LOVE AT A COFFEE SHOP #2

LOVE AT A COFFEE SHOP PART 2

Cast:
 Tiffany Hwang
 Choi Siwon
Other Cast:
 SNSD members
 Super Junior members
 Son Ye Jin
Author: Park Ye Lin/ Tata/ YoonHaeSeoKyu

~AUTHOR’S POV~

Tiffany terperangah (kaget maksudnya!).
‘Untuk apa si namja brengsek itu datang ke sini?!’, batinnya.
Lalu Tiffany sadar bahwa lengan kiri dan sebagian bukunya basah terkena air mineral yang tadi dipegang Siwon, yang masih terkejut.
“Hei! Jangan bengong saja! Lihat apa yang kaulakukan!” teriak Tiffany, membuat Siwon sadar dari lamunannya.
Siwon melihat botol air mineralnya yang tinggal setengah. “Oh, aku menumpahkannya di tanganmu! Mianhaeyo…”
“Apakah dengan minta maaf tangan dan bukuku jadi kering lagi?!” hardik Tiffany. “Dasar namja sialan! Tiap kali aku bertemu denganmu pasti selalu sial!” Dengan marah Tiffany berjalan melewati Siwon.
Tiffany berjalan memasuki kamar mandi dan mengelap tangannya dengan tisu. Buku-buku pelajaran (?) miliknya setengah basah, membuat tulisannya kabur dan luntur. “Ugh! Kenapa sih si namja itu pake numpahin air segala?!”
Begitu selesai, Tiffany berjalan masuk ke kelasnya. Jessica dan Heechul, yang tengah mengobrol sambil duduk mesra-mesraan di pojok, entah kenapa membuat Tiffany makin marah. Hyoyeon pun menghampiri temannya itu dan duduk di depannya.
“Ya, Fany-ah! Gwenchanayo?” tanya Hyoyeon cemas.
“Gwenchana,” jawab Tiffany.
“Terus kok kau kelihatan marah-marah begitu?”
Tiffany pun menceritakan segalanya tentang Siwon alias namja sialan itu (lagi males ngetik, skip!)
Hyoyeon mengangguk-anggukkan kepala mengerti setelah Tiffany selesai. “Wah, takdir dong! Bisa-bisa, dari benci jadi cinta…” godanya.
Tiffany cemberut. “Ya enggak lah! Mana mungkin aku jatuh cinta dengan namja semenyebalkan dia!”
Begitu kelas mulai, dosen pun masuk. Ternyata, yang berada di belakang dosen itu… Siwon!
“Semuanya, saya perkenalkan Choi Siwon. Dia adalah murid baru di Universitas SM ini,” kata si dosen.
Siwon membungkuk di depan kelas. “Annyeonghaseyo, Choi Siwon imnida.”
Beberapa cewek-cewek mendesah kagum melihat ketampanan Siwon, tapi Tiffany hanya mendengus kesal.
‘Jadi… aku sekelas sama si Siwon ini? Argh!’
***
~SIWON’S POV~

Ugh! Kenapa sih aku harus satu sekolah, apalagi sekelas dengan yeoja menyebalkan itu?! Pertama-tama dia meracuni kopiku, lalu serangkaian kejadian lain! Apa aku memang ditakdirkan untuk bernasib sial?
Dengan langkah gontai aku berjalan ke rumahku. Rumahku cukup luas dan ditinggali oleh diriku sendiri. Memang agak sepi, tapi sekarang Eunhyuk harus tinggal di rumahku juga! Dia tidak boleh tinggal lagi di rumah orangtuaku supaya lebih bertanggung jawab!
Aku memasuki rumah setelah memarkir mobilku. Tiba-tiba, seorang yeoja langsung memelukku. Aku bergidik dan langsung berjalan mundur, tapi yeoja itu tidak melepaskan pelukannya. “Oppa! Oppa habis dari mana saja, sih? Aku mencari-carimu, oppa…”
Aku melepas pelukan dan melihat yeoja itu. Kwon Yuri. Yeoja yang merupakan anak dari Kwon Tae Sung (ngasal), sahabat appa-ku. Eomma sudah nggak sabar ingin menikahkanku dengan Yuri ini, tapi aku tidak menyukainya.
