Stay With One Love (Part 5)

page

TITLE             : Stay With One Love part V (sequel Forever Love With You)

AUTHOR       : Keyindra_clouds

MAIN CAST  :Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Choi Siwon Super Junior, Im Yoona SNSD, Victoria song

GENRE          : Romance, Sad, Angst, Comedy, marriage life.

LENGHT        :  Chapter Series

##############

 

Mian chingundeul baru nongol..^dilempar buku sm readers^. Aku bawa part selanjutnya untuk memenuhi hutang FF ku. Tapi disini cast YoonWon aku ga bisa buat. Ntar di next part pasti aku tambahain *dipelototin readers*. Bwt next part aku tunda dulu soalnya ada UAS. Pasti aku banyakin cast YoonWon #janji –V.

Ga usah cing – cong langsung aja CEKIDOT!!!.  #MIAN KALO CERITANYA NGAWUR  AND MASIH BANYAK TYPO. IDE AUTOR CUKUP SAMPAI DISINI.

JONG WOON POV

Angin sedikit berhembus pelan dimusim gugur ini. Aku memutuskan untuk berjalan – jalan sebentar mengajak Jae Woon dan Nam Young. Karena Yuri tiba – tiba saja meminta izin untuk pergi kerumah orang tuanya yang baru saja pulang dari Hongkong. Sementara ini jam masih menunjukkan pukul 8 malam. Belum ada tanda – tanda mereka berdua ingin pulang. Aku mengandeng mereka berdua sambil sesekali mereka berdua melepas gandengan tanganku dan berlari – lari kecil sambil tertawa. 3 tahun pernikahanku dengan Yuri, aku tak pernah menyesal menikah dengannya meskipun kami hanya kenal selama 4 bulan itu tak membuatku patah arah untuk menemukan cinta sejatiku. Kwon Yuri.

“app…pa.” tegur Nam Young.

“ne,” Ucapku melirik mereka berdua dan tetap fokus berjalan.

“give me ballon.” Pintanya padaku sambil memasang muka polos dan puppy eyes-nya.

“okay, let’s go!!.” Kuajak mereka berjalan – jalan disekitar taman kota yang sedikit ramai mengingat sebentar lagi akan memasuki puncak musim gugur. Jujur perasaanku ini masih sedikit sakit ketika Siwon mengirimi sebuah hadiah untuk Yuri disisi lain Yuri sangat marah ketika menerima gaun itu dan segera ia mengambil gunting dan menggunting- guntingnya hingga benar – benar rusak. Aku tak pernah melihat Yuri semarah dan seberani itu.

“ap..pa dlont (don’t) muse (jangan melamun).” Kaget mereka padaku.

“what?. Muse?. Oh, appa not muse,  nothing!. (oh, appa tak melamunkan apa – apa).” Ucapku asal pada mereka berdua.

“so…?.” Ucap Jae Woon menambahi.

“kajja, c’mon cheer up, chagi!. (ayo bersenang – senang).” Lanjutku pada mereka berdua.

Aku terlalu mencintai Yuri, tak akan pernah kubiarkan seorang Choi Siwon menyakitinya kembali. Dia terlalu berharga untukku. Sekarang kami tak akan pernah berpisah karena kami diikat oleh dua orang namja dan yeoja kecil yang berada ditengah – tengah kami.

 

Beberapa menit kemudian….

 

“appa. Pfoll…you (for you).” Nam Young menyerahkan sebuah balon berwarna merah kepadaku. Anak ini selalu tak bisa ditebak. Ku angkat bibirku keatas untuk tersenyum memandangnya dan berjongkok mensejajarkan diriku pada tingginya.

“thanks chagi. Gomawo.” Ucap tulus mengacak rambutnya pelan dan menerima balon pemberiannya.

“foll (for) umma.” Ucap Jae Woon menyerahkan balon warna merah juga padaku.

“um..mma.. app..pa.” lanjut mereka bersamaan menyerahkan dua balon kepadaku. Aku terenyuh untuk beberapa saat. Astaga!!. Ternyata mereka berdua?. Sungguh tak kusangka Yuri ternyata bisa menjadi umma yang sempurna bagi mereka berdua. Apa yang harus aku ragukan lagi padanya. Aku terlalu mencintainya. Aku yakin sekarang ini jika Yuri benar – benar sudah melupakan namja yang bernama Choi Siwon itu.

“wae, chagi?.” Tiba – tiba saja Nam Young menarik bajuku.

“You wanna go back chagi?.” Tanyaku sekali lagi pada mereka berdua.

“bad boy.” Ucapnya tiba – tiba menujuk seseorang yang tampak dari kejauhan.

“bad boy?. Who is’t?.” Aku mengikuti arah yang ditunjukkan oleh jari Nam Young. Aku melihatnya secara seksama. Omona!!. Choi Siwon!. Aku memang marah padanya, tapi ini bukan saatnya. Aku pun tahu juga bila ia belum bisa menghilangkan perasaanya terhadap Yuri. Tapi bukan dengan emosi juga aku tampakkan ketika aku bertemu dengannya. Pandangan mataku masih terfokus pria bernama Choi Siwon itu. Dan akhirnya ia pun tak sengaja memandangku dan menajamkan matanya padaku.

“euhmm. Kajja kita pulang. Umma sudah menunggu dirumah. So, let’s go home!.” Perintahku pada mereka berdua sambil menggandengnya. Aku merasa perasaanku tak enak ketika ia mulai berjalan kearahku.

“apa Yuri sudah menerima paket dariku beberapa hari lalu?.” Suara bariton itu seolah – olah memanggilku untuk menatap wajahnya. Aku terhenti sejenak, aku bukan pengecut yang akan membiarkan namja itu merebut Yuri dari sisiku. Kubalikkan tubuhku yang kini tengah menghadap muka Siwon secara jelas.

“jika aku berkata ya, apa kau bahagia?.” Ucapku sedatar mungkin menyembunyikan emosiku ketika melihatnya.

“tentu aku bahagia. Karena Yuri berarti memberikan kesempatan kedua bagiku kembali.” Ucapnya percaya diri sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Tcih. Percaya diri sekali kau Choi Siwon –sshi!!. Paket yang kau berikan pada Yuri sudah terpotong menjadi 5 bagian karena potongan gunting. Kau tau siapa pelakunya?. Kwon Yuri yang melakukannya sendiri!” Aku menyeringai kecil menandakan kalau kini aku yang menang. Aku segera membalikan badanku dan berjalan menjauhinya. Entahlah sekarang aku tak bisa membayangkan raut mukanya yang antara kecewa atau bahagia. Skkakkmatt..kau Choi Siwon. umpatku dalam hati.

 

*****

 

“appa. Dlont (don’t) Sad…. Smile!!!.” Ucap Jae Woon menunjukkan mimik mukanya yang tersenyum. Sekarang ini kami sudah berada didalam kamar untuk menidurkan mereka.

“ap..ppa..smile!!.” perintah Nam Young menarik pipiku pelan agar tersenyum. Sungguh ini adalah hal terindah yang Tuhan berikan untuk hidupku saat ini. Dua orang malaikat kecil, seorang namja dan seorang Yeoja. Anugerah yang tak bisa kutukar dengan apapun juga.

“ne..ne..appa give your smile if appa get…”ucapku menggantung dan pura – pura mengetuk – ngetukkan jari telunjukku dipipi.

“uh-huh (apa?)?.” mereka berdua seakan mengerti dan saling memandang satu sama lain kemudian secara tiba – tiba mencium pipi kanan dan kiriku secara bersamaan.

 

Cupss….

 

“Gomawo chagi.” Mereka berdua tersenyum penuh arti menampakkan kepolosan wajah mereka. Sesekali mereka berdua bersender didadaku dan memelukku. Aku mengusapnya pelan kepalanya dan membelainya hingga mereka berdua tertidur.  Kulihat sekilas arloji yang menempel ditanganku menunjukkan pukul sepuluh malam belum ada tanda – tanda Yuri akan pulang. Segera kurogoh ponselku untuk menghubunginya. Belum sempat aku menekan nomor ponsel Yuri sebuah panggilan masuk darinya.

“yeoboseo. Yuri-ya, kau pulang jam berapa?.”

“euhmm. Jong Woon-ah. Ini umma bukan Yuri. Yuri malam ini akan menemani umma, jadi ia tak pulang dan menginap disini. Apa kau mengizinkannya?. Umma sangat merindukan Yuri.”

“eommonim. Aku ingin bicara dengan Yuri sebentar. Bolehkah?.”

“Yuri baru saja tertidur umma tak mau ,mengganggunya. Kelihatannya ia lelah sekali. Jadi bolehkah malam ini ia menginap disini. Jebal, Jong Woon-ah…umma merindukannya.”

“ne, baiklah eommonim.” Ucapku bijak.

Klikk…aku memutus panggilan dari umma Yuri. Hmm…baiklah sesekali aku tak tidur dengan Yuri menjaga mereka berdua semalaman penuh.

“night chagi.” Ucapku mengecup kening mereka masing – masing dan kemudian tertidur disampingnya.

