Stay With One Love (Part 4B)

 

Hello….#tereak pake Toak. Mian menunggu lama cz kmaren author gi sibuk – sibuknya kuliah *CurCol ^abaikan^. Sesuai permintaan aku bawakan part selanjutnya, *mian critanya ngawur and gak sesuai permintaan*. Aku udah coba banyakin moment Yoona Siwon –nya tapi yang utamnya tetep Yulsung Shipper!!. Ga usah cing cong lagi langsung aja cekidot!!!!!. #mian masih banyak Typo *ditendang readers*

# gak comment. Gak dilanjutin!!

# aku mohon ide dari kalian untuk gimana part selanjutnya,

#SILAHKAN MEMBACA GRATIS!!!!!.

# # # # # # # # # #

 

YURI POV

 

Aku berdiri menatap langit senja yang memasuki malam diatas balkon apartemen, sepertinya mendung dan mungkin akan turun hujan malam ini. Gumamku pelan. Entah kenapa perasaanku menjadi kalut seperti ini. Kejadian tadi sore membuatku kembali mengeluarkan air mata. Victoria menelpon dan mengajak Jong Woon pergi berdua akhir pekan ini. Aku kembali terisak pelan dan tanpa sengaja air mataku mengalir. Kurogoh sebuah benda yang ada disaku pakaianku dan segera memasangkannya ditelinga, sebuah earphone kecil yang dipasangkan pada I-phone berwarna putihku untuk mendengarkan sebuah lagu yang sebagai pelampiasan perasaanku. Kembali aku duduk dikursi yang ada dibalkon apartemen Jong Woon menekuk kakiku diatas kursi dan memandang kembali langit yang sedikit mendung.

“umma..” koor Jae Woon dan Nam Young yang membuatku kaget dan menoleh kearah mereka berdua.

“ne,” ucapku langsung mencium kening mereka masing – masing.

“dlon’t clly (don’t cry) umma.” Jae Woon tanpa sengaja meraba pipiku yang sehabis terkena air mata. Omona, jangan sampai kedua malaikat kecilku tahu jika aku baru saja menangis, aku tak mau membuat mereka sedih karena melihatku seperti ini.

“anii..I’m not cried chagi. Umma always smile, give priority you!!. Please give me umma your kiss.” Pintaku mengalihkan pembicaraan yang langsung disetujui oleh anggukkan mereka berdua. Mereka saling memandang satu sama lain dan..

Cupss…ciuman mereka berdua mendarat dikedua pipiku dan seketika itu rasa gundah dan ketakutan yang melandaku sedikit berkurang. Aku merentangkan kedua tanganku untuk menerima pelukan dari mereka berdua. Mereka berdua dan Jong Woon adalah anugerah yang terindah yang pernah kumiliki.

“Youngie. What’s this?.” Tanyaku kembali menggunakan bahasa inggris yang melihat benda biru berbentuk lingkaran ditangannya. Entahlah. Ini semua hasil didikan umma, eommonim dan Taeyeon eonni yang selalu menggunakan logat bahasa inggris ketika bertemu rekan lama. Dan akhirnya mereka berdua jadi suka meniru meskipun mereka tak bisa mengucapkan huruf keramat ‘r’ alhasil mereka berdua menjadi pusat perhatian orang yang mengajaknya berbicara.

“hal…meoni?.” Nam Young menunjukkan sebuah gelang berwarna biru yang secara tak sengaja keluar dari saku rok-nya. Aku memperhatikan secara seksama gelang yang disodorkan Nam Young padaku. Gelang berwarna biru laut yang dihias dengan ukiran pita yang melambai sungguh sangat cantik dan didalam gelang itu ada sebuah ukiran huruf Q juga.

“kau diberi gelang ini oleh halmeoni?.” Tanyaku kemudian mengangkatnya dan mendudukannya dipangkuanku. “no!.” Ucapnya tegas sambil menggelengkan kepala.

“so?..” ucapku menggantung menatapnya yang sedari tadi tengah mengutak – atik gelang tersebut. Kembali aku melihat seksama gelang tersebut lebih seksama lagi. Gelang ini berwarna biru bentuknya pun persis dengan yang digunakan yeoja itu saat pergi denganku. Omona, kenapa aku bisa berpikiran seperti ini. Aku memejamkan mata sejenak dan mencoba berpikir apa maksud dari semua ini?.

 

“eonni, aku lapar. Aku ingin makan. Hikss…hikkss…hikksss.” rengekku meminta padanya agar membelikanku makanan.

“sudah kubilang, siapa yang menyuruhmu ikut denganku. Kau itu dipanti saja. Aku bukan eonnimu pabo!!.” Yeoja itu membentak dan menoyor kepalaku kesamping serta mengataiku bodoh. Yeoja itu kemudian menarik tanganku dan mencengkeramnya erat serta mendorongku hingga jatuh tersungkur.

Hikss…hikkss….hiksss…aku kembali menangis semakin keras karena takut melihat yeoja itu marah. Memang kami tinggal bersama dipanti asuhan yang sama. Tapi yeoja itu selalu jahat padaku.

“diam kau!!. Aku bukan eonnimu babo. Dan satu hal lagi aku bukan anak sepertimu yang tak mempunyai orang tua!!. Aku masih memiliki seorang umma!!!.” Tekannya didepan wajahku yang membuat tangisku semakin keras.

 

Kenapa dalam ingatanku pernah terjadi kejadian yang seperti itu. Seingatku ku tak pernah mengalami kejadian seperti itu. Aku kembali merasakan sakit yang luar biasa dikepalaku dan terasa berputar – putar, sehingga aku segera menurunkan Nam Young dari pangkuanku serta memegangi kepalaku yang entah mengapa sakitnya luar biasa.

“arrghh…” kembali aku merasakan sakit yang luar biasa. Aku kembali memegangi kepalaku tapi pandanganku menjadi kabur secara mendadak dan semuanya tiba – tiba gelap.

*****

AUTHOR POV

“arrghhh…” Kembali Yuri merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya itu hingga merosot kebawah dari kursi yang didudukinya tadi. Makin lama keringat dingin keluar dari tubuhnya dan napasnya tersengal kembali.

“kenapa hoossshh….kau hoshh…melakukan itu padaku hossh..?.” Yuri meracau tak jelas sambil memejamkan matanya seakan tak sadarkan diri, napasnya tak beraturan dan seketika itu ia tak dapat menahan tubuhnya hingga ambruk begitu saja.

“umma….” teriak mereka yang mendadak menangis melihat Yuri pingsan seperti ini. Jae Woon yang melihatnya pun menangis sambil mengusap pipi Yuri yang penuh dengan keringat.

“um..ma. illeona (irreona). Get up..” hikss..hikss… mereka berdua menangis bersama melihat Yuri tergeletak seperti itu.

“illeona um..ma.” mereka berdua mencoba menggoyang – goyangkan tubuhnya agar sang umma tersadar kembali.

*****

Jong Woon tengah mencoba berkonsentrasi pada buku bacaannya disebuah perpustakaan kecil didalam apartemennya. Pikirannya sedikit tergangngu dan tak bisa sepenuhnya berkonsentrasi dengan apa yang ia lakukan, rasa bersalah menghinggapi perasaan Jong Woon tentang kejadian tadi sore. Kenapa Victoria mengajakku pergi berdua, dia belum tahu apa bahwa aku adalah nampyeon dari Kwon Yuri. Desisnya pelan sambil menutup bukunya kasar seakan jengah dengan perkataan Victoria ditelepon.

Jong Woon berjalan pelan berniat menghampiri Yuri kekamar. Ia tahu jika Yuri pasti akan sedih dan menangis setelah menerima telepon dari Victoria tadi, meskipun Yuri bersikap seolah – olah tak terjadi apa – apa. Tapi aku yakin ia tengah sedih, wanita mana yang tak terluka hatinya ketika menerima telepon dari seorang yeoja yang diketahui adalah teman dekat dari suaminya sendiri.

“um..ma. illeona (irreona). Get up..” hikss..hikss… suara tangisan Jae Woon dan Nam Young bersamaan yang begitu keras ,membuat Jong Woon segera melangkahkan kakinya secara cepat menuju kamarnya.

“illeona um..ma.” teriakan mereka semakin mengeras dan menjadi – jadi.

Brakkk…dibukanya pintu kamar secara kasar oleh Jong Woon karena ia merasakan ada sesuatu yang mengkhawatirkan didalam kamar.

“omona!!!. Yuri –ya!!.” Pekik Jong Woon yang terkaget melihat kondisi Yuri yang tergeletak dibalkon kamar serta Jae Woon dan Nam Young yang tengah menangisi Yuri. Jong Woon dengan sigap menggendong tubuh Yuri dan membaringkannya diranjang.

“uljima.. appa akan memeriksa umma dulu. Umma pasti baik – baik saja. Don’t cry chagi!!.” Ucap Jong Woon menghampiri mereka berdua dan mengelus kepala mereka yang sedari tadi sesenggukkan menangis. Dengan cekatan Jong Woon mengambil alat prakteknya dan segera memeriksa Yuri yang tengah terbaring.

*****

JONG WOON POV

Yuri –ya, kau kenapa lagi?. Mianhae, aku bukan nampyeon yang baik untukmu. Bahkan aku tak bisa menjagamu dengan baik. Aku mengelus kepalanya dan mencium keningnya lembut, saat ia masih belum sadarkan diri.

“um…mma..it’s ok?. We..chana(gwenchana)?.” Ucap Nam Young yang sedari tadi memeluk Yuri.

