Lovesquare Part 3

LOVESQUARE PART 3

Cast:

  • Seohyun
  • Sooyoung
  • Kyuhyun
  • Ryeowook

Other Cast:

  • Find it yourselves!

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

~AUTHOR’S POV~

Hari-hari berlalu. Semakin lama, Kyuhyun semakin gencar mendekati Sooyoung. Dia selalu mengantarnya pulang dan mengikutinya ke mana-mana. Awalnya Sooyoung merasa biasa-biasa saja—mungkin itu memang sifat anak baru yang ingin mendapatkan banyak teman. Tapi Kyuhyun mulai sering mengganggu Sooyoung dalam melakukan aktivitasnya, bahkan sering mengganggunya ketika dia bersama Ryeowook.

“Ugh! Mau apa sih, dia?” gerutu Sooyoung ketika dia akan berjalan pulang ke apartemennya.

Sooyoung masih menggerutu tidak jelas soal Kyuhyun, ketika seseorang tiba-tiba berjalan di sampingnya. Dengan bingung, Sooyoung menoleh ke kirinya dan melongo begitu melihat Kyuhyun. Astaga, namja ini itu penguntit atau apa?

Kyuhyun tersenyum begitu matanya bertemu dengan mata Sooyoung. “Kau ingin diantar pulang?”

Sooyoung menyipitkan matanya. “Tidak,” jawabnya ketus, lalu mulai berjalan lebih cepat.

Kyuhyun yang tertinggal di belakang, mulai mengejarnya. “Yah, Sooyoung-ah!”

Sooyoung tidak menoleh ke belakang dan tetap berjalan lebih cepat, tapi Kyuhyun berhasil menyusulnya. Sooyoung kembali menggerutu pelan. Kenapa namja ini tidak mau meninggalkannya sendirian? Memang menurutnya Sooyoung akan terkena masalah kalau sendirian? Ugh!

Kyuhyun mulai mengoceh seperti biasanya, tapi Sooyoung hanya meliriknya, tambah kesal mendengar suaranya.

Akhirnya Sooyoung tidak tahan lagi. “Hentikan!” pekiknya, membuat Kyuhyun berhenti bicara.

Kyuhyun menatap Sooyoung bingung. Ada yang salah? “Mwo? Waeyo?”

Sooyoung berhenti berjalan dan memandang Kyuhyun. “Berhenti mengikutiku! Berhenti mengangguku! Apa kau penguntit atau semacamnya? Jauhi aku! Jangan dekat-dekat denganku lagi! Aku tidak bisa melakukan apa-apa bila kau terus-menerus menempel seperti lem!”

Kyuhyun membeku. Apa yang baru saja dilakukan Sooyoung? Meneriakinya? Setelah mereka berbaikan, Kyuhyun mengira Sooyoung adalah orang yang baik… Kenapa sekarang dia meneriakinya?

Ah, ya, karena Kyuhyun selalu mengikuti ke mana pun Sooyoung pergi. Tapi Kyuhyun punya alasan kenapa dia melakukan hal itu.

“Sooyoung-ah, aku…,” Kyuhyun menatapnya. “Aku… Aku melakukannya karena…”

“Karena apa?” desak Sooyoung, mulai tidak sabaran.

Kyuhyun kelihatan ragu-ragu, sebelum akhirnya menarik napas dan berkata, “Karena aku menyukaimu.”

***

Ryeowook menyibak tirai jendelanya dan mulai melakukan kegiatan sehari-harinya: mengawasi gerak-gerik Seohyun. Saking seringnya dia mengawasi tindak-tanduk Seohyun, Ryeowook jadi hafal kebiasaan yeoja itu. Kali ini, Ryeowook sudah menyiapkan sesuatu. Masa dia mengawasi Seohyun dari jendela untuk selamanya? Sudah waktunya baginya untuk bertindak!

