[Freelance] Secretly Loving You

SECRETLY LOVING YOU

Cast:
 Seohyun
 Kyuhyun

Other Cast:
 Yuri

Type: Oneshoot

Annyeonghaseyo! Ini bukan FF karyaku lho, cuma ini karya temanku… Dia itu author freelance, jadi nge-post FF-nya di sini… Inget ya, sekali lagi INI BUKAN FF KARYA SAYA, TAPI KARYA TEMAN SAYA. Jadi kalo menurut readers FF-nya bagus, pujinya temen author ya jangan author sendiri😀 Cuma FF-nya author edit, tapi tetep murni karya temenku kok. Enjoy, ya!

~AUTHOR’S POV~

Seo Joo Hyun atau lebih dikenal sebagai Seohyun berjalan melalui koridor SM High School. Beberapa namja yang dilewatinya terpaku menatapnya. Ya, kecantikan Seohyun sudah sangat terkenal di sekolah itu. Nilai pelajarannya juga bagus-bagus, membuatnya menjadi yeoja populer di sekolah.

Seohyun sering sekali menerima pujaan-pujaan dari teman-teman namja sekelasnya, ataupun kakak kelas. Dia hanya berterima kasih, karena dia tidak betul-betul menyukai salah satu dari mereka.

Suatu hari, Seohyun sedang membereskan bukunya ketika sahabatnya, Kwon Yuri, menghampirinya sambil tersenyum lebar. “Seohyun-ah, ayo kita pergi ke mal seusai sekolah!” ajak Yuri ceria.

Seohyun tersenyum setengah hati. “Mianhaeyo, Yuri-ssi, aku tidak bisa pergi.”

Yuri mengerutkan keningnya. “Mwo? Waeyo?” Tidak biasanya Seohyun menolak ajakannya. Biasanya Seohyun selalu mengiyakan. Meski Yuri tahu Seohyun tidak menyukai shopping, Seohyun tetap menemaninya dengan sabar. Pasti ada sesuatu, pikir Yuri.

Tapi Seohyun hanya menggeleng. “Aku ada… acara keluarga sepulang sekolah,” jawabnya. “Maaf sekali aku tidak bisa menemanimu.”

Yuri masih sedikit curiga, tapi dia tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Aku berbelanja sendiri saja. Aku juga tidak ingin membuatmu bosan setengah mati.”

Seohyun hanya tersenyum lebar.

***

Begitu bel berbunyi, menandakan sekolah telah usai, Seohyun segera membereskan bukunya dan berlari keluar dari sekolah tanpa menunggu Yuri. Yuri sendiri hanya kebingungan melihat tingkah laku sahabatnya, sampai dia melihat Seohyun memasuki mobil SUV hitam mewah yang dikemudikan appa-nya, Tn. Seo, lalu mobil itu berjalan pergi, menghilang dari pandangan.

Seohyun berbohong pada Yuri. Dia sama sekali tidak mempunyai acara keluarga. Sebenarnya Seohyun belum memberitahu Yuri—atau siapa pun selain keluarganya—mengenai masalah ini. Tapi ini demi kebaikan mereka, pikir Seohyun. Dia tidak ingin menyakiti orang-orang yang disayanginya.

Tn. Seo menatap putrinya yang duduk di sebelahnya, melamun sambil memandang pemandangan luar lewat kaca jendela. “Kau mau appa buka jendelanya?”

Seohyun menoleh lambat ke arah appa-nya, lalu menggeleng sambil tersenyum. “Gwenchana, appa.”

Tn. Seo mendesah keras, tapi Seohyun mengabaikannya. Bagaimana putrinya itu masih bisa tersenyum bila keadaannya seperti ini?

***

Dengan sabar Seohyun menunggu. Tn. Seo berada di depannya, berjalan mondar-mandir saking tegangnya. Seohyun sendiri merasa tergganggu akan appa-nya yang mondar-mandir di depannya, membuat matanya pusing melihatnya. Tapi dia tidak ingin menegur Tn. Seo.

