Stay With One Love (Part 6)

page

TITLE             : Stay With One Love part VI (sequel Forever Love With You)

AUTHOR       : Keyindra_clouds

MAIN CAST  :Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Choi Siwon Super Junior, Im Yoona SNSD, Victoria song

GENRE          : Romance, Sad, Angst, Comedy, marriage life.

LENGHT        :  Chapter Series

Annyeong…..aku balik lagi dengan FF abal – abal ini. pasti lama banget udah nungguin…hehe..mian baru bisa ngepost. #plak. Digampar readers.

Gak usah ngebacod lagi ya. Langsung cap cuz aja!!.

#mian Typo berserakan dimana – mana

#author Cuma sampai segini idenya. *ide lagi buntu, diperes terus*

##############

 

Seminggu Kemudian…..

 

*****

Yuri memandang kearah luar dari jendela. Tatapannya kosong seakan hidupnya kini hampa tanpa ada Jong Woon disisinya. Ia putuskan hari ini untuk pulang ke Apartemen Jong Woon setelah seminggu penuh ia menenangkan dirinya dikota Daegu tepatnya dirumah Yoona selaku sahabat masa kecilnya.

“Yul.” Sebuah suara pelan seorang yeoja menyadarkannya. Kontan ia pun menoleh mendapati Yoona tengah berdiri diambang pintu dan perlahan berjalan mendekatinya.

“pulanglah. Suami dan kedua anakmu pasti merindukanmu. Jangan kau menyiksa perasaanmu seperti ini. Mereka butuh dirimu dan kau butuh mereka. Kalian berdua pasti bisa menyelesaikan masalah kalian. Berpikirlah positif pada hal itu.”

Yuri terdiam sebentar dan mencoba berpikir kembali Apakah dengan pergi semua kesalahpahaman diantara keduanya terselesaikan?. Tidak, ia harus mengerti betul bagaimana kondisi keadaanya sekarang. Ia bukan anak kecil yang ketika mendapat masalah lalu lari begitu saja.

“Yoong. Apa aku keterlaluan terhadap Jong Woon oppa?.” Isak Yuri lirih.

“aku tak bisa menjawabnya Yul. Tanyakan itu pada hatimu. Kau mencintainya Yul!.” Yoona memeluknya sejenak mencoba menghilangkan sedikit kegundahan dibenak Yuri. Sedetik kemudian Yuri mengangguk pelan dan tersenyum.

 

Keeseokan harinya…..

 

Pagi – pagi buta Yuri mengendap – endap masuk kedalam rumah, kepulangannya sengaja ia tak beritahukan pada Yoona. Kepergiannya jelas membuat kedua malaikat kecilnya tersiksa. Seminggu tanpa mereka berdua seakan hidupnya kosong dan hampa.

Ckrekkk….dibukanya pintu kamar yang menampakkan dua sosok malaikat kecil yang tengah tertidur pulas dengan wajah yang tenang dan teduh. Yuri berjalan medekatinya dan merapatkan selimut kembali ketubuh Jae Woon serta tak lupa mengecup kening mereka masing – masing.

“bogoshipeo chagiya..”

Seakan merasa mempunyai ikatan batin yang kuat, Jae Woon terbangun dan mencoba mengerjap – ngerjapkan mata sipitnya dan pelan – pelan terbangun secara utuh.

“eom..ma.” panggilnya ketika melihat Yuri tengah berjalan keluar.

“ne?.” Yuri memutar balikkan badannya dan kembali memeluk Jae Woon. Sementara Jae Woon dengan senang hati merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari Yuri.

“miss you babe. Bogoshipeo chagiya.” Jae Woon segera melepas pelukannya dan lekas membangunkan yeodongsaeng satu – satunya itu. Nam Young yang masih tertidur lelap.

“anii. No bother!.” Yuri meletakkan jari telunjuknya didepan mulut mungil Jae Woon yang hendak membangunkan dongsaengnya. Kemudian berjalan pelan keluar dari kamar. Saat ini yang ada dipikirannya adalah bagaimana ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Jong Woon?.

