Stay With One Love (Part 4 A)

TITLE             : Stay With One Love part IV (sequel Forever Love With You)

AUTHOR       : Keyindra_clouds

MAIN CAST  :Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Choi Siwon Super Junior, Im Yoona SNSD, Victoria song

GENRE          : Romance, Sad, Angst, Comedy, marriage life, little bit NC.

LENGHT        : Series

 

Annyeong. Aku bali lagi dengan FF Gajeku (Mian agak sedikit lama cz author lg sibuk tugas kuliah). Oh ya bwt pengumuman aja ni part tinggal 1 ½ doang untuk mencapai End. Berhubung kemarin ada yang minta bwt yadong, adegan Yesung-Yuri romantis and Siwon yang dah mulai tobat(?), aku buatin scene, so aku g bisa bwt langsung final-nya.  Mian kalo ceritanya ky sinetron. Tp aku g da niat bwt bikin sinetron. YoonWon shipper aku taruh di part 4B cz terlalu panjang bwt part ini and g muat.  Mian masih banya typo…#bow*ditendang readers*

Aku harap komentar di part ini semakin banyak hingga aku bisa lebih semangat bwt bikin FF.

Jgn lupa bwt yang blum baca part sebelumnya, tolong tinggalin jejak dulu!!!!……..

Part Sebelumnya:

 

[Part 1]            [ Part 2]           [Part 3]

##############

 

AUTHOR POV

 

Victoria berjalan santai menuju ruangan kerjanya. Diambilnya ponsel miliknya dari dalam tas berwarna merah marun itu. Ia usap layar ponselnya dan terpampang jelas walpaper yang kini tengah ia pasang. Foto dirinya dan Jong Woon yang diambil sekitar 2 minggu lalu saat mereka makan siang bersama untuk kedua kalinya. Memori otaknya berputar kembali pada saat ia dan Jong Woon masih sahabat yang tak terpisahkan seperti 7 tahun yang lalu. Ia menyesal kenapa dulu ia menolak cinta Jong Woon. Tapi itu hanya masa lalu, tinggal kenangan yang tak akan pernah kembali lagi. Aku baru sadar bahwa kini ‘jika aku mencintainya’. Gumamnya lirih.

 

FLASHBACK

Tokyo…Summer. August 28, 2005

 

“JONG WOON!!!.” Teriak Victoria girang.

“ada apa?. Kau tahu aku tidak tuli Victoria Song!!.” Ucap Jong Woon menatap Victoria tajam sambil menutup bukunya.

“aku jatuh cinta pada seseorang.” Ucap Victoria tiba – tiba menunduk yang tak mau memperlihatkan muka merah pada sahabat dekatnya itu.

“mwo?. You’re falling in love with someone?. Who is he?. Maybe i know who it?.” Ada rasa sedikit bahagia dihati Jong Woon saat Victoria berbicara bahwa ia telah jatuh cinta pada seseorang. Dia berharap bahwa itu dirinya.

“It’s me???. Maybe??.” Lanjut Jong Woon serius tapi diiringi tawa dan dianggap bercanda oleh Victoria.

“are you kidding Mr. Kim?.That is impossible!!.” Victoria tertawa meledak menatap Jong Woon yang memasang muka innocentnya seolah ia terlalu percaya diri ketika mengatakannya.

“kau tahu namja yang beberapa minggu lalu kita temui di festival Hanabi ?.(Perayaan khas di musim panas, bermula dari zaman Edo (1600-1868). Merupakan pesta kembang api yang diadakan di seluruh wilayah Jepang pada pertengahan bulan Agustus). Shim Changmin!!. Namja itu kemarin malam mengajakku berkencan dan memintaku menjadi Girlfriend-nya.”

“dan kau menerimanya?.” Victoria mengangguk pelan sambil tersenyum bahagia.

“berarti kau tidak mencintaiku Victoria Song?.” lanjut Jong Woon seraya menghela napas panjang dan pura – pura kecewa. Tetapi Victoria malah memukul pelan bahunya.

 “KYA!!!kau ini.. aku mencintaimu bahkan menyayangimu bodoh.” Ejeknya dan berdiri sambil berkacak pinggang.

“you’re my best friend forever Mr. Kim!. Untuk hari ini kau akan ku traktir sushi dan okonomiyaki sepuasmu Nakamura restaurant (author ngarang). Kuberi waktu kau 10 detik jika kau tak beranjak traktiranku batal..satu.. dua..ti..”lanjutnya seraya menarik tangan Jong Woon.

“yeah. Let’s go.” Ucap Jong Woon mendesah pelan.

 

FLASHBACK END

 

Victoria bersandar pada kursi kerjanya dan memejamkan matanya sejenak pikirannya tertuju hanya pada seorang namja yang bernama Kim Jong Woon itu. Ia membayangkan masa – masa indahnya saat bersama Jong Woon. Seandainya….seandainya..seandainya..hanya seandainya dapat mengembalikan keadaan seperti masa – masa itu mungkin Jong Woon masih ada disisinya. Tapi itu hanya seandainya gumam Victoria tersenyum miris memandang foto dirinya dan Jong Woon 7 tahun lalu.

 

*****

 

Tok…tok..sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunannya tentang masa – masa kebersamaannya dengan Jong Woon. Andai waktu dapat diulang kembali, mungkin Jong Woon sekarang sudah menjadi miliknya. Tapi itu hanya pengandaian belaka.. tcihhh, tak akan pernah kembali.

“masuk!!.”

“mianhae, Victoria –sshi. Apa aku mengganggu?.”

“aniyo, nona Kwon. Wae kau datang kemari?.”

“aku ingin membicarakan tentang dana untuk proyek infrastruktur bulan depan. Apa bisa kita berdiskusi sebentar?.”

Victoria mengangguk pelan. Diamatinya yeoja ini yang sedang berkonsentrasi memahami tentang perusahaan ini. Sungguh yeoja ini begitu bodoh, pikirnya. Benar memang yang dikatakan oleh Seunghyun sajangmin kalau yeoja ini hanya beruntung saja saat proposalnya disetujui oleh dewan rapat saat itu. Ia menyeriangai senang karena tanpa diminta yeoja ini sudah masuk kedalam perangkapnya yang dibuat bersama dengan Seunghyun sajangmin.

“asal kau tahu nona Kwon Yuri-sshi yang terhormat, sebentar lagi kau akan hancur!!.” Batin Victoria yang merasa dirinya menang.

“kamshamida Victoria –sshi semoga kita bekerja sama dengan baik.” Ucapnya seraya berdiri kemudian mengambil map didepannya. Tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah lembaran foto.

Diambilnya foto itu dan tak sengaja Yuri melihatnya. Selembar foto yang beberapa bulan lalu ia temukan dikamar kedua anaknya. Seolah tak tahu menah tentang foto ini Yuri mencoba  menanyakan apakah dirinya mengenal Jong Woon. “eumm, mianhae Victoria –sshi. Apa ini fotomu?.” Tanya Yuri pelan. Seolah – olah tak mengenal suaminya itu.

“ne tentu saja. Itu fotoku 7 tahun lalu dengan orang yang kucintai saat kami masih berstatus sebagai mahasiswa.”

Raut muka Yuri berubah seketika saat Victoria mengatakan bahwa Jong Woon yang tak lain suaminya sendiri adalah orang yang dicintai Victoria. Tapi ia sebisa mungkin tersenyum menutupi rasa sakit hatinya dihadapan Victoria. Jadi benar jika Jong Woon dulu sangat mencintai Victoria. Sekarang dia telah kembali Jong Woon, apa kau bahagia?. Gumam Yuri dalam hati memikirkan Jong Woon.

Ada perasaan sedikit sakit pada saat ia menatap Victoria. Victoria kini hadir kembali disaat dirinya kini mencintai dan memiliki sepenuhnya Jong Woon. Sekelibat pemikirannya berpusat pada Victoria, apa dia akan merebut Jong Woon dari sisinya?. Tidak.. Ia dan Jong Woon telah berjanji mengikat tali suci pernikahan untuk selamanya, Jong Woon telah memilihnya sebagai pendamping hidupnya. Jadi apa yang harus ia takutkan. Gumam Yuri dalam hati. Yuri mencoba tersenyum dan melupakan masalah kecemburuannya dengan hubungan Victoria dan Jong Woon dimasa lalu.

“mau makan siang bersama nona Kwon?.” Tawarnya yang membuyarkan lamunan Yuri sesaat.

“ne, tentu saja.” Jawab Yuri sekenanya.

 

*****

           

“euhm..nona Kwon. Ku dengar dari Seunghyun sajangmin kau sudah menikah dan memiliki anak. Gurae?.” Ucap Victoria membuka pembicaraan.

“jadi Seunghyun ajusshi telah menceritakan diriku padamu?.” Tanya Yuri balik.

“wow. It’s really amazing. Diusia semuda ini kau sudah berkeluarga. Boleh aku tahu sedikit cerita tentang kehidupanmu.”

Yuri tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Victoria, meskipun hatinya terasa sesak mengetahui jika Victoria mencintai suaminya sendiri. Kau tahu nona Song yang menjadi suamiku sekarang adalah orang yang ada didalam foto tadi Kim Jong Woon. Isak Yuri dalam hati.

“aku menikah diusia 20 tahun. Dan sekarang aku telah memiliki dua orang anak. Kalau boleh tahu apa kau menjalin hubungan dengan orang yang berada didalam foto itu Victoria –sshi?.”

“namja itu bernama Kim Jong Woon. Aku dan dia bertemu saat kami kuliah di Jepang. Jong Woon kuliah dijurusan kedokteran dan aku dibidang keuangan. Aku dan Jong Woon sangat dekat tapi saat itu cinta itu belum bisa tumbuh dihatiku, aku tidak bisa membalas cinta Jong Woon. Namun aku baru sadar jika aku mencintainya ketika aku dapat bertemu kembali dengannya. Aku akan berusaha mendapatkan cintanya kembali meskipun ia kini sudah melupakannku atau dia telah menemukan yeoja lain yang sekarang ia cintai. Aku akan berusaha mengembalikkan hatinya padaku, hanya mencintaiku seorang seperti masa – masa kami dulu. Tidak ada kata terlambat untuk aku mendapatkan Jong Woon kembali.” Papar Victoria panjang lebar.

 

Electric (Electric Shock) E-E-E-Electric E-E-E-Electric Shock. Jeon jeon jeonryudeu-ri momeul ta-go heu-lleo danyeo. Gi gi gijeorhal -deut aseuraseul chiritchiris.

 

“yeoboseo . . ne. Aku segera kesana.”

“mianhae nona Kwon aku ada urusan sebentar. Kau tak apa – apa sendiri disini.” Lanjutnya seraya berdiri.

“gwenchana.”

“annyeong.” Ucap Victoria lalu berlalu.

