I Can’t Give You Anything But Love

Cast:
 Yoona
 Donghae

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

Type: Oneshoot

~YOONA’S POV~

Hatiku terasa sakit setiap kali aku melihatnya.

Sudah berapa lama aku mengecewakannya? Sudah berapa lama aku membiarkannya menderita karena diriku? Pasti sudah sangat lama, dan mau tak mau aku harus memikirkannya.

Dia seharusnya tidak bersamaku. Tidak seharusnya dia menemaniku, tetap berada di sisiku, melindungiku, mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Itu terasa salah. Dia berhak memenuhi keinginan-keinginannya sendiri, tidak hanya keinginanku. Aku sudah mendapatkan apa yang kubutuhkan. Kini sudah waktunya bagi dia untuk melakukan segala sesuatu sesuai kemauannya.

Tentu saja, dia tidak akan membiarkanku melaksanakan keinginan terakhirku ini: membuat dirinya sendiri bahagia.

Sudah 4 tahun sejak kami pertama bertemu. Waktu itu, aku sedang duduk di taman, tempat favoritku di universitas…

-Flashback-

Membaca buku adalah kegiatan favoritku. Aku tak pernah melewatkan sehari pun tanpa membaca. Jauh lebih nyaman duduk di taman yang indah, membuka buku, dan mulai membaca tanpa diganggu orang lain. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian, walau hal itu tak bisa dihindari.

Suatu kali, aku sedang membaca sebuah buku novel pemberian mendiang ibuku, ketika aku melihat sekelompok yeoja berjalan melewatiku dan berkata, “Lihat, itu dia si yeoja cacat!”

Hatiku terasa pedih sewaktu mendengarnya. Seakan ingin menangis. Perasaan ini selalu kurasakan seumur hidupku. Bagaimana tidak? Aku terlahir lumpuh. Aku tak bisa berjalan. Ke mana-mana harus memakai kursi roda. Ketidakmampuan fisikku ini sempat membuatku putus asa dan ingin bunuh diri. Tapi, eomma-ku selalu menasihatiku, “Jangan putus asa. Tuhan telah memberimu kesempatan untuk hidup. Gunakan dengan baik.”

Itu adalah salah satu pesan terakhir eomma sebelum meninggal. Meski pikiran untuk bunuh diri sempat melintasi pikiranku, aku tak pernah melakukannya. Demi eomma. Aku takkan mengakhiri hidupku sendiri. Aku harus hidup demi eomma-ku tersayang.

Sekelompok yeoja yang juga bersekolah di Universitas SM itu, terus-menerus mengataiku. Aku terdiam dan menunduk, meneruskan membaca. Kadang aku menyesali keputusan appa yang menyuruhku masuk ke sekolah umum. Tapi appa dan eomma ingin aku kuat dan tetap berprestasi. “Terserah mereka mau mengataimu apa, tapi yang penting apa definisimu terhadap dirimu sendiri,” kata appa.

Aku mengulang-ulang kata-kata appa itu di benakku. Jangan biarkan dirimu menangis di depan mereka, Im Yoona.

Aku baru saja akan mendorong kursi rodaku pergi dari taman, ketika aku mendengar suara seorang namja, “Biarkan dia sendiri!”

Aku mendongak dan melihat seorang namja tampan berdiri di sampingku, tatapan matanya menunjukkan kemarahannya kepada kelompok yeoja itu. Yeoja-yeoja itu kelihatan kaget sekaligus kecewa dan berjalan pergi. Sebagian dari diriku merasa bersyukur dan lega mereka telah pergi, tapi sebagian lainnya merasa bahwa aku tak bisa menjaga diriku sendiri.

Tidak ingin menimbulkan perdebatan, aku menunduk dan melanjutkan membaca tanpa mengucapkan terima kasih. Tahu-tahu, namja itu sudah duduk di bangku taman di sampingku. Aku mendongak dan menatap wajahnya. Aku mengenalinya—namja yang selalu sekelas denganku di universitas. Namja yang selalu mencuri pandang ke arahku sewaktu pelajaran. Namja yang selalu tersenyum padaku tiap kali kami berpapasan di koridor.

“Gwenchanayo?” tanyanya lembut.

Aku mengangguk.

“Kau seharusnya membalas mereka,” katanya pelan. “Jangan biarkan mereka mengataimu begitu saja.”

