Don’t Forget Me Part 4

DON’T FORGET ME PART 4

Cast:
 Hyoyeon
 Eunhyuk

Other Cast:
 SNSD members
 Super Junior members

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

~AUTHOR’S POV~

“Ibuku meninggal.”

Eunhyuk terpaku. Rasanya waktu berhenti berjalan.

Hyoyeon masih menangis tersedu-sedu di rangkulan Eunhyuk yang shock. Lalu, tanpa sadar, Hyoyeon menyandarkan kepalanya ke bahu Eunhyuk. Dia tidak berusaha menjelaskan betapa kacaunya perasaannya sekarang—Eunhyuk sudah bisa melihat semuanya.

Eunhyuk akhirnya pulih dari kekagetannya dan menepuk-nepuk bahu Hyoyeon. “Menangislah. Lepaskan semuanya.”

Hyoyeon menangis lebih keras, seakan tangisannya sebelumnya belum cukup.

“Tidak apa-apa,” bisik Eunhyuk, merangkulnya lebih erat. “Aku ada di sini.”

Hyoyeon menangis selama beberapa saat, dan akhirnya tangisannya pun mereda. Eunhyuk masih memeluknya, menepuk-nepuk bahunya. Kemudian Hyoyeon melepaskan diri. Eunhyuk menatapnya, kebingungan.

Hyoyeon hanya menunduk saja, matanya masih basah. Dia menunduk, membuat wajahnya tertutup oleh rambut pirangnya. Dia bersandar di dinding dan memeluk kedua lututnya. “Kurasa sudah cukup,” bisiknya.

Eunhyuk masih menatapnya. Bahkan ketika menangis pun, kecantikan Hyoyeon tidak hilang. “Ayo, kau harus tidur,” katanya. Dia menggenggam lengan Hyoyeon, dan yeoja itu tidak menarik diri. Sentuhan kulit Hyoyeon dengan kulitnya membuat Eunhyuk seperti tersengat listrik, tapi dia menyukai kelembutan lengan Hyoyeon dan menikmati bisa menyentuhnya seperti ini.

Eunhyuk memapah Hyoyeon ke tempat tidur dan menyelimutinya. Hyoyeon bersandar di papan di belakang ranjang. Dia berlutut di samping ranjang, menatap Hyoyeon langsung ke mata coklatnya. “Kau butuh sesuatu? Makanan, mungkin?”

Hyoyeon mengangguk tanpa berbicara.

“Aku akan membuatkan sesuatu,” lanjut Eunhyuk. “Kau makan bubur saja, ya? Sesuatu yang hangat.”

Hyoyeon mengangguk lagi.

“Apa aku perlu menelpon Taeyeon noona?”

Hyoyeon mengangguk.

“Dan member-member yang lain?”

Hyoyeon mengangguk lagi. Lebih baik aku dikelilingi banyak orang supaya aku bisa melupakan hal ini untuk sejenak, pikirnya. Dia memejamkan matanya dan mengusap air mata yang berada di pipinya.

Tahu-tahu, Hyoyeon merasakan sentuhan kulit—seperti listrik—yang menyentuh pipinya. Hyoyeon membuka matanya dan melihat Eunhyuk sedang mengusap air matanya.

Hyoyeon kaget sekali. Eunhyuk sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan supaya bisa mengusap air matanya. Jarak mereka sangat dekat—terlalu dekat. Tapi Hyoyeon tidak menarik diri. Dia hanya membiarkan Eunhyuk menyentuhnya, merasakan setiap sentuhan hangat dari kulitnya.

“Jangan menangis,” bisik Eunhyuk, kedengaran sangat menderita.

Hyoyeon memaksakan seulas senyum. “Telpon.”

Eunhyuk mengangguk dan berjalan keluar kamar. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Hyoyeon mendesah dan berbaring. Dia memejamkan matanya yang tidak terasa mengantuk. Dia harus mengalihkan perhatiannya dari kepergian ibunya. Harus.

Hyoyeon mendengar Eunhyuk berbicara dari ruang tamu. Apartemen itu memang kecil, sehingga berbicara di ruangan lain pun akan terdengar jelas dari ruangan satunya.

“Noona? Taeng noona, ini Eunhyuk,” kata namja itu.

“Oh, Hyuk-ah? Waeyo? Tumben sekali kau menelpon.” Itu pasti suara Taeyeon.

“Bisakah kau datang ke apartemen Hyo? Dia sedang… tidak baik.”

Hyoyeon tersenyum. Eunhyuk tidak memberitahukan secara detail bahwa Hyoyeon telah kehilangan salah satu dari sekelompok orang yang paling penting dalam hidupnya. Itu membuat Hyoyeon senang.

Taeyeon kedengaran panik. “Mwo? Bagaimana dia?”