“Kau tak perlu mencariku. Aku kuliah sekarang.”
“Lalu, bagaimana dengan perusahaan oppa?” tanya Yuri manja.
“Eunhyuk yang menjalankannya.”
Tiba-tiba (kebanyakan tiba-tiba!) Eunhyuk keluar dari salah satu kamar. “Hyung! Gomawoyo, sudah mengizinkanku tinggal di sini!”
“Yayaya,” kataku.
“Mengurus perusahaan itu gampang banget, padahal aku baru kerja sehari! Appa sudah bilang kerjaku hampir sebagusnya dengan appa sendiri!”
Aku tersentak kaget. “Benarkah?”
‘Masa aku harus terdiam dan kuliah sementara Eunhyuk yang menerima pujian-pujian orang-orang?’
***
~TIFFANY’S POV~

“Seperti yang kalian tahu, akan diadakan konser musik oleh sebuah universitas lain. Pemenangnya akan mendapatkan uang 250 juta won. Itu cukup banyak untuk memperbaiki fasilitas universitas ini. Nah, saya akan memilih 2 murid yang pantas mengikuti konser musik mewakili Universitas SM,” jelas dosen.
Semoga aku dipilih. Semoga aku dipilih. Semoga aku dipilih.
“Tiffany Hwang!”
Semua murid di kelas bertepuk tangan. Aku tersenyum lebar.
“Suaranya yang bagus bisa membawa kita ke juara pertama!” kata si dosen.
“Kamsahamnida!” teriakku.
“Dan untuk peserta kedua… Choi Siwon!”
Semua murid terdiam selama beberapa saat. Termasuk aku. Tiba-tiba semuanya bertepuk tangan, berteriak riuh-rendah.
Apa? Siwon? Sejak kapan namja itu punya bakat? Bakatnya hanya bersikap egois dan menyebalkan!
“Meski Siwon anak baru di sini, suaranya berkarakter dan tidak kalah dengan suara Tiffany sendiri. Saya yakin kalian berdua bisa menjadi duet dan membawakan lagu Love Melody dengan baik! Dan karena kalian berdua bisa bermain piano, kalian HARUS memainkan piano berdua sambil bernyanyi di panggung nanti!” kata dosen.
APA?!
Aku membeku (maksudnya diam gak bergerak, bukannya beku beneran!)
Love Melody adalah lagu cinta terkenal. Kebanyakan memang nada tinggi, tapi aku bisa menyanyikannya dengan baik. Tapi… masa aku harus menyanyikannya dengan Siwon? Menyanyikan lagu cinta dengannya?! Memangnya aku jatuh cinta padanya?!
Sepulang sekolah aku dan Siwon harus berlatih. Kami memasuki ruang musik dan dia duduk di kursi piano. Aku tetap berdiri. Aku tidak sudi berada di dekatnya kurang dari jarak 1 meter.
“Ayolah, duduk di sampingku,” bujuk Siwon dengan nada menggoda yang jelas-jelas palsu.
Aku mendengus. “Aku akan menyanyi bagianku. Kau menyanyi bagianmu.”
“Tidak sebelum kita bermain pianonya bersama!”
Aku cemberut. “Ne, baiklah.” Aku duduk di sampingnya dan memainkan lagu itu di piano. Siwon mengikuti. Lalu dia mulai menyanyi:
Love is a mysterious thing
(Cinta adalah sesuatu yang misterius)
It can forgive, it can forget
(Bisa memaafkan, bisa melupakan)
I never thought
(Aku tak pernah menyangka)
That I would love you
(Bahwa aku akan mencintaimu)
I love you, with all my heart
(Aku mencintaimu, dengan sepenuh hatiku)
My love
(Cintaku)
Sekarang bagianku. Sambil memainkan tuts-tuts piano, aku menyanyi:
At first
(Pada awalnya)
I don’t believe in love
(Aku tak percaya pada cinta)
But since I met you
(Tapi sejak aku bertemu denganmu)
It all changed
(Segalanya berubah)
I love you, with all my heart
(Aku mencintaimu, dengan sepenuh hatiku)
My love
(Cintaku)
Lalu, suara kami berdua memenuhi ruangan.