 

*****

 

YURI POV

 

Hari ini aku berinisiatif untuk pergi ke rumah umma, aku tahu jika hari ini umma dan appa akan pulang dari hongkong setelah selesai dengan urusan saham hotelnya di Hongkong. Sebenarnya ada maksud tersendiri aku mengunjungi umma. Aku ingin memastikan gelang yang dibawa Nam Young kemarin adalah gelang umma. Dan jika benar itu milik eomma, aku ingin menyelidiki sebenarnya ada hubungan apa antara umma dan Victoria.

“annyeong. Ahjumma Lee. Apa kabar?.” Yeah, ahjumma Lee adalah pembantu kepercayaan umma dan appa saat ini.

“nona Kwon. Wae tiba – tiba datang kemari tak memberi kabar?. Dimana si kecil Kim Twins?.” Tanya Lee ahjumma yang menyambut kedatanganku.

“aniyo mereka tak ikut denganku mereka sedang bersenang – senang dengan appa-nya.” Jawabku berjalan mengikuti ahjumma Lee berjalan kedapur. Aku berniat memberi kejutan appa dan umma atas kedatangan mereka.

“euhmm..aku pergi kekamar umma dan appa dulu. Aku ingin memberi kejutan pada mereka berdua ahjumma.”

“oh, ne.”

 

*****

Ideku ini memang gila. Mengobrak – abrik kamar umma mencari sesuatu yang belum pasti kejelasannya. Tapi entah mengapa hatiku saat ini terpanggil untuk menyelidiki gelang yang Nam Young ambil dari umma beberapa hari lalu. Aku yakin pasti ini ada kaitannya dengan gelang yang sama persis Victoria pakai. Segera kucari sesuatu yang mungkin dapat kujadikan petunjuk untukku.

Kubuka laci meja rias umma, lemari serta nakas meja umma. Namun nihil tak kutemukan sesuatu apapun untuk kujadikan petunjuk tentang hubungan umma dan Victoria. Aku terlentang di ranjang umma untuk sejenak sambil memejamkan mata sejenak. Pikiranku melayang jauh, kejadian 15 tahun lalu apa ada hubungannya dengan Victoria Song. Aku mencoba berpikir kembali mengingat kejadian saat itu.

 

Aku pernah koma tiga minggu dirumah sakit, dan kenapa tiba – tiba keluarga Kang mengangkatku menjadi dongsaeng Sora eonni?. Tunggu dulu!. Kecelakaan itu membuatku sampai di Seoul dan akhirnya orang tua Sora eonni mengangkatku menjadi anak angkatnya. Yeoja itu mungkin sengaja meninggalkanku serta mencelakaiku saat aku masih sebagai anak panti asuhan. Waktu itu aku akan diadopsi oleh keluarga kaya dan malamnya yeoja yang kupanggil Yoong itu menangisi kepergianku. Dan pagi harinya  yeoja yang mencelakaiku itu melarang  Yoong ikut bersama kamu dan hanya mengajakku pergi berjalan – jalan kesuatu tempat yang indah sebelum aku pergi bersama orang tua yang akan mengadopsiku. Tapi ia tiba – tiba marah karena aku mengikutinya padahal ia sendiri yang mengajakku. saat aku bilang aku lapar, yeoja itu kembali marah padaku dan mendorongku kasar serta meninggalkanku sebentar untuk membelikan susu tapi aku disuruh untuk menungguinya didalam truk yang berisi boneka lucu – lucu. Tapi tiba – tiba saja truk itu berjalan dan kulihat yeoja itu berjalan semakin menjauh, aku mencoba memanggil – manggil namanya tapi ia berjalan membelakangiku dan semakin menjauh.

“Qianiee…Qianie eonni…jebal jangan tinggalkan aku. Qianie..eonni…Qianie eonni…aku takut.” Saat itu aku menangis mendapati diriku tengah berada sendirian didalam truk. Hingga kurasakan ada sebuah guncangan dahsyat yang membuatku tak ingat apa – apa lagi.

 

Astaga!!!. Kenapa ingatan itu tiba – tiba muncul. Apa sebenarnya yang terjadi?. Apa gelang itu memang ada keterkaitannya dengan umma dan Victoria. Tunggu dulu aku mengingat gadis yang bernama Qianie itu. Apakah jangan – jangan gelang yang Youngie ambil berlambang ‘Q’ itu melambangkan nama seseorang yaitu Qianie. Tuhan tolong ringankanlah cobaan yang menimpa umatmu ini Tuhan.

Ckreekkk…..

“Yuri-ya!!.”

“umma!!.” Aku segera bangkit dari ranjang umma dan menghampiri  serta tak lupa memeluknya. Aku mencoba tak menampakkan wajah tak mempunyai masalah yang kalut dan sebisa mungkin tersenyum untuk umma.

“hey. Wae chagi kau datang kemari?. Dimana mereka berdua?.”

“bogoshipeo umma. Aku terlalu rindu pada umma.” Ucapku memeluknya erat dan mencium pipinya singkat.

“kau ini sudah menjadi umma juga masih saja suka bermanja – manja pada umma. Dimana Kim Twins?.”

“aniyo. Mereka sedang bersenang – senang dengan Jong Woon oppa. Aku tak mau mengganggu mereka.” Jelasku pada umma yang langsung mendapat cubitan gemas dihidungku.

“auh. Appo umma. Jadi malam ini aku ingin bersama umma terus. Jebal!!!.” Ucapku memasang puppy eyes dan aegyo.

Umma menghela napas panjang dan tersenyum.“ne.”

 

*****

AUTHOR POV

 

Seorang Yeoja paruh baya tengah berbaring sambil megelus kepala putri satu – satunya itu. Bukan..bukan putri satu – satunya tapi ia pernah memiliki seorang putri lagi sebelum kehadiran Kwon Yuri.

“apa kabar kau chagi?. Mianhae selama lebih dari 20 tahun umma meninggalkanmu. Kau pantas membenci ummamu ini yang tega meninggalkanmu.” Ia beranjak meninggalkan ranjang dan mengambil sebuah kotak yang tersimpan rapat disebuah kotak dalam lemari. Perlahan kotak itu dibuka dan menampakkan sebuah foto yang menguning. Foto umma Yuri tengah mengulum senyum bahagia bersama seorang gadis kecil yang imut juga tak kalah bahagianya.

Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Ia tak kuasa membendung tangis, rasa bersalah menghinggapi dirinya kini. Bertahun – tahun ia meninggalkan putri kecilnya itu terkatung – katung bersama halmeoninya dan entah sekarang bagaimana kehidupannya sekarang ini. ini mungkin karma baginya, dulu ia meninggalkannya begitu saja dan dua tahun kemudian ia kehilangan Kwon Yuri karena sebuah kecelakaan baru setelah itu 18 tahun kemudian baru ia dipertemukan kembali dengan Yuri.

“umma. Kenapa belum tidur?.” Yuri memeluknya dari belakang dan menyadarkannya dari lamunan tentang putri kecilnya itu.

“anii. Gwenchana. Tadi Jong Woon menghubungimu dan umma bilang kau menginap disini.” Yuri mengangguk pelan dan tersenyum manis memandang umma-nya itu.

“umma. Nuguseyo?.” Yuri melihat sekilas foto yang Song HyeKyo pegang (umma Yuri #author ngarang).

“bukan siapa – siapa. kajja kita tidur!.” sang umma segera menyembunyikan foto tersebut dan merangkul Yuri menuju tempat tidur.

 

*****

 

Pagi Harinya…………

 

Yuri memutuskan untuk pulang ke apartement Jong Woon. Hatinya terlalu kalut dengan semua permasalahan yang menimpa dirinya akhir – akhir ini. ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, sementara ini hanya bisa menunggu sebuah kejelasan yang akan terjadi.

 

Ckreekkk….

“um..mma.” suara dari namja dan Yeoja kecil bersamaan berlari memeluk kaki jenjang Yuri yang berbalut jeans sedikit ketat.

“miss..you.. umma.” Ucap Jae Woon.

“miss you to babe.” Balas Yuri mensejajarkan dirinya dengan kedua malaikat kecilnya. Ia tersenyum ketika melihat mereka berdua, harta yang tak ternilai harganya. “where’s appa?.”

“euhmm..” Nam Young mengetuk – ngetukkan jari telunjukknya dipipi.

“oppa eoddiseo?.” Panggil Yuri.

“are you want surprised?. So, you can get it now!!.” Perintahku dan langsung dituruti saja oleh mereka berdua yang berlari.

 

Sementara itu….

 

“yeoboseo. Jong Woon-ah.”

“ne. Wae kau menelponku sepagi ini?.” Jika kau mengatakan kau mencintaiku aku muak dengan semua itu. Semua sudah berakhir.”

“Jong Woon ah…” ucapnya lirih

“kau tahu saat kau tak pernah mengatakan jika kau mencintaiku. aku terluka Vict.. tapi aku tak pernah pernah bisa melupakanmu. Jujur aku sakit saat kau menikah dihadapanku dengan Shim Changmin. Ingatlah Vict, kau menikah 6 tahun lalu. kau jangan seolah – olah melupakan kejadian itu!!!,”

“aku tak pernah menikah Kim Jong Woon!!.” Suara Victoria mulai meninggi.

“aku memang mencintaimu. Tapi sekarang keadaan kita berbeda tak seperti dulu lagi. Aku mencintainya Vict!.” Ucap Jong Woon bijak memutus panggilannya begitu saja.

