Lovesquare Part 1

LOVESQUARE

Cast:
 Seohyun
 Sooyoung
 Kyuhyun
 Ryeowook

Other Cast:
 Find it yourselves!

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

~AUTHOR’S POV~

Taman terlihat sangat indah hari ini, pikir seorang yeoja sambil berjalan melewati gerbang taman kota.

Yeoja itu berjalan melalui jalan setapak, mengamati pemandangan di sekelilingnya. Beberapa anak-anak berlarian ke sana kemari, dengan orangtua mereka yang mengejar mereka. Orang-orang lansia yang duduk di kursi roda dan didorong oleh cucu mereka.

Angin berembus dan membuat yeoja itu sedikit kedinginan. Udara dingin musim semi memang tidak terlalu nyaman baginya.

Seo Joo Hyun—atau lebih dikenal sebagai Seohyun—berjalan pelan-pelan, kedua lengannya memeluk buku novel yang baru saja dibelinya. Buku novel itu baru setengah selesai dibaca, dan Seohyun ingin melanjutkan membacanya di taman.

Semenjak ibunya meninggal karena kecelakaan lalu lintas, Seohyun selalu mengenang ibunya dengan pergi ke taman dan membaca buku. Mereka berdua dulu sering menghabiskan akhir pekan dengan berbelanja di toko buku dan pergi ke taman untuk membacanya. Kadang mereka juga membeli makanan ringan untuk menahan rasa lapar.

Tapi ibunya sudah tiada, dan kini Seohyun merasa sangat kesepian di taman yang besar itu. Dia menjadi tidak mudah bersosialisasi, karena tidak ada ibunya yang selalu menyemangatinya dan membantunya melewati hari-hari.

Seohyun tersenyum senang begitu melihat bangku yang biasa didudukinya dari kejauhan. Bangku itu sudah tua dan tidak terlalu panjang, dan menghadap ke arah danau lumayan besar di tengah-tengah taman. Beberapa orang bilang bahwa pepohonan di sekitar danau itu keramat, sehingga jarang danau itu dikunjungi. Tapi Seohyun tidak peduli. Menurutnya, suasana danau itu terasa sangat damai. Pepohonan itu tidak mungkin keramat—mana ada hal seperti hantu?

Seohyun berjalan ke arah bangku itu, masih memeluk bukunya. Dia selalu bersemangat bila ingin membaca buku di sini. Dia baru akan pulang ketika sudah senja, bahkan lebih, karena dia sering lupa waktu saking asyiknya membaca.

Seohyun berjalan pelan-pelan ke arah bangku itu. Rerumputan di tanah masih tinggi, jarang dipotong oleh para petugas taman kota. Mungkin karena hanya aku pengunjung danau ini, pikir Seohyun. Kadang, bila tidak ada orang yang melihat, Seohyun membawa alat-alat berkebunnya dan merapikan rerumputan di sekitar danau. Tapi dia tidak pernah mengatakannya kepada petugas taman kota, yang juga tidak bertanya padanya.

Senyum masih terlihat di wajahnya, dan Seohyun tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dia berlari ke arah bangku saking bersemangatnya. Tahu-tahu, tanah terasa ringan. Tidak ada rerumputan yang diinjak kakinya. Hanya permukaan halus dan basah. Seohyun melihat ke bawah dan dia langsung tergelincir oleh lumpur di tepi danau.

“Omo!” teriak Seohyun, membiarkan ketika kakinya terpeleset dan nyaris jatuh ke danau, tepat ketika seseorang menggenggam pergelangan tangan kanannya. Seohyun mendesah lega dan menoleh ke arah penyelamatnya.

Penyelamatnya itu seorang namja yang tampan sekali. Rambutnya ikal kecoklatan dan dia tersenyum geli melihat Seohyun, yang setengah terbaring di rerumputan. Dia menarik Seohyun berdiri. Seohyun membersihkan roknya yang terkena rumput. Seohyun mendongak lagi, dan tahu-tahu namja itu sudah berjarak kurang dari lima senti darinya!