When the sun stops rising
(Ketika matahari tidak lagi terbit)
When air doesn’t exist anymore
(Ketika udara sudah tidak ada)
I will still love you
(Aku akan tetap mencintaimu)
Our love is like a never-ending symphony
(Cinta kita seperti simfoni yang tak pernah berakhir)
The melody of my love
(Melodi cintaku)
Is only for you
(Hanya untukmu)
*NB: Mereka hanya nyanyi yang bahasa Inggris, yang bahasa Indonesia cuma untuk terjemahan, dan mian kalo lagunya lebay*
Siwon tersenyum. Aku menatapnya. Ternyata, senyumnya manis sekali. Semakin menonjolkan (?) wajahnya yang tampan. Aish, apa yang kupikirkan, Tiffany?
“Suaramu bagus sekali,” kata Siwon kagum.
“Gomawoyo,” jawabku datar.
“Kita pasti akan memenangkan konser itu!” ujarnya bersemangat.
“Tapi kita harus tetap berlatih.”
***
~AUTHOR’S POV~

“Begitu, unnie,” jelas Tiffany.
Ye Jin mengangguk. Tiffany sudah selesai curhat padanya soal Siwon. “Jadi, kau membencinya, tapi si dosen itu masih memasangkan kalian berdua untuk konser?”
Tiffany mengangguk lesu.
“Kurasa kalian-lah yang bermasalah,” ujar Ye Jin. “Kalian harus mengakrabkan diri kalau ingin memenangkan konser itu.”
Tiffany memelototi kakaknya. “Unnie! Wae? Aku membenci namja itu!”
Ye Jin mengangkat bahu.
***
Kelas telah selesai. Tiffany adalah yang terakhir keluar dari kelas. Dosen pun menyuruhnya membawa sebuah tumpukan buku ke ruangannya. Tiffany mengiyakan dan membawa kira-kira 10 buku tebal ke lantai 2, tempat ruangan dosen itu berada.
Sambil terhuyung-huyung, Tiffany membawa tumpukan itu pelan-pelan.Tapi tumpukan buku itu sangat berat, dan…
BRUK!
Tiffany terjatuh, juga buku-buku si dosen. Sambil mengutuk dirinya sendiri, Tiffany memungut kembali buku-buku itu dengan lambat.
Lalu ada seorang namja yang membantunya. Tiffany mendongak dan melihat Siwon ikut mengambil buku-buku itu dari lantai. Tiffany sadar bahwa ada yeoja yang berdiri di samping Siwon. “Oppa, apa yang kaulakukan? Berdiri!” jerit yeoja itu. (Si Siwon lagi berlutut)
“Yuri-ah, kau duluan saja. Aku akan membantunya,” kata Siwon.
“Aku baik-baik saja,” kata Tiffany.
Yuri menghentakkan kaki. “Tuh, oppa! Yeoja itu bilang dia baik-baik saja! Kau tak perlu membantunya, oppa!”
Perasaan Tiffany campur aduk. Melihat Siwon dan yeoja bernama Yuri itu, entah mengapa terasa sakit. Hatinya terasa sakit melihatnya. ‘Setelah keakraban kami dalam berlatih untuk konser kemarin. Apakah si Yuri itu yeoja-chingu Siwon?’, pikir Tiffany.
“Kubilang pergi, Yuri-ah!” kata Siwon tegas.
Tiffany dan Yuri sama-sama kaget. Siwon belum pernah berbicara dengan nada setegas itu. Sedikit takut, Yuri mengangguk dan berkata, “A-Arraseo.” Dia berjalan pergi.
