Don’t Forget Me Part 3

DON’T FORGET ME PART 3

Cast:
 Hyoyeon
 Eunhyuk

Other Cast:
 SNSD members
 Super Junior members

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

~AUTHOR’S POV~

Hari itu hujan deras sekali. Padahal sekarang musim panas. Hyoyeon hanya bisa duduk termenung di apartemennya. Hari ini Mr. Park membebaskannya dan member Unity untuk mengikuti latihan.

Hyoyeon merasa sangat kesepian. Coba kalau Taeyeon bisa datang, gerutunya dalam hati. Akhirnya, demi mengusir kebosanannya, dia pun menyalakan laptop dan mulai browsing di internet.

Bahkan Hyoyeon merasa lebih bosan daripada sebelum menyalakan laptop. Baru saja dia ingin mematikannya, dia teringat member Unity. Selama ini Hyoyeon selalu curiga mengapa Unity punya banyak fans, apalagi gosipnya fans Eunhyuk paling banyak di antara member-member lain. Hyoyeon mendengus. Eunhyuk punya fans?

Tidak ada salahnya kan, untuk mengecek?

Hyoyeon pun sibuk mengetik di laptop-nya. Dia membaca artikel-artikel mengenai dance group itu. Dia juga melihat video-video mereka tampil di reality show. Sedari dulu Hyoyeon tahu mereka adalah penari hebat, tapi di salah satu video, gerakan mereka sangat bagus yang membuat Hyoyeon tercengang. Lalu dia memeriksa websitewebsite buatan fans mereka untuk para Unity. Tidak sedikit, dan foto-foto hasil editan penggemar Unity juga bisa dibilang ribuan.

Hyoyeon pun memeriksa foto-foto mereka dan melihat UFO reply mereka. Hyoyeon tertawa-tawa sendiri melihat balasan para member. Misalnya, balasan Shindong:

Fans: Shindong oppa, oppa lebih memilih Leeteuk, Eunhyuk, atau Donghae?

Shindong: Aku lebih memilih diriku sendiri ^^

(UFO reply: orang-orang Korea bisa nulis di internet ke idolanya, ntar idolanya bisa jawab. Ini beneran loh! ._.v Cuma adanya di Korea doang *nangis nggak bisa ngomong sama Donghae oppa* Oke lanjut ke cerita!)

Tak lupa Hyoyeon melihat biodata mereka yang ditulis para fans. Tapi begitu dia membaca biodata Eunhyuk, seakan Hyoyeon tak bisa memercayai matanya sendiri. Dia mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali dan membaca ulang biodata Eunhyuk, tapi penglihatannya tetap benar.

Nama Panggung: Eunhyuk

Nama Asli: Lee Hyuk Jae

Hyoyeon mengangkat alis bingung. Lee Hyukjae? Tapi… Bukankah Lee Hyukjae adalah teman masa kecilnya, yang berusaha ditemukannya sampai sekarang? Apakah ini hanya kebetulan saja? Atau Eunhyuk memang benar-benar Lee Hyukjae-nya?

Hyoyeon mendadak teringat masa lalu. Masa ketika dia bersama Hyukjae. Hyukjae adalah teman yang sangat spesial baginya… Hyukjae sudah meminta Hyoyeon menunggunya… Hyoyeon sudah menunggu selama bertahun-tahun… Tapi mengapa Hyukjae tidak kembali?

Konyol memang, setia menunggu teman masa kecil yang hanya bersamamu selama 2 minggu, dan menunggunya selama bertahun-tahun. Tapi Hyoyeon ingin bertemu lagi dengan Hyukjae, setidaknya sekali saja. Hyukjae sudah meninggalkan kesan di hatinya yang tidak akan pernah bisa hilang. Hyoyeon tersenyum sendiri mengingat waktu-waktu indahnya bersama Lee Hyukjae.

Tidak mungkin. Eunhyuk tidak mungkin Lee Hyukjae. Hyukjae yang diingat Hyoyeon, sangat baik dan ramah… Tidak mungkin Eunhyuk, yang playboy dan sering menggoda cewek-cewek.

Hyoyeon mendesah dan mengesampingkan pikiran itu dari benaknya. Eunhyuk bukan Lee Hyukjae. Camkan itu, Hyoyeon!

***

Meski belakangan ini sering hujan—seiring menyambutnya kedatangan musim gugur (?)—Mr. Park akhirnya mengadakan jadwal latihan lagi. Unity masih harus tampil, dan Hyoyeon juga terlibat. Hyoyeon sampai hafal langkah-langkah menarinya di luar kepala karena terlalu sering berlatih.

Eunhyuk sendiri kelihatan lebih pendiam, Hyoyeon menyadari itu. Eunhyuk tidak banyak bicara—dia justru lebih banyak menatap Hyoyeon, membuatnya merasa risih.

Eunhyuk berusaha mengingat-ingat teman masa kecilnya sendiri. Anak perempuan ceria yang suka tersenyum. Apakah dia Hyoyeon?

“Hyoyeon-ah,” panggil Eunhyuk ketika mereka sedang beristirahat.

