Lovesquare Part 4

LOVESQUARE PART 4

Cast:

  • Seohyun
  • Sooyoung
  • Kyuhyun
  • Ryeowook

Other Cast:

  • Find it yourselves!

Author: Park Ye Lin/ tatabrigita01

~AUTHOR’S POV~

Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung tenang.

Tidak ada seorang pun yang bersuara.

Akhirnya Kyuhyun tidak tahan lagi.

“Ryeowook-ssi,” panggilnya, membuat kedua orang lainnya tersentak kaget, “kau teman Sooyoung?”

Ryeowook, yang duduk di kursi belakang, mengangguk kaku. “Sejak kecil.”

“Kalian dekat?”

“Sangat.”

Seohyun mengalihkan pandangannya ke pemandangan di luar jendela kaca. Dadanya terasa nyeri, sakit… Dia menghela napas, berusaha mencegah air mata keluar, dan membelakangi kedua namja lainnya.

Keadaan diam lagi. Setidaknya itu lebih baik, Seohyun beranggapan.

Ryeowook bersandar di kursinya. Untung saja dia duduk di kursi belakang yang luas. Dia memejamkan matanya. Pikirannya tidak bisa mengenyahkan Sooyoung. Gambar yang dilihatnya ketika Sooyoung dibawa keluar dari reruntuhan gedung… Dia tersentak sedikit mengingatnya, dengan rasa sakit di dadanya.

Entah kenapa dadanya terasa sakit. Mungkin itu wajar—Sooyoung terluka, sudah seharusnya dia panik—tapi rasanya dia ingin menangis, berteriak, memohon-mohon agar Sooyoung baik-baik saja begitu melihatnya terluka parah. Apa itu wajar?

Sepertinya rasa frustrasi Ryeowook menular. Kyuhyun juga merasakan hal yang sama, tapi dia harus berhati-hati. Dia sedang menyetir. Bila dia tidak fokus… Mungkin nasib mereka bertiga akan sama seperti Sooyoung.

Begitu lampu lalu lintas berubah merah, Kyuhyun menghela napas lega. Setidaknya dia butuh beberapa saat untuk menenangkan diri, untuk berpikir, untuk…

Matanya terbuka dan menatap sekelilingnya, seperti yang biasa dilakukannya sebelum berpikir keras. Lalu matanya terpaku pada Seohyun di sampingnya.

Gadis itu… Cahaya yang masuk melalui kaca… Rambut yang tergerai… Posisi duduknya…

Kyuhyun tidak pernah melihat seseorang secantik itu.

Dan hal itu membuatnya tercengang.

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Tidak sopan untuk menatap Seohyun seperti itu. Bagaimana pun juga, dia menyukai Sooyoung, bukan?

Atau tidak lagi?

***

“Kita sampai,” gumam Kyuhyun sambil mematikan mesin mobil.

Ryeowook langsung keluar dari mobil dan berlari masuk, meninggalkan Kyuhyun dan Seohyun. Mereka berdua langsung menyusul masuk, dan menemukan Ryeowook duduk di salah satu bangku yang disediakan. Seohyun duduk di sampingnya, tapi memandang ke arah lain.

“Dia sedang dioperasi,” Ryeowook berbicara tiba-tiba. Kyuhyun, yang bersandar di dinding, berdiri tegak. “Masih lama. Aku akan menunggu.”

“Kami juga,” Seohyun berkata sambil menatap Ryeowook. “Aku dan Kyuhyun tidak akan pergi ke mana-mana.”

Ryeowook mengangguk, ekspresinya kaku. Seohyun khawatir melihatnya, tapi apa yang bisa dilakukannya? Kalau pun dia menenangkan Ryeowook, namja itu tidak akan merespons. Seakan dirinya… beku. Begitu saja. Diam, menghadapi rasa sakitnya sendirian. Seohyun biasanya punya rencana—dia selalu tahu apa yang harus dilakukannya di setiap keadaan—tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Kau dengan Kyuhyun saja,” kata Ryeowook. “Aku akan menunggu Sooyoung. Kalian… lakukan apa saja yang menurut kalian menyenangkan.”