 

*****

Menyesal. Tentu saja. Itulah sekarang yang sedang berkecamuk dalam batin dan pikiran Yuri. Semakin ia menjauhi Jong Woon maka semakin besar pula celah kerenggangan yang dapat dimasukki Victoria dalam kehidupan Jong Woon. Dan itu tak akan pernah ia biarkan. Selamanya ia mencintai Jong Woon, selaku namja yang ditakdirkan Tuhan untuknya.

“mianhae oppa. Aku terlalu egois, meninggalkan oppa tanpa kabar selama seminggu ini. aku takut kehilanganmu oppa!. Aku terlalu mencintai oppa. aku takut oppa akan kembali lagi pada Victoria dan meninggalkanku” isaknya lirih dan menangis.

Jong Woon mendengar semuanya, sedari tadi ia telah bangun namun ia memejamkan sejenak dan mencoba berpikir bagaimana ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Yuri. JongWoon miris melihat Yuri mengatakan seperti ini. Ia tahu persis jika ia pernah mencintai Victoria, bahkan tak memungkiri jika Victoria telah memberinya sebuah kenangan akan cinta. Tapi itu semua cintanya untuk Victoria sudah terkikis sempurna sejak ia bertemu dan mencintai Yuri.

Yuri menangis terisak. Jong Woon terbangun dan mendudukkan dirinya  membelai kepala Yuri lembut. “selamanya kau tak akan pernah kehilanganku. Aku mencintaimu.” Yuri menengadahkan kepalanya mendapati Jong Woon tengah terbangun sambil tersenyum menatapnya. Kemudian memeluknya sejenak.

“mianhae oppa. Aku terlalu egois, tak mau mengerti perasaan oppa.” Yuri menangis tersedu dalam pelukan Jong Woon.

“anii. Aku yang salah. Aku yang tak sepenuhnya mengerti perasaanmu. Tolong jangan pernah tinggalkan aku seperti ini lagi. Aku mencintaimu Kwon Yuri. Selamanya hanya kau yeoja yang aku cintai.” Jong Woon memeluknya erat menumpahkan semua rindunya terhadap orang yang dicintainya itu.

Sejenak Jong Woon melepas pelukannya kemudian menatap mata Yuri dalam. Dari tatapan matanya tersirat sebuat ketulusan cinta yang mendalam. Ibu jarinya menghapus air mata Yuri yang sudah turun menuju pipi. Ditangkupkannya kedua telapak tangannya pada wajah Yuri.

“jangan pernah tinggalkan aku, karena aku tak akan pernah meninggalkanmu.” Yuri mengangguk pelan kemudian tersenyum membalas tatapan Jong Woon dan memeluknya singkat.

Mereka berdua saling bertatapan dan bertukar pandang. Mata mereka berkomunikasi akan adanya perasaan yang tengah mereka rasakan saat ini. Cinta yang menaungi perjalan kehidupan mereka berdua untuk bersama. Jong Woon mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka bertemu dan menyatu. Mereka berdua duduk berhadapan diatas ranjang, sungguh posisi yang sempurna untuk keduanya. Jong Woon menyentuh bibir Yuri, ia melumat lembut dan terasa tulus yang mengalirkan sebuah perasaan cinta yang mendalam.

 

Sementara itu…..

Dua orang bocah kecil yang baru saja terbangun dari tidurnya berjalan menuju kamar kedua orang tuanya. Mereka berdua melihat pintu kamar kedua orang tuanya sedikit terbuka, kemudian dengan langkah kaki kecil mereka akan memasuki kamar namun terhenti akibat melihat kejadian didepan mata mereka.

“hoo..” salah satu diantara mereka menutup mulutnya karena melihat adegan kedua orang tuanya.

“oppa. anii..anii..andwee..stop!!.” perintah Nam Young yang langsung menutup mata.

“uhuh?.”

“appa..umma..kissue.” ucap Nam Young menutup mata sipitnya. Kemudian Jae Woon reflek menutup matanya serta menarik kembarannya menjauh dari kamar Yuri dan Jong Woon.

Mereka berdua berlari kecil tak tentu arah karena tak mau melihat adegan orang tuanya yang seharusnya bukan menjadi tontonan mereka berdua. Dan…

Bugh….

“appo..” Jae Woon meringis kecil karena jatuh terpeleset serta badan Nam Young menimpa kaki Jae Woon.