Setelah mengumpulkan keberanian untuk berbicara, aku berbisik, “Kejahatan tidak selalu harus dibalas dengan kejahatan pula.”

Namja itu tersenyum. “Kata-kata bijak. Aku Lee Donghae. Kau Im Yoona, kan?”

Tentu saja, karena kondisi fisikku ini, semua orang di universitas tahu siapa diriku, yeoja yang sensitif dan cacat. Aku mengangguk, mendadak merasa marah. Aku menggigit bibir dan menahan diriku agar tidak meneriakinya.

Donghae tetap menatapku. “Kamu tidak pulang?”

Aku mendongak lagi. Matanya yang berwarna coklat terang itu kelihatan indah di bawah sinar matahari sore yang hangat. “Tidak. Appa-ku belum menjemput.”

“Kalau begitu kuantar kau pulang.” Donghae berdiri dan berjalan ke bagian belakang kursi rodaku.

Aku menggeleng. “Aniyo, kau tidak perlu. Gwenchana.”

“Bisa-bisa appa-mu kelupaan dan membiarkanmu terlantar di sini semalaman,” candanya. “Di mana rumahmu, Yoona-ah?”

Aku menyebutkan alamat rumahku dan dengan senang hati dia mengantarku dengan mobilnya. Dia sangat baik hati, pikirku. Selama perjalanan, dia mendesakku untuk menyimpan nomornya di ponselku. Aku mengiyakan. Aku nyaris tak punya teman di sekolah, sehingga daftar kontak di ponselku pun sangat sedikit.

“Supaya kau bisa mengabariku bila terjadi apa-apa padamu,” kata Donghae, menjelaskan kenapa dia menyuruhku menyimpan nomornya.

Di rumah, Donghae membantuku turun dan memakai kursi rodaku lagi, kemudian mendorongku masuk ke dalam rumah. Appa-ku ternyata sibuk bekerja, begitu kata salah satu pengurus rumahku. Donghae bersedia menemaniku sampai appa pulang, tapi aku menolak. Dia sudah bersikap terlalu baik padaku.

Sejak saat itulah, satu-satunya sahabat yang kupunya adalah Lee Donghae, yang selalu membelaku tiap kali aku dihina, yang selalu membantuku tiap kali aku kesulitan, yang selalu menjadi bahu tempat aku mencucurkan air mata tiap kali aku bersedih.

-Flashback End-

***

Kupikirkan kenangan-kenangan kami bersama. Kenangan yang sangat indah… Tapi sakit pada saat yang bersamaan. Bagaimana mungkin dia menerimaku di sisinya? Seorang yeoja yang cacat, yang tak pantas bergabung dengan keluarganya, yang tak pantas menjadi belahan jiwanya?

-Flashback-

“Yoona-ah!” teriak Donghae, berlari menghampiriku.

Aku menoleh ke belakang. Donghae kelihatan panik sekali. Dia langsung menarik kursi rodaku dari tepi sungai. “Yoona-ah, apa yang kaulakukan? Kau bisa terjatuh ke sungai nanti!”

Aku tersenyum. “Aku hanya melihat-lihat saja.”

“Apa kau masih berpikir untuk bunuh diri?” kata Donghae, sedikit marah.

“Aniyo. Eomma takkan menyayangiku di surga bila aku melakukannya,” jawabku.

Wajah Donghae melembut. “Kajja. Kita pergi ke taman.”

Dia mendorong kursi rodaku menjauh dari sungai. Tadi siang, kami baru saja menerima diploma tanda kelulusan. Kami berdua—dan lusinan murid-murid lainnya—sudah resmi lulus dari universitas. Aku tak tahu bagaimana masa depanku—bagaimana aku bisa bekerja bila aku tak bisa berjalan?

Kami sampai di taman kota yang sepi pada malam ini. Dia duduk di bangku taman, sementara aku menempatkan kursi rodaku di sampingnya. Donghae menggenggam tanganku erat, lalu melepasnya untuk menyampirkan jaketnya di bahuku. Semula, udara yang dingin menusuk-nusuk kulitku, kini digantikan udara hangat.

“Donghae-ah, apa yang akan kaulakukan sekarang? Kau sudah lulus, kau mendapat gelar di seni. Kariermu pasti cemerlang sekali,” kataku.

Donghae mengangkat bahu. “Entahlah. Aku tidak berpikir untuk memiliki karier di bidang seni. Aku harus meneruskan memimpin perusahaan appa-ku.”

