Don’t Forget Me Part 2

DON’T FORGET ME PART 2

Cast:
 Hyoyeon
 Eunhyuk

Other Cast:
 SNSD members
 Super Junior members

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

~AUTHOR’S POV~

Hyoyeon kembali ke apartemennya dengan perasaan lelah. Sudah habis tenaganya gara-gara latihan bersama Unity. Tanpa berganti baju atau cuci kaki-tangan, Hyoyeon merebahkan diri di ranjang dan memejamkan mata. Sudah berhari-hari dia kekurangan tidur…

Tiba-tiba ponselnya berdering. Hyoyeon langsung membuka mata dan mengutuk hari ponsel diciptakan. Dia meraih ponselnya dan menekan tombol “Jawab”. “Annyeonghaseyo?”

“Hyo-ah?” Terdengar suara Eunhyuk. Hyoyeon mendesah. Dari mana namja itu tahu nomor telponnya? Pasti dari Mr. Park! Ahjussi itu tentu saja dengan senang hati memberitahu Eunhyuk. Lain kali aku harus berhati-hati agar tidak memberikan nomor telponku ke sembarang orang, pikir Hyoyeon.

“Eunhyuk-ssi? Waeyo?”

Eunhyuk terdengar riang. “Kau tadi sedikit kehilangan fokus saat latihan. Ingat? Sewaktu kita duduk di pojokan?”

Perkataan Eunhyuk membuat Hyoyeon kembali teringat akan apa yang membuatnya “kehilangan fokus”. Hyoyeon berusaha menyingkirkannya dari benaknya dan menjawab, “Memangnya kenapa?”

“Kau mau makan? Akan kubawakan makanan ke apartemenmu.”

“Memangnya kau tahu di mana apartemenku?”

“Ne. Aku menanyakannya pada Taeyeon noona.”

Ini sebabnya kau tidak boleh memberitahukan identitasmu pada sembarang orang, Hyoyeon!

Eunhyuk kembali berbicara dengan suaranya yang menggoda. “Bagaimana? Aku punya jjajangmyun, lho!”

Hyoyeon menggelengkan kepalanya, meski Eunhyuk tak bisa melihatnya. “Tidak perlu. Aku tidak lapar. Aku capek. Aku mau tidur. Annyeong.” Dia menutup telpon, asal melemparkannya ke lantai yang berlapis karpet, dan memasuki alam mimpi.

***

Tet! Tet!

Hyoyeon mengerang kesal. Suara itu sedang mengganggu tidurnya yang nyenyak. Hyoyeon malas turun dari tempat tidur sehingga dia tetap diam di tempat, membiarkan alarm itu berbunyi. Tapi lama-lama dia merasa terganggu. Dengan lambat, Hyoyeon merentangkan tangannya ke arah meja nakas dan mengambil alarm, lalu memukul-mukulkannya ke meja agar diam.

Begitu alarm tersebut mati, Hyoyeon merasa dunia kembali damai. Dia baru saja ingin melanjutkan tidurnya lagi, ketika ponselnya yang berdering. Dia merentangkan tangannya sekali lagi dan mengambil ponselnya, lalu menempelkannya di telinga. “Annyeong… haseyo?”

Tapi ponselnya tetap berdering. Hyoyeon segera ingat dan menekan tombol “Jawab”, lalu menempelkannya lagi di telinga. “Annyeongha… seyo?”

“Hyoyeon-ah? Di mana kau?” Terdengar suara Shindong. Hyoyeon bingung. Sekarang Shindong punya nomor telponnya? Astaga, Mr. Park benar-benar tidak bisa menjaga rahasia.

Hyoyeon menggerutu tidak jelas.

“Halo? Hyoyeon? Apakah tidak ada sinyal? Mengapa suaramu seperti suara mesin pemotong rumput?” tanya Shindong polos.

Hyoyeon kembali menggerutu, tapi kali ini suaranya lebih jelas. “Aku masih di rumah.”

