[Freelance] LOVE AT A COFFEE SHOP #1

LOVE AT A COFFEE SHOP

*mian gabisa post gambar krn gabisa*

Cast:

  • Tiffany Hwang
  • Choi Siwon

Other Cast:

  • SNSD members
  • Super Junior members
  • Son Ye Jin

Author: Park Ye Lin

 

 

 

 

~AUTHOR’S POV~

 

Seorang gadis cantik berdiri di belakang konter meja. Dia sibuk membuat kopi untuk para pelanggan di coffee shop tempatnya bekerja. Namanya adalah Tiffany Hwang.

Seorang ahjumma berdiri di depan konter, mengetuk-ngetukkan jemarinya di atasnya. “Mana cappucinno saya?” gerutunya kesal.

Tiffany mendongak dari whipped cream yang sedang dituangnya (?) ke dalam minuman. Dia tersenyum. “Akan datang sebentar lagi, ahjumma.”

Ahjumma itu mendengus, “Aku tidak suka menunggu.”

Setelah melayani para pelanggan selama 3 jam lebih, coffee shop akhirnya tutup. Si pemilik coffee shop, Yesung, berjalan keluar dari dapur (memang ada ya di coffee shop?) dengan bersemangat. Meski dia seorang pengusaha kaya raya, dia menyempatkan diri bekerja di coffee shop ini dan sering mengusulkan menu-menu baru.

“Kerja yang bagus, chingu!” katanya di depan konter. “Ingat, besok hari Minggu, dan kita harus membuat custard pudding kita laris!”

Tiffany dan pegawai-pegawai lain menganggukkan kepala. Setelah Yesung mempersilahkan mereka semua pulang, Tiffany mengendarai sepedanya ke rumahnya. Letak tempatnya mengambil pekerjaan paruh-waktu itu sangat dekat dengan apartemen kecil yang ditinggali Tiffany dengan kakaknya.

Seperti biasa, Tiffany memparkir sepedanya di tempat parkir khusus pemilik apartemen (?) dan berjalan masuk. Di apartemennya, dia melepas jaketnya sambil berteriak, “Unnie, na wass-eo!”

Kakak perempuan Tiffany berjalan keluar dari dalam kamar tidurnya. “Annyeong, Fany! Tumben kau pulang larut malam!”

Tiffany nyengir. “Biasa, unnie, lembur.”

Kakaknya mengangguk. “Oke. Apa kau sudah makan?”

“Belum.”

“Akan unnie buatkan bibimbap!”

Tiffany mendesah. “Ye Jin unnie, tak perlu. Aku tidak lapar.”

Ye Jin memutar bola matanya. “Berhentilah menyangkal,” katanya. “Kau semakin lama semakin kurus. Kau tidak akan mendapatkan namja nanti!” Dia berjalan ke dapur dan mulai memasak.

Tiffany melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku harus fokus kuliah sekarang, unnie! Masalah namja-namja tidak begitu menarik perhatianku.”

“Padahal harus!”

***

Paginya, di hari Senin, Tiffany dengan semangat berangkat ke sekolahnya, Universitas SM. Dia beruntung mendapatkan beasiswa ke kampus mahal itu. Jurusannya adalah seni tarik suara (suara mana bisa ditarik-tarik!) dan cita-citanya menjadi penyanyi pun diperjuangkannya dengan tanpa kenal lelah.

“Annyeong, Fany-ah!” Seseorang menepuk bahu Tiffany.

Tiffany menoleh dan melihat sahabatnya, Jessica Jung, berjalan di sampingnya. Berbeda 180 derajat dengan Tiffany, Jessica adalah gadis kaya raya dan senang bereksperimen dengan fashion, sehingga kombinasi pakaian yang dipakainya selalu aneh bin ajaib tapi tetap kelihatan cantik.

“Ah, Sica-ah,” sapa Tiffany. “Apa kau sudah mendapatkan pekerjaan?”

“Belum!” gerutu Jessica. “Kenapa sih, appa dan eomma menyuruhku bekerja? Aku kan sudah punya uang!”

Mereka berdua berjalan menuju kelas.

“Itu supaya kau lebih bertanggung jawab,” jelas Tiffany lembut dan mereka duduk di bangku mereka. “Kau akan memimpin perusahaan ayahmu nanti. Omong-omong, kenapa kau justru mengambil jurusan seni?”

“Aku juga suka menyanyi, Fany-ah! Masa kau lupa?”

Tiffany mengangguk, nyengir. “Oh ya, benar juga. Hehehe.”

Tiba-tiba, seorang namja muncul di samping Jessica, merangkul bahunya erat. “Annyeong! Neomu yeppoyo…” puji namja itu padanya. Pipi Jessica langsung memerah. Namja yang merangkulnya itu adalah namja-chingu-nya, Kim Heechul.

“Go… Gomawoyo, oppa,” bisik Jessica malu.