Tiba-tiba, pintu pun terbuka, dan Seohyun tersentak di kursinya. Dokter pun berjalan masuk sambil membaca kertas-kertas di sebuah folder putih, lalu menutup folder itu dan memandang Seohyun serta Tn. Seo bergantian. Dokter itu kelihatan sedih sekali.

“Bagaimana, ahjussi?” tanya Seohyun parau.

“Kondisi Seohyun aggeshi sudah memburuk,” kata dokter itu. “Kanker itu tetap terus menyebar. Tidak berhenti.”

Tn. Seo menggigit bibirnya. “Apakah ada sesuatu yang bisa menghentikannya? Menyembuhkannya?”

“Kami akan tetap berusaha,” ujar sang dokter optimis. “Beberapa minggu lagi kami akan mengadakan pemeriksaan. Seohyun aggeshi harap mengkonsumsi obat-obat ini.” Dia mengeluarkan seplastik obat yang harus dikonsumsi Seohyun dari mantel dokter yang dikenakannya. Seohyun menerimanya sambil menggumamkan terima kasih.

Tn. Seo mendesah. “Kajja, Seohyun, kita pulang. Terima kasih atas segalanya,” katanya pada si dokter, yang mengangguk dan membiarkan ayah dan anaknya itu berjalan keluar dari rumah sakit.

***

Ya, Seohyun menderita penyakit kanker yang dapat menyebabkan kelumpuhan total pada otaknya. Meski begitu, Seohyun masih tetap bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa, seperti bersekolah atau berolahraga. Tapi dia sendiri harus meminum obat-obatan yang diharapkan dokter dapat menyembuhkan penyakitnya. Seohyun baru mengalami penyakit ini selama sebulan. Dia sendiri merasa seperti orang aneh—berkeliaran di antara orang-orang, memiliki penyakit sementara orang lain dalam keadaan sehat.

Sekembalinya dari rumah sakit, Seohyun langsung berlari memasuki kamarnya. Dia menangis tanpa suara. Kenapa, demi Tuhan, kondisinya harus seperti ini? Seohyun mempunyai mimpi-mimpi… Cita-cita yang ingin digapainya… Tempat-tempat yang ingin dikunjunginya… Orang-orang yang ingin ditemuinya… Semuanya menjadi tidak mungkin karena penyakit ini.

“Apa yang harus kulakukan?” bisik Seohyun, berusaha menahan tangisannya walaupun usahanya gagal.

Tapi Seohyun berusaha untuk tetap kuat. Dia akan melawan penyakit ini semampunya. Dia akan mengerahkan seluruh tenaganya, bila perlu. Bila ini takdir Tuhan untuknya, dia akan menjalaninya tanpa ragu. Mungkin penyakitnya takkan pernah sembuh, tapi yang terpenting bagi Seohyun adalah bahwa dia telah berusaha semampunya.

Meski hatinya berusaha mengingatkannya untuk tetap optimistis, tapi entah mengapa, air mata tetap mengalir dari mata Seohyun.

***

Seohyun berusaha untuk bangkit dari kesedihan dan menjalani hidup sebahagia mungkin. Dia ingin menjalani sisa-sisa hidupnya yang dimiliki di dunia ini sebaik mungkin. Sayangnya, meski Seohyun sudah rutin mengonsumsi obat-obat tersebut untuk memperbaiki kondisinya, penyakitnya justru bertambah parah.

Kadang pandangan Seohyun menjadi kabur, kehilangan fokus di sekolah. Kadang kepalanya terasa begitu sakitnya sampai Seohyun ingin memukul kepalanya sendiri untuk menghentikan rasa sakit itu. Kadang dia tidak bisa berdiri tegak dan bakal jatuh pingsan. Seohyun membencinya. Seohyun membenci bahwa dia bisa menjadi begitu lemah dalam waktu yang begitu cepat.

