[FF Lomba] Waiting

Haloo perkenalkan saya Yoorin Matsu. Saya membawa sebuah oneshoot yang ingin diikut sertakan dalam lomba FF ini. So, kalo kamu suka tolong dikomen dan like ya. Makasi^^

WARNING!! : Tulisan dengan rata tengah dan bertuliskan miring, itu adalah sebuah flashback dari kisah Seo Joo Hyun. Perhatikan juga tanggal yang tercatat dengan tulisan tebal ya. Enjoy^^

.

.

.

Seo Joo Hyun selalu bersabar menunggu. Bahkan ketika semua tak berani berharap ia masih percaya jika semua harapan yang ia gantungkan, jika penantian yang ia lakukan, jika kesetian yang ia pertahankan takkan pernah sia-sia di akhir cerita.

Judul : Waiting

Author : Yoorin Matsu

Cast : Seo Joo Hyun ‘SNSD’, Cho Kyu Hyun ‘SuperJunior’, and Others.

Genre : Romance. Hurt/Comfort, etc.

Type : Oneshoot

Cover taken from http://www.fanpop.com

Senin, 30 Juni 2015.

Hiruk pikuk di stasiun tak membuat gadis berambut coklat itu ikut heboh layaknya para manusia lain yang menunggu kereta tujuan mereka. Gadis berjaket kulit itu hanya terdiam berdiri di dekat loket. Sesekali pandangannya tertuju pada peron 7 dimana kereta yang selalu ia tunggu akan datang.

Pukul 12.45. Kereta tercepat milik Korea Selatan meluncur mendekat. Semakin lama kecepatannya menurun, dan terhenti tepat di depan peron 7. Gadis itu, Seo Joo Hyun, terlonjak dari posisinya. Ia mengikuti arah lautan manusia yang mendekati kereta berwarna putih tersebut. Matanya mengawasi setiap tubuh yang keluar dari pintu kereta. Namun sosok yang ia cari tak sedikit pun menampakkan diri hingga kereta itu melaju kembali menuju tujuan berikutnya.

Joo Hyun melirik jam tangan putih metalnya. Pukul satu siang. Ia menghela nafas berat. Seseorang yang ia tunggu nyatanya tak kembali hari ini. Tak apa, batin Joo Hyun. Masih ada hari esok, masih ada hari lusa, masih ada hari yang ia sisihkan hanya untuk menunggu pria itu. Masih banyak waktu untuk menunggu sang kekasih hati.

~~##~~

Oppa, kapan kau akan kembali?” ucap Joo Hyun. Lelaki berambut coklat ikal itu tersenyum penuh arti. Ia mengusap puncak kepala Joo Hyun yang tengah bergelayut manja di lengannya. Cho Kyu Hyun mendesah sebentar sebelum ia menjawab,

“Secepatnya, Hyunnie. Secepatnya.”

~~##~~

Suara jam weker keroro menggema di setiap sudut ruangan. Joo Hyun mengerang kecil. Ia mengusap wajahnya sebelum berjalan kearah kamar mandi. Wajahnya sudah cukup segar setelah mencuci muka, namun itu tak cukup ampuh mengusir rasa kantuk yang teramat mengganggu. Ia berjalan terseok-seok menuju ranjang. Namun langkahnya terhenti di depan meja belajarnya. Ia terpaku sesaat sebelum berjalan mendekat dan duduk di kursi meja.

Ia amati bingkai fotonya dan Cho Kyu Hyun.

Sebuah senyuman singkat terlukis di wajah manisnya. Joo Hyun mengusap wajah Kyu Hyun yang tengah tersenyum lebar padanya. Ah, betapa gadis ini merindukan Kyu Hyun. Sesungguhnya ia tak pernah bisa untuk tidak melewati sehari saja tanpa kekasihnya itu. Jika bukan karena sebuah kewajiban untuk negara, mereka mungkin takkan berpisah cukup lama.