Hyoyeon menoleh dan sorot matanya sedikit meredup begitu melihat Eunhyuk. “Waeyo?”
“Kita perlu bicara,” kata Eunhyuk, menggandeng tangan Hyoyeon dan menariknya keluar studio. Hyoyeon menatapnya kebingungan. Begitu Eunhyuk menutup pintu studio, dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Aku mendengar pembicaraanmu dengan Leeteuk beberapa hari yang lalu.”

“Mwo?” kata Hyoyeon terkejut.

Eunhyuk mendengarnya? Berarti… Berarti dia tahu tentang Lee Hyukjae? Atau jangan-jangan dia adalah Lee Hyukjae?!

“Aku dulu juga punya teman saat kecil,” kata Eunhyuk. “Dan—”

“Jadi kau dia?” potong Hyoyeon datar. Dia menatap Eunhyuk lekat-lekat.

Eunhyuk mendesah dan mengangguk.

Eunhyuk sendiri ingat persis wajah anak perempuan yang selalu menjadi teman masa kecilnya… Yang bahkan tidak ditanyainya namanya. Anak perempuan itu memiliki mata coklat terang yang bersinar ramah, sama seperti Hyoyeon. Eunhyuk tahu ada sesuatu yang familiar dari Hyoyeon saat mereka pertama kali bertemu—itu karena dia mengingatkannya pada teman masa kecilnya!

Masa lalu adalah hal yang sangat “kabur”, menurut Eunhyuk. Dia tidak ingat nama teman masa kecilnya itu—tentu saja dia tidak ingat, kejadian itu terjadi berbelas-belas tahun yang lalu! Masih untung dia mengingat wajahnya, wajah kurus dan berkulit pucat, dengan mata coklat yang bersinar terang dan bersahabat. Seperti Hyoyeon.

Eunhyuk ikut menatap Hyoyeon. “Percaya atau tidak, aku Lee Hyukjae.”

Jantung Hyoyeon mendadak berdegup kencang.

Apa? Tidak. Tidak. Ini tidak mungkin. Jadi… Eunhyuk adalah Lee Hyukjae? Tidak mungkin! Bila benar, di mana sifat baik hati dan ramah yang selalu ditunjukkan Lee Hyukjae? Hyoyeon tidak merasakannya sedikit pun dari Eunhyuk! Dan perkataan Taeyeon memang benar! Eunhyuk seorang playboy! Dan Eunhyuk selalu berbicara pada Hyoyeon dengan nada menggoda yang menjengkelkan itu… Bahkan tanpa diberitahu Taeyeon pun, Hyoyeon bisa tahu Eunhyuk adalah seorang playboy.

“Tidak, kau bukan dia,” sergah Hyoyeon.

Eunhyuk mengangkat alis. “Lalu? Siapa lagi? Hyo-ah, aku masih ingat jelas sekali ketika kita pertama kali bertemu! Di depan air mancur di taman kota, kan?”

Jantung Hyoyeon serasa ditikam. Eunhyuk masih mengingatnya? Eh… Tunggu! Dia tidak boleh percaya! Atau dia tidak mau percaya?

Kalau memang benar Eunhyuk adalah Hyukjae, kenapa Eunhyuk tidak bersikap ramah dan baik hati kepada setiap orang? Hyoyeon ingat, begitulah sikap Hyukjae. Hyukjae sering tersenyum kepada setiap orang.

Hyoyeon mendesah keras. “Kau bukan dia!”

“Hyoyeon-ah, aku memang benar Hyukjae!” kata Eunhyuk bersikeras.

“Andwae! Tidak mungkin!”

“Hyoyeon! Aku dia!”

“Andwae! Andwae!”

Perdebatan Hyoyeon dan Eunhyuk ternyata sangat berisik sehingga Mr. Park, yang dari tadi mengawasi latihan, keluar dari studio dan menatap mereka berdua. “Ada apa? Meski kalian sedang bermasalah—dan aku tidak ingin ikut campur—lebih baik kalian pelankan suara kalian.”

Eunhyuk memaksakan seulas senyum. “Ne, ahjussi.”

“Mr. Park, aku merasa tidak enak badan,” Hyoyeon berkata tiba-tiba. Dia lebih kedengaran marah daripada lemas. “Bolehkah aku izin pulang? Besok akan kuusahakan datang lagi.”

Mr. Park sebenarnya tahu bahwa Hyoyeon hanya ingin menghindari Eunhyuk, tapi dia mengiyakan saja, toh dia tidak ingin memaksa yeoja itu. “Baiklah. Pastikan kau mendapat… istirahat yang cukup.”

Hyoyeon asal mengangguk dan berjalan memasuki studio, mengambil tasnya, lalu berjalan pergi. Eunhyuk baru saja akan berlari mengejarnya, ketika Mr. Park menahannya.

“Waeyo? Ahjussi, aku harus—”

“Jangan kejar dia sekarang, Hyuk-ssi. Itu hanya akan memperparah masalah kalian, apapun itu. Lebih baik kau tunggu dia untuk tenang dulu. Dan aku tahu dia tidak benar-benar sakit,” papar Mr. Park. “Ayo, latihan harus dilanjutkan.” Dia berjalan masuk ke studio, meninggalkan Eunhyuk sendirian di koridor.

***

Cut!”

Taeyeon menghembuskan napas lega begitu sang sutradara meneriakkan kata itu. Sudah waktunya baginya untuk pulang ke rumah dan bersantai setelah bekerja seharian.