“gwenchana. Umma hanya lelah saja.” Bohongku. Aku tak ingin mereka mengkhawatirkan Yuri dalam kondisi seperti ini.

“lebih baik sekarang kalian tidur.” Perintahku pada mereka berdua dan segera menurunkan mereka dari ranjang kami. “night umma.” Koor Jae Woon dan Nam Young pelan seraya mencium pipi Yuri bersamaan.

“kajja!.” Ajakku padanya  dan menggiring mereka berdua memasuki kamar untuk menidurkannya..

Setelah menidurkan Jae Woon  dan Nam Young aku berjalan kembali kekamar, kulihat keadaannya masih sama. Belum sadarkan diri. Sebenarnya apa yang terjadi padamu chagiya?. Tolong jangan paksakan ingatan tentang masa lalumu, ini akan memeperburuk kondisi syaraf – saraf diotakmu.

“mianhae. Atas kejadian tadi sore. Kau pasti sedih.” Lirihku mengecup keningnya singkat dan tidur mendekapnya.

Tanpa kusadari perlahan –  lahan Yuri mulai menggerakkan tangannya dan sedikit demi sedikit membuka matanya. “eungghhhmm….” Ia mulai mengerang pelan dan membuka matanya secara utuh. Sontak aku pun terkaget, masih dalam keadaan setengah sadar Yuri pun mulai bergerak melepas dekapanku.

“Yuri-ya..” pekikku. Ia tersenyum melihatku setelah ia tersadar dan duduk memandangiku.

“oppa..” ia mengelus rambutku, seketika itu aku mulai bangun secara sadar.

“Yuri –ya. Kenapa kau melakukan itu lagi. Sudah kubilang jangan mengingat masa lalumu secara mendadak. Semua itu butuh proses, dan butuh waktu. Bukan dengan cara yang seperti kau akan menyakiti dirimu sendiri. Jebal, jangan seperti ini lagi.” Lanjutku lalu menariknya dalam pelukkanku.

“mianhae.” Ucapku menyesal atas kejadian Victoria menelponku.

“untuk?.” Tanyanya dengan raut muka tak mengerti.

“kejadian tadi sore.” Yuri mencoba mendudukkan diri dan kembali menatapku.

“Yuri –ya, aku tak tahu jalan pikiran Victoria kenapa ia bisa mengatakan kata – kata seperti itu. Tapi kumohon percayalah padaku jika kini aku benar – benar mencintaimu. Jebal, kkkaa…..” belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku Yuri sudah menempelkan bibirnya dibibirku dan melumatnya lembut, aku yang terkaget hanya membalasnya sebentar serta mendorongnya pelan.

“oppa. .Jangan pernah tinggalkan aku.” Yuri memelukku erat, apa yang ia bicarakan?. Pelukannya seakan menandakan ia tak mau kehilanganku. Demi Tuhan aku tak pernah ingin kembali pada Victoria aku mencintaimu Kwon Yuri. Tak ada yeoja yang aku cintai selain kau.

“ne, aku janji. Neon hangsang nae ma eumso ge (kau, selalu ada dihatiku). Aku tersenyum lembut memandangnya dan meletakkan kepalanya didadaku. Perlahan lahan kudekatkan bibirku kearah bibirnya, menciumnya lembut serta merasakan cinta yang tengah kami rasakan lewat sentuhan kedua bibir kami yang menyatu. Lama kami melakukannya hingga kami tersadar kehabisan napas karena terlalu menikmati sensasinya lalu melepasnya.

*****

Mataku membulat seketika saat melihat Jae Woon dan Nam Young yang entah darimana datangnya tiba – tiba sudah diambang pintu kamar kami sambil menutup matanya.

“sejak kapan kalian berdiri disana?.” Aku pun terkaget seketika mendapati mereka berdua tengah menutup mata dengan kedua tangan.

“appa..cssudahh?.” suara Jae Woon membuatku salah tingkah. Aigoo. Kenapa mereka bisa muncul mendadak seperti ini. Yuri menatapku kembali sejenak dan memutar badannya menoleh pada mereka berdua.

“kk..kalian belum tidur?..” tanyaku terkaget.

“come here chagi!.” Perintah Yuri. Seakan mengerti mereka berlari mendekati Yuri, tapi masih menutup mata mereka. “open your eyes!!.” Perintah Yuri sekali lagi dan mereka langsung membuka dan menatapku heran. Jae Woon mengkerutkan dahinya dan menatapku aneh dan tak lupa pipinya menggembung hingga bibirnya maju kedepan. Untuk beberapa detik kami saling berpandangan aneh. Menandakan ia kesal padaku.

Tuuukkk….

Sentilan jari Yuri yang tiba – tiba berhasil mendarat didahiku. “auuhh. . appo chagiya.” Aku mengusap – usap kepalaku sehabis Yuri menyentil dahiku sedikit cepat.

“apa yang sedang kalian lihat dan lakukan?. Seperti mau memperebutkan sesuatu saja!.” Tanya Yuri mememecah keheningan antara aku dan Jae Woon.

Tiba – tiba Jae Woon menguap. “ ap..pa. I’m cssleep (sleep).” Ia lalu merebahkan dirinya ditengah – tengah kami bersama Nam Young. Mwo?. Jadi ia menatapku seperti itu hanya untuk tidur disamping Yuri.

“um..ma night kiss.” Ucap Jae Woon dan Nam Young bersamaan sambil mengetuk – ngetuk bibirnya. Yuri pasrah dan menuruti permintaan mereka berdua serta mengecup bibir mungil mereka. Aku hanya bisa menggerutu tak jelas dalam hati bisa – bisanya anak seumuran ini minta jatah (?) pada Yuri. Aku segera menarik selimut dan menghadap berlawanan arah dengan Yuri daripada mendengarkan celotehan mereka berdua lebih baik aku tidur saja.

“app..pa..sall…ahae (saranghae).” Ucap keduanya ,mencium pipiku bergantian. Dasar Kim Yuri selalu berhasil membuatku luluh dengan menggunakan mereka berdua.

Beberapa saat kemudian aku mencoba melirik mereka berdua yang tengah tertidur dan Yuri masih membelai kepala mereka dengan sayang.

“Yuri –ya…” panggilku pelan.

“kau belum tidur oppa?.” Tanyanya melihatku mencoba mendudukkan diri bersandar pada dasbor ranjang.

“gomawo.” Kataku mencium kening mereka berdua. Mereka berdua ada karena aku memang mencintai Yuri. Aku sudah melupakan semua kenangan indahku bersama Victoria semasa aku mencintainya. Yuri yang telah menggantikan bahkan memiliki hatiku secara utuh, saat aku mencintai Victoria aku tak pernah merasakan rasa cinta sebesar ini dan sebahagia ini.

“untuk?.” Tanyanya bingung.

“kau sudah menghadirkan mereka berdua untukku.” Ucapku tulus memandang matanya yang teduh itu. Aku mencoba memeluknya erat.

“oppa. Jangan penah tinggalkan aku.”ucapnya membalas pelukanku. Aku mengusap punggungnya pelan serta menangkupkan tangannya diwajahku.

“nan jeongmal saranghae.” Lanjutku seraya menatapnya. Wajahku kian mendekat, deru napas kami saling terasa hingga…….

“stop it!!!….” henti Nam Young sambil menutup mata.

“Youngie. Kau belum tidur chagi?.” Tanya Yuri sedikit panik dan salah tingkah. Nam Young menggeleng masih dengan mata tertutupnya. Aku dan Yuri hanya tertawa kecil karena mengetahui ternyata mereka berdua sedikit jahil.

“kajja. Kita tidur.” Ucap Yuri kembali karena kehabisan kata – kata.

*****

Dua hari Kemudian…..

 

YURI POV

 

Jam menunjukkan pukul 8 pagi seperti biasa setiap pagi selalu disibukkan dengan acara membangunkan Kim Jong Woon dan Kim Jae Woon, untuk urusan tidur mereka berdua bisa dikatakan sebagai father’s and son romantic couple dalam kategori susah dibangunkan dan parahnya lagi ketika tertidur selalu berpelukan.

“op..pa irreona. Ini sudah jam 8 pagi. kau harus bekerja hari ini.” Aku mencoba mengguncang – guncangkan tubuhnya agar terbangun. Aku terus saja mengguncang – guncangkan hingga bangun namun tak ada hasil. Yang ada ia mengulet menghadap ke lain arah. Baiklah lebih lebih baik aku membangunkan Jae Woon  terlebih dahulu.

“Jae-ah. Wake up chagi..” tak lama kemudian Jae Woon langsung terbangun, masih dengan keadaan setengah sadar ia membuka matanya secara utuh. “good boy, Sekarang ayo kita mandi, dan ikutlah dengan umma!.”

“um..ma.” ucapnya menunjuk kedua matanya yang dipejamkan lagi.

“ne?.”

“kiss…” Aigoo. Jae Woon ini ternyata sifatnya persis sekali dengan Jong Woon. Kuturuti saja keinginannya dan mengecup kedua matanya singkat serta ajaib matanya terbuka secara utuh.  “kajja mandi. Um..ma nanti akan kesana.” Perintahku yang langsung diturutinya serta berlari menuju kamar mandi.

“oppa. Ppali irreona!!!. Sudah berapa kali aku membangunkanmu Kim Jong Woon?. Irreona!!!!.” Teriakku sedikit keras agar ia cepat terbangun sambil berkacak pinggang menatapnya kesal.