Mungkin hari ini, jika Joo Hyun merindukan lelaki itu, ia bisa langsung menghubunginya. Merecoki pagi lelaki itu dengan suara cemprengnya. Namun nyatanya itu hanya angan untuk saat ini. Sayangnya itu hanya keinginan seorang gadis yang rindu dengan pelindungnya.

Joo Hyun masih terus memandangi foto itu, ada yang tertahan di tenggorokannya. Ada satu kata yang selalu ingin ia ucapkan. Namun entah mengapa tak pernah bisa terucap. Hingga akhirnya Joo Hyun hanya berucap, “Selamat pagi, oppa.”

~~##~~

Senin, 17 Juli 2012. Stasiun Seoul. Pukul 08.00.

Joo Hyun berdiri berdiam diri. Ia amati seorang lelaki bebal yang kini terlihat gagah dengan seragam militernya. Kyu Hyun tersenyum lebar. Ia mendekati Joo Hyun yang terpaku.

“Bagaimana aku tampan bukan?” ucap Kyu Hyun mencairkan suasana dingin keduanya. Ia membenarkan letak topinya seraya melakukan pose andalan yang menurutnya tampan. Joo Hyun mendengus, kepalanya tertunduk menatap ujung sepatunya yang bertemu dengan ujung sepatu hitam mengkilat Kyu Hyun. Kyu Hyun yang tadinya menampilkan senyum terlebarnya, terganti oleh senyuman lirih.

Ia menangkupkan kedua tangan besarnya pada kepala Joo Hyun. Pandang keduanya bertemu. Ada sinar yang terpancar dari bola mata Joo Hyun yang sangat Kyu Hyun sukai.

“Aku takkan lama, Hyun.” Kata Kyu Hyun lembut. Joo Hyun tersenyum kecil, ia balas memegang tangan Kyu Hyun, menurunkannya dari wajahnya sendiri. “Aku tahu, oppa. Hanya dua tahun kan?” sahutnya dengan nada seceria mungkin.

Kyu Hyun berdiri tegap, “Tentu saja, hanya dua tahun. Aku malah takut kau tak bisa tahan tidak bertemu denganku selama dua tahun.” candanya. Joo Hyun terkekeh, namun suaranya terdengar bergetar. Joo Hyun sebisa mungkin menahan tangis yang akan pecah. Ia tak mau menangis di hadapan Kyu Hyun.

“Justru kau yang tidak tahan dan akan terus merengek karena aku tak ada, oppa.” Balas Joo Hyun menggoda, namun gagal. Suaranya terdengar sengau. Jeda sejenak sebelum Kyu Hyun kembali berucap, “Kau benar, aku pasti sangat merindukanmu, dan merengek meminta bertemu denganmu.”

Keduanya tertawa bersama, larut dalam tawa palsu. Diam lagi.

“Hyun…” panggil Kyu Hyun. Joo Hyun mendongak, ia tatap kedua mata yang memancarkan sinar ketenangan. “Saranghae.” Lanjutnya.

Joo Hyun tersenyum kecil. Tangannya terangkat menyentuh baju seragam Kyu Hyun. Merapikan bagian yang tidak kusut dengan jemari lentiknya. Pandangan Joo Hyun mulai berbayang, ia bisa merasakan buliran air mata yang hendak menerobos keluar. Ada sesuatu yang ingin terucap tapi tak bisa ia ucapkan, Joo Hyun hanya menyibukkan diri, berpura-pura menyibakkan debu yang tertempel di bahu Kyu Hyun. Joo Hyun tak berani menatap wajah yang ia rindukan itu. Joo Hyun takut pertahanan yang ia bangun sedari tadi akan hancur begitu melihat wajah menenangkan Kyu Hyun, hingga Joo Hyun tak bisa berucap apapun lagi.

Belum sempat Joo Hyun membalas kalimat cinta Kyu Hyun, peluit tanda kereta akan pergi terdengar melengking. Kereta melaju perlahan membawa para lelaki yang bertanggung jawab pada negara. Meninggalkan dirinya dan beberapa orang yang terisak dalam di peron 7.