I can tell you’re looking at me, I know what you see. Any closer and you’ll feel the heat (GG). You don’t have to pretend that you didn’t notice me. Every look will make it hard to breathe (T.R.X).B-Bring the boys out (Yeah, You know). B-Bring the boys out (We bring the boys out! We bring the boys out)

Tiba – tiba terdengar suara ponsel Yuri yang berada didalam Jacket yang ia lepas. Ponsel Yuri sedikit menyembul dari jacketnya, Nam Young pun segera meraih ponsel Yuri dan duduk diatas sofa. Nam Young menggeser slide ponsel tersebut kemudian mengambil alih panggilan yang terpampang jelas dilayar ponsel.

“yeoboseo. Yul, apa kau sudah kembali ke Seoul, kenapa tak memberitahuku?. Pasti akan kuantar!. Yeoboseo…Yul..Yul..ini aku Yoona..”

Sementara itu Jae Woon dan Nam Young masih memandang cengo panggilan yang ada diponsel Yuri.

“hello..” ucap Jae Woon dengan suara khas balita. “Kim Yuli..”

“nugu?..Yul, apa kau masih berada disitu?.”

“Ungie (Youngie).. who’s she?.” Tanya Jae Woon. Nam Yong hanya mengendikkan bahu tanda tak tahu.

“apa kalian berdua anak dari Kwon Yuri?.” Tanya Yoona memastikan.

“ appa..umma..kissue..” ucap mereka berdua polos dan serempak

“mwo?.”

 

*****

Pluukkk…Yuri menepuk pelan bahu JongWoon yang sudah terlalu lama menciumnya. Membiarkan dirinya menghirup oksigen kembali.

“oppa, sudah. Jae Woon dan Nam Young sudah bangun, jangan seperti ini. Aku buatkan sarapan dulu.”

“ne, tapi aku merindukanmu. Euhmm. Bagaimana jika kita lanjutkan nanti malam?.” Wajah Yuri seketika memerah kemudian ia berjalan keluar kamar menahan rasa malunya. Tanpa diduga didapatinya Nam Young tengah megutak – atik ponsel miliknya itu dangan Jae Woon disampingnya dan tengah berbicara dengan seseorang.

Yuri memandang heran kearah kedua anakknya itu. Seakan ingin tahu ia segera mendekati mereka berdua dan diikuti Jong Woon berjalan dibelakangnya.

“umma.” ucap Nam Young menyerahkan ponselnya.

“yeobeoseo. Yoong?..”

“yak!. Kwon Yuri, jika kau ingin berciuman dengan suamimu itu. Carilah tempat yang tertutup. Kau tahu kedua anakmu telah melihat adegan kalian?!.”

“mwo?. Yoong?. Apa yang kau bicarakan?.” Seakan mengerti Yuri memincingkan matanya menatap pada mereka berdua. Tapi mereka berdua hanya memandang polos sambil tertawa.

 

*****

Senyum kini tengah menghiasi wajah Yuri. Ia tak bosan melihat berkali – kali pemandangan didepan matanya kini, Jong Woon sedang mengajari Jae Woon bermain PSP sedangkan Nam Young tengah melipat kertas sedari tadi, mungkin membuat sesuatu. Kedua anaknya memang tak pernah menyerah jika belajar sesuatu hal yang baru. Ingatannya kembali pada masa lalu sebelum kedua malaikatnya kecilnya lahir.

 

FLASHBACK

 

Musim gugur yang indah, daun – daun pohon mapple tengah berguguran. Yuri berjalan pelan sehabis pulang dari kampus menikmati suasana musim gugur. Ia memegang perutnya yang datar sejenak serta merasakannya, kini didalam rahimnya terdapat nyawa sesorang yang akan menjadi pelengkap bagi kehidupannya dan Jong Woon

“aegi.. gomawo kau sudah hadir untuk appa dan eomma.” Yuri berucap pelan dan memejamkan matanya, merasakan angin semilir sambil mengusap perutnya pelan.

Drttt…drrttt..

“YURIII!!!.” Spontan Yuri menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Lee Sun Kyu!. Bisakah kau tak berteriak ketika menelpon. Kau tahu jika aku tidak tuli heh?!.”

“kau lupa jika ku hari ini berjanji mengantarku untuk pergi kerumah sakit memeriksakan keadaan mukaku ini?!.”