 

*****

 

YURI POV

 

Aku mencoba berjalan kembali keruanganku, namun kakiku berat untuk dilangkahkan menuju ruangan itu. Entah mengapa saat ini pikiranku carut marut memikirkan perkataan Victoria tadi. Inti dari perkataan Victoria adalah cinta masa lalunya dengan Jong Woon. Aku takut jika Victoria akan merebut Jong Woon dari sisiku. Kucoba menenangkan diriku dari kejadian tadi dengan berjalan menuju taman belakang hotel ini.

Pandanganku kosong, dadaku sesak, hatiku sakit mengetahui bahwa Jong Woon dan Victoria  pernah menjalin hubungan dimasa lalu walau akhirnya Jong Woon harus tersakiti. Tanpa terasa air mataku jatuh dan aku hanya bisa terduduk ditangga. Aku mencintai Jong Woon sebisa mungkin aku harus mempertahankan cintaku padanya begitu juga Jong Woon hanya mencintaiku. Aku yakin jika Jong Woon hanya mencintaiku, aku yakin itu.

 

I can tell you’re looking at me, I know what you see. Any closer and you’ll feel the heat (GG). You don’t have to pretend that you didn’t notice me. Every look will make it hard to breathe (T.R.X).B-Bring the boys out (Yeah, You know). B-Bring the boys out (We bring the boys out! We bring the boys out)

 

“Yeoboseo. Wae kau menelponku?. Apa kau tak sibuk hari ini?.”

“bogoshipeo chagiya..  Aku memang sibuk hari ini tapi aku harus menyempatkan sedikit waktu untuk menelpon istriku tercinta.”

“isshh. Kau ini pandai merayuku saja. Bukankah setiap hari kita bertemu.” Aku terkekeh geli mendengar suara Jong Woon yang seperti ini, sungguh kekanak – kanakan.

“nanti sore ku jemput. Kita pergi kencan berdua merayakan ulang tahunmu.”

“mwo?. Bukankah tadi malam kita sudah merayakannya bersama Jae Woon dan Nam Young?. Apanya yang harus dirayakan lagi?.”

“tapi aku mau merayakannya hanya kita saja tanpa ada gangguan dari mereka berdua.” Rengeknya sekali lagi yang sukses membuatku tertawa geli.

“kau pikir mereka berdua itu siapa. Mereka berdua adalah anakmu Kim Jong Woon!!. Kau ini sungguh menyebalkan!!.”

“ne. . arraseo. Jadi apa kau mau berkencan sore hingga malam ini?. Aku tidak menerima penolakan dari anae tercintaku ini. Jadi mulai kau pulang kerja kau harus pergi denganku!!.”

Tut…tut..tut… . Mwo?. Jong Woon memutus begitu saja panggilannya. Aku tersenyum seketika dan melupakan perkataan Victoria tadi. Aku tahu sekarang bahwa Jong Woon memang mencintaiku.

 

FLASHBACK

 

December, 4 2012 @11.40 PM SEOUL Time

 

“umma.” Sebuah tangan kecil meraba – raba wajahku saat aku tengah tertidur dan sukses membangunkan tidurku. Dengan setengah sadar aku membuka mataku.

“waeyo Youngie?. Umma lelah chagi. Kau ingin dipeluk chagi, sini umma peluk.” Aku memeluk Nam Young dan langsung kututupi selimut hingga wajahnya. Tapi ia malah meronta untuk dilepaskan. Alhasil  aku menyerah juga dan mencoba duduk mengumpulkan nyawaku seutuhnya.

Omona!!!. Kulihat tak ada Jong Woon disebelahku saat tertidur. Kenapa Nam Young bisa berpindah tempat kekamarku?. Dan kemana  kembarannya yang satu lagi?. Segera kugendong Nam Young kembali kekamarnya dan sekaligus mencari keberadaan Jong Woon oppa.

Kubuka pintu kamar Jae Woon dan Nam Young, tapi keadaannya sepi tak ada Jae Woon. Mendadak aku panik tak mendapati Jae Woon ditempat dan parahnya lagi kemana perginya Jong Woon. Kucari diseluruh ruangan didalam apartemen tapi nihil tak menemukan mereka berdua. Tiba – tiba pandanganku tertuju pada sebuah note pendek tertempel dipintu kulkas disertai setangkai mawar putih dengan lintingan kertas bertuliskan huruf ‘S’.

 

Jae Woon sedang bersamaku, jika kau ingin bersamanya aku menunggumu tepat jam 12 disebuah tempat . Ikuti petunjuk dari bunga mawar ini.

 

Kim Jong Woon

 

Apa – apaan maksud Jong Woon seperti ini!. Apa dia tidak tahu jika sekarang hampir jam 12 malam. Kenapa dia malah mengajak Jae Woon keluar malam – malam seperti ini. Baiklah ku ikuti permainannya. Aku baru berjalan melewati ruang tengah aku melihat setangkai mawar yang diletakkan diatas meja. Dan anehnya lagi hanya bertuliskan satu huruf saja yaitu ‘A’. Kim Jong Woon kenapa kau membuatku penasaran seperti ini.

 

Bunga yang ketiga dibalik pintu keluar apartemen bertuliskan huruf ‘R’

 

Bunga keempat tepat didepan lift apartemen kami bertuliskan huruf ‘A’

 

Bunga kelima kutemukan saat aku keluar dari lift turun ke lantai satu yang bertuliskan ‘N’

 

Bunga keenam ada ditangga kedua didepan pintu keluar utama apartemen  bertuliskan ‘G’.

 

Bunga ketujuh kutemukan terletak didepan patung dekat air mancur dan bertuliskan ‘H’

 

Bunga kedelapan ada bangku taman yang beberapa meter dari air mancur bertuliskan ‘A’

 

Bunga kesembilan tak sengaja kuinjak saat aku mulai panik tak menemukan mereka dan bertuliskan ‘E’

Bunga kesepuluh kutemukan saat aku berjalan menuju kesuatu tempat yang tak asing bagiku dan untuk kali ini aku menemukan sebuah huruf ‘Y’.

 

Hanya kepanikanlah yang kini menggerogoti tubuhku. Dimana mereka berdua, ini sudah hampir jam 12 malam. Ini bukan lelucon Kim Jong Woon!!. Kulihat Nam Young yang sudah hampir mengantuk, sesekali ia menyandarkan kepalanya dalam dekapanku. Kesabaranku sudah hampir pada puncaknya. Hingga akhirnya aku kembali menemukan setangkai mawar putih lagi – lagi dengan lintingan kertas yang menempel dan bertuliskan huruf ‘O’. Tiba – tiba Nam Young meminta turun dari gendonganku dan meminta untuk berjalan, kuturuti permintaannya dan menuntunnya pelan.

Pandanganku tertuju seketika saat seorang namja yang kukenal dengan postur idealnya membelakangiku. Ya, benar saja itu Jong Woon. Perlahan – lahan ia membalikkan badan dan tersenyum manis padaku sambil membuka kertas gambar yang ada tulisannya.

 

3 tahun bukan waktu yang singkat untuk mencintaimu.

 

Ia membuka lembar selanjutnya

 

3 tahun juga kau sudah disisiku dan menghadirkan mereka berdua untukku.

 

Kembali ia membuka lembar selanjutnya

 

Saengil chukkae hamnida nan anae ke-23. Jeongmal jeongmal saranghae. You’re my shining star for my life now and forever. I  want to you’re only one for me.

 

Beberapa detik kemudian…..

Duar…duar…suara meledak kembang api bersinar dilangit. Pandanganku tertuju pada benda warna – warni yang mengeluarkan cahaya itu. Jong Woon pun segera menghampiriku dan menggandeng tanganku.

Aku masih berpikir apa yang ditulis oleh Jong Woon. Otakku mendadak slow motion mencerna setiap kata yang dituliskan Jong Woon. Apa maksudnya ini?.

“wae, kau bengong seperti ini?.” Tanya Jong Woon yang mendada –dadakan tangannya ke wajahku karena tak mendapatkan reaksi dariku.

“oppa. Memang sekarang tanggal berapa?. Apa hari ulang tahunku?.” Tanyaku masih tidak percaya dengan wajah tak berdosa.

“chagiya.. kau lupa hari ulang tahunmu?. Omona!!. Ini tanggal 5 desember dan tepat tengah malam, tentu saja ini hari ulang tahunmu tepat tengah malam.”

“hah?.” Ucapku tak percaya.

“kau ini!!. Aku tak mau bertengkar kecil hanya karena sifat pelupamu ini. Sekarang lebih baik kau tiup lilinnya dan make a wish.” Suruhnya.

Han..Dul..Set. aku akhirnya meniup lilin yang diletakkan diatas kue ulang tahun itu. Aku harap diulang tahunku kali ini aku ingin selamanya bersama Jong Woon, hanya itu  keinginanku aku tak ingin apa – apa lagi selain bersama Jong Woon untuk selamanya.

“kau sudah mengetahui maksud dari 11 tangkai bunga mawar yang kau bawa itu?.” Tanya Jong Woon menatapku. Aku meggeleng pelan menandakan bahwa otakku kembali mengalami slow motion untuk meresponnya.

“kau gabungkan satu persatu hurufnya dan jawabannya ada didalam kotak berwarna hitam ini.”

Aku membuka kotak hitam berpita itu dan ternyata benar, ada tulisan ‘SARANGHAEYO’ didalam sebuah kotak musik berbentuk hati. “nado saranghae oppa. Gomawo, kau sudah mencintaiku itu adalah hadiah terindah hidupku.” Ucapku menatap matanya dalam dan memeluknya erat.

“ne, chemaneyo.” Ia memelukku erat. Bisa kurasakan kehangatan cinta yang ia berikan padaku. AKU MENCINTAINYA.

“saranghae nan nampeyon.” Perlahan – lahan ia memiringkan kepalanya. Jarak kami semakin dekat hingga deru napasnya dapat menerpa wajahku, ia pun memiringkan wajahnya. Dan….

Aku mendorongnya pelan dan memincingkan mataku seolah memberi isyarat kalau ada mereka berdua yang sedang memperhatikan kita.

“ne, aku tahu. Jae Woon, Nam Young sekarang kalian berbaliklah serta sedikit menjauh dari appa dan umma dan TUTUP MATA KALIAN!!.”

Seakan mengerti dengan perkataan Jong Woon mereka berdua segera berjalan pelan menjauhi kami layaknya balita berumur satu setengah tahun dan berjongkok serta menutup mata mereka.

Kembali Jong Woon menatap mataku dan seketika itu bibirnya telah bertemu dan menyatu dengan bibirku. Kurasakan ada sensasi lembut dan basah menyentuh bibirku dan perlahan – lahan ia menggigit bibir bawahku serta memasukkan lidahnya dalam mulutku. Ciumannya semakin dalam dan terkesan menuntut hingga akhirnya aku mendorongnya.

“kau ini mau membunuhku dengan tak memberiku jeda untuk bernapas heh?.” Ucapku kesal karena ia tak mau melepas ciuman kami. Dan ia pun hanya nyengir tanpa dosa serta menggaruk – garuk tengkuk lehernya.