Dia bangkit berdiri dan berjalan ke arah ruang operasi, dan duduk di kursi di depannya, kembali terdiam, duduk mematung seperti tadi.

Rasa nyeri itu kembali muncul…

Mengapa aku begitu bodoh?

Semakin terasa sakitnya…

Kenapa aku tidak mengantarnya pulang?

Rasa nyeri itu semakin besar…

Bagaimana kalau dia tidak selamat?

Napasnya mulai sesak…

Aku benar-benar akan kehilangannya?

Tenggorokan Ryeowook tercekat.

Semoga hal itu—mimpi buruk itu—tidak akan terjadi.

***

“Mau ke mana kita?”

Seohyun tersenyum. “Hmm, di mana, ya?”

Dia melakukan seperti apa yang dikatakan Ryeowook—melakukan sesuatu yang menyenangkan dengan Kyuhyun. Lagi pula, Seohyun juga tidak bisa membiarkan Kyuhyun bersedih juga. Sudah cukup dengan Ryeowook yang bersedih.

“Apa yang sedang kaurencanakan?” tanya Kyuhyun curiga.

Seohyun tertawa. “Aku menuruti Ryeowook. Kau tidak perlu cemas begitu. Aku yakin Sooyoung akan baik-baik saja, meski aku tidak mengenalnya begitu baik.” Dia mengangkat bahu. “Dan kau terlihat muram terus, lebih baik kau tersenyum sedikit saja.” Seohyun sendiri tersenyum lebar untuk mempertegas maksudnya.

Kyuhyun terkekeh melihat senyumannya. “Kau benar-benar ingin membuatku ceria lagi?”

Seohyun tersenyum. “Tentu saja. Aku sendiri juga ingin melupakan keadaan Sooyoung sejenak,” desahnya. “Aku tidak mengenalnya begitu baik, tapi…”

Kyuhyun manggut-manggut, mengerti. “Baik, apa yang akan kita lakukan?”

Seorang Seo Joo Hyun selalu punya rencana.

***

“Biasanya para yeoja selalu pergi ke toko pakaian, bukan ke sini.”

“Bagaimana kalau mereka ingin membeli majalah fashion?”

“Yah, maksudku selain itu. Jarang ada perempuan yang pergi ke sini untuk membeli buku sastra.”

Seohyun menoleh ke arah Kyuhyun. “Mungkin aku memang berbeda.”

Kyuhyun terkekeh. “Seberapa besarnya aku percaya padamu, tapi aku muak oleh tempat ini. Setidaknya di rak buku yang ini.”

“Sastra?” kata Seohyun, matanya melihat buku-buku yang tertata rapi di toko tersebut. “Ini jenis buku favoritku selain cerita roman. Aku akan memilihkan buku-buku yang bagus untukmu.”

“Ini bukan definisi bersenang-senang seperti yang kuharapkan,” gerutu Kyuhyun dengan gigi dikertakkan.

Seohyun hanya tertawa. Dia berjalan menyusuri rak buku yang panjang, tetap dengan Kyuhyun mengikutinya dari belakang. Seohyun membungkuk dan meraih satu buku.

Romeo and Juliet?” Kyuhyun membaca judul buku itu, lalu tertawa.

Seohyun hanya tersenyum. “Kisah ini memang dikenal banyak orang, tapi jarang yang benar-benar tahu apa kisah ini. Kebanyakan hanya tahu judulnya saja,” jelasnya, memberikan buku itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat alis. Tebakan Seohyun benar. Dia memang tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Romeo atau pun Juliet.

Begitu mereka membayar buku yang dibeli—Seohyun membeli dua buku dengan harga yang mahal—Kyuhyun mendesak Seohyun untuk pergi ke arena permainan yang terdapat di mal tersebut.

