipindahkan ke ruang ICU.

Eomma, pulanglah. Biar aku saja yang menjaga Seo Hyun. Eomma butuh istirahat,”kataku perlahan.

Anni. Kau saja yang pulang. Kau harus sekolah. Sebentar lagi kau kan ujian, Kyu Hyun-ah,”ucap eomma dengan lembut sambil mengelus rambutku.

“Tapi eomma?”

“Kyu Hyun-ah, gwenchana,”eomm tersenyum tipis.

Aku tak bisa berbuat banyak. Yang bisa kulakukan hanya menuruni perintah eomma untuk pulang kerumah.

***

Dirumah aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku pergi ke kamar Seo Hyun. Sepi. Si penghuni kamar ini sedang berjuang melawan maut yang kapan saja bisa datang.

Cho Seo Hyun adalah seorang gadis cantik berusia 18 tahun. Dia adalah adikku satu-satunya yang paling aku sayang. Walaupun usia kami terpaut tiga tahun, namun terkadang ia lebih dewasa dariku. Dia menderita penyakit kanker paru-paru sejak kecil. Namun, aku salut dengan keteguhannya melawan penyakit itu. Sejak usia tiga tahun ia sudah mengalami dua kali operasi pengangkatan sel kanker. Walaupun sakit, ia tak akan menangis. Aku masih ingat kata-kata sebelum ia dioperasi dua tahun yang lalu.

“Oppa, good morning. Hari ini aku akan dioperasi kan? Aku tidak menangis. Aku kan pasti sembuh, Oppa.”

Hobi Seo Hyun adalah mengucapkan selamat pagi untukku. Hampir setiap pagi, ia menggedor-gedor pintu kamarku hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Pernah suatu kali saat aku sedang berada di Jinan, ia keluar rumah sakit untuk menelponku ditelepon umum hanya untuk mengucapkan selamat pagi untukku.

“Oppa, goog morning. I love you, Oppa,”ucapnya.

***

Saat aku hendak pergi ke kampus, terlihat sebuah mobil berhenti tepat didepan pintu gerbang. Seorang lelaki mengenakan jas hitam keluar dari mobil. Karena sudah menduga siapa lelaki itu, aku berlalu tanpa sedikitpun menoleh padanya.

“Kyu Hyun-ah, tunggu dulu.”lelaki itu menarik tanganku. Dengan sigap, aku mengelak.

“Kyu Hyun-ah, appa mau bicara denganmu,”

Saat mendengar kata “Appa” aku berhenti dan menoleh kearahnya.

Appa? Masih berani menyebut dirimu dengan appa?”aku menatap tajam kedua mata lelaki itu.

“Kyu Hyun-ah, bagaimana keadaan Seo Hyun?”lelaki itu mendekatiku.

“Apa urusanmu dengan adikku? Dia baik-baik saja tanpamu,”ujarku ketus. Aku berjalan meninggalkannya.

Appa tau Seo Hyun masuk rumah sakit. Ijinkan appa untuk melihatnya Kyu Hyun-ah!”teriaknya.

Kontan aku berbalik arah dan berjalan mendekatinya. Entah sadar ataupun tidak, aku melayangkan pukulanku ke wajahnya. Lelaki itu terkapar jatuh dihalaman. Kulihat sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi dihadapan Seo Hyun dan eomma!”teriakku.

***

                Cho Hee Hyun adalah nama yang paling kubenci didunia ini. Lelaki paling kejam yang pernah kutemui. Bagaimana tidak? Ia meninggalkan kami demi wanita kaya itu. Ia meninggalkan kami saat  adikku tengah berjuang di kamar ICU. Dan yang paling membuatku amat membencinya adalah saat kami datang  kerumahnya untuk meminta sedikit bantuan untuk membantu biaya rumah sakit Seo Hyun, lelaki itu dengan kejam mengusir kami. Eomma yang pantang menyerah menyuruhku untuk pulang, sementara ia tetap menunggu didepan rumah lelaki itu. Malamnya, betapa kagetnya diriku saat melihat eomma pulang basah kuyub dengan muka memar. Aku yakin, itu adalah perbuatan lelaki kejam itu.