Suara Shindong kedengaran kaget. “Mwo? Sekarang sudah jam 9.45 dan kau masih di rumah?”

Hyoyeon langsung membuka matanya lebar-lebar. Apa? 9.45? Bukankah dia harus latihan dance jam sepuluh?!

Secepat kilat, Hyoyeon menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. Dia asal melempar ponselnya ke kasur dan mulai mengobrak-abrik lemari pakaiannya. Tidak punya waktu, Hyoyeon memakai sweter dan celana longgar di atas piamanya. Setelah asal menyisir rambut pirangnya yang berantakan, Hyoyeon mengambil tas tangan dan ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga. “Shindong-ssi?”

“Hyoyeon? Cepat ke sini!” Suara Shindong menggelegar di telinga Hyoyeon. “Mr. Park sudah hampir tiba… Dia pasti bakal marah bila kau tidak datang!”

“Arraseo!” Hyoyeon menutup telpon dan berlari keluar dari apartemennya. Jarak apartemennya dengan gedung SM Entertainment cukup jauh, butuh waktu 10 menit bila ditempuh dengan bus. Tapi bagaimana bila berlari? Hyoyeon berpikir. Hyoyeon memang bisa berlari lumayan cepat.

Hyoyeon tidak memedulikan orang yang berbisik-bisik di sekitarnya. Mereka mengenalinya sebagai Hyoyeon si model terkenal. Hyoyeon hanya berlari secepat mungkin. Sesekali dia melirik jam tangannya. 9.50. Dia baru saja melewati 2 blok!

Tahu-tahu, sebuah mobil berhenti di depannya, menghalangi jalan Hyoyeon ketika dia ingin menyebrangi jalan. Hyoyeon mendengus kesal. Tidakkah Tuhan cukup menghukumnya dengan telat datang ke gedung SM?

Kaca mobil di sisi pengemudi diturunkan. Hyoyeon kaget begitu melihat orang yang sedang menyetir mobil Mercedes berwarna biru tua itu.

“Eunhyuk-ssi?!”

Hyoyeon tidak percaya akan Eunhyuk yang baru saja memberhentikan mobil di depannya. Bila Eunhyuk berada di sini sekarang… Berarti sedari tadi dia belum datang ke gedung SM! Kenapa Shindong tidak memberitahunya? Latihan kan tidak bisa dimulai tanpa Eunhyuk juga!

“Cepat masuk!” perintah Eunhyuk. Dia menekan sebuah tombol di dasbor mobil, dan tahu-tahu pintu di kursi belakang terbuka. Hyoyeon melompat masuk dan Eunhyuk menekan tombol lagi, sehingga pintu pun tertutup. Segera, Eunhyuk menginjak pedal gas dan mereka pun melaju.

Hyoyeon pun duduk tegak di kursi belakang. Dia mengambil cermin kecil dari dalam tas tangannya dan becermin. Setelah merapikan rambut pirangnya, Hyoyeon menjejalkan kembali cermin itu ke dalam tas dan menoleh ke arah Eunhyuk. “Kau telat juga? Kok bisa?”

“Bangun kesiangan,” jawab Eunhyuk santai. “Tapi tenang saja. Toh latihan takkan bisa dimulai tanpa kita berdua.”

Hyoyeon menyipitkan matanya. “Jangan harap aku akan membiarkanmu berkeliaran dulu di Seoul sebelum datang ke SM Entertainment.”

Eunhyuk tertawa. “Tentu saja tidak! Aku adalah namja yang patuh pada peraturan, Nona Kim.”

Hyoyeon mendengus. “Tidak terlihat seperti itu.”

“Tapi, omong-omong, aku menolongmu dari datang telat, kan?” Eunhyuk tersenyum lebar. “Berarti kau berhutang padaku.”

