Don’t Forget Me Part 1

Cast:
 Hyoyeon
 Eunhyuk

Other Cast:
 SNSD members
 Super Junior members

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

 

~AUTHOR’S POV~

Hyoyeon melangkah masuk ke lobi gedung SM Entertainment. Interiornya yang mewah tidak menarik perhatiannya sama sekali. Dia berjalan memasuki lift dan menekan tombol bertuliskan angka 21.

Kim Hyoyeon adalah seorang model profesional. Namanya sudah dikenal luas oleh masyarakat, baik di Korea maupun di luar negeri. Dia bahkan sempat dibicarakan sebagai salah satu dari model tersukses di dunia. Tapi yang membuatnya disegani banyak orang adalah profesionalismenya saat bekerja, tapi juga kepribadiannya yang ramah dan bersahabat.

Begitu sampai di lantai 21, Hyoyeon melangkah keluar dari lift dan menengok kanan-kiri. Dia lupa dia harus belok mana, padahal ahjussi sudah memberitahunya kemarin. Ketika Hyoyeon masih celingak-celinguk, seseorang memanggilnya. Hyoyeon menoleh ke kanan dan otomatis melihat ahjussi yang dicarinya.

Hyoyeon tersenyum lebar, sementara ahjussi itu menghampirinya. “Annyeonghaseyo, ahjussi,” katanya sambil membungkuk.

Ahjussi itu tersenyum. “Ne, ne. Kau tiba tepat waktu, Hyoyeon-ssi. Tapi para member belum datang. Let’s go!”

Ahjussi itu bernama Park Seung Joon, tapi Hyoyeon memanggilnya Mr. Park. Mr. Park-lah yang memilih Hyoyeon untuk membintangi video musik sebuah dance group yang dinaungi SM Entertainment, yang bernama Unity. Mr. Park sendiri merupakan manajer dance group tersebut.

Hyoyeon mengikuti Mr. Park masuk ke sebuah studio yang terletak di lantai itu. Di satu sisi, banyak orang mondar-mandir sambil berbicara dalam mic kecil yang disematkan di kerah baju. ‘Itu pasti para kameramen’, pikir Hyoyeon. Di satu sisi ruangan, ada para stylist sibuk mendorong rak-rak berisi kostum.

Mr. Park menoleh ke arah Hyoyeon. “Para member Unity belum tiba, tapi mereka sedang on the way. Kita bisa memulai self-shooting (maksudnya syuting buat Hyoyeon sendiri, nggak bareng orang lain) terlebih dulu.”

Hyoyeon mengangguk. Setelah dirias, Hyoyeon kelihatan tambah cantik. Dia mengenakan sebuah gaun perak semata kaki dan rambutnya yang pirang panjang digerai bebas. Dengan percaya diri, dia berjalan ke lokasi syuting dan mulai menerima pengarahan dari sutradara.

***

Hari ini adalah hari penting untuk Unity. Mereka akan syuting video musik yang menandakan comeback mereka terhadap dunia showbiz. Sudah hampir setahun Unity “menghilang”. Kini comeback mereka sangat dinanti-nantikan.

Sementara itu, keempat member Unity sudah berada di mobil menuju gedung SM Entertainment tanpa manajer mereka, yang sudah datang ke sana terlebih dulu.

“Kata Mr. Park, kita akan syuting bareng model,” kata Lee Donghae, salah satu member.

Park Leeteuk tersenyum lebar. “Wah, pasti model terkenal seperti Kate Moss.”

Shindong-hee memeletkan lidah. “Kau terlalu berharap! Mana mungkin Kate Moss hadir di video kita?”

Leeteuk mendelik. “Bisa saja.”

“Yang jelas, modelnya pasti cantik,” ujar Lee Eunhyuk.

“Ah, itu pasti!” Donghae setuju.

Tak lama kemudian, keempatnya tiba di gedung SM Entertainment dan naik ke lantai 21. Di studio, mereka bergantian dirias dan akhirnya siap untuk syuting.

“Mana modelnya?” Donghae celingak-celinguk.

“Sabar, pasti dia datang,” kata Eunhyuk santai.

Donghae tertawa. “Eunhyuk-ah, kau pasti ingin bermain-main dengannya, kan? Bukannya setiap minggu kau selalu bergonta-ganti pacar?”