Namja itu baru saja akan berbicara ketika Seohyun mendadak berjalan mundur. Lalu Seohyun tergelincir lagi dan kehilangan keseimbangannya. Refleks, dia meraih lengan namja penyelamatnya itu untuk bertahan di atas tanah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya dan mereka berdua tercebur ke danau.

“Astaga!” pekik Seohyun. Dia langsung merangkak ke pinggir danau (danaunya tidak begitu dalam karena hanya sebatas mata kaki) cepat-cepat. Bukunya hampir saja tercemplung ke danau! Seohyun langsung mendorongnya ke rerumputan kering, merasa lega telah menyelamatkan bukunya.

Seohyun menoleh ke belakang dan melihat namja penyelamatnya mengibas-ngibaskan air dan lumpur dari pakaiannya yang kotor. Seohyun merangkak pelan-pelan, mendekatinya. “M-M-Mianhaeyo,” katanya terbata-bata sambil menundukkan kepalanya.

Namja itu hanya tersenyum dan mereka berdua keluar dari air. “Gwenchanayo?” tanya namja itu.

Seohyun mendongak. “Ne, gwenchana. Kau sendiri?”

“Baik-baik saja, bila ikan tidak memasuki jaketku.”

Seohyun tertawa. “Tidak ada ikan di danau ini. Tidak cukup dalam.”

Namja itu mengangkat alisnya. “Benarkah? Aku merasakan sesuatu yang bergerak di punggungku.” Dia melipat (?) tangannya ke belakang dan merogoh sesuatu dari balik punggungnya. Ternyata hanya segenggam rerumputan kering yang berlapis lumpur. Seohyun tertawa lagi.

“Yah, jangan tertawa,” gerutu namja itu sambil menjatuhkan rerumputan kering.

Seohyun mengangguk, tapi masih tersenyum kecil.

Namja itu mengamati Seohyun. “Oh, bajumu basah. Kau tidak bisa membaca buku dengan keadaan seperti itu.” Dia melirik buku Seohyun yang tergeletak di atas tanah. “Aku jadi merasa bersalah. Ikut aku. Aku punya baju ganti untuk perempuan di rumahku.”

Seohyun mengangkat alis. Apakah ini semacam permainan? Bisa saja namja ini preman! Aku tidak boleh ikut dengannya! Tapi wajah namja itu tampaknya bersungguh-sungguh. Seohyun memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, sebelum akhirnya mengangguk. “Asal kau tidak melakukan apapun yang berbahaya terhadapku.”

Namja itu tertawa kecil. “Aku pria baik-baik. Kajja, ikuti aku.” Dia berjalan menjauh dari danau, dan Seohyun mengambil bukunya dan berlari-lari kecil mengikutinya.

Namja itu ternyata naik mobil. Mobilnya adalah mobil mewah—Audi Q7 berwarna keperakan (haha, sengaja mamerin pengetahuan author tentang mobil *ditonjok readers*). Namja itu membukakan pintu mobil untuk Seohyun, dan Seohyun duduk di kursi penumpang. Namja itu duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin mobil. Mobil pun mulai berjalan mulus.

“Oh, kita belum berkenalan! Cho Kyuhyun imnida,” namja itu berkata sambil setengah membungkukkan badannya ke arah Seohyun.

Seohyun tersenyum. “Seohyun imnida.”

“Berapa umurmu?”

“20 tahun.”

“Oh, umur kita sama.”

Seohyun mengamati Kyuhyun. Namja itu terlihat sangat dewasa—dan dia baru saja berusia 20 tahun? Setampan itu?

Dia buru-buru mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. “Jadi, kita mau ke mana, Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun tersenyum. “Rumahku. Aku tahu di mana kakakku menyimpan pakaiannya. Dia tidak akan keberatan bila aku memberikan sebagian untukmu.”

Seohyun terbelalak. Mwo? “Tapi… aku tidak bisa mengambil pakaian orang lain begitu saja! Sudahlah, Kyuhyun-ssi, kau bisa mengantarku ke rumahku.”