Heechul tertawa geli dan melihat Tiffany. “Fany-ah, apa kau sudah punya namja-chingu? Sudah lama kau tidak punya namja-chingu, sejak entah tahun berapa, ya…”

Tiffany mengangkat bahu. “Aku akan mengejar karierku dulu. Aku yakin aku akan menjadi penyanyi yang sukses.”

Jessica bertepuk tangan. “Itulah yang kusuka darimu, Fany-ah! Semangatmu yang tak ada habisnya! Tiffany Hwang sebagai penyanyi, fighting!”

***

Seusai kuliah, Tiffany buru-buru datang ke coffee shop. Sebagai barista utama (loh?) di sana, Yesung memberinya kepercayaan penuh dan Tiffany tidak ingin hal itu berubah. Sayangnya, hari Senin selalu menjadi hari coffee shop kebanjiran pelanggan. Banyak ahjussi, ahjumma, bahkan orang-orang sebaya Tiffany yang capek bekerja dan selalu membeli kopi untuk menjaga agar mereka tidak tertidur.

Saking kewalahannya, Tiffany sampai berteriak ke arah pegawai lain, meminta bantuan. Kim Hyoyeon, juga teman akrab Tiffany yang ikut bekerja di sana, “terjun” ke konter dan ikut membantunya.

“Selanjutnya!” pekik Tiffany ke arah pelanggan-pelanggan yang mengantre.

“Aku pesan cappucinno dengan extra cream dan gula,” kata pelanggan namja itu.

Tiffany mengangguk. Dengan tergesa-gesa, dia menyiapkan pesanan namja itu. Sementara si namja mengecek SMS di HP-nya. Ada pesan baru dari ayahnya:

Choi Siwon! Di mana kau?! Sudah kutunggu berjam-jam tapi kau belum datang juga?

Namja yang bernama Choi Siwon itu hanya mendengus. Hidupnya cukup sibuk sebagai seorang arsitek tanpa perlu diganggu ayahnya. Begitu mendongak dari HP, dia melihat kopinya sudah ditaruh di atas konter. Siwon menaruh uang di atas konter dan berjalan ke salah satu kursi sambil menyesap kopinya.

1… 2… 3…

‘Cappucinno macam apa ini?! Rasanya hambar sekali!’, batin Siwon. Dengan kesal dia berjalan kembali ke konter dan menyela antrean.

“Hei, kau, nona! Apa maksudmu dengan ini?” geram Siwon, menaruh gelas cappucinno-nya di atas konter. “Rasanya tidak enak! Kualitas kopi di sini sangat rendah, ternyata!”

Tiffany mendongak. “Mianhaeyo! Akan saya buatkan yang lain!”

Siwon terpaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak (bukan berhenti berdetak beneran!). Gadis di depannya amat sangat cantik, dengan rambut lurus panjang yang melewati bahu, mata yang indah seperti manik-manik, dan wajahnya yang sempurna.

Aku merasakan sesuatu yang sangat aneh. Aku belum merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya!’, batin Siwon lagi.

Melihat bahwa namja itu hanya terdiam, Tiffany mulai membuat kopi lain, memikirkan betapa tampannya namja itu.

***

Dengan buru-buru, Tiffany berlari di trotoar, menerobos kerumunan orang-orang. Dia sudah berjanji akan membantu Jessica dan Hyoyeon di rumah keluarga Jung. Jessica sedang mempersiapkan homecoming party untuk adiknya, Krystal Jung, yang akan kembali untuk berlibur di Seoul setelah bersekolah di San Fransisco, AS.

Aduh! Aku telat! Aku telat! Sica dan Hyo bisa membunuhku!’, pikir Tiffany dalam hati.

Tiba-tiba, tanpa sengaja, dia menabrak seseorang sampai tersungkur jatuh ke jalan. ‘Aduh, ngapain pake acara nabrak orang segala, sih?’, batinnya.

“Mianhaeyo, mianhaeyo… Saya tidak sengaja…” kata Tiffany, walau kaki dan tangannya masih sakit karena terantuk jalan yang keras. Dia membantu namja itu membereskan bawaannya yang jatuh.

Tiffany mendongak, dan tahu-tahu dia berhadapan dengan Siwon. Mereka saling bertatapan.

“Bukankah… Kau kan pelayan di coffee shop itu!” tunjuk Siwon.

Tiffany melongo. “Kau lagi?”

“Hei! Kau menjatuhkan tasku! Kau tahu, di sini ada laptop-ku yang menyimpan data-data penting!” tegur Siwon, mengambil tasnya dari genggaman Tiffany dengan kasar, lalu berdiri tegap.

Tiffany ikut berdiri, menatap Siwon tajam. “Oh, ya? Aku tidak mengetahuinya, dan aku tidak perlu tahu.”

“Jangan bersikap seenaknya terhadapku!” ancam Siwon. “Pertama kau meracuni kopiku, sekarang kau—”

“Whoa!” kata Tiffany, shock. “Meracuni kopimu? Untuk apa? Kau sudah cukup menyedihkan. Meracunimu hanya akan menambah parah sifat sombong dan egoismu itu.”