Hyoyeon menarik napas. Dia memang berhutang pada Eunhyuk. Tapi apa yang harus dilakukannya untuk membayar hutang tersebut? “Kau takkan memintaku melakukan hal-hal aneh, kan?” tanya Hyoyeon memastikan.

Eunhyuk menggeleng. “Aku hanya punya satu permintaan.”

“Apa itu?”

“Besok hari Minggu, jadi kau harus menemaniku seharian penuh.”

“Ke mana?”

“Ke beberapa tempat yang ingin kukunjungi.”

“Dan tempat apa itu?”

“Kau akan tahu nanti.”

Hyoyeon cemberut. Dasar namja sok rahasia!

Mereka akhirnya sampai di gedung SM. Tanpa menunggu Eunhyuk, Hyoyeon membuka kunci pintu mobil sendiri dan langsung berlari tergesa-gesa memasuki gedung. Dia memasuki lift dan naik ke lantai 21 tanpa menunggu Eunhyuk. Begitu bel berdenting dan pintu lift terbuka, Hyoyeon berlari keluar, memasuki studio, dan membanting pintunya.

Leeteuk, Donghae, dan Shindong berada di dalam, tengah berlatih meski hanya bertiga saja. Shindong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau berlari sampai sini?”

“Aniyo,” jawab Hyoyeon, masih berusaha menenangkan detak jantungnya dan napasnya yang ngos-ngosan. Setelah beberapa detik, dia baru menjawab, “Eunhyuk mengantarku ke sini.”

“Mwo?” Leeteuk dan Donghae kaget.

Hyoyeon mengangguk kepada mereka. “Aku sedang berlari dan… tahu-tahu dia menghentikan mobilnya tepat di depanku saat aku ingin menyebrangi jalan… Jadi dia menyuruhku ke mobilnya… Dia masih di bawah, dia santai sekali…”

Sambil menepuk-nepuk dadanya, Hyoyeon asal melempar tas tangannya ke lantai dan menghampiri ketiga member. “Sampai… mana kalian… berlatih?”

“Kita harus menunggu Eunhyuk terlebih dulu,” kata Donghae.

Pintu studio terbuka dan Eunhyuk berjalan masuk. “Oke, kita harus segera mulai,” katanya, matanya tertuju pada Hyoyeon. “Dan kau harus membayar hutangmu besok.”

Hyoyeon mendengus kesal, sementara ketiga member yang lain kelihatan penasaran, tapi mereka tidak berkata apa-apa.

***

Saat mereka berlima berhenti berlatih karena sudah waktunya jam makan siang, pintu terbuka dan Taeyeon berjalan masuk. Leeteuk tersenyum lebar, tapi justru Hyoyeon yang menghampiri dan merangkulnya. Taeyeon tertawa dan balas merangkul Hyoyeon. Kening Leeteuk berkerut. “Kalian kenal satu sama lain?”

“Dia temanku sewaktu kuliah,” ujar Taeyeon. “Kau kelihatan capek sekali, Hyo-ah. Kau mau ikut makan siang bersamaku dan Teukie?”

Hyoyeon tersenyum tapi menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Aku akan makan sendiri di restoran di dekat sini. Aku tidak ingin mengganggu kalian bermesraan.”

Pipi Leeteuk dan Taeyeon menjadi semerah tomat, sementara ketiga member lain bersorak senang mendengar “serangan” Hyoyeon.

Sementara Leeteuk dan Taeyeon turun untuk makan siang bersama, Hyoyeon meneguk air mineral dari botol minum yang dibawanya, lalu mengambil dompetnya. Yah, uangnya cukup untuk makan siang. Hyoyeon tidak terlalu lapar. Dia akan membeli sandwich dan minuman lalu kembali ke studio.

“Mau makan siang bersama?” tawar Eunhyuk yang sudah berdiri di sampingnya. Dia masih berbicara dengan nada menggoda yang menjengkelkan itu.

Hyoyeon menimbang-nimbang. “Bila aku mengiyakan, apa aku masih harus menemanimu besok?”