“chagi, beri aku waktu setengah jam lagi untuk tidur.” Ucapnya menarik kembali selimut menutupi tubuhnya. Aku menautkan salah satu alisku sambil menyeringai dan menyilangkan tangan.

“eeuuhhmm….baiklah. Tidak ada morning kiss untuk seminggu kedepan!!.” Teriakku sekali lagi. Yang sukses membuat Jong Woon terbangun secara mendadak.

“andwee!!!!…ne, aku bangun dan mandi.” Ucapnya seraya mengerjap – ngerjapkan matanya agar terbangun secara utuh.

“ppali!!.”

“morning kiss. .” lanjutnya seraya menarik tanganku agar muka kami saling berhadapan.

“shirreoo. Ppali mandi!!” Tolakku sekali lagi. Aku tertawa dalam hati mengerjai Jong Woon seperti ini. Mimik mukanya seperti Jae Woon beberapa saat yang lalu ketika juga meminta ciuman dikedua matanya.

Cuppsss….Aku mendaratkan kecupan sekilas dibibirnya.

“15 menit lagi kutunggu oppa dimeja makan. Kalau tidak…tak ada morning kiss untuk sebulan ini!!.”

“MWO??. Ne, aku akan mandi.” Pasrahnya menuruti keinginanku.

*****

Aku tengah bersiap – siap untuk berencana mengunjungi makam eomma dan appa. Karena Jinki oppa bilang bahwa ia dan keluarga kecilnya sudah mengunjunginya sehari yang lalu tepat dihari peringatan kematiannya kemarin.

“ok. Perfect.” Pujiku pada penampilanku yang sangat simple yang penting aku nyaman memakainya.

“umm..ma.” sebuah suara mengagetkanku dari seorang namja kecil.

“wae chagi?.” Aku melirik kakinya yang sedari tadi berjalan sedikit aneh. Oh~ternyata tali sepatunya belum diikat.

“what can I do for you chagi?.” Tanyaku padanya. Ia menunjukkan tali sepatunya yang tergerai kebawah. Aku segera berjongkok membenarkan tali sepatunya.

“Yuri-ya..” panggil Jong Woon dari ambang pintu sambil menggendong Nam Young yang sudah siap untuk pergi. Sementara ini Jong Woon belum memberiku izin untuk kembali bekerja setidaknya hingga kepalaku benar – benar pulih dari cedera. Tapi untuk hari ini ia mengizinkanku pergi, aku berencana mengajak Jae Woon dan Nam Young pulang kerumah orang tua angkatku untuk memperingati kematiannya.

“mianhae chagi. Aku tak bisa ikut memperingati hari peringatan kematian kedua orang tuamu.” Sesal Jong Woon.

“gwenchana oppa. Pasien dirumah sakit jauh membutuhkanmu. Kau bisa datang untuk nanti sore.” Ucapku tersenyum.

“Youngie, Jae Woon. Now, appa get problem with umma, so..would you like to go?..” pintaku pada mereka berdua.

“Eeeehhhhmm…aa..light (allright). Alla (arra).” Mereka mengangguk tanda mengerti dan berlari keluar dari kamar.

“oppa. Jangan suka mengajari mereka dengan logat Inggris. Aku takut mereka tak mengerti apa itu hangul.” Gerutu Yuri berkacak pinggang menatapku.

“tapi eomma yang mengajarinya bukan aku. Aku hanya meneruskannya saja, karena kulihat mereka cukup tanggap untuk menerimanya. Kau saja selalu bicara berbahasa inggris dengan mereka berdua. ” Ucapnya datar tanpa rasa bersalah.

“kau ini!!..” ucapku membalikkan badan. Tapi tiba – tiba tangan Jong Woon menahanku hingga ia berhasil memeluku serta menatapku.

“saranghae Kim Yuri.” Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku  perlahan – lahan memiringkannya dan alhasil bibirnya mendarat dibibir dengan sangat lembut. Ia melumatnya penuh kasih hanya ada rasa sayang yang mengalir pada kami. Aku pun tak segan – segan untuk membalas serta merasakannya.

“morning kiss!!.” Ucapnya tersenyum jahil setelah melepas ciumanku padanya.

“app..pa…umm…ma” teriak mereka berdua dari luar yang sudah tak sabar ingin pergi. Jong Woon menghela napas sejenak kerena mereka berdua tak mengetahui apa yang kami lakukan.

“umm…ma. GO!!!.” Koor mereka berdua seraya menarik tanganku.

*****

AUTHOR POV

 

Brakk…..sebuah pintu ruangan dalam apartemen dibanting oleh seorang yeoja yang tanpa sengaja langsung menghampiri sang namja dengan raut muka penuh amarah. Ia melempar tasnya begitu saja dan berjalan mendekati namja itu.

“oppa!!. Kenapa kau bisa lakukan ini pada Yoona eonni?.” Tanya yeoja itu menatap Siwon tajam.

“kapan kau pulang Sulli –ya?.”

“itu tak penting oppa!!. Sekarang jawab pertanyaanku oppa, KENAPA OPPA BERPISAH DARI YOONA EONNI?!!.” Teriaknya langsung dihadapan muka Siwon.

“itu bukan urusanmu Choi Sulli!!. Lebih baik kau kembali ke Paris daripada merecokki hidup oppa  disini.” Balasnya enteng.

“OPPA!!. Kau tahu oppa pesan almarhum mendiang eomma. Ia ingin melihatmu hidup bahagia dengan Yoona eonni. Apa kau lupa pesan itu heh!!!.” Sulli menekankan kata ‘eomma’ untuk merayu hati Siwon agar mengembalikkan Yoona kembali.

“DIAM KAU CHOI SULLI!!!. Oppa tak ingin membicarakan orang yang bernama Im Yoona itu. Dia telah merebut kebahagiaan oppa. Seharusnya oppa berbahagia dengan Yuri sekarang, bukan dengan Yeoja itu. Oppa membencinya!!.” Teriak Siwon tak mau kalah.

“kenapa harus Yuri?. Oppa tahu gadis itu mencintai oppa sepenuh hati?. Apa         dia masih mencintai oppa sampai sekarang sama seperti Yoona eonni mencintai oppa?.” Sulli berdecak kesal menghadapi kelakuan kakak laki – laki satu – satunya itu yang memang keras kepala.

“kau itu tak tahu tentang cinta. Diam saja kau!. Jika kau tak tahu apa – apa tentang Kang Yuri lebih baik kau diam saja!!. Semua ini juga karenamu, kau salah satu orang yang memaksaku menikah di Perancis saat itu.” Seringai Siwon menatap Sulli penuh amarah.

“lebih baik kau kembali ke Paris saja!.” Ucap Siwon menghembuskan napas mengalah. Ia tahu jika bertengkar dengan dongsaeng kesayangannya itu pasti selalu berakhir dengan teriakan.

“oppa pasti akan menyesal telah membuang Yoona Eonni!!. Suatu saat oppa pati akan mencintainya, camkan itu oppa!!.” Sulli menunjuk muka Siwon dengan telunjuknya.

Sulli memilih untuk keluar dan mengakhiri perdebatan sengit dengan Siwon daripada pertengkarannya berujung pada sebuah kebencian terhadap kakak laki – lakinya itu. Ia takut hubungannya dengan Siwon semakin merenggang dan hancur. Satu hal yang diharapkan Sulli adalah Siwon bisa mencintai Yoona dan hidup berbahagia dengannya.

*****

Siwon terduduk  ruang tamunya, ia memijit kepalanya sejenak. Beberapa menit lalu ia dan dongsaeng yeoja satu – satunya bertengkar lagi karena masalahnya dengan gadis yang bernama Im Yoona itu. Setelah 3 bulan bercerai dengannya ada saja permasalahan yang datang. Sebelumnya ia bertengkar hebat dengan appa-nya hanya karena Yoona berbicara baik – baik dengan appa tentang perceraian kami. Ini juga pemintaan Yoona, bukan aku yang meminta. Jadi kenapa mereka marah padaku. Tapi gadis itu kenapa selalu membuat hidupku tak karu – karuan. Satu tahun bersamanya membuatku merasakan sesuatu yang aneh padanya. Siwon memejamkan mata sejenak untuk merelakskan diri sambil memikirkan apa yang kini tengah ia rasakan.

FLASHBACK

 

Paris, March 2010

Yoona terlihat gusar dihari setelah pernikahannya dengan siwon. Perasaannya campur aduk antara bahagia, sedih, gundah, dan bingung. Ia bahagia karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Siwon, orang yang pertama kali membuat Yoona merasakan apa itu cinta dan akhirnya hari ini pun ia resmi menyandang marga Choi sebagai istri sah dari Choi Siwon. Sedih, karena ia tahu jika Siwon terpaksa menerima pernikahan ini karena permintaan eomma-nya yang tengah sakit keras.

“Yoona –sshi. Panggil Siwon pelan. Yoona segera tersadar dan menoleh pada sumber suara itu.

“oppa.” Yoona menatap Siwon yang tengah duduk ditepi ranjang seraya memunggunginya.

“asal kau tahu Yoona –sshi. Aku tak akan menerima pernikahan ini kecuali karena permintaan dari eomma. Jadi jangan harap aku akan menyentuhmu. Mengenalmu saja tidak.”

Yoona tersentak kaget dengan ucapan tiba – tiba yang begitu saja keluar dari mulut Siwon. Ia menatap lekat Siwon dan Yoona pun tak menemukan kebohongan atas semua perkataan Siwon. Hati Yoona merasakan sesak yang luar biasa, tapi cinta itu butuh pengertian dan kesabaran. Jadi ia harus bersabar menghadapi Siwon, ia percaya suatu saat Siwon pasti akan mencintainya.