Kyuhyun menatap Seohyun. “Kau yakin kau akan berkeliaran dengan pakaian seperti itu? Apalagi seluruh badanmu basah kuyup. Aku juga harus berganti baju. Di mana rumahmu?”

“Di *****,” jawab Seohyun datar.

“Itu jauh sekali dari sini!” gerutu Kyuhyun. “Rumahku tinggal butuh waktu lima menit lagi, tenang saja.”

Seohyun masih tidak menerima keputusan Kyuhyun dan mereka pun berdebat. Tapi akhirnya Kyuhyun menang, tepat ketika mobil berhenti di sebuah rumah mewah. Mereka turun dari mobil dan Kyuhyun membawa Seohyun masuk. Seohyun terperangah begitu memasuki ruang tamu rumah Kyuhyun. Ruangan itu sangat megah, seperti istana, dengan lampu kristal tergantung di langit-langit yang tinggi dan perabotan mengilap.

“Ayo, ikut aku,” kata Kyuhyun ramah sementara dia menaiki tangga yang berputar-putar. Seohyun mengikutinya, dan mereka tiba di depan sebuah pintu berwarna putih. Kyuhyun menyuruh Seohyun menunggu di luar, lalu dia kembali lagi padanya sambil membawa setumpuk pakaian.

Kyuhyun memberikan pakaian itu pada Seohyun. “Ini pakaian kakak perempuanku, Ah Ra. Kau masuk lewat sini, ini kamar mandi.” Dia menunjuk pintu di samping pintu kamar yang baru dimasukinya.

Seohyun merengut. “Aku masih merasa tidak enak. Aku yang membuatmu tercebur.”

“Kau terpeleset tadi. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”

“Kalau aku tidak menarik tanganmu, aku bakal tercebur sendirian dan kau takkan perlu melakukan hal ini padaku!”

“Aish!” Kyuhyun hampir kehilangan kesabarannya. Dia membuka pintu kamar mandi dan mendorong bahu Seohyun agar dia memasukinya, lalu menutup pintunya rapat dan menguncinya dari luar, menimbulkan suara klik keras.
Seohyun menyadarinya dan langsung menggedor-gedor pintu. “Yah! Cho Kyuhyun-ssi! Buka pintunya!”

Kyuhyun berteriak dari luar, “Aku baru membukanya kalau kau sudah selesai berganti baju.”

Seohyun menghentakkan kakinya. Dia tidak bisa keluar tanpa mengganti bajunya! Dia menaruh pakaian kakak Kyuhyun di atas sebuah keranjang pakaian dan memilah-milahnya. Sebuah sweter abu-abu berlengan panjang dan legging hitam panjang. Bahkan ada sepatu kets putih karena flat shoes yang dipakai Seohyun basah.

Seohyun pun berganti baju. Begitu dia sudah selesai, dia mencium bau yang asing. Itu, tentu saja, adalah bau pakaian kakak Kyuhyun, tapi baunya wangi. Wangi bunga melati. Seohyun menyukainya. Dia melipat pakaiannya yang basah setelah mengibas-ngibaskannya beberapa kali, lalu mengetuk pintu kamar mandi.

Terdengar suara klik dan pintu berayun terbuka. Kyuhyun tampak di ambang pintu, memakai pakaian lain yang kering, menatapnya. Dia tersenyum senang begitu melihat Seohyun sudah berganti baju. “Aku tahu kau pasti akan menurutiku. Kau terlihat seperti orang yang baik dan patuh.”

Seohyun cemberut, tapi dia tersenyum lagi. “Terima kasih atas segalanya, Kyuhyun-ssi. Maaf aku merepotkanmu. Aku harus segera pulang.”

Kyuhyun mengangkat alisnya. “Bagaimana kau bisa pulang?”

“Aku akan naik bus,” jawab Seohyun. “Aku masih membawa uangku.”

“Sekarang sudah hampir malam,” kata Kyuhyun sambil melihat jam tangannya. “Bagaimana kalau kau makan malam di sini? Aku merasa bersalah telah membuatmu tercebur di danau.”