Setelah pulih (?) dari keterkejutannya, Tiffany berbicara, “Kau tak perlu berbicara seperti itu padanya.”
Siwon mendongak. “Tak apa-apa.” Mereka berdua sama-sama berdiri, keduanya memeluk tumpukan buku.
“Aku bantu bawa, ya?” pinta Siwon.
Tiffany menggeleng. “Tidak perlu.” Dengan enggan, Siwon memberikan buku-bukunya pada yeoja itu. Tiffany mengangguk dan berjalan melewatinya. Lalu dia ingat dia harusnya membenci Siwon. Dia berbalik menghadapnya, dan Siwon masih menatapnya, tersenyum penuh harap.
“Kau tak usah berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirimu. Berhentilah bersikap sok baik!” hardik Tiffany, lalu berjalan pergi.
Siwon terperangah.
***
“Aku bingung, hyung,” kata Siwon. “Aku sudah berusaha baik padanya, bersikap ramah. Mana mungkin pura-pura? Kubantu juga dia dengan buku-bukunya!”
Heechul mendengus. “Kau sebenarnya ngomongin siapa, sih?”
“Ah, hyung!” gerutu Siwon.
Mereka berdua berada di coffee shop tempat Tiffany bekerja. Sebenarnya, Siwon mengajak sepupunya, Heechul, ke tempat itu supaya dia juga bisa melihat Tiffany selain berbicara dengan hyung-nya itu. Tapi kata salah satu pelayan, Tiffany libur. Tidak masuk kerja untuk mempersiapkan suatu acara. Siwon langsung tahu bahwa Tiffany berlatih untuk konser itu.
Heechul menyesap kopinya. “Oke, oke. Aku mendengarkan. Aku hanya kepikiran Jessica.”
“Jessica saja yang kaupikirkan! Hyung, untung kau sekampus denganku. Aku tidak punya teman di sana. Kenalanku hanya kau dan Tiffany saja.”
“Tapi kudengar, para yeoja di kampus sudah membentuk fansclub-mu,” ujar Heechul santai sambil mengetukkan jari. “Banyak yang nge-fans denganmu. Kau seperti selebritis saja! Kaya, tampan, tapi sombongnya minta ampun.” Siwon langsung menjitak kepala Heechul.
Siwon mendesah. “Hyung, sepertinya aku mulai suka dengan Tiffany.”
Heechul terbelalak. “Benarkah? Wah…”
Siwon mengangguk serius. “Tapi… Bagaimana dengan Yuri?”
BRUK!
Siwon berbalik dan melihat Yuri menabrak Yesung. Yesung, yang tadi memegang kopi, langsung menumpahkannya tanpa sengaja di gaun Yuri. Dengan kaget, Yuri memelototi Yesung.
“Ya! Hati-hati kalau jalan!” geramnya penuh amarah. “Gaunku jadi basah!”
“Mianhaeyo,” kata Yesung, menatap wajah Yuri.
Yuri terperangah. ‘Astaga, namja itu kok, ganteng banget, ya? Bahkan lebih tampan daripada Siwon oppa…’
Yesung ikut kaget. ‘Apakah aku melihat bidadari? Belum pernah kulihat yeoja secantik dirinya… Yesung, apakah kau jatuh cinta?’
Pipi Yuri langsung memerah. “Eh, tidak apa-apa, kok. Aku akan pulang dan mengganti baju.” Dia berbalik untuk berjalan keluar dari coffee shop, tapi Yesung menahannya.
“Tapi kau akan kembali lagi, kan?” kata Yesung. “Eh, maksudku, aku akan memberimu kopi gratis. Sebagai tanda maafku karena telah membasahi gaunmu.”
Yuri menatapnya dengan tatapan takjub. “Wah… Gomawoyo,…?”
“Kim Yesung imnida.”
“Kwon Yuri imnida. Oh, aku pulang dulu. Aku akan kembali. Annyeong!” Yuri berjalan pergi.