Eunhyuk nyengir. “Kalau modelnya cantik, aku akan berkencan dengannya.”

“Itu namanya bukan berkencan, Hyuk! Kau memutuskan pacarmu seminggu setelah jadian. Itu namanya kau seorang playboy.”

“Bisa juga dibilang aku orangnya gampang bosan. Selalu ada yang lebih cantik. Sayang untuk disia-siakan, bukan?”

Donghae tertawa sementara Eunhyuk tersenyum puas.

Tiba-tiba Mr. Park muncul di depan mereka, diikuti seorang yeoja. “Ah, kalian sudah datang,” kata ahjussi itu sambil melihat Leeteuk dan Shindong yang segera menghampiri mereka. “Semuanya, kenalkan, ini Kim Hyoyeon.”

Yeoja yang berada di belakang Mr. Park melangkah maju dan membungkuk ke arah semua member. Dia tersenyum ramah dan membungkuk. “Annyeonghaseyo, Hyoyeon imnida.”

Eunhyuk tersenyum lebar. Sepertinya dia sudah menemukan calon pacarnya yang baru.

***

~HYOYEON’S POV~

“Annyeonghaseyo, Hyoyeon imnida.” Aku membungkuk.

Begitu aku berdiri tegak lagi, aku melihat namja di depanku—salah seorang member—tersenyum menggoda ke arahku. Ekspresi wajahnya terkesan sedikit menyebalkan. Pasti dia seorang playboy, kelihatan dari tampangnya.

Dan kenapa tiba-tiba jantungku berdegup keras sewaktu aku melihatnya? Siapa namja itu?

Yah, meski aku model, aku tidak mengikuti perkembangan K-Pop. Aku sendiri lebih menyukai musik klasik. Jadi aku tidak tahu-menahu soal K-Pop. Apalagi tentang Unity ini, yang kata Mr. Park akan mengadakan comeback.

“Hyoyeon-ssi,” kata Mr. Park, membuyarkan pikiranku. “Kenalkan, ini Park Leeteuk, leader sekaligus keponakan saya”—dia menunjuk seorang namja berambut coklat—“Shindong-hee”—dia menunjuk namja yang kelihatannya sedikit lebih gendut daripada tiga member lain—“Lee Donghae”—dia menunjuk namja yang tersenyum sopan dan berambut coklat gelap—“dan Lee Eunhyuk.” Terakhir, dia menunjuk namja yang tersenyum aneh, namja berambut coklat terang itu.

“Senang bertemu denganmu,” kata Leeteuk, Shindong, dan Donghae serempak, tapi Eunhyuk tetap terdiam dan mengamatiku lekat-lekat, seakan tertarik melihat apa yang dilihatnya.

Aku merengut. “Waeyo?” tanyaku pada Eunhyuk, tidak memedulikan sapaan member lain.

Eunhyuk tersentak dan menggeleng cepat. “Aniyo,” katanya, masih tersenyum menggoda.

“Ada yang salah?” tanyaku lagi.

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau memandangku seperti itu?”

“Seperti apa?”

“Seperti tadi!”

Eunhyuk hanya terkekeh, yang justru membuatku semakin kesal.

Mr. Park segera turun tangan (?). “Sudah, sudah. Ayo, kalian harus syuting sekarang. Dan tenang saja, sehabis syuting, kita akan pergi makan malam!”

***

~AUTHOR’S POV~

Syuting video musik menghabiskan berjam-jam, sehingga syuting baru selesai pukul delapan malam. Para kru dan member Unity bersorak-sorai setelah syuting resmi selesai. Seperti janji Mr. Park, mereka semua akan makan di McDonald’s, restoran Amerika yang buka 24 jam.

Sementara para kru dan member masih berteriak-teriak senang, Hyoyeon menjauh dari kerumunan dan mulai membereskan barang-barangnya di ruang rias. Semuanya hampir lengkap, kecuali dia tidak menemukan sisirnya…

“Apa ini milikmu?” Terdengar sebuah suara.

Hyoyeon mendongak. Di depannya ada seorang yeoja cantik berambut pirang madu panjang. Segera, Hyoyeon mengenalinya.

“Taeyeon-ssi?” Hyoyeon terkesiap.