“jinja?. Tapi aku lupa Sunny-ah. bagaimana jika esok?.”

“jadi kau tak mau datang menemaniku maka sebuah album music classic langka yang dijual di Myeondong akan hangus. Penawaran tak berlaku dua kali. Jika iya cepat segera datang kerumah sakit. Temani aku sekrang juga!.”

Tutt…tutt..

“mwo??. Lee Sun Kyu kubunuh kau jika ka berbohong lagi!!.” Umpat Yuri kesal dalam hati.

Yuri kembali berjalan kembali. Kali ini ia berjalan lebih cepat. Dilihatnya gedung besar yang berada diseberang jalan besar pula. Sebuah rumah sakit yang tak asing baginya. Disana pasti Sunny sudah mengomel sendiri karena aku lupa hari ini untuk mengantarnya check up.

 

@Seoul International Hospital

 

To: Queen Aegyo

Kau dimana?.

Cepat katakan!.

 

Beberapa detik kemudian..

 

From: Queen Aegyo

Cepat datang kemari!. Aku sudah berada di ruang tunggu dokter Kang. Dokter spesialisasi saraf.

Mata Yuri masih berkonsentrasi pada layar ponselnya itu. Mata dan tangannya tak berhenti berkutat dengan huruf – huruf yang terpampang. Dan…

Brukk….

Yuri menabrak seorang pria didepannya. Ponsel yang ia pegang jatuh dan terbelah menjadi dua. Menyebabkan baterai dan sim card-nya jatuh berserakan. Serta laporan yang dibawa seorang dokter namja tersebut berserakan juga.

“mi..mi..mi..anhae. aku tak sengaja.” Yuri mencoba membantu membereskan beberapa kertas yang berserakan tadi serta tak lupa mengambil ponselnya yang bisa dikategorikan hampir rusak.

“Gwenchana.”

Merasa tak asing dengan suara itu Yuri mendongakkan kepalanya dan mendapati Jong Woon kini sedang berada dihadapannya.

“omona!. Oppa.”

“ne?. Yuri-ya!.”

“mianhae oppa. aku tak sengaja dan terburu – buru.”

“gwenchana. Apa yang membuatmu kemari. Apa ada sesuatu yang terjadi pada aegi kita?.” Tanya Jong Woon bertubi – tubi.

“anii. Aku tak apa – apa. Oppa mianhae membuat semua laporanmu berantakan. Temanku sedang menungguku didokter spesialis saraf.”

Baru beberapa langkah berjalan sebuah tarikan tangan berhasil memberhentikan langkah Yuri.

Cup..sebuah kecupan singkat mendarat didahi Yuri dari Jong Woon. Ia terbelalak seketika mendapat perlakuan yang seperti ini.

“ini menandakan jika aku kini sudah ada yang memiliki.” Jong Woon terkekeh kecil melihat ekspresinya yang seperti ini, cepatlah kau sudah ditungu temanmu itu. Yuri hanya bisa mengangguk pelan.

 

FLASHBACK END

Yuri masih tersenyum sendiri mengingat kejadian hampir lebih dari 2 tahun lalu itu. Ia melanjutkan aktifitasnya menyuapi Nam Young yang masih terus saja berkutat dengan kertas origaminya. Sesekali suapan Yuri terkena hidung Nam Young dan akhirnya gagal masuk mulut. Dan itu membuat Nam Young kecewa

“umma…i’m hungly..” ucap Nam Young sedikit cemberut dan mencebikkan bibirnya karena makanannya mengenai hidung. Sementara Yuri masih tersenyum tak megindahkannya.

 

FLASHBACK

 

Sudah saatnya untuk bangun pagi tapi entah kenapa Yuri belum beranjak dari ranjangnya. Bahkan hanya untuk bergerak kedapur membuatkan sarapan pagi untuk suaminya itu. Kepalanya terasa pusing, padahal saat pertama kali mengetahui jika dririnya hamil, ia tak merasakan seperti ini. Tiba – tiba ia berlari kekamar mandi, ia merasakan perutnya terasa diaduk – aduk. Sesuatu sepertinya akan keluar dari perutnya.