Hidup kami serba kekurangan. eomma membuka warung ramen didepan rumah untuk menghidupi kami. Sementara aku harus bekerja paruh waktu sebagai pengantar koran dan susu. Untunglah ada teman eomma yang baik hati, membantu mencarikan beasiswa untuk kuliahku.

***

“Kyu Hyun-ah, gwenchana?”Tanya Pak Kim, teman baik ibuku sekaligus dosen di kampusku.

Gwenchana, Songsengnim.”jawabku singkat.

Aigoo, kau tidak bisa membohongiku. Wajahmu pucat dan kedua matamu merah. Apa semalam kau tidak tidur? Apa kau ada masalah?”Pak Kim terus bertanya.

Anneyo. Tidak ada apa-apa ahjussi,”kataku.

“Hya! Sudah kubilang untuk tidak memanggilku ahjussi! Ishh,”Pak Kim memukulku kepalaku pelan.

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Pak Kim sudah kuanggap sebagai pamanku sendiri. Dialah orang yang baik hati yang telah membuatku bisa kuliah secara gratis.

“Hya, Kyu Hyun-ah. Bagaimana kabar eomma-mu? Aku sudah lama tidak mengunjunginya? Apa warung ramennya ramai? Bagaimana kesehatan adikmu?”Pak ini memang banyak bicara.

Aku diam saja. Aku tidak mau orang lain tau tentang masalah keluarga kami.

“Soo Hyun-ah, kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri.”Pak Kim mengeluarkan kata-kata pamungkasnya agar aku mau buka mulut.

“Seo Hyun masuk rumah sakit,”aku menunduk.

Mwo? Jinjaeyo?”nada suara Pak Kim mulai meninggi.

Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi semalam. Tak lupa aku juga menceritakan tentang kejadian tadi pagi padanya.

***

Pulang kuliah aku mampir untuk membeli kue kacang merah dan susu pisang kesukaan Soe Hyun di Super Market dekat Rumah Sakit. Saat akan membayar dikasir, ada seorang wanita berkacamata hitam mendekatiku.

“Ambil saja, biarkan aku saja yang bayar. Kau pulanglah,”seketika aku menengok kearahnya. Aku tersenyum kecut kepadanya.

“Maaf, eomma melarangku mengambil sesuatu yang bukan hak ku,”aku pergi meninggalkan wanita kaya itu tanpa mengambil uang kembalian.

Saat akan memasuki kamar inap Seo Hyun, betapa kagetnya aku saat melihat sosok lelaki yang tadi pagi aku pukul. Ia berdiri menghadap Seo Hyun sambil mengengam tangannya. Eomma tidak ada diruangan, mungkin sedang berada diruang dokter.

Aku masuk tanpa mengetuk pintu, lalu menyeret lelaki itu keluar. Aku membawanya keluar rumah sakit. Kami saling beradu tatap.

“Dia sudah besar, ya?”ucapnya tanpa dosa.

“Kau lihat kan, adikku bisa tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah. Jadi untuk terakhir kalinya aku memohon, jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapannya!”nada suaraku meninggi. Tak peduli semua orang menatapku. Aku mencoba untuk  menahan emosiku.

“Kyu Hyun-ah, appa—,”

“Jangan pernah memanggil dirimu Appa dihadapanku,”aku berjalan meninggalkannya. Air mataku tak terbendung lagi saat ingatan tentang kelakuannya kepada eomma muncul. Aku berjalan sambil terus mengelap air mata yang terus mengalir.

***

                                “Oppa!”suara serak menyambutku saat memasuki kamar inap Seo Hyun. Aku mematung dihadapan Seo Hyun. Adikku sudah sadar, gadis kecilku sudah sadar. Tanpa sedikitpun bersuara aku berlari lalu memeluknya. Ia membalas pelukanku.