Seperti yang diduga Ryeowook, Seohyun keluar dari rumah menuju pekarangannya pukul 4 sore. Seohyun selalu menyirami bunga-bunga mawarnya setiap sore. Ryeowook buru-buru turun dan keluar dari rumahnya, lalu menyebrangi jalan dan berada di depan rumah Seohyun.

Seohyun melihat Ryeowook dan tersenyum. Jarang sekali ada orang yang mengunjungi rumahnya. Dia langsung membuka pintu rumahnya. “Ryeowook-ssi? Untuk apa kau ke sini?”

Ryeowook merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kantong kecil. “Bibit bunga baru,” ujarnya sambil tersenyum.

Seohyun menatap kantong itu dan menerimanya. “Omona, terima kasih banyak, Ryeowook-ssi!” katanya, masih tersenyum lebar. “Kau mau ikut berkebun bersamaku?”

Ryeowook ragu-ragu sejenak, tapi dia menganggukkan kepalanya. “Ne. Ayo!”

***

Sooyoung terdiam, mematung. Tatapannya tertuju pada Kyuhyun, tapi matanya tidak menunjukkan sorot apapun. Kyuhyun terdiam dan menunduk, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.

Menyukainya?

Maksudnya, benar-benar menyukai Sooyoung?

Sooyoung tidak tahu harus berkata apa. Otaknya tidak mau bekerja. Baru kali ini seseorang menyukainya.

Akhirnya, Sooyoung bisa menggerakkan bibirnya. “Aku…” Tiba-tiba dia teringat Ryeowook. Namja yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang.

Sooyoung mendongak. “Maafkan aku.”

Begitu Kyuhyun mendengarnya, gelombang kesedihan menghantamnya. Jadi beginikah rasanya ditolak oleh yeoja yang kausukai? Padahal Sooyoung-lah yang mampu membuat Kyuhyun tersenyum-senyum saat memikirkan namanya, membuatnya merasa senang setiap hari…

Tapi Sooyoung telah berlari pergi. Entah ke mana.

Kyuhyun menarik napas. Dia menaruh tangannya di dada. Sakit.

***

“Selesai!” ujar Seohyun senang.

“Apa kita boleh menanam lagi?” tanya Ryeowook. Dia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan Seohyun.

Seohyun berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Untung kau memberiku banyak bibit tanaman, Ryeowook-ssi,” katanya riang sambil meraih kantong kecil tersebut. “Aku kadang terlalu sibuk sehingga tidak sempat memberi bibit baru.”

Ryeowook dan Seohyun melanjutkan menanam tanaman, dan Ryeowook sering melirik Seohyun. Seohyun kelihatan cantik sekali, meski dia kepanasan dan kelelahan. Ryeowook sudah menawarkan diri untuk menanam seluruh bibit daripada Seohyun terlalu lelah, tapi Seohyun adalah yeoja yang kuat. Dia meneruskan acara menanam tanamannya dengan giat.

***

Sooyoung menunduk. Dia tidak tahu ke mana kakinya membawanya. Sebenarnya dia tahu, hanya saja dia tidak begitu peduli. Dia membelok ke kanan, memasuki jalan yang tidak begitu besar. Di sisi kanan Sooyoung, terlihat rumah Ryeowook yang bertingkat dua.

Sooyoung tidak tahu apa yang membuat Kyuhyun menyukainya. Menurutnya, Sooyoung adalah yeoja yang blak-blakkan dan cerewet. Apa menariknya? Sooyoung tidak punya daya tarik apa pun. Tapi dia menyukai Ryeowook. Apa itu berarti hubungan bertepuk sebelah tangan? Sooyoung menyukai Ryeowook, tapi dia tidak tahu apakah Ryeowook menyukainya. Ryeowook tidak pernah menunjukkan gejala-gejala dia menyukai Sooyoung.

Sooyoung menarik napas dalam-dalam. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan jodohku, pikirnya. Mungkin aku memang lahir untuk hidup sendirian.