“Dia sedang sakit. Agak pusing, katanya. Bisakah kau memasakkan sesuatu? Aku tidak begitu bisa memasak. Oh ya, ajak saja Leeteuk hyung dan member yang lain.”

“Ne, ne. Kami akan segera ke sana. Lebih baik buatkan dia teh atau susu dulu. Jangan suruh dia minum yang dingin-dingin! Hujan begini… Hei, apakah tadi dia keluar apartemen? Kehujanan?”

Tidak ada yang berbicara.

“Sedikit,” jawab Eunhyuk.

“Yah! Kau pasti bersamanya, kan? Kenapa kau tidak memayunginya? Babo!”

“Sudah! Tapi dia menghindar!”

“Aish! Sudahlah, kami akan ke sana sekarang.” Telpon ditutup.

Hyoyeon berhenti mendengarkan. Dia menatap ke jendela di samping ranjangnya. Masih hujan. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu keras. Ketukan itu berulang kali, seakan pengetuknya tidak sabar untuk menunggu pintu dibuka. Hyoyeon tahu itu pasti Taeyeon.

Eunhyuk tidak membukakan pintu, karena ketukan itu tetap terdengar. Di mana dia? pikirnya sambil turun dari tempat tidur. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu depan dan membukanya.

Taeyeon berdiri di depannya, memakai mantel yang berlapis-lapis, topi, dan masker. Dia mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditangkap Hyoyeon dan memeluknya. Begitu Taeyeon menyingkir dari ambang pintu, Hyoyeon bisa melihat Leeteuk, Donghae, dan Shindong di belakangnya.

Taeyeon menarik maskernya sehingga terlepas dari wajahnya. “Kukira kau kenapa-napa, Hyo! Kau baik-baik saja, kan?”

Hyoyeon menggigit bibir. “Yah… begitulah.”

“Mana Eunhyuk?” Tiba-tiba Taeyeon berkata dan melepas pelukannya.

Hyoyeon mengangkat bahu. “Tadi dia bilang dia akan membuatkanku bubur…”

Taeyeon segera melesat ke dapur dan menangkap basah Eunhyuk memasak sambil memakai headphone di telinganya. Pantas saja dia tidak mendengar ketukan pintu.

Taeyeon melepas headphone dari telinga Eunhyuk dan memarahinya karena telah membiarkan Hyoyeon yang tidak enak badan, datang membukakan pintu untuk mereka. Ketiga member Unity sudah memasuki apartemen tanpa dipersilahkan, dan mereka duduk di sofa sambil melihat-lihat apartemen.

Eunhyuk keluar dari dapur dan duduk di sofa lain. Hyoyeon duduk di sebelahnya. “Gwenchanayo?” tanya Eunhyuk padanya.

Hyoyeon mengangguk. “Ne, gwenchana.”

“Noona akan membuatkanmu makanan,” ujar Eunhyuk. “Hyoyeon-ah…” Eunhyuk sebenarnya tidak ingin membicarakan topik ini, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Hyoyeon balas menatapnya. “Ya?”

“Kau akan datang ke pemakaman ibumu?” kata Eunhyuk sepelan mungkin.

Hyoyeon menimbang-nimbang sejenak. “Sepertinya.”

“Lalu… Bolehkah aku menemanimu?”

***

Hyoyeon bersandar di pintu apartemennya yang sudah dikunci. Dia merapatkan jaketnya yang berwarna biru. Di mana dia? Katanya dia akan datang, pikir Hyoyeon. Dia melihat jam tangannya. Pukul delapan pagi. Kereta akan berangkat pukul sembilan.

Hyoyeon mengecek barang bawaannya sekali lagi. Tidak banyak—masih ada pakaian-pakaiannya di rumah keluarganya di Incheon. Hyoyeon melihat lagi ke arah lift di depannya, berharap pintunya membuka dan menunjukkan sosok Eunhyuk.

“Aigoo, seharusnya aku tidak mempercayai dia!” gumam Hyoyeon. “Seharusnya aku berangkat ke Incheon sendirian. Seharusnya aku tidak membiarkannya ikut bersamaku.”

Baru saja dia akan pergi ke stasiun sendirian, pintu lift berdenting terbuka dan Eunhyuk berlari keluar. Karena terlalu panik, dia berlari terlalu cepat sehingga berdiri tepat di depan Hyoyeon. Jarak mereka sangat dekat, bahkan Hyoyeon bisa mendengar degup jantung Eunhyuk yang cepat dan napasnya yang harum. Hyoyeon ingin mundur, kembali ke depan pintu apartemennya, tapi kakinya tidak mau bergerak.

Eunhyuk juga tidak bergerak.