Taeyeon berjalan menjauh dari lokasi syuting film, tepat ketika ponselnya berbunyi. Taeyeon mengambilnya dan melihat Hyoyeon yang menelpon. “Yeobosoyo?” katanya setelah mengangkat telpon.

“Taeyeon-ssi, bisakah kau datang ke apartemenku?” tanya Hyoyeon.

“Ah, Hyo. Memangnya kenapa?”

“Aku hanya tidak ingin sendirian sekarang.”

“Oke, aku akan ke sana sekarang.”

Taeyeon menutup telpon dan berangkat menuju apartemen Hyoyeon. Ponselnya berbunyi lagi. Dia menggerutu kesal. “Dasar Hyo, anak itu tidak bisa diam.” Taeyeon mengambil ponselnya, tapi yang menelpon ternyata Leeteuk. Wajah Taeyeon berubah cerah dan langsung mengangkat telpon dari namja-chingu-nya itu. “Oppa!”

Leeteuk tertawa. “Ah, kau ini. Selalu senang setiap kali aku menelpon.”

“Memangnya tidak boleh?” ujar Taeyeon manja.

“Boleh, kok. Taengie, apakah kau mau ke apartemen Hyoyeon?”

“Ne, memangnya kenapa?”

Leeteuk mendesah lega. “Karena dia baru saja bertengkar dengan Eunhyuk tadi pagi. Kurasa keadaannya kurang baik. Bisakah kau berbicara dengannya? Soalnya Eunhyuk minum sampai mabuk-mabukkan sekarang karena stres soal masalahnya dengan Hyo.”

Hah, sudah kebiasaan Eunhyuk, kata Taeyeon dalam hati. “Masalah apa?”

“Aku juga tidak tahu. Tanyakan ke Hyoyeon, ya?”

“Oke-oke. Aku ke sana sekarang.”

***

Taeyeon berjalan menyusuri koridor menuju pintu apartemen Hyoyeon. Sebelum dia sempat mengetuk, pintu sudah terbuka dengan sendirinya. Hyoyeon tersenyum lemah, rambut pirangnya kelihatan berantakan.

“Kau datang,” desahnya.

“Ya, aku datang,” kata Taeyeon. “Aku belum sempat mengetuk. Memangnya kau menungguiku di pintumu sendiri?”

Hyoyeon hanya nyengir. “Masuklah, Taeyeon-ssi.”

Taeyeon berjalan masuk. Apartemen itu masih sama persis seperti yang diingat Taeyeon. “Oke, jadi apa yang akan kita lakukan?”

Hyoyeon duduk di sofanya. “Bisakah kau memasakkan bulgogi untukku?”

(Bulgogi: potongan daging sapi yang dipanggang dengan kecap, minyak wijen, bawang putih, bawang bombay, dan lada hitam)

“Astaga, kau memanggilku jauh-jauh untuk memasakkanmu? Pemalas!” gerutu Taeyeon, tapi dia berjalan memasuki dapur dan mulai mengambil bahan-bahan membuat bulgogi.

Hyoyeon sendiri tinggal di ruang tamu sementara Taeyeon sibuk di dapur. Hyoyeon terus-menerus memikirkan Eunhyuk. Benarkah dia Hyukjae? Apabila dia Hyukjae… Kenapa sikapnya berbeda? Kenapa sikapnya jadi suka menggoda cewek-cewek dan sombong seperti itu? Kenapa dia tidak baik hati seperti dulu?

Sebelum Hyoyeon bisa berpikir lebih lanjut, Taeyeon keluar dari dapur, membawa sepiring bulgogi. Tanpa bicara, Hyoyeon mengambil sumpit dan memakannya. Taeyeon hanya mengamati temannya makan. Dia harus berbicara pada Hyoyeon mengenai masalah tadi pagi, entah apapun masalah itu.

Begitu Hyoyeon menghabiskan makanannya, Taeyeon mencuci piringnya dan kembali ke ruang tamu. Hyoyeon terlihat lebih senang sekarang. “Kamsahamnida, Taeyeon-ssi,” ujarnya riang. “Kau penyelamatku, kau tahu? Aku sedang malas bergerak.”

“Tapi kau bergerak saat memakannya,” canda Taeyeon. Hyoyeon tertawa.

Hyoyeon menatap pemandangan melalui jendela di luar. Hari ini tidak hujan, sehingga kelap-kelip bangunan dan gedung-gedung pencakar langit di Seoul terlihat jelas, mengalahkan sinar bintang di langit. “Bagus, ya?” katanya.

“Hmm?” Taeyeon tersadar dari lamunannya.

“Aku selalu ingin pergi ke Namsan Tower,” tunjuk Hyoyeon pada menara yang berdiri di kejauhan itu. Karena jadwal sibuknya, Hyoyeon belum pernah pergi ke Namsan Tower. Mendadak dia teringat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin diingatnya.

~Flashback~

“Oppa, apa ini?” tunjuk Hyoyeon pada gambar sebuah bangunan tinggi di majalah di depannya.

Hyukjae mengintip dari balik bahu Hyoyeon. “Oh, itu Namsan Tower.”

“Namsan Tower? Apa itu?” tanya Hyoyeon tidak mengerti.