Oppa, good morning. Maaf aku bangunnya kesiangan,”ucapnya. Aku masih memeluknya. Air mata yang tadi sempat berhenti mengalir, kini kembali membanjiri kedua mataku.

“Sebelum sadar, ia sempat menyebutkan namamu,”eomma memeluk kami berdua.

Segera aku menghapus air mataku. Wajah Seo Hyun masih pucat, namun senyum tetap menghiasi wajah manisnya.

“Seo Hyun-ah, Oppa membelikannmu kue kacang merah dan susu pisang. Kalau besok kau sudah boleh makan, kau boleh makan semuanya,”ucapku.

Jeongmal? Oppa gomawo,”kembali gadis cantik itu memelukku.

***

                                “Eomma, pulanglah. Sudah hampir tiga hari eomma tidak tidur. Biarkan aku yang menjaga Seo Hyun malam ini,”ucapku pada eomma. Wajah eomma juga tampak lemah dan pucat. Mata eomma juga masih sembab karena terus dibanjiri air mata.

Keunde, Kyu Hyun-ah,”aku tau eomma akan enggan pulang.

Eomma, eomma juga harus sehat. Eomma tidak mau kan, Seo Hyun melihat eomma seperti ini terus-terusan?”aku mengenggam tangan eomma. Eomma akhirnya mengangguk pelan.

“Aku akan mengantar eomma mencari taksi,”

Anneyo. Kau sebaiknya menjaga Seo Hyun disini. Ia akan menangis jika terbangun dan tidak ada orang disisinya,”eomma menolak.

Aku menarik nafas panjang. Aku hanya bisa mengantar eomma sampai lobi rumah sakit.

Saat aku kembali dari lobi Rumah Sakit, aku mendapatinya menangis.

“Seo Hyun-ah, gwenchana?”aku takut terjadi sesuatu padanya.

Oppa, aku takut sendiri.”isaknya. Akupun memeluknya.

Oppa, bolehkah aku makan kue kacang merahnya? Aku sangat lapar,”

“Tapi dokter belum bilang kau boleh makan. Tunggulah sampai besok, Seo Hyun-ah,”kataku padanya.

Oppa….”Seo Hyun mulai merengek seperti anak kecil.

Aku tidak sanggup melihatnya merengek seperti itu. Akhirnya akupun membuka bungkus kue kacang merah dan membiarkan Seo Hyun memakannya. Aku menemani Seo Hyun makan kue kacang merah hingga hampir subuh.

“Seo Hyun-ah, sudah waktunya kau tidur. Oppa akan menjagamu disini,”

Eun Soo menggeleng dan ia sibuk meminum susu pisangnya.

Oppa, bolehkan aku meminta sesuatu sebelum tidur?”tiba-tiba Seo Hyun berkata seperti itu padaku.

“Aku mau melihat matahati terbit. Setelah itu aku janji akan tidur,”

“Tapi Seo Hyun-ah, kau belum boleh keluar kamar. Besok kalau sudah sembuh, Oppa janji akan mengajakmu melihat matahari terbit diatap rumah,”jawabku pelan. Dan seperti yang aku duga, Seo Hyun merengek lagi.

Oppa jahat, aku ingin melihat matahari terbit disini. Oppa, Oppa,”rengek Seo Hyun semakin keras. Lagi-lagi  aku tidak tega melihatnya seperti itu.

Aku memakaikan Seo Hyun jaket tebal.

Oppa, aku ingin memakai jaketmu itu,”Eun Soo menunjuk jaket yang tengah aku pakai. Aku melepaskan jaketku dan memakaikannya padanya.

***

                                “Oppa, gwenchana? Berat tidak?”Tanya Seo Hyun saat aku menggendongnya. Udara pagi itu sangat dingin, apalagi aku hanya memakai selembar kaos.

Gwenchana Seo Hyun-ah,”jawabku agak gemetaran.

Aku mendekap adikku diatap Rumah Sakit. Tak kubiarkan dingin menyentuh adikku itu. Aku membungkus Seo Hyun dengan jaketku dan selimut tebal.