Udara berhembus lagi, dan Sooyoung mendongak. Jalan yang familiar. Tentu saja, Sooyoung sudah sering datang ke rumah Ryeowook. Dia menghafal denah menuju rumah Ryeowook di luar kepala. Setiap kali Sooyoung ingin menumpahkan isi hatinya, Ryeowook adalah pilihan pertamanya. Ryeowook memang kadang tidak memberikan solusi bagi masalahnya, tapi Ryeowook adalah pendengar yang baik. Sooyoung tidak curhat kepada ibunya, karena dia tidak ingin menambah berat beban beliau.

Rumah Ryeowook sepi. Sooyoung mengangkat alis. Tidak biasanya. Biasanya, Sooyoung mendengar kegaduhan dari lantai atas, karena Ryeowook sering menyetel musik keras-keras di stereonya. Sooyoung melihat ke sekeliling dan tertegun melihat pemandangan yang tadi dibelakanginya.

Bukankah itu rumah Seo Joohyun? Dan itu Ryeowook? Apa yang dilakukannya di sana? Kenapa mereka berduaan? Kenapa mereka saling tersenyum dan tertawa?

Mendadak jantung Sooyoung serasa ditikam oleh sesuatu yang dingin, seperti es. Dadanya terlalu sakit sehingga dia tidak bisa berhenti memikirkan yang tidak-tidak. Sekarang Ryeowook memandang Seohyun… Seohyun balas memandangnya… Mereka entah mengapa, tertawa bersama… Dan Ryeowook sengaja menumpahkan tanah ke sepatu Seohyun… Seohyun membalasnya… Keduanya masih tertawa riang…

Sooyoung tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan menyakitkan itu. Tapi bukankah seharusnya dia bahagia? Dia selalu ingin Ryeowook bahagia.

Tentu saja. Tentu saja dia ingin Ryeowook bahagia. Tapi…

Sooyoung ingin Ryeowook bahagia dengan dirinya, bukan orang lain.

Sooyoung ingin Ryeowook bahagia karenanya, bukan orang lain.

Jadi selama ini Ryeowook menyukai Seohyun? Kenapa Ryeowook tidak bilang? Sooyoung tidak tahu Ryeowook menyukai yeoja pendiam itu. Seohyun dan Sooyoung memang bertolak belakang. Sooyoung tahu bahwa Ryeowook terkadang sering memperhatikan gerak-gerik Seohyun, tapi dia mengira Ryeowook tidak benar-benar menyukai Seohyun…

Rasa nyeri itu semakin menjadi-jadi.

Dengan tarikan napas yang bahkan terasa menyakitkan, Sooyoung berjalan kembali ke apartemennya. Begitu sampai di lantai 14, Sooyoung berlari keluar dari lift dan memasuki apartemennya. Ibunya belum pulang, jadi apartemen itu sepi sekali. Sooyoung melempar semua barang bawaannya dan duduk di lantai kamar tidurnya.

Rasa nyeri itu masih ada. Sooyoung meraih sebuah foto berpigura, bergambar dirinya dan Ryeowook sewaktu kecil. Sooyoung tersenyum melihatnya. Mereka berdua kelihatan lucu dan menggemaskan dulu. Di situ, Ryeowook merangkul bahu Sooyoung, tapi apakah Ryeowook akan melakukannya nanti, suatu hari nanti, sebagai tanda cinta?

Sooyoung memejamkan matanya. Seandainya… Seandainya dia bisa membuat Ryeowook berpaling dan melihatnya dengan cara yang berbeda, meski hanya sesaat…

Sooyoung tidak tahu seberapa lama dia menutup matanya, tapi udara tiba-tiba terasa panas. Keringat mulai membasahi tengkuk dan keningnya. Sooyoung membuka mata. AC-nya menyala. Lalu?

“Mungkin ini hanya karena udara musim panas,” gumam Sooyoung pada dirinya sendiri, masih tidak bergerak dari tempatnya duduk.