“Tempat itu terlalu berisik,” keluh Seohyun.

“Kau sendiri yang setuju untuk bersenang-senang,” rengek Kyuhyun. “Ayolah!”

“Aish, baiklah,” Seohyun menyerah. Mereka berjalan menuju arena permainan yang padat oleh orang-orang. Kyuhyun sudah membawa kartu arenanya; pasti dia sudah menduga bahwa dia akan datang ke arena ini hari ini.

Kyuhyun berjalan ke sebuah mesin permainan Starcraft. Seohyun tidak tahu apa permainan itu. Tapi kelihatannya Kyuhyun bisa memainkannya dengan baik. Kyuhyun sendiri mengalami waktu yang menyenangkan, tapi dia merasa tidak enak terhadap Seohyun.

“Kau mau memainkan sesuatu?” tanyanya.

Seohyun tersentak dari lamunannya. “Ah, tidak. Tadi aku membuatmu tidak nyaman di toko buku. Seharusnya kau juga melakukan hal yang sama.”

Kyuhyun mendengus. “Aku tidak sejahat itu. Ayo.”

Otomatis, tangan Kyuhyun mencengkeram pergelangan tangan Seohyun. Yeoja itu kaget akan sentuhan Kyuhyun di kulitnya, yang terasa seperti listrik. Begitu juga dengan Kyuhyun. Lengannya gemetar begitu menyentuh Seohyun. Apa ada yang salah?

Kyuhyun menariknya ke arah permainan bowling. Setelah berdiri di depan jalur, Seohyun ragu-ragu mengambil sebuah bola bowling yang ternyata berat. Dia hanya pernah melihat orang-orang bermain bowling di TV—Seohyun tidak tahu bolanya bakal seberat ini!

“O-oh, kau butuh bantuan dengan itu?” Kyuhyun menawarkan.

Seohyun spontan menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia tidak ingin Kyuhyun mengasihaninya. Dia yeoja yang kuat—dia tidak butuh dikasihani, apalagi oleh Kyuhyun. “Aniyo, aku bisa.”

Seohyun berusaha berdiri tegak dan mulai membungkuk sedikit untuk melempar bolanya ke jalur bowling. Kyuhyun mendecakkan lidah. “Kau tidak langsung membungkuk seperti itu.”

Kyuhyun mengarahkan posisi badan Seohyun dengan benar. Anehnya, Kyuhyun merasa gugup begitu kulitnya bersentuhan dengan kulit Seohyun. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Tangannya mulai gemetar, dan Seohyun menyadarinya.

“Kyuhyun-ssi, mungkin kita harus beristirahat,” usul Seohyun pelan.

“Mwo? Istirahat? Kita belum setengah jam di sini,” tolak Kyuhyun.

Seohyun memegangi pergelangan tangan Kyuhyun, membuat namja itu merasakan kehangatan di kulitnya. “Kau gemetar. Gwenchanayo?”

Jangan sampai Kyuhyun juga sakit, Seohyun berpikir. Sudah ada Sooyoung, lalu Ryeowook yang depresi, dan Kyuhyun… Astaga, aku bisa gila!

Kyuhyun tersenyum lemah, rasa gugupnya belum hilang juga. “Gwenchanayo. Ayo, tadi posisimu sudah benar. Lempar bolanya.”

Pelan-pelan, Seohyun kembali ke posisinya yang sudah dikatakan Kyuhyun tadi, dan menarik napas dalam-dalam. Lalu dia melempar.

Semua pin bowling jatuh.

Strike!” teriak Kyuhyun senang, melonjak-lonjak di samping Seohyun. “Hyunnie-ah, strike!”

Seohyun tersenyum senang, lalu menoleh ke arah Kyuhyun. “ ‘Hyunnie’?”