Hoekk….hoekk…hoekk..Yuri mencoba memuntahkan semua isi perutnya namun nihil tak ada sesuatu yang keluar dari perutnya melainkan hanya cairan bening yang keluar. Usia kehamilannya memang menginjak usia hampir 4 bulan. Lalu kenapa ia tiba – tiba muntah seperti ini.

Suara itu akhirnya membangunkan namja yang tidur disebelahnya. Ia mengerjap – ngerjapkan matanya sejenak dan bergegas mencari sumber suara itu.

“astaga!. Yuri –ya.” Jong Woon terkaget seketika mendapati Yuri hampir jatuh dikamar mandi karena tak kuat berdiri menopang tubuhnya. Dengan sigap ia menerima tubuh Yuri yang akan jatuh. Ia membaringkan sejenak badan Yuri dan segera memeriksanya.

Jong Woon mengusap lembut kepala Yuri dan mencium keningnya singkat. “ sudah kubilang, jangan terlalu stress memikirkan kuliah. Kau tahu sekarang ada dia disini.” Tunjuk Jong Woon pada perut Yuri yang sedikit membesar itu.

“lebih baik kau mengambil cuti sampai aegi kita lahir.”

“mianhae oppa. tapi itu tak bisa oppa. Aku harus praktek kerja lapangan, kalau tidak maka aku tak lulus semester ini.”

“tolong dengarkan aku!. Jika kau terlalu stress akan masalahmu sendiri, dan itu bisa mempengaruhi keadaan aegi kita. Dan aku tak mau sesuatu hal yang buruk terjadi padamu!.” Tegas Jong Woon lugas menatap wajah Yuri yang terlihat sendu. Ia mengangguk pelan seraya memeluk Jong Woon.

“oppa. Bolehkah aku meminta sesuatu?.”

“aku ingin oppa mengajak aegi kita bicara agar ia bisa menerima rangsangan appa yang sangat menyayanginya.” Jong Woon tersenyum mengangguk menyetujuinya. Ia pun mendekatkan telinganya ke perut Yuri serta mengusapnya pelan dan lembut.

“apa kabar kau hari ini chagi. Gomawo kau sudah hadir dalam hidup appa dan eomma. Kau namja atau yeoja, atau bahkan kalian kembar?. Appa sudah tak sabar merindukan kalian, cepatlah kalian hadir didunia ini.”

Yuri terkikik pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Jong Woon.

“oppa. terlalu dini untuk mengetahui dia namja atau yeoja. Apapun itu pasti Tuhan memberikan yang terbaik bagi kita.”

–Chu–

Tiba – tiba sebuah kecupan singkat mendarat dibibir Jong Woon. “saengil chukkae hamnida nae nampyeon. Mianhae, Seharusnya tadi malam aku mengucapkannya.” Yuri membuka nakas meja kamar dan mengambil sebuah kotak hitam lalu memberikannya pada Jong Woon.

“aku tak perlu ini. Kau tahu, Kau dan aegi kita adalah kado terindah sepanjang hidupku. Gomawo kau sudah menghadirkannya untukku.” Ucap Jong Woon mengelus sekali lagi perut Yuri.

Jong Woon perlahan – lahan mendekatkan wajahnya pada Yuri hingga deru napas mereka dapat terasa. Perlahan Jong Woon memiringkan wajahnya, sedangkan Yuri hanya bisa memejamkan matanya menunggu sapuan bibir Jong Woon mendarat dibibir tipisnya.

Bibir mereka bertemu dan menyatu. Dirasakannya ada sensasi basah menerpa bibir mereka masing – masing, Jong Woon  melumatnya lembut dan merasakannya begitupun Yuri, tak segan ia membalas perlakuannya.

“saranghae.. Kim Yuri.”

“nado saranghae oppa.”

 

FLASHBACK END

 

Yuri masih juga tersenyum – senyum sendiri. Tak sadar dirinya, kini Nam Yong sudah menghabiskan sendiri makanan yang hendak akan Yuri berikan padanya. Begitupun Jae Woon sudah menghabiskannya pula. Jong Woon yang memperhatikannya sedari tadi heran menatapnya.

“umma.. just good ( umma baik – baik saja) appa?.” Ucap Jae Woon sedikit bingung memperhatikan Yuri.