“Itu menara di Seoul, tempat di mana kita bisa melihat pemandangan kota dan memasang gembok. Biasanya pasangan-pasangan memasang gembok di sana supaya mereka bisa tetap bersama,” jelas Hyukjae sambil tersenyum.

Hyoyeon manggut-manggut, lalu tersenyum lebar. “Oppa, bagaimana kalau kita memasang gembok di sana sewaktu kita besar? Supaya kita bisa terus bersama-sama!”

Hyukjae menyetujui. “Itu ide yang sangat bagus.”

Hyoyeon tersenyum lebar.

~Flashback End~

Berjanji ke Namsan Tower sewaktu kita besar nanti?

Hyoyeon mendengus pelan. Kau keburu meninggalkanku, pikirnya. Kita tidak akan pergi ke sana untuk memasang gembok. Mungkin kita memang tidak bisa bertemu lagi.

Hyoyeon lalu menyadari bahwa sedari tadi Taeyeon sedang berbicara. Dia berusaha mengembalikan pendengarannya. “… Leeteuk selalu ingin mengajakku ke sana, tapi jadwalku sangat padat—kami ingin sekali memasang gembok di sana, pasti akan menjadi sangat in—Hyoyeon-ah, gwenchanayo?”

Taeyeon menyadari bahwa Hyoyeon sedang melamun. Tapi Hyoyeon buru-buru berbalik sambil tersenyum. “Aniyo, gwenchana.”

Taeyeon mendesah. “Teukie bilang kau bertengkar dengan Eunhyuk tadi siang.”

JLEB. Mwo? Leeteuk? Jadi dia tahu? Apakah suaranya dan suara Eunhyuk begitu keras sampai Leeteuk mendengarnya? “Bertengkar?” ulang Hyoyeon.

Taeyeon mengangguk. “Bisakah kita membicarakannya? Eunhyuk minum sampai mabuk karena stres memikirkan masalah kalian berdua.”

Minum-minum? Mabuk? “Apakah dia baik-baik saja?” tanya Hyoyeon. “Eunhyuk, maksudku?”

“Mengapa kau bertanya? Aku sendiri juga tidak tahu,” ujar Taeyeon polos.

Hyoyeon ingat. Eunhyuk bukan siapa-siapa baginya. Mengapa dia harus mengkhawatirkannya? Tapi pikirannya keburu melantur ke mana-mana. Bagaimana kalau Eunhyuk pulang sendirian sehabis mabuk-mabukkan? Bagaimana kalau dia terluka? Mengalami kecelakaan? Bagaimana kalau…

Astaga, dia bisa gila!

Sebelum benar-benar memikirkan apa yang dilakukannya, Hyoyeon sudah berlari keluar dari apartemennya. Taeyeon langsung berteriak memanggilnya, tapi Hyoyeon keluar dari gedung dan berlari menuju dorm Unity.

***

~TAEYEON’S POV~

“Apakah dia baik-baik saja?” tanya Hyoyeon. “Eunhyuk, maksudku?”

Eunhyuk? Bukankah dia baru saja bertengkar dengannya? Kenapa sekarang dia menanyakan keadaannya? Hah, Hyoyeon memang yeoja yang tidak menentu.

Aku menjawab seadanya, “Mengapa kau bertanya? Aku sendiri juga tidak tahu.”

Tahu-tahu Hyoyeon langsung berlari keluar apartemennya, meninggalkanku sendirian. Aku melompat berdiri dari sofa dan mengejarnya sampai ambang pintu. “Hei! Hei! Hyoyeon! Hyoyeon! KIM HYOYEON!”

Percuma saja. Hyoyeon pasti sudah turun ke lobi gedung. Aku mengambil ponselku dan menelpon Leeteuk oppa. “Yeobosoyo?” tanyanya.

“Oppa, Hyo kabur ke dorm-mu!” kataku kesal. Meski aku tidak tahu ke mana persisnya Hyoyeon pergi, tapi menilik reaksinya barusan, pasti dia ke sana. “Dia berlari ke sana!”

“Malam-malam begini?”

“Cepat, oppa!”

“Cepat apanya?”

“Kau harus mengejarnya!”

“Lha? Waeyo? Kenapa tidak kau?”

“Aku capek.”

“Aku juga capek! Kaukira hanya kau yang bekerja?”

“Yak, oppa! Cepat, nanti dia keburu datang! Tunggu dia di depan dorm!”

“Arraseo, arraseo! Kau juga harus datang, Taengie.”

“Waeyo?”

“Aku ingin melihatmu…” kata Leeteuk dengan nada yang dibuat manis.

Aku mendengus dan langsung menutup telpon.

Aish, dasar Hyoyeon!

***

~AUTHOR’S POV~

Hyoyeon tiba di depan pintu dorm Unity. Dia sudah tahu alamat dorm itu karena Mr. Park memberitahunya, bila ada kejadian darurat. Hyoyeon buru-buru mengetuk pintunya keras-keras. Pintu pun terbuka. Donghae yang berdiri di ambangnya.

“Donghae-ssi?” kata Hyoyeon. “Mana Eunhyuk?”

Donghae mengangkat alis, tapi dia tidak bertanya. “Di sana. Masuklah, Hyo-ah.”