“Tentu saja.”

“Dan bila aku bilang tidak? Aku harus tetap menemanimu besok?”

“Tentu saja.”

Hyoyeon menggigit bibir. Dia memang tidak ingin makan sendirian sekarang… Dan dia belum sempat mengucapkan terima kasih kepada Eunhyuk…

“Oke, kajja. Kita makan di sebuah kafe.” Hyoyeon berjalan keluar dari studio, diikuti Eunhyuk yang melonjak-lonjak senang di belakangnya.

Di kafe, Eunhyuk dan Hyoyeon duduk berhadapan. Setelah pesanan mereka datang, Hyoyeon makan dengan lahap. Eunhyuk tersenyum melihat Hyoyeon makan. “Kau pasti kelaparan sekali.”

“Mm-hmm.” Hyoyeon kembali menghabiskan makanannya. Setelah habis, dia bersandar di kursi sambil menyeruput minumannya. Dia tersenyum lebar, tapi jantungnya kembali berdegup kencang begitu Eunhyuk membalas senyumannya.

Hyoyeon pura-pura mengusap pipinya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu. Sementara Eunhyuk hanya tertawa, Hyoyeon mengabaikannya. “Jadi, aku sudah makan siang. Ayo kita kembali.”

***

Ting! Ting! Ting!

Hyoyeon menggerutu tidak jelas dan membuka matanya. Baru jam tujuh pagi. Siapa yang sudah menekan bel apartemennya? Dengan tergopoh-gopoh, Hyoyeon membuka pintu apartemennya dan mengerjap-ngerjapkan matanya supaya bisa melihat siapa yang datang. Eunhyuk.

“Mau apa kau ke sini?” hardik Hyoyeon. Dia memang benci orang yang mengganggu tidurnya, apalagi pada hari Minggu.

Eh? Hari Minggu?

Bukannya dia harus menemani Eunhyuk hari Minggu?!

Dan bukannya hari Minggu itu hari ini?!

Eunhyuk tersenyum geli melihat Hyoyeon masih memakai piama pink-nya. “Ayo. Kau sudah berjanji akan menemaniku hari ini. Kita akan pergi ke Seoul Plaza.” Seoul Plaza (nama ngasal) adalah mal terbesar dan terpadat di Seoul.

Hyoyeon cemberut. “Memangnya sudah buka?”

“Belum, tapi kita akan berjalan-jalan di taman dulu,” kata Eunhyuk, berjalan masuk dan menutup pintu apartemen. “Cepat, mandi dan ganti baju. Aku akan menunggumu.”

Hyoyeon hanya menggerutu tidak jelas, tapi membiarkan Eunhyuk duduk di sofa sementara dia bersiap-siap. Setelah Hyoyeon mandi dan berganti baju, dia membuatkan teh untuk dirinya sendiri dan Eunhyuk. Dia menaruh gelasnya di meja di antara mereka. “Ini. Silahkan diminum.”

“Gomawoyo,” kata Eunhyuk senang, dan langsung meminum teh hangat itu. Hyoyeon ikut meminum tehnya, lalu meletakkan gelasnya kembali ke meja.

“Sebenarnya apa yang akan kita lakukan? Berbelanja sampai malam?”

Eunhyuk nyengir. “Seperti itulah.”

Hyoyeon mendengus kesal. Tapi jantungnya tetap berdegup cepat. Astaga, kenapa namja ini bisa membuatnya gila? “Oke, ayo kita pergi sekarang. Lebih cepat kita memulai, lebih cepat hal ini berakhir.”

Eunhyuk dan Hyoyeon pun berjalan-jalan di taman kota sambil menunggu Seoul Plaza buka. Taman itu kelihatan indah sekali, dengan berbagai macam bunga ditanam di sana, membuat pemandangannya kelihatan asri. Hyoyeon tengah mengagumi sepetak bunga poppy, ketika Eunhyuk tiba-tiba muncul di sampingnya, memegang sebuket bunga mawar.