“molla.” Balas sang appa sambil mengendikkan bahunya pelan.

“you better go to room. Kajja, you join with appa. Where’is?.” Tanya Jong Woon mengerlingkan mata pada kedua malaikat kecilnya.

“find new fllends (friends).” Ucap mereka serempak. Mereka berdua pun segera berlari kekamar, mengganti pakaian mereka. Karena hampir seminggu ini mereka bedua ikut Jong Woon bekerja dirumah sakit dan menemukan teman baru yang seumuran bahkan ada yang lebih tua dari mereka. Membuka dunia baru dengan teman baru antar anak kecil yang masih ingin tahu banyak tentang dunianya.

Sementara Yuri masih tersenyum sendiri, Jong Woon mencoba mendada- dadakan tangannya berusaha menyadarkan Yuri dari lamunannya. Sekilas ide jahil muncul dari pikirannya. Ia tersenyum evil lalu menjalankan idenya itu.

“omona!!. Oppa!. kenapa kau melakukan ini padaku?!.” Yuri tersadar seketika. Tersentak kaget karena bibir Jong Woon mendarat dibibirnya.

Jong Woon terkekeh pelan dan menjauhkan bibirnya dari bibir Yuri. Sementara Yuri mengerucutkan bibirnya.

“ada apa denganmu?. Dan apa yang kau pikirkan?.” Tanya Jong Woon. Senyum simpul menghiasi wajah cantik Yuri.

“this is my life, build happiness with you. And this is where my happiness. (Ini hidupku, aku ingin membangun kebahagiaan bersamamu. Dan disinilah kebahagiaanku.)

–CHU~

“because your my love loveliest (karena kau cinta terindahku).” Jawab Jong Woon tersenyum jahil.

“appa…umma!!!. stop it!!.” Teriakan itu kontan membuat mereka berdua menghentikan aktivitasya. Berciuman dipagi hari.”

 

*****

Victoria menatap Jong Woon dengan heran. Tidak biasanya Jong Woon sebahagia ini. terakhir kali 4 hari lalu ia melihat Jong Woon sedikit murung. Mungkin karena kepergian Yuri.

Huh…Jong Woon menghela napas pelan. Ia membaca hasil pemeriksaan Victoria. “keadaanmu sedikit memburuk. Ini dikarenakan kankermu hampir memasuki stadium tiga. Aku sudah berusaha mencari donor sum – sum tulang belakang yang cocok denganmu, tapi hingga hari ini aku belum mendapatkannya.”

“entahlah. Aku begitu bingung dengan hidupku saat ini. disaat keadaanku seperti ini, perasaaku jauh lebih sakit ketika mencintai seseorang namun orang itu tak mau mencintaiku. tapi aku tahu jika ia kini masih mencintaiku.”

Jong Woon merasakan bahwa kini dirinya tengah terpojok dengan jawaban Victoria. Ia tak tahu harus berkata apa. Jujur perasannya pada Victoria telah hilang tanpa tersisa sedikitpun.

“Vic, kumohon lupakan aku. Dan tolong kembalilah pada Shim Changmin. Jangan kau melupakannya. Kau dan Changmin pernah mengikat janji suci, jangan kau akhiri janji itu dengan sia – sia.”

Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Victoria. “aku hanya ingin bahagia Jong Woon. Hanya itu. Dan dengan mencintaimu-lah aku bisa merasakan kebahagian itu meskipun semu.”

“aku sudah mengatakannya padamu berkali – kali. Aku hanya mencintai Kwon Yuri. Dan kau perlu tahu juga, selamanya aku akan terikat dengan Kwon Yuri. Karena apa?. Yuri sudah memberikanku dua orang malaikat kecil. Jebal. Lupakan aku.”

“salahkah jika aku mencintaimu?.” Isak Victoria lirih.

Tiba – tiba saja Victoria beranjak keluar dari ruangan Jong Woon dan pergi begitu saja. Jong Woon hanya menatapnya heran. Setidaknya yang dilakukannya adalah benar. Ia tak mau kehilangan Yuri dan membuat kesalapahaman antara dirinya dan Yuri.

“appa..” teriakan dua anak kecil didepannya spontan membuat Jong Woon menatap dan tersenyum  melihat tingkah mereka berdua.

“ne?.”