Tapi hawa panas itu semakin menjadi-jadi, sehingga Sooyoung tidak bisa beristirahat dengan tenang. Dia mengambil tisu dan mulai mengelap wajahnya, namun rasa panas itu tetap ada. Sooyoung menggerutu kesal dan menurunkan suhu AC-nya. Memang dingin, tapi lucunya panas itu tetap ada.

“Aish, apa-apaan, sih?” gerutu Sooyoung, bermaksud berdiri, tapi kemudian dia melihat asap di udara.

Asap?

Udara menjadi terlalu panas, dan oksigen berkurang. Sooyoung menahan napas sekuat mungkin, dan begitu dia melepaskannya, asap langsung memasuki hidungnya. Sooyoung mengambil kaus Kyuhyun untuk menutupi mulut dan hidungnya, dan foto berpigura itu masih dipeluknya.

Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?

Lalu terdengar bunyi bel yang panjang…

Alarm kebakaran.

Sooyoung langsung berlari keluar apartemen, dengan kedua benda tersebut dipegangnya. Dia tidak punya waktu untuk mengambil barang-barang lain. Di luar apartemen, ternyata semuanya sudah dilalap api. Pintu, tangga, lift… Semuanya sudah terbakar.

Sooyoung berlari ke arah tangga darurat, tapi jalannya terblokir oleh reruntuhan dinding dan langit-langit, yang juga terbakar api. Hawa semakin panas… Napasnya semakin lemah…

Apakah semua penghuni apartemen sudah keluar? Sepertinya sudah. Bila masih ada, pasti mereka akan berteriak minta tolong. Tapi Sooyoung berada belasan lantai jauhnya dari lantai dasar. Kalau dia berteriak, siapa yang akan mendengarnya?

Sooyoung berlari ke arah berlawanan. Terblokir. Dia tidak tahu harus berjalan ke mana lagi. Tahu-tahu, terdengar suara benda jatuh di belakangnya. Sooyoung tersentak dan menoleh ke belakang. Langit-langit apartemennya runtuh dan diselimuti api yang membara. Panas… Udara semakin panas…

Sooyoung menekan kaus pemberian Kyuhyun di wajahnya, tapi asap tetap bisa memasuki sistem pernapasannya. Dia terlalu takut untuk mengitari runtuhan itu. Bagaimana bila api itu mengenainya? Apakah Sooyoung akan merasakan dirinya terbakar sampai habis?

Diam-diam, dia ingin dirinya terbakar habis. Hatinya terlalu sakit saat melihat Ryeowook dan Seohyun bersama. Bila dia terbakar habis, dia takkan pernah merasakan nyeri seperti itu lagi di hatinya… Tidak ada rasa sakit hati lagi, tidak ada jantung berdegup kencang lagi, tidak ada perasaan cemburu lagi…

Tapi Sooyoung teringat ibunya. Dia adalah satu-satunya yang dimiliki ibunya. Kalau dia meninggal… Ibunya pasti takkan bisa menanggungnya.

Apa yang harus kulakukan?

Udara semakin panas, dan lengan Sooyoung mulai berkeringat. Rambutnya yang digerai juga membuat tengkuknya berkeringat. Sooyoung megap-megap, kehabisan napas. Lebih banyak asap memasuki sistem pernapasannya…

Sooyoung mulai mondar-mandir mencari jalan keluar. Sesekali dia melenguh, berusaha mendapatkan oksigen, tapi tidak ada gunanya. Panasnya semakin menjadi-jadi, dan tangan Sooyoung terasa pegal. Sooyoung menatap sekelilingnya. Keringatnya mulai turun membasahi pipinya. Apa dia akan terjebak selamanya?

Tahu-tahu, kepalanya terasa sakit. Amat sakit. Seperti dihantam dengan palu. Sooyoung memejamkan mata, berusaha menahan rasa sakit, tapi sakit itu semakin parah. Dia membuka mata, tapi anehnya pandangannya terasa menggelap dan kabur…

Hal terakhir yang diketahuinya adalah tubuhnya terasa melayang, sebelum rasa sakit lain di kepalanya menghantamnya seiring dia jatuh ke lantai berdebu, hilang kesadaran.