“appa…cudah.” suara khas balita itu kembali mengagetkanku.  Aku dan Jong Woon pun hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka berdua yang menutup mata sambil mengacak –acak kue tart.

 

FLASHBACK END

 

Saranghae Kim Jong Woon. Gumamku lirih dan merasakan semilir angin yang lembut menerpa wajahku. Kembali aku menegakkan tubuhku dan berjalan masuk kedalam sambil tersenyum bahagia melupakan kejadian tadi.

 

*****

 

JONG WOON POV

 

Tepat jam 5 sore mobilku berhenti didepan kantor yang selama 4 bulan ini Yuri menjadi tempatnya yang baru setelah rumah sakit. Apa mau dikata itu kemauan Yuri, aku hanya bisa mendukung dan menyemangatinya. Kulihat dari kaca mobil banyak orang berlalu lalang keluar dari perusahaan itu, ternyata benar ini sudah masuk waktu pulang para orang kantoran.

Aku keluar dari mobil dan menunggu Yuri keluar dari dalam gedung sambil bersender dimobil dan menyilangkan tangan, sesekali melirik jam tangan arlojiku yang menunjukkan pukul 5 lebih.

“Victoria.” Aku tekaget saat seorang gadis yang kukenal berambut dibawah bahu dengan poni padat didahinya keluar dari kantor yang sama dengan Yuri.

Aku menatapnya seksama, yeah benar itu memang Victoria. Victoria yang merasa kuperhatikan juga tengah memandangku sekarang. Ia pun mulai bejalan mendekat kearahku. Otomatis aku tersenyum mendapati ia tersenyum manis kepadaku.

“annyeong Jong Woon. Kau sedang apa disini?.” Tanya Victoria dengan senyumnya yang masih sama seperti dulu.

“aku sedang…..” belum sempat aku menjawabnya sebuah suara memanggilku

“oppa..” sebuah suara memanggilku dari arah berlawanan. Ternyata suara Yuri yang tengah berjalan menghampiriku.

“Yuri-ya..” Ucapku kaget melihatnya.

“Kwon Yuri sajangmin??.” Pekik Victoria Tak kalah kaget.

“ne. Waeyo, ada yang salah denganku?.” Ucap Yuri polos.

“Jong Woon-ah kau mengenal Kwon Yuri sajangmin?.” Tanya Victoria heran.

“hey Victoria Song. Ini adalah Kim Yuri istriku.”

“mwo??.”

“nanti kapan – kapan akan kuceritakan. Sekarang aku pergi dulu.” Ucapku seraya menarik tangan Yuri pergi.

 

*****

 

Aku dan Yuri berjalan seirama dan bergandengan tangan mesra dan memegang erat jemari tangannya. Aku ingin mengajakknya melihat sunset terbenam dengan indahnya ditengah kota megapolite seperti Seoul ini. Kini kami duduk ditepi danau yang sepi dan indah hanya ada segelintir orang yang berada ditempat ini. Semilir angin menerpa wajah kami berdua bau musim gugur kini tengah mendekat menutup musim panas yang berlalu.

“oppa apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?.” Ucap Yuri memecah keheningan.

“ne.” Jawabku masih memandang langit.

“ada apa hubungan antara oppa dengan Victoria?. Apa kau pernah menjalin hubungan khusus dengannya?.” Tanya Yuri tiba – tiba memecah keheningan senja ini.

“kami hanya berteman dekat saat kami masih sama – sama kuliah di Jepang. Memang dulu aku pernah menyukainya, tapi itu dulu sebelum aku menemukanmu…..‘cinta terindahku’.” Tekan ku.

“jangan merayuku oppa.” Ucapnya menunduk menyembunyikan semburat merah diwajahnya.

“aku tidak merayumu Kim Yuri!!.” Aku tertawa kecil dan menatap wajahnya. Ku tempelkan dahiku didahinya serta menangkupkan tanganku diwajahnya sambil membelai pipinya.

“I Love You Kim Yuri.”

“I Love You Too Kim Jong Woon.”

Aku mengkontak matanya dalam. Tersirat sebuah kehangatan cinta yang terpancar dari matanya. Perlahan – lahan kudekatkan wajahku dengannya lalu memiringkannya. Dan…

 

—chu—

 

Bibirku menyentuh bibirnya. Kucium dan kulumat bibirnya serta tak lupa ku rengkuh erat pinggangnya agar ia membalas ciumanku. Pelan namun pasti ia membalas ciumanku, digigitnya bibir bawahku lembut begitupun aku menggigit pelan bibirnya. Aku tak menyia – nyiakan hal ini segera kumasukkan lidahku agar bertautan dengan lidahnya. Yuri mengalungkan tangannya ditengkuk leherku agar aku kami bisa lebih lama menikmatinya. Tanpa sengaja aku melepas ciumanku untuk turun menciumi lehernya.

“op..pa..aaah..geee..li. ple..aassee.. stop..it..aaakkhh.” Yuri mendesah pelan akibat sensasi geli saat aku menciumi lehernya.

“je..ball..aakkhh..lepp.paskan..aakkh…aakk..ku.” Lanjutnya yang kemudian mendorongku pelan.

“waeyo?.” Tanyanya seraya melepas ciumannya.

“jangan disini. Ini tempat umum. Lebih baik kita menjemput Jae Woon dan Nam Young dirumah umma.”

“ne arraseo. Berarti  malam ini kita bisa melakukan yang lebih kalau begitu chagiya?.” Tanyaku mengerlingkan mata.

“mwo?.” Seketika itu matanya membulat sempurna dan segera kutarik tangannya menuju mobil.

 

*****

 

AUTHOR POV

 

Yuri dan Jong Woon serta Kim Twins (maksud author Jae Woon dan Nam Young) kini tengah berkutat dengan makan malam sambil sesekali mereka berdua bercanda dengan malaikat kecil mereka. Hatinya sedikit lega mengetahui bahwa Jong Woon mencintainya.

“perlu kubantu chagi?.” Tawar Jong Woon manja yang melihat Yuri membersihkan dan membereskan meja makan setelah selesai sambil melingkarkan tangannya diperut Yuri.

“anii. Kau temani mereka saja bermain disana. Aku akan cepat membereskannya sendiri.”

“Yuri-ya, kau tak lupa kan melakukannya denganku malam ini?.” Rengeknya manja.

“melakukan apa oppa?.” Tanya Yuri pura – pura tak mengerti.

“isshh. Janjimu yang tadi..?”

“maksud oppa?.”

“Kim Yuri!!!”Dibaliknya tubuh Yuri secara mendadak dan…

 

—chu—

 

Bibir mereka berdua bertemu dan saling bersentuhan. Jong Woon melumat bibir Yuri lembut dan merasakannya. Jong Woon merengkuh pinggang Yuri agar ia tak melepas ciumannya dan menggigit bibir bawahnya. Begitupun Yuri perlahan – lahan membalas ciumannya dengan cara menggigit bibir atasnya. Pelan namun pasti mereka berdua terhanyut oleh sensasi perlakuan dari keduanya.

“oppa!!. Ada mereka berdua, jangan kau seperti ini. Cepat temani mereka bermain!!” ucapnya seraya melepas ciuman mereka berdua.

“shirreo. Aku mau seperti ini terus.”

“baiklah Kim Jong Woon!. Tidak ada jatah untuk malam ini dan untuk sebulan kedepan!!.” Teriaknya ambil menyilangkan tangan.

“mwo??..andwee… . ne, kutemani mereka.” Pasrah Jong Woon menuruti Yuri.

Jong Woon akhirnya mendekati mereka berdua yang tengah asyik berkonsentrasi dengan mainannya masing – masing. Diambilnya sebuah PSP berwarna hitam yang tergeletak diatas sofa dan segera memainkannya untuk menghilangkan rasa bosannya sambil sesekali melirik dan mengawasi mereka berdua. Merasa diamati Jae Woon langsung berjalan mendekati Jong Woon dan duduk dipangkuannya serta mengambil alih PSP kesayangan appa-nya. Dibukanya PSP itu dan diambinya dua buah baterai yang ada didalamnya serta menyerahkannya pada Jong Woon.

“battte…llai..appa.” ucapnya sambil menyerahkan kedua buah baterai PSP tersebut.

“mwoya?.” Jong Woon menatap aneh Jae Woon.

Jae Woon yang merasa mendapat tatapan aneh dari sang appa segera berlari membawa PSP tanpa baterai itu serta memeluk kaki jenjang Yuri yang berjalan mendekati Jong Woon sambil memakan ice cream. Dan….

Prakkk….Buuukkk….dilemparnya PSP itu dengan keras dan seketika itu tak dapat digunakan lagi. Jong Woon yang melihat dengan mata kepalanya sendiri segera menghampiri PSP kesayangannya yang baru saja hancur karena layarnya retak.

“omona PSP –ku….?. ini PSP limited edition yang  sebulan lalu kubeli. OH MY GOD..!!.” Teriak Jong Woon meratapi nasib PSP-nya rusak seketika.

“KIM JAE WOON!!!…..” Murka Jong Woon.

 

*****

 

“oppa. Kau marah pada Jae Woon?.” Rayu Yuri yang menyenderkan kepalanya dibahu Jong Woon sambil memakan ice cream tapi tak mendapat respon dari sang suami.

“oppa. Kalau kau mau pakai PSP-ku saja ada dikamar, tapi tak sebagus punyamu. Itu pun kalau kau mau.” Tawar Yuri yang masih merayu Jong Woon yang masih mengerucutkan bibirnya.

Yuri segera menghampiri Jae Woon yang masih bermain bersama dengan kembarannya Nam Young. Kemudian Yuri berbisik pada mereka berdua, entah apa yang dibisikkan Yuri pada mereka berdua. Tiba – tiba Jae Woon dan Nam Yong berjalan mendekati Jong Woon serta naik keatas tubuhnya.

Cupss.. Jae Woon mencium pipi kiri appa-nya sekilas. “soll…ly..app..pa.” lanjutnya dengan gaya khas  balita berumur 1,5 tahun itu. Tak kalah dengan Nam Young juga mendaratkan ciuman dipipi kanan sang appa.

“Kim Yuri!!.. jadi kau memakai setan kecil ini untuk merayuku?.”

“tentu saja, kau pasti tak akan tahan lama – lama marah pada Jae Woon. Aku yakin itu.” Ucap Yuri sambil menyendok ice cream nya.

“um..ma.” koor mereka berdua serentak.

“wae?.” Mereka berdua langsung pindah menghampiri Yuri yang membawa ice cream ditangannya dan berusaha mengambilnya.

“ooh..ne, tapi satu sendok saja. Setelah itu kembali bermain. Arraseo.” Mereka mengangguk seakan mereka mengerti. Disendokkannya satu persatu ice cream yang dimakan Yuri kepada mereka berdua.

“kau lupa padaku chagiya?.” Ucap Jong Woon mendekatkan wajahnya pada Yuri.