Orang-orang pun mulai menjauhinya. Meski Seohyun tidak pernah memberitahu siapa pun di sekolah bahwa dia memiliki penyakit kanker, orang-orang mulai menganggapnya sebagai orang yang sakit-sakitan, orang yang tidak berguna. Seohyun merasa perjuangannya sia-sia saja. Mengapa? Rasanya dia ingin berteriak pada Tuhan. Mengapa takdirku, mengapa hidupku menjadi kacau seperti ini?

Seohyun mulai mendengar rumor-rumor, gosip-gosip mengenai dirinya. Bahwa Seohyun adalah orang yang harus dijauhi karena “penyakitnya”. Seohyun diam saja setiap kali orang-orang mengejeknya. Yuri menjadi kasihan melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.

Suatu hari, ketika Seohyun sedang berjalan-jalan di taman sekolah sewaktu istirahat, Yuri menepuk bahunya dari belakang dan tersenyum lebar. “Hei,” sapa Yuri. “Sudah lama kita tidak berbicara.”

Itu memang benar. Seohyun dan Yuri bersahabat, tapi kelas mereka berbeda, membuat keduanya jarang bertemu dan berbicara.

Seohyun tersenyum tipis. “Ne, rasanya sudah lama sekali sejak kita terakhir berbicara.” Dia mengingat ketika dia berbohong pada Yuri—itu merupakan pembicaraan terakhir mereka sebelum ini.

“Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?” tanya Yuri sambil ikut berjalan, langkahnya sama seperti langkah Seohyun. “Mengapa kesehatanmu tiba-tiba memburuk? Orang-orang mulai membicarakannya. Apakah itu benar? Gosip-gosip itu?”

Seohyun mendesah keras dan memilin-milin jemarinya. “Setidaknya… setengah benar.”

“Setengah benar?” ulang Yuri tidak mengerti.

Seohyun mendesah lagi. Apakah dia harus memberitahu Yuri? Rasanya harus. Dia tidak ingin Yuri berpikir yang tidak-tidak tentangnya.

“Seohyun-ah,” kata Yuri lirih. Seohyun menatapnya. Mata Yuri dipenuhi sorot memohon. Akhirnya Seohyun tidak tahan lagi.

Seohyun berdeham. Dia pun mulai menjelaskan segalanya. Mengenai penyakit kanker yang dideritanya sejak sebulan yang lalu. Penyakit itu mulai bertambah parah, mulai mempengaruhi kesehatannya. Yuri sangat kaget sewaktu mendengar penjelasan Seohyun. Jadi selama ini Seohyun menderita?

“Tapi aku tidak akan bunuh diri atau semacamnya,” kata Seohyun sewaktu dia sudah mengakhiri penjelasannya. “Itu sama saja akan menghancurkan orang-orang yang kusayangi. Aku akan tetap berjuang melawan penyakit ini. Bila masih ada harapan, sekecil apapun, bagiku untuk sembuh, aku akan menggantungkan seluruh hidupku pada harapan tersebut.”

Yuri hampir menangis begitu selesai mendengarkan penjelasan Seohyun. Dia terkejut, tentu saja, tapi dia lebih terharu. Seohyun, yeoja yang lebih muda darinya, masih berjuang demi hidupnya. Di usianya yang dibilang masih sangat muda, semangat dan optimisme Seohyun sudah mencapai lebih dari level seribu. Yuri langsung memeluk Seohyun, membuat Seohyun terkejut.

“Y-Yuri-ssi…,” Seohyun berbisik.

“Aku akan membantumu,” Yuri berkata. “Hampir semua orang di sekolah menjauhimu, tapi aku takkan melakukannya. Aku akan menemanimu sampai waktunya tiba, Seohyun-ah. Aku akan berada di sisimu. Aku bangga punya teman sepertimu. Aku bangga sekali.”

Seohyun ikut meneteskan air mata. “Yuri-ssi… Terima kasih… Atas segalanya…”

Dan keduanya berpelukan sambil menangis.

***

Semakin banyak orang yang mempercayai gosip-gosip itu.