Yeoja itu ikut kaget. “Hyoyeon?” Mereka berdua langsung tersenyum lebar dan berpelukan.

Kim Taeyeon adalah mantan roomate (teman sekamar) Hyoyeon sewaktu kuliah di asrama. Kini Taeyeon bekerja sebagai seorang aktris.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Hyoyeon setelah mereka melepas pelukan.

“Aku disuruh menemani Leeteuk,” jawab Taeyeon.
Leeteuk? Hyoyeon merasa nama itu familiar… “Oh, dia yang leader Unity itu, kan?” Hyoyeon bertanya lagi.

Taeyeon tersenyum sambil mengangguk. “Benar! Kami memang pacaran, tapi karena jadwal yang padat, kami jarang bertemu. Lalu tadi dia menelponku, katanya bakal makan-makan untuk merayakan selesainya syuting. Ah, kau modelnya, kan, Hyo? Kau pasti ikut, kan?”

Hyoyeon menggeleng. “Aku capek. Lagi pula, aku tidak begitu suka keramaian.”

“Ah, ayolah! Leeteuk pasti bersama kru dan member lainnya, aku takkan punya teman mengobrol,” keluh Taeyeon.

Hyoyeon tertawa kecil, tapi tetap menggelengkan kepala. “Aniyo. Kalian saja. Selamat bersenang-senang. Aku akan pamit kepada Mr. Park.”

Taeyeon mendesah tapi merelakan Hyoyeon pergi. “Eh, tunggu, sisirmu ini, bukan?”

Hyoyeon menatap Taeyeon dan sisir putih yang dipegangnya. “Ne, itu milikku. Kamsahamnida, Taeyeon-ssi.” Meski mereka seumuran, Hyoyeon tetap menggunakan jondaemal (bahasa formal) dengan Taeyeon.

Hyoyeon melangkah pergi dari ruang rias sambil membawa tas tangannya. Matanya mencari-cari Mr. Park, dan akhirnya menemukannya sedang berbicara dengan salah satu kru. Hyoyeon menghampirinya tepat ketika kru tersebut berjalan pergi. Hyoyeon membungkuk dan tersenyum.

“Hyoyeon-ssi? Ada apa?” tanya Mr. Park.

“Mr. Park, saya ingin izin pulang. Saya sudah lelah, saya rasa lebih baik saya tidak ikut makan malam… Saya juga tidak ingin merepotkan Anda,” kata Hyoyeon sopan.

Mr. Park cemberut. “Hyoyeon-ssi, kau tidak akan merepotkan. Lagi pula, kau sudah bekerja keras, sudah pantasnya kau bersenang-senang setelah berjam-jam syuting.”

Hyoyeon menggeleng. “Aniyo, saya tidak ingin menjadi beban. Kalau begitu, selamat malam, Mr. Park. Terima kasih untuk hari ini.”

Mr. Park tersenyum, tidak memaksa Hyoyeon untuk ikut. Hyoyeon lalu berjalan ke arah pintu keluar dari studio, ketika seseorang memegang bahunya dari belakang. Hyoyeon menoleh. Ternyata Eunhyuk.

“Mau ke mana?” tanya Eunhyuk, menatap Hyoyeon tanpa ekspresi.

“Pulang,” jawab Hyoyeon. Lagi-lagi jantungnya berdegup keras. Hal ini membuat Hyoyeon merasa tidak nyaman berada di sekitar Eunhyuk. Entah kenapa, bahkan mendengar nama Eunhyuk saja bisa membuat jantungnya seperti mengalami kelainan.

Eunhyuk tersenyum menggoda lagi. “Bagaimana kalau kau menemaniku saja?”

Jantung Hyoyeon berdegup semakin kencang. “Ke mana?”

“Ke sebuah klub malam. Aku tidak begitu suka menghabiskan waktu bersama para kru dan member di restoran.”

“Tidak, sekarang sudah malam. Aku akan pulang saja. Toh kerjaku di sini sudah berakhir dan jadwalku besok padat,” jawab Hyoyeon, mengingat sesi pemotretannya besok untuk sebuah majalah.

Eunhyuk cemberut. “Ayolah, sekali saja.”

Hyoyeon menggeleng.

Eunhyuk mendesah. ‘Yeoja ini sangat sulit untuk dibujuk! Padahal dia sangat cantik… Ah, dia harus menjadi pacarku!