“kau juga mau oppa. Arraseo. Ini oppa.” Yuri segera menyendokkan sesendok ice krim pada Jong Woon. Tapi Jong Woon pun tak mau membuka mulutnya.

“aku tak mau yang ini tapi….” ucapnya menggantung.

Langsung saja Jong Woon mencium bibir atas Yuri yang terkena ice cream yang baru saja ia makan. Melumatnya lembut serta merasakannya.

“hmm..rasa coklat vanila. Aku lebih suka itu daripada ice cream. Karena itu jauh lebih manis daripada manisnya ice cream. Boleh kurasakan sekali lagi chagiya.” Ucapnya melepas dan menunjuk bibir Yuri serta mengetuk – ngetukkan bibirnya itu.

“mwo?.”

Hikss..hikss.. huaa…huaa..

“kau sudah mau tidur chagiya?. Ne, kajja kita tidur.” Yuri hanya bisa mengalihkan pertanyaan Jong Woon pada tangisan Jae Woon dan Nam Young daripada menanggapinya pasti Jong Woon akan meminta lebih. Dasar mesum!!. Umpat Yuri dalam hati.

 

*****

 

Victoria duduk ditepi ranjangnya sambil bersender. Pikirannya hanya tertuju pada kejadian tadi sore. Jong Woon adalah suami dari Kwon Yuri. Hanya itu saja yang berpusat pada pemikirannya. Diusapnya kembali layar ponselnya yang memperlihatkan dirinya dan Jong Woon tengah mengulum senyum bahagia. Ia belum pernah sebahagia ini sejak kedatangannya di Korea 4 tahun lalu. Tapi kebahagiaan yang dirasakan Victoria hancur sudah setelah mengetahui bahwa Kwon Yuri adalah orang yang Jong Woon cintai kini. Tanpa terasa air matanya jatuh seketika.

“kenapa dulu aku tak memperhatikannya dan tak mempedulikannya. Seandainya kau memberi kesempatan hingga saat ini aku pasti akan menjawab ‘YA’ dan pasti kita sekarang akan hidup bahagia Kim Jong Woon.” Gumam Victoria lirih yang masih mengeluarkan air mata.

Tiba – tiba Victoria merasakan pusing yang hebat dikepalanya. Kepalanya terasa berputar – putar. Darah segar pun mengalir dari hidungnya. Ia usap darah yang keluar itu dan segera mengambil sesuatu dari dalam laci nakas kamarnya.

“aku harus bisa bertahan menghadapi penyakit ini. Aku tak boleh menyerah untuk mendapatkan Jong Woon kembali dari tangan Kwon Yuri. Aku harus sembuh..AKU HARUS SEMBUHHH!!.” Teriak Victoria lantang.

“aku mencintaimu Kim Jong Woon!!.” Ucap Victoria lirih sambil menahan tangis dan ambruk begitu saja diranjangnya.

 

*****

Pagi Harinya…..

 

YURI POV

 

“Yuri –ya..”

Aku segera meletakkan pisau yang kugunakan untuk memotong bahan makanan kali ini. Suara bass seorang Kim Jong Woon yang selalu aku temui setiap hari dalam hidupku. Aku mendapati Jong Woon masih belum sepenuhnya tersadar dari tidur yang berjalan gontai dan mengucek – ucek kedua matanya. Sungguh sangat mirip dengan balita yang baru saja bangun dari tidurnya.

“Yuri –ya.” Ucapnya masih merengek dan melingkarkan tangannya di perutku sambil menyenderkan dagunya dibahuku. Selalu seperti ini terus. Memeluk secara mendadak.

“ne. Ada apa oppa?.”

“apa perlu kita mempekerjakan Jung Ahjumma untuk merawat dan menjaga mereka berdua selama kita pergi bekerja?.” Ucapnya ketika melihat mereka asyik dengan mainannya.

“maksudmu?.”

“kemarin umma memberitahuku bahwa dalam waktu dekat ini akan kembali ke Jepang. Jadi umma belum tentu dapat menjaga mereka berdua setiap hari. So, this will give her chance to show us is made of this. (jadi, kita berikan kesempatan untuknya untuk dapat bagaimana dirinya melakukannya). Kau setuju?.”

“terserah kau saja.”

“jadi kau setuju, berarti minggu depan Jung ahjumma akan bekerja disini. Kalau begitu boleh aku meminta sesuatu?.” Tanyanya girang sambil melepas pelukannya.

“morning Kiss…” lanjutnya seraya menunjuk bibirnya.

“mwo?. Kau lihat siapa yang sedang duduk melihat kita berdua Kim Jong Woon- sshi!!.” Aku mengernyitkan dahi sejenak sambil menatap Jong Woon tajam.

“lebih baik kau mandi. Ppali kau berangkat kerja!!..” Lanjutku menatapnya tajam.

Jong Woon tersenyum manis lalu menyeringai kecil serta mengangguk mengerti. Diangkatnya daguku dan bibirnya secara sukses mendarat dibibirku lalu berlari menuju kamar sebelum aku sukses menyeretnya menuju kamar mandi.

“dasar Kim Jong Woon!!.” Teriakku. Aku menghela napas pelan sejenak. Aku hanya ingin seperti ini hidup bahagia bersama Jong Woon dan kedua malaikat kecilku tak ingin lebih.

 

 *****

 

Kulangkahkan kakiku memasuki kamar yang kami gunakan setiap harinya. Dan kudapati sangat berantakan padahal kamar ini hanya digunakan kami berdua. Aku segera membuka lemari dan lekas mengganti pakaianku dengan pakaian kerja dan tak lupa merapikan kamar kami berdua.

“Nah, perfect.” Ucapku menatap tampilanku memastikan bahwa sudah pas. Sekali lagi aku memutar tubuhku menghadap cermin memastikan bahwa hari ini penampilanku sudah siap.

“ku sudah selesai oppa?.” Lirikku dari kaca yang melihat Jong Woon yang baru saja keluar dari kamar mandi dan duduk ditepi ranjang sambil mengeriangkan rambutnya dengan handuk.

“Oppa. Jika memakai pakaian jangan berantakan seperti itu?. Kau ini.” Aku segera mengancingkan dan merapikan kemeja yang dikenakan Jong Woon. Sungguh berantakan sekali Sambil sesekali mengacak pelan rambut Jong Woon.

“Yuri –ya.” Panggilnya sambil memegang pergelangan tanganku.

“ne, waeyo?.”

“morning kiss..” Ucapnya meminta. Aku memutar badanku dan berkacak pinggang menatapnya.

“hhuufft..” pasrahku sambil meniup poniku keatas.

Tiba – tiba Jong Woon menarik tanganku dan seketika itu aku terduduk dipangkuannya. Perlahan ia memiringkan wajahnya dan…

 

— chu–

 

Ia melumat bibirku lembut sangat lembut. Begitupun aku kembali melumatnya dan merasakannya. Ia menggigit bibir bawahku dan aku hanya bisa meremas pelan rambutnya yang berantakan itu. Kukalungkan tangan ditengkuk lehernya agar lebih memperdalam ciumanku. Dan tanpa diduga….

Brakkk…

“ap..pa…um..ma..” Koor teriak mereka berdua.

“umm…ma…ccsa..kitt…” teriak Nam Young yang kemudian menangis keras.

 

*****

 

Aku masih kesal dengan sikap Jong Woon sejak dari tadi pagi. Ia seenaknya saja menciumku dihadapan mereka berdua apa ia tidak tahu bahwa itu tak baik untuk psikologisnya, dia itu seorang dokter apa ia tak tahu akibat dari perlakuannya tadi?.

“Yuri-ya..” ucapnya pelan memohon. Aku masih tak begeming menanggapi panggilannya.

“Yuri –ya, mianhae untuk kejadian tadi pagi. Kau mau kan memaafkanku?.” Lanjutnya merengek setelah menghentikan mobilnya tepat didepan kantor Appa dan menggenggam tanganku erat.

Aku hanya tertawa dalam hati akhirnya ia tersadar juga dari sifatnya yang selalu menciumku didepan mereka berdua. Ternyata ide ku berhasil juga mendiamkannya beberapa saat. Inilah kebiasaan Jong Woon selalu seperti ini memasang aegyo-nya agar aku bisa memaafkannya.

“ne, aku maafkan. Tapi lain kali jika kau mengulangi seperti tadi pagi. Kupastikan tak ada morning kiss selama sebulan penuh.”

“jinja?. Kau memaafkanku?. Gomawo chagiya.” Ucapnya memelukku erat hingga aku tak bisa bernapas.

“lepaskan aku oppa.” Aku segera membuka pintu mobil, tapi sebelum aku membukanya aku menoleh lagi kearah Jong Woon dan menautkan salah satu alisku. Serta mendadak aku mencium lembut bibirya.

“morning Kiss.” Ucapku setelah menciumnya lembut, lalu keluar dari mobil. Kulihat Jong Woon masih tak percaya dengan sikapku ini. Dasar Kim Jong Woon!!!.

 

*****

 

Aku berjalan pelan memasuki gedung perhotelan yang sudah lebih dari 4 bulan aku tempati. Disini aku bertemu dengan hal – hal baru yang belum pernah kukenal. Termasuk cinta masa lalu Jong Woon dengan Victoria. Entahlah mengapa bayangan itu kembali muncul, jelas – jelas Jong Woon telah menikahiku apa yang harus kutakutkan?.

Brukk…seorang yeoja yang berlawanan arah tak bertabrakan denganku di koridor menuju ruanganku bekerja.

“mianhae, Victoria-sshi.” Ucapku sambil membereskan beberapa berkas yang berserakan. Tapi tiba – tiba Victoria menepis tanganku. Ia menatapku tiba – tiba.

“kenapa nona Kwon tak pernah menceritakan bahwa anda adalah istri Jong Woon?.” Tanyanya tiba – tiba menatapku tajam.

“maksud anda?.”

“kau tak usah berpura – pura nona Kwon. Kita memang profesinalisme dalam bekerja. Tapi kau jahat padaku, kau merebut Jong Woon dariku!!.” Tekannya didepan mukaku.

“Jong Woon dulu mencintaiku sebelum adanya kau. Kau merebutnya dariku!!.” Victoria menatap sinis kearahku seolah – olah ia mengancam dan menandakan bahwa ia akan mengambil Jong Woon dari sisiku. Ia berjalan cepat meninggalkanku dan menabrak bahuku secara sengaja.

Jong Woon mencintai Victoria!!. Apa itu benar?. Aku terduduk lemas dikursi kerjaku pikiranku masih tertuju pada perkataan Victoria tadi. Saat ini  pikiranku kembali berkecamuk kacau. Kubuka tas yang kugunakan dan merogoh sebuah foto. Foto ini yang kutemukan 3 bulan lalu. Kubalik pelan – pelan, tulisan ini. Tulisan Jong Woon 5 tahun lalu tentang perasaanya pada Victoria. Aku merebutnya??. Aku merebut Jong Woon dari Victoria?. Mataku memanas, dadaku sesak tanpa sengaja air mataku turun dengan sendirinya. Aku hanya bisa menelungkupkan kepalaku menahan tangis.