Setiap kali Seohyun berjalan melewati kerumunan orang, pasti semuanya akan menatapnya seakan dia sesuatu yang seharusnya dimusnahkan. Seohyun hanya bisa menunduk dan mengabaikan ejekan-ejekan orang lain. Karena dia menunduk, dia nyaris tidak bisa melihat jalan di depannya. Tahu-tahu… BRUK!

Seohyun menabrak dada seseorang dan terjatuh ke lantai. Buru-buru, Seohyun mengambil bukunya yang jatuh berserakan. Kemudian, dia mendongak untuk meminta maaf, ketika dia melihat siapa yang menabraknya.

“Kyuhyun-ssi?” kata Seohyun.

Kyuhyun dan Seohyun merupakan teman sejak kecil. Mereka dekat sejak SD dan selalu berbicara bersama. Meski sekarang mereka berbeda kelas, Kyuhyun dan Seohyun masih menyempatkan diri untuk saling berbicara. Kyuhyun sendiri sudah menyukai Seohyun sejak SMP, tapi dia tidak pernah menyatakan cintanya padanya karena dia takut Seohyun tidak akan merasakan hal yang sama terhadapnya.

Jantung Kyuhyun seakan berhenti berdetak begitu melihat orang yang ditabraknya adalah Seohyun. Tapi Kyuhyun memaksakan sebuah senyuman. “Seohyun-ah, aku minta maaf karena telah menabrakmu.”

Seohyun tersenyum senang. “Gwenchana.”

Tiba-tiba Kyuhyun mendengar orang-orang di belakang mereka mulai mengejek Seohyun. Wajah Seohyun pun berubah pucat dan sorot matanya menjadi sayu. Kyuhyun langsung menarik lengan Seohyun, menjauh dari koridor, menjauh dari orang-orang itu. Kyuhyun menariknya ke sebuah kelas yang kosong. Untung saat itu jam istirahat.

“Hyun-ah, itu tidak benar kan?” tanya Kyuhyun pelan tapi jelas. “Gosip-gosip itu. Kata mereka kau sakit sehingga banyak orang menjauhimu.”

Seohyun mendesah. Sekarang dia harus memberitahu Kyuhyun. “Gosip-gosip itu… Setengah benar,” kata Seohyun, dan begitu melihat pandangan bertanya di wajah Kyuhyun, Seohyun mulai mengulang penjelasannya kepada Yuri, kali ini kepada namja di depannya.

Kyuhyun terkejut begitu tahu Seohyun menderita penyakit kanker. Tapi Kyuhyun justru sangat kagum akan Seohyun, yang dengan sabar berusaha melawan penyakit itu.

***

Penyakit Seohyun makin lama makin parah. Kesehatannya yang memburuk membuatnya jarang masuk sekolah. Akhirnya, Seohyun pun berhenti bersekolah karena penyakitnya. Murid-murid lain justru menertawakan Seohyun. Mereka mengira Seohyun berhenti karena tidak tahan diejek terus-menerus, padahal alasannya sama sekali bukan itu.

Yuri curiga mengapa Seohyun tiba-tiba berhenti bersekolah. Sepulang sekolah, Yuri pergi ke kediaman keluarga Seo. Seohyun kaget mendapati Yuri berdiri di ambang pintu rumahnya. “Yuri-ssi? Apa yang kaulakukan di sini?”

“Seohyun-ah, mengapa kau berhenti sekolah? Apakah karena penyakitmu?”

Seohyun terdiam. Lalu, dia berkata, “Kondisiku sudah sangat lemah. Aku tidak bisa banyak bepergian. Padahal aku masih ingin belajar…”

Yuri tersenyum prihatin dan menghampiri Seohyun, merangkulnya. “Kalau begitu, aku akan menjadi tutor pribadimu.”

Seohyun mengangkat alisnya, tidak mengerti.

“Aku akan mengajarimu. Kau masih ingin belajar, kan? Aku akan menjadi gurumu,” ujar Yuri sambil tersenyum hangat.

Seohyun membalas senyumnya. “Tentu saja. Terima kasih, banyak, Yuri-ssi.”