Hyoyeon menunduk melihat kakinya. Eunhyuk menatap puncak kepalanya yang berambut pirang. Jantung Hyoyeon serasa ingin meledak. Tangannya mulai basah karena keringat dan dadanya terasa sakit akibat detak jantungnya. Mundur. Mundur, demi Tuhan.

Eunhyuk sendiri kaget begitu melihat jaraknya yang dekat sekali dengan Hyoyeon. Jantungnya tidak bisa dikendalikan lagi. Napasnya pun sesak dan tenggorokannya tercekat. Eunhyuk berusaha menenangkan dirinya. Tapi bagaimana dia bisa tenang di depan seorang Kim Hyoyeon?

Eunhyuk berusaha menatap mata coklat gadis itu, tapi Hyoyeon justru menunduk. Dia tidak berjalan mundur, begitu juga Eunhyuk. Secanggung apapun momen ini, berdiri sedekat ini di depannya terasa… benar.

Hyoyeon berdeham, memecah keheningan.

“Kita harus berangkat.”

Eunhyuk mundur beberapa langkah dan membiarkan Hyoyeon memasuki lift. Eunhyuk mengikutinya lagi, dan kini mereka agak menjaga jarak. Pandangan Eunhyuk tetap terkunci pada Hyoyeon, tapi yeoja itu memandang ke arah lain kecuali Eunhyuk.

Pintu lift pun terbuka. Hyoyeon menarik napas lega dan berlari keluar dari gedung apartemennya, dengan Eunhyuk di belakangnya. Mereka berjalan sampai stasiun yang tidak begitu jauh dari situ. Setelah membeli tiket ke Incheon, mereka duduk menunggu kereta.

Semalam, setelah Taeyeon dan ketiga member Unity pulang ke rumah mereka, tinggal Eunhyuk dan Hyoyeon sendirian. Mereka langsung berdebat soal Eunhyuk menemani Hyoyeon ke Incheon. Perdebatan itu berlangsung selama satu jam dan Eunhyuk tidak pernah melihat seorang perempuan semarah itu kecuali ibunya sendiri.

Akhirnya, Hyoyeon mengalah. Dia membiarkan Eunhyuk pergi menemaninya ke Incheon keesokan harinya. Sebenarnya, Hyoyeon ingin menjauh sebentar dari “kenyataan”—dari Eunhyuk, member Unity, bahkan Taeyeon dan Mr. Park. Menjauh dari teman-temannya dari Seoul. Kembali lagi ke masa lalunya.

Tapi rasa sakit di hatinya karena kepergian ibunya, tidak bisa disembuhkan dengan hanya duduk merenung di kamar dan tidak melakukan apa-apa. Hyoyeon baru tahu bahwa dia memerlukan sesuatu—seseorang—untuk membuatnya sibuk dan melupakan, setidaknya untuk sejenak, tentang ibunya. Dia nyaris tidak punya teman sewaktu kecil selain Hyukjae, dan Eunhyuk adalah pilihan terbaiknya.

“Kau kedinginan?” Eunhyuk berkata tiba-tiba.

Hyoyeon menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Gwenchana.”

Kereta pun datang. Eunhyuk dan Hyoyeon duduk di tempat duduk mereka, bersampingan. Hyoyeon mengikat rambut pirang panjangnya yang bergelombang dan mengeluarkan sebuah buku novel. Eunhyuk menatapnya, heran. “Kau akan membaca? Bukankah matamu akan sakit nanti? Kereta ini kan bergerak.”

Hyoyeon menggeleng. “Tidak. Aku sudah terbiasa membaca sewaktu—”

Eunhyuk mengambil buku itu dari genggaman Hyoyeon. “Matamu bisa rusak nanti. Bagaimana kalau matamu jadi minus? Bakal terlihat sangat jelek,” godanya.

“Yah! Kau lebih jelek!” balas Hyoyeon sambil memukul bahu Eunhyuk, yang tertawa lepas.

Kereta mulai bergerak. Akhirnya Hyoyeon menyerah untuk mendapatkan bukunya kembali. Dia justru menikmati bermain kartu dengan Eunhyuk. Hingga sesudah jam makan siang, Hyoyeon merasa sangat mengantuk.

“Tidurlah,” kata Eunhyuk. “Kau harus menyimpan tenagamu.”

Hyoyeon menatapnya, kurang yakin. “Baiklah.”

Eunhyuk merangkul bahu Hyoyeon, dan Hyoyeon tersenyum secara sembunyi-sembunyi. Dia bersandar di bahu Eunhyuk yang terasa hangat. Eunhyuk memeluk Hyoyeon dengan erat. Memeluknya terasa benar. Jantungnya memang berdegup kencang, tapi dia merasa bahagia. Senang bahwa asal Hyoyeon bersamanya, dia akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.

***

“Ini rumahmu?” tanya Eunhyuk.