~~##~~

“Guru Seo.” Seru Kwon YuRi. Ia hampiri Joo Hyun yang tengah terduduk di kubikelnya. Wanita berkulit coklat itu meletakkan tumpukan buku yang tadi ia bawa dari ruang kelas di mejanya sendiri.

“Kemarin, aku meneleponmu. Tapi kau tak menjawab satupun  panggilanku.” Keluh YuRi. Joo Hyun tersenyum sopan. “Maaf, kemarin aku ada di stasiun seharian.” Jawabnya singkat. Ia kembali berkutat dengan laporan-laporan yang harus segera dikerjakan.

YuRi yang duduk di sebelah kubikel Joo Hyun mendengus pelan. “Masih menunggu?” tanyanya ragu, takut menyinggung perasaan teman baiknya itu.

Tangan Joo Hyun berhenti bergerak. Ia menoleh menatap YuRi, “Apa ada alasan untukku untuk tidak menunggu?” tanya Joo Hyun kembali. YuRi terpekur sejenak, kemudian dia ikut tersenyum.

YuRi  mendesah sesaat, “Aku mengerti.” Sahutnya. YuRi sibuk membuka buku-buku yang ia bawa. Sebelum sempat membaca, Kwon YuRi teringat sesuatu.

“Ah, tak terasa bukan tiga tahun telah berlalu semenjak kejadian itu.” perkataan YuRi kali ini membuat Joo Hyun benar-benar terdiam.

~~##~~

Kaki kecil gadis berkuncir itu tak henti-hentinya berlari. Ia menabrak beberapa orang yang sedang berdiri serius menatap layar besar yang terpampang di tengah kota. Perjalanan sejauh dua kilometer membuat kakinya pegal, namun ia tak berhenti sebelum menerobos masuk ke sebuah café.

Nafasnya yang tersenggal-senggal terdengar jelas. Matanya yang kecil menatap liar seluruh ruangan. “Joo Hyun eonnie!” pekiknya. Seorang gadis yang lebih tua menoleh, gelas yang ia lap tersimpan di rak. Joo Hyun hampiri gadis kecil tersebut. Ia menunduk menyamakan tinggi mereka.

“Ada apa, sayang?” tanyanya lembut sembari mengusap dahi gadis itu yang penuh keringat. “Kyu Hyun…oppa.” Serunya putus-putus. Joo Hyun melebarkan matanya, ia pertajam indra pendengar ketika nama itu terucap. Tiba-tiba saja dadanya bergemuruh liar.

Gadis kecil itu tak berkata lagi, entah karena kelelahan atau mungkin tak tahu harus berkata apa. Ia tuntun Joo Hyun ke depan televisi yang terpasang di meja sudut café. Mengganti channelnya ke dalam sebuah berita siang hari.

Mata Joo Hyun membeliak kaget saat melihat berita yang terpampang, suara televisi yang terlampau keras mengambil alih seluruh perhatian pengunjung café. Semua terdiam tak bersuara, hanya suara pembawa berita yang terdengar bagai petir mengkilat di teling Joo Hyun.

Dini hari kemarin, pihak militer Korea Utara secara tiba-tiba meledakkan nuklir di perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara. Sampai saat ini, kami belum bisa menghubungi orang-orang kami yang sedang bertugas disana. Nasib para lelaki Korea Selatan yang sedang bertugas disana pun belum diketahui pasti bagaimana keadaannya. Saat ini tim dari Korea…

Kaki Joo Hyun melemas. Ada apa ini? Baru minggu lalu ia mengantar kepergian Kyu Hyun ke perbatasan Korea, sekarang muncul kejadian menyakitkan seperti ini. Rekan kerjanya di café bermunculan keluar. Sulli, salah satu pegawai magang di café, menghampiri Joo Hyun yang terduduk di lantai dengan pandangan kosong. Panggilannya tak di gubris oleh Joo Hyun yang sudah menangis pelan. Sulli hanya bisa mendekap tubuh yang ringkih itu, berharap tangis Joo Hyu  mereda.