Kyuhyun balas menatapnya, sadar akan apa yang dikatakannya saat memanggil Seohyun. “Ah, itu… Tadi… A-Aku… Aku tidak sengaja…”

Seohyun memandangnya galak, tapi dia tertawa secara tiba-tiba. Kyuhyun kaget melihatnya tertawa—tepatnya, menertawakan dirinya. “Hei, apa yang lucu?” gerutu Kyuhyun.

Yeoja di depannya akhirnya berhenti tertawa, meski senyum manis masih tersungging di wajahnya yang seperti malaikat. “Aku hanya bercanda. Kenapa kau memanggilku dengan nama itu?”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Keceplosan? Itu terjadi begitu saja.”

Seohyun ikut mengangkat bahu. “Aku suka itu.”

***

Kyuhyun dan Seohyun sepertinya lupa waktu. Sehabis bermain bowling, mereka pergi ke arena ice skating dan membeli es krim, lalu melihat-lihat sebuah toko musik. Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu bersama.

Seohyun tidak pernah merasa bahagia seperti ini sebelumnya. Dia tahu Kyuhyun bukan miliknya, tapi dia tidak bisa menyingkirkan perasaan bahagia itu dari dalam dirinya. Setidaknya, Kyuhyun bersamanya saat ini, dan Seohyun ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Mungkin Seohyun tidak bisa langsung menyatakan cintanya, tapi dia jelas bisa menunjukkan bahwa dia peduli pada Kyuhyun.

Kyuhyun sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya. Jantungnya serasa hampir copot, dan menyentuh Seohyun saja terasa seperti dialiri listrik. Tapi yang jelas, dia merasa tenang bersama Seohyun. Tenang dan bahagia. Bahkan melihat Seohyun saja sudah membuatnya yakin bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Selama berada di toko musik, Kyuhyun lebih fokus melihat-lihat, dan Seohyun justru menatap namja itu, bukan apa yang dipajang di toko. Seohyun ingat apa yang terjadi tadi di arena ice skating

“Kyuhyun-ssi, aku tidak bisa berseluncur di es,” kata Seohyun panik. “Lebih baik aku tetap di sini dan—”

“Aku akan mengajarimu,” potong Kyuhyun. Dia menggenggam pergelangan tangan Seohyun dengan tegas. “Percayalah padaku.”

Seohyun tercengang. Percaya? Sejak Seohyun tahu bahwa dia mencintainya, tentu saja dia tahu bahwa dia mempercayai Kyuhyun.

Gerakan Seohyun di es sedikit kaku dan canggung, dan Kyuhyun—yang sudah ahli—berdiri di sampingnya dan perlahan, menyusupkan jemarinya di antara jemari Seohyun, membuat kedua tangan mereka saling genggam.

Seohyun tidak bisa berpikir. Tidak bisa bergerak. Waktu seakan membeku.

Tangannya tegang. Seluruh tubuhnya kaku.

Kyuhyun kelihatannya juga mengalami hal yang sama, tapi dia tersenyum. “Ikuti aku saja, arraso?”

Seohyun mengangguk dua kali, dan keduanya berseluncur di atas es sambil berpegangan tangan.

***

Ryeowook menunggu.

Menunggu.

Itu membunuhnya.

Akhirnya, pintu ruangan tersebut terbuka. Seorang dokter keluar. Ryeowook merasa jantungnya berhenti berdetak sekali. Dia berdiri, tubuhnya gemetar.

“Bagaimana?”

“Operasinya berjalan lancar,” kata si dokter. “Kita hanya perlu menunggunya terbangun. Setelah itu, dia akan baik-baik saja. Dia berada di kamar 1026.”

Bahu Ryeowook menurun, rileks, dan dia menghela napas panjang. “Astaga. Terima kasih atas segalanya, sajangnim.” Ryeowook membungkuk dan berjalan menuju kamar rawat-inap Sooyoung.