Aku mengangguk. Tentu saja, masa depannya sudah ditentukan oleh orangtuanya sendiri. Sedangkan aku?

Donghae dan aku amat sangat berbeda, 180 derajat. Donghae berasal dari keluarga yang kaya raya, populer, ditaksir banyak yeoja. Aku berasal dari keluarga pas-pasan dan sering dikatai. Bahkan punya cinta pertama saja aku tak pernah. Entah mengapa, kepribadian kami yang sangat bertolak belakang, tetap bisa damai bila kami bersama-sama. Api dan es, entah bagaimana, bisa berdampingan.

Donghae menoleh ke arahku. “Bagaimana denganmu?” tanyanya cemas.

“Kau tak perlu memikirkanku,” ujarku. “Appa-ku sebentar lagi akan pensiun. Kami masih punya simpanan uang.”

Donghae menatapku dengan sedih. Dia selalu melakukannya tiap kali kami membahas masa depan kami. Bahwa aku, hanya tinggal sendirian dengan appa-ku yang sudah tua umurnya, aku yang lumpuh, menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan Donghae sendiri? Tampan, cerdas, teliti, kreatif—karier akan mendatanginya dengan sendirinya.

“Bagaimana dengan setelahnya? Bagaimana kalau simpanan uangnya habis?” tanyanya hati-hati.

“Aku akan mencari pekerjaan,” kataku.

“Yoona-ah…”

“Donghae-ah, kita sudah membicarakan hal ini. Kau tak perlu membantuku. Aku sudah beruntung mendapatkan sahabat sepertimu.”

Senyum di bibir Donghae merekah. Senyum tulus yang selalu diberikannya 3 tahun ini padaku. Senyum yang mampu menceriakan hariku. “Kalau begitu… bagaimana kalau hubungan kita, melebihi sahabat?”

Aku tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

Donghae tersenyum lagi. “Nan neol saranghae, Im Yoona. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, meski keadaan fisikmu tak seperti yang lain. Tapi cintaku ini tulus, Yoona-ah. Aku takkan ke mana-mana. Aku ingin berada di sisimu, menjadi pasangan hidupmu. Maukah kau melakukan hal yang sama untukku?”

Jantungku berdegup kencang. Apa maksud Donghae? Mengapa dia menyatakan cintanya padaku? Aku adalah orang yang tidak pantas baginya. Aku tidak pantas menjadi pasangan hidupnya. Donghae layak mendapatkan seseorang yang lebih baik, seseorang yang tidak akan menghalangi kariernya dengan menjadi istri yang banyak keperluannya dan selalu tidak mampu melakukan apapun…

“Donghae-ah…” bisikku.

“Jongmal saranghae, Yoona-ah. Aku tak peduli kata orang lain soal kita. Aku hanya ingin kita bersama,” katanya penuh tekad. “Jebal?”

Aku mendesah. “Donghae-ah… Aku… aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku tidak ingin menghalangimu di masa depan, aku tidak ingin menjadi istri yang menyusahkan bagimu…”

“Tentu saja tidak!” kata Donghae. “Memilikimu adalah anugrah paling membahagiakan sepanjang hidupku.”

Perkataannya membuatku ingin menangis. Di sini, dia berada di depanku, menyatakan cintanya padaku. Seseorang yang tak memedulikan perkataan orang lain soal kami berdua, yang mencintaiku apa adanya. Tapi, bagaimana bisa, seorang namja tampan dan kaya raya, jatuh cinta pada seorang yeoja miskin dan lumpuh?

Donghae meremas tanganku. “Jebal. Yoona-ah, terimalah cintaku ini.”

Aku tak bisa. Aku tak bisa. Membuatnya memilikiku justru akan menyakitinya. Dia takkan mempunyai karier yang selalu diimpikannya, tidak akan mempunyai keluarga normal seperti yang lain. Bagaimana bisa aku memberikannya keturunan, anak-anak yang diinginkannya? Donghae selalu menginginkan anak-anak… Aku takkan bisa memberikan hal itu padanya.

Aku menggeleng. “Donghae-ah… Aku tak bisa. Aku tak bisa memberimu keturunan.”

Donghae tersenyum tulus dan mengelus pipiku. “Jadi itu yang kaukhawatirkan? Masih ada jalan lain, kita masih bisa mengadopsi…”

“Kau tidak menyukainya,” potongku. “Kau pernah memberitahuku sebelumnya. Kau menginginkan anak-anak dengan genmu sendiri, anak kandungmu… Menurutmu adopsi hanyalah perebutan hak seseorang untuk merawat anak mereka sendiri.”