 

*****

 

Seminggu kemudian…….

 

JONG WOON POV

 

Entah mengapa selama beberapa hari ini kulihat sikap Yuri sedikit aneh. Ia sering melamun sendiri dan tak berkonsentrasi dengan apa yang dikerjakannya. Anehnya setiap kali aku menanyakan apa ia selalu menjawabnya beda. Sejenak aku beristirahat dan memejamkan mata untuk melepas lelah dan mencoba berpikir apa yang terjadi terhadap Yuri sambil bersender dikursi kerjaku. Tiba – tiba ponselku bergetar menandakan ada pesan masuk.

 

From: 064xxxx

 

Jong Woon.. kau lupa padaku. Ini aku Lee Sungmin. Lama tak bertemu.

Sekarang aku sudah berada di Korea.

Kau tak mau kita bertemu?.

Kumohon datang ke acara pembukaan restoranku ya Hyung!!

 

Lee Sungmin. Dia sudah kembali ke Korea. Gumamku pelan.

 

To: 064xxxx

 

Baiklah. Kapan rencananya?.

 

From: 064xxxx

 

Minggu depan. Oh ya Hyung semua teman semasa kuliah di Jepang akan hadir.

Termasuk Victoria. Hehe…

kutunggu janjimu Hyung.

 

Aisshh..kenapa masih mengungkit nama Victoria lagi. Asal kau tahu Lee Sungmin Victoria kini sudah berbahagia dengan seseorang dan aku pun telah merelakannya. Tapi tak ada satupun yang tahu kalau aku dan Victoria tak pernah menjalin hubungan tak lebih dari seorang sahabat. Yang mereka tahu adalah kami berdua itu dekat sehingga mereka sering menganggap sebagai sepasang kekasih.

 

*****

 

Aku berjalan kembali keluar dari ruanganku dan kembali melanjutkan pekerjaanku untuk memeriksa beberapa pasien lagi. Tapi tiba – tiba pandanganku tertuju pada beberapa orang yang tengah  mengikuti seorang yeoja yang terbaring dan dibawa oleh petugas rumah sakit keruangan gawat darurat.

“appa!!.” Pekikku terkaget karena appa Yuri terlihat cemas saat mengikuti petugas rumah sakit itu. Aku segera berlari menghampirinya.

“Jong Woon –ah…Yuri..Yuri..” ucapnya menggantung.

“ada apa appa?. Ada apa dengan Yuri?.” Perasaanku menjadi tak karuan. Apa yang terjadi pada Yuri?.

“Yuri terjatuh dari tangga dan kepalanya terluka.”

“mwo??!!!.” Ucapku terkaget dan langsung menuju ruang gawat darurat dan memastikan sendiri keadaanya.

Aku segera masuk kedalam ruang gawat darurat itu dan kutemui Yuri tengah terbaring serta seorang dokter dan beberapa perawat tengah menanganinya. Tapi aku segera mendekat dan ikut serta menangainya sendiri.

 

Beberapa jam kemudian….

 

Yuri kini tengah dipindahkan keruang rawat. Itu semua atas permintaanku terhadap dokter yang menanganinya tadi. Tuhan, kenapa Yuri bisa seperti ini. Apa yang sesungguhnya terjadi?. Aku segera mendekati appa Yuri dan mulai menayakan apa yang terjadi terhadap Yuri.

“appa keadaan Yuri sudah membaik, tapi sebenarnya apa yang terjadi?.”

“molla, appa juga tak tahu. Tiba – tiba saja Yuri sudah tergeletak ditangga belakang hotel dan kepalanya sudah terluka.” Jelas tuan Kwon dengan raut muka sedih.

“baiklah appa. Lebih baik appa pulang ini sudah malam biar Yuri aku saja yang menjaganya. Dan aku mohon appa, selama dirumah sakit aku tolong titip Jae Woon dan Nam Young serta jangan ajak mereka kemari sebelum Yuri sadar.” Titahku.

 

*****

 

Apa yang sebenarnya terjadi padamu chagiya?. Kenapa kau bisa seperti ini. Aku mengelus kepalanya pelan dan memegang jemari tangannya erat. Kumohon segera sadarlah aku disini untukmu. Gumamku pelan. Dan secara tak sengaja tertidur masih dengan menggenggam tangannya erat.

 

Pagi harinya…..

 

Aku mengerjap – ngerjapkan mataku pelan karena seseorang telah membangunkanku dengan belaian tangan dipipiku. Seketika itu aku terkejut mendapati Yuri tengah tersenyum memandangku.

“Yuri-ya.”

“selamat pagi oppa.” Ucap Sambil tersenyum. Rasa kantukku pun hilang begitu saja karena mendapati Yuri sudah tersadar.

“kau sudah sadar??.” Ucapku membelalakkan mata.

“apa yang terjadi padaku oppa? Kenapa aku bisa berada disini?.” Tanyanya seraya duduk membenarkan posisinya.

“kau kemarin jatuh dan mengalami kecelakaan dikantor. Kenapa bisa seperti itu?.”

“seingatku kemarin aku terjatuh dari tangga dan terguling hingga kebawah.” Ucapnya sambil memegang kepalanya seolah – olah mengingat – ingat kejadian kemarin.

“masih sakit?.” Tanyaku mencoba memegang kepalanya yang dibalut perban.

“sedikit. Oppa bolehkah aku meminta sesuatu?.” Ucapnya pelan.

“ne.”

“aku ingin makan oppa.”

“ya sudah, kau tunggu disini. Aku keluar sebentar.”

 

20 menit kemudian….

 

“astaga!!!. Yuri-ya” Pekikku. Kudapati Yuri tengah duduk tergeletak dilantai sambil memegangi kepalanya. Dia merasa kesakitan hebat pada kepalanya sehingga terduduk lemas dilantai. Aku memapahnya berdiri dan membaringkannya diranjang serta memeriksanya sebentar. Keringat dingin keluar dari tubuhnya dan napasnya tersengal,  apa yang terjadi padanya.

“gelang itu..hosh..hoshh..gelang itu…” Napasnya menjadi tak beraturan.

“waeyo yuri-ya?.” Tanyaku panik. Astaga apa yang terjadi padanya?.

“aarrgghhh..” Yuri merintih kesakitan dibagian kepalanya dan seketika itu pingsan.

 

*****

 

AUTHOR POV

 

Sudah hampir setengah jam lebih Yuri tak sadarkan diri dari pingsannya. Jong Woon pun menjadi semakin panik dengan keadaan Yuri, beruntung kemudian dokter yang menangani Yuri segera datang dan cepat memeriksanya. Perlahan – lahan ia mulai membuka matanya pelan dan tersadar kembali.

“eeuhmm..” Yuri mengerang pelan dan membuka matanya secara utuh.

“Yuri-ya. Kau sudah sadar chagi.” Ucap Jong Woon  memastikannya.

“apa yang terjadi padaku oppa?.” Ia mencoba untuk duduk sambil memegang kepalanya yang masih merasakan pusing.

“kau tadi pingsan karena merasakan sakit dikepalamu.” Jelas Jong Woon padanya yang membantu Yuri duduk.

“sebenarnya apa yang terjadi padanya Lee uisa?.” Tanya Jong Woon.

“nona Kwon. Sebelumnya saya minta maaf. Apakah saya boleh bertanya sesuatu pada anda?. Apa anda pernah mengalami kecelakaan hebat sehingga menimbulkan benturan keras dikepala anda?. Dan apakah kecelakaan itu pernah membuat anda koma untuk beberapa saat.” Tanya dokter yang menanganinya.

Yuri memejamkan matanya sejenak dan menutup mukanya dengan tangan untuk mencoba mengingat kejadian yang pernah terjadi padanya. Pikirannya mencoba mengingat mengapa ia bisa menjadi seperti ini. Kemudian yang terpusat diingatannya hanya sebuah gelang berwarna biru itu.

“15 tahun lalu…15 tahun lalu..yah, aku pernah mengalami kecelakaan tragis saat di perbatasan Daegu – Seoul. Yang kuingat aku berada dalam sebuah truk dan truk itu terbalik. Orang yang menemukan dirumah sakit itu bilang jika aku mengalami koma selama 3 minggu dan yeoja itu…yeoja itu..” ucap Yuri terputus ketika merasakan sakit luar biasa di kepalanya lagi.

“yeoja itu…yeoja bergelang biru itu bilang akan pergi sebentar meninggalkanku didalam sebuah truk berisi kumpulan boneka yang akan dibawa ke Seoul untuk membelikanku susu. Lalu tiba – tiba truk itu melaju kencang serta terguling begitu saja. Dan…dan….aarrggh…” kembali Yuri merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya.

“nona Kwon. Jangan mengingat memori yang telah lama menghilang secara tiba – tiba. Saraf otak kanan (#bener g ya author lupa) bagian mengingat memori anda terbentur kembali dan itu membuat anda mengingat kejadian yang ada dimemori ingatan yang telah lama menghilang kembali lagi. Anda harus pelan – pelan mengingatnya jangan seperti ini. Konsekuensinya ingatan akan terganggu dan menyebabkan memori ingatan anda akan menghilang.” Papar dokter itu dan berusaha menenangkan Yuri.

“baiklah, saya permisi dulu. Ingat nona Kwon jangan memaksakan ingatan yang telah lama menghilang. ” Ucapnya  berjalan keluar seraya Jong Woon membungkukkan badan.

 

*****

 

“Yuri-ya. Uljima…jangan menangis lagi.” Ucap Jong Woon menenangkan Yuri serta memeluknya. Yuri masih terisak entah apa yang kini ada dipikirannya. Tiba – tiba ia bisa mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami kecelakaan 15 tahun lalu. Tapi orang tua angkatku bilang jika dirinya diadopsi dari sebuah panti asuhan. Kenapa semuanya terasa aneh?. Sebenarnya apa yang terjadi padaku Tuhan.

“oppa, mianhae aku tak bisa menceritakan masa laluku padamu.” Sesalnya terisak pelan.

“gwenchana. Sekarang yang terpenting bagiku adalah kesembuhanmu. Aku tak peduli dengan masa lalumu sekarang kita melangkah kedepan bukan untuk berjalan ke belakang. Sekarang jangan menangis lagi dan tersenyumlah. Aku takut wajah cantikmu hilang.” Cengirnya tanpa  dosa mencoba menghibur Yuri.

“kalau aku tak cantik kau tak mungkin mencintaiku.” ledek Yuri yang kemudian bisa tersenyum sambil memukul pelan lengan bahu Jong Woon.