Begitu Ryeowook mendorong pintunya hingga terbuka, tenggorokannya tercekat. Sooyoung terbaring di atas ranjang, tidak sadarkan diri. Ada mesin-mesin di sekelilingnya, dengan slang infus di pergelangan tangannya. Kalau keadaannya lebih parah, bisa-bisa Sooyoung dirawat di ICU.

Ryeowook duduk di samping kiri Sooyoung dan menggenggam tangannya. Dingin. Tidak hangat seperti biasanya.

Belum sempat Ryeowook berbicara, pintu menjeblak terbuka.

“Dia sudah sadar?” Seohyun buru-buru memasuki ruangan dan membungkuk di seberang Ryeowook. Jemarinya menyentuh sekilas bahu Sooyoung.

Kyuhyun menyusul, langkahnya lebih lambat. Dia menatap Sooyoung, lalu Ryeowook, lalu Seohyun. Matanya tidak menyiratkan kekosongan—justru kesedihan mendalam.

“Kalian bersenang-senang?” tanya Ryeowook tiba-tiba.

Seohyun mengangguk. “Kami membelikan sesuatu untukmu dan Sooyoung, nanti kalau dia sudah bangun…”

***

Sementara Ryeowook dan Seohyun berbicara satu sama lain, Kyuhyun terus-menerus menatap Sooyoung.

Aneh.

Aneh.

Kyuhyun tidak merasakan apa-apa saat menatap Sooyoung. Tentu, dia merasa cemas, sedih, berharap Sooyoung bisa segera sadar, tapi tidak ada perasaan khusus.

Dia sengaja mengalihkan pandangannya, matanya tertuju pada Seohyun.

Dan jantungnya mulai melompat tidak beraturan.

Apa yang terjadi padanya? Bukankah dia menyukai Sooyoung? Kenapa tahu-tahu dia bisa begini sewaktu melihat Seohyun?

Tapi, ada perbedaan besar antara rasa suka dan cinta.

***

Ryeowook kembali mengamati Sooyoung. Bahkan, dalam keadaan tidak sadar begitu, Sooyoung terlihat cantik. Sangat cantik.

Ryeowook ingat apa yang dikatakan Sooyoung sewaktu mereka masih kecil…

“Wookie-ah.”

“Hmm?”

Sooyoung, yang berusia 12 tahun, tersenyum ke arah sahabatnya. “Apa kau pernah berpikir tentang hidupmu saat dewasa? Mungkin… dua puluh tahun lagi?”

Ryeowook, yang juga berusia sama, mengerutkan kening. “Aniyo. Aku belum pernah berpikir tentang itu.”

Senyum Sooyoung melebar. “Aku sudah.”

“Kau sudah memikirkannya? Merencanakannya?”

Sooyoung tertawa. “Aku hanya berpikir saja. Masih banyak waktu untuk merencanakannya.”

“Apa yang kaupikirkan?” Ryeowook spontan bertanya.

Sooyoung tersenyum, matanya menerawang ke arah langit biru berawan. “Dua puluh tahun lagi, aku akan bertemu orang yang kucintai. Lalu kami berdua punya keluarga. Aku tidak tahu siapa dia, tapi yang pasti aku akan sangat mencintainya.”

Ryeowook terkekeh. Sooyoung memang suka sekali untuk memikirkan masa depan. Menurut yeoja itu, masa depan bisa menjadi lebih indah daripada masa lalu bila kita bekerja keras untuk mewujudkannya.

“Aku ingin punya dua anak,” Sooyoung melanjutkan. “Satu anak laki-laki, dan satu anak-anak perempuan. Aku bahkan sudah memikirkan namanya. Menurutmu nama Choi Soon Hee bagus, tidak?”

Ryeowook mengangkat alis. “Kau akan memakai nama keluargamu? Bukan nama… calon suamimu?”

Sooyoung mengangkat bahu. “Bisa saja. Aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan,” candanya, lalu tertawa. Ryeowook juga tertawa.

“Berarti kalau kau menginginkan cinta sejati, kau akan mendapatkannya?”