~~##~~

Senin, 7 Juli 2015. Stasiun Seoul. Pukul 12.00.

Joo Hyun melangkah pelan menuju gerbang stasiun. Baju terusannya yang berwarna pink pucat melambai tertiup angin. Ia tak pernah berhenti mengucapkan salam pada setiap orang yang ia lewati di stasiun. Siang hari stasiun tak pernah sepi. Selalu saja ada yang menunggu di sana setiap harinya. Entah akan pergi kesuatu tempat, menjemput seseorang, ataupun seperti dirinya, menunggu tanpa tahu orang itu akan datang atau tidak.

Joo Hyun duduk di salah satu bangku panjang di stasiun. Ia tersenyum manis pada seorang ibu dengan anak kecil yang tengah tertidur di gendongannya.

“Sedang menunggu?” tanya ibu itu ramah. Joo Hyun mengiyakan, kemudian bertanya balik.

“Aku menunggu suamiku. Ia belum pulang semenjak kejadian 3 tahun lalu.” Jelas ibu muda itu. Ia tersenyum getir. Joo Hyun tertunduk, ternyata bukan hanya ia yang masih terus berharap dan menunggu. Setidaknya, Joo Hyun  merasa tak sendiri saat ini.

Suara gesekan roda kereta dengan rel terdengar mendekat. Baik Joo Hyun maupun Nyonya Kim, ibu yang tadi duduk disebelahnya, berdiri was-was. Kereta terhenti. Satu persatu turun.

Seorang pria gagah melangkah keluar. Ia hampiri Nyonya Kim dengan anaknya. Drama keluarga penuh haru terlihat jelas di depan Joo Hyun, entah mengapa Joo Hyun ikut terharu dan menangis bahagia. Dalam hati kecilnya, ia ingin bernasib sama seperti Nyonya Kim. Ia berharap penantian yang ia lakukan tak jadi sia-sia.

Keluarga kecil tersebut pergi, setelah berpamitan dengan Joo Hyun. Sebelumnya, Nyonya Kim memberi suatu nasihat kecil untuk Joo Hyun yang akan selalu gadis itu ingat.

“Jangan pernah berhenti berharap dan selalu percaya mereka akan kembali.”

Joo Hyun membungkuk sopan mengucapkan terimakasih. Ia berbalik memandang kereta yang telah pergi. Ia duduk kembali, kini sendirian.

Menunggu beberapa jam di stasiun tak membuatnya bosan. Bagaimana Joo Hyun bisa sesabar ini setelah menunggu tiga tahun lamanya, menunggu sesuatu yang tak kunjung pasti? Hanya satu yang ia yakini. Hanya dengan berharap dan percaya, seperti apa yang dikatakan Nyonya Kim, tidak berhenti berharap dan percaya jika Cho Kyu Hyun akan kembali.

~~##~~

Joo Hyun terpuruk sendiri saat mendengat berita mengejutkan tentang penyerangan Korea Utara. Selama berhari-hari ia hanya menangis sendirian. Tak ada yang bisa menghentikannya. Orang tuanya, orang tua Kyu Hyun, kakak Kyu Hyun, maupun sahabatnya. Tak ada yang bisa menghentikan tangis gadis itu kecuali kehadiran Kyu Hyun di hadapannya. Hanya saja itu tidak mungkin terjadi. Mengingat keadaan negara yang sedang genting. Tak mungkin lelaki itu kembali dengan mudahnya.

Pernyataan perang dari Korea Utara, menghebohkan seluruh penjuru dunia sehingga tak ada yang sempat memikirkan perasaan seorang gadis muda akan nasib kekasihnya di perbatasan sana.

Joo Hyun dan ratusan orang yang khawatir akan kekasih, suami, adik, kakak, kerabat yang tengah mengalami akibat langsung dari seragan nuklir hanya bisa bersabar dan berdoa agar mereka semua selamat. Joo Hyun tiba-tiba teringat perkataan terakhir Kyu Hyun sebelum kereta membawanya pergi.