“Untukmu,” katanya sambil tersenyum penuh harap.

Hyoyeon menatap bunga itu tanpa ekspresi. Tangannya bersedekap kaku di sisi tubuhnya. Lalu dia menggeleng. Hati Eunhyuk pun pecah berkeping-keping. “Tidak mau?”

Hyoyeon menggeleng.

“Biasanya yeoja lain mau diberi bunga mawar,” kata Eunhyuk bingung.

Hyoyeon kali ini melipat kedua tangannya di depan dada. “Tapi aku bukan yeoja lain. Aku Kim Hyoyeon.”

Eunhyuk tersenyum kagum mendengar perkataannya. Hyoyeon adalah yeoja yang berbeda dari yeoja lainnya. Hyoyeon selalu blak-blakkan, jujur, tapi dia yakin akan apa yang diyakininya. Eunhyuk sadar bahwa dia menyukai sikap tersebut dari Hyoyeon.

Eunhyuk menggigit bibir. “Bunga apa yang kauinginkan?”

Hyoyeon melirik bunga poppy di bawah mereka. “Menurutmu?”

Eunhyuk mengerti isyarat Hyoyeon dan segera membelikannya bunga poppy. Begitu Eunhyuk menyerahkan sebuket bunga poppy kepada Hyoyeon, dia langsung tersenyum lebar dan tanpa ragu menerima buket bunga itu. “Kamsahamnida, Eunhyuk-ssi,” ujar Hyoyeon sambil tersenyum.

Jantung Eunhyuk berdegup kencang begitu melihat senyuman Hyoyeon. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.

~Flashback~

“Kamsahamnida!” jerit seorang anak perempuan di depannya sambil menerima syalnya yang tertinggal. Dia tersenyum lebar.

Eunhyuk mengangkat alisnya. “Mengapa kau selalu tersenyum seperti itu?”

Anak perempuan itu—sahabatnya—hanya terkikik geli. “Aku suka tersenyum kepada semua orang. Setidaknya kau bisa mengekspresikan perasaanmu terhadap seseorang melalui senyuman.”

~Flashback End~

Panggilan Hyoyeon menyadarkan Eunhyuk kembali ke kenyataan. “Hah? Waeyo?”

“Eunhyuk-ssi, kau baik-baik saja?” tanya Hyoyeon.

Eunhyuk mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mengangguk. Kemudian dia melirik jam tangannya. Sudah jam sepuluh lewat lima belas. “Ayo, Seoul Plaza pasti sudah buka!”

***

Selama mereka menghabiskan seharian bersama, Eunhyuk menyadari bahwa Hyoyeon adalah yeoja yang susah ditebak. Dia keras kepala, tapi dia baik hati. Dia juga bisa tegas. Sikap ini membuat Eunhyuk kagum padanya. Jarang ada yeoja yang langsung berdebat dengan Eunhyuk, apalagi soal makanan.

Eunhyuk menyadari bahwa dia mulai jatuh cinta pada Hyoyeon. Ya, dia benar-benar jatuh cinta pada seorang Kim Hyoyeon. Itu bukan cinta satu malam seperti biasanya, tapi cinta yang sungguh-sungguh benar ada. Eunhyuk selalu merasakan jantungnya berdegup kencang bila berada di dekat Hyoyeon. Tapi dia juga merasakan kebahagiaan yang aneh di dekatnya. Melihat Hyoyeon saja sudah membuatnya bahagia.

Hyoyeon juga merasakan hal yang sama. Eunhyuk sebenarnya baik hati. Dia tahu itu selama mereka menghabiskan seharian bersama. Tapi Hyoyeon takut bahwa ini sebenarnya hanyalah tipu muslihat Eunhyuk supaya Hyoyeon bisa jatuh dalam pesonanya. Bukankah Eunhyuk seorang playboy? Tentu saja Eunhyuk bisa berbohong dan berakting dengan lihai.