Donghae tetap mengelus pipiku. “Yang penting kita bisa bersama.”

Tapi aku merasa bahwa dia menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Donghae benar-benar mencintaiku. Apakah aku mencintainya? Tentu saja. Sudah kupendam perasaan itu sejak kami pertama bertemu. Tapi aku tak ingin melukainya nanti. Aku tak ingin menjadi istri yang tidak berguna. Namun, aku takkan pernah tahu bila aku tidak mencoba.

Pelan-pelan, aku mengangguk.

Donghae tersenyum lalu menunduk. Begitu dia mengangkat kembali wajahnya, pipinya sudah basah karena air matanya.

Aku menaruh jemariku di atas pipinya yang halus dan putih, dan mengusap air matanya. “Jangan menangis,” bisikku.

Dia langsung memelukku. “Gomawoyo.”

Aku balas memeluknya. “Aku akan berusaha semampuku, Donghae oppa.”

-Flashback End-

***

Kenangan-kenangan itu tetap berputar-putar di benakku. Aku sudah berusaha semampuku. Sudah setahun kami menikah, dan pernikahan kami bahagia. Amat bahagia. Donghae selalu tersenyum setiap hari. Meski kami sering bertengkar tentang hal-hal kecil, tapi kami selalu bisa berdamai dan saling mencintai.

Seandainya saja, kami mempunyai anak-anak… Seandainya saja aku bisa memberinya keturunan… Meski Donghae setuju untuk mengadopsi, aku sebenarnya tidak.

Beberapa kali, aku mengunjungi dokter sendirian ketika Donghae pergi bekerja. Menurut dokter, aku lumpuh secara permanen dan tidak bisa berjalan, tapi terapi-terapi yang disarankannya bisa membantu kakiku sembuh secara perlahan-lahan. Aku masih mempunyai uang untuk membayar terapi-terapi itu, tetapi dokternya, Eunhyuk, sepupu Donghae, menolak uang tersebut dan memberiku terapi gratis.

Terdengar suara pintu dibuka dan Donghae berjalan masuk, tersenyum lebar seperti biasanya. “Yeobo, annyeong! Bagaimana kabarmu?” Dia membungkuk dan mencium pipi dan keningku.

Aku membalas senyumnya. “Baik-baik saja.”

Donghae menaruh tasnya di meja dan berlutut di depanku, kedua tangannya menggenggam tanganku. Wajahnya penuh semangat yang tak pernah kulihat sebelumnya. Matanya melebar tidak sabar. Bahkan remasan tangannya terasa sakit saking kerasnya.

“Oppa, gwenchanayo?” tanyaku cemas.

Donghae mengangguk. “Aku baru saja menelpon panti asuhan. Kita sudah masuk daftar!”

“Daftar?” tanyaku tak mengerti.

“Sebentar lagi kita akan bertemu anak kita.”

Senyumku lenyap.

Tidak. Aku tak bisa melakukannya. Eunhyuk mengatakan bahwa aku akan sembuh secara permanen, menilik respon tubuhku yang positif. Tapi bila kami mengadopsi… Sedangkan aku masih menjalani tahap-tahap penyembuhan…
Donghae perlu tahu yang sebenarnya.

“Yoona-ah, ada apa?” tanya Donghae, cemas sekaligus curiga. “Bukankah kamu senang? Kita akan punya anak. Apakah ada yang salah?”

Aku menarik napas dan langsung menceritakan segalanya soal terapi-terapi yang kujalani secara diam-diam. “Mianhaeyo, oppa… Karena tidak memberitahumu dari dulu. Aku hanya khawatir dengan hasilnya dan aku tak bisa memberimu harapan palsu.”

Tapi Donghae justru kelihatan lebih bahagia daripada sebelumnya. Ini membuatku jengkel. Seharusnya dia marah padaku! Seharusnya dia meneriaku! Lee Donghae, kau bersikap terlalu baik padaku! Ingin sekali kukatakan itu padanya, namun aku tak bisa.

“Itu hal yang sangat bagus! Yoona-ah, kau bisa sembuh!”

***

-5 bulan kemudian-

“Siap?” tanya Donghae.

Aku mendesah dan mengangguk. Inilah saatnya.