Joo Hyun, tunggu aku. Jangan pernah berhenti menunggu.

Kini Joo Hyun mengukuhkan hatinya agar selalu menunggu lelaki itu. Joo Hyu tak akan pernah lelah untuk menunggu kepulangan Kyu Hyun.

 

~~##~~

Sejam berlalu semenjak Joo Hyun tiba di stasiun. Lebih lama ia menunggu dari waktu biasanya. Namun ia tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Lagi-lagi ia pulang tanpa seseorang disampingnya. Joo Hyun mendesah pelan. Ia tertunduk sesaat sebelum melangkah pergi.

Baru lima langkah pertama, suara peluit kereta yang melengking menghentikan laju langkahnya. Ia terhenti memperhatikan beberapa orang yang turun dari kereta. Semua terasa melambat di mata Joo Hyun ketika kaki panjang itu melangkah keluar. Tubuhnya, langkahnya, senyumnya, semua yang Joo Hyun rindukan ada di sosok yang kini berjalan menghampiri dirinya yang terpaku.

Joo Hyun terlalu terkejut sehingga ia tak bisa bergerak sesenti pun dari tempatnya berdiri. Ketika lelaki itu mendekat, aroma tubuh yang selalu Joo Hyun rindukan menguar. Joo Hyun terpaku, wajah tegas yang selalu ia impikan kini hadir di hadapannya. Yang pertama Joo Hyun  lakukan hanyalah menangis. Ia terlampau bahagia sehingga hanya bisa menangis menyambut lelaki itu yang terlihat lelah.

Tangan Joo Hyun terangkat. Ia sentuh wajah kasar itu, ia sentuh mata indah itu, ia sentuh dada bidang itu. Ini benar, dia sungguh tidak berada dalam dunia mimpi. Sebuah harapan yang setiap orang pikir itu mustahil terjadi, kini benar-benar terkabul. Cho Kyu Hyun telah kembali, Kyu Hyunnya telah kembali.

Joo Hyun segera menghempaskan tubuhnya, mendekap erat pada tubuh Kyu Hyun. Ia abaikan tatapan haru dari setiap mata yang melihat, ia abaikan suara dentuman tas Kyu Hyun yang terjatuh disampingnya. Yang Joo Hyun inginkan hanya memeluk erat Kyu Hyun agar lelaki itu tak pergi lagi dari kehidupannya.

Seluruh perasaan rindu yang tertahan membuncah begitu saja, keluar bersamaan dengan airmata bahagia ketika Kyu Hyun membalas peluknya.

“Aku merindukanmu, Hyun.” Bisik Kyu Hyun. Ia hirup aroma sampo Joo Hyun yang membuatnya candu. Ia peluk erat Joo Hyun berharap rasa rindunya selama tiga tahun ini tersampaikan.

Pelukan keduanya terlepas. Mereka saling menatap satu sama lain. Kyu Hyun tangkupkan wajah Joo Hyun  dalan kedua tangannya. Memandang Joo Hyun penuh rindu. Mengusap airmata yang mengalir di pipi bulat Joo Hyun. Kyu Hyun kecup bibir mungil yang ia rindukan itu, lama.

“Aku pulang, Hyun.” Ucap Kyu Hyun ketika kecupan lembut itu terlepas.

Joo Hyun terisak, kepalanya tertunduk. Kata itu, kembali tertahan di tenggoroknya. Namun kali ini Joo Hyun takkan membiarkan kata itu hanya tersimpan di relung hatinya. Saat ini, ia harus mengatakan dengan tegas sebelum Kyu Hyun pergi lagi dari hidupnya.

Oppa…”

“Ya?”

Saranghae. Jeongmal saranghae.” Kyu Hyun tersenyum bahagia. Ia peluk lagi Joo Hyun.

“Aku juga mencintaimu, Hyunnie.”

.

