LOVE AT A COFFEE SHOP #3

LOVE AT A COFFEE SHOP PART 3

Cast:

 Tiffany
 Siwon

Other Cast:
 SNSD members
 Super Junior members
 Ye Jin

Genre: Romance

Author: Park Ye Lin/ Tata/ YoonHaeSeoKyu

~AUTHOR’S POV~

Siwon berlari tergesa-gesa ke lantai tempat Eunhyuk berada. Dia ingin menengok keadaan adiknya itu. Choi Company bisa-bisa semakin parah daripada sebelumnya. Eunhyuk belum berpengalaman dalam hal bekerja.

Ketika dia sampai di kantor Eunhyuk, dia melihat eomma-nya. “Eomma?” tanya Siwon kaget.

Eomma-nya menoleh, begitu juga Eunhyuk. “Siwon! Kau seharusnya bangga terhadap adikmu ini!” kata eomma-nya bersemangat. “Perusahaan ini sudah bangkit! Kita berada di jalur yang benar. Eunhyuk-ah akan memimpin perusahaan ini sampai kau menyelesaikan kuliahmu, Siwon-ah.”

Siwon melongo. “Mwo? Eomma, aku lebih tua! Aku hyung-nya!”

“Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua,” ujar Ny. Choi. “Siwon-ah, kau akan bisa memimpin perusahaan ini—pada akhirnya. Fokus pada kuliahmu!”

Siwon mendesah.

***

“Kau membuangnya?” pekik Hyoyeon.

Dia dan Tiffany sedang berada di coffee shop seusai kuliah, memanggang kue-kue yang akan dipesan para pelanggan nanti. Tiffany mengangguk, tangannya sibuk mengaduk adonan kue dengan lambat. “Aku tidak menyukai namja itu. Untuk apa aku menyimpan coklatnya?”

Hyoyeon mendengus. “Lalu, konsernya?”

Tiffany menatap Hyoyeon. “Tentu saja aku akan mengundurkan diri.”

“Astaga, Fany-ah! Sebenci itukah dirimu dengan Siwon? Padahal, kau selalu ingin tampil di sebuah konser! Seorang pencari bakat bisa melihatmu dan menjadikanmu penyanyi terkenal! Semuanya, hanya karena kau tampil bersama Siwon!”

Tiffany menggeleng. “Aku membencinya. Amat sangat.”

“Perbedaan benci dan cinta amat sangat tipis,” timpal Yesung, yang tiba-tiba berjalan masuk ke dapur, lalu keluar lagi setelah mengambil seloyang kue.

Hyoyeon mengangguk bersemangat mendengar perkataan oppa-nya. “Fany-ah, akui saja!”

Tiffany menggeleng.

Ketika sudah waktunya dia bertugas sebagai barista (yang bikin-bikin kopi atau apa gitu deh), Tiffany menempatkan diri di belakang konter dan bekerja seperti biasanya. Setelah melayani selama 1 jam, dia mendongak untuk melihat pelanggan selanjutnya.

Siwon.

Tiffany terkejut. ‘Apa yang harus kulakukan? Aku membuang coklat pemberiannya! Apa yang harus kukatakan? Pikir, Fany!

“A… Apa yang k-kaulakukan di sini?” tanya Tiffany, terbata-bata.

Siwon nyengir. “Untuk bicara padamu. Apakah kau tahu bahwa aku menghabiskan semalaman membuat coklat itu untukmu? Dan aku bahkan tidak pintar memasak!”

“Bukan urusanku,” kata Tiffany dingin, mengelap konternya. “Kalau kau tidak ingin memesan, minggir. Kau menahan antrean.”

Siwon menggeleng.

“Ugh!” gerutu Tiffany. “Yesung oppa! Sepupumu ini sungguh…!”

Yesung bergegas menghampiri Tiffany. Dia tersenyum ke arah Siwon. “Siwon-ah! Kau tidak bekerja?”

Siwon menggelengkan kepala. “Tidak. Eunhyuk yang menjalankannya. Aku libur sebentar.”

Yesung mengangguk. “Apa yang ingin kaupesan?” tanyanya ramah.

“Sebenarnya aku ke sini untuk berbicara pada Fany-ah,” jelas Siwon.

Yesung menatap Tiffany, membungkuk, lalu berbisik sepelan-pelannya padanya agar Siwon tidak mendengarnya, “Apakah dia namja yang kaubicarakan tadi dengan Hyo?”

Ragu-ragu, Tiffany mengangguk.

Yesung berdiri tegap lagi dan tersenyum lebar. “Silahkan. Fany-ah, akan kuganti shift-mu.”