Hyoyeon segera masuk dan melihat Eunhyuk sibuk menenggak bergelas-gelas soju yang terletak di atas meja ruang tamu, sementara Leeteuk dan Shindong berusaha menghentikannya.

“Hyuk-ah, hentikan,” kata Shindong. Dia hendak menarik gelas soju yang dipegang Eunhyuk, tapi Eunhyuk beringsut menjauh. “Jangan mabuk-mabukkan seperti ini. Ini tidak baik.”

Eunhyuk tertawa mengejek. “Tidak baik? Tidak baik? Keadaanku tidak baik!” Dia meneguk minumannya lagi. “Ini semua salahku. Seharusnya aku mengaku sejak awal.”

“Mengaku? Mengaku apa?” tanya Leeteuk bingung. Lalu dia mendongak. “Hyoyeon?” katanya heran begitu melihat yeoja itu berdiri di sana.

Mendengar ucapan Leeteuk, Eunhyuk langsung mendongak. Ekspresinya kosong begitu melihat Hyoyeon. Tanpa berkata apa-apa, Eunhyuk berdiri terhuyung-huyung menuju Hyoyeon. Hyoyeon berjalan mundur. Dia tidak suka keadaan ini. Sama sekali tidak suka.

Dan tiba-tiba dia merasakan lengan Eunhyuk melingkari pinggangnya.

Eunhyuk memeluknya.

“Hyoyeon-ah,” bisiknya pelan sekali. “Bogoshipoyo.”

Hyoyeon tidak bisa berkata-kata. Jantungnya berdegup seribu kali lebih kencang. Tangannya tetap berada di kedua sisi tubuhnya, tidak merangkul Eunhyuk kembali.

“Mianhaeyo,” lanjut Eunhyuk lagi, masih dengan suara melamun karena mabuk. “Tapi apa sebenarnya salahku sampai kau marah-marah begitu?”

Mendengar itu, Hyoyeon langsung mendorong Eunhyuk sehingga namja itu melepas pelukannya. Eunhyuk menatapnya, kebingungan. “Bila kau tidak tahu salahmu, tak perlu meminta maaf!” bentak Hyoyeon.

Eunhyuk mengangkat alis dan menghampiri Hyoyeon lagi. “Hyo-ah—”

“Menjauh dariku! Menjauh! Jangan pernah tampakkan dirimu lagi di depanku!” pekik Hyoyeon.

Eunhyuk terlalu terkejut untuk berkata-kata, tapi Hyoyeon sudah melesat keluar dari dorm Unity. Begitu sampai di luar gedung, Hyoyeon berhenti berlari. Kakinya terasa lemas.

Apa yang sudah ia lakukan?

Dia membenci Eunhyuk. Dia membencinya karena dia mengingatkan Hyoyeon akan Hyukjae. Akan temannya yang sekarang entah berada di mana. Teman yang meninggalkan kesan membahagiakan di hati Hyoyeon, tapi juga kesan pahit begitu Hyukjae meninggalkannya. Setiap kali Hyoyeon berada di sekitar Eunhyuk atau bahkan bertemu dengan Eunhyuk, dia selalu teringat akan Hyukjae yang membuat hatinya terasa sakit.

Hyoyeon tidak sadar bahwa dirinya menangis.

Langit bertambah gelap dan akhirnya hujan mulai turun. Hyoyeon tidak membawa payung—dia bahkan tidak membawa tas. Hyoyeon tidak berusaha mengusap air matanya ataupun berteduh menghindari hujan; dia kembali berjalan ke apartemennya sendiri.

Akhirnya, Hyoyeon mengakui pada dirinya sendiri.

Sejujurnya, dia merindukan Hyukjae.

Dan entah mengapa, dengan cara yang aneh, Eunhyuk bisa membuat Hyoyeon membenci sekaligus jatuh cinta pada namja itu pada saat yang bersamaan.

***

“Masih mencoba?”

Eunhyuk mendongak dan melihat Leeteuk berjalan menghampirinya. Mereka tidak ada jadwal latihan hari ini, sehingga keempat member tetap berada di dorm mereka. Eunhyuk ingat bahwa semalam dia mabuk-mabukkan, dan tahu-tahu Hyoyeon datang, tapi entah kenapa sikap yeoja itu menjadi sangat aneh. Apa salahnya? Dia tahu dia memang benar Hyukjae. Tapi mengapa Hyoyeon tidak mau mempercayainya?

“Dia masih tidak mau mengangkat telpon,” geram Eunhyuk frustrasi, menatap ponsel di depannya.

Sudah berkali-kali, selama satu jam terakhir, Eunhyuk berusaha menelpon Hyoyeon, tidak mempedulikan suara operator telpon di seberang setiap kali dia berhasil menghubungi ponsel Hyo. Tapi Eunhyuk mulai kesal. Dia ingin sekali bertemu dengan yeoja itu, tapi di mana dia sekarang? Di rumahnya? Bukankah dia seorang model profesional yang selalu punya jadwal kerja?

Eunhyuk melemparkan ponselnya di ranjang. “Hyung, aku tahu aku bersalah. Tapi aku tidak berbohong, hyung. Aku benar-benar Lee Hyukjae-nya. Lee Hyukjae-nya Hyoyeon,” katanya pada Leeteuk.