***

“Fiuh, akhirnya selesai juga!” kata Ryeowook sambil berdiri. Kakinya terasa pegal karena berlutut terus untuk menanam bibit.

Seohyun tersenyum ramah. “Sepertinya kau kelihatan capek, Ryeowook-ssi.”

“Aku? Ah, aniyo,” bantah Ryeowook. Dia tidak suka menunjukkan sisi lemahnya kepada orang lain.

Seohyun tertawa kecil. “Jangan berbohong. Bagaimana kalau kau makan malam di tempatku saja? Aku sedang tidak ingin makan sendirian—ayahku masih berada di kantor—dan aku ingin berterima kasih padamu karena telah membantuku menanam bibit-bibit ini. Oke?”

Ryeowook tertegun. Ditawari makan malam oleh yeoja yang disukainya? Apa dia kurang beruntung lagi? Tanpa ragu Ryeowook menganggukkan kepalanya. Mereka berdua masuk ke dalam rumah Seohyun dan mulai memasak.

“Aku tidak tahu kau bisa memasak dengan baik,” kata Seohyun ketika mereka sedang membuat bulgogi.

Ryeowook nyengir. “Sooyoung juga berkata seperti itu sewaktu dia pertama kali melihatku memasak.”

“Kau seharusnya ikut kompetisi memasak, Ryeowook-ssi. Atau menjadi chef.”

Ryeowook tertawa. Berkarir di dunia kuliner? Dia tidak pernah memikirkannya sebelumnya. “Aku lebih memilih menjadi penyanyi.”

Seohyun mengangkat bahu. “Kau bisa menjadi dua-duanya.”

Ryeowook hanya tertawa.

Begitu makan malam siap, keduanya duduk di meja makan dan melanjutkan pembicaraan mereka. Karena rumah keluarga Joo yang besar itu terlalu sepi—meski keduanya berbicara—jadi Seohyun menyalakan TV, padahal keduanya tidak memerhatikannya sama sekali.

Ryeowook melanjutkan makan, sambil sesekali melirik TV. Tapi apa yang terpampang di layar TV menarik perhatiannya. Sebuah gedung apartemen dilalap habis oleh api. Ryeowook menyipitkan matanya. Entah kenapa, gedung apartemen itu rasanya familiar…

Reporter pun menjelaskan tentang kebakaran tersebut dan lokasi gedung. Begitu Ryeowook mendengarnya, dia tertegun.

Itu gedung apartemen Sooyoung!

Seohyun, yang sedari tadi makan, menyadari perubahan di wajah Ryeowook. “Ryeowook-ssi? Ada masalah?”

Ryeowook langsung berdiri dan berlari keluar rumah. Seohyun kaget dan bingung. Apa yang terjadi? Dia mengikuti Ryeowook. “Ada apa?”

“Itu,” tunjuk Ryeowook ke arah TV, “itu gedung apartemen Sooyoung.”

Mata Seohyun melebar. Dia tahu Sooyoung—Sooyoung adalah yeoja yang selalu dekat dengan Ryeowook. Sahabatnya, mungkin.

“Tunggu,” Seohyun memanggil Ryeowook yang sudah berlari ke arah apartemen Sooyoung, “aku ikut denganmu.”

***

Kyuhyun dengan loyo berjalan memasuki rumahnya. Dadanya masih terasa sakit, seperti ditusuk-tusuk. Dia memasuki kamarnya dan menyalakan TV. Apa yang bisa membantunya melupakan masalah ini?

Sepertinya tidak ada.

Kyuhyun meraih headphone dan MP3 player-nya. Biasanya mendengarkan musik akan membangkitkan mood-nya. Dia memasang headphone di kedua telinganya dan mulai mendengarkan musik keras-keras hingga telinganya terasa berdengung-dengung.

Kyuhyun mengganti saluran TV, dan perhatiannya terpusat pada sebuah berita. Sebuah gedung apartemen yang terbakar. Kyuhyun tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Bukankah itu apartemen Sooyoung?