Seohyun buru-buru menggeleng. Namja ini terlalu baik padaku. Kukira dia preman. “Sudahlah, kau sudah melakukan terlalu banyak. Aku harus segera pulang. Kamsahamnida, Kyuhyun-ssi.” Dia menuruni tangga dan baru saja mencapai ambang pintu, ketika Kyuhyun menarik tangannya. Seohyun merasakan sengatan listrik membanjiri (?) kulitnya.

Dia menoleh. “Waeyo?”

“Ini.” Kyuhyun mengambil sebuah syal dari atas meja dan mengalungkannya di leher Seohyun. Syal itu tebal dan berwarna abu-abu dan bercorak putih, cocok dengan pakaian yang dikenakan Seohyun. “Udara di luar sangat dingin. Jangan sampai kau pingsan hingga kedinginan di tengah jalan.”

Seohyun tersenyum. “Kamsahamnida, Kyuhyun-ssi. Aku benar-benar harus pergi. Jongmal kamsahamnida.” Dia membungkuk 90 derajat, tersenyum lebar, dan pergi keluar dari rumah Kyuhyun.

Begitu duduk di kursi di bus, Seohyun menatap pemandangan luar sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia ingat bagaimana Kyuhyun tersenyum, bagaimana Kyuhyun tertawa begitu mendengar ucapan-ucapannya; mereka menghabiskan waktu kurang dari satu jam, tapi Seohyun merasa sangat bahagia selama bersama namja itu.

Seohyun menatap syal yang dipakainya. Dia takkan bisa mengembalikan pakaian kakaknya dan syal ini, kecuali dia bertemu lagi dengan Kyuhyun.

Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Kapan aku akan bertemu dengannya lagi?

***

Seorang namja duduk di bangku kayu lebar di taman Universitas Seoul. Dia menyilangkan kakinya dan mengetuk-ngetukkan pensil ke buku-buku jemarinya. Di depannya, ada sebuah kertas yang berisi corat-coretan tangannya.

Namja itu menyenandungkan beberapa nada dan mengambil gitarnya lagi. Dia memetik beberapa nada dan tersenyum lebar. Dia pun menulis lagi di atas kertas itu.

Namja itu masih asyik menulis lagu ketika tiba-tiba dia merasa seseorang menutupi matanya. Kim Ryeowook tertawa. “Tumben sekali kau datang sepagi ini.”

Orang di belakangnya terkikik geli. “Aku adalah murid yang rajin.”

“Aniyo. Kau nyaris tidak pernah datang ke sini kecuali kalau kusuruh.”

“Yak!” Orang itu melepas kedua tangannya dari mata Ryeowook dan memukul pelan bagian belakang kepalanya. Ryeowook mengerang kesakitan dan memegangi tengkuknya sambil menoleh ke belakang. Di hadapannya, Choi Sooyoung berdiri tegak, tangan terlipat di depan dada, cemberut.

Ryeowook masih mengaduh kesakitan tapi tersenyum kecil. “Aku baru tahu kau punya aegyo.”

Sooyoung mendengus. “Wookie, dari tadi kau asyik menulis lagu. Memang jurusan kita sama-sama musik, tapi kau mengambil bagian menyanyi!”

“Lalu? Kalau sudah lulus, aku akan menyanyikan lagu-lagu ciptaanku,” ujar Ryeowook bangga. Dia menepuk bangku yang didudukinya. “Mau kuajari?”

Sooyoung tersenyum senang dan segera duduk di samping Ryeowook. Sahabatnya itu mulai berbicara sambil sesekali menunjuk gitar dan kertasnya, tapi Sooyoung tidak mendengarkan. Dia terlalu sibuk memerhatikan namja di sampingnya. Suaranya yang lembut, senyumnya yang ramah… Sooyoung menyukainya.

“Yah! Sooyoung-ah, apakah kau mendengarkan?” Ryeowook menggoyang bahunya, membuat Sooyoung tersentak sadar dari lamunannya.