“Kajja. Pu..lang.”

“euhmm…” jong Woon memutar matanya dan pura – pura menggoda mereka berdua.

“appa!!.”

“ne..ne..kajja.”

 

 *****

Dua orang yeoja kini tengah duduk bersantai dicafe yang sedikit sepi ini. mereka berbincang penuh dengan tawa dan rasa bahagia. Perasaan Yoona kini jauh lebih baik dri sebelumnya. Ditemani seorang teman masa kecil yang kini sudah kembali dihadapannya.

“Yoong. Apa kau tak berpikir untuk memberitahu keadaanmu yang sebenarnya pada Siwon?.”

Ucapan Yuri lekas merubah mimik muka Yoona yang sedari tadi tersenyum berubah menjadi terdiam seketika.

“Yuri-ya. Aku tak ingin membahas hal itu kembali.” Sinis Yoona.

“Yoong, aku tahu jika Siwon tak mencintaimu dan kau terlalu sakit ketika kau mencintainya. Tapi tolong jangan egois. Aegi – mu butuh seorang appa. Bagaimanapun juga Siwon adalah appa kandung dari aegi-mu.”

“tapi aku bisa membesarkan anakku sendiri tanpa Siwon. Aku dan dia kini sudah tak ada hubungan kembali. Anak ini adalah anakku, bukan anaknya.”

“tapi suatu saat anak ini pasti akan tahu siapa ayah kandungnya. Yoong, janganlah egois seperti ini.”

Yoona memandang penuh emosi Yuri. Ia sudah jenuh dengan kehidupannya kini yang selalu dibayang – bayangi Siwon.

“apa aku harus mengemis cinta lagi padanya. Berapa lama aku bersabar untuk menghadapi sikapnya itu. Aku lelah Yul, apa aku harus mati dahulu. Baru ia sadar jika aku mencintanya!.”

“aku lelah. Lebih baik aku kembali ke apartemenku.” Desisnya pelan menahan tangis.

Dengan gerak cepat segera Yoona mengambil tasnya dan berjalan keluar dari cafe. Ia kembali menangis. Yah. Menagisi hidupnya yang memilukan karena mencintai seseorang. Bahkan seseorang itu tak menganggapnya ada. Tapi seulas seyum tipis tertarik dari bibirnya, bagaimanapun juga ada seorang titipan nyawa yang harus ia jaga dari orang yang membencinya.

Sementara Yuri menatap nanar dan mematung diam. Ia tahu jika ia salah bicara. Sudahlah, lebih baik ia pulang. Ia tahu jika sorang yang hamil emosinya tak terkontrol. Lain waktu saja ia menemui Yoona setelah keadaannya tenang.

 

*****

Victoria berjalan berdua penuh tawa dengan seorang yeoja setengah baya. Entah mengapa yeoja setengah baya itu merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya sehingga saat ia dekat dengan Victoria, ia begitu menikmati moment ini.

“Victoria-sshi. Kajja kita duduk ditaman itu. Sudah lama ahjumma tak menyaksikan pohon mapple berguguran ditaman.”

“oh, Ne ahjumma.” Angguk Victoria menyetujuinya.

Tanpa sengaja dari kejauhan seorang yeoja tak sengaja memperhatikannya. Ia merasakan ada sedikit janggal dengan hubungan antara eomma-nya dan Victoria. Ia mulai berjalan mendekati kedua orang tersebut dan menyapanya.

“eomma?!.” Panggil Yuri spontan.

Lekas yeoja itu berbalik menghadap Yuri yang memanggilnya. Yuri terdiam sebentar melihat kedekatan mereka berdua. Ia mencoba memperhatikan secara seksama kedekatan mereka berdua. Tersirat sebuah pemikiran bodoh yang tibe – tiba saja keluar dari pikirannya.

“mungkinkah Victoria adalah Qianie?. yeoja kecil yang ada difoto itu.” Gumamnya dalam hati.

Tidak. Yuri menggeleng pelan menepis semua pikiran bodohnya. Ia mencoba tersenyum melihat eomma-nya itu. Perlahan Yuri berjalan mendekat menghampiri mereka berdua.

“eomma bogoshipeo.” Yuri memeluk sang eomma erat.