Sooyoung memiringkan kepalanya. “Mungkin. Aku hanya berharap dia tidak jauh. Aku berharap dia yang menemukanku.” Lalu dia tertawa—suaranya merdu. “Karena aku jelas-jelas tidak mau pergi ke ujung dunia untuk mencarinya.”

Ryeowook meremas tangan Sooyoung. Bisakah dia menemukan cinta sejatinya? Bagaimana kalau dia tidak pernah bangun? Atau mungkin Sooyoung sudah tahu siapa cinta sejatinya?

***

21.50.

“Kalian berdua,” panggil Ryeowook, “pulanglah. Hari sudah malam, dan besok kalian masih harus kuliah.”

Kyuhyun mendengus. “Apa? Memangnya kau ibu kami?”

Ryeowook menggeleng. “Aku akan menemani Sooyoung.”

Kyuhyun menatapnya, tidak percaya. Seohyun kelihatan menimbang-nimbang. “Ryeowook-ssi, kau yakin? Apa kau sudah menelpon Ny. Choi? Mungkin Ny. Choi bisa menjaganya, dan kau tidak perlu membolos kuliah…”

Ryeowook tersenyum. “Gwenchana. Ny. Choi pasti juga lelah dengan pekerjaannya. Aku saja.”

Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Kyuhyun dan Seohyun setuju untuk pulang. Seohyun merangkul Ryeowook sebentar—dan Kyuhyun menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka—dan menepuk bahunya. “Kami akan kembali besok dengan makanan, Ryeowook-ssi. Ingat, kau juga harus menjaga kesehatanmu.”

Ryeowook menganggukkan kepalanya. Untuk sementara, dia lupa bahwa sebenarnya dia menyukai yeoja di depannya. Bukankah seharusnya dia senang Seohyun merangkulnya? Tidak. Dia tidak senang. Bahkan, Ryeowook tidak merasakan apa-apa saat dipeluk Seohyun. Seakan seluruh tubuhnya sudah mati rasa.

Kyuhyun hanya menyalami tangan Ryeowook. “Jaga kesehatan, Ryeowook-ssi,” katanya sebelum dia dan Seohyun pergi dari kamar rawat-inap Sooyoung.

Mereka berdua berjalan ke arah lift. Sambil menunggu pintu terbuka dan membiarkan mereka masuk, Seohyun mendesah. “Aku benar-benar khawatir soal Sooyoung. Aku merasa bersalah kita bersenang-senang tadi.”

Kyuhyun menunduk ke arahnya. Dia sadar bahwa dia suka mendengar yeoja itu berbicara. Suaranya mampu membuat dirinya merasa tenang. “Itu tidak salah. Ryeowook yang menyuruh kita.” Dia tetap menatapnya, dan Seohyun menatap balik.

“Hyunnie-ah,” katanya pelan, sekali lagi menggandeng tangan Seohyun, “izinkan aku mengantarmu ke rumahmu.”

***

Mata Ryeowook terasa berat. Dan perih. Sudah lewat tengah malam, dan dia belum tidur juga.

Dan Sooyoung juga belum sadar.

“Sooyoung-ah.” Ryeowook mencoba memanggilnya, tapi tidak ada gunanya. Mungkin Sooyoung bisa mendengarnya, namun dia tidak bisa meresponsnya.

Ryeowook meremas tangan Sooyoung sekali lagi, dan rasa dingin menyergap kulitnya. Sedingin es.

BRUK!

Ryeowook mendongak. Pintu kamar terbuka lebar. Suara sekeras itu pun tidak bisa menyadarkan Sooyoung dari “tidurnya”.

“Ny. Choi.” Ryeowook berdiri dan membungkuk ke arahnya.

Tapi apa yang dilihat Ryeowook bukan Ny. Choi yang biasanya. Ny. Choi adalah wanita yang tegar—seperti yang diwariskannya kepada Sooyoung. Tapi—juga seperti Sooyoung—Ny. Choi juga bisa hancur di bawah tekanan.