Donghae menggenggam kedua tanganku, dan aku mendorong diriku ke atas. Kakiku menyentuh lantai, dan aku memaksa diriku lagi sehingga aku berdiri tegak. Aku tersenyum senang, tapi kakiku tidak kuat menahan bobot badanku dan aku hampir roboh, terjatuh ke kursi roda, tapi Donghae menahanku.

“Kau melakukannya dengan sangat baik, Yoona-ah,” pujinya.

Aku tersenyum dan berdiri lagi dengan bantuannya. Terapi-terapiku selama setahun harus terbayar sekarang. Aku harus bisa berdiri sekarang, berjalan, berlari, layaknya orang normal. Semua demi Donghae, eomma, appa-ku. Melepaskan diri dari kursi roda yang telah membayang-bayangiku selama 21 tahun ini.

Donghae memegangiku, dan aku melangkahkan kaki kiriku ke depan. Rasanya menusuk dan betisku agak berdenyut, tapi selain itu aku bisa berjalan dengan baik. Kini kulangkahkan kaki kananku. Rasa sakitnya mulai berkurang. Aku pun berjalan mondar-mandir di ruangan Eunhyuk, dan akhirnya aku bisa berjalan sendiri tanpa dipegangi Donghae.

Setelah Eunhyuk memastikan bahwa kondisiku akan baik-baik saja, kami berdua pulang. Saking senangnya, aku berjalan mengitari rumah selama 1 jam penuh. Berlari, melompat, bahkan berdiri di atas meja makan untuk menyentuh langit-langit ruangan.

Donghae menggendongku dan aku tertawa. Kami merebahkan diri di ranjang.

“Bagaimana rasanya?” tanyanya.

“Menyenangkan!” jeritku. Aku berdiri dan melompat-lompat di ranjang. “Kau bisa melakukan hal ini sejak dulu! Ini sungguh hebat! Aku tak ingin berhenti!”
Donghae ikut tertawa dan menarikku ke pelukannya. Lalu dia menciumku penuh-penuh di bibirku. Aku membalas ciumannya.

Perjuanganku selama ini terbayar sudah. Aku sudah bisa mandiri. Aku takkan bergantung lagi pada suamiku. Aku sekarang bisa memberinya segalanya yang kuinginkan untuknya. Mengabulkan permintaan-permintaannya.

Ciuman Donghae mendadak memanas… Ciumannya turun ke rahang dan leherku…

“Oppa…” aku mendesah, tapi Donghae tak berhenti.

***

Aku membuka mata.

Hari sudah pagi—sinar matahari masuk melalui jendela kaca yang terpasang di kamar tidur kami. Aku terduduk di ranjang dan menyadari apa yang kami lakukan semalam.

Aku berusaha menahan tangis. Apa yang kupikirkan? Aku belum siap! Mengapa aku membiarkan Donghae oppa? Otakku berputar, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi… Ragu-ragu, aku mengintip seprai dari balik selimut. Seperti yang kuduga, darah kering menempel di situ.

Aku tak bisa menahannya lagi. Air mata turun, membasahi pipiku. Aku terisak pelan-pelan, tapi lama-lama suaraku semakin keras.

“Eottokhe? Mengapa aku melakukannya?” rutukku pada diriku sendiri.

Tiba-tiba, Donghae merangkulku. “Yoona-ah, gwenchanayo?”

Masih menangis, aku memukul Donghae dengan kepalan tanganku. Donghae kebingungan, tapi dia tidak menghentikanku. “Yoona-ah, ada apa?”

“Mengapa kau membuatku melakukannya?” isakku. “Aku tidak siap untuk… untuk… untuk melakukan hal itu!”

Aku merasa kacau. Seluruh perasaan bercampur aduk dalam diriku. Aku merasa amat sedih. Aku baru saja sembuh, tapi aku sudah melakukan hal ‘itu’ tanpa berpikir panjang… Babo!

“Yoona-ah, aku hanya melakukan apa yang biasanya dilakukan suami-istri,” bisik Donghae.

“Tapi… tapi aku tidak siap… Untuk punya anak…” bisikku.

Donghae memelukku erat. “Tenang, Yoona-ah. Kita akan menghadapinya bersama-sama.”

Aku tidak bisa. Aku tidak bisa punya anak sekarang. Aku baru saja sembuh, masih banyak yang ingin kupahami—hal-hal yang tak pernah kulakukan sejak aku terjebak di kursi roda. Aku baru saja sembuh, tapi tanggung jawab menjadi ibu langsung mendatangiku?