Aku akan menghabiskan sehari ini saja bersikap seperti temannya. Lalu aku tidak akan berusaha berbicara padanya lagi.

***

Keesokan harinya, Hyoyeon harus pergi berlatih menari, tapi pikirannya sedang berada di tempat lain. Dia memikirkan Lee Eunhyuk. Dia jadi ingat alasan awalnya menghindari Eunhyuk.

Eunhyuk, entah mengapa, mengingatkan Hyoyeon akan Lee Hyukjae, teman masa kecilnya. Sayangnya, Hyukjae pindah dari Incheon ke Seoul setelah mereka bertemu dan berteman selama 2 minggu. Meski hanya 2 minggu, tapi kenangan-kenangan Hyoyeon bersama Lee Hyukjae tidak bisa terlupakan. Hyoyeon tahu bahwa Hyukjae menimbulkan kesan spesial di hatinya.

Hyoyeon ingin bekerja di Seoul sebagai model, sekaligus untuk mencari si Lee Hyukjae. Tapi dia telah berusaha dan tidak menemukannya di mana-mana. Ini membuatnya frustrasi. Bagaimana bila dia tidak bisa bertemu dengan Hyukjae lagi?

Dengan lesu Hyoyeon memasuki studio tari. Semua member sudah datang. Mereka mulai latihan. Eunhyuk berharap Hyoyeon akan menyapanya dan tersenyum padanya, tapi hari ini Hyoyeon bahkan tidak berusaha untuk meliriknya. Eunhyuk kebingungan. Dia merasa mereka telah menghabiskan sepanjang hari kemarin dengan tersenyum lebar. Bagaimana mungkin Hyoyeon bisa menghindarinya sekarang?

Ketika latihan selesai pukul lima sore, Eunhyuk segera menghampiri Hyoyeon. “Hyo-ah, mau kuantar pulang?”

Hyoyeon tersentak kaget. Mata coklatnya menatap Eunhyuk dengan keterkejutan. Lalu dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menggeleng sambil tersenyum setengah hati. “Aniyo, gwenchana. Aku akan pulang sendiri.” Dia lalu mengambil barang-barangnya dan berjalan melewati Eunhyuk begitu saja.

***

Hyoyeon semakin lama semakin kesal. Seiring hari berlalu, dia semakin tidak suka melihat Eunhyuk. Dia semakin mengingatkannya pada Hyukjae. Tapi sebetapa kesalnya Hyoyeon, penampilan pertama Unity di SBS Inkigayo memukau semua orang, apalagi dengan Hyoyeon sebagai penari ekstra. Unity mendapat sambutan baik dari masyarakat, dan Mr. Park sangat berterima kasih terhadap Hyoyeon.

Sementara itu, Hyoyeon semakin frustrasi. Sudah bertahun-tahun dia mencari Lee Hyukjae. Dia mulai kehilangan kesabarannya. Akhirnya, Leeteuk yang merasakan kemarahan Hyoyeon saat latihan, berbicara padanya berdua saja saat jam makan siang. Eunhyuk sedikit curiga ketika Leeteuk mendekati Hyoyeon yang sedang duduk di pojokan studio, tapi dia tidak ingin mengganggu Hyoyeon yang kelihatannya stres.

“Hyo-ah?”

Hyoyeon mendongak dan melihat Leeteuk berdiri di depannya, tersenyum. Hyoyeon membalas senyumnya dan berdeham. “Waeyo, Teuk-ssi?”

Leeteuk duduk di samping kanan Hyoyeon, memeluk lututnya seperti Hyoyeon. “Kau kelihatan stres belakangan ini. Apa ada masalah?”

Hyoyeon terdiam. Apakah dia harus memberitahu Leeteuk?

Sebaiknya dia harus memberitahunya. Pikirannya hampir meledak bila dia menyimpannya sendirian.