“so, we not impossible sleep together. Isn’t impossible with me!!. Lebih baik kau bawa bantalmu dan tidur di sofa itu.” Perintahnya dengan nada kebencian sambil melempar bantal kearah sofa yang ditunjuk Siwon.

“mwo??…..”tanyanya sebelum dipotong oleh siwon.

“Mwo?” tanya Siwon. Micheosseo? Aku tak akan membiarkan seseorang yang tak kukenal tidur seranjang dengan. Aku paling benci dengan orang seperti itu.” Tekannya dihadapan muka Yoona.”

“…..” Yoona masih diam membisu dengan perkataan Siwon baru saja. Tiba – tiba saja Siwon melempar bantal disampingnya.

“kau tidur disofa. Tubuhmu kan kecil jadi sofa itu cukup besar untukmu tidur.” Perintahnya dan langsung tertidur.

Dalam hati Yoona merasa sakit. Tapi ia harus bersabar, suatu saat Siwon pasti akan mencintainya. Perlahan ia mulai berjalan mendekati sofa, sebelumnya ia tak lupa berdo’a sambil memegang kalung salib yang ada dilehernya. Dalam hati ia berdoa semoga Tuhan dapat memberinya kekuatan untuk menjalani kehidupannya.

FLASHBACK END

Siwon membuka matanya perlahan, dalam hatinya berkata apa ia harus mencari Yoona. Tapi tidak, untuk apa ia mencari Yoona mencintainya saja tidak. Pikiran Siwon berkecamuk kacau, diambilnya segelas Wine kemudian megukknya hingga habis serta tak lupa kembali ia membanting gelas wine tersebut. Segera ia mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar mencari ketenangan.

*****

Selama perjalanan pulang dari makam appa dan umma angkatnya Yuri memperhatikan mereka berdua yang selalu tertawa kecil ketika berjalan bersama. Yuri bahagia bisa memberikan sesuatu yang berharga bagi seorang Kim Jong Woon yaitu mereka berdua Kim Jae Woon dan Kim Nam Young.

“umm..ma?.”

“emmm?.”

“palllk..(park).” Ucap Nam Young yang menunjuk sebuah taman diserberang jalan.

“are you want go to park?. Surely?. Mereka berdua mengangguk pelan dan segera menarik tangan Yuri menuju taman diseberang jalan.

“Kim Jae Woon, don’t careless!!.” Perintah Yuri. Yuri yang melihatnya hanya bisa geleng – geleng kepala sambil tersenyum sendiri mengingat mereka sangatlah aktif untuk bermain.  Yuri segera mendudukkan dirinya dibangku taman berwarna putih dibawah pohon besar. Ia memandang Jae Woon dan Nam Young yang sedang bermain senang. Apa yang harus ia takutkan, jelas – jelas Jong Woon sangat mencintainya. Ini semata hanya ketakutan Yuri, karena ia terlalu mencintai Jong Woon.

Yuri mengusap layar ponselnya yang terpampang jelas foto dirinya dan Jong Woon kemarin saat baru bangun tidur. Ia secara sengaja mengambil gambarnya, tapi Jong Woon justru terbangun dan mengambil alih ponselku dan saling memotret. Yuri tertawa sendiri membayangkan kejadian kemarin yang baru saja terjadi.

From : My Sweety Husband

To: My Princess Wife

 

Kau sudah pulang?. Tunggu aku tetap disana!.

Yuri tersenyum sendiri mendapati kiriman pesan pendek dari orang yang dicintainya itu. Kembali ia menatap kedua malaikat kecilnya yang bernain dengan daun – daun dan bunga dimusim gugur ini.

“kita bertemu lagi.” Ucap seorang namja dari belakang. Yuri terkaget seketika dan mencoba membalikkan badan.

*****

YURI POV

 

“kita bertemu lagi.” Aku mendengar suara yang mengagetkanku dari belakang. Suara ini..suara ini.. . sontak pun aku menoleh meuju sumber suara.

“kk..kau.” ucapnya terkaget mendapai Siwon menyapanya sambil tersenyum. Kemudian Siwon duduk disampingnya. Yuri yang merasa ada Siwon didekatnya mencoba menggeser posisi duduknya.

“kenapa kau tak menjelaskan padaku saat tiba – tiba kau keluar dari rumah sakit?.” Ucapnya membuka pembicaraan.

“kurasa itu tak penting bagimu.” Ucapku dingin.

“baiklah aku tak akan bertanya lagi. Kau masih ingat tempat ini. Ini tempat kita pertama kali saat aku memintamu menjadi yeojachinguku. Aku harap kau masih mengingatnya. Karena saat itu aku tak akan pernah melupakannya.”

“…..” aku masih terdiam menanggapi perkataan seorang Choi Siwon. Bahkan aku lupa jika tempat ini adalah tempat kita dahulu. Sungguh kegagalanku saat menjalin hubungan dengan Siwon sudah kuanggap hanya sebagai masa lalu.

“katakan padaku alasan kenapa kau mau menikah dengan namja yang bernama Kim Jong Woon itu. Apa kau mencintainya Yuri?.” Tanya Siwon menatap lekatku yang masih memandang lurus kedepan. Aku masih mencoba untuk tak menghiraukannya.

“tentu aku mencintainya.”

“umm..ma. pffoll you (for you)!.” Jae Woon menyerahkan setangkai bunga krisan yang masih tersisa dimusim gugur.

“thanks chagi, let’s go home!!.” Aku segera memanggil mereka berdua, aku tak mau berlama – lama berada ditempat ini.

“um..mma.” koor mereka berdua yang berlari menghampiriku. Mereka berdua kemudian menarik tanganku untuk mengajakku mengelilingi taman sebentar.

“jadi kkaa….kau sudah memiliki…” ucapnya terbata – bata karena heran melihatku.

“ne, mereka berdua adalah malaikat kecilku dengan Kim Jong Woon.” Ucapku menoleh kearah Siwon. Untuk sepersekian detik Siwon bengong terheran melihatku. Aku yang merasa risih ditatap seperti itu segera melangkahkan kakiku pergi.

“tunggu dulu.” Cegahnya menarik tanganku erat.

“waeyo?.” Tanyaku sedikit ketus.

“apa aku masih punya kesempatan untuk memiliki hatimu, walau kini kau telah mencintai orang lain?.” Tanya Siwon tiba – tiba menggenggam tanganku erat.

“kau sudah tahu apa jawabanku. Tapi kenapa kau masih mengharapankanku lagi. Ku mohon tolong lupakan masa lalu kita. Semua sudah ku maafkan, lupakan aku!!.” Ucapku sedikit meninggi.

“jebal. . tolong berikan aku kesempatan, meskipun itu hanya 1% dari hatimu. Aku tahu hatimu kini milik orang lain. Tapi aku akan menunggu hingga kau dapat mencintaiku lagi.” Siwon meminta padaku dan memeluk pinggangku erat. Tanpa segaja air mataku jatuh, entah mengapa saat ini perasaanku kacau balau.

“tidak bisa Siwon –sshi. Hatiku sepenuhnya sudah menjadi milik Kim Jong Woon. Cobalah hatimu kau buka untuk Yoona, dan lupakan aku.”aku melepas pelukannya.dan berjalan menjauhinya.

“Jae Woon, Nam Young kajja kita pulang!!.”  Perintahku pada mereka berdua.

“tatap aku Yuri. Apa aku masih berbohong jika mencintaimu hingga detik ini. Ku mohon beri aku kesempatan untuk terakhir kalinya.” Ucapnya menarik tanganku kembali agar aku bisa menatap matanya.

“dengarkan aku Choi Siwon yang terhormat!!. Cukup sudah, berhenti mencintaiku!!. kau hanya terobsesi pada cinta masa lalumu!!. Teriakku lantang menghadap mukanya lalu mendorong tubuhnya dan pergi meninggalkannya.

*****

Yang kulakukan sekarang hanya bisa menangis dan menahan emosi yang berkecamuk dalam diriku. Aku memang mencintai Siwon tapi itu dulu sebelum aku menemukan Kyuhyun dan kini berlabuh serta menetapkan hatiku pada Jong Woon. Cinta terakhirku. aku tak peduli jika ia mengikutiku atau tidak, yang terpenting bagiku sekarang adalah masa depanku dengan Jong Woon oppa. Hanya itu, cukup hanya itu.

“umm…ma.” teriak mereka berdua memanggilku dari belakang. Tapi aku tak terlalu mempedulikannya hingga aku sampai didalam rumah tanpa memperhatikan keberadaan Jong Woon. Aku segera masuk kamar dan mengunci pintunya. “mianhae, oppa aku tak mau membuatmu terluka karena menyangsikan cintaku, jujur dari dalam hatiku aku hanya mencintaimu. Tak ada lagi bayang – bayang Siwon dalam pikiranku.

Aku menutup pintu kamar secara kasar dan menguncinya, tubuhku bersandar pada pintu. Semakin lama aku merosot kebawah hingga tangisku pecah kembali. Kenapa saat aku sudah mencintai Jong Woon, kau hadir kembali. Dimana saat aku membutuhkanmu 6 tahun lalu, kau malah tak pernah menganggapmu.

“kita cukup sampai disini. Mianhae, aku telah memintamu mencintaiku. lupakan aku Yuri –sshi. Carilah penggantimu, karena aku tak lagi mencintaimu.” Kata – kata itu sungguh menyakitkan bagiku. Bahkan hingga saat ini aku tak bisa melupakan kata – kata itu.