“Eh? Oh, aku mendengarkan!” jawab Sooyoung cepat-cepat, lalu melihat jam tangannya. “Omo! Kelas sudah mau mulai!”

Ryeowook menatapnya heran. “Kelas baru mulai satu jam lagi.”

Sooyoung mengangkat alisnya. “Tapi sekarang sudah jam delapan.”

“Tujuh! Aku tiba di sini baru saja. Berikan jam tanganmu.”

Sooyoung melepas jam tangan dari pergelangan tangannya dan memberikannya pada Ryeowook. Ryeowook mengerutkan keningnya, berkonsentrasi mengatur kembali waktu jam tangan ke waktu yang benar. Begitu Ryeowook mengembalikan jam tangannya, Sooyoung tersenyum. “Gomawoyo. Kajja, lebih baik kita masuk ke dalam. Udara musim semi sangat dingin.”

Ryeowook menyetujui dan keduanya pergi ke sebuah kafe, tak jauh dari universitas. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi Universitas Seoul sedang bercakap-cakap di sana. Ryeowook dan Sooyoung duduk berhadapan, dengan secangkir kopi di depan mereka. Sooyoung memegang gitar Ryeowook dan mulai memainkannya dengan pelan.

Ryeowook tersenyum. “Kau bisa bermain gitar?”

Sooyoung mengangguk. “Appa mengajariku.”

Sooyoung mendadak merasakan sesuatu yang berat di dadanya. Dia mulai teringat akan ayahnya. Dia berusaha untuk menahan tangis. Tn. Choi sudah meninggal karena kecelakaan di tempat konstruksi pembangunan hotel. Sejak saat itu, Sooyoung merasa tidak bisa melanjutkan hidup dan sempat berpikir untuk bunuh diri, sebelum ibunya dan Ryeowook mencegahnya.

Ryeowook menyadari perubahan suasana di antara mereka dan tersenyum, sedikit terpaksakan. Dia pun mengalihkan topik pembicaraan. “Sooyoung-ah, kau mau mendengar lagu baruku?”

Sooyoung tersenyum senang. “Tentu saja.”

***

“Untung aku tidak telat,” ujar Seohyun senang sambil memasuki gedung Universitas Seoul.

Seohyun berjalan melalui beberapa kelas hingga dia melewati kelas Musik. Seperti biasa, dia melihat Ryeowook, murid kelas sebelah. Seohyun tersenyum ramah padanya. Ryeowook adalah tetangganya dan mereka lumayan dekat, meski di sekolah Ryeowook selalu “menempel” pada sahabatnya, Sooyoung.

Ryeowook tersenyum kepada Seohyun. “Annyeong, Seohyun-ah!”

Seohyun membalas senyumnya. “Selamat pagi!”

Ryeowook berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Seohyun. Seo terlihat cantik sekali hari ini, batinnya dalam hati. Sudah bertahun-tahun mereka bertetanggaan, dan sudah bertahun-tahun mereka berteman. Ryeowook memendam perasaan suka terhadap Seohyun, tapi dia tidak ingin mengakuinya kepada Seohyun. Bagaimana kalau dia tidak merasakan hal yang sama?

“Aku harus ke kelas dulu. Sampai jumpa, Ryeowook-ssi!” kata Seohyun sambil melambaikan tangannya dan berlalu.

Ryeowook tersenyum dan balas melambai.

Sementara itu, Seohyun memasuki kelasnya dan duduk di tempat duduknya. Dia menaruh tasnya di atas meja dan merasakan udara yang panas di dalam kelas. AC di dalam kelas dimatikan karena udara luar sudah cukup dingin. Seohyun pun melepas syal yang dipakainya dan ikut menaruhnya di atas meja.

Eh? Syal?

Seohyun mengambil syal yang baru saja dilepaskannya. Dia ingat mengambilnya dari lemarinya tadi pagi… Lalu kenapa syal ini terlihat begitu asing?

Dia mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan kening, seperti yang biasa dilakukan Seohyun ketika sedang berpikir keras. Lalu dia ingat. Ini kan syal yang diberikan namja itu! Eh, siapa ya, namanya? Cho… Cho Kyu… Cho Kyuhyun? Ah ya, dia!