Mereka berdua sudah turun dari stasiun kereta Incheon dan kini berada di depan rumah keluarga Kim yang luas dan berwarna putih. Pekarangannya juga besar dan ditanami berbagai macam tanaman. Hyoyeon sendiri tidak tahu kapan ayahnya merenovasi rumahnya supaya menjadi semegah ini. Bahkan gerbangnya tingginya sekitar 100 meter dan ada jalan setapak panjang dari gerbang utama menuju rumah.

“Aku tidak ingat rumahmu sebagus ini,” lanjut Eunhyuk.

Hyoyeon terperanjat. Ingat? Jadi dia memang benar Hyukjae? Tapi… Mengapa sikapnya berubah? Aish, mengapa aku memikirkan itu? Hyoyeon, jangan bilang bahwa kau mulai percaya bahwa Eunhyuk adalah Hyukjae! Andwae! Dia bukan Hyukjae!

Hyoyeon mengabaikan perkataan Eunhyuk dan menekan interkom. Setelah berbicara dengan salah satu pegawai ayahnya, mereka diperbolehkan masuk. Hyoyeon sendiri bingung kenapa rumah keluarganya jadi semegah ini.

Begitu mereka memasuki rumah yang tidak dikunci, Tn. Kim berdiri di ruang tamu. Di sofa, ada nenek, kakek, saudara sepupu, dan ahjumma-ahjussi Hyoyeon.

“Hyoyeon-ah!” sambut Tn. Kim sambil memeluk Hyoyeon erat. Lalu dia melepaskannya dan menatap ke arah Eunhyuk, bingung dan curiga. “Dan kau?”

“Eh, appa,” kata Hyoyeon salah tingkah. Siapa Eunhyuk baginya di sini? Teman? Berarti dia harus menjelaskan mengapa dia membawa teman laki-laki! Lalu… Lalu… Kenalan? Bertemu di jalan? “Ini… Dia…”

Eunhyuk tahu-tahu tersenyum lebar dan membungkuk 90 derajat ke arah Tn. Kim. “Annyeonghaseyo, noneun Lee Eunhyuk imnida. Saya namja-chingu Hyoyeon.”

“MWO?!”

***

Namja-chingu? Namja-chingu? Namja-chingu?!

Hyoyeon memelototi Eunhyuk seakan dia sudah gila, tapi Eunhyuk tetap bersikap santai.

Tn. Kim menatap Eunhyuk dari ujung kepala sampai ujung kaki, sementara kerabat-kerabat keluarga Kim yang lain berbisik-bisik membicarakan Eunhyuk. “Namja-chingu-nya, ya?”

Eunhyuk mengangguk puas sambil tersenyum, sementara Hyoyeon terlihat seperti baru saja disengat listrik.

“Yah… Seleramu bagus sekali, Hyoyeon-ah.” Tn. Kim berkata sambil tersenyum ke arah putri semata wayangnya itu.

Hyoyeon semakin kaget.

“Eunhyuk? Berarti kau penari itu, ya?” Salah seorang saudara sepupu Hyoyeon berkata.

Eunhyuk mengiyakan. “Ne, aku member dari dance group Unity.”

“Berarti kau bisa menari!” ujar salah satu ahjumma Hyoyeon.

Eunhyuk hanya nyengir.

“Kalau begitu, kita harus menyambut bagian keluarga kita yang baru!” kata Tn. Kim.

***

Seluruh anggota keluarga Kim yang hadir dan Eunhyuk makan malam di ruang makan Tn. Kim yang besar. Banyak yang melontarkan Eunhyuk pertanyaan karena dia adalah penari terkenal, dan Eunhyuk merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga Hyoyeon.

Hyoyeon merasakan hal yang sebaliknya. Dia masih terkejut, dan dia tidak tahu bagaimana caranya untuk berpura-pura menjadi yeoja-chingu Eunhyuk. Tapi dia sepertinya menyukai hal itu. Mwo? Menyukai? Apa aku benar-benar mencintai dia?

Seusai makan malam, salah satu ahjussi Hyoyeon memberitahukan soal acara pelayatan yang akan dilangsungkan besok. Eunhyuk juga diperbolehkan datang. Begitu Hyoyeon hendak naik ke kamar tidurnya yang lama, Tn. Kim menghentikannya. “Hyo-ah, kau tidur di kamar tamu saja, ya? Kamar tidurmu ditempati.”

“Baiklah,” jawab Hyoyeon.

“Oh, ajak Eunhyuk juga.”

“Mwo?!” Hyoyeon segera menoleh ke arah ayahnya. “Eunhyuk? Untuk apa?”

Tn. Kim mengangkat alisnya, bingung. “Bukankah—Kukira kalian menempati satu apartemen bersama, tinggal bersama di Seoul!”