“op…pppa. kau berjanji padaku unn..tuuk…” belum sempat aku melanjutkannya ia sudah memotongnya.

“aku tak pernah berjanji padamu.” Ucapnya dingin lalu berjalan menjauhiku.

 

Kata – kata itu tak akan pernah kulupakan Choi Siwon!. Kwon Yuri, sadarlah. Siwon hanya masa lalumu, sekarang kau sudah memiliki Kim Jong Woon. Aku hanya bisa menekuk kakiku disamping ranjang berusaha melupakannya, masih dengan air mata yang sedikit mengalir.

 

*****

 

JONG WOON POV

 

Sekarang disinilah aku, disebuah cafe yang suasananya sedikit sepi. Victoria mengajakku untuk bertemu sebentar. Baiklah kuturuti keinginannya, aku punya waktu 30 menit saja sebelum aku pergi menjemput Yuri.

“Jong Woon –ah. Ucap seseorang yang menepuk pelan bahuku.

“mian aku terlambat.” Lanjutnya seraya duduk didepanku.

“wae, kau ingin bertemu denganku?.” Tanyaku datar. Victoria terdiam sebentar dan menghela napas pelan.

“ada yang harus kukatakan padamu Jong Woon -ah.”

“aku hanya punya waktu 30 menit untuk bertemu denganmu, jadi cepat kau katakan!. Jika untuk kejadian kau menelponku saat itu. Aku dan Yuri sudah memaafkanmu.” Kataku bijak.

“anii. Aku punya alasan mengapa aku mengatakan seperti itu. Karena aku..karena aku..” ucapnya menggantung.”

“ne?.”

“jika aku bertanya tentang perasaanmu?. Apakah perasaan itu masih sama seperti yang dulu saat kau mencintaiku. apa kau akan menjawabnya?.”

Degh…hatiku kaku seketika. Kenapa Victoria bisa mengatakan seperti ini. Perasaan itu, perasaan itu sudah kuhilangkan beberapa tahun lalu saat aku terlalu sakit melihatmu bersanding dengan namja lain didepan altar diusiamu ke-20 tahun.

“apa aku harus menjawabnya?. Ini konyol Victoria Song!.”

“nan neomu saranghae Kim Jong Woon (aku sangat mencintaimu Kim Jong Woon).” Ucap Victoria lirih dan menunduk. Aku terhenyak kaget dan mematung seketika dengan perkataan Victoria. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, bagaimana dengan status pernikahanmu dengan Shim Changmin.

“keundae, apa kau sadar status kita berdua sekarang?. Micheosseo?.” Tanyaku

“aku sadar, kau telah menikah dan memiliki Aegi dengan Kwon Yuri. Tapi apakah aku masih bisa mencintaimu meski kini kau telah bersama orang lain?.” Ucapnya mulai mengeluarkan air mata.

“bbb..uukkaan itu maksudku Victoria. Tapi bagaimana hubunganmu dengan Shim Changmin, dia itu suamimu Victoria!!.” Tekanku sedikit meninggi tapi masih dengan intro yang pelan.

“what?. Shim Changmin. Aku tak pernah menikah dengannya. Sejak kapan aku menikah dengannya?.” Victoria terbelalak kaget dengan perkataanku. Jelas – jelas didepan mataku kau menikah dengan Shim Changmin. Apa Victoria terserang amesia akut hingga melupakan suaminya sendiri.

Aku jengah dengan perkataan Victoria yang semakin lama semakin ngelantur saja. Aku segera berdiri dari kursi dan tak mempedulikannya serta berjalan keluar menuju mobil. Tapi secara cekatan tangan Victoria menahanku.

“apa aku tak pantas untukmu?. Apa masih hatimu terbuka untuk walau hanya sekecil debu. Aku tahu aku salah jika mencintaimu. Tapi salahkah jika rasa ini muncul?.” Tangan Victoria menahan lengan tanganku. Air matanya mulai membasahi pipinya.

“….”aku menarik napas panjang, kedua mataku mulai memanas. Ini yang aku harapkan. Kata – kata ini yang aku tunggu keluar dari mulutmu 6 tahun lalu. Tapi kenapa kau tak pernah mengatakannya saat itu. Aku tak merespon perkataannya dan segera masuk kedalam mobil dan melajukannya untuk menenangkan hatiku sebentar.

 

*****

 

Pikiranku kacau semua. Ini semua akibat perkataan Victoria. Victoria, kenapa kau membuatku seperti ini lagi. Bukankah kau mencintai Shim Changmin, lalu kenapa kau mengatakan jika mencintaiku?.

Sesaat kemudian aku merogoh ponselku dan mengusap layar untuk memastikan jika Victoria tak mengirimi sebuah pesan pendek yang membuatku muak. Ku usap layar poselku yang menampakkan wallpaper aku dan Yuri mengulum senyum bahagia. Aku terenyuh untuk beberapa detik, aku sadar kini aku hanya memiliki satu cinta yang mengisi ruang hatiku yaitu Kim Yuri. Aku menghela napas pelan dan tersenyum lembut memandang foto Yuri tengah berbahagia. Segera kuketik beberapa kata untuk mengiriminya pesan pendek.

 

To: My Princess Wife

 

Kau sudah pulang?. Tunggu aku tetap disana!.

 

Bunyi klakson dibelakangku menyadarkanku sejenak untuk kembali melanjutkan perjalanan menemui seorang yang bernama Kim Yuri. Seorang yang telah mengisi hidupku selama ini. Tapi kedua manik mataku menangkap sesuatu yang indah diseberang jalan. Aku segera menepikan mobilku dan berjalan menuju toko bunga tersebut.

Seikat bunga mawar putih, gumamku pelan. Yang terbayang dalam benakku adalah yuri menerima bunga itu lalu tersenyum melihatku. Itu sudah cukup bagiku.

 

Beberapa saat kemudian….

 

Aku segera turun dari mobil dan menuju pekarangan rumah Yuri. Sebentar lagi dia pasti akan pulang. Tunggu dulu, pintu rumahnya tidak terkunci hanya sekedar ditutup saja. Mungkin karena makam kedua orang tuanya dekat dari sini, lebih baik aku menghampirinya saja. Aku kembali berjalan keluar tapi kulihat dari kejauhan Yuri tengah berjalan cepat dan Jae Woon, Nam Young mengikutinya dari belakang.

“umm…ma.” teriak mereka berdua memanggil Yuri dari belakang. Astaga Yuri menangis, kenapa dia?. Yuri tetap masih berjalan. Tanpa mempedulikan teriakan mereka berdua yang memanggilnya. Sesaat ia melihatku dan langsung pergi meninggalkanku memasuki rumah.

“Jae- ah. Waeyo?!.” Tanyaku bingung melihat sikap Yuri yang seperti itu, mendadak menangis.

“bad boy..” sela Nam Young yang menunjuk seorang laki – laki berpostur tinggi dibelakangnya. Aku langsung melihat denga seksama orang yang ditunjuk mereka berdua.

Choi Siwon!!. Benar itu Choi Siwon, untuk apa dia datang kemari. Apa jangan – jangan dia yang membuat Yuri menangis?. Aku segera menengadah keatas menatapnya ketika ia terhenti sejenak melihatku.

“kalian berdua segera masuk. Appa get something with him?.” Perintahku pada mereka berdua yang segera dituruti.

 

*****

 

“dimana Yuri –sshi?.” Tanya Siwon ketus.

“ jadi kau yang membuatnya menangis heh?.” Tanyaku sedikit marah padanya.

“belum puas kau membuat Yuri tersakiti seperti 6 tahun lalu. Sekarang kau mau menyakitinya kembali?. Namja macam apa kau ini. Kau pikir aku akan membiarkanmu menyakiti Yuri kembali. Hal itu tak akan pernah terjadi. Camkan itu baik – baik Choi Siwon –sshi.” Lanjutku penuh penekanan menahan amarah.

Siwon menyeringai kecil melihat mimik mukaku yang penuh amarah. “ aku akan mengembalikan hati Yuri seperti saat itu.”

Kedua tanganku mengepal pikiranku menjadi semakin kacau, amarahku kini sudah tak bisa dibendung lagi. Choi Siwon!!!. . namja ini akan merebut Yuri dariku. Tak akan pernah kubiarkan. Sampai kapanpun tak akan pernah kubiarakan ia mengusik kembali hidup Yuri dan menyakitinya.

“katakan sekali lagi?!.” Sentakku penuh penekanan didepan muka Siwon.

“aku ingin merebut Yuri darimu…”

 

BUUGH

 

Aku meninju Siwon dan seketika itu tubuhnya terhempas. “apa kau gila?. Micheosseo?!. Dia itu istriku!!!!.” pukulan keras dariku berulang kali kulayangkan kewajah Siwon yang berada dalam kuasaku. Tapi tak segan – segan Siwon pun membalasnya kembali.

“kau boleh memukulku sesuka hatimu. Tapi kau tak bisa mengingkari jika cinta yang Yuri tak bisa lupakan adalah cinta pertamanya yaitu aku. AKU KIM JONG WOON –SSHI!!!!. Siwon mengusap sudut bibirnya yang terluka karena pukulanku. Seolah – olah ia akan membuktikan ucapannya itu.

“ Jangan pernah lakukan hal itu Choi Siwon! “ desisku tajam pada Siwon yang masih sibuk dengan darah yang keluar dari bibirnya. Aku segera melangkah gontai masuk kedalam rumah Yuri tanpa mempedulikan keadaan Siwon yang entah bagaimana.