Hyoyeon akhirnya menjauh dari Eunhyuk. “Bila tidak ada hal yang lain, aku harus pulang.” Dan dia melangkah pergi, meninggalkan Eunhyuk sendirian.

***

Keesokan paginya, Hyoyeon sedang mengikuti sesi pemotretan untuk sebuah majalah ketika Mr. Park menelponnya. Buru-buru, Hyoyeon mengangkat ponselnya. “Yoboseoyo?”

“Hyoyeon-ssi! Ada berita bagus!” kata Mr. Park. “Kau akan menjadi dancer untuk Unity!”

Hyoyeon terkejut. “Dancer? Tapi… saya tidak bisa menari, Mr. Park!”

Mr. Park tertawa. “Omong kosong! Aku sudah pernah melihat tarian kontemporermu di kompetisi Dancing With the Stars Korea Selatan. Kau berhasil meraih juara pertama, kan? Selain itu aku sudah pernah melihat kau menari street dance di sebuah festival seni.”

Pipi Hyoyeon mendadak memerah. “Memangnya koreografi lagu di video musik kemarin membutuhkan seorang dancer yeoja? Mengapa harus aku? Mengapa bukan dancer lain?”

“Hanya kau yang cocok! Kau terlihat serasi dengan para member, apalagi dengan Eunhyuk!” jelas Mr. Park.

JLEB. Jantung Hyoyeon seakan mau copot. Eunhyuk lagi?

“Jadi, apa kau mau, Hyoyeon-ssi?” tanya Mr. Park.

Bagaimana, ya? Tapi pasti bayarannya lumayan, kan? Dan lagi pula, aku memang bisa menari sedikit-sedikit…

“Ne, Mr. Park. Saya akan menjadi dancer untuk Unity.”

***

Sebenarnya Hyoyeon sendiri tidak tahu kenapa jantungnya berdegup kencang setiap kali mendengar nama Eunhyuk atau berada di dekat Eunhyuk. Pada kali pertama Hyoyeon bertatap mata dengan Eunhyuk, ada sesuatu yang familiar dari mata coklat Eunhyuk… Tapi Hyoyeon tidak ingat mengapa.

Hyoyeon juga benci perasaan yang ditimbulkan Eunhyuk padanya. Perasaan tidak nyaman, perasaan gugup. Hyoyeon tidak menyukainya.

Setelah sesi pemotretan, Hyoyeon kembali ke apartemen yang ditinggalinya sendirian. Mr. Park baru saja mengirimkan jadwal latihan Hyoyeon dan member Unity lewat e-mail. Hyoyeon membuka komputernya dan membaca jadwal latihannya. Besok ada latihan. “Dari pukul sepuluh sampai lima sore,” gumam Hyoyeon seraya membaca jadwalnya.

Sebenarnya Hyoyeon tidak ingin menerima pekerjaan itu, sebagai dancer. Tapi apa boleh buat? Bayaran pekerjaan Hyoyeon sebetulnya tidak mencukupi. Hyoyeon memang dibayar mahal, tapi uangnya tidak cukup baginya dan bagi keluarganya di Incheon.

Ibu Hyoyeon, Ny. Kim, menderita semacam penyakit jantung sejak Hyoyeon berusia 15 tahun. Jantung Ny. Kim tidak berfungsi senormal orang lain. Jantung Ny. Kim tidak bisa memompa darah sekuat seharusnya. Sayangnya, Ny. Kim tidak punya uang untuk berobat. Apalagi karena usia, dia dan suaminya, Tn. Kim, sudah tidak bisa bekerja.

Karena itu, Hyoyeon menjadi model. Sebagian uang yang diterimanya dari hasil kerja kerasnya, dikirim ke Incheon untuk mengobati ibunya. Sayangnya, dokter tidak menemukan sebab-sebab mengapa jantung Ny. Kim terus-menerus melemah. Ny. Kim harus pergi rutin ke rumah sakit untuk pemeriksaan, dan membayar obat-obat yang tentunya tidak murah.