Seohyun baru menyadarinya dan matanya terbelalak. “Bagaimana aku harus mengembalikan ini? Dan pakaian kakaknya?” bisik Seohyun pada dirinya sendiri.

Tahu-tahu bel berbunyi dan semua murid memasuki kelas. Seohyun buru-buru memasukkan syalnya ke dalam tas dan menunggu dosen untuk datang, sambil menyiapkan buku pelajarannya. Pintu pun terbuka. Dosennya berjalan masuk sambil membawa barang-barangnya. Lalu ada seorang namja yang berjalan mengikutinya dari belakang. Semua yeoja langsung terperangah melihat ketampanan namja itu.

Seohyun juga kaget.

“Kyuhyun?!” gumam Seohyun.

Kyuhyun menatap dosen itu dan berbicara padanya sebentar, lalu dosen pun menoleh ke arah murid-murid dan mulai menjelaskan. “Semuanya, ini adalah mahasiswa baru kita, yang baru saja pindah dari Harvard. Silahkan perkenalkan dirimu,” beliau menoleh ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum lebar ke semua orang di kelas, termasuk Seohyun. Kyuhyun sedikit kaget melihat Seohyun. Tentu saja dia mengenalinya. Aku yang memberikannya pakaian Ah Ra dan syalku! Tapi dia berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya agar tidak terlalu kentara.

“Annyeonghaseyo, Cho Kyuhyun imnida. Saya baru saja pindah dari Harvard, harap perlakukan saya dengan baik. Kamsahamnida,” kata Kyuhyun, masih tersenyum.

Dosen pun mengangguk puas. “Kyuhyun-ssi, kau bisa duduk di… Hmm, di mana, ya? Ah, ya, di situ. Di bangku kosong di sebelah Joo Hyun.”

Joo Hyun? Jadi aku tidak duduk dengan Seohyun? batin Kyuhyun kecewa. Dia ingin sekali berbicara dengan yeoja itu.

“Joo Hyun-ssi,” dosen berkata ke lautan murid-murid, “angkat tanganmu supaya Kyuhyun tahu di mana kau duduk.”

Seohyun mengangkat tangannya.

“Mwo?” kata Kyuhyun, cukup keras sehingga dosen dan murid-murid dapat mendengarnya. Semuanya memandang Kyuhyun dengan bingung, sementara Seohyun memalingkan wajahnya.

“Waeyo?” tanya si dosen.

“A-Aniyo,” kata Kyuhyun.

Dosen pun menghela napas. “Silahkan duduk.”

Kyuhyun berjalan ke arah meja yang ditempati Seohyun dan duduk di sampingnya. Seohyun sedikit menggeser kursinya agar Kyuhyun mendapat tempat. Ketika Kyuhyun sudah duduk, dosen pun memulai penjelasan materinya. Kyuhyun menoleh ke arah Seohyun. “Bukankah kau Seohyun? Yang pernah tercebur denganku ke danau, kan?”

Seohyun menoleh dan matanya bertemu dengan mata coklat Kyuhyun. Sambil tersenyum tipis, dia mengangguk. “Hanya saja nama lengkapku Seo Joo Hyun. Aku dipanggil Joo Hyun di kelas, tapi teman-teman dan keluargaku memanggilku Seohyun,” bisik Seohyun cepat sebelum Kyuhyun bisa berbicara.

Kyuhyun mencerna perkataan Seohyun sebentar, lalu manggut-manggut.

“Bukankah aku baru bertemu denganmu kemarin?” tanya Seohyun. “Kau berada di sini kemarin, bukan di Harvard. Harvard di Amerika, bukan?”

“Aku tiba di sini sehari sebelum aku bertemu denganmu,” jelas Kyuhyun. “Bagaimana keadaanmu? Kau kan baru saja tercebur kemarin. Apa kau mengalami flu atau semacamnya?”