 

AUTHOR POV

 

Sudah lebih dari dua jam Yuri mengunci pintu kamarnya. Jong Woon semakin merasa khawatir tak karu – karuan. Dilihatnya juga Jae Woon dan Nam Young juga baru berhenti menangis.

“Yuri –ya. Bisa kau buka pintunya. Aku ingin bicara sebentar!!. Jebal, kau jangan seperti ini” Ucapnya mengetuk pintu berkali – kali. Jong Woon sengaja membiarkan Yuri untuk sementar waktu menenangkan diri, ia tahu Yuri pasti sedikit merasa bersalah pada masa lalunya dengan Siwon.

Yuri hanya membuka kuncinya saja tanpa membuka pintunya dan kembali ia melanjutkan acara melamunnya. Entahlah yang ada dipikirannya saat ini, ia merasa pikirannya campur aduk penuh rasa emosi yang suatu saat akan meledak. Disaat pikirannya mencoba menghilangkan kecurigaannya terhadap Jong Woon dan Victoria, justru Siwon kembali bahkan ia bisa mengatakan jika Siwon masih mencintainya.

“Yuri –ya..” panggil Jong Woon lirih. Yuri masih tak bergeming dan tetap menekuk lututnya sebagai tumpuan atas dagunya. Jong Woon membelai rambutnya dan memeluknya erat. Dirasakannya ada sesuatu yang mengalir dari bahunya. Astaga!, Yuri menangis.

“mianhae…” ucap Yuri sesenggukkan menutup mulutnya.

“jujur aku tak mau seperti ini. Oppa, aku tahu kau pasti marah ketika melihat ini. Tapi perasaan itu sudah kuhilangkan sejak kami berpisah. Hikss..hikss…”

“app..paa ini gara – gara aku oppa?.” lanjutnya mengusap sudut bibir Jong Woon yang sedikit lecet.

“gwenchana. Aku tak apa – apa. Ini hanya luka kecil, tidak terlalu sakit.”

“mungkin bagimu luka itu tak sakit oppa. Tapi hatimu?. Aku tahu hatimu terlalu sakit jika mengingat kejadian ini ketika bertemu Siwon.”

“tolong percayalah padaku jika aku benar – benar mencintaimu dan berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku oppa.”

“ne. Aku janji. Berjanjilah padaku juga jika kau tak akan pernah meninggalkanku.” Ucap Jong Woon lirih. Jong Woon mencium kening Yuri lembut, sangat lembut seakan tak mau kehilngannya lalu menariknya dalam pelukan hangat.

 

*****

 

Seminggu kemudian…….

 

Yoona berdiri diatas balkon rumah kecil yang dibelinya. Rumah ini bisa dikategorikan cukup mewah, hanya saja ukurannya minimalis. Ia mengehela napas panjang dan menghenbuskannya pelan – pelan setelah seharian penuh penat dengan rutinitas diboutique-nya yang berada di Daegu.

“apa kabar kau hari ini chagi?.” Yoona mengelus pelan perutnya yang mulai membesar. Ia tiba – tiba saja teringat pada Siwon. Apa kabarnya namja itu?. Bagaimana keadaanya?. Apa dia sudah makan?. Pikiran itu kembali ditepisnya. Tidak, ia harus kuat hidup sendiri membesarkan anak ini tanpa Siwon terlebih lagi Siwon tak ingin ia dan anaknya hadir dalam kehidupan baru Siwon.

Drrtt….drrrttt…sebuah panggilan masuk meyadarkanku dari lamunan sesaatku.

“yeoboseo. . ne. . aku akan pergi ke Seoul sekarang!!.”

“Baiklah sekarang saatnya memulai kehidupan baru melupaakan masa laluku.” Ucap Yoona menyemangati dirinya sendiri.

Ia kembali melangkahkan kakinya dan mengambil sweater yang tergeletak diranjangnya untuk  pergi keluar memulai hidupnya yang baru.

 

@Seoul Mall City

Yoona memulai penyamarannya karena saat ini tengah berada dikota Seoul. Ia takut jika sewaktu – waktu bertemu dengan Siwon dalam keadaan seperti ini. Di Seoul mall ini ia mendirikan cabang dari Daegu ini untuk mempromosikan beberapa dress rancangannya. Memang baru dua bulan cabang di Seoul ini diuka, tapi anehnya pelanggan kelas atas selalu menyerbunya.

“mian agasshi. Ada yang bisa saya bantu?.” Tawar salah satu pegawai diboutique itu.

“ne. Aku mencari sebuah gaun untuk orang yang kusayangi. Mungkin anda bisa membantu?”

Omona!!. Kenapa ada dia disini?!. Batin Yoona. Mata Yoona terbelalak kaget mendapati Siwon tengah berdiri didepannya. Ia segera membalikkan badan agar tak terlihat oleh Siwon, ia tak ingin Siwon mengetahui keadaannya yang seperti ini. Kenapa pada saat seprti ini ia bisa bertemu Siwon ditempat ini?.

Siwon membeli gaun?. Untuk siapa ia membeli gaun itu. Orang yang disayanginya?. Omona!! Apa mungkin Yuri. Ia terkaget seketika dengan pikirannya seperti itu. Yoona segera pergi menjauhi Siwon dari tempat itu dan kembali menuju ruangannya.

Yoona terduduk lemas disofa ruangannya. “aegi. Kau tahu yang umma lihat tadi adalah appamu. Umma sangat mencintainya, tapi appa selalu membenci umma.” Tanpa sengaja Yoona meneteskan air matanya, tangisnya tak kuasa ia bendung. Setelah 3 bulan berpisah dengan Siwon, Siwon tetaplah Siwon tak pernah sedikitpun melihatnya sebagai wanita yang dihargai dalam hidupnya.

“mulai hari ini umma janji akan membesarkanmu sendiri Aegi, tanpa appa. Kau tahu aegi sekarang kau adalah alasan umma untuk hidup.” Isak Yoona lirih sambil menangis dan mengusap perutnya.

 

*****

 

YURI POV

 

Akhirnya setelah memohon dan meminta pada Jong Woon agar aku kembali bekerja kembali terkabul juga. Kini aku sudah berada dikantor. Ternyata hampir dua minggu kutinggalkan ruangan kerjaku banyak laporan yang harus diteliti. Aku harus beberapa kali membacanya karena aku baru saja terjun keduni bisnis perhotelan, sebenarnya aku ingin mengambil lagi kuliah strata dua dijurusan ekonomi bisnis untuk lebih memperdalam ilmu ekonomiku dan Jong Woon pun telah mengizinkanku tapi aku masih berpikir ulang kembali sekarang keadaanya Jae Woon dan Nam Young tengah membutuhkanku sangat mengingat mereka masih berumur belum genap 2 tahun. Jadi sangat sulit untuk meninggalkannya.

“bagaimana Sajangmin?. Apa anda masih kesulitan?.” Mataku masih mengamati beberapa angka yang ada didokumen tersebut.

“euuhhmm, Ryewook –sshi. Bisa kau jelaskan ulang padaku tentang proyek pembangunan cabang diluar kota ini!.”

“Baiklah nona nanti sekretaris anda Choi Sulli akan menerangkan hasil rapat kemarin, tapi anda harus menilai dan menyetujui hasil design project yang anda berikan bulan lalu. Ini untuk peluncuran progam hotel ini yang terbaru.

“baiklah aku akan segera mengeceknya.” Aku segera keluar ruangan dan mengecek semua desain project yang akan diluncurkan bulan depan untuk tema musim gugur. Mulai dari desain kamar, pelayanan khusus, hingga tempat untuk memanjakan pemandangan mata. Kunyatakan project ini siap diluncurkan dalam rangka menyambut puncak musim gugur.

Tiba – tiba beberapa orang staf tengah berlari menuju ke kolam renang yang akan aku cek untuk project minggu ini. Aku heran melihat beberapa staf ini berlari, sepertinya terjadi sesutau yang aneh. Dengan cepat aku akhirnya mengikuti mereka.

 

*****

 

“nona Song… nona Song terjatuh dan masuk kedalam kolam renang.” Ucap salah seorang pegawai yang melihat kejadian itu. Aku segera masuk kedalam kerumunan beberapa orang yang tengah panik melihat kejadian ini.

“Victoria Song!!.” Pekikku terkaget melihatnya tengah tenggelam dikolam renang hotel ini. Tanpa ba-bi-bu lagi aku segera menceburkan diriku masuk kedalam kolam renang untuk menyelamatkannya. Sekarang yang terpenting adalah keadaan Victoria sebelum paru – parunya terisi lebih banyak lagi air.

Kuraih tangannya dan menumpukkannya dibahuku agar aku bisa dengan mudah menariknya. Beberapa orang berteriak – teriak memanggil namaku dan Victoria. Aku segera menariknya dan berusaha berenang untuk menuju keluar dari kolam. Ditepi kolam sudah ada beberapa orang yang akan membantu.

Victoria, jebal sadarlah. Batinku menyemangatinya. Segera kuberi nafas buatan untuk dapat mengeluarkan air yang ada ditubuhnya. Beberapa kali aku memberikan pertolongan pertama agar ia bisa cepat mengeluarkan air secepatnya.

 

BLUURR.

 

Ia memuntahkan air yang baru saja ada didalam tubuhnya. Hoshh..hossh..aku mencoba mengatur napas sejenak untuk menormalkan kembali pernapasanku.