Hyoyeon tidak bisa tidak membantu ibunya. Uangnya, yang semula sudah cukup untuk membiayai kehidupannya sendirian di Seoul, harus dibagi setengah untuk ibunya. Kini Hyoyeon tidak mampu membeli apartemen mewah, ataupun hidup dalam kekayaan seperti yang diduga banyak orang. Hidupnya bisa dibilang kacau. Jadwalnya banyak, tapi dia kurang makan karena makanan mewah harganya sangat mahal, dan karena pekerjaannya dia nyaris tidak punya waktu untuk makan.

Tapi Hyoyeon rela “menderita” demi ibunya. Asal Ny. Kim bisa sembuh, Hyoyeon rela hidup semenderita itu sampai dia mati.

***

Hari ini Hyoyeon akan berlatih sebagai dancer. Dia sudah memberitahu ibu dan ayahnya, memberitahu mereka bahwa bayarannya lumayan untuk membantu Ny. Kim. Sebetulnya, Ny. Kim menolak Hyoyeon mengirimkan uang untuknya, tapi Hyoyeon tidak patah semangat dan terus mendesak ibunya, sehingga Ny. Kim tak bisa berkutik.

Mereka berlatih di studio yang sama seperti tempat syuting video musik. Bedanya, ketika Hyoyeon memasuki studio tersebut, studio itu sudah tidak lagi dibagi menjadi dua sisi. Dindingnya berwarna biru pucat, tapi ditempeli kaca dan alat pegangan kayu untuk alat bantu menari. Di studio, sudah ada keempat member Unity.

“Annyeong!” kata Donghae, menggunakan banmal. “Kau datang tepat waktu.”

“Kami juga mengkoreografi tariannya sendiri, tidak ada koreografer. Kita bisa langsung berlatih,” jelas Shindong.

“Hyoyeon-ah, berdiri di sini!” Leeteuk menunjuk lantai di depannya. Hyoyeon berdiri di situ.

“Sekarang kau harus berputar dengan anggun,” ujar Eunhyuk, nadanya masih menggoda.

Hyoyeon berputar, cepat tapi anggun, yang membuat keempat member Unity cukup puas.

Latihan mereka berlangsung lancar. Keempat member sendiri tidak perlu mengajari Hyoyeon banyak hal, karena Hyoyeon sudah mengerti sendiri. Hyoyeon juga paling baik dalam bagian street dance di koreografi daripada bagian kontemporer. Hyoyeon juga bersikap ramah dan bersahabat—setidaknya hanya kepada tiga member, karena setiap kali Eunhyuk mendekat atau berbicara padanya, dia akan menjaga jarak.

Sudah pukul lima sore. Sudah waktunya bagi Hyoyeon untuk pulang. Hyoyeon memakai jaketnya dan tersenyum ke arah ketiga member, tapi tersenyum tipis—nyaris tidak tersenyum sama sekali—ketika bertatapan dengan Eunhyuk. “Terima kasih atas hari ini. Aku akan berlatih lagi di rumah.”

Leeteuk mengangguk. “Jangan paksakan diri. Video musiknya saja belum dirilis, dan penampilan pertama kami masih sebulan lagi.”

“Ya, kami akan tampil di acara SBS Inkigayo!” kata Shindong ceria.

Hyoyeon mengangguk. “Aku akan datang lagi besok. Annyeong!”

Hyoyeon naik bus pulang ke rumahnya. Di bus, dia menelpon Taeyeon. Mereka sempat bertukar nomor telpon seusai syuting.

“Yoboseoyo?” Terdengar suara Taeyeon.

“Taeyeon-ssi, bisakah kau datang ke apartemenku? Bogoshipoyo…”

Taeyeon tertawa. “Ne, jadwalku sudah selesai. Di mana apartemenmu?”

“Di ***** Cepat datang, ya!” kata Hyoyeon.

“Ne! Sampai ketemu di sana! Annyeong!”

***

“Jadi dancer?” ulang Taeyeon.

Hyoyeon mengangguk.

Taeyeon sudah datang ke apartemen Hyoyeon yang sederhana tapi manis (ya, interiornya cute gitu deh xD) sambil membawa ramen. Hyoyeon, yang sedari siang belum makan, segera menghabiskan dua porsi ramen. Untungnya Taeyeon bawa banyak.

Hyoyeon baru saja memberitahu Taeyeon soal tawaran Mr. Park tentang menjadi dancer untuk Unity. Taeyeon sendiri juga bisa menari, tapi dia hanya menguasai tari balet.