Siwon dan Heechul, yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu, tersenyum lebar. Heechul berkata, “Sepertinya mereka jatuh cinta. Apakah kau tahu bahwa itu tadi Yesung?”
“Apa? Yesung hyung?” tanya Siwon. Dia sama sekali tidak tahu bahwa adik Heechul, Yesung-lah yang memiliki coffee shop ini.
“Begini, kalau kau mau menyingkirkan Yuri,” jelas Heechul, “begini caranya. Bla… bla… bla…”
***
Siwon duduk di bangku taman kota, menunggu. Setelah beberapa menit, Yuri datang dan duduk di sampingnya.
“Ada apa, oppa?” tanyanya manis.
“Yuri-ah, aku akan jujur padamu… Aku tidak menyukaimu. Kau hanya jodoh yang diatur appa dan eomma-ku. Aku sudah menyukai yeoja lain. Maaf, tapi kita putus,” kata Siwon terus terang (masa terus gelap? *garing*)
Yuri terdiam. Dia teringat Yesung, tapi dia menggeleng. “Aniyo. Aku tidak akan melepaskan oppa. Oppa milikku!”
Siwon tersentak. “Yuri-ah! Aku melihatmu tadi bersama Yesung hyung! Kau menyukainya! Terlihat dari matamu!”
Yuri menggeleng. “Aniyo! Nan neul saranghae, oppa. Aku tidak menyukai Yesung. Aku hanya menganggapnya baik, itu saja!” Buru-buru, sebelum Siwon sempat bereaksi, Yuri mengalungkan tangannya dengan tangan Siwon. “Oppa, kau milikku.”
***
Konser musik itu tinggal beberapa bulan lagi. Tiffany semakin khawatir. Sejak kejadian tabrakan dan buku-buku berjatuhan itu, hubungannya dengan Siwon makin merenggang. Tiap latihan kacau karena mereka merasa tidak nyaman satu sama lain.
‘Memangnya kenapa sih aku tidak bisa langsung akrab dengan Siwon? Itu karena wajahnya yang tampan, senyumnya yang menawan, matanya yang indah… Lha, kok aku ngomongin sisi bagusnya? Tidak, Tiffany, kau tidak boleh menyukai Siwon!’
Akhirnya, si dosen, yang selama ini mengawasi Siwon dan Tiffany berlatih, tidak tahan lagi. Setelah kelas usai, ketika murid-murid lainnya sudah keluar, dosen itu menyuruh Siwon dan Tiffany tetap tinggal di kelas.
“Latihan kalian kacau. Konser sudah dekat! Apakah kalian ingin mempermalukan Universitas SM? Kalian harus lebih akrab satu sama lain! Kalian harus berkencan!”
Siwon dan Tiffany melongo. “APA?!” teriak keduanya.
“Ya, bila kalian memang tidak bisa bersikap layaknya dua chingu, lebih baik kalian jadi yeoja-chingu dan namja-chingu satu sama lain. Kalian harus berkencan untuk mendekatkan diri, tidak hanya untuk konser tapi untuk pergaulan kalian juga. Aku percaya pada kalian berdua, pada bakat kalian—tapi hubungan kalian sangatlah renggang! Kalian harus kompak kalau mau memenangkan konser. Arra?” jelas si dosen.
“Arraseo…” jawab Siwon dan Tiffany.
***
Di hari kencan, Tiffany sibuk berdandan. “Apakah aku harus memakai pita? Apakah aku harus memakai bandana? Ah, mengapa aku memikirkannya? Mengapa aku harus terlihat cantik di depan Siwon?” gumam Tiffany.
Terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ye Jin masuk. “Unnie!” pekik Tiffany.
Ye Jin tersenyum. “Fany-ah, kau sedang bersiap-siap untuk kencanmu, kan?” tanyanya.
“Ya, begitulah. Unnie, eottokhe? (gimana sih ngejanya?) Masa aku harus berkencan dengan Siwon?” gerutu Tiffany.