Seohyun tertawa kecil dan menggeleng. “Tidak, karena syal dan pakaian kakakmu. Oh ya, ini. Kukira kita tidak akan bertemu lagi, jadi aku tidak tahu kapan—atau bagaimana—aku harus mengembalikannya.” Dia mengambil syal abu-abu Kyuhyun dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum lebar.

“Dan pakaiannya?”

“Aku akan membawanya besok setelah kucuci,” ujar Seohyun. “Dan, aku belum bisa cukup berterima kasih padamu, Kyuhyun-ssi.”

“Tenang saja. Ini bukan masalah sama sekali.”

***

“Aigoo, hari ini sangat melelahkan!” keluh Sooyoung sambil memakan ramen-nya.

Ryeowook tersenyum. “Sekarang baru jam makan siang. Kuliah masih berlangsung dua jam lagi.”

Sooyoung mendesah. “Lebih baik aku bolos.”

Ryeowook cemberut dan mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja kafeteria. “Itu tidak baik. Ibumu sudah membayar mahal, kan?”

“Ibuku tidak membayar!” gerutu Sooyoung. “Aku mendapatkan beasiswa.”

“Ah, ya, aku lupa,” kata Ryeowook.

Sooyoung melanjutkan memakan ramen. “Kudengar ada anak baru di kelas sebelah.”

Ryeowook mendongak. “Hmm? Siapa?”

Sooyoung mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Yang jelas, murid yang baru itu seorang namja.”

Ryeowook menatap Sooyoung. “Benarkah? Dari mana kau tahu itu?”

“Aku kan maha tahu.”

Ryeowook pura-pura memukul bahu Sooyoung. Sooyoung tertawa dan meminum air mineral. “Oh, ramen-nya sudah habis dan aku masih lapar.”

“Beli saja lagi lima mangkuk,” kata Ryeowook pelan, tapi Sooyoung bisa mendengarnya.

“Yak! Wookie-ah, apa maksudmu?”

“Kautahu maksudku, Shikshin Soo.”

“Jangan panggil aku shikshin!”

“Tapi kau memang shikshin!”

“Aniyo!”

Shikshin!”

“Aniyo!”

Ryeowook tertawa terbahak-bahak melihat Sooyoung yang terlihat kesal. Sooyoung cemberut dan mendorong mangkuknya yang masih kosong ke arah Ryeowook. “Besok. Traktirkan aku dua mangkuk lagi!” Sooyoung berdiri dan berjalan pergi.

***

Seusai kuliah, Sooyoung berjalan kembali ke rumahnya. Dia tinggal di sebuah apartemen tak jauh dari universitas bersama ibunya. Di tangannya ada segelas sikhye (sari nasi manis) yang baru saja dibelinya. Sooyoung berjalan, satu tangan memegang gelas, satu tangannya lagi merapatkan mantelnya yang sudah dikancing rapat, tapi udara dingin tetap berhasil menembus pakaiannya.

Sooyoung gemetar kedinginan, jadi dia buru-buru meneguk minumannya. Selagi minum, tahu-tahu Sooyoung menabrak sesuatu yang keras. Dia hampir saja terjatuh ke belakang, tapi dia berhasil mempertahankan keseimbangannya dan hanya terhuyung-huyung.

Sooyoung menggerutu tidak jelas dan melihat siapa yang ditabraknya—atau menabraknya.

Hei, bukankah dia si murid baru?

Sooyoung memperhatikan namja yang baru saja bertabrakan dengannya. Ya, Sooyoung tahu dialah mahasiswa baru yang baru saja dibicarakannya dengan Ryeowook. Sooyoung berusaha mengingat-ingat nama yang didengarnya. Cho Kyuhyun. Ya, itu nama anak baru itu.

Tahu-tahu Sooyoung merasa sesuatu yang basah menyentuh kulitnya.

Sooyoung melihat ke bawah dan melihat kaus putihnya basah oleh sikhye. Pasti karena ditabrak olehnya!