“Bukannya Unity itu dance group? Kenapa mereka masih membutuhkan seorang dancer?” tanya Taeyeon lagi.

Hyoyeon mengangkat bahu. “Koreografinya cukup sulit. Membutuhkan satu orang lagi. Yah, jadi aku yang dipilih.”

Taeyeon manggut-manggut. “Tapi bayarannya pasti lumayan, Hyo. SM Entertainment kan manajemen yang besar.”

“Ne, ne,” tanggap Hyoyeon, kembali memakan ramen-nya yang ketiga (buset!). “Omong-omong, sejak kapan kau berkencan dengan si Leeteuk itu? Kenapa tidak diberitakan di media?”

Taeyeon tersenyum jahil. “Kami berhasil merahasiakannya dengan baik. Sudah lebih dari dua tahun.”

“Dan kau baru memberitahuku sekarang?” Hyoyeon memukul pelan lengan Taeyeon.

Taeyeon tertawa. “Ya, begitulah. Tapi, Hyo, kau tahu sesama member Unity-nya Leeteuk? Si Eunhyuk?”

Mendadak Hyoyeon merasa pipinya akan memerah. Tubuhnya menegang, jantungnya berdegup kencang. “Kenapa dia?”

“Kau dan Eunhyuk itu serasi sekali!” puji Taeyeon. “Memang sih, banyak yang bilang Eunhyuk itu playboy, tapi dia benar-benar kelihatan cocok denganmu.”

Playboy?”

“Oh, ya. Dia memang suka pamer dan sombong, tapi dia humoris. Ceweknya juga banyak. Pasti mantannya lebih dari lima puluh. Setiap seminggu, ceweknya pasti diputuskan dan dia akan mencari cewek lain. Jelas-jelas playboy.”

Hyoyeon mengerutkan kening sementara Taeyeon masih melanjutkan ceritanya. ‘Tapi aku merasakan sesuatu yang familiar terhadap Eunhyuk… Apakah itu mungkin tentang Hyukjae?

***

Latihan demi latihan dilalui Hyoyeon dan Unity. Dan selama latihan itu juga, kemampuan menari Hyoyeon semakin berkembang. Media pun mulai mengulas gosip-gosip, karena paparazzi selalu menangkap Hyoyeon datang ke gedung SM Entertainment, tiap hari kerja saat jam sepuluh pagi. Banyak yang bilang Hyoyeon adalah trainee baru SM Entertainment, dan juga ada yang bilang Hyoyeon akan berkolaborasi dengan salah satu artis SM.

Dan selama latihan berlangsung, Eunhyuk tak henti-hentinya berusaha mendekati Hyoyeon. Dia masih menganggap Hyoyeon cocok dijadikan pacar barunya. Eunhyuk sendiri terpesona setiap kali Hyoyeon mengibaskan rambutnya atau tersenyum, meski bukan padanya, tapi kebanyakan kepada ketiga member lain.

Eunhyuk juga merasa Hyoyeon menghindarinya. Entah kenapa. Mungkin Hyoyeon tahu dari beberapa orang bahwa Eunhyuk sering gonta-ganti cewek. Terserah. Yang penting Eunhyuk akan tetap berjuang untuk mendekati Hyoyeon. Yeoja itu membuatnya penasaran setengah mati. Apalagi kecantikan Hyoyeon yang membuat Eunhyuk semakin “tergila-gila”.

Saat tinggal seminggu lagi untuk penampilan perdana Unity di SBS Inkigayo, Hyoyeon dan keempat member berlatih dengan keras. Video musik sudah dirilis, dan mendapat sambutan positif dari media dan penggemar Unity. Hyoyeon merasa tanggung jawabnya untuk menari dengan baik semakin besar.

Seusai latihan, Leeteuk masih menyuruh Hyoyeon untuk tinggal di gedung SM lebih dari jam lima sore. Hyoyeon tahu bahwa itu untuk tetap berlatih, meski dia sudah kelewat lelah.

Shindong dan Donghae, terutama, kadang salah melakukan koreografi, yang membuat Leeteuk kesal karena mereka selalu salah melakukan koreografi yang gampang. Sementara Leeteuk, Shindong, dan Donghae berlatih, Hyoyeon duduk di sudut ruangan, beristirahat, dan Eunhyuk duduk di sampingnya.