Ada sedikit rasa yang tak bisa dijabarkan oleh hati Jong Woon. Cinta masa lalunya kini hadir lagi. Tapi keadaan telah merubah segalanya, ia kini telah menemukan cinta sejatinya. Kwon Yuri. Cukup dengan bersamanya ia sudah bahagia.

“sekarang keadaannya berbeda Victoria. Aku memang pengecut bahkan mengungkapkan perasaanku saja saat kau sudah menikah. Andai saja waktu bisa berputar kembali, skenario kehidupan mungkin bukan seperti ini. aku terlalu mencintainya Victoria, dia bagian hidupku sekarang ini. Kwon Yuri….” desis Jong Woon pelan yang terduduk ditepi ranjang. Tanpa sengaja Jong Woon memutar tubuhnya dan mendapati Yuri tengah berdiri memperhatikannya.

“Yuri –ya..” Jong Woon terkaget seketika mendapati Yuri berada diambang pintu kamarnya. Ia bisa melihat Yuri sehabis menangis dan mengusap airmatanya begitu saja.

 

*****

 

YURI POV

 

Aku tertegun untuk beberapa saat, mendengar apa yang dibicarakan Jong Woon dan Victoria. Pertahananku saat itu juga rapuh, sesuatu terasa menusuk hatiku mendengar Jong Woon dan Victoria berbicara tentang perasaan mereka.

Sebisa mungkin aku mengusap air mataku sebelum mengalir deras. Apa yang harus ku lakukan sekarang?. Aku takut bahkan terlalu takut untuk kehilangan Jong Woon. Apakah kau bisa Kwon Yuri melarang perasaan Victoria tumbuh kembali dihati Jong Woon?. Tidak!!. Jong Woon pernah mencintai Victoria, bahkan memori tentang Victoria tak pernah ia hilangkan seiring berjalannya waktu. Memori itu hanya tersimpan tidak hilang. Apakah cinta se-menyakitkan ini?. Dan apakah aku tak bisa menyembuhkan luka hatimu, memiliki perasaan dan hatimu secara utuh?. Sekelibat pertanyaan memenuhi benakku yang tiba – tiba muncul begitu saja. Marah, kecewa, kesal atau bahkan mungkin cemburu?. Aku tak tahu mengapa untuk mengatakan kata marah tak bisa meluncur begitu saja dari mulutku.

“Yuri- ya.” Suara Jong Woon mengagetkanku dan secepat mungkin aku menghapus air mataku.

“mianhae oppa aku menggangumu.” Aku berjalan keluar tapi Jong Woon mendekatiku dan tiba – tiba saja menarik tanganku tapi segera kutepis pelan tanpa berkata sepatah katapun.

“mianhae. Tentang apa yang kau dengar tadi. Kau pantas marah padaku. Tapi kumohon tolong jangan bersikap seperti ini. ” Ucapnya pelan seraya menarikku kedalam pelukannya.

“untuk apa aku marah?. Kau hanya berbincang ditelepon saja dengan Victoria. Lantas apa yang bisa membuatku marah?.” Aku menghela napas panjang berusaha tersenyum seraya memeluknya. Jong Woon melepas pelukannya dan tersenyum mengangguk pelan.

“my owlln (own = punyaku)!!.” Suara Teriakan Nam Young tiba – tiba menggema diruang tengah yang mengagetkanku seketika.

“sepertinya kau memberi sesuatu yang aneh pada mereka berdua?. Kau memberi apa pada mereka berdua chagiya?.” Jong Woon menyipitkan matanya seakan mengintogerasiku atas kesalahan yang aku buat. Aku hanya mengendikkan bahuku pelan dan berjalan mendekati mereka berdua.

*****

 

Seperti biasa hari ini pekerjaanku sangat padat meskipun appa telah kembali dari Hongkong. Ini tak memungkinkanku untuk libur mengerjakan suatu project. Map – map telah mengantri menungguku untuk aku revisi agar menjadi bahan yang layak untuk dipertimbangkan. Aku terduduk kursi kerjaku dan menyenderkan kepalaku untuk melepas penat setelah berkutat dengan map – map yang kadang tak mengertiku ini. segera aku melangkahkan kakiku untuk keluar ruangan untuk mendapatkan pencerahan kembali.

“annyeong sajangmin. Jeongsohamnida kemarin aku cuti untuk beberapa hari.” Sapa Sulli membungkukkan badan ketika ia tiba – tiba saja bertemu denganku.

“oh, ne. Annyeong. Gwenchana. Wae kau mengambil cuti secara mendadak padahal kau baru bekerja dua bulan?.”

“mianhae sajangmin. Aku harus mencari eonniku dan ada beberapa masalah dengan oppaku.”

“wae dengan mereka?.” Tanyaku penasaran.

“anii. Hanya masalah keluarga sajangmin.”

“oh..” desahku lega.

“sajangmin apa anda tak merasa janggal ketika saat itu terjatuh dari tangga?. Aku menduga ada seseorang yang mencelakai anda.” Tiba – tiba saja Sully membuka pembicaraan tentang peristiwa sebulan lalu.

“maksudmu?.” Aku menautkan salah satu alisku, tak mengerti tentang siapa yang dibicarakan oleh Sulli. Sulli kemudian merogoh saku blazer kerjanya dan menyerahkan benda berbentuk manik bulat itu. Sebuah kancing. Apa maksudnya ini?.

“aku menduga seorang yeoja yang mencelekai sajangmin kemarin memiliki kancing ini. ini kutemukan saat sajangmin tengah dibawa kerumah sakit. Dan kancing dengan bentuk seperti ini hanya ditemukan pada pakaian kerja sorang Yeoja.”

“apa kau mengetahui siapa pelakunya?.”

“mungkin saat ini belum. Mianhae sajangmin, aku lancang berbicara seperti ini.”

“gwencahana. Gomawo kau sudah memberitahuku.”

“sajangmin rapat akan dimulai 10 menit lagi. Anda harus menghadirinya sekarang juga.”

“ne, kajja kita segera keruang rapat.”

 

*****

 

AUTHOR POV

 

Victoria berjalan tergesa – gesa menuju kamar mandi. Darah dihidungnya kembali mengalir begitu saja. Seakan tak sadar Yuri mengikutinya dari belakang. Sejak diruang rapat tadi Yuri selalu memperhatikan raut wajah Victoria yang begitu pucat. Terlebih lagi dengan pakaian kerja yang ia gunakan. Ada sedikit kecurigaan dalam benak Yuri saat ia meperhatikan secara seksama kancing yang ada ditangan pada blazer Victoria. Kancing yang diberikan Sulli kepadaku. Kancing itu terlepas dari blazer dibagian tangan Victoria.

Yuri mematung untuk beberapa saat. Pikirannya jauh berkonsentrasi pada ‘apakah benar Victoria yang mencelakainya’. Lalu alasan apakah yang Victoria gunakan untuk mencelakai dirinya saat itu?.“aku tak percaya jika Victoria sekejam itu.” Gumamnya pelan.

“annyeong sajangmin Kwon.” Suara bersamaan dari beberapa karyawan tengah menyapa Yuri saat ia  mengikuti Victoria masuk kedalam kamar mandi.

“oh, ne Annyeong.” Balas Yuri ramah. Ia kemudian mendekati Sulli yang juga berada dikamar mandi yang sama membenarkan eyeliner-nya serta memoles bibirnya.

“Sulli-sshi. Apa kau yakin jika seorang yeoja yang sengaja menjatuhkanku dari tangga waktu itu.” Yuri sengaja memperkeras suaranya hingga para yeoja yang ada ditoilet tersebut mendengarnya semua. Semua memfokuskan kearah omongan Yuri termasuk Victoria yang berada didalam toliet menajamkan pendengarannya. Tubuhnya bergetar seketika, raut mukanya menjelaskan tentang adanya ketakutan, keringat dingin mengucur seketika itu dari tubuhnya.

“sajangmin..aa…pa anda mengetahui yeoja tersebut.” Sulli heran dengan sikap Yuri yang mendadak berubah seperti ini.

Braaakkk…..pintu toilet tempat Victoria bersembunyi digebrak (?) oleh Yuri begitu saja. “aku bahkan tak percaya dan tak menyangka sekejam apa yeoja yang mencelakaiku kemarin.” Yuri memandang tajam Victoria, sorot matanya menggambarkan bahwa Vicrtoria-lah orang dibalik kecelakaan Yuri kemarin. Victoria mematung seketika. Ia tak bisa berkata apa – apa lagi saat Yuri telah men-judge-nya sebagai tersangka.

 

*****

JONG WOON POV

 

Kulihat jam menunjukkan pukul 8 malam tapi aku, hari ini entah mengapa aku dan Yuri kebetulan juga pulang sedikit malam. Kuputuskan untuk menghampiri Yuri setelah pulang dari rumah sakit, karena aku yakin jika Yuri pasti masih berada dikantor mengingat ia tengah menangani beberapa project.

Kuberanikan diriku memasuki gedung perhotelan ini dan mencari seorang Kwon Yuri. Aisshhh…jinja, yeoja itu jika sudah berkutat dengan pekerjaan pasti lupa waktu. Bahkan berkali – kali kutelepon dia ponselnya pun tak diangkat yang ada hanya ia bilang jika malam ini pulang jam 8 malam. Entah sengaja atau tidak aku tiba – tiba saja dipertemukan kembali dengan Victoria saat kami tak sengaja berpapasan denganku.