Sejak saat itu, Seohyun belajar di rumah, ditemani Yuri yang selalu menyemangati dan memotivasinya. Kadang Kyuhyun ikut berkunjung untuk menengok Seohyun. Kyuhyun tahu kondisi Seohyun sangat kritis, tapi dia kagum karena Seohyun masih bisa tersenyum meski ajal akan menjemputnya.

Meski Yuri dan Kyuhyun tetap menemaninya belajar dan membangkitkan semangat Seohyun, perkataan dokter justru membuat Seohyun merasa terpuruk lagi. Penyakitnya tetap bertambah parah, dan kali ini kanker tersebut hampir menyebar ke seluruh tubuhnya. Obat-obat yang telah dikonsumsi Seohyun tidak terbukti membantu.

Tn. dan Ny. Seo pun menginginkan yang terbaik untuk putri tunggal mereka. Akhirnya, mereka memanggil Seohyun ke ruang keluarga suatu malam. Seohyun mendesah dan duduk di depan kedua orangtuanya. Dia berdeham, lalu berkata, “Waeyo? Ada apa, appa dan eomma memanggilku?”

“Seohyun-ah, kondisimu bertambah parah. Kita tidak bisa tetap di sini. Kau harus melakukan operasi di Singapura. Di sana, kemungkinan bagimu untuk sembuh lebih besar,” jelas Ny. Seo.

Seohyun terkejut. Singapura? Berarti dia harus meninggalkan Seoul? Lalu bagaimana dengan Yuri? Dan Kyuhyun? Hati Seohyun terasa pecah berkeping-keping begitu mengingat Kyuhyun, yang sudah ikut memotivasinya selama ini. Apa dia harus meninggalkan Kyuhyun demi kebaikannya sendiri?

“Tapi… Bagaimana dengan Yuri?” tanya Seohyun. Yuri selama ini selalu datang ke rumah Seohyun, menemaninya, karena Seohyun nyaris tidak mempunyai teman.

Tn. Seo menjawab pertanyaannya. “Kami sudah memberitahu Yuri. Dia bersedia untuk ikut. Dia ingin menemanimu.”

Seohyun berusaha untuk tidak menangis. Yuri, sahabatnya yang telah mengorbankan begitu banyak hal untuk membantunya…

Akhirnya, Seohyun setuju. Dia akan dioperasi di Singapura. Begitu Kyuhyun tahu soal kepergian Seohyun, dia langsung menemui yeoja itu. “Seohyun-ah, kau tidak benar-benar pergi ke Singapura, kan?”

Seohyun mendesah. Tidakkah Kyuhyun tahu, betapa sakitnya hati Seohyun untuk meninggalkannya? Ya, Seohyun jatuh cinta pada Kyuhyun. Tapi dia tidak ingin mengaku kepada dirinya sendiri.

“Mianhaeyo, tapi aku harus pergi,” ujar Seohyun. “Setidaknya aku harus sembuh. Selamat tinggal, Kyuhyun-ssi.”

***

Seohyun pun selesai dioperasi di Singapura. Sayangnya, meski sudah dioperasi, menurut dokter hal itu tidak menjamin kesembuhan total Seohyun dan beresiko. Tn. dan Ny. Seo pun membawa Seohyun ke Amerika Serikat, juga untuk menjalani operasi, tapi dokter-dokter di sana mengatakan hal yang sama.

Keluarga Seo dan Yuri pun kembali ke Korea Selatan, dan Seohyun pun dirawat di rumah sakit. Rambut Seohyun yang semula tebal, menjadi sangat tipis dan lama-kelamaan rontok. Wajahnya yang dulu selalu cerah dan menampilkan sorot ceria, kini berubah menjadi dingin dan pucat. Tapi tidak ada perubahan dalam sikapnya. Dia tetap tegar menghadapi penyakitnya.