Oppa, aku ingin mendengarmu menyanyi lagu 3 Beruang. Aku tidak bisa tidur kalo tidak mendengar lagu itu. Oppa harus menyanyikannya sampai habis,”Seo Hyun kembali merengek didalam dekapanku.

“Janji ya, kau akan tidur kalau Oppa menyanyikan lagu itu?”kurasakan Seo Hyun mengangguk-angguk.

Kom sema ri yo han chi be yi so—“ akupun mulai menyanyikan lagu kesukaan adik kecilku itu.

Oppa, good morning, I love you Oppa,”kata Seo Hyun pelan.

Mentaripun menampakkan dirinya. Sinarnya terlihat jelas memancar dengan indahnya.

Appa gom, eomma gom, ae gi gom, appa gommun—-“

Tiba-tiba aku melihat kepala Seo Hyun menunduk. Tangannya yang tadi menggenggam erat tanganku kini terlepas.  Aku menghentikan nyanyianku.

Deggg….

Dunia seakan berhenti berputar. Air mata ini mengalir lagi.

“Seo Hyun-ah? Apakah kau kedinginan? Oppa akan memelukmu lebih erat lagi,”kataku terisak.

Appa gommun tung tung hae, eomma gommun—-“pedih ini tak tertahan lagi.

Aku memeluk tubuh adikku lebih erat. Aku mengenggam jemari Seo Hyun yang kian mendingin.

Eomma gummun nal shin hae, aegi gommun na bul gwi yow o, hishuk hishuk cha ran da,”dengan susah payah aku berusaha mennyelesaikan lagu itu walaupun dengan terisak.

“Seo Hyun-ah, kau gadis manis. Kau menepati janjimu untuk tidur saat aku menyanyikan lagu ini,”

Good morning, Eun Soo-ah. Oppa menyayangimu selalu,”aku mendekap tubuhnya yang telah dingin itu. Aku terisak mendekapnya.

***

                                “Kyu Hyun-ah,”seseorang memanggil namaku. Aku menoleh. Tiba-tiba lelaki itu mendekapku. Aku mendengarnya menangis.

“Kyu Hyun-ah, mianeyo. Jeongmal mianhae. Appa memang ayah yang tidak berguna,”entah kenapa aku membalas pelukan lelaki itu walaupun tanpa bersuara.

***

Aku memeluk eomma. Kami berdiri dihadapan guci tempat abu Seo Hyun disimpan.

“Selamat pagi, Seo Hyun-ah, kami datang untuk menjengukmu lagi. Lihat, Oppa dan eomma membawakanmu kue kacang merah,”aku meletakkan bungkusan berisi kue kacang merah di samping guci.

“Seo Hyun-ah, jangan menangis nak. Eomma dan Oppa tidak akan menangis lagi. Seo Hyun-ah, kau bahagialah disana. Eomma dan Oppa sangat mencintaimu,”eomma berkata sambil berkaca-kaca. Tapi beliau berusaha untuk tidak menangis. Eomma begitu erat mengenggam tanganku.

Goog morning Seo Hyun-ah. Boghosipoyo,”

14 thoughts on “[FF Lomba] Good Morning

  1. sediiiiiiiiiiiih amat hidup nya seo..
    kyu ama eomma nya sayang bgt ke dia..
    kalo aku kenal appa nya si kyu, udah aku hajar tuh..
    tega bgt jd org..
    walopun akhirnya seo meninggal, setidaknya dia gak akan menderita lagi..

  2. chingu cerita’a bgus bnget dan ok bnget,,,,
    y ampun q smpe gak tega ngebaca’a,,,
    jdi seo itu adiknya kyu oppa,,,
    wah kyu oppa sngat syang bnget sma eommanya dan adiknya itu,,
    kshan seo menderita penyakityg parah dan hrus meninggal,,,
    appanya seo dan kyu oppa jhat bnget sih,,,
    chingu di tunggu ff slnjut’a dri mu,,

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s