“Jong Woon-ah.” Tegurnya.

“ne. Wae?.” Mata Victoria tak berpaling dariku yang terus menatapku. Aku terhenyak, menyadari cukup lama kami saling berpandangan.

“dimana Kwon Yuri?.” Tanyaku tiba – tiba mengaburkan pandangan mata kami. Seketika itu aku segera berjalan menjauhinya. Tapi sebuah tangan mencegah pergelangan tanganku untuk berjalan lebih lanjut untuk menemui Kwon Yuri.

“aku tak pernah bermain – main dengan apa yang ku ucapkan padamu!.”

“so, what am i doing?. If you wanna say love me, I’m sicka it!!.” Tekanku tanpa memandang wajahnya.

“Jong Woon-ah. Saranghae…” Kurasakan tangan Victoria memelukku dari belakang. Ia terisak pelan. 9 huruf sakti begitu saja keluar dari mulutnya. Saat ini aku hanya ingin berteriak sekencang – kencangnya KENAPA KAU HADIR SAAT AKU TENGAH MENCINTAI SEORANG YANG BERARTI DALAM HIDUPKU!!!.

 

*****

“op..ppa.” sebuah suara yang kukenal tengah memanggilku dari belakang.

“Yuri-ya..” Saat ini kulihat Yuri tengah berdiri dibelakangku melihat Victoria tengah memelukku. Suara Yuri bergetar hebat taatkala ia memanggilku. Yuri masih berusaha tenang dan tetap mempertahankan posisinya.

“mianhae, aku salah jalan pulang.” Yuri segera memutar balik arahnya dan beranjak meninggalkan kami berdua.

“Yuri-ya. Bisa kujelaskan semua ini!. ini tak seperti yang kau bayangkan!!.” Aku secara paksa melepas tangan Victoria dan berlari mengejar Yuri. Tapi tangan Victoria masih saja menahanku pergi.

“Jebal!!. Lepaskan tanganmu ini. Aku tak mau menyakiti Yuri, aku terlalu mencintainya!!.”

Aku berlari sekencang mungkin untuk mengejar Yuri, saat ini pikiranku hanya terfokus pada Yuri. Kumohon percayalah padaku aku hanya mencintaimu, satu – satunya yeoja yang berarti dalam hidupku.

Langkahku terhenti ketika kulihat Yuri sedang berada didepan kantor hendak memasuki sebuah taksi. Seketika itu tanganku meraih tangannya serta menariknya agar ia tak memasuki taksi tersebut dan menutup pintu taksi itu secara kasar.

“Yuri-ya.. jebal. Aku akan jelaskan semua ini!.” panggil Jong Woon pelan. Yuri menangkat wajahnya dan berbalik menatapku., berusaha menghindari kontak mata denganku.

“mianhae Yuri-ya.” Ucap Jong Woon pelan. Aku mengerang dan menahan lengan tangan Yuri agar tak pergi. Dengan kasar Yuri melepas cengkeraman tanganku, kulihat dengan jelas ia menangis mengeluarkan airmata. Kutarik ia kedalam pelukakanku, memeluknya erat  dan tak akan kulepas.

“lepass..lepasskan aku!!.” Teriak Yuri seraya memukul – mukul dadaku dengan kencang. Yuri berteriak dalam  dekapanku dan masih memukul – mukul dadaku lemah yang membuatku  memeluknya semakin erat. Aku menumpukkan ujung daguku dipuncak kepalanya, seraya membiarkan air mataku jatuh mengalir.

Namja macam apa aku ini. menyakiti istri yang kucintai ini.

 

*****

YURI POV

 

Beberapa hari ini hubunganku sedikit merenggang dengan Jong Woon. Aku seolah – olah merasakan jika Jong Woon semakin menjauhiku. Tuhan, ternyata ketakutakanku semakin nyata, apakah mereka berdua akrab kembali?. Sosok seorang Victoria yang tak pernah kubayangkan akan menjadi ancaman bagi hubunganku dan Jong Woon. Aku mecoba memfokuskan diriku pada pekerjaanku yang sengaja aku bawa kerumah. Ini kulakukan semata – mata agar aku mencoba mengalihkan pikiranku pada Jong Woon dan Victoria. Aku sakit, terlalu sakit saat melihat Victoria memeluk Jong Woon dan mengatakan jika ia mencintai Jong Woon. Dan apa respon Jong Woon, ia bahkan diam terhadap pelukan Victoria itu.

Samar – samar kudengar pintu kamar Jae Woon dan Nam Young terbuka. Aku tahu itu pasti Jong Woon oppa, memang pekerjaannya di rumah sakit tak menjamin ia punya jam pulang yang tetap terkadang ia pulang siang bahkan hingga berhari – hari ia tak pulang.

“Yuri- ya…” Aku masih berusaha bersikap tenang dan berkonsentrasi pada rancangan project kantor.

“kau sudah pulang oppa?!!.” Aku takut ketika memandang matanya. Jujur aku takut kehilangannya.

“kau belum tidur?.” Tanyanya sekali lagi.

“aku harus menyelesaikan project ini besok.” Aku berusaha mengabaikan Jong Woon namun tak bisa. Aku terlalu mencintainya, tapi bagaimana bisa aku tahan jika sosok seorang Victoria bersikap seolah – olah tak menyadari kehadiranya sebagai istri dari seorang Kim Jong Woon?. Ketika Victoria membatasiku untuk mempunyai ruang gerak bersama Jong Woon.

“kau tak merindukan mereka berdua?. Seharian penuh mereka menyebut namamu hanya ingin menghabiskan waktu bersama – sama denganmu.”

“ne, mianhae. Beberapa hari ini aku memang disibukkan oleh pasien. Jadi aku jarang ada waktu untuk mereka berdua.” Jelasnya. Aku hanya tersenyum simpul menanggapinya tanpa ada suara jawaban sedikitpun dariku.

Jong Woon beranjak sebentar menuju almari yang ada dikamar Jae Woon dan Nam Young mengambil sesuatu. Ia menghela napas panjang. Dengan lembut dan perlahan Jong Woon melingkarkan selimut yang cukup tebal kepundakku.

“jangan terlalu memaksakan dirimu..” aku berhenti sejenak, jantungku berdegup kencang merasakan suatu getaran yang beberapa hari ini tak kurasakan kembali.

“aku akan menunggumu sampai project itu terselesaikan…” gumam Jong Woon lembut lalu mengecup pelan kening Yuri.

“aniyo, tak perlu.” Seolah tak menghiraukannya Jong Woon beranjak bangkit membersihkan dirinya.

“tunggu dulu, akan kutemani hingga tugasmu selesai!!.”

 

*****

 

Aku melanghkahkan kakiku sejenak untuk mengambil minum kearah dapur. Kudapati Jong Woon juga tengah berada didapur memegang gelas sambil bertelepon dengan seseorang.

“bagaimana keadaanmu setelah menjalankan terapi ini?.”

“…….”

“tenang saja terapi ini tak akan membuat rambutmu rontok. Tapi jika peyakitmu terlalu parah terpaksa aku harus menganjurkanmu untuk kemoterapi.”

“…….”

“akan ku usahakan bagaimana cara mengatasinya Victoria!.”

“…….”

“baiklah akan kutemani kau.”

Apa?. Victoria lagi!!. Kenapa semakin hari hubungan mereka semakin dekat saja. Lalu kau anggap aku ini apa oppa. Jika hatimu masih menginginkan Victoria, kenapa kau mencintaiku?. dan kenapa pula kau memilihku menjadi yeoja yang pantas bersanding denganmu?. Apakah itu hanya sekedar pelampiasan perasaanmu saat hatimu begitu terluka karena Victoria. Bahkan saat ini aku belum mengerti mengapa kau mengajakku menikah tiba – tiba, tanpa adanya penjajakan hatimu dengan hatiku.

 

FLASHBACK

 

“apa kau mencintaiku oppa??.” Tanyaku tiba – tiba setelah melepas ciuman kami.

“ne, tentu saja. Aku mencintaimu sejak aku merawatmu sakit. Entah mengapa timbul perasaan seperti itu ketika aku berdekatan denganmu. Aku tahu waktu 4 bulan itu terlalu mendadak dan singkat untuk kau bisa mengenalku. Tapi percayalah bahwa sekarang aku telah jatuh cinta padamu buktinya aku bisa mengikatmu dengan sebuah ikatan tali suci pernikahan didepan Tuhan. Apa kau menyesal telah menikah denganku?.”

Aku kembali memeluknya erat lalu melepaskannya kembali dan menatap dalam manik mataku. “entah rasa yang kurasakan padamu mungkin sama persis dengan rasa yang kau rasakan padaku. Aku tak pernah menyesal dengan keputusanku menerimamu sebagai suamiku meskipun mendadak dan tiba – tiba serta tak kuketahui. Mungkin ini adalah rencana dan takdir Tuhan yang digariskan untukku. Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?.” Tanyanya dengan wajah meyakinkan.

“kau ingin meminta apa?.” Tanya Jong Woon tak mengerti.