Sebuah penantian takkan pernah sia-sia jika kita terus percaya dan setia menanti.

–Seo Joo Hyun-

.

END

 

Yaah itulah oneshoot ku readers. Kalo suka tolong berikan komentarnya ya. Dan maaf jika ada beberapa typo yang lolos dari mataku ini. ^^

KAMSAHAMNIDA. *bow

 

61 thoughts on “[FF Lomba] Waiting

  1. chingu cerita’a bgus bnget dan oke,,
    q ska sma cerita’a,,,,
    akhir’a kyu oppa kembali, dan seo lngsung meluk kyu oppa,
    chingu di tunggu ff slnjut’a dri mu,,,

  2. Ping-balik: [LINK] Waiting (seokyu) « We Got K-Fanfiction

  3. Ping-balik: [LINK] Waiting (seokyu) « Yoorin Fantasia tou

  4. Eonni… untung aku gak lupa kalo lagi puasa, tapi jadi sesak seh gara-gara nahan tangis.. hehe ^^
    mau tanya, eonni suka nnton drama yah? beneran dhe, si seonni disini jadi DramaQueen bgt… tapi yg pling touching bgt itu narasinya, gampang dimengerti, penulisanny juga gak belibet (?), jadi perasaan jadi seorang Seonni itu tersalurkan dgn baik…
    bgian favoritku(?) itu pas terakhir2, berasa ikut bhagia brg SeoKyu dhe… :’D
    At least, cuma mau nulis, “DAEBAK”
    keep Writing, eonni! ^^9

  5. ooohh so sweet banget,,hampir nangis bacanya,,,sumpah,,,terharu banget baca nya,,jadi inget drama friends kyoko fukada sm wonbin pas wonbin nya masuk wamil…

  6. sweet banget eon….. :’)
    aku bacanya dag dig dug gak jelas gitu pokoknya.. T^T
    sempat nyesek waktu bayangin masa2 Seo pas nunggu Kyuhyun…
    huuuaaahhhh… untunglah happy ending T^T*nangis haru
    daebak eon>_<V
    eonni salah satu author favoritku loh^_~
    terus berkarya yah eon…
    Keep writing^^
    Fighting!!^^9

  7. kirain kyu oppa ga akan balik lagi untung aja nyatanya balik lagi jadi seo eonnie ga sia-sia nunggu kyu oppa selama ini
    aku suka ceritanya ^^

  8. ahh kalo ff buatan yoorin matsu mah udah ga diragukan lg, feelnya dpt bgt!
    Aku sukaaa bgt ffnya, itu penantian seo akhirnya berbuah manis jg! So sweet:)
    daebakk deh ffnyaa!

  9. Eonnie🙂 ff nya keren… Suka baca.a seo eonnie gak lelah menunggu demi sang kekash.. Feel.a dpet bgt..
    Gx kebayang betapa sabar.a seo eonnie menunggu kedatangn kyu oppa..
    Nice ff eon..🙂 trus b’karya🙂 Fighting..

  10. akhirnya penantian seo selama 3 tahun tergantikan sudah.. kyuppa kembali.
    ga kebayang klo indonesia ada wamil kaya di korea.

  11. hualaaaaaaahh~ seperti biasa ngena feelnya~~~ ^o^
    benar2 menunjukkan bahwa ini menonjolkan ‘waiting’🙂
    pesan yg ingin disampaikan benar2 sampai ^^
    i like it b^^d

  12. penantian panjang yang tidak sia-sia serta berakhir bahagia…
    Sangaaaat terharu saat seo nunggu kyuppa distasiun and berharap stiap kreta yg berhenti dan orang yg kluar dari gerbong adalah suaminya… Bener terharu apalagi pas bgian akhir, aku kira klo kyuppa ngga akan datang tapi ternyata… Dia datang walaupun sedikit terlambat…