Tapi ada Donghae. Donghae, yang sangat bahagia karena istrinya yang cacat ini akhirnya sembuh… Mampu memberinya keturunan yang selalu diinginkannya… Tapi bila bisa dilakukan sekarang, kenapa perlu ditunda? Apakah ketakutanku begitu bodoh, bahwa aku tak menginginkan anak-anak secepatnya? Bukankah sudah setahun aku menunggu anugrah Tuhan ini, menunggu melihat anakku tersenyum dan berlari-larian di depanku? Mengapa sekarang aku menolaknya?

***

-5 tahun kemudian-

Aku berjalan menyusuri deretan makam. Diikuti oleh tiga orang lain di belakangku. Aku berlari lebih cepat, melewati makam-makam untuk mencapai makam eomma terlebih dahulu. Sementara ketiga orang di belakangku ikut tertatih-tatih.

“Yak! Yoona-ah, pelan-pelan!” Donghae memperingatkan.

“Ne!” kataku, tapi aku tidak memperlambat lariku. Perhatianku beberapa kali teralih melihat dekorasi makam-makam lain, namun aku langsung teringat eomma. Bergegas, aku berlari lebih cepat dan akhirnya tiba di sana.

Makam dari marmer, dengan nisan yang terukir oleh huruf-huruf keperakan yang berkilau terkena sinar matahari. Aku tersenyum dan mengaduk-aduk isi tas tanganku, kemudian mengeluarkan foto eomma yang selalu kusimpan. Foto itu kuletakkan di atas makamnya.

“Eomma,” bisikku, tersenyum ke arah makam dan foto itu, “aku sudah menepati janjimu. Aku tidak akan mengakhiri hidupku, eomma. Aku sudah punya keluarga. Kuharap eomma bisa melihat mereka… Appa sangat senang sewaktu tahu aku sudah punya anak… Eomma, tunggu kami di surga…”

Tanpa sadar aku menitikkan air mata. Angin yang berhembus kencang ikut membuat mataku pedih. Lalu aku menyadari bahwa tiga orang di belakangku tadi, kini sudah mengitari makam eomma-ku. Aku tersenyum melihat anak perempuanku yang baru berusia 5 tahun, menatap foto neneknya dengan tatapan penasaran. “Itu halmeoni?”

Aku mengangguk. “Benar.”

Anak perempuanku yang bernama Soo Yoon itu menepuk bahu adik laki-lakinya. Usia mereka sama—tentu saja, karena mereka kembar. “Dong Yoon! Lihat!”

Dong Yoon menoleh dan ikut melihat foto itu. “Wah, mirip eomma!”

Sementara kedua anakku terus berkomentar dan saling berdebat, Donghae memelukku dari belakang dengan lembut. “Segalanya akan baik-baik saja, Yoona-ah.”

Aku mengangguk. Aku sudah berhasil melewati cobaan-cobaan dalam hidupku. Aku tidak lagi lumpuh. Aku sudah bisa berjalan ke mana pun aku mau. Aku tidak perlu bergantung kepada orang lain lagi. Terutama Donghae. Kini aku sudah bisa mandiri.

Donghae sudah membantuku berkali-kali. Kini aku sudah bisa membuatnya bahagia. Melalui Soo Yoon dan Dong Yoon. Aku bisa memberinya keturunan yang selalu diinginkannya. Cintaku padanya semakin bertambah, dan tak ada yang bisa memisahkanku dengannya.

*** THE END ***

Annyeonghaseyo!

Aku lagi pengin nyoba-nyoba bikin FF oneshoot, nah terus pasangan YoonHae menarik perhatianku (apa dah-_-). Karena ini FF oneshoot pertamaku, mian kalau ceritanya nggak nyambung ._.v Tolong tinggalkan jejak baik like, comment, dsb, dan kritik serta sarannya. Part 5 Love At A Coffee Shop (SiFany) sedang ditulis, jadi tunggu aja ya! Kamsahamnida, readers!

24 thoughts on “I Can’t Give You Anything But Love

  1. the power of love hahaha…
    Semoga yoonhae jd keluarga bahagia, sakinah, mawaddah, warahmah (?)… Baik di ff ini maupun d dunia nnyata hihihi…
    Daebak buat authornya…
    Smangat yah…
    Ini udah bgs, smg lbh bgs lg…

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s