Seohyun sedari dulu mempunyai impian, untuk menikah dengan cinta sejatinya, yang mencintainya dengan tulus dan menerimanya apa adanya. Seohyun segera memikirkan Kyuhyun, namja yang dicintainya secara diam-diam. Seohyun lalu menyadari bahwa dia belum bertemu Kyuhyun sejak dia kembali dari Amerika Serikat.

Tapi Seohyun tahu bahwa Yuri juga menyukai Kyuhyun. Hatinya terasa sakit memikirkan Yuri dan Kyuhyun bersama.

~Flashback~

“Seohyun-ah,” kata Yuri, menepuk bahu temannya.

Seohyun menoleh. “Wae?”

“Lihat namja yang duduk di situ!” tunjuk Yuri, menunjuk Kyuhyun yang tengah membaca buku di bawah pohon. Jantung Seohyun mendadak berdegup kencang. “Tampan, ya?”

Seohyun berkata parau, “Kau menyukainya?”

Yuri tersenyum senang. “Dia sangat baik. Kami sekelas. Selain baik, dia tampan dan pintar.”

“Kau menyukainya,” kata Seohyun datar, tiba-tiba cemburu.

Yuri tetap tersenyum. “Ya, sepertinya aku menyukainya,” ujarnya tanpa menyadari nada kesal dalam suara Seohyun.

~Flashback End~

Seohyun berpikir keras. Dia sangat mencintai Kyuhyun. Dia ingin Kyuhyun menjadi pasangan hidupnya, tapi apakah Kyuhyun mau menerima yeoja sakit-sakitan sebagai pasangannya? Sementara, Yuri adalah yeoja yang cantik dan berbakat. Kyuhyun pasti akan menerima Yuri. Sedangkan Seohyun? Apa dia dibandingkan dengan Yuri?

Tapi Seohyun sangat mencintai Kyuhyun… Tidak mungkin dia akan melepaskan Kyuhyun begitu saja…

Seohyun! Kau tidak boleh serakah begitu! Biarkanlah Yuri yang berbahagia bersama Kyuhyun! Umur Yuri masih panjang, sedangkan kau?! Yuri juga sangat pantas, ia cocok menjadi pasangan yang sempurna untuk Kyuhyun! Seohyun berkata dalam hati.

***

Sudah terlalu lama Seohyun berusaha memutuskan. Tapi dia belum menemukan jawabannya. Kini seharusnya Seohyun sudah kuliah, tapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan, bahkan semakin melemah dan menghambat Seohyun untuk mencapai masa depannya.

Yuri, yang selalu menemani Seohyun, salut terhadap sahabatnya itu. Yuri sangat tabah dan bersabar bila menghadapi Seohyun yang stres akibat penyakitnya. Yuri terus menyemangatinya untuk tetap optimistis, meski dia sendiri tahu bahwa Seohyun takkan selamat.

Tn. dan Ny. Seo sangat sedih melihat putri mereka menderita, tapi apa lagi yang bisa mereka lakukan? Mereka sudah mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk menyembuhkan Seohyun, tapi tidak berhasil. Terapi, pengobatan… Semuanya gagal.

Seohyun berusaha untuk tetap tersenyum di depan orang lain, di depan keluarganya dan Yuri, tapi setiap kali mereka tidak melihatnya, Seohyun akan menangis diam-diam, tanpa suara.

Sampai kapan penderitaannya akan berlangsung?

***

Suatu hari, Kyuhyun memutuskan untuk menyatakan perasaannya. Dia tidak punya pilihan lain. Sebentar lagi maut akan menjemput Seohyun, dan Kyuhyun ingin memberitahu yeoja itu perasaannya sebelum segalanya terlambat. Kyuhyun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk dan berbicara dengan Seohyun.

“Seohyun aggeshi, ada Cho Kyuhyun yang ingin menjenguk Anda,” kata salah seorang perawat kepada Seohyun. Jantung Seohyun mendadak berdegup kencang. Mwo? Kyuhyun? Mendadak air mata turun dari mata Seohyun. Dia bingung, apa yang harus dilakukannya.