“izinkan aku mencintaimu mulai dari detik ini dan untuk selamanya. Karena aku yakin kaulah orang yang dikirimkan Tuhan untuk mengisi hidupku. Aku tahu aku bukan orang yang sempurna untuk dapat mencintaimu. Tapi setidaknya aku dapat memberikan cintaku untuk orang yang sedang dihadapanku saat ini dan belajar mencintainya.”

Jong Woon tersenyum karena terharu atas perkataanku rasa bahagia saat ini kepadanya. Ia pun tak kalah bahagia dengan perkataannya. Kami hanya bisa menyalurkan kebahagiaan kami lewat sebuah ciuman ringan tanpa nafsu. Aku berjanji mulai saat ini dan selamanya akan mencintainya hingga maut memisahkan kita.

“lepaskan aku oppa. Aku sudah kelaparan karena sejak tadi pagi tak sarapan.” Rayunya mengakhiri ciumanku.

“ne..ne aku tahu. Aku terlalu bahagia saat ini.” Ucap Jong Woon seraya melepas pelukannya dan tersenyum lembut memandangnya.

 

FLASHBACK END

 

Air mataku tumpah begitu saja. Kata – kata itu masih terngiangan – ngiang dibenakku sejak kami menikah 3 tahun lalu. semuanya tiba – tiba terasa asing dan dingin semenjak Victoria hadir kembali dikehidupan Jong Woon. Dimana Jong Woon yang menyayangiku, dimana Jong Woon yang selalu jahil dan selalu menghiburku?. Apa ia telah berubah seiring kedatangan Victoria?.

“Yuri-ya…” Jong Woon terkaget dan mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat entah ia melihatku menangis atau tidak. Aku berjalan mundur beberapa langkah mencoba menjauhinya.

“katakan padaku jika yang kau telepon tadi bukan Victoria?.” Kata – kata itu meluncur begitu saja. Aku menangis seketika saat Jong Woon tak menjawab pertanyaanku, kurasa ini benar semua. Jong Woon tiba – tiba saja memelukku tapi aku segera mendorongnya.

“miahae, jeongamal mianhae. Aku tak bermaksud seperti ini!.” Gumam Jong Woon lirih.

“untuk apa oppa meminta maaf padaku!!. Kau tak salah, aku juga tak berhak melarang perasaan Victoria tumbuh kembali dihatimu.”

“kau salah paham Yuri-ya.. Ini tak seperti yang kau bayangkan. Aku dan dia tak ada hubungan apa – apa. Jelas Jong Woon. Suasana kembali menjadi hening. Aku mulai berhenti menangis tapi Jong Woon masih mencoba menjelaskannya.

“Victoria sakit!!.” Ucap Jong Woon meluncur begitu saja dari mulutnya. Aku menengadahkan wajahku yang sedari tadi menunduk menyembunyikan tangisku. Tak ada respon lagi dariku yang ada hanya rasa asing pada diri kami masing – masing.

*****

AUTHOR POV

 

Dengan gerak cepat diambilnya jacket Yuri yang tergeletak di sofa. Yuri berlalu begitu saja meninggalkan Jong Woon yang masih mencoba menjelaskannya tapi apa daya Jong Woon pun tak dapat mencegah kepergian Yuri. Jong Woon terduduk lesu disofa ruang tengah-nya, air mata mulai turun membasahi pipinya. Jujur bukan ini kenginannya, tapi kenapa semua ini harus terjadi.

“kajima..” Jong Woon menarik tangan Yuri kembali, tapi secara kasar ditepis oleh Yuri dan berlalu meninggalkannya.

Saat ini Yuri masih belum bisa berpikir jernih semuanya diluar kendali. Tapi apa ia bisa memungkiri jika Victoria adalah bagian masa lalu Jong Woon. Tapi sebisa mungkin rumah tangga yang telah dibangunnya bersama dengan Jong Woon itu tak boleh hancur hanya karena parasit seperti Victoria. Diambilnya ponselnya dan menekan sebuah nomor yang tak asing baginya.

“ne?.”

“aku ingin bertemu..” klikk..Yuri memutus panggilannya begitu saja. Hanya tiga kata yang keluar dari mulutnya itu sebelum air matanya turun kembali.

 

*****

Yuri tak bergeming mentap Victoria yang kini tengah berada didepannya. Itu juga yang dilakukan oleh Victoria. Mereka berdua hanya mampu melayangkan pandangan satu sama lain.

“ada yang ingin kukatakan padamu..” ujar Yuri memecah keheningan diantara mereka berdua.

“mwo?. Bukankah kita tak mempunyai urusan Kwon Yuri sajangmin?!.” Victoria mengejek kecil Yuri yang semula membuat Yuri tenang menjadi sedikit gelisah dan menatapnya tajam.

“ada apa?.” Tanya Victoria lagi. Disini mereka berdua bukanlah seorang atasan dan bawahan. Bisa dikatakan disini mereka berdua adalah musuh yang akan saling membunuh satu sama lain saat bertemu.

“soal hubunganmu dengan Jong Woon…” mendengar kata – kata itu wajah Victoria sedikit berubah. Ia tersenyum seakan kemenangan ada didepan matanya.

“wae?. Kau sudah mengerti jika aku mencintai Jong Woon?.”

“Tcih..” Yuri mendengus pelan dan menatap Victoria rendah. “jangan terlalu berharap…” Yuri mendesis tajam, tatapan matanya seakan menciutkan nyali Victoria.

“aku muak denganmu. Aku muak dengan perkataanmu yang mencintai Jong Woon!!. Kau tahu aku dan Jong Woon telah menikah?!. Jong Woon adalah ayah kandung dari kedua anakku?!. Dan kau masih dengan percaya diri sekali  mengatakan jika kau dan Jong Woon pernah saling mencintai!. Kau yeoja murahan!!.”

“jaga ucapanmu Kwon Yuri!!.” Victoria mulai angkat bicara.

“apa aku  harus menjaga ucapanku ketika itu semua benar terjadi??!!. Aku bukan yeoja bodoh yang akan diam saja saat sesuatu mengancam kehidupan rumah tanggaku dan anak – anakku!.” Mata Yuri berkilat angkuh. Menunjukkan suatu kebencian terhadap orang yang bernama Victoria itu.

“dulu kau pernah mencampakkan dan melukai Jong Woon. Tapi apa respon darimu?. Kau bahkan tak menganggapnya sebagai namja yang mencintaimu. Sekarang keadaannya berbeda, bahkan sekarang kau yang mengemis cinta pada Jong Woon. Memalukan!!.”

“KWON YURI!!!.” Amarah Victoria tersulut seketika

“apa?. Kau marah padaku?. Kau ingin menamparku?. Tampar saja aku!!. Aku bahkan tak pernah membayangkan sekejam apa yeoja yang mencelakaiku beberapa waktu lalu.” seketika itu tubuh Victoria menegang kembali mendengar semua perkataan dari Yuri.

“aku tahu yang kau inginkan saat ini adalah bersama Jong Woon disisinya?. Tapi itu tak akan pernah kubiarkan begitu saja. Jangan jadikan alasan penyakitmu itu sebagai alasan untuk mendapat simpati dan rasa cinta dari Jong Woon. Karena aku tak akan pernah membiarkannya!!. Camkan itu baik – baik Victoria Song!!.”

Victoria spontan terdiam. Pandangan mata Yuri benar – benar mengusiknya.

“aku tak akan pernah membagi.. oh~ bahkan tak sudi jika harus membagi cinta suamiku dengan Yeoja sepertimu apalagi menyerahkannya hanya karena alasan kau sakit. Alasan kuno!!. Dia milikku dan selamanya akan menjadi milikku!.” Suasana hening dan tegang membuat sekeliling terasa sunyi. Yuri merasakan hatinya bergetar, ia tak sanggup.

“jika kau masih ingin merebut Jong Woon dariku. Bersiaplah berhadapan dengan Yeoja yang kau anggap lemah karena cinta ini!. aku memang egois. Yeah, egois karena mempertahankan suamiku dari ancaman Yeoja parasit sepertimu.”

Plakk….tangan Victoria menampar Yuri begitu saja.

“kau pikir aku takut atas tamparanmu ini?. jangan harap Victoria –sshi!. Ucap Yuri meremehkan.

Byurrr…air dalam gelas itu mendarat begitu saja dimuka Victoria. “ini hanya sekedar peringatan bagimu. Jangan pernah menggangu suamiku lagi!!. Yuri berjalan begitu saja menjauhi Victoria yang masih menahan marah dan mematung seketika akibat perubahan sikap Yuri.

 

*****

JONG WOON POV

 

Aku menggeliat kecil mencoba membuka mataku perlahan. Semuanya terasa sunyi bagiku. “Yuri-ya kau kemana?.” Gumamku lirih memijat pelipisku. Aku segera menuju kamar madi dan mencuci mukaku sebentar. Semalaman penuh aku menunggu kepulangan Yuri namun Yuri tak kunjung pulang. Aku kembali berjalan menuju ruang tamu. Kucium bau yang sehari – hari aku cium yang tak asing bagiku. Bau masakan Yuri. Aku segera melanjutkan langkahku menuju sumber bau harum itu. Aku melihatnya tersenyum sambil melipat tangaku didada.