Kyuhyun pun membungkuk, meminta maaf. “Mianhaeyo…”

“Yak! Kaukira dengan minta maaf, kausku akan kering?” bentak Sooyoung kesal. Bila Sooyoung memakai kaus lain, tentu saja dia tidak akan semarah ini. Tapi kaus ini adalah kaus pemberian mendiang ayahnya, sehingga Sooyoung merasa teramat kesal karena namja ini telah “merusak” kaus itu.

Kyuhyun terkejut. Dia kira yeoja di depannya akan mengatakan “tidak apa-apa” atau semacamnya, tapi dia justru memarahinya!

Kyuhyun merasa yeoja itu terlihat familiar. Mungkin mereka berpapasan di universitas. Kyuhyun memang sempat melihatnya di kafeteria tadi.

“Hei! Aku meminta maaf, kau malah marah-marah. Apa kau tak punya sopan santun?” geram Kyuhyun kesal. Belum pernah dia bertemu seseorang yang tidak bersikap sopan padanya.

Sooyoung mendengus kesal. “Kau telah membuat kausku bernoda!”

“Lalu? Cuci saja!”

“Kau yang merusaknya!”

“Aku tidak merusaknya! Hanya terkena noda!”

Akhirnya, perdebatan mereka berlangsung menjadi “perang mulut” yang sengit. Sooyoung merasa semakin marah dan menatap bajunya yang basah, lalu ke gelas yang sudah kosong. Tanpa peduli, dia melempar gelas itu ke wajah Kyuhyun.

“Dasar namja sialan!”

Sooyoung pun berjalan pergi.

*** TBC ***

Waaa… Part 1-nya gak nyambung sama sekali…

Mian ya kalo part 1 rada-rada ngaco, soalnya author lagi stuck jadi gak bisa dapet banyak untuk part ini. Jadwal author juga cukup sibuk, jadi maaf ya kalo update-nya lama…

Untuk Don’t Forget Me part 4, author udah mulai nulis cuma blom selesai. Jadi readers Don’t Forget Me, tunggu aja ya😀

Tolong tinggalkan jejak like, comment, dsb di FF ini maupun Twinkle Super Generation. Semakin banyak like dan comment, para author juga semakin semangat untuk ngelanjutin FF, bung! (?)

Oke, abaikan kegilaan author ._.

Readers udah liat MV baru SNSD? Yang Flower Power? Udah blom? Udah kan? Bagus banget loh, DAEBAK! Apalagi Yul dan Hyo keliatan cantik banget!🙂

Readers juga tau kan… Kalo Leeteuk sudah pergi wamil *nangis histeris di pojokan* Semoga Teukie oppa baik-baik aja saat wamil… ELF, kita sudah menunggu Kangin, kita masih menunggu Heechul, dan kita pasti akan menunggu leader kita! *semangat 45*

Oh ya, author juga mau ngucapin Happy Halloween meskipun telat, hehe ._.v Kan ada ucapan better late than never gitu *sok pake bahasa Inggris, abaikan*

Inget, tunggu ya kelanjutan FF-nya…

Kamsahamnida! *deep bow sampe nyentuh tanah, eh kepalanya pecah (sekali lagi abaikan)*

15 thoughts on “Lovesquare Part 1

  1. chingu cerita’a seru bnget dan ok bnget,,,,
    wah jdi yg nolong seo kyu oppa,,
    ya ampun kyu oppa baik bnget smpe minjemin seo bju kakanya,,wah ryeowook oppa ska sma seo,,chingu di tunggu part slnjut’a,,

  2. awal yang baik🙂 semoga seokyu bisa jadi temen yang akur hehe..
    kyu baik banget disini.. tapi kenapa di prolog dia nanti mesti suka sama sooyoung eonni -_-”
    hoah aku tunggu part 2

  3. semoga jadinya seokyu dama soowok, diprolog seo suka kyu kyu suka soo soo suka wookie wookie suka seo kayanya ditengah nanti pasti pada terluka dulu nih, lanjuut ya

  4. daebaakk!! X)
    kyu pasti sukanya sm seo *sotoy
    kyu sm soo lg perang bgtu wkwk udah wookie sm soo, kyu sm seo deh. titik! #plak
    lanjuuut!

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s