“Ya, begitulah,” Ye Jin meniru perkataan Tiffany. “Hati-hati, lho—benci bisa jadi cinta!”
“Ah, unnie…” Tiffany mengibaskan tangan. “Tidak mungkin terjadi.”
Begitu sudah siap, Tiffany berjalan keluar dari apartemen. “Annyeong, unnie.” Dengan gugup dia berjalan ke universitas, tempat dia dan Siwon bertemu malam ini. Tiffany bisa merasakan hatinya dag-dig-dug (kayak di lirik Putih Abu-Abu *lah kok nyambung ke situ?!*)
Di depan universitas, Siwon sudah menunggu, tampak tampan sekali, menurut Tiffany. Tiffany tersenyum setengah hati. “Siwon-ah, ke mana kita bakal pergi?”
“Ikut aku,” kata Siwon penuh rahasia, menggandeng tangan Tiffany dan mereka berjalan menjauh dari universitas. Tiffany tersenyum melihat tangannya dan tangan Siwon saling menggenggam. Tiffany meremas tangan Siwon.
Diam-diam, Siwon tersenyum lebar. ‘Astaga… Dia kelihatan cantik sekali… Eh, kenapa aku belum memujinya?’
“Fany-ah, ngomong-ngomong, kau kelihatan cantik sekali,” kata Siwon.
Pipi Tiffany bersemu merah. “Ah, benarkah? G-Gomawoyo…”
Mereka lalu sampai di sebuah arena ice skating.
Ketika mereka sedang memakai sepatu, Siwon melihat bahwa Tiffany tidak memakai sepatu skating-nya. “Fany-ah, mengapa kau tidak memakai sepatunya?” tanya Siwon.
“Aku tidak bisa skating,” jawab Tiffany.
“Tenang saja, akan kuajari,” kata Siwon. Dia berlutut di lantai dan memakaikan sepatu skating untuk Tiffany. Tiffany, yang kaget, hanya bisa tersenyum.
“Dosen menginginkan kita dekat. Aku akan bersikap seperti chingu-mu sejak hari ini. Mian untuk segala sikap burukku. Dan aku yakin kau tidak meracuni kopiku dulu,” jelas Siwon.
Tiffany mengangguk pelan. ‘Ternyata dia baik juga, ya… Apakah aku mulai menyukainya? Ah, mengapa aku menjadi sangat kebingungan?’, batinnya.
Di arena ice skating, Siwon pelan-pelan membantu Tiffany. “Kau bisa melakukannya!” kata Siwon begitu melihat Tiffany bisa ber-skating. Pelan-pelan, Siwon melepas genggaman tangannya. Langsung saja, Tiffany kaget dan skating-nya jadi aneh. Mendadak, Tiffany terjatuh di es.
Siwon langsung membungkuk di atas Tiffany yang tiduran di es. “Fany-ah, gwenchanayo?” tanyanya cemas. Dia mengulurkan tangannya. “Ayo, Fany-ah, kubantu kau bangun.”
Tiffany mengambil (?) uluran tangan Siwon, tapi dia langsung menariknya sehingga Siwon ikut terjatuh di es—di atas Tiffany.
“Ha! Kau ikut terjatuh!” pekik Tiffany.
Siwon tidak bisa berpikir jernih. Dia, sedekat ini dengan Tiffany…
Tiba-tiba Siwon menempelkan bibirnya di bibir Tiffany.
“Mwo?” kata Tiffany, tapi Siwon tidak berhenti menciumnya. “Hmph… hmph…” Akhirnya Tiffany bisa mendorong Siwon dan bangkit berdiri. Siwon tiduran di es, sementara Tiffany segera keluar dari arena ice skating.
“Fany-ah!” teriak Siwon, langsung berdiri dan mengejar Tiffany.
Tapi Tiffany sudah keluar dari tempat ice skating dan berjalan di trotoar sendirian, menuju rumahnya. Siwon mengikutinya dan berlari mengejarnya, lalu menarik tangannya sehingga Tiffany berbalik menghadapnya.