“Berani-beraninya!”

“Ya, aku berani! Dan permisi, aku punya urusan untuk diselesaikan!” Tiffany sengaja mendorong Siwon dengan bahunya dan berjalan melewatinya.

***

Jessica dan Hyoyeon menghentakkan kaki.

“Mana Fany?” gerutu Jessica.

“Lama sekali dia!” keluh Hyoyeon.

“Krystal keburu datang!” kata mereka bersamaan.

Ting tong!

Terdengar bel pintu berbunyi.

Jessica bergegas membuka pintu. Ternyata Tiffany. “Fany-ah! Lama sekali dirimu! Untung saja Krystal belum datang!”

Tiffany ngos-ngosan. “Mian, Sica-ah, tapi ada namja menjengkelkan yang menuduhku aku meracuni kopinya kemarin!”

Hyoyeon, yang tadi duduk di sofa, langsung melompat berdiri. “Sudahlah! Fany-ah, bantu kami pasang banner-nya!”

Sambil memasang banner, Tiffany tak bisa berhenti memikirkan namja tadi.

Tunggu saja kalau dia sampai datang ke coffee shop Yesung oppa lagi! Aku akan menuduhnya habis-habisan! Lagian, berani-beraninya dia menunjukku meracuninya! Tapi, kenapa aku jadi memikirkannya? Ah, pabo, Fany! Kau membencinya! Kau membencinya!’, batin Tiffany.

***

Siwon turun dari mobil Ferrari-nya dan berjalan masuk ke dalam mansion mewah yang ditinggali kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya adalah pengusaha sekaligus pemilik Choi Company, dan di usianya yang masih muda, Siwon sudah memimpin perusahaan itu meski dia seharusnya kuliah.

Di ruang keluarga, dia mendapati eomma-nya, memakai gaun mewah dan perhiasan yang berkilau, berdiri memandangi taman belakang yang penuh dengan bunga beraneka warna. Siwon berjalan mendekat. “Annyeong, eomma. Neomu yeppoyo.”

Ny. Choi tersenyum. “Gomawoyo. Siwon-ah, seperti yang kauketahui, Choi Company berada di posisi yang tidak menguntungkan sekarang,” katanya to the point.

Siwon melongo. Eomma-nya sendiri, mengkritik caranya menjalankan perusahaan? “Eomma! Aku melakukan yang terbaik!”

“Tapi belum cukup baik,” kata Ny. Choi tegas. “Kita bisa bangkrut bila seperti ini!”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Aku akan menyerahkannya sementara ke adikmu. Dia pasti bisa menggantikanmu selama beberapa saat.”

Siwon menggeleng cepat-cepat. Memikirkan adiknya, Choi Eunhyuk, yang malas-malasan dan pelit, membuatnya merasa lebih buruk daripada sebelumnya. “Eomma, apa maksud eomma? Eunhyuk takkan bisa menjalankan perusahaan dengan baik! Kerjanya hanya malas-malasan, paling menari-nari di kamarnya!”

“Ini menguntungkan kedua belah pihak! Kau bisa kuliah, dan Eunhyuk bisa menyingkirkan sifat pemalasnya itu. Kau harus meneruskan bakatmu, Siwon-ah. Menyanyi. Kau menyukainya. Bermain musik. Musik itu duniamu.”

“Tidak, eomma. Aku tidak cocok di dunia itu. Aku lebih baik mengatur Choi Company. Eunhyuk cocok di dunia seni—dia bisa menari.”

“Pokoknya kau akan kuliah! Eomma sudah mendaftarkanmu di universitas musik bergengsi—murid-murid terbaik bersekolah di sana!” kata Ny. Choi.

Siwon mendesah. “Universitas apa?”

***

Tiffany berjalan menyusuri koridor. Dia sudah tidak sabar ingin memulai kelas. Yesung oppa meliburkan seluruh pegawai hari ini, membuatnya bisa mencari-cari tempat audisi menyanyi di berbagai tempat.

Tahu-tahu, bahunya menabrak bahu orang lain dan tangannya terasa basah. Tiffany menoleh dan melihat Siwon.

“Kau…!” pekik Tiffany.

Siwon mendongak. Sama seperti yang terjadi di coffee shop

Jantungnya seakan berhenti berdetak.

*** TBC ***

 

17 thoughts on “[Freelance] LOVE AT A COFFEE SHOP #1

  1. wah siwon sama tiffany ini jodoh yah dikit-dikit ketemu…
    walaupun ketemu dengan kesan yang ngga mengenakan…
    tapi seru deh kisahnya..
    ditunggu lanjutannya

  2. Annyeong new reader dan bener2 real new reader yg menemukan wp ini di mbah google..
    Q suka sifany jadi q penasaran dengan ini..

    Wah pertemuan sifany yg membuat ada kejutan buat keduanya..
    Penasaran..

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s