Mata Tiffany melebar karena shock. “Tapi… tapi…,” katanya. “Oppa…”

Tapi Yesung sudah mendorongnya keluar dari konter dan kini menggantikan posisi Tiffany. Sambil menggerutu, Tiffany berjalan ke arah Siwon. Dengan santai, Siwon menggandengnya dan keduanya duduk berhadapan di salah satu meja.

“Apa yang ingin kaubicarakan, hah?” hardik Tiffany.

“Belum ngomong apa-apa kau sudah marah,” ujar Siwon, masih sesantai tadi.

Tiffany mendengus. “Tentu saja aku marah! Aku takkan pernah membiarkan seorang pun menciumku di depan umum!”

“Jadi itu masalahnya?” tanya Siwon. “Kau ingin aku melakukannya lagi?” Dia mencondongkan diri ke arah Tiffany.

Buru-buru, Tiffany mendorong bahu Siwon menjauh. “Aniyo!”

Siwon nyengir geli. “Kau harus menunjukkan rasa hormat, Fany-ah. Aku capek-capek membuatkanmu coklat, tapi kau justru membuangnya? Tak bisa diterima.”

“Lebih parah dirimu sendiri, menciumku di depan umum!” kata Tiffany kesal. “Dan berhentilah bersikap seperti itu! Kau bukan namja-chingu-ku atau semacamnya! Menjauhlah dariku!”

Siwon terkekeh. “Itu takkan terjadi,” ujarnya. “Nan neol saranghae. Kau tak bisa jauh-jauh dari orang yang kaucintai.”

Tiffany melompat berdiri (?). “Jauhi aku!”

***

Tiffany memutar-mutar jjajangmyun di piringnya dengan garpu. Dia sedang tidak nafsu makan. Dia berpikir sikapnya kepada Siwon sedikit keterlaluan tadi sore di coffee shop. ‘Siwon benar. Dia membuat coklat untukku semalaman tapi aku membuangnya. Aigoo, masa aku harus meminta maaf padanya? Tidak! Aku takkan pernah melakukan hal itu!’

“Fany-ah, apa yang kaulakukan?!” tegur Ye Jin. “Makan jjajangmyun itu!”

Tiffany menoleh ke arah kakaknya. “Eh, ne, unnie.” Dengan enggan dia memakan jjajangmyun itu. “Unnie, mengapa unnie belum menikah?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Tiffany.

“Mwo?” hardik Ye Jin. Tapi dia lalu tertawa pelan. “Hahaha. Aku tidak begitu memikirkannya. Menjagamu kan lebih penting. Appa jauh di Amerika Serikat, dan eomma sudah tidak ada… Kau harus menikah dulu.”

Tiffany menggeleng. “Masa depan unnie kan juga penting.”

Ye Jin tersenyum. “Kau adikku. Aku harus menjagamu, Fany-ah.”

“Unnie, tapi bagaimana… Bagaimana kalau aku sudah menemukan jodohku? Apa yang akan unnie lakukan? Unnie akan mencari jodohmu juga, kan?”

Ye Jin tertawa. “Memangnya kenapa? Kau sudah menemukan jodohmu, ya?” tanyanya menggoda.

Pipi Tiffany bersemu merah. “Aish, unnie…” katanya. “Mungkin… Aku tidak tahu…”

“Apakah si Choi Siwon itu yang kaubicarakan?” tanya Ye Jin, mendadak serius.

Tiffany mengangkat bahu. “Sepertinya aku menyukainya. Tapi aku tidak boleh. Dia bisa melukaiku! Dia bisa menyakitiku! Dia tidak peduli pada yeoja yang menjadi pacarnya.”

“Fany-ah, kau tidak akan pernah tahu sampai kau mencoba,” nasihat Ye Jin.

***

Tiffany mengurungkan niatnya untuk tidak mengikuti konser. Dia sadar bahwa masa depannya jauh lebih penting daripada rasa bencinya pada Siwon. Mereka pun berlatih dengan serius, tapi Tiffany tetap menjaga sikapnya agar tidak tertawa akan lelucon Siwon ataupun tersenyum melihat kekonyolannya.

Siwon juga tidak berhenti berjuang mendapatkan Tiffany. Dia selalu mengikutinya ke mana-mana, memberikannya bunga, coklat, dan puisi-puisi cinta. Tiffany selalu menolaknya, tapi Siwon tak pernah berhenti.

Suatu hari, ketika Tiffany sedang mengambil buku dari lokernya, dia melihat sebuah amplop berwarna pink, warna favoritnya, berada di dalam loker. Dia membukanya dan menyadari bahwa surat itu dari Siwon. Sebelum dia membacanya, Tiffany menyobek-nyobek surat itu menjadi serpihan-serpihan (?) kecil dan membuangnya ke tempat sampah, lalu berjalan pergi.

Dia tidak menyadari bahwa Siwon mengawasinya.