“Lepaskan!” pekik Tiffany, tapi cengkeraman Siwon terlalu kuat. “Lepaskan aku, Choi Siwon! Dan berani-beraninya kau menciumku di depan umum! Kaukira kau siapa, hah?”
Siwon memandangnya, sedih. “Mianhaeyo. Tapi… tapi aku menyukaimu, Tiffany Hwang. Sejak kita pertama kali bertemu di coffee shop itu. Aku sudah menyukaimu sejak saat itu, tapi aku justru membencimu pada saat yang sama. Mianhaeyo… Aku benar-benar menyukaimu, Fany-ah.”
Bukannya merasa kaget, Tiffany malah merasa semakin marah. Dia langsung melepaskan cengkeraman tangan Siwon. “Mana mungkin aku mau menerimamu sebagai namja-chingu-ku? Kau kasar dan tidak berpendidikan!” Dia berbalik pergi.
Siwon mengejarnya, kini ikut berjalan di sampingnya. “Fany-ah, kumohon. Aku tidak akan mengecewakanmu—”
“Huh!” potong Tiffany. “Aku tahu kau seperti apa, Siwon-ah. Kau seorang playboy. Banyak yeoja yang mendekatimu, bahkan mereka membentuk fansclub untukmu. Kau pasti punya banyak yeoja-chingu sekaligus. Ya, kan? Tak mungkin yeoja bernama Yuri itu saja, kan?”
“Yuri? Dari mana kau mengenalnya?”
“Kau menyebut namanya, ingat, sewaktu kau… mengambil bukuku yang jatuh.” Tiffany merasa kebingungan sekarang. Dia sebenarnya menyukai Siwon, tapi…
‘Tidak, Fany. Kau tidak boleh menyukai Siwon. Dia akan mengecewakanmu. Kau tidak pantas menjadi pasangan seseorang yang sangat rendah sepertinya’, batin Tiffany.
Siwon mendesah. “Tetapi… Fany-ah, aku berjanji!”
Tiffany mendadak berhenti berjalan.
“Berhenti memohon! Aku takkan pernah menyukaimu, Choi Siwon! Kaukira aku mau menjadi yeoja-chingu-mu? Hah? Lebih baik aku tidak mengikuti konser itu bila harus bertemu denganmu setiap hari!”
Lalu Tiffany berjalan meninggalkan Siwon sendirian.
***
“Apa yang kulakukan benar, kan?” tanya Tiffany.
Yesung mengangkat bahu.
Mereka berdua berada di coffee shop saat break siang. Seperti biasa, Yesung dan Tiffany mengobrol di ruangan khusus para pegawai, menikmati makan siang mereka bersama.
“Tapi dia benar-benar menyebalkan!” gerutu Tiffany. “Berani-beraninya dia menciumku di depan umum! Perilaku yang sangat merendahkan!”
Tentu saja, Tiffany membicarakan—lebih tepatnya curhat—tentang Siwon kepada Yesung. Yesung selalu menjadi tempat Tiffany mencurahkan isi hatinya, begitu juga sebaliknya. Karena itulah keduanya sangat dekat.
“Sudahlah,” desah Tiffany. “Sekarang gantian oppa. Apa yang ingin oppa bicarakan?”
Yesung tersenyum tipis. “Rasanya… rasanya aku jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Mwo?” kata Tiffany kaget. “Benarkah? Dengan siapa?”
“Seorang yeoja cantik, tapi kok aku lupa namanya, ya… Padahal aku memberinya kopi gratis!” kata Yesung.
Tiffany tertawa. “Itu berarti oppa semakin tua! Seiring bertambahnya usia, semakin pikun! Hahaha…”
Yesung langsung menjitak kepala Tiffany.
***
“Menyedihkan!” kata Hyoyeon.
“Apanya yang menyedihkan?” tanya Tiffany dan Jessica bersamaan.