Leeteuk manggut-manggut. “Aku tahu. Tapi kau harus membuatnya percaya.”

“Bagaimana?”

“Yah, kalian pernah menghabiskan waktu bersama sewaktu kecil, kan? Ingatkan saja hal-hal yang kalian ketahui padanya.”

“Seperti apa?”

“Apa yang kalian lakukan dulu, kebiasaan-kebiasaannya. Yang terpenting, jangan menyerah, Hyuk-ah. Fighting!”

***

Hyoyeon berusaha untuk menjernihkan pikirannya. Dia sengaja tidak datang untuk janji-janji ataupun jadwalnya hari ini. Dia tahu dia tidak akan bisa fokus bekerja dengan pikiran sekacau sekarang.

Hyoyeon berjalan-jalan keluar apartemennya menuju taman kota yang luas. Banyak orang menghabiskan waktu mereka di sana, bersama orang-orang yang mereka sayangi. Hyoyeon merasa iri hati. Dia tidak punya orang yang bisa diajaknya menemani hari-harinya bersama.

Pikirannya kembali melayang ke Eunhyuk. Apa dia benar Hyukjae? Bila benar, mengapa dia menjadi sangat sombong? Padahal dulu Hyukjae baik hati. Mengapa dia berubah?

Perbedaan besar itulah yang membuat Hyoyeon menolak mempercayai perkataan Eunhyuk—atau bisa dibilang kenyataan. Hyoyeon tahu Hyukjae dulu murah senyum dan bersikap ramah pada setiap orang, tapi Eunhyuk suka menggoda cewek dan mabuk-mabukkan, bahkan tak jarang dia memarah-marahi orang. Hyoyeon sering melihatnya melakukannya sewaktu dia datang ke gedung SM untuk latihan. Beberapa kali Eunhyuk memarahi staf-staf SM karena lalai dalam tugasnya.

Dia merapatkan jaketnya. Udara dingin sekali karena sudah musim gugur. Hyoyeon mendesah. Mana mungkin dia bisa berjalan-jalan dengan tenang bila udaranya sedingin ini. Mendadak terdengar suara gemuruh. Hyoyeon mendongak ke atas. Jangan… Jangan hujan… Jangan hujan… Jangan…

Permintaan Hyoyeon tidak terkabul. Air mulai jatuh dari awan kelabu di langit yang gelap, membasahi rambut dan pakaiannya. Hyoyeon mengaduk-aduk isi tasnya, tapi dia tidak menemukan sesuatu yang bisa membuatnya terhindar dari hujan.

“Ini.”

Hyoyeon berbalik mendengar suara seorang namja. Jantungnya seakan berhenti berdetak begitu melihat Eunhyuk mengulurkan sebuah payung ungu di depannya. Warna favoritnya (ngasal).

~Flashback~

“Oh, hujan!” Hyukjae mendongak ke arah langit, merasakan air berjatuhan di telapak tangannya.

“Oppa, cepat pakai ini!” Hyoyeon muncul membawa sebuah payung berwarna ungu pucat. Hyukjae tersenyum sementara Hyoyeon membuka payung itu.

Hyoyeon menoleh ke arah Hyukjae. “Waeyo?”

Hyukjae tertawa. “Payung ungu? Lebih bagus payung warna merah di sana.” Dia menunjuk payung merah di depan teras.

Hyoyeon menggeleng. “Aku sering lupa bawa payung, oppa. Kalaupun aku ingat dan membawanya, aku akan selalu membawa payung ungu. Ini warna kesukaanku.”

Hyukjae manggut-manggut. “Dan setiap kali kau lupa bawa, aku akan membawakannya untukmu!”

“Benar!” Hyoyeon tertawa.

~Flashback End~

Payung ungu…

“Hyoyeon-ah, cepat pakai ini. Kau bakal kehujanan.” Suara Eunhyuk menyadarkannya, menggoyang-goyangkan payung itu di depan wajahnya.

Hyoyeon masih tidak bereaksi, jadi Eunhyuk membuka payung ungu pucat itu dan merangkul bahu Hyoyeon, menariknya lebih dekat supaya mereka berdua bisa “masuk” ke bawah payung. Bahu kiri Hyoyeon terkena air hujan—ternyata payungnya tidak cukup besar untuk mereka berdua. Eunhyuk melepaskan rangkulannya dan bergeser, sehingga dia berdiri tanpa dipayungi, tapi dia memayungi Hyoyeon.

Hyoyeon menatap Eunhyuk. Apa yang dilakukannya? Berusaha menggodanya? Mengapa dia bersikap baik seperti ini?

“Hyoyeon? Mau ke mana kita sekarang?” tanya Eunhyuk.

Hyoyeon mengerjap-ngerjapkan matanya. “Pulang. Aku mau pulang.”

Eunhyuk nyengir meski tubuhnya basah diguyur hujan. “Sayangnya aku tidak bawa mobil. Ayo, kita berjalan ke apartemenmu.”

Hyoyeon tidak berkata apa-apa dan mulai berjalan keluar taman, dipayungi Eunhyuk. Hyoyeon tidak menghentikan Eunhyuk berjalan di bawah hujan tanpa dipayungi, sementara itu Eunhyuk selalu berusaha agar Hyoyeon tidak terkena basah sedikit pun.