Kyuhyun pun masuk ke kamar tempat Seohyun dirawat. Yuri berada di sana juga, tapi dia berdiri di dekat jendela, menjaga jarak dari Kyuhyun dan Seohyun. Yuri tidak cemburu melihat Kyuhyun menggenggam tangan Seohyun—sebagai sahabatnya, Yuri mendukung Seohyun dan impiannya untuk menikah dengan cinta sejatinya. Dia senang melihat Seohyun terhibur dengan kedatangan Kyuhyun.

“Kau harus tetap berjuang, Seohyun-ah, aku salut dengan perjuanganmu untuk mencapai kesembuhan,” kata Kyuhyun. Lalu, Kyuhyun menyatakan perasaannya. Dia melamar Seohyun untuk menjadi istrinya. Seohyun menangis terharu dan menerima lamaran Kyuhyun.

Tn. dan Ny. Seo turut senang untuk putri mereka, tapi mereka juga takut. Waktu Seohyun di sini bisa dihitung dengan hari. Tapi mereka ingin Seohyun bahagia pada saat-saat terakhir hidupnya.

***

Akhirnya tiba saatnya untuk pernikahan. Kyuhyun dan Seohyun menikah pada tanggal 12 Maret 2001. Pernikahan dilangsungkan secara besar-besaran dan meriah. Kini sudah 1 bulan sejak pernikahan itu. 1 bulan Kyuhyun dan Seohyun menjadi suami-istri. Mukjizat terjadi, karena keadaan Seohyun tiba-tiba membaik, mungkin dari kekuatan cinta dan dukungan dari orang-orang yang menyayanginya.

Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Setelah empat bulan Kyuhyun dan Seohyun menikah, penyakit Seohyun kambuh lagi. Akhirnya, pada bulan kelima, tepat pada tanggal 12 Agustus 2001, Seohyun meninggal dunia. Tampak Seohyun tersenyum, kelihatannya dia sangat bahagia dalam kematiannya itu… Setidaknya dia sudah memiliki kenangan-kenangan membahagiakan bersama suaminya selama 5 bulan pernikahan mereka.

Suasana sedih dan berkabung menghampiri keluarga Seohyun, Yuri, dan Kyuhyun. Kau sudah berjuang keras, Seohyun-ah, aku bangga mempunyai istri sepertimu, batin Kyuhyun dalam hati. Ya, Kyuhyun bangga terhadap istrinya yang sudah berjuang keras melawan penyakitnya. Meskipun dia sedih dan terkejut karena kematian Seohyun, Kyuhyun berjanji tetap mencintainya sepenuh hati.

16 thoughts on “[Freelance] Secretly Loving You

  1. ya ampun chingu cerita’a sedih bnget,,
    tpi bgus dan ok bnget,,,kshan seo harus dijauhisma temen2nya krena penykitnya,,,
    tpi untung ja ada kyu oppa sma yuri yg mau berteman sma seo,,wah jdi kyu oppa itu udh mnyukai seo dri dulu,,,ya ampun seo meninggal,,tpi walau gimna,sblum seo meninggal impiannya sdh terwujud,,yaitu meikah dengan kyu oppa cinta sjatinya,,chingu di tunggu ff slnjut’a dri mu,,

  2. Gamsahamnida buat yang udah baca^^ mian kalo ceritanya terlalu pendek..
    Makasih juga buat author Park Ye Lin yang udah nge post ff ini^^
    Makasih juga buat admin yang udah ijinin ffnya di post disini😀
    Kalo ada waktu, nanti bakal dibuat lagi yang happy ending, yang lebih banyak. Ini juga ada beberapa yang di edit sama author Park Ye Lin,
    Jadi makasih juga buat author.
    Ternyata banyak yang lebih suka happy ending yaa???^^

  3. Anjrit, ceritanya sedih n nyentuh banget. Ane gak bisa membendung air mata nih pas baca nih ff, cos ff ini feel sad-nya dapet banget. Apalagi castnya SeoKyu couple n twin couple (yuri n seohyun). Wah, pokoknya daebak deh chingu.😀

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s