“Youngie. you wanna milk bottle?. How’s you day Chagi yesterday?” ucap Yuri yang masih berkonsentrasi membuatkan susu untuk mereka berdua.

“oh..glleat (great).” Ucap Nam Young sembari tersenyum menampakkan kepolosan wajahnya.

“and You Jae Woon chagi?.” Tanya Yuri penasaran yang melihatnya masih berkonsentrasi dengan mainan rubiknya.

“not bad.” Ucap Jae Woon begitu saja yang masih berkonsentrasi dengan benda berbentuk kubus itu.

“umma.. miss appa..” ujar Jae Woon. Yuri diam. Ia menggigit bibirnya. Sedetik kemudian ia tersenyum.

“sebentar lagi appa akan bersama kalian. Sekarang kalian makanlah dulu. Arra?.”

CHU~

 

Dikecupnya kening mereka berdua masing – masing dan kemudian melanjutkan rutinitasnya menyiapkan sarapan bagi Jong Woon.

“Yuri-ya..” panggiku pelan melihat Yuri tengah tersenyum dengan mereka berdua. Beberapa hari ini Yuri selalu menghindari bertatap muka denganku. Semoga kali ini hubungan kami membaik.

“mian aku tak membangunkanmu. Aku takut menggangu tidurmu..” entah mengapa hatiku terasa sakit menyadari sikap Yuri yang seperti ini. tolong jangan diamkan aku seperti ini.

“app..pa..” koor mereka berdua bersamaan.

“appa.  Miss You.” Ucap Jae Woon mengecup pipi kanan Jong Woon.

“take a walk.” Ucap mereka berdua polos.

“eummhh. Okay maybe we can going?. As soon as possible babe.”(mungkin besok kita bisa pergi sayang.)

“alllaiaght (allright).” Mereka berdua mengangguk mengerti dan segera menuju ruang tengah untuk kembali bermain. Aku tak ingin mereka berdua melihat apa yang sedang terjadi diantara aku dan Yuri.

 

*****

Keheningan kembali tercipta diantara kami. Ia membalikkan badannya dan mendapatiku tengah melihatnya seksama. Yuri mulai berjalan mendekati meja makan dan menata makanannya. Aku berjalan mendekatinya dan mencoba mengelus rambut Yuri, namun segera ditepis oleh Yuri.

“bagaimanapun juga Victoria pernah memiliki masa lalu denganmu. Aku tahu, jika Victoria telah memberikan sebuah kenangan yang tak akan dapat kau lupakan. Dan apa aku berhak mencegah perasaan Victoria tubuh kembali mencintaimu?. Aku tak bisa mencegahnya karena aku hanyalah manusia biasa. Itu akan terjawab seiring berjalannya waktu.”

Tubuhku gemetar. Kutelah ludah pahit dan mencoba menghela napas berat. “aku hanya mencintaimu..” ujarku lembut menatap bola mata Yuri yang terlihat letih.

“rawatlah dia sebisamu. Dia pasienmu, kau harus bertanggung jawab atas dirinya. Aku akan mencoba menahan diriku.”

Aku mengernyitkan bingung. Yuri tak menghiraukan tatapan yang  seolah meminta penjelasan itu kembali dan masih berkutat dengan beberapa piring didepannya.

Ting..tong… sebuah bel membuyarkan pikiranku sesaat tentang perkataan Yuri barusan.

“biar aku yang membukanya.” Ucap Yuri.

“tidak biar aku saja yang membukanya.” Cegahku.

Yuri tak mengindahkan kata – kataku dan tetap saja membuka pintunya. Kudapati seorang laki – laki pengantar bunga tengah berdiri dihadapan kami.

“mian, apa anda orang yang bernama Yuri. Oh~anii Kang Yuri? Ada kiriman bunga untuk anda.” Yuri memandang bunga tersebut dan kemudian matanya seakan mencari sesuatu disekitarnya.

“katakan jika anda adalah orang suruhan dari Choi Siwon untuk memberiku bunga ini?.” aku tertegun untuk bebarapa saat mendegar Yuri berbicara seperti itu.

“berikan bunganya!. Jika iya yang memberikan bunga ini adalah Choi Siwon katakan padanya bunga ini akan segera masuk kedalam tempat sampah!!.” Ucap Yuri tegas. Aku melongo seketika mendengar ucapannya begitu saja. Seakan ia bisa meramalkan tentang apa yang akan terjadi padanya dan ia tahu bagaimana ia harus menempatkan sikapnya.

“satu lagi namaku bukan Kang Yuri tapi Kim Yuri atau Kwon Yuri!. Dan aku tak mau bertemu pengecut sepertinya yang hanya bisa mengirimkan sesuatu tanpa diketahui orangnya!.”

“kau bilang aku pengecut?!!.” Suara berat begitu datang tiba – tiba dan mengagetkanku. Yang tak lain adalah Siwon. Siwon menghampiri Yuri dan menatap tajam mata Yuri. Mata mereka menyiratkan sebuah kata – kata yang tak terduga akan keluar begitu saja.

“heh, ne, kau memang pengecut. Kau hanya terobsesi pada cinta masa lalumu saja. Kau tahu sekarang ini adalah masa depan?. Dan kau tahu pula jika aku sekarang telah meikah dengan Kim Jong Woon?. Jika kau tahu lalu kenapa kau masih terobsesi padaku. Sebegitu kurangkah Yoona yang mencintaimu?.”

Siwon mengepalkan kedua tangannya berusah menahan amarah yang kini tengah menggerogoti tubuh dan akalnya. “akan kubuktikan jika aku memang mencintaimu dan tak terobsesi padamu!!.” Siwon menarik tangan Yuri secara kasar dan menyeretnya pergi. Tapi aku segera menarik Yuri menjauhi Siwon.

“lepaskan tangan kotormu itu!!.” Aku menarik tangan Yuri dari Siwon secara kasar.

“jangan pernah sekali – kali kau menyentuh Yuri apalagi menyakitinya!!. Tak akan pernah kubiarkan itu terjadi!!.” Lanjutku menahan emosi yang akan keluar ketika melihatnya.

“lebih baik kau pergi daripada menggagu pagi kami berdua!.” Suruhku.

“sekarang kau tahu Choi Siwon yang terhormat siapa orang yang mencintaiku dan aku cintai?!. aku masih bersabar menghadapimu!. Kembalilah pada Yoona sebelum kau terlambat akan penyesalan lebih dalam dari pada ini!!” ucap Yuri berlalu menarik tanganku menjauhinya.

 

*****

YURI POV

 

Sarapan pagi berjalan datar begitu saja tak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami bedua dan mencoba untuk membuka pembicaraan. Setelah kejadianku memaki – maki Siwon, kami tak mengeluarkan kata – kata kembali yang mungkin akan dibahan topik utama pembicaraan kami.

 

Every single day I try jeongmal geuoi da wassseo. We get closer to a good time siryeondeure say goodbye.

 

Ponsel Jong Woon bedering hebat menandakan sebuah panggilan masuk yang sedikit mengalihkan perhatian Jong Woon. Diambilnya benda itu dan diusap pelan slide ponsel tersebut. Tapi sedetik kemudian Jong Woon segera mematikan dan memasukkannya kedalam saku celananya.

“nugu?.”  Jong Woon masih tak menjawab dan tetap berkonsentrasi dengan sarapannya.

“Victoria?.” Tanyaku sekali lagi.

“gwenchana… angkat saja..bagaimanapun dia pasienmu pasti membutuhkanmu…”

Dengan sengaja Jong Woon meletakkan sendok dan garpunya secara kasar. Ditatapnya wajahku tajam tapi aku seolah masih saja mengabaikannya. Dengan cepat dikeluarkannya lagi ponsel tersebut dan membongkar baterainya secara kasar dan membuang sim card-nya sembarangan.

“aku tahu aku salah, tapi apakah bisa kau tak bersikap seperti ini?. aku jenuh dengan sikapmu yang seperti ini!.” emosi Jong Woon mulai keluar akibat perkataanku yang mungkin memojokkannya.

“jadilah seorang yang profesionalisme. Dia tanggung jawabmu. Sembuhkanlah dia biarkan waktu yang akan menjawab semuanya. Kau mencintaiku atau kembali pada cinta masa lalumu dengan Victoria!.”

“Jong Woon menghela napas berat. “Yuri-ya…jebal.. mianhae..”

“apalagi yang harus kumaafkan?. Kau tak salah. Ini hanya masalah keadaan. Jagalah Victoria selagi kau bisa.”

Rahang Jong Woon semakin mengeras, dia benar – benar berada dipuncak emosinya sekarang. Apa yang kukatakan mungkin akan melukai hatinya, tapi ini kenyataannya. Diteguknya segelas air putih oleh Jong Woon yang ada dihadapannya dan buru – buru pergi.

 

*****

 

Pikiranku kacau, pandanganku kosong memandang sekelilingku. Ku putuskan hari ini aku hanya bekerja setengah hari. Aku lelah ketika harus bertemu Victoria. Ingin aku rasanya berteriak sekencang – kencangnya dan memaki – makinya saat melihatnya. Saat ini aku hanya bisa berjalan entah pergi kemana mengikuti langkah kakiku.