“sebaiknya kita bawa nona Song ke rumah sakit.” Ujar salah seorang staf.

“tunggu dulu. Sebaiknya kita tunggu beberapa jam, apa dia masih mengalami sesak napas atau tidak. Mengingat dia baru saja menerima pertolongan pertama.” Cegahku.

Sekilas kulihat benda melingkar yang dipakai Victoria ditangan kirinya. Gelang berwarna biru laut yang dihias dengan ukiran pita yang melambai. Tunggu dulu, kenapa gelang ni persis dengan gelang yang dibawa Nam Young beberapa waktu lalu dan gelang ini juga yang kulihat samar – samar ketika aku jatuh dari tangga dua minggu lalu. Dengan sedikit lancang aku mengambil gelang berwarna biru itu dari pergelangan tangannya. Semoga tak ada lambang huruf didalamnya seperti gelang yang Nam Young ambil dari eomma. Tapi Tuhan berkata lain ada tulisan H didalam gelang ini. Oh Tuhan sebenarnya apa yang terjadi?.

huk..huk..huk…Victoria mulai tersadar dari pingsannya. Omona!!. Darah!!, kagetku. Kulihat  darah kental tiba – tiba keluar mengalir begitu saja dari hidung Victoria. Segera kututup hidungnya dengan Jari telunjukku agar darah itu take kembali mengalir. Seingatku dalam pelajaran pemberian pertologan pertama saat orang tenggelam tak akan ada darah. Apa jangan – jangan Victoria menderita suatu penyakit?. Aishhh Kwon Yuri apa yang kau pikirkan. Jangan mevonis seseorang yang tidak – tidak, mengingat kau bukanlah seorang suster lagi.

“tahan sebentar, hidungmu sedang mengeluarkan darah. Biarkan darah ini berhenti mengalir dulu” perintahku pada Victoria agar ia tak banyak gerak.

“tolong bantu aku memindahkan nona Victoria kekamar.” Lanjutku  pada beberapa orang staf yang melihat kejadian ini.

 

*****

 

Kini aku dan Victoria tengah berada disebuah kamar hotel setelah pakaian kami berganti menjadi pakaian kering. Aku menyodorkan segelas minuman hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang baru saja kedingingan sehabis diangkat dari kolam renang.

Ini seperti De Javu saja bagiku. Gadis itu, gadis yang memakai gelang biru itu juga tak bisa berenang. Dia pernah hampir tenggelam didanau karena hampir mendorongku masuk kedalam danau. Ya Tuhan. apa jangan – jangan gadis itu adalah…. . tidak aku tak boleh berpikiran seperti itu. Segera kuhilangkan kecurigaanku terhadap Victoria.

“bolehkah aku bertanya padamu.” Ucapku memecah keheningan antara aku dan dia. Hanya ada bunyi sesapan minuman hangat.

“kenapa kau bisa tiba – tiba terjatuh?. apa kau tak bisa berenang?.” Tanyaku pelan – pelan.

“ne, aku memang tak bisa berenang.” Ucapnya ketus.

“dan apakah kau menderita sebuah penyakit?,  maaf aku bertanya lancang. karena tiba – tiba saja hidungmu mengeluarkan darah. Dan itu mustahil jika orang yang tenggelam setelah tersadar mengeluarkan darah dari hidungnya.” Jellasku padanya.

Ia menatapku tajam. “ kau jangan sok tahu Kwon Yuri sajangmin.” Kembali ia berucap dingin padaku. Tapi aku kembali melihat darah keluar dari hidungnya.

“Victoria – sshi, Tahan sebentar!!.” Aku segera mengambil tissue dan mengangkat dagunya keatas agar darahnya tak mengalir kebawah dan berhenti. Victoria segera mengambil beberapa obat dari tasnya dan meminumnya. Benarkah ia menderita sebuah penyakit. Kulihat sekilas juga obatnya bukan obat biasa. Obat ini hanya menggunakan resep dokter tertentu dan hanya untuk beberapa penyakit yang bisa dikategorikan berat seperti kanker mengingat aku pernah beberapa kali memberikan obat jenis ini pada pasien yang menderita kanker.

Setelah cukup tenang keadaannya kembali, kami terdiam beberapa saat sebelum Victoria membuka suara.  “apa kau mencintai Jong Woon?.” Tanyanya tiba – tiba yang membuatku menatapnya heran.

“tentu aku mencintainya.” Jawabku meyakinkan diriku.

“Aku mencintainya!!.” Ucap Victoria memandang lurus.

Degh…aku mematung seketika, tiba – tiba lidahku kelu dan tenggorokanku tercekat tak bisa mengeluarkan suara. Kenapa ia bisa bicara seperti itu apa maksudnya.

“kau tahu, sebelum Jong Woon mengenal anda. Jong Woon pernah mencintaiku. Dan aku yakin jika kini aku benar – benar mencintainya.”

“kau tahu Victoria –sshi. Aku sangat mencintai Jong Woon. Dan sekarang Jong Woon telah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku?.” Aku masih diam dengan perkataan Victoria, ingin aku memakinya habis – habisan sekarang juga. Tapi aku sadar jika kini ia tengah dalam kondisi yang tak memungkinkan.

“aku tahu. Tapi apa aku salah jika aku mencintainya?. Aku akan membuat diriku pantas dicintai lagi oleh Jong Woon. Dan aku akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkannya.” Mataku mulai memanas berusaha menahan air mata yang akan turun dan emosi yang akan memuncak. Hatiku hancur mengetahui jika Victoria akan merebut Jong Woon dariku. Aku segera berjalan terburu – buru keluar dari kamar hotel Victoria berusaha meredam tangisku didepannya.

 

*****

 

JONG WOON POV

 

Hari ini memang aku sengaja tak melayani pasien seperti biasa, hanya beberapa yang mengadakan jadwal check up denganku. Maka dari itu lebih baik aku ulang lebih cepat hari ini mengingat Jung ahjumma hanya sebentar menjaga Jae Woon dan Nam Young. Kulihat mereka berdua tengah bermain. Jae Woon dengan robot dan mobil – mobilannya sedangkan Nam Young dengan boneka teddy bear dan kelinci kesayangannya.

“I’m bolliing (boring).” Ucap Jae Woon membanting mobil – mobilannya.

“labbit (rabbit).” Ucap Nam Young menawarkan boneka kelincinya. Jae Woon menggelengkan kepala dan tetap saja tak mau. Aku meliriknya sebentar masih dengan tangan yang masih berkonsentrasi pada tombol PSP. Tiba – tiba saja pandangannya memfokuskan pada benda yang sedang kupegang.

“ap..ppa.” panggilnya.

“ne, wae?.” Ucapku pura – pura tak memperhatikannya. Ia menujuk – nunjuk benda berwarna hitam pekat yang sedang kupegang.

“are you want?.” Tanyaku padanya dan ia mengangguk pelan.

“okay, but it’s requirement?.” Kembali ia mengangguk dan mencoba berdiri mengambil PSP yang ada ditanganku.

“jangan dirusak.” Perintahku memberikan kepadanya. Ia mengangguk pelan/

“jangan diambil baterainya.” Lanjutku

“jangan dibanting dan jangan…..” belum sempat aku melanjutkannya ia sudah memotongnya.

“shlut up!! (shut up = diam).” Teriaknya.

Mwo?. Anak ini sungguh menyebalkan. Siapa yang mengajarinya seperti ini?. Apa jangan – jangan Umma dan appa saat membawa mereka pergi ke Inggris untuk mengunjungi Taeyeon.

“app..pa.” sekarang Nam Young yang memanggil.

“milk.” Oke. Baiklah ini resikonya menjaga mereka berdua. Tapi demi mereka akan kulakukan apapun. Aku segera beranjak kedapur sebentar untuk membuatkan dua botol susu untuk mereka berdua.

Sesaat kemudian mereka segera meminum habis botol yang berisi penuh susu tadi dan mungkin karena kekenyangan mereka berdua tertidur diatas karpet yang kuberi bantal. Kulirik jam kembali. Jam dua siang. Pantas saja mereka berdua mengantuk, ini sudah masuk waktu tidur siang bagi mereka.

Kulihat mereka seksama saat tidur. Sungguh mata mereka berdua mirip denganku ditambah pipi mereka yang agak gembul menambah kegembulan diwajah mereka.

 

*****

 

Every single day I try jeongmal geuoi da wassseo. We get closer to a good time siryeondeure say goodbye.

Ponselku tiba – tiba saja berdering keras. Kulihat sekilas terpampanglah sebuah nama. Victoria Song!!. Aku mengernyitkan dahi sejenak kuangkat atau tidak. Sebaiknya kuangkat saja.

 

“yeoboseo..”

“Jong Woon –ah.”

“ne?.”

“bogoshipeo!!.” Ucapnya lirih.

“mwo?.”

“apa aku tak boleh menelponmu. Setidaknya jika aku tak mendapat tempat dihatimu. Tapi masih bisakah aku mencintaimu?.”

“apa maksudmu Victoria Song?.”

“aku akan mencintaimu sebisa mungkin.”

“tapp..ttapi bagaimana dengan Shim Changmin?. Are you crazy?. Micheosseo?.”

“apa kau mencintai yeoja yang bernama Kwon Yuri itu?.”

“ne, tentu saja. Aku sangat mencintainya.”

“bisakah kita bertemu sebentar. Aku ingin memberi tahumu sesuatu?.”

“akan ku pertimbangkan.” Ucapku memutus panggilannya secara mendadak.