“Kau menyukainya! Kau menyukai Choi Siwon, meski kau menolak menjadi yeoja-chingu-nya!” kata Hyoyeon. “Akan kukatakan padanya kau berubah pikiran! Aku kan sepupunya!”
Tiffany langsung tersentak kaget. “Apa? Sepupunya Siwon?”
Hyoyeon mengangguk. “Appa-ku kakaknya appa Siwon. Yesung oppa, Heechul oppa, dan aku adalah sepupunya Siwon!”
Jessica menjerit senang. “Tiffany! Kau harus bersama Siwon! Dengan begitu kita bertiga bisa jadi keluarga!”
“Enak saja! Aku tidak akan pernah bersama Siwon!” ujar Tiffany.
“Lalu, bagaimana dengan konser itu?” tanya Jessica.
“Sepertinya… aku harus mengundurkan diri.”
“MWO?!”
***
Tiffany berjalan memasuki kelasnya yang masih sepi. Dia datang kepagian. Dia duduk di kursinya dan mulai mencorat-coret buku tulisnya untuk membantunya melewati waktu.
Mendadak seseorang menaruh kotak berbentuk hati di mejanya. Tiffany mendongak dan melihat Siwon tersenyum ke arahnya.
“Untukmu.”
Tiffany mendengus. “Tidak, terima kasih. Aku tidak akan menyimpan—”
“Buka dulu,” desak Siwon, “dan beritahu dosen aku absen selama sehari. Aku harus bertemu dengan adikku.”
“Hah?” kata Tiffany tidak mengerti, tapi Siwon sudah berjalan keluar kelas.
“Cih! Dasar namja tidak jelas!”
Dengan enggan, Tiffany memegang kotak hati itu di depannya. Warnanya merah dan dihiasi pita warna pink. Dia melepas pitanya dan membuka kotaknya. Isinya belasan coklat berbentuk hati, masing-masing dengan tulisan “Saranghae”.
Tiffany memandang coklat itu, jijik. Dia menutupnya dan berdiri dari mejanya. Setelah yakin tidak ada satu orang pun yang melihatnya…
Dia membuangnya ke tempat sampah.
*** TBC ***

Annyeonghaseyo!
Pertama-tama, author mau bilang kamsahamnida buat para pembaca… Kamsahamnida karena sudah membaca Love At A Coffee Shop walau baru 2 part hehehe… Oh, ya, author ingin minta maaf. Son Ye Jin, kakak perempuan Tiffany Hwang, seharusnya bernama HWANG YE JIN! Mianhaeyo atas ketidaktelitian author *mukul-mukul jidat sekeras-kerasnya*
Pas author baca ceritanya, author takut ada yang kebingungan sama masalah karakter di FF ini. Jadi author tulis aja biar gampang:
Anggota keluarga CHOI:
 Siwon
 Eunhyuk
Anggota keluarga HWANG:
 Ye Jin
 Tiffany
Anggota keluarga JUNG:
 Jessica
 Krystal
Anggota keluarga KIM:
 Yesung
 Heechul
 Hyoyeon
Oh ya, sekarang author sudah jadi author tetap… Kamsahamnida buat Zyzy KyuHae yang udah memberi izin… hehehe ^^

Kalau yang sudah ngerti, penjelasannya gak usah dibaca aja hehehe ^^
Ya sudah, author cuma mau ngomong itu aja… Part 3-nya tolong ditunggu, dan maaf kalo FF Love At A Coffee Shop ini agak ngaco.
Kamsahamnida, readers!

16 thoughts on “LOVE AT A COFFEE SHOP #2

  1. yah kenapa fany ngga mau nerima siwon.. padahal siwon udah nyatain perasaannya…
    padahal keliatannya fany juga suka sama siwon
    ditunggu yah lanjutannya

  2. Aaaah suka karakter fany un tpi jangan di buat jadi menyebalkan ya..
    Wah siwonpa nyatain perasaan ma fany un tpi di tolak..
    Tuh yul udah deh ma yesung aja lepasin siwon..

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s