Ciittt……Brrukk…

Tak sadar aku terjatuh dan didepanku tengah akan ada mobil yang akan menabrakku. Seorang Yeoja kemudian keluar dari mobil itu dan menghampiriku.

“are you okay miss?.. Gwenchana aku menyetir tak melihat jalanan sekitarku?.”

“ne, gwenchana. Tak ada yang luka.” Aku menengadahkan wajahku dan menatap Yeoja itu. Sepertinya wajah itu tak asing bagiku.

“Yuri. Omona..Yuri. kita bertemu lagi.” Ujar Yeoja itu terkaget melihatku.

“oh my..Miyoung!. Hwang Miyoung!.” Ucapku tak kalah kaget. Aku mencoba berdiri dan membersihkan pakaianku yang terkenan aspal jalan.

“Yuri. Bogoshipeo. Kemana saja kau selama 6 tahun ini?.” tanya Tiffany sembari memeluk Yuri melepas kerinduan mereka.

“anii. Aku yang seharusnya bertanya kapan kau pulang dari Amerika?.”

“semuanya akan kuceritakan padamu. Kajja masuk mobil akan kubawa kau menemui seseorang yang kau pasti sudah mengenalmu.”

 

@Sungmin’s Restaurant Gangnam Gu, Seoul- South Korea

Aku tak percaya jika aku tak sengaja bertemu dengan Hwang Miyoung atau yang akrab kusapa Tiffany. Dulu kami bertiga sangatlah dekat aku, Lee Sunny dan Tiffany. Tiffany sekarang sudah menikah dengan Sungmin Sunbae,oh~maksudku Sungmin oppa. Orang yang kuanggap sebagai kakak laki – lakiku sekaligus teman dari seorang Choi Siwon.

Kumasuki restaurant ini. restaurant ini milik Sungmin oppa dan Tiffany. Mereka berdua menikah di Amerika 4 bulan lalu dan langung kembali ke Seoul untuk membuka usaha. Restaurant ini memang baru saja bukan dan hari ini merupakan acara peresmiannya.

“Yeobo.” Panggil Tiffany pada Sungmin yang masih berkutat dengan spageti buatannya.

“ne, apa kau meridukaku babe?.”

“jinja?. But, I’m carry important someone, you be familiar it!!.”

“who she or he is’t?.”

“oppa. Sungmin oppa..” panggilku menyadarkannya. Sontak ia pun menoleh mendapatiku tersenyum melihatnya bersama Tiffany.

“Yuri. Kang Yuri. Are you Yuri?.” Sungmin oppa membelalakan mata melihatku tengah berada didepannnya.

“ne oppa. Bogoshipeo..” ucapku menerima rentangan tangan dari Sungmin oppa yang masih memakai appround-nya.

“sudah cukup acara pelepasan rindunya. Kau bahkan tak pernah memelukku lama Yeobo..” Tiffany mengercutkan bibirnya seolah kecewa dengan Sungmin.

“kau bahkan mendapatkan lebih dari ini Yeobo. Bahkan sudah berkali – kali kau mendapatkannya.”

“maksudmu?.” Tiffany mendelikkan matanya.

“aiisshh…lanjutkan saja acara masakmu aku dan Yuri akan melanjutkan acara kami. Bukankah kau menunggu beberapa kawan lamamu semasa kuliah dii Jepang untuk acara pmbukaan restoranmu ini?.”

“tak usah melihat Yuri. Cepat lanjutkan acaramu saja!!.” Perintah Tiffany. Yuri hanya terkikik pelan.

*****

 

AUTHOR POV

 

Setidaknya hati Yuri sedikit terhibur dari peliknya masalah rumah tangga bersama Jong Woon. Pertemuan kembali dengan sahabatnya selama 6 tahun lebih mempunyai arti tersendiri ketika bersama mereka.

“ini makanan untuk kalian berdua dan Gratiss!!.” Ucapnya tersenyum.

“jinja gomawo oppa.” Ucap Yuri berterima kasih.

 

Sementara itu…….

 

Jong Woon dan Victoria memasuki tempat ini. ini merupakan permintaan dari Sungmin sebagai teman mereka berdua selama kuliah di Jepang. Alasan mereka berdua datang hanyalah karena undangan dari Sungmin yang mengharuskan mereka untuk datang sebagai tamu penting. Pandangan mata Jong Woon celingukuan seolah mencari sahabatnya itu.

“Sungminnie..” panggil Jong Woon. Sungmin yang merasa dipanggil segera membalikankkan badannya.

“hey, kau!!. Lama tak berjumpa Jong Woon-ah, Victoria Song!!.” Sungmin segera menghampiri mereka berdua.

Yuri yang mendengar nama Jong Woon disebut merasa ada sesuatu yang janggal dengan nama yang dipanggil itu. seakan penasaran dengan nama itu. Yuri membalikkan badannya dan betapa tercengangnya dia mendapati suaminya sendiri dirangkul oleh Victoria. Selaku orang mimpi buruknya yang akan mengancamnya sewaktu – waktu. Sungmin segera menghampiri mereka berdua. Yuri diam terpaku melihat gadis itu merangkul erat lengan Jong Woon seolah – olah mereka berdua menjadi sepasang kekasih.

Pandangan mata Victoria tiba – tiba saja tertuju kearah Yuri. Sekilas Victoria memandang Yuri dengan tatapan tajam menandakan bahwa kemenangan ini miliknya. Untuk beberapa detik Yuri mematung seketika, tenggorokannya tercekat. Matanya memanas. Bagaimana bisa ia melihat suaminya tengah berrangkulan dengan Victoria. Jong Woon yang kaget akan Yuri yang tengah berada didepan matanya segera mendekatinya. Berusaha agar menjelaskan bahawa memang tak ada apa – apa antar didrinya dan Victoria.

Bagimana Yuri bisa tahan secara kasat mata ia melihat Jong Woon dan Victoria bersama. Victoria seolah – olah tak menuyadari kehadiran Yuri sebagai istri dari seorang Kim Jong Woon ketika yeoja itu membatasi bahkan menutupinya untuk mempunyai kesempatan bersama dengan Jong Woon. Yuri memejamkan matanya sejenak dan menghela napas panjang.

“Fanny-ah. ada rapat dikantor yang harus hadiri. Mianhae, tak bisa melanjutkan makan. Dan gomawo atas undangannya. Lainkali pasti aku akan mampir.”

Yuri tesenyum kaku. Tiffany yang merasa ad kecanggungan didalam diri Yuri, membuatnya mengizinkan Yuri untuk berpamitan tanpa ada pembicaraaan lebih lanjut. Diambilnya tas kerja Yuri dan secara cepat ia keluar dari tempat tersebut. Jong Woon yang mengetahui kepergian Yuri lekas mengejar istrinya tersebut keluar.

“kajima…tolong jangan seperti ini. aku terlalu mencintaimu. Tak ada yeoja lain selain dirimu. Ini tak seperti yang kau bayangkan.” Jong Woon menarik tangan Yuri untuk tak pergi. Yuri mengusap air matanya sebelum mengalir lebih deras lagi. Sesuatu terasa menusuk hatinya saat melihat keduanya bersama.

“aku akan membiarkanmu bersama dengannya. Jika itu memang yang terbaik. Tapi aku tak akan pernah membagi suamiku untuk Yeoja parasit seperti dia.” Ucap Yuri penuh penekanan yang langsung memasuki taksi dan membawanya entah kemana.

 

*****

Taksi yang membawa Yuri kini tengah tiba di Daegu. Entahlah tiba – tiba saja hatinya memuntunnya untuk pergi ke kota dekan Seoul itu. Yuri keluar dari taksi tersebut dan entah berjalan kemana. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah sebuah kekalutan yang suatu saat bisa memancing emosinya untuk meledak.

Kaki Yuri menuntunnya berjalan untuk menuju kesebuah danau yang sedikit sepi namun indah pemandangannya. Ia duduk menekuk lututya melihat danau itu. Tanpa terasa air matanya keluar lagi. Entah untuk hari ini ia menangis berapa kali.

“agasshi. Mungkin sapu tangan ini bisa meringankan tangisanmu?.” Ucap seorang Yeoja yang tiba – tiba saja menyodorkan sebuah sapu tangan untuk menyeka air matanya itu. Yuri menengadahkan wajahnya dan menrima sapu tangan tersebut.

“kamshahamida. Apa kau Im Yoona?.” Selidik Yuri yang melihat perubahan tubuh Yoona dengan perut sedikit membuncit.

“omona!!. Kwon Yuri!!. Wae kau tiba – tiba menangis disini?.” Yoona mencoba untuk duduk sejajr dengan Yuri dengan bantuan Yuri yang mendudukkannya.

“kau se..ddang..”

“ne, seperti yang kau lihat. Tolong jangan panggil aku Yoona, itu terlihat formal. Panggil saja aku Yoong karena kita sudah berteman.”

“ne..”

“apa yang meanggilmu datang kemari?.”

“entahlah aku pun tak tahu kenapa aku kemari. Aku hany mengikuti arah kakkiku saja.”