    Ff nya kereeeeen…

  13. hampir nangis🙂
    padahal di akhir2 kirain itu cuman halusinasi seo aja. kebawa sama diri sendiri yang suka bikin angst dgn karakter yang tidak bahagia hehehe~
    narasinya bagus^^ meskipun masih banyak typo disana-sini😛
    semoga menang yah😉

  14. Ceritanya benar-benar… wow, amaziiing. Mengharukan pokoknya.
    Eonni memang penulis FF hebat! Aku suka loh sama karya-karyanya🙂
    Semoga sukses yah lombanyaa~

  15. Sumpah sedih kerasa bnget penantian’y….
    Bodo amat puasa jg nangis toh bukan mendem amarah y hehehe….aku nangis author…nangis sedih…
    “menanti/menunggu”
    sebuah kata yg mampu mengecewakan kita.
    Tp jika menunggu utuk waktu yg idah kenapa nggak.
    WAITINg WIRES semoga seokyu nyata

  16. Sumpah sedih kerasa bnget penantian’y….
    Bodo amat puasa jg nangis toh bukan mendem amarah y hehehe….aku nangis author…nangis sedih…
    “menanti/menunggu”
    sebuah kata yg mampu mengecewakan kita.
    Tp jika menunggu utuk waktu yg indah kenapa nggak.
    WAITINg WIRES semoga seokyu nyata

  17. duh…nyeseg banget pas baca… tahan tangis…
    untung seo sabar bgt yah…
    kirain mpe akhir bakalan ngegantung, kyu nya ga pernah balik…tp dugaanq salah…akhirnya kyu balik…mengharukan banget…

  18. Wow…
    Sejujurnya saya juga pernah mengalami hal yang sepertinya agak sama dengan kehidupan saya. Ga tau sih, tapi waktu saya baca kayanya menghayati banget gitu. Penantian yang lama di lakukan dengan sepenuh hati pasti ada akhir yang baik. Iya kan?

    Yaa seenggaknya seohyun udah tersenyum lagi ngeliat kyuhyun yang ada di depan matanya. Jangan pernah menyesal ya seo eonnie ^^

    Buat author, semangat! Semoga bisa bikin karya yang lebih bagus lagi🙂

  19. . q kira bkalan jdi sad end … tpi trnyt malah happy end … .
    . sneng deh bc ff ini … kt2 na dlam … .
    . emg sebuah penantian itu g akan sia2 … smg ja penatian q g sia2 #seokyu itu bnran nyata# amin … .
    . q jg percaya n slalu menanti .

  20. 2 hari yang lalu aku udah baca ini sih, tapi belum sempet komen dan like. tapi ini cerita bagus banget. tak kira akhirannya sad tapi ternyata malah seokyu ketemu lagi astaga ;;)

  21. Senengnya akhirmya penantian seohyun ga sia2 wlw hrs nunggu 3thn tp itu semua tergantikan dgn adanya sosok yg ditunggu.nice story…

  22. Aigoo bagus banget super duper baguss(y) daebak eonni siapa pun yang ngeliatanya bisa jadi motivasi eonni (˘̩̩⌣˘̩ƪ)

  23. cinguuu,,, ff nya kerreen abiss,, pkoknya DAEBAK bnget deh,, smpe speechles nih,,:)
    feel dpet bnget,,

    hiks,,hiks,,
    ku smpe terharu bc ni FF,, akhirnya penantian SEO onnie gk sia,,

    di tunggu ff slnjutnya ya cingu,, yg pasti kreen jga oke,,
    nd good luck,,:)

  24. Ah.. Bernostalgia dgn baca kmbali nh penpiq…
    Betapa aku merindukan karyamu yg lain eon *jiah.. >.<

    bnrn deh, lw para author2 penpiq SK diwajibkn bwt novel, ada 2 author yg bnr2 kutunggu hasil tulisannya.. Eonnie 'yoorin matsu' and gina 'inmykyudreams' ^^

  25. Bkin banjirrr huaaa so sweet .
    Pnantian seo unnie tdk sia” krna ia prcaya ttrhadap oppanya.
    Krn ia sangat mncintainya🙂

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s