“Capek?” tanya Eunhyuk, masih dengan nada menggoda yang sama. Seingat Hyoyeon, Eunhyuk memang selalu berbicara dengan nada itu padanya.

Hyoyeon mengusahakan seulas senyum tipis. “Sedikit.”

“Kau tahu, kita bisa saja pergi makan,” ajak Eunhyuk, setengah berharap Hyoyeon akan mengiyakan. Semakin sering Hyoyeon menghindarinya, semakin kecil kemungkinan Eunhyuk bisa berkencan dengan Hyoyeon. “Ada sebuah restoran dekat sini yang menjual jjajangmyun yang sangat enak.”

Hyoyeon menggeleng. “Aniyo, aku akan makan di rumah.”

Begitu mendengar Eunhyuk menyebutkan jjajangmyun, entah kenapa itu membuat hati Hyoyeon sakit. Dia jadi teringat masa lalu, sesuatu yang tidak ingin diingatnya lagi.

~Flashback~

Ny. Kim meletakkan semangkuk jjajangmyun di tengah-tengah dua anak. Satu anak laki-laki, satu anak perempuan. Anak perempuan itu adalah putri tunggal Ny. Kim.

“Gomawoyo, eomma!” kata anak perempuan itu ceria.

Ny. Kim tersenyum dan membelai rambut anaknya. “Cheonma, chagiya. Sekarang kau dan Hyukjae bisa makan bersama.” Ny. Kim berjalan meninggalkan mereka berdua.

Anak laki-laki bernama Hyukjae itu, yang duduk di depan si anak perempuan, tersenyum. “Ayo, kita makan!” kata Hyukjae sambil mengangkat sendok dan garpu.

Anak perempuan itu bernama Hyoyeon, dan dia tersenyum. “Oppa, oppa benar-benar suka jjajangmyun, ya?”

“Tentu saja. Kapan pun dan di mana pun, aku akan selalu menyukai jjajangmyun,” ujar Hyukjae ceria.

Hyoyeon hanya tertawa dan keduanya menghabiskan jjajangmyun itu, semangkuk untuk dua orang.

~Flashback End~

“Halo? Hyo, gwenchanayo?”

Suara itu menyadarkan Hyoyeon kembali ke dunia nyata. Dia menoleh dan melihat Eunhyuk menatapnya, khawatir. “Oh, Eunhyuk-ah. Waeyo? Aku kenapa?”

“Tatapanmu sempat kosong sebentar dan kau tidak menjawab panggilanku,” kata Eunhyuk, terdengar sedikit nada cemas dalam suaranya. “Gwenchanayo?”

Hyoyeon mengangguk cepat-cepat. Tidak, dia tidak akan mengingat-ngingat Hyukjae sekarang.

“Ne, gwenchana. Kajja, kita harus latihan,” kata Hyoyeon cepat-cepat begitu melihat isyarat Leeteuk, menyuruh dia dan Eunhyuk untuk ikut berlatih lagi.

Hyoyeon berdiri dan berlari ke arah ketiga member lain, sementara Eunhyuk masih terduduk, diam, menatap Hyoyeon dengan penuh kebingungan.

Apa yang baru saja terjadi dengan Hyoyeon?

*** TBC ***

Kyaa… HyoHyuk!

Readers, ini part 1-nya… Bagaimana? Ngaco-kah?

Part 2 author usahakan update secepat mungkin. Maklum, sekarang jadwal author disibukkan dengan mid semester *readers: author, fighting!* Tapi akhirnya bisa nyelesain part 1. Oh ya, yang Love At A Coffee Shop (SiFany) part 6 akan di-update secepat mungkin juga… Mungkin lebih dulu daripada part 2 Don’t Forget Me. Minggu depan author kan libur mid semester, jadi akan dihabiskan dengan menulis FF! *joget-joget nggak jelas*

Oke, terima kasih buat readers yang udah mau baca… Mian kalo part ini kependekan, soalnya waktu author untuk menggunakan laptop lagi terbatas… Dan tolong jangan jadi silent readers, ya… Harap tinggalkan jejak di Twinkle Super Generation, baik like, comment, dsb.

Annyeong!

10 thoughts on “Don’t Forget Me Part 1

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s