Ketika Kyuhyun mendengar si reporter menyebutkan lokasi gedung tersebut, dia langsung melepas headphone-nya dan berlari keluar, menuju apartemen Sooyoung.

***

Orang-orang di sekitar gedung apartemen banyak sekali. Sebagian adalah penghuni apartemen tersebut, ada yang terluka, ada yang tidak; sebagian orang-orang yang datang untuk melihat apa yang terjadi; sebagian adalah tim pemadam kebakaran; sebagian adalah orang-orang dari stasiun televisi yang memberitakan langsung kebakaran tersebut.

Kyuhyun berlari menembus kerumunan orang. Dia berteriak, memanggil-manggil nama Sooyoung seperti orang gila. Banyak orang melihatnya, tapi Kyuhyun mengabaikannya. Dia tidak melihat Sooyoung di mana-mana. Apa dia masih terjebak di dalam?

Kyuhyun berhenti berjalan. Matanya mencari-cari wajah Sooyoung, tapi tak berhasil ditemukannya. Pikirannya semakin kacau. Di mana dia, demi Tuhan?

Tahu-tahu, gedung apartemen yang dilalap api tersebut, runtuh. Suaranya sangat keras sehingga Kyuhyun menutup telinganya dengan tangan. Begitu dia mendongak lagi, gedung itu sudah menjadi tumpukan bahan bangunan berlapis abu.

Kyuhyun tidak bisa merasakan degup jantungnya. Sooyoung berada di dalam sana! Dan gedungnya runtuh! Jadi… Jadi…

“Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun menoleh lambat-lambat. Seohyun. Apa yang dilakukannya di sini?

Kyuhyun tidak menjawab Seohyun, yang jelas-jelas kelihatan kaget. Kemudian, Kyuhyun melihat seorang namja berambut hitam di samping Seohyun, yang memandangi reruntuhan gedung. Kyuhyun tidak mengenalnya, tapi sorot mata namja itu dipenuhi keterkejutan, kesakitan, dan kesedihan. Apa sorot mata Kyuhyun juga seperti itu?

Tim pemadam kebakaran melesat memasuki reruntuhan gedung tersebut, tapi perhatian Kyuhyun tertuju pada Seohyun. “Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya parau.

Namja di samping Seohyun mendengar mereka, dan beralih menatap Kyuhyun. “Siapa kau?”

Kyuhyun memandang namja itu. Sepertinya dia pernah melihatnya, entah di mana. “Cho Kyuhyun.”

“Oh, anak baru di universitas?” tanya namja itu, tapi suaranya pelan sekali.

Kyuhyun mengangguk.

Seohyun menatap mereka berdua. Mereka belum saling kenal. “Kyuhyun-ssi, ini Kim Ryeowook,” katanya, memaksakan senyum tipis, “sahabat Sooyoung.”

Ah, jadi itu mengapa Ryeowook terasa familiar. Beberapa kali Kyuhyun melihat Sooyoung bersama Ryeowook di universitas. Lalu, apa yang dilakukan Seohyun? Apakah dia dekat dengan Ryeowook? Karena setahu Kyuhyun, Seohyun tidak dekat dengan Sooyoung. Bertatap muka saja tidak.

Ryeowook dan Kyuhyun berjabat tangan, meski keduanya tegang. Ketika mereka menarik tangan masing-masing, terdengar suara sirene yang memekakkan telinga, diikuti suara orang berbicara melalui megaphone. Kyuhyun mengalihkan perhatiannya ke reruntuhan gedung. Tim pemadam kebakaran sudah keluar, dan salah satunya menggotong seorang yeoja…

Dari jauh pun, Kyuhyun tahu itu Sooyoung. Sudah pasti itu Sooyoung. Memang wajahnya dan sekujur tubuhnya berdarah-darah, tapi itu pasti Sooyoung.