***

~SIWON’S POV~

Hatiku terasa sakit sewaktu melihat Tiffany menyobek suratku. Seakan cintaku padanya tidak berarti sama sekali baginya. Fany-ah, tolong terimalah cintaku…

Dengan langkah gontai, aku mengambil sobekan suratku dari tempat sampah (wah, gimana caranya tuh?) begitu Tiffany sudah pergi. Setelah yakin aku mendapat semua sobekan suratnya, aku memasukkannya ke dalam tasku dan berjalan ke kelasku selanjutnya.

Di kelas, Tiffany sibuk membaca buku. Aku ingat bahwa kami berlatih lagi hari ini setelah kuliah usai.

Choi Siwon, jangan patah semangat! Tiffany akan menerima cintamu!

Aku pun duduk di belakang kursi Tiffany. Tiffany tidak bereaksi sama sekali.

“Kau serius sekali membacanya,” kataku.

Tiffany tersentak dan berbalik. Mata coklatnya menatapku galak. “Jangan ganggu aku!”

Aku mendesah dan mengiyakan permintaanya.

Ketika sudah waktunya untuk latihan, kami berlatih seperti biasanya. Dia agak menjaga sikapnya, dingin seperti biasa, sementara aku terus-menerus bersikap konyol untuk membuatnya tertawa. Beberapa kali, aku melihatnya tak bisa menahan tawa ataupun senyumnya melihatku. Itu sudah cukup membuatku bahagia.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Tiffany bergegas keluar dari ruang musik, tapi aku menahannya. “Fany-ah, tolong datang ke coffee shop Yesung besok. Kau tidak kerja di sana, kan, besok? Tapi tetap datang, ya?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku akan menanyakanmu apa perasaanmu terhadapku. Bila kau menolak, aku tak akan mengganggumu lagi. Aku akan berhenti memberimu coklat atau mengejarmu. Jebal?”

Tiffany mendesah. “Oke.” Dan berjalan pergi.

***

~TIFFANY’S POV~

Ugh! Aku sudah menunggunya selama setengah jam, tapi dia belum datang juga!

Coffee shop penuh dengan orang-orang, dan Yesung oppa serta Hyoyeon terus-menerus melirikku, tidak sabar melihat pertemuanku dengan Siwon, menantikan jawabanku terhadap namja itu.

Akhirnya, setelah menunggu lama, aku berjalan keluar coffee shop, hendak pulang. Tepat ketika kulihat dia di seberang jalan, melambaikan tangan sambil tersenyum.

Aku cemberut.

Dia berjalan menyebrangi jalan, tapi tiba-tiba…

BRAK!

Sebuah mobil menabraknya. Siwon terjatuh ke tanah, wajah dan tubuhnya berlumuran darah. Tiba-tiba hatiku terasa sakit sekali. Aku langsung berlari ke arahnya, menunduk di atasnya, mengguncang-guncang tubuhnya.

“Siwon-ah! Siwon-ah, bangun! Jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku!”

Mendadak air mata mulai mengaliri pipiku. Aku menggenggam tangannya erat. Entah kenapa, aku merasa menyesal aku telah bersikap dingin padanya belakangan ini.

“Mianhaeyo… Aku bersikap buruk padamu, Siwon-ah…”

Siwon tersenyum kecil, walau dia sedang merasakan sakit yang mendalam. “Tak apa-apa, Fany-ah…”

“Mianhaeyo… Nan neol saranghae.”

Rasanya lega sekali dapat mengatakan hal itu padanya. Bahwa aku mencintainya. Selama ini aku begitu buta! Aku tidak mau mengakui bahwa aku jatuh hati pada namja ini, aku terlalu egois. Tapi… mengapa, ketika aku bersedia menjadi kekasihnya, dia justru sekarat?

“Nado saranghae… Aku akan selalu mencintaimu, Fany-ah,” bisik Siwon.

Aku terisak. “Jangan pergi.”

“Jongmal saranghae,” kata Siwon.

Lalu matanya terpejam rapat.

*** TBC ***

Annyeonghaseyo! *bow*

Ini dia part 3-nya… Maaf kalo kependekan, tapi part 4 akan lebih panjang, hehehe ^^ Kamsahamnida untuk para readers… Mohon comment-nya, kritik, saran, dsb supaya author bisa bikin FF yang lebih top! *lebay*

NO BASHING, NO SIDERS!

Kamsahamnida! *bow lagi*

15 thoughts on “LOVE AT A COFFEE SHOP #3

  1. akk nangis bca.a chingu, part slnjutnya dtunggu yaa~ jgn lma” update.a..aish…uda gg sbar #plakk…haha.,

  2. Gomawo author, udh buat Siwon ketabrak🙂 kalo ga gitu, Tiffany ga bakal nyatain cinta nya kan ?😀 lanjutt chingu, Siwon jgn dibuat meninggal ya !

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s