Perlahan – lahan Jong Woon menatap Yuri. Mata mereka saling berkomunikasi melambangkan perasaan mereka masing – masing. Jong Woon mendekatkan wajahnya pada Yuri dan otomatis Yuri pun memejamkan matanya. Pelan tapi pasti Jong Woon mendaratkan  bibirnya di bibir Yuri. Sedetik kemudian Jong Woon menumpukkan salah satu tangannya ditengkuk Yuri agar berusaha memperdalam ciumannya. Mereka berdua saling melumat bibir satu sama lain dan meresapi serta merasakanya.

“you must promise. Please don’t cry.. i want to  keep your smile.” Ucap Jong Woon seraya melepas ciumannya.

“ Yeah, I’m promise.” Yuri memeluknya erat. Baginya Jong Woon adalah anugerah terindah yang diperuntukkan untuknya. Dan kembali mendaratkan ciuman dibibir Jong Woon.

 

*****

 

Yoona terduduk lesu didepan meja riasnya pandangannya nanar tak bisa memikirkan apalagi. Keputusannya untuk bercerai dari namja yang bernama Choi Siwon itu 3 bulan lalu saat ia divonis dokter hamil mungkin tepat. Ia tak mau memberitahukan kehamilannya pada Siwon yang memasuki bulan kelima itu karena ia tahu Siwon pasti tak akan pernah mencintai anak yang kini dikandungnya.

“Daegu…”desis Yoona pelan. Kota tempat asal – usulnya. Seorang anak panti asuhan yang beruntung mempunyai orang tua angkat yang dapat merawat dirinya hingga ia menjadi designer sukses. Tapi sekarang Yoona kembali menjadi yatim piatu karena 3 bulan lalu orang tuanya mengalami kecelakaan pesawat terbang saat menuju Turki. Pesawat yang ditumpangi orang tuanya lepas kontrol dan menyebabkan semua penumpang dan awak pesawat meninggal.( mian author jarang ikutin berita, so ngawur total ini). Menangis, ya menangis karena hanya inilah yang bisa ia lakukan untuk mengenangnya. Tapi tak berhenti itu semua, ia harus kuat membesarkan anak ini sendiri yang bahkan ayahnya pun tak pernah mengakuinya dan mungkin tak pernah menganggapnya ada.

“mianhae chagi. Umma tak memberi tahu appamu, mungkin ini yang terbaik. Appamu tak pernah mencintai umma dan mungkin tak akan pernah mengakui kehadiranmu.” Isak Yoona yang menangis mengelus perutnya yang mulai membesar.

Kembali ia menatap cermin dengan tatapan kosong. Perlahan – lahan dibukanya laci meja riasnya dan diambilnya sebuah foto yang telah lama menguning itu memudarkan warna aslinya. Foto dirinya dan teman-nya selama dipanti asuhan tengah mengulum senyum bahagia.

“Yura Harukaze ini aku Yoona. Kapan kita akan bertemu kembali. Kutepati janjiku sekarang, aku sudah berada di Daegu. Apa kau masih ingat dengan janjimu itu?.” Yoona bergumam pelan setidaknya anaknya kini memiliki seorang umma. Ne, umma..hanya umma walaupun tanpa appa. Tapi ia lebih beruntung daripada dirinya yang tak tahu siapa orang tua kandungnya.

“asal kau tahu Siwon aku bukan lelah mencintaimu tapi aku ingin kau bahagia dengan hidupmu, aku tahu jika aku hanya penghambat kebahagianmu. Maka aku lebih baik mundur dari hidupmu dan mencoba melupakanmu.” Yoona segera menyeka air matanya yang keluar. Dia harus kuat untuk bertahan meski hidup tanpa Siwon disisinya.

 

*****

 

 

YURI POV

 

Sudah tiga hari ini aku dirumah sakit keadaanku sudah mulai stabil, kepalaku sudah tak terasa sakit dan sore ini aku sudah diizinkan untuk pulang. Tapi aku sengaja tak memberitahu Jong Woon tentang keadaanku yang sudah diperbolehkan pulang, aku ingin memberinya sebuah kejutan yang menggembirakan ini. Jam menunjukkan pukul dua sore kurasa dia tidak ada jadwal hari ini. Ku langkahkan kakiku menuju ruangan Jong Woon, mungkin hanya sekedar untuk menemaninya ketika ia senggang karena tadi pagi Jong Woon bilang sedikit banyak pasien hari ini.

Kulihat ruangan Jong Woon yang tampak sedikit terbuka. Oh~mungkin ia baru saja selesai memeriksa pasiennya, desahku pelan. Tapi kenapa sangat aneh ketika aku mendengar ia tengah berbicara ringan dengan seseorang. Kuberanikan diri melihatnya sebentar dan tanpa kuduga…dia lagi. Victoria Song!!. Mataku terbelalak sempurna ketika kudapati Jong Woon tengah tertawa dengannya. Mereka begitu akrab. Dapat kudengar dengan jelas pembicaraan mereka berdua.

“bagaimana rasanya?.” Tanya Victoria dengan nada tertawa.

“apanya?.” Ucap Jong Woon yang masih berkonsentrasi dengan kotak makanannya.

“aissshhh…Kim Jong Woon, baiklah kembalikan kotak bekal serta makan siangmu itu.”

“mwo?. Shirreo…ne,, ne,, ini memang enak. Kau tahu sekali apa yang kusuka Victoria. Kalau bisa bawakan aku ini setiap hari!!.” perintah Jong Woon tertawa pelan.

“tapi kau harus membayarnya Kim Jong Woon.” Rengek Victoria.

Sebegitu bahagiakah dirimu oppa kembali bertemu dengan Victoria. Ya Tuhan kenapa perasaanku menjadi kacau begini. Apakah kau akan merebut Jong Woon dari sisiku Victoria song?. Dan kau oppa apa kau akan kembali padanya sama seperti yang pernah kau tuliskan jika kau akan menyimpan perasaan itu selamanya.

Kurasakan ada suatu cairan bening yang keluar dari mataku. Kenapa perasaanku sakit melihat semua ini. Apa sesungguhnya yang terjadi padaku?. Kenapa aku menangis ketika melihat  kedekatan  mereka berdua?. Aku menutup pelan pintu ruangan Jong Woon yang sedikit terbuka tadi, aku tak ingin menggangunya. Belum sempat aku menutup pintunya sebuah suara mengagetkanku.

“nona Kwon?!!. Kenapa anda bisa berada disini?. Bukankah anda seharusnya diruangan anda sampai sore nanti sebelum diperbolehkan untuk pulang?. Mari kuantar kekamar anda?.” Tawar suster tersebut. Aku tersentak kaget karena tiba – tiba suster itu berbicara sedikit keras sehingga mungkin Jong Woon dapat mendengarnya.

Aku tak mau jika Jong Woon mengetahuiku bahwa aku sedang melihatnya bersama dengan Victoria lebih baik aku pergi, aku tak ingin mengganggunya. Tapi tiba – tiba saja pintu terbuka dan sontak aku pun menoleh kedalam mendapati keduanya tengah melihatku.

“Yuri –ya…”

“jeongsohamnida, aku menggangu acara kalian berdua.” Aku pun segera membungkukan badan dan segera meninggalkan mereka berdua tanpa tahu bahwa kini aku tengah menangis.

 

*****

 

JONG WOON POV

 

“nona Kwon?!!. Kenapa anda bisa berada disini?. Bukankah anda seharusnya diruangan anda sampai sore nanti sebelum diperbolehkan untuk pulang?. Mari ku antar kekamar anda?.”

Suara suster yang sedikit agak keras mengganguku ketika berasa diruangan. Tunggu dulu, apa? Nona Kwon??. Aku melihatnya saat pintu tiba – tiba saja terbuka dan aku mendapati Yuri tengah berada didepanku memperhatikan aku dengan Victoria.

“jeongsohamnida , aku menggangu acara kalian berdua.” Ucap Yuri membungkuk lalu pergi.

“Yuri-ya!!!…” pekikku terkaget ketika mendapati dirinya tengah berdiri didepan pintu yang tanpa sengaja melihatku dengan Victoria.

Aku segera berdiri dan mengejarnya keluar tanpa mempedulikan Victoria yang berada disini. Kupercepat langkahku untuk mengejar Yuri tapi alhasil aku tak menemukannya juga. Aku mencoba mencari dikamarnya tapi nihil tak menemukannya juga.

Kau dimana Yuri??. Yuri-ya…mianhae, sebenarnya aku tak bermaksud seperti ini. Aku dan Victoria memang dekat tapi kami hanya sebatas teman. Kembali aku berlari mencari sosok Yuri yang entah pergi kemana. Sepertinya dia tidak keluar dari rumah sakit dan pastinya ia masih disekitar rumah sakit ini. Aku segera mempercepat langkahku dan mencarinya kembali dibelakang rumah sakit ini.

Pandanganku tiba – tiba saja menangkap seorang yeoja yang tengah duduk ditaman belakang rumah sakit yg sepi sambil sesekali ia menghadap ke langit. Kucoba memastikan apa benar itu Yuri. Dan ternyata itu Yuri. Aku berjalan pelan mendekatinya secara pelan – pelan dan memeluknya dari belakang. Sontak ia terkaget dan memutar kepalanya dan mendapatiku tengah memeluknya.

“mianhae..” ucapku menyesal sambil memeluknya dari belakang. Ia kembali menatap kedepan seolah – olah tak mau melihatku. Apa ia cemburu melihatku dengan Victoria. Aku tersenyum simpul mendapati Yuri bersikap seperti ini.

Cupss…aku mencium pipi kirinya singkat. Dan ia pun langsung menoleh kearahku serta menatapku heran sambil mengayun – ayunkan kakinya dibangku taman. Kemudian aku duduk disampingnya.

“Yuri –ya..apa kau cemburu?.” Tanyaku padanya.

“…” ia masih tak bergeming. Mungkin tebakanku benar ia mencemburuiku dengan Victoria. Bisa kulihat dari tatapan matanya.

“maksudmu?.” Ia kembali menoleh padaku sambil menyipitkan matanya.

“kau tahu saat aku baru saja menikah. Aku memutuskan untuk hanya mempunyai satu yeoja yang memiliki hatiku. Dan berkat yeoja itu aku merasakan apa yang disebut cinta. Aku memang tak dapat mengartikan apa itu cinta tapi aku tahu cinta itu bukan hanya tentang kata-kata indah, tapi tentang menunjukkan seseorang betapa berarti dirinya. Yeoja itu ada disetiap hariku, yeoja itu yang selalu mengertiku, dan yeoja itu adalah cinta terindahku yang tak lain adalah Kwon Yuri yang sekarang menjadi Kim Yuri.” Aku menghela napas pelan dan kembali menatapnya.

Tiba – tiba Yuri langsung melingkarkan kedua tangannya di leherku. Ia memelukku sangat erat. Yuri terisak pelan dan tangisnya pun pecah. Aku hanya bisa mengusap punggungnya pelan untuk menenangkannya.

“mianhae oppa..hikss..hikss..” ucap Yuri seraya melepas pelukannya dan menutup mulutnya.