Kyuhyun masih membeku di tempat. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Ryeowook langsung berlari mendekati tim pemadam kebakaran, meninggalkan Kyuhyun dan Seohyun. Dia masih meneriakkan nama Sooyoung, memanggil-manggil sahabatnya. Bagaimana kalau Sooyoung sampai terluka? Bagaimana kalau Sooyoung meninggal? Bagaimana… Bagaimana… Kemungkinan-kemungkinan mengerikan mulai melintasi benaknya dan Ryeowook tak bisa menghentikannya. Dia bisa gila!

“Tunggu sebentar,” kata salah seorang dari tim pemadam kebakaran, menghentikan Ryeowook. “Maaf, tapi kau tidak bisa naik ke ambulans.”

“Itu teman saya!” Ryeowook menggunakan seluruh kekuatannya untuk berteriak.

Petugas pemadam kebakaran itu tetap menggelengkan kepalanya dan berjalan pergi, entah ke mana. Ambulans pun meluncur menuju rumah sakit. Ryeowook merasa kacau. Mengapa mimpi buruk ini harus terjadi? Mengapa? Apa dia melakukan kesalahan? Mengapa harus Sooyoung?

Tahu-tahu ada yang mencengkeram lengan Ryeowook dan menariknya pergi. Ryeowook tidak tahu siapa, tapi dia membiarkan dirinya ditarik. Lalu Ryeowook menoleh dan melihat Seohyun membawanya ke trotoar tempat mereka tiba tadi. “Kyuhyun akan mengambilkan mobilnya untuk kita,” jelas Seohyun. “Lalu kita akan ke rumah sakit.” Dia menyadari wajah Ryeowook yang pucat dan menyentuh bahunya. “Gwenchanayo?”

Baik-baik saja?

Tidak. Ryeowook tidak baik-baik saja. Bagaimana dia bisa baik-baik saja?

Tapi seperti prinsipnya, dia tidak suka menunjukkan kelemahannya kepada orang lain.

“Ya,” katanya. Suaranya kedengaran tercekat. “Aku baik-baik saja.”

Kyuhyun pun muncul dengan mobilnya, dan Seohyun serta Ryeowook masuk ke dalam mobil. Lalu Kyuhyun—yang pandangannya masih kosong—menginjak pedal gas, dan mobil mulai berpacu menuju rumah sakit.

*** TBC ***

Omona, kasian Soo eonnie TT^TT

Part 4 ditunggu, yaa…

Buat FF barunya, yang SiFany-YoonHae-SeoKyu-SunSun, author nge-publish-nya nunggu Lovesquare selesai, soalnya biar nggak ribet, apalagi author masih ada FF yang perlu diselesain… Sama sekuel Don’t Forget Me itu author bikin one-shot, soalnya kalo series author bingung mau pake drama ato enggak… Jadi sekuelnya lumayan lama diterbitinnya, soalnya pasti PANJANG banget, hehe ^^

Oh iya, author udah minta izin sama admin Twinkle Super Generation, jadi tolong like page ini, yaa! Namanya SNSD’s Sones United. Itu page yang author bikin sama temen author. Itu lho, temen author yang nulis Secretly Loving You (SeoKyu) di Twinkle Super Generation ini!

Gimana rapot readers? Bagus? Author sih lumayan, masuk 10 besar ^^ *readers: nggak ada yang nanya*

Jangan lupa tinggalkan jejak, ya…

Kamsahamnida!

10 thoughts on “Lovesquare Part 3

  1. wah chingu cerita’a makin seru bnget dan ok bnget,,,
    semoga soo bsa selamat,,wah kyu oppa di tolak sma soo,,
    chingu di tunggu part slnjut’a,,

  2. Mian ya autor,kemarin q esmosi wktu bca part2. Q kira ini ff kyuyoung.
    Soalnya q lupa part1’a.

    Omo. . .jgn sampe dgn kejadian ini tmbh bkin ryewok n kyu jadi tmbh cinta ma soo. Ntar seo gigit jari donk.
    Ditunggu seokyu momen’a.

    Next part q nanti. . . .

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s