Wanita berambut hitam lurus itu berjalan mendekat ke ranjang Sooyoung, tangannya membekap bibirnya. Air mata membasahi pipinya, seluruh tubuhnya gemetar.

“Sooyoung… Sooyoung-ku…”

Ryeowook bangkit dari tempat duduknya dan menenangkan Ny. Choi. Dia mengambil kursi dari sudut ruangan dan membiarkan Ny. Choi duduk di situ. Lima belas menit kemudian, Ny. Choi sudah tidak gemetaran, tapi air mata masih turun dari matanya.

“Ryeowook,” kata Ny. Choi, sebelah tangannya menepuk bahu namja itu, “terima kasih karena telah menemani Sooyoung sampai malam begini.”

Ryeowook menganggukkan kepalanya. Dia sudah mengenal keluarga Choi sejak kecil, dan Ny. Choi bersikap seperti ibu Ryeowook sendiri.

“Kau harus pulang,” lanjut Ny. Choi lagi. “Aku baru tahu beberapa saat yang lalu soal Sooyoung—kau besok masih harus kuliah. Aku tidak ingin kau kelelahan dan kurang tidur.”

Ryeowook berusaha berbicara sesopan mungkin. “Saya juga tidak mau Anda kelelahan dan kurang tidur juga. Biarkan saya menjaga Sooyoung. Anda pasti kelelahan bekerja seharian.”

Ny. Choi mengerutkan keningnya. “Ryeowook—”

“Tidak apa-apa, sungguh, Ny. Choi,” kata Ryeowook pelan. “Anda pulang saja, saya akan menemani Sooyoung. Anda bisa menjenguk Sooyoung besok, setelah mendapatkan tidur yang cukup.”

Ny. Choi terdiam sesaat. Dia bergantian menatap Ryeowook dan Sooyoung.

“Yah… Kurasa boleh. Aku akan datang besok.” Ny. Choi tersenyum hampa dan bangkit dari kursinya. Ryeowook ikut berdiri tegak dan mengantar Ny. Choi sampai ambang pintu kamar Sooyoung.

Ny. Choi menepuk bahu Ryeowook lagi. “Terima kasih atas segalanya, Ryeowook.”

Ryeowook mengangguk dan tersenyum. “Bukan masalah, Ny. Choi.”

Ny. Choi menghela napas. “Telpon aku—kapan pun—setelah dia sadar.”

Ryeowook mengangguk.

Begitu Ny. Choi lenyap dari pandangan, Ryeowook menutup pintu dan berbalik menatap Sooyoung. Matanya masih terpejam, wajahnya yang seperti dewi menunjukkan kedamaian dalam ketidaksadarannya.

Sooyoung, kapan kau akan bangun?

To Be Continued

Note:

Wah, ternyata sudah part 4… Kira-kira 1 atau 2 part lagi, Lovesquare akan selesai…

FF author yang baru ditunggu, ya? Hehe *ajang promosi, abaikan*

Woo… Kyuhyun dan Seohyun! Aklsadufasdfados

Jangan lupa tinggalkan jejak di Twinkle Super Generation, yaa! Kamsahamnida!

9 thoughts on “Lovesquare Part 4

  1. Wah, ff-nya bagus banget ching. Kata-katanya bagus n ceritanya menarik. Wah, Kyu udah mulai ada tanda-tanda tuh ke Seo, begitupun Wookie ke Soo. Oiy, Ny. Choi itu bilang ke Wookie katanya telpon aku 727 enam kali. Wkwkwkwk.😀

  2. kyuppa dh mlai ska y ma seo!!
    tp ko cpt bgt brpndah hti!!
    tp spertinya q mlai ngerti prasaan kyuppa bwat sooyoung it bkn cnta mlainkn cm rsa ska atw kgum aj!!
    sdangkn prasaan kyuppa bwat seo it cnta!!
    mga soo ny cpt smbuh!!

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s