Hyoyeon kini ikut bingung. “Apa? Tidak. Kami tinggal terpisah. Siapa yang mengatakannya?”

“Eunhyuk. Siapa lagi?”

***

“Yak! Lee Eunhyuk!” panggil Hyoyeon di dapur.

Eunhyuk, yang sedang berbicara dengan nenek Hyoyeon, menoleh. Nenek Hyoyeon tertawa. “Oh, sepertinya yeoja-chingu-mu mengamuk.”

Eunhyuk tertawa kecil. “Ya, sepertinya begitu. Aku harus pergi, permisi.”

Hyoyeon kelihatan marah sekali, seperti kemarin malam. Tangannya berada di pinggang dan pinggulnya sedikit miring ke samping, dengan kepala yang juga ikut dimiringkan ke kiri. Eunhyuk menatapnya dengan tatapan polos. Sebelum dia bisa membuka mulut, Hyoyeon menariknya ke dalam lemari tempat menyimpan mantel yang kecil, tapi cukup untuk mereka berdua.

Hyoyeon menutup pintu lemari rapat-rapat. Mereka berdesakan di antara mantel-mantel basah karena hujan dan bulu-bulu sebagai penghias mantel itu, sehingga tubuh mereka saling bersentuhan. Hyoyeon menatapnya tajam. “Apa yang kaukatakan tadi kepada ayahku?”

“Apa? Aku tidak mengatakan apa-apa,” jawab Eunhyuk dengan pandangan aku-tidak-bersalah.

“Jangan bohong! Kaubilang padanya kita tinggal bersama—tidur bersama, di ranjang yang sama—di Seoul! Kau gila, ya?!”

Eunhyuk nyengir. “Memangnya kenapa? Bukankah itu perbuatan bagus untuk menegaskan bahwa kita memang benar-benar berpacaran?”

Hyoyeon mendengus. “Kita tidak berpacaran! Kau yang memberitahunya sejak awal, kepada seluruh keluargaku! Mengapa kau menulis kebohongan itu? Itu akan membuat segalanya bertambah rumit!”

Eunhyuk masih memasang cengirannya, yang membuat Hyoyeon kesal. “Sudahlah, tenang saja. Bukankah alasan utama ke sini adalah untuk…” Eunhyuk mengibas-ngibaskan tangannya untuk menjelaskan maksudnya tanpa berbicara, tapi ini justru membuat jaraknya dengan Hyoyeon semakin dekat.

Hyoyeon hendak mundur, tapi mantel-mantel menahannya untuk melangkah ke belakang. Hyoyeon hampir saja terpeleset lantai lemari, bila saja Eunhyuk tidak menyambar pinggangnya. Hyoyeon kaget melihat refleks Eunhyuk yang begitu cepat, apalagi di tempat segelap dan sesempit itu.

Tahu-tahu, Hyoyeon merasakan cahaya dari sebelah kirinya. Ternyata kedua pintu ganda lemari mantel itu dibuka oleh adik ayahnya, salah satu ahjumma-nya. Ahjumma itu tersenyum. “Kalian sedang berusaha bermesra-mesraan, ya?” selidiknya.

Hyoyeon segera berlari keluar dari lemari itu. “A-Aniyo!”

Ahjumma itu hanya tertawa. “Tidurlah kalian berdua, sudah malam. Acara mulai pada pagi hari besok.”

Hyoyeon menganggukkan kepalanya. Begitu ahjumma-nya sudah pergi, dia menatap ke arah Eunhyuk.

“Naik! Sekarang!”

Mereka berdua menaiki undakan tangga menuju lantai atas dan memasuki kamar yang mereka tempati. Hanya ada satu ranjang berukuran king size. Eunhyuk berbaring di atas ranjang, menatap kamar itu. Sementara itu, Hyoyeon membuka lemari pakaiannya dan menemukan pakaian-pakaian lamanya.

“Oh, kau akan berganti baju di sini?” tanya Eunhyuk menggoda.

Hyoyeon memelototinya. “Yak! Dasar namja mesum!”

Eunhyuk tertawa sementara Hyoyeon memasuki kamar mandi, menutup pintunya, dan berganti baju di situ. Begitu dia keluar, Eunhyuk juga sudah berganti baju. Hyoyeon duduk di tepi ranjang, tapi sedikit ragu-ragu. Dia akan tidur seranjang dengan Eunhyuk? Mengapa Eunhyuk tidak tidur di lantai saja?

“Mengapa kau jauh-jauh begitu? Tidak akan ada yang percaya bahwa kita pacaran, kalau begitu. Ayo sini, mendekatlah,” bujuk Eunhyuk tenang.

Hyoyeon menatapnya, kurang yakin. “Kau tidak akan melakukan apapun terhadapku, kan?”