Tahu-tahu, ada sebuah mobil dari depan mereka. Mobil itu melaju kencang, membuat air di jalanan terciprat mengenai mereka berdua. Hyoyeon langsung berputar sehingga air itu justru mengenainya, bukan Eunhyuk. Eunhyuk tercengang melihat tindakan yeoja itu. Akibat cipratan air yang besar itu, tubuh Hyoyeon juga ikut basah oleh air.

“G-G-Gwenchanayo?” tanya Hyoyeon gemetaran pada Eunhyuk. Air itu sangat dingin, mulai menusuk-nusuk kulitnya lewat pakaiannya yang tipis.

Eunhyuk masih agak terkejut, tapi dia mengangguk. Lalu dia menyingkir sehingga dia terguyur hujan lagi, dan memayungi Hyoyeon kembali. “Ayo. Lebih cepat lebih baik, Nona Kim.”

Hyoyeon tertawa. Eunhyuk sadar bahwa dia sangat suka melihat Hyoyeon tertawa. Dan tawa tadi bukanlah tawa yang dipaksakan, melainkan tawa yang menandakan bahwa Hyoyeon benar-benar terhibur oleh Eunhyuk. Hal itu membuat Eunhyuk merasa senang.

Mereka sampai di depan apartemen Hyoyeon. Eunhyuk baru saja akan mengucapkan selamat tinggal, ketika Hyoyeon menariknya masuk ke apartemennya. Eunhyuk bingung, tapi dia menurut saja. Baru kemarin mereka bertengkar, tapi sekarang Hyoyeon bersikap seakan kemarin tidak terjadi apa-apa.

“Duduk di sini,” kata Hyoyeon, mendudukkan Eunhyuk di sofa ruang tamu. Lalu Hyoyeon pergi ke dapur dan muncul dengan dua cangkir berisi teh hangat. Dia pergi ke kamar tidur dan kembali dengan sebuah selimut tebal. Dia menyelimuti Eunhyuk yang gemetaran kedinginan.

Hyoyeon tersenyum ramah. “Minum tehnya, Eunhyuk-ssi.” Dia duduk di samping Eunhyuk dan memegang cangkir Eunhyuk. Tangan Eunhyuk terlalu pucat dan gemetaran sehingga dia pasti akan menjatuhkan cangkir itu. Hyoyeon memegang cangkir itu di depan Eunhyuk sementara Eunhyuk meminum tehnya pelan-pelan.

Begitu Eunhyuk selesai minum, Hyoyeon menaruh cangkir di meja dan Eunhyuk berkata, “Kau tidak kedinginan?”

Hyoyeon menatapnya. “Tidak begitu.”

Tapi Eunhyuk tidak mempercayainya. Tubuh yeoja itu gemetaran juga karena dingin, sama sepertinya, bahkan lebih parah. Wajahnya pucat dan basah, tapi matanya masih menunjukkan sorot riang yang selalu disukainya.

Tanpa aba-aba, Eunhyuk menarik Hyoyeon ke pelukannya, membuat mereka berdua sama-sama terbungkus selimut tebal itu. Tenggorokan Hyoyeon tercekat begitu merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Eunhyuk.

“Hyo-ah, aku tahu kau masih tidak percaya bahwa aku Hyukjae-mu,” kata Eunhyuk. “Tapi aku akan tetap berusaha meyakinkanmu. Mungkin kau tidak menyukaiku, tapi aku ingin kau percaya bahwa aku Lee Hyukjae yang dulu meninggalkanmu, tapi sekarang aku kembali lagi padamu.”

Hyoyeon terdiam mendengar perkataan Eunhyuk. Namja ini berbeda 180 derajat daripada yang biasanya. “Mengapa kau bersikap seperti itu di luar? Kau selalu memarah-marahi orang dan menggoda cewek-cewek lain. Hyukjae yang kukenal justru kebalikannya. Mengapa?”

Pertanyaan yang berat. Begitulah yang terpikirkan oleh Eunhyuk. Tapi sebelum dia bisa menjawab, ponsel Eunhyuk berbunyi. “Tunggu sebentar,” kata Eunhyuk pelan, dan dia merogoh sakunya lalu menjawab telpon. “Yeobosoyo?”

“Hyuk-ah, minggu depan kita harus tampil di K-Pop Festival dan Mnet Countdown, oke? Jangan sampai performamu buruk,” kata Mr. Park di ujung lain.

“Arraseo, ahjussi,” jawab Eunhyuk sebelum menutup telpon. Dia menyimpannya kembali ke dalam saku dan bersiap-siap menjawab, tapi kali ini ponsel Hyoyeon yang berbunyi.

Hyoyeon mendesah. Ponsel sialan. “Tunggu sebentar,” katanya meniru perkataan Eunhyuk. Dia melepaskan diri dari pelukan namja itu dan berjalan menuju kamar tidur. Ponselnya bergetar di atas meja nakas. Dia langsung menjawabnya. Awalnya dia santai-santai saja. Tapi wajahnya langsung berubah pucat begitu mendengar topik yang dibicarakan.