“mianhae oppa, seharusnya aku tak menangis seperti ini. Aku tak mau menjadi wanita possesif yang mengekangmu untuk berhubungan dengan yeoja lain selain aku, aku keterlaluan oppa.. Hikss..hikss..” Aku memeluknya kembali merengkuhnya erat. Apa yang dibicarakannya?, dia cemburu??. Omona!!.

“hey, kau cemburu padaku dengan Victoria?.” Ucapku memencet hidungnya gemas. “aku dan Victoria hanya sebatas teman tak lebih.” Tuturku padanya lagi sambil tersenyum jahil menggodanya.

“…..” Yuri terdiam sesaat dan kembali menoleh padaku.

 

— chu–

 

Aku mendaratkan ciuman dibibirnya secara mendadak dan menciumnya lembut. Yuri yang terkaget seketika tak membalas ciumanku dan masih mengatupkan bibirnya namun aku tak hilang akal kugigit bibir bawahnya agar ia bisa membalasnya. Bisa kurasakan perlahan – lahan Yuri membuka mulutnya dan membalas ciumanku. Dilumatnya lembut bibirku oleh bibirnya serta dikalungkannya tangannya ditengkukku agar ia bisa lebih menikmatinya.

“oppa. Jangan pernah tinggalkan aku..” ucap Yuri melepas ciumannya dan memelukku erat.

Aku menumpukkan dagu dipuncak kepalanya dan mencium keningnya lembut. “ne, aku janji. Kau adalah satu – satunya yeoja yang memiliki hatiku utuh saat ini. Gomawo, kau sudah mencintaiku.”

“sekarang tersenyum dan kajja kita pulang kerumah. Kau tahu aku sudah merindukanmu dirumah.” Lanjutku tersenyum seraya mengerlingkan mata.

“maksudmu?..” Yuri menatapku bingung.

Dasar Yuri masih tak mengerti juga, umpatku dalam hati lalu menarik tangannya kembali menuju kamar inap.

“oppa.” Panggilnya. Aku menoleh kearahnya. Cups…mendadak ia mencium bibirku singkat dan berjalan menjauhiku.

 

*****

 

AUTHOR POV

 

Victoria memandang dari kejauhan yang tak dapat dilihat oleh Jong Woon dan Yuri. Ia menatap nanar dua orang didepannya yang saling berpagutan bibir penuh cinta. Tangannya mengepal dan meremas blazer yang digunakanya, perlahan – lahan air matanya turun dengan sendirinya. Menyesal. Tentu saja!, dulu saat Jong Woon mengatakan bahwa Jong Woon mencintainya ia tak pernah memperhatikannya. Saat dirinya kini tengah mengejar kembali Jong Woon, Jong Woon telah mencintai seseorang. Victoria terisak pelan sembari memegang dada kirinya hanya menangis sajalah yang bisa ia lakukan sekarang.

Kembali ia langkahkan kakinya setelah mengetahui Jong Woon dan Yuri pergi meninggalkan tempat ini. Ia berjalan pelan dengan tatapan kosong menuju tempat mobilnya berada. Dihidupkannya mesin mobilnya lalu diinjak pedal gas secara mendadak membuat mobil berjalan dengan sangat kencang melebihi rata – rata menuju sebuah tempat yang menurutnya dapat menenangkan hatinya.

 

Beberapa saat kemudian…

 

Ciiiiitttt…

 

Mobil direm secara mendadak disebuah tempat yang sepi dekat sungai Han. Victoria membanting stir mobilnya dan menelungkupkan kepalanya pada stir mobil itu. Pikirannya kacau ketika membayangkan Jong Woon dan Yuri. Tangisnnya pecah kembali mengingat kejadian yang baru saja disaksikan.

Victoria mengangkat kepalanya pelan setelah beberapa menit menangis dan merasakan pusing yang sangat hebat. Dirasakannya ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya.

“Darah!!.” Pekiknya histeris.

“kenapa ini bisa terjadi lagi. Kenapa penyakit sialan ini selalu menggerogoti tubuhku. Tidak!!!. Aku tak akan mati dalam keadaan seperti ini!.” Victoria berteriak dalam mobil. Ia tak menyangka bahwa tubuhnya selemah ini dan secara mendadak tak sadarkan diri.

 

*****

 

Sementara itu ditempat yang sama….

 

Siwon terduduk menatap sungai Han dimusim gugur. Dilangkahkannya pelan kakinya hanya untuk melepas rasa suntuknya berdiam diri seharian dirumah. Sesekali ia memandang langit yang cerah namun tak secerah hatinya. Pikirannya berpusat pada kejadian 3 bulan lalu saat Yoona meminta berpisah dengannya.

“kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku.” Gumamnya lirih. Siwon terduduk didepan mobilnya. Ia menekuk kedua kakinya yang bertumpu pada lututnya.

 

FLASHBACK..

 

Siwon tengah duduk dimeja makan sambil menyantap makannan yang disajikan Yoona. Entah beberapa hari ini Siwon selalu sarapan bersama dengan Yoona diruang makan. Suasana dingin dan hening selalu terjadi ketika mereka sedang bersama hanya bunyi dentingan sendok yang saling beradu dengan piring.

Yoona berdiri yang menandakan bahwa ia sudah mengakhiri kegiatan makannya lalu mencuci piringnya. Setelah itu ia kembali ke kamarnya dan mengambil suatu surat yang berada dalam sebuah map berwarna coklat dan menyodorkannya tepat dihadapan Siwon.

“Apa ini?” tanya Siwon  tidak mengerti.

“Itu surat cerai. Aku sudah mengurus semuanya, kau hanya perlu tanda tangan supaya aku dapat menyerahkan itu kembali ke pengadilan untuk diproses.”

Degh… hati Siwon tiba – tiba diselubungi perasaan tak enak. Entah apa yang terjadi padanya ketika ia melihat sebuah map berisikan surat cerai. “jadi, kau menginginkanya?.” Siwon mendadak tak dapat menjelaskan perasaanya terhadap Yoona. Kenapa ia tiba – tiba tak rela ketika Yoona mengajaknya berpisah, bukankah ini yang ia inginkan dari sejak pertama kali menikah dengannya.

“ne, bukankah itu maumu. Akan ku turuti keinginanmu untuk berpisah denganku. Jadi kau sudah tak terikat denganku.” Tukas Yoona ketus sambil menyerahkan pena untuk menandatanganinya.

“baiklah, akan kutandatangni.” Kata Siwon datar.

“minggu depan kita akan berjumpa dipengadilan dan jika tak ada sesuatu 2 kali sidang cukup untuk membuat kita berpisah. Dan satu lagi untuk orang tuamu dan orang tuaku aku akan bicara pada mereka bahwa kita berpisah karena tidak saling mencintai dan kita sudah memikirkanya matang – matang. Aku yakin mereka pasti mengeti keadaan kita.” Tegas Yoona sembari mengambil map yang sudah ditandatangani Siwon.

Yoona kembali menuju kamar dan mengambil tas kerjanya lalu berjalan melewati Siwon. “ oh ya. Aku lupa, aku tak akan mengambil sepeser pun dari hartamu. Tenang saja aku tak akan menuntutmu untuk membagi hartamu denganku, karena aku bukan yeoja gila harta..” Ucapnya berlalu meninggalkan Siwon yang masih terdiam ditempatnya.

 

FLASHBACK END…

 

Entah kenapa Siwon merasa ia sangat kehilangan Yoona. Padahal selama ini ia tak pernah menghargai ia sebagai istrinya, menganggapnya saja tidak.

“kenapa saat ia pergi aku merasa ada yang hilang?.” Ucapnya lirih disela – sela angin yang mengalir.

Siwon kembali berjalan, menepis semua pikiran yang ada dibenaknya tentang Yoona. Bukankah seharusnya ia bahagia berpisah dengan Yoona. Ini yang ia inginkan, terbebas dari wanita yang telah merebut kebahagiaanya. Sekarang waktunya untuk kembali pada Yuri dan mendapatkan cinta Yuri kembali. Gumamnya lirih dalam hati.

 

*****

 

YURI POV

 

Jong Woon menggandeng tanganku erat berjalan memasuki apartemen. Apa aku masih ragu jika Jong Woon akan kembali pada Victoria. Tidak, Jong Woon mencintaiku begitupun aku itu hanya perasaanku saja yang takut kehilangannya kami berdua sudah menikah bahkan kami telah dikaruniani dua orang malaikat kecil sebagai pengikat diantara kami.

Ckreek…dibukanya pintu apartemen oleh Jong Woon dan segera menarikku masuk kedalamnya kemudian mendudukanku disofa. Aku masih mengingat kejadian 3 hari yang lalu mengapa aku bisa terjatuh dari tangga saat itu aku hendak turun untuk mengambil barang yang ada digudang. Dan samar – samar kulihat saat aku sudah berada dibawah tangga ada seorang yeoja yang mengenakan gelang bewarna biru itu, anehnya lagi gelang berwarna biru itu mirip dengan yang digunakan oleh dia. Orang yang 15 tahun lalu meninggalkanku didalam sebuah truk. Apa ini ada hubungannya dengan masa laluku saat kecil.

“Yuri –ya..” panggilnya membangunkan lamunanku.

“ne….waeyo oppa?.”  Ucapku meoleh padanya.

“ bogosihipeo chagiya.” Ucapnya tiba – tiba memelukku erat.

“op..pa..lepas. aku tak bisa bernapas karena aku lapar.” Aku mendorong tubuhnya pelan agar ia melepas pelukannya.

“biarkan aku kedapur, aku mau makan. Kau tahu makanan rumah sakit membuatku gila meskipun aku pernah bekerja sebagai suster tapi aku benci makanan pasien yang ada dirumah sakit.” Tegasku menggembungkan pipi lalu beranjak meninggalkannya untuk mencari makan. Aku tak ingin Jong Woon mengetahui masalahku dan membuatnya khawatir.

“biarkan aku yang membuatnya kau duduk saja melihatnya!!.” Perintah Jong Woon mendudukkanku di kursi meja makan dan mencium keningku lembut.

Kulihat Jong Woon masih berkonsentrasi dengan masakannya. Aku tak salah jika mencintainya. Jong Woon yang sealu hadir disampingku. Jong Woon yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Aku mencintai Jong Woon, hanya Jong Woon yang aku cintai. Ku peluk erat ia dari belakang melingkarkan tanganku diperutnya serta mendekatkan tubuhku ke tubuhnya.

“saranghae Kim Jong Woon.” Ucapku mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. Ia memutar badannya menghadapku serta mengangkat daguku. Cupss…Sebuah ciuman ringan tanpa nafsu mendarat dibibirku.

“nado saranghae nan anae.” Ucap Jong Woon pelan.

 

*****

 

Beberapa saat setelah makan….