“dulu ditempat ini saat aku masih kecil dan berstatus yatim piatu aku pernah bermain dengan sahabat kecilku yang sering kupanggil Yul. Namanya Yura, saat itu ia ingin diadopsi oleh orang yang menjadi orang tua angkat ku saat ini. namun tiba – tiba saja yeoja yang bernama Qianie itu membawanya bermain tapi Yura tak kunjung kembali hingga saat ini. beberapa hari setelah kehilangannya kami anak panti mendengar bahwa Yura hilang, Qianie bilang ia tak bersama dengannya. Jujur jika diberi kesempatan aku ingin bertemu dengannya juga saat ni!!.” Yoona memandang langit seakan langit pasti akan memberikan jawaban atas pertanyaannhya.

 

*****

YURI POV

Pikiranku tiba – tiba saja terhenyak seketika. Tiba – tiba otakku merespon kata – demi kata yang dilontarkan oleh Yoona. Sambungan memori otakku seakan terhubung dengan kata – kata Yoona baru saja. Aku mengingat semuanya. Segera kuambil benda yang ada didalam tasku.

“bolehkh aku bertanya?.”

“ne?.”

“apa kau tahu kalung ini?..” aku terbata mengucapkannya. Yoona terbelalak seketika melihat benda yang tengah dipegang olehku. Ia menutup mulutnya dan segera mengeluarkan sebuah foto yang telah lama menguning juga.

“kau mempunyai kalung yang sama persis digunakan Yura?.” Yoona tak percaya akan semua ini. “jjj..aadi kau adalah Yu..ra…”

“kau tahu nama keciku?.”

“hanya Yura sajalah yang mempunyai kalung yang bertuliskan ‘HARUKAZE’ ini. jadi kau benar – benar Yura?.” Tanya Yoona tak percaya.

“ne. Aku Yura teman masa kecilmu di panti asuhan. Aku kembali Yoong.. aku kembali Yoong.” Isakku menitikkan air mata. Cukup lama kami melepas rindu yang selama 15 tahun kami tak bertemu.

“terima kasih karenamu aku mendapatkan orang tua yang menyayangiku meskipun mereka telah tiada.” Aku mengusap air mataku akibat perkataan Yoona.

“apa ini anak dari Choi Siwon?.” tanyaku tiba – tiba. Yoona terdiam sesaat dan mengangguk pelan.

“aku tak mau menggangu kehidupannya. Hanya karena aku hamil anaknya. Aku bisa merawat anakku sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena ia sangat membenciku dan tak pernah menganggapku ada.”

“kau pasti menderita karena Siwon mash mencintaiku. tapi jujur dari dalam hatiku aku tak pernah mencintainya, perasaan itu sudah hilang sejak aku menikan dengan orang yang kucintai saat ini.”

“anii. Tidak ada yang salah. Hanya keadaan yang tak memunginkan bagaimana kami berdua dipertemukan.” Aku tersenyum. Seorang Yoona ternyata setegar ini. dia bahkan bisa hamil tanpa merepotkan seseorang yang ada disekitarnya terlebih lagi seorang Choi Siwon. dulu saat aku hamil aku tak terlalu manja pada Jong Woon, tapi ia selalu perfect memperhatikan kebutuhanku.

“bagaimana rasanya menjadi seorang eomma?.” Tanya Yoona mengalihkan pembicaraan. Aku tersenyum simpul menanggapinya.

“aku bahagia menjadi seorang eomma yang mepunyai anak kembar. Rasanya sulit untuk digambarkan. Mereka ada disaat aku letih, hanya dengan mereka tersenyum rasa lelahku hilang.” Aku tersenyum sendiri mengingat Jae Woon dan Nam Young selalu bertindak seenaknya sendiri  dengan tingkah polahnya yang lucu serta bahasa inggrisnya yang tak jelas mengucapkap huruf keramat ‘r’.

 

FLASHBACK

 

Angin semilir membelai rambut panjangku ditepi pantai yang cukup sunyi ini, aku dan Jong Woon memutuskan pergi berjalan – jalan sebentar melepas penat yang mendera kami berdua karena kesibukkan kami.

Aku mengosok – gosokkan kedua tanganku karena tak tahan dengan seemilirnya angin pantai yang menusuk kulitku. Tapi sepasang tangan kemudian melingkarkan sebuah jacket yang dibawanya tadi.

“kau pasti kedinginan?.” Ucapnya mengayomi tubuhku dengan jacket yang dibawanya. Kami berdua tengah duduk ditepi pantai melihat bulan purnama yang begitu indahnya.

“oppa. Aku ingin mengatakan sesuatu.”

“ne, katakanlah.” Tanganku kemudian meraih tangannya dan meletakkannya diperut datarku ini.

“rasakanlah!!. Sebentar lagi kau akan menjadi appa!!.” Ucapku tersenyum lembut memandangnya. Ia heran untuk beberapa saat mencerna kata – kataku.

“maksudmu kk..aaauu…” aku mengangguk pelan mengiyakan jawabanku. Dan seketika itu senyum merekah berkembang dibibirnya.

“ne, aku hamil 2 bulan.”

“kenapa kau baru memberitahuku?.”

“aku saja baru mengetahuinya tadi.” Jawabku dengan polosnya.

“gomawo. Kau sudah menghadirkan ini untukku dan menjadi umma untuk anaka – anakku kelak.” Jong Woon mengelus perutku dan menatapku lalu kemudian mencium bibirku lembut, menyalurkan rasa cinta yang mengalir dalam diri kami.

“kajja kita pulang. Aku tak mau terjadi sesuatu apapun denganmu dan aegi kita.” Aku tersenyum mengangguk melihat Jong Woon yang begitu mencintaiku.

 

FLASHBACK END

 

“Aku mencintainya Yoong. Sebisa mungkin aku harus mempertahankan cintanya kepadaku.”

“kau pasti bisa Yul.” Ucap Yoona menyemangati. Ada sedikit kelegaan setelah aku berbagi cerita dengan seseorang.

 

*****

JONG WOON POV

 

Arrghhh….kenapa semua ini bisa terjadi. Ini tak seperti yang kau bayangkan Yuri. Aku tak ada ada apa – apa dengan Victoria. Ia hanya bagian masa laluku. Jeball…aku mohon kembalilah.

“Jong Woon-ah…” Victoria memegang bahuku pelan.

“kau puas membuat Yuri semakin menjauhiku?. Kau sadar jika aku sekarang telah menikah dengannya?. Setidaknya jika kau ingin bersamaku kau lihatlaha dulu, aku sudah menjadi seorang appa. Apa kau masih ingin mencintaiku?!.”

“aku tahu aku salah..”

“lalu?. kenapa kau masih bisa mencintaiku, hatiku kini sudah sepenuhnya menjadi milik Kwon Yuri. Tak bisakah kau kembali dengan Shim Changmin?. Aku tak tahu apakah masalahmu dengan Shim Changmin. Kumohon jangan gangu kehidupanku dengan Yuri”

“Shim Changmin?. Aku terlalu sakit saat mengingat namja itu. Untuk itu aku belajar mencintaimu?. Meskipun kau tak bisa mencintaiku. tapi aku mohon beri aku 1 kesempatan lagi meski itu tak mempunyai peluang besar dihatimu. Jeball…izinkanlah aku Kim Jong Woon!!.” Victoria mulai menangis. Saat ini kami sedang berada didalam apartemennya karena mendadak penyakit Victoria kumat kembali. Kankar darah yang menyerangnya, bisa dikategorikan akut.

“Tak bisa Victoria. Aku mencintai Yuri. Dan selamanya akan tetap mencintainya. Karena ia adalah orang yang ditakdirkan Tuhan menjadi milikk.”

Sesaat kemudian aku segera melangkahkan kakiku keluar dari apartemen Victoria. Aku terdiam sesaat ingin aku marah Victoria, tapi keadaanya tak memungkinkan. Victoria mencegahku untuk pergi dengan tiba – tiba memelukku dari belakang. Disaat yang bersamaan sesuatu yang hangat membasahi kemeja yang ia kenakan. Aku memejamkan mata sejenak dan melepaskan kedua tangan Vicoria dengan pelan dan berjalan kearah pintu untuk pergi meninggalkannya.

“Jong Woon-ah…jebal jangan tinggalkan aku sendiri.” Victoria memanggil – manggil namaku tapi aku berusaha mengabaikannya dan berjalan semakin menjauhinya.

“Aku tak mau melakukan kesalahan lagi untuk kedua kalinya. Setelah aku kehilangan Victoria. Kali ini aku tak mau kehilangan Yuri. Aku terlalu mencintainya, tak akan pernah aku mau kehilangan Yuri.” Desahku pelan menitikkan air mata.

 

—TBC­­—

9 thoughts on “Stay With One Love (Part 5)

  1. annyeong,q reader baru, slam knal unn:) gg sbar pngen tw klnjutnnya,, sbnarnya apa hub yuri sma vic???kmana changmin?? #pnasran tngkat dewa aahhh.. udh gg sbar nggu klnjutannya unn,, oh ea,yoonwon momentnya dtmbah ya unn,,,;) #puppy eyes

  2. Kagum ma yuri yg begitu tegas mempertahankan apa yg ia miliki,tp jongwoon oppa yg msh belum bisa sepenuhnya lepas dari victoria,emang jongwoon dkt dgn victoria karena penyakitnya tp emang ga ada dokter lain apa?kasian yuri yg terluka melihat kedekatan jongwoon oppa sama vic juma

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s