 

Klik . aku memutus begitu saja panggilannya. “op..pa.” panggil seseorang menyadarkanku.

“ne.” Omo!. Ternyata Yuri. Semoga saja ia tak mengetahui apa yang tengah kubicarakan ditelpon dengan Victoria.

“kau sudah pulang?.”

“aku khawatir pada mereka berdua karena tak ada yang menjaganya. Wae kau pulang secepat ini?.”

“sama seperti alasanmu.” Jawabku tersenyum.

“kau sudah makan?.”

“belum.”

“baiklah sebentar akan kubuatkan makan siang kita berdua!.”

 

*****

 

AUTHOR POV

 

Kata  demi kata yang didengar oleh Yuri saat Jong Woon menerima telepon tadi sungguhlah sangat menyakitkan bagi hati Yuri. Tapi sebisa mungkin ia harus menjaga perasaanya untuk Jong Woon. Aku pasti bisa mempertahankan Jong Woon. Ucapnya menusap air mata yang mengalir dipipinya itu.

“kau duduklah disana. Sebentar kubuatkan makanan untukmu!” perintah Yuri padanya. Tiba – taba tangan Jong Woon melingkar diperut Yuri.

 

Sleet….

 

“apa kau lelah hari ini?.”ucap Jong Woon menumpukkan dagu dibahu Yuri sambil sesekali mencium pipinya yang putih mulus itu.

“ani. Sudah kubilang aku khawatir pada mereka berdua karena tak ada yang menjaganya.”

“apa ini?.” Jong Woon malah menciumi tengkukku yang terekspose karena rambut panjangku sengaja aku gulung ke atas

“eenghh. Bisakah kau berhenti sebentar. Aku sedang berkonsentrasi untuk memasak!.”

Sepertinya Jong Woon pura-pura tuli. Yang dilakukannya sekarang malah meletakkan pisau yang sedang Yuri gunakan, dan mengelap tangannya. Secepatnya Jong Woon langsung membalik tubuh Yuri yang sedari tadi membelakanginya. Ige mwo? JantungYuri mendadak bekerja sangat cepat saat memandang wajah Kim Jong Woon yang begitu dekat kami saling memandang satu sama lain .

“Kau belum memberiku morning kiss, chagi.”

“telat!!. Kau pikir ini jam berapa?.” Ucap Yuri pura – pura tak meperhatikannya. Wajah Jong Woon perlahan semakin mendekat saja, matanya terpejam. Yuri hanya bisa menahan nafas menunggu bibirnya mendarat di bibir tipis Yuri.

Cukup lama mereka berdua terdiam, merasakan kelembutan bibir pasangannya. Sedetik kemudian Yuri bisa merasakan bibir Jong Woon bergerak, melumat bibirnya lembut, menyusupkan lidahnya agar saling bertautan . Semakin lama ini ciuman mereka makin panas saja. Yuri mencoba meremas rambut hitam Jong Woon (bayangin Yesung di MV Opera) karena ia menggigit bibir bawahnya.

Tanpa melepas kontak, Jong Woon mengangkat tubuh Yuri dan didudukkan di dekat wastafel, menjadikan posisinya lebih tinggi dari Jong Woon. Jong Woon terus menarik dan memegangi tengkuk Yuri agar ia lebih menunduk sehingga ciuman mereka tidak terlepas. Dirasakannya tangan Jong Woon menempel didada Yuri. Hanya menempel Yuri sudah bisa merasakan gejolak yang hebat dari dalam tubuhnya. Perlahan – lahan tangan Jong Woon masuk dan meremas lembut dada Yuri dari dalam yang membuatnya mendesah tak karuan karena hanya mengenakan T –shirt yang pas dengan badannya.

Hikss…hikss…hua…hua…tangisan Nam Young menggema diruang tengah yang meyadarkan keduanya untuk menghentikan aktivitasnya sementara. Selalu seperti setiap kali mereka berdua tida dipeluk saat akan tertidur. Yuri segera merapikan pakaiannya dan menggendong Nam Young untuk menidurkannya kembali.

“chagi diamlah!.” Puk – puk (?) Yuri menepuk punggungnya pelan dan menidurkannya kembali. Sementara Jae Woon hanya mengulet saja seolah – olah tak terganggu oleh dongsaeng yeoja satu – satunya itu mirip sekali dengan Jong Woon. Setelah itu kubaringkan satu persatu dari mereka dikamar mereka sendiri.

Cup..kucium kening mereka masing – masing agar tertidur kembali. “tidurlah chagi, kalian pasti lelah bermain.” Ucap Yuri lirih mengelus kepala mereka berdua.

Gelang itu. Ya, gelang itu. Gelang yang Nam Young bawa beberapa waktu lalu. kuambil segera gelang itu dilaci kamar mereka berdua. Ternyata gelang itu masih berada ditempatnya. Segera kuambil gelang tersebut dan menyimpannya.

 

*****

 

“Yuri –ya. Ada paket untukmu.” Jong Woon menyerahkan sebuah kotak berwarna merah yang cukup besar.

“dari siapa oppa?.” Tanyaku tak menegerti.

“coba lihat saja.” Perintahnya.

Akhirnya Yuri pun membuka kok tersebut dan betapa kagetnya ketika ia mendapati gaun berwarna merah softly dengan sebuket bunga mawar putih dan cola didalamnya serta serta sebuah tulisan.

 

To: My lovely Yuri

Ini adalah perwujudan rasa sayangku terhadapmu. Aku terlalu  mencintaimu.

 

Choi Siwon

 

*****

 

YURI POV

 

Aku terbelalak kaget seketika, kulihat Jong Woon pun tak kalah kagetnya dengan kartu ucapan ini. Terlebih lagi Jong Woon menemukan nama Siwon sebagai pengirim bunga ini. Apa yang harus kulakukan?. Jujur aku muak denga semua perlakuan Siwon yang seperti ini. Kulihat Jong Woon berjalan pergi menjauhiku.

“op..pa. komohon jangan seperti ini.” Cegahku menarik tangannya untuk pergi.

“aku tak marah Yuri. Aku hanya ingin pergi keperpustakaanku sebentar.” Ucapnya datar meninggalkanku yang mematung seketika.

Air mataku tiba – tiba jatuh seketika. Tolong percaya padaku oppa, aku tak pernah mencintai Siwon. Ia hanya bagian dari masa laluku saja. Jeball. Hanya kau orang yang satu – satunya aku cintai.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar. Mianhae oppa aku melukaimu, aku bukan yeoja yang pantas untukmu. Mungkin ada benar juga apa yang dikatakan Victoria, ia akan menjadikan dirinya pantas dihadapan Jong Woon. Aku seolah – olah adalah orang asing dikehidupam Jong Woon. Yang kulakukan sekarang hanyalah menangis, menelungkupkan kepala diatas lututku yang kutekuk.

Aku kembali mendongakkan kepala mengingat sesuatu. Segera kuambilgelang yang ada disaku celanaku. Gelang Umma..dan sebuah gelang yang sama pula bentuk dan motifnya. Aku mencoba mencocokkan gelang antara mereka berdua. Tuhan, Kumohon semoga gelang ini berbeda. Aku kembali menjajarkan gelang berwarna biru milik Victoria dengan gelang biru milik umma. Ternyata Tuhan berkata lain padaku gelang ini cocok. Gelang yang Nam Young ambil dari umma dan dengan gelang yang dipakai Victoria cocok bahkan magnet yang ada ditepi gelang tersebut berbentuk separuh hati, yang jika dikaitkan akan bersatu membentuk sebuah gambar hati. Ada apa diantara umma dan Victoria. Lalu hubungan gelang biru ini dengan masa laluku?.

“sebenarnya ada apa hubungan antar keduanya?.” Aku kembali menitikkan air mata mengingat hubunganku dan Jong Woon yang sedang renggang dan masalah hubungan Victoria dengan umma.

Tuhan apa yang harus aku lakukan?…” isakku lirih.

 

—TBC—

 

9 thoughts on “Stay With One Love (Part 4B)

  1. kyaa.YesYul bermesraan ketahuan mlu ma anak’a!!
    tuh Siwon oppa ky org yg t’lalu terobsesi ma Yuri!!
    kshn Yoona hamil !!
    Vic jgn2e kakak’a Yuri!!
    lanjutttt

  2. Seru n bagus chingu. Ebuset, ane kesel banget tuh ama Siwon and Vic yang terlalu maksain cinta mereka ke YulSung. Yoona juga kasihan udah hamil tapi gak ada yang peduliin. Lanjut chingu. Ane boleh request gak? Kalo boleh, ane request tambah cast Seohyun dong. Ane pengen Seohyun itu cast protagonis yang bantuin Yoona. Kan seru tuh YulYoonHyun alias the Triplets SNSD main di ff ini.😀

  3. Aduh kasian bgt tiap yesung oppa dan yuri mau bermesraan pasti anak kembar mereka ganggu hehe…aigo…kenapa yuri dan yesung oppa malah terjebak cinta masa lalu?kenapa juga cinta masa lalu mereka itu keukeuh tetep bersikeras.apa hubungan gelang yg dipegang yuri dgn victoria dan ummanya yah?

  4. akhirnya part ini mncul thor
    d tunggu yah part slanjutnya
    moga yoonwon happy ending
    trus anak yoona juga bisa kmbar hhe
    gomawo
    fighting!!!

  5. Eonni, daebak,, maaf baru coment di part ini, soalnya aku online pake hape, jadi kadang2 susah,,
    Tapi ceritanya bagus banget eonni, lanjutkan,

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s