Eunhyuk terkekeh. “Tentu saja tidak. Aku namja baik-baik.” Dia berbaring di tempat tidur dan menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut yang tebal. Hyoyeon, masih sedikit ragu-ragu, akhirnya ikut berbaring dan menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut yang sama. Dia sengaja memunggungi Eunhyuk supaya tidak harus bertatapan dengannya.

Tiba-tiba, Hyoyeon merasakan sesuatu yang hangat memeluk pinggangnya. Lengan Eunhyuk. “Yah, apa yang kaulakukan, Eunhyuk-ssi? Lepaskan!”

“Aniyo,” bisik Eunhyuk di telinga Hyoyeon, membuatnya merinding karena napas Eunhyuk yang menyentuh kulitnya. “Apakah aktingku cukup?”

“Aktingmu sudah lebih dari cukup.”

“Sepertinya ini bukan akting.”

“Apa maksudmu?”

Eunhyuk tersenyum, meski Hyoyeon tidak bisa melihatnya. “Aku mencintaimu, Hyoyeon-ah.”

Hyoyeon merasakan jantungnya ikut berdegup cepat. Apa? Mencintainya? Tapi… Tapi… Apakah… Apakah Eunhyuk benar-benar Hyukjae?

“Aku tahu kau masih tidak mempercayaiku, tapi aku benar-benar Hyukjae,” lanjut Eunhyuk, masih dengan suaranya yang tenang dan santai. “Kau masih tidak percaya? Aku ingat dulu kita pernah membuat ikan-ikanan dengan kertas lipat di teras rumahmu… Lalu kita membantu ibumu memanggang kue dan membuat bola-bola coklat, kan? Dan lahan kosong di depan rumahmu ini—bukankah itu taman tempat dulu kita sering bermain ayunan bersama?”

Hyoyeon merasa bingung. Eunhyuk tahu semua hal yang dilakukannya bersama Hyukjae. “Kau benar-benar Hyukjae?”

“Ne.”

“Tapi sikapmu berubah.”

“Jadi seperti?”

“Kadang kau sering berteriak, lalu marah-marah… Dulu, Hyukjae yang kukenal tidak seperti itu.”

Eunhyuk menghembuskan napas dan membenamkan setengah wajahnya ke rambut Hyoyeon. “Aku memang gampang pemarah. Kautahu kenapa aku sering berpacaran dengan banyak yeoja?”

Hyoyeon menggigit bibir. “Waeyo?”

“Karena terasa sakit. Aku merasa sedih, marah, bingung, frustrasi—kacau sekali begitu aku harus meninggalkanmu ke Seoul, Hyo-ah. Aku jadi melampiaskan kemarahan dan kekacauan emosiku itu kepada perempuan lain, memacarinya lalu memutuskannya. Aku berusaha mengontakmu, tapi aku tidak tahu nama lengkapmu. Aku benar-benar kecewa tidak bisa bertemu denganmu lagi… Hingga kau menjadi aktris untuk video musik itu, dan itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku.”

Hyoyeon berusaha mencerna segalanya. Semuanya terasa jelas sekarang. Sikap Eunhyuk sekarang disebabkan oleh mereka berdua. Eunhyuk telah meninggalkannya, dan Hyoyeon membiarkannya. Seharusnya ini bisa dicegah, supaya mereka berdua tidak sesakit sekarang. Hyoyeon mengerti segalanya sekarang.

“Mianhaeyo,” kata Eunhyuk akhirnya. “Karena telah membuatmu menunggu selama ini.”

Hyoyeon tetap bergeming. Dia tidak bergerak.

“Ayolah, lebih baik kita tidur saja.”

***

Suasana terasa tegang sewaktu Hyoyeon melihat peti mati ibunya diturunkan ke dalam tanah.

Lututnya terasa lemas. Dia merasa tidak sanggup lagi berdiri. Air mata telah membanjiri pipinya dan gaun hitamnya. Dia menggenggam erat saputangan yang diberikan Eunhyuk padanya tadi pagi, berusaha menahan agar tidak menjerit memanggil ibunya.

Eunhyuk melihat Hyoyeon yang berusaha keras menahan tangis. Dia langsung memeluknya, berusaha membuatnya merasa aman, baik-baik saja. Napas Hyoyeon masih tercekat, seluruh tubuhnya tegang. Kelihatannya dia tidak bisa bernapas dengan benar karena menahan tangis.

“Keluarkan saja,” bisik Eunhyuk pelan di telinganya. “Keluarkan semuanya.”

Hyoyeon menggelengkan kepalanya berulang kali. “Aku… tidak… bisa…”

Para pekerja mulai menimbun peti mati ibunya dengan tanah.

Pemimpin upacara mulai memimpin doa. Hyoyeon masih berusaha menahan tangis di pelukan Eunhyuk. Begitu sudah ditimbun tanah sebelumnya, acara pun selesai dan semua orang yang datang berjalan mengelilingi makam dan menebarkan bunga. Tapi Hyoyeon tetap berada di pelukan Eunhyuk.