Hyoyeon pun mulai menjelaskan soal Hyukjae yang merupakan teman masa kecilnya. Leeteuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Begitu Hyoyeon selesai bercerita, rasanya sebuah beban baru saja terangkat dari bahunya. Dia merasa lega. Hatinya tidak terasa seberat sebelumnya.

Hyoyeon mendesah berat. “Bagaimana, Leeteuk-ssi? Apa yang harus kulakukan?”

“Sebaiknya kau jangan putus asa dalam mencarinya, Hyo-ah,” kata Leeteuk bijak. “Kalau dia memang ditakdirkan untuk bersamamu, kalian pasti akan bertemu.”

Hyoyeon menggigit bibir dan akhirnya mengangguk. “Mungkin saja. Lebih baik aku keluar. Untuk menenangkan diri. Terima kasih karena telah mendengarkan masalahku, Leeteuk-ssi.”

Leeteuk tersenyum lebar. “Cheonma.”

Sementara Hyoyeon menjelaskan masalahnya pada Leeteuk, kedua orang itu sedari tadi tidak sadar bahwa Eunhyuk diam-diam mendengarkan dari luar studio.

Eunhyuk berpikir sejenak. Lee Hyukjae?

Bukankah nama aslinya sendiri Lee Hyukjae?

***

Sekembalinya dari latihan menari, Eunhyuk langsung memasuki apartemennya dan duduk di sofa. Dia ingin memikirkan segalanya, segala yang didengarnya tadi siang.

Jadi Eunhyuk mengingatkan Hyoyeon pada teman masa kecilnya?

Eunhyuk sendiri pernah punya teman masa kecilnya. Teman perempuan. Tapi dia tidak pernah menanyakan namanya, karena mereka hanya berteman selama 2 minggu. Eunhyuk sendiri bisa mengingat kembali kejadian waktu itu, bertahun-tahun yang lalu, segalanya kembali terbentuk di benaknya.

~Flashback~

“Mwo? Pergi?” Anak perempuan di depannya membelalakkan matanya, kaget.

Eunhyuk mendesah dan mengangguk. “Mianhaeyo, tapi ini adalah urusan mendadak… Kami pergi hari ini…”

“Apakah oppa akan kembali?” tanya anak perempuan itu.

Eunhyuk menelan bongkahan pahit di tenggorokannya. “Tidak.”

Sorot mata anak perempuan itu berubah sayu. Eunhyuk menyadari bahwa dia meneteskan air mata. Eunhyuk memeluknya. “Gwenchana. Kita akan bertemu lagi saat kita sudah dewasa. Tunggu aku, arraseo?”

Anak perempuan itu pelan-pelan mengangguk.

Eunhyuk melepas pelukannya, tersenyum hangat pada anak perempuan itu, lalu berjalan menjauh, meninggalkan sahabatnya yang menangis terisak-isak di belakangnya.

~Flashback End~

Apakah… Apakah Hyoyeon anak perempuan itu?

*** TBC ***

Annyeonghaseyo!

Ini part 2… Mianhaeyo kalo terlalu pendek, soalnya author sedang sibuk merencanakan FF lain juga lho *tersenyum evil, minjem punya Kyuhyun oppa* Jadi ditunggu ya, FF-nya! Author sendiri sebenernya blom selesai memutuskan pairing-nya siapa ._. Baru alurnya aja. Part 3 bakal author update secepatnya!

Sekali lagi, mian kalo kependekan… Part 3 akan author usahakan lebih banyak lagi…

Kamsahamnida!

6 thoughts on “Don’t Forget Me Part 2

  1. ne author gg papa kok🙂
    cerita nya makin seruu,
    susah ditebak kelanjutan nya,sma kyak sikap hyoyeon eonni
    tpi part 3 bner ya Thor hrus lebih panjang & cpet di publish
    aminn*bca doa bareng abang siwonLOL 0_0

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s