 

Aku kembali mendudukkan diruku disofa setelah makan. Kunyalakan televisi untuk menghilangkan rasa bosanku sambil melipat kaki diatas sofa setelah mengganti pakaianku dengan kaus longgar dan hot pants pandek. Beberapa kali aku mengganti chanel yang menurutku acara yang disajikannya sangat membosankan lalu meletakkannya secara kasar dimeja.

Tiba – tiba Jong Woon duduk menghampiriku dan mengambil remote tersebut dan mematikan TV mendadak. Lalu diambilnya kotak playstation beserta DVD game dan stiknya yang berada dikamar setelah itu menghidupkan serta memainkannya sendiri.

“Yak!!. Oppa kau mau membunuhku karena bosan dirumah tanpa Jae Woon dan Nam Young!! Sekarang kau mengambil remote TV nya??. Kembalikan oppa!!. ” Teriakku sedikit meninggi. Ia masih tak bergeming menanggapi perkataanku. Aku merebut mencoba berdiri tapi ia malah meninggikan remote-nya tanpa berdiri.

“ambil jika kau bisa!!!. Hwee!!…” ia memeletkan lidah mengejekku seolah – olah tak bisa mengambilnya. Aku mengambil meraih sebisa mungkin remote TV yang ada ditangan Jong Woon. Jong Woon mencoba berdiri tapi aku menarik kakinya yang menyebabkan ia terjatuh.

Brukk…

Tiba – tiba Jong Woon bisa terjatuh diatasku dengan posisi menindihku diatas karpet. Ia menatapku. Kini aku dan Jong Woon Saling menatap wajah satu sama lain. Aku tak dapat menghindari tatapan matanya yang seperti itu, seakan aku terhipnotis oleh tatapannya. “aku merindukanmu chagiya.” Ucapnya tiba – tiba dan aku pun langsung mengangguk pelan untuk menyetujuinya.

Entah siapa yang memulai lebih dahulu, kini bibir kami menyatu. Dilumatnya bibirku lembut dan aku hanya bisa membalasnya. Bibir kami saling berbalas ciuman hingga waktu yang cukup lama. Lumatan itu berubah semakin menggairahkan. Jong Woon mengecup bibirku bergantian. Hingga aku tanpa sadar membuka mulutku agar Jong Woon mendapat akses bebas menjelajahi mulutku.

“euhhmm..” tiba-tiba aku  mendesah nikmat. Tidak tahan dengan nafsu yang kini sudah menggerogoti tubuh dan akal sehatku. Tanganku menekan kepala Jong Woon agar menciumku semakin dalam.

Jong Woon membelai tubuhku menggunakan jari-jarinya lembut. Dimulai dari kepala lalu turun ke hidung, bibir, dagu dan leher. Hingga tangan Jong Woon mencapai puncak dari salah satu titik tersensitifku.

Oppa akkkhh…” aku memekik tertahan karena tiba – tiba ciumannya turun ke leherku tidak hanya sekedar mencium leherku ia mulai menghisapnya yang menyebabkanku kegelian sambil tangannya meremas pelan dadaku.

Desahanku semakin menjadi – jadi saat ia menekan dadaku dengan dadanya dan meraba – raba perut kemudian punggungku dan menemukan sesuatu yang diinginkannya. Dengan mulut yang masih terfokus pada leherku, perlahan tangan Jong Woon berusaha menarik kaus putih itu hingga ke atas sehingga terpampanglah dadaku yang masih berbalut dengan underware bra.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Seakan kau ingin memakanku saat ini juga,” seakan jengah di tatap seperti itu, aku pun bertanya demikian. Senyum penuh arti tercipta di wajah tampan Jong Woon.

“Memang aku ingin memakanmu chagiya,” setelah mengucapkan itu, lagi bibirnya menyambar  bibirku kembali. Ctakk…apa yang dia inginkan telah ditemukan dan kini ia pun sukses menjelajahinya (?). Namun…

 

Ting..tong

 

“op..pa..aakhh. Ada orang di…lu..ar aakhh.” Jong Woon masih tak bersuara dan masih menjelajahi apa yang menjadi keinginannya dan semakin membuatku mendesah nikmat.

“biarkan saja. Paling Cuma orang iseng.” Jawabnya polos sambil tersenyum menyeringai dan kembali melanjutkan kegiatannya membuat kissmark didadaku.

 

I can tell you’re looking at me, I know what you see. Any closer and you’ll feel the heat (GG). You don’t have to pretend that you didn’t notice me. Every look will make it hard to breathe (T.R.X).B-Bring the boys out (Yeah, You know). B-Bring the boys out (We bring the boys out! We bring the boys out).

 

“oooppp…pa..akkh. seben..tar..aaakhh.. ponselku berbunyi. Aku mendorong tubuhnya dan mengambil ponselku dan mengatur napasku.

“Yeoboseo. . Umma!!. . aniyo, aku tak apa – apa. .Ne, aku ada dirumah bersama dengan Jong Woon oppa.” Klik..ku memutus sambungan telepon begitu saja.

“oppa. Cepat rapikan semuanya. Umma dan eommonim sedang ada didepan!.” Perintahku pada Jong Woon.

“Yuri –ya..” panggilnya manja.

“nanti saja kita lanjutkan.” Aku segera memakai dan merapikan pakaianku kembali serta menata rambutku yang sedikit berantakan.

 

*****

 

JONG WOON POV

 

Ting..tong

Aishh…siapa lagi yang datang di jam – jam seperti ini. Menggangguku saja. Tidak tahu apa kalau kami sedang melakukan pemanasan(?).

“op..pa..aakhh. Ada orang di…lu..ar aakhh.” Aku  masih tak bersuara dan tetap  menjelajahi apa yang menjadi keinginanku.

“biarkan saja. Paling Cuma orang iseng.” Jawabku polos sambil tersenyum menyeringai dan kembali melanjutkan kegiatanku menghisap , melumat serta membuat kissmark didadanya.

 

I can tell you’re looking at me, I know what you see. Any closer and you’ll feel the heat (GG). You don’t have to pretend that you didn’t notice me. Every look will make it hard to breathe (T.R.X).B-Bring the boys out (Yeah, You know). B-Bring the boys out (We bring the boys out! We bring the boys out).

 

Tadi bel pintu sekarang bunyi ponsel Yuri yang berdering hebat.  Apa sih yang diinginkan kedua benda itu sebenarnya?. Gerutuku. “oooppp…pa..akkh. seben..tar..aaakhh.. ponselku berbunyi. Yuri mendorongku pelan dan mengambil ponselnya yang diatas meja.

“Yeoboseo. . Umma!!. . aniyo, aku tak apa – apa. .Ne, aku ada dirumah bersama dengan Jong Woon oppa.” Klik..Yuri memutus sambungan telepon begitu saja.

“oppa. Cepat rapikan semuanya. Umma dan eommonim sedang ada didepan!.” Perintahnya padaku. Mwo?. Apa umma tak tahu jika anaknya sedang menikmati kebersamaan tanpa ada yang ingin mengganggu.

“Yuri –ya..” rengekku manja berharap melanjutkan kegiatan yang tadi.

“nanti saja kita lanjutkan.” Ia segera memakai dan merapikan pakaiannya kembali serta menata rambutnya yang sedikit berantakan. Aku hanya bisa pasarah mengikutinya.

 

Ckreekkk…,

 

“hey kalian berdua!. Apa yang kalian lakukan hingga lama sekali membukakan pintu. Kau tahu Jong Woon –ah, 20 menit sudah umma dan nyonya Kwon menunggu kalian untuk kau bukakan pintu. Dan kau Yuri –ya kenapa kau ikut – ikutan lama sekali membukakan pintu.” Ucap umma mendelik kesal menatapku dan Yuri.

“Yuri-ya. Kenapa pakaianmu berantakan seperti ini dan apa itu dilehermu?.” Yuri membulatkan mata atas perkataan Umma-nya dan melirikku tajam.

“nyonya Kim sepertinya kita salah waktu untuk datang kesini, kita pasti menggangu acara mereka berdua. Padahal kami kesini untuk mengantarkan Jae Woon dan Nam Young tapi mereka malah asyik membuatkan cucu lagi untuk kita.” Goda nyonya Kwon pada Yuri.

“um..maa…Ap..ppaaa.” Suara Jae Woon dan Nam Young bebarengan menyelamatkan muka kami berdua dihadapan para umma. Mereka berlari lalu memeluk kaki jenjang Yuri. Yuri pun mensejajarkan dirinya dengan mereka berdua dan mengusap kepala mereka pelan.

“shii..po umma.” Ucap Nam Young memeluk Yuri dan mencium bibir Yuri.

“ne, nado bogoshipeo chagi.”

“ap..pa…” koor merek berdua lalu memelukku. “miss yo..u.. appa.”

“miss you too babe.”

“umma…eommonim kami masuk dulu. Gomawo kalian berdua sudah menjaga mereka selama Yuri dirumah sakit. Lebih baik umma dan eommonim pergi shopping. Minggu ini mall banyak diskon hingga 90 %.” Dustaku yang langsung dipercayai oleh mereka berdua.

“nyonya Kwon!!. Lebih baik kita serbu mall hari ini sebelum barangnya habis!” perintah umma yang langsung menarik tangan nyonya Kwon menjauhi kami.

 

*****

 

AUTHOR POV

 

Every single day I try jeongmal geuoi da wassseo. We get closer to a good time siryeondeure say goodbye.

 

Dering ponsel Jong Woon berbunyi.  “chagiya, bisa kau tolong angkat telpon di ponselku. Jika dari rumah sakit, bilang aku sedang tak enak badan.” Teriak Jong Woon dari kamar mandi .Yuri kemudian beranjak mengambil ponsel milik Jong Woon yang berada diatas nakas.

“Jong Woon –ah. Bogoshipeo. Aku ingin kita bertemu dan makan malam bersama. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Jika kau tidak bisa, aku mohon akhir pekan kita jalan berdua ke Lotte World. aku ingin mengenang masa – masa kita saat kita masih bersama, aku merindukannya Jong Woon –ah.”

Hati Yuri mencelos seketika mendengar Victoria berkata seperti itu. Sakit, tentu saja sakit. Yuri takut jika Jong Woon akan meninggalkannya. Setitik air matanya turun seketika itu juga mengalir dipipinya. Perasaannya kalut menyelimutinya kembali.

“Yeoboseo.. Jong Woon –ah…hello.. where are you?..Can you hear me please!!.” Victoria memperkeras suaranya dari balik telepon untuk mendapat respon dari Jong Woon.”  

“mian..hae Victoria –sshi. Aku bu..kan Jong Woon.” Yuri terbata – bata mengucapkannya.

Victoria terkaget dan langsung menutup teleponnya secara mendadak. Kini Yuri termangu untuk beberapa detik mencerna kejadian barusan. Kembali air matanya turun mengalir dipipi. Ia menangis tanpa suara.

“tolong jangan pernah tinggalkan aku oppa.” Isak Yuri lirih.

 

—TBC—

9 thoughts on “Stay With One Love (Part 4 A)

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s