Begitu semua orang sudah pergi, termasuk Tn. Kim, Hyoyeon baru mendekat. Dia berlutut di samping nisan ibunya dan menangis tersedu-sedu. Tangisannya tidak separah sebelumnya—dia nyaris tidak punya tenaga untuk menangis sekuat tadi. Eunhyuk menepuk-nepuk bahu Hyoyeon, menenangkannya.

“Eomma… Eomma… Eomma…”

Terasa sakit bagi Eunhyuk untuk mendengar Hyoyeon merintih seperti itu, menderita seperti itu. Eunhyuk tahu dia tidak bisa bertukar tempat dengan Hyoyeon atau menarik penderitaan itu keluar darinya. Dia hanya bisa memeluknya dan meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Dia benci duduk diam seperti itu. Seandainya dia bisa melakukan sesuatu…

***

“Hyoyeon-ah, ayo kita pergi,” ajak Eunhyuk, sehari setelah pemakaman ibu Hyoyeon.

Hyoyeon menoleh. “Ke mana?”

Eunhyuk tersenyum penuh rahasia. “Kau akan tahu.”

Hyoyeon cemberut. Dia menaruh majalah yang tadi dibacanya. Terlihat jelas bahwa ada foto dirinya di dalam majalah itu. “Ke mana?”

“Anggap saja kita berkencan,” kata Eunhyuk santai. “Ayo!”

Mereka berdua keluar dari rumah besar keluarga Kim. Eunhyuk mengajaknya ke toko buku, suatu tempat yang tidak diduga Hyoyeon. Di sana, Eunhyuk membeli satu bungkus kertas lipat. “Untuk apa?” tanya Hyoyeon begitu Eunhyuk selesai membayar, tapi Eunhyuk hanya tersenyum.

Eunhyuk mengajaknya pergi ke sebuah toko fast food dan memesan paket untuk anak-anak. Lalu dia membawanya ke factory outlet dan membeli sebuah selimut berwarna kuning polos. Hyoyeon semakin tidak tahu apa yang dilakukan Eunhyuk. Jadi begini ide Eunhyuk akan “kencan”?

Akhirnya, Eunhyuk membawa Hyoyeon ke sebuah toko sepeda. Di situ, dia membeli sebuah sepeda berwarna putih polos. Hyoyeon tidak tahu berapa harganya, tapi kelihatan bahwa Eunhyuk tidak membawa banyak uang. Hyoyeon tidak mau tahu bagaimana cara Eunhyuk membelinya.

“Eunhyuk-ssi, sebenarnya apa yang kita lakukan?” gerutu Hyoyeon begitu Eunhyuk keluar sambil menenteng sepedanya.

Eunhyuk tertawa. “Kau akan tahu. Kita hanya perlu pergi ke satu tempat lagi.”

“Apa itu?”

“Toko cat.”

“Kenapa kau tidak membelinya tadi di toko buku?”

“Harus di toko cat khusus.”

Eunhyuk membeli cat khusus untuk sepeda tersebut dan keduanya kembali ke rumah keluarga Kim. Mereka menghabiskan waktu di halaman samping yang luas, tanpa bunga-bunga, hanya ada rerumputan yang sudah dipangkas rapi. Hyoyeon duduk di sebuah bangku kayu di tengah-tengah “padang” itu, sementara Eunhyuk mulai mengeluarkan barang-barang yang sudah dibelinya.

Hyoyeon menatapnya dengan antusias. “Apa yang akan kaulakukan?”

Eunhyuk nyengir. “Lihat saja nanti.”

Pertama, Eunhyuk mulai melipat kertas-kertas yang telah dibelinya tadi menjadi bentuk ikan, bunga, dan burung hantu. Eunhyuk menambahkan beberapa detail menggunakan spidol dan menempelkannya di tempat makan berisi paket makan anak-anak yang telah dibelinya tadi. Lalu dia menaruh tempat makan yang telah dihias itu di atas bangku. Kemudian dia mulai mengecat sepeda itu menggunakan cat semprot, sehingga sepeda putih polos itu menjadi berwarna-warni.

Hyoyeon tetap diam dan hanya mengawasi Eunhyuk. Setelah mengecat sepeda, Eunhyuk membentangkan selimut itu di atas jok sepeda dan mengikatnya, sehingga jok tersebut ditutupi oleh selimut. Kemudian, begitu cat sudah kering, Eunhyuk memasukkan tempat makan itu ke keranjang di depan stang sepeda.

“Selesai!” kata Eunhyuk puas.

Hyoyeon mengangkat alisnya. “Aku tidak mengerti.”