Tidak… Ini tidak mungkin…

Hyoyeon berusaha untuk tidak menangis. Ada Eunhyuk di ruang sebelah, dan bila dia mendengar tangisannya…

Tapi jantungnya… Dia seakan tidak bisa merasakan debarnya lagi. Ataupun seluruh tubuhnya. Dia merasa mati rasa. Tenggelam dalam kesedihan yang tak berujung.

Akhirnya, air matanya tumpah dan Hyoyeon berusaha menahan tangis sambil berbicara pada orang di ujung lain telpon.

Pembicaraan pun berakhir. Hyoyeon menutup telpon dan merosot ke lantai. Dia melempar ponsel asal ke kasur dan mulai menangis tersedu-sedu. Histeris. Tubuhnya yang sudah kedinginan, sekarang berguncang hebat. Seluruh tubuhnya gemetaran. Tangisannya tidak berhenti.

Eunhyuk, yang sedari tadi bersandar di sofa, mendengar suara orang menangis. Suara itu makin lama makin keras. Eunhyuk sadar bahwa itu Hyoyeon yang menangis.

Dia langsung memasuki ruangan yang tadi dimasuki Hyoyeon. Hati Eunhyuk serasa ditikam begitu melihat Hyoyeon menangis histeris di lantai. Melihat Hyoyeon terluka membuatnya gila. Dia tidak ingin yeoja itu terluka. Dia ingin Hyoyeon baik-baik saja.

Tapi dia jelas tidak baik-baik saja. Tidak bila dia menangis tersedu-sedu seperti itu.

Eunhyuk duduk di samping Hyoyeon dan merangkulnya. “Hyoyeon-ah, waeyo? Ada apa?”

Hyoyeon tidak berbicara. Dia tetap menangis.

“Hyoyeon-ah…”

Setelah lima menit, Hyoyeon akhirnya menyanggupkan diri untuk berbicara.

“Ibuku…”

Eunhyuk kebingungan. “Ibumu? Ada apa dengan ibumu?”

Air mata kembali membanjiri wajah Hyoyeon. Sorot riang itu lenyap dari matanya. Hyoyeon merasa dia terjatuh ke lubang yang dalam, tidak berujung. Dia rasanya ingin mati saja. Hatinya terlalu sakit untuk menanggungnya. Menanggung apa yang baru saja terjadi. Meski Hyoyeon tahu menangis takkan mengubah segalanya, tapi dia ingin menangis. Sekali saja. Sekali saja, untuk menyalurkan rasa sakitnya. Sekali saja, berharap rasa sakit itu akan hilang darinya, walaupun sebenarnya rasa sakit itu akan tetap membekas di dirinya sampai kapan pun.

“Ibuku…” Hyoyeon mengulangi.

Eunhyuk menatapnya.

“Ibuku… Ibuku meninggal.”

***

Annyeonghaseyo! Author kembali dengan part 3!

Mianhaeyo baru bisa update sekarang… Author disibukkan dengan tugas-tugas sekolah yang nggak ada habisnya -_- Tapi akhirnya part 3 bisa di-post juga!
Part 4 sih, author nggak tahu kapan bisa update, tapi diusahakan secepatnya… Tolong JANGAN MENJADI SILENT READERS dan harap tinggalkan jejak baik like, comment, dsb di Twinkle Super Generation ini.

Kamsahamnida!

18 thoughts on “Don’t Forget Me Part 3

  1. Akhir nya part 3 udh di publish
    Kyaa makin seru aja, skarang sikap hyo eonni udh rmah bnget sma Eunhyuk oppa,
    HYOHYUK Fighting

  2. hyo eonni belum busa percaya ya sama hyuk oppa, hayu hyuk oppa fighting buat hyo eonni percaya, itu hyo eonni kasian banget ibunua meninggal😥 ditunggu lanjutannya

  3. Gak bakalan ane mah jadi siders kalo ffnya bagus banget begini, daebak banget chingu ffnya. Feel sad n romancenya dapet, terus juga ane suka cast utamanya HyoHyuk, pairing SuGen yang paling jarang banget ffnya. Bahkan untuk ff SNSD atau suju sendiri, Hyoyeon n Eunhyuk jarang banget jadi cast utama. Terus ane juga suka disini couple SNSD-nya 2 Kim Yeon (Hyoyeon n Taeyeon). Ane suka couple ini karena namanya mirip banget, sama2 member SNSD yang paling enak masakannya, sama2 paling pendek di SNSD, n sama2 ketua no. 1 di SNSD (Tae ketua vokal no.1 di SNSD, Hyo ketua dance no. 1 di SNSD). Tapi sayang aja, Tae itu seringnya deket n dikopelin ama fany, sedangkan Hyo seringnya deket n dikopelin sama Seo atau Sun. Lagian juga Hyo pernah bilang waktu awal2 debut dia canggung sama Tae. Oiy, itu TaeTeuk couple ngerusak suasana sad HyoHyuk couple aja, tingkah mereka childish, dorky, n lucu banget. Wkwkwkwk. Lanjutannya jangan lama2 ya chingu. Terakhir daebak buat chingu n ff ini serta 4 thumbs up.😀

  4. ko belum ada part 4 nya ..
    jeebbbaaalll lanjutin sampe end ya , soal nya aku lagi suka” nya sama hyohyuk , apalagi ada ff tentang dia dan ceritanya bagusss pake banget .
    jadi tetep lanjutin ya ,, fighting🙂

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s