Eunhyuk kelihatan lelah, tapi dia masih tersenyum. “Sini.” Dia mengibaskan tangannya, menyuruh Hyoyeon untuk berdiri. Hyoyeon mematuhinya. “Duduk di sepeda.” Hyoyeon duduk di atas sepeda dan menggenggam stangnya erat-erat.

Eunhyuk membungkuk sedikit ke depan dan melepas ikatan selimut tadi, lalu membentangkannya sehingga menutupi roda belakangnya. Eunhyuk mencondongkan tubuhnya ke depan. “Dulu kau sering seperti ini, bukan? Setiap kali kita akan bersepeda, kau selalu melapisi joknya dengan selimut agar selangkanganmu tidak sakit. Kau juga membawa bekal yang dihiasi kertas lipat agar kau bersemangat makan sayur-sayuran. Dan kauhias sepedamu karena kau bosan dengan warna putih.”

Hyoyeon tersentak kaget. Eunhyuk tahu semuanya? Hyoyeon bahkan tidak menyadarinya! Jadi… Eunhyuk benar-benar Hyukjae? Bagaimana lagi dia bisa tahu hal-hal seperti ini kalau dia bukan Hyukjae?

***

Hyoyeon masih belum ingin kembali ke Seoul. Dia masih ingin menemani ayahnya dan seluruh keluarganya, melalui masa sulit ini bersama-sama. Dan keadaan menjadi lebih menyenangkan karena kehadiran Eunhyuk, yang masih berpura-pura menjadi namja-chingu Hyoyeon.

Suatu hari, Hyoyeon duduk di sebuah kursi putar di dapur. Eunhyuk tengah berbicara dengan anggota keluarganya yang lain, dan Hyoyeon sedang tidak ingin berbicara sekarang. Pintu dapur terbuka dan ayahnya masuk.

“Appa, waeyo?” tanya Hyoyeon.

“Aniyo, aniyo. Tidak ada apa-apa,” kata Tn. Kim. Dia berdiri di seberang Hyoyeon, yang menatapnya. “Kau dan Eunhyuk kelihatan cocok sekali, Hyoyeon-ah.”

Pipi Hyoyeon serasa terbakar. Mengapa suhu di ruangan ini panas sekali? “Ah, itu… Eh, terima kasih banyak, appa…”

Tn. Kim tertawa. “Kalian sudah cukup umur, kan? Dan appa yakin, ibumu ingin melihatmu menikah secepat mungkin.”

“Maksud appa?”

Tn. Kim tersenyum lebar. “Mengapa kalian tidak menikah saja?”

“Mwo?!”

*** TBC ***

Update yang sangat pendek! Mian ya… Yang penting udah ada part 4-nya, kan? Hehe…

Untuk part 5… Author nggak tahu kapan bisa update, tapi yang jelas tunggu aja, ya… FF ini akan segera berakhir *ngusap air mata* jadi terima kasih banyak buat readers… Tunggu kelanjutannya, ya…

Buat readers Lovesquare, tunggu part 2, oke?

Rencananya sih author mau bikin FF lain, tapi series aja… Author nggak begitu bisa bikin oneshot ._.v Kyanya sih TaeTeuk ato enggak SunSun, tapi yang mau request (?) pairing lain juga boleh, kok! Comment aja yaa…

Tolong jangan jadi SILENT READERS! Hargai author yang udah update dan mosting. Tinggalkan baik like, comment, dsb di Twinkle Super Generation!

Kamsahamnida!

12 thoughts on “Don’t Forget Me Part 4

  1. Author aku terharu banget baca ff nya#PLAKk
    Eunhyuk oppa soosweet banget,
    Tapi knpa thor, lgi enak² baca harus ada tulisan TBC,
    Hehe
    Part 4 ditunggu ya
    Never A long time ya thor
    HYOHYUK JJANG!!!

  2. Wah, bagus, seru, lucu, n nyentuh banget chingu. Ane suka ceritanya romancenya Hyohyuk yang masih belum jelas ini, tapi masalah yang tentang sikap eunhyuk itu akhirnya terbongkar juga. Tapi sayang aja meber SNSD selain 2 Kim Yeon-nya belum ada nih, next part adain ya. Oiy, ane ngerasa aneh aja ye unyuk manggil taeng noona. Wkwkwk.😀

  3. Hyohyuk jjang!!!!! Author-nim mianhaeyoo aku baru koment di part 4! Aku baru buka blog ini lagi, dan langsung baca ff ini!! Akhirnya ada HyoHyuk lagi!

    Sukaa banget sama ceritanya! Dingin, tapi romantis hihii.. Part 5nya jangan lama-lama yaa.. Happy ending yaah HyoHyuk nya!! Habis part 5 ada part lainnya lagi dong, biar panjang HyoHyuk nyaa hihi^^

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s