“nado bogoshipeo chagi. Dimana kedua cucuku?.”

“seperti biasa eomma. Jong Woon oppa entah mengajaknya kemana.” Sekilas kilatan mata Yuri melihat Victoria yang melambangkan jika ia tak akan membiarkannya masuk dalam kehidupan rumah tangganya bersama Jong Woon. Egois memang, tapi salahkah sikapnya ini.

“kalian tunggu sebentar, eomma mau membelikan sesuatu untuk kalian!.”

Victoria terdiam begitupun dengan Yuri. Mereka berdua tak tahu apa yang harus dikatannya, sampai sebuah suara dari Yuri memecah keheningan diantara mereka.

“sampai kapanpun aku akan mempertahankan Jong Woon oppa dari yeoja sepertimu.” Ucapnya sinis.

Victoria memandang Yuri meremehkan. “tapi aku adalah orang yang pernah dicintai Jong Woon. Apakah aku salah jika timbul perasaan seperti ini?.”

“kau tak salah. Lantas apa kau ingin merebutnya dariku?. Tak akan pernah kubiarkan.”

“bagaimana jika Jong Woon mencintaiku?. Apa kau bisa melarangnya?.” Senyum kemenangan kini menghinggapi wajah Victoria.

Yuri terasa dikartu mati oleh Victoria hingga ia tak dapat berkutik beberapa detik. Tapi ia tetap tenang menanggapinya.

“tapi sayangnya sekarang tidak lagi nona Victoria Song!.” Amarah Victoria kembali tersulut seketika. Ia merasa semakin benci dengan Yeoja ini. tapi sayang sebelum tangannya mendarat dipipi Yuri ia tengah melihat nyonya Kwon berjalan kearahnya sambil tersenyum.

“umma lebih baik aku pulang dulu. Jong Woon oppa sudah menungguku dirumah bersama Jae Woon dan Nam Young.”

“Yuri-ya. Gwenchana?.”

“gwenchana umma. aku hanya lelah saja.” Yuri pun berjalan menjauhi mereka berdua. Seulas senyum mengembang dibibirnya karena sikapnya barusan.

 

*****

 

Jong Woon terus memandangi Yuri yang sedari tadi masih berkonsentrasi belajar dengan buku akuntansinya. Disampingnya ada Jae Woon dan Nam Young yang mencoba mengutak – atik layar monitor miliknya itu.

“appa.” Panggil mereka berdua serempak. Jong Woon langsung mendekati mereka berdua dan duduk disamping Yuri yang masih membaur dengan hal – hal keuangan. Lalu ditutupnya buku Yuri secara tiba – tiba.

“apa kau tak mau pergi berdua denganku malam ini?.”

“lalu kau mau kemanakan mereka berdua oppa?.”

“baiklah kita pergi bersama mereka.”ujar Jong Woon. “C’mon babe. Long time no go together.”

Mereka berempat berjalan beririnagan dengan malaikat kecil mereka berada ditengahnya. Entahlah, kali ini Yuri merasa hidupnya sudah bahagia. Pikiran tentang Victoria ataupun Siwon telah hilang. Yang ada kini hanya Jong Woon dan kedua malaikat kecil mereka.

“um..ma.”

“ne.” Yuri mmemandang mereka serta mensejajarkan dirinya pada tinggi mereka berdua

~CUPS….mereka berdua mengecup pipi Yuri bersamaan.

“ Love you mole (more) umma.” mereka berdua pun lekas berlari penuh tawa.

Yuri berjalan kearah Sungai Han dengan hati yang bahagia. Disampingnya, Jong Woon menggengam tangannya erat. Berharap Jong Woon adalah cinta terakhirnya.

Tanpa sadar dari keduanya, seorang namja yang melihatnya. Ia melihat dengan seksama, senyum terpancar dari wajah cantik Yuri. Yuri bahagia berada didekat suami beserta anak – anaknya.

Siwon menatap nanar mereka berempat. Hatinya merasakan sakit yang pilu. Haruskah ia merelakan orang yang dicintainya kini bahagia hidup bersama orang lain?. Apakah mencintai harus memiliki?.

Kadang hidup memang tak adil. Itulah kini yang tengah Siwon jalani. Ia baru saja terbuka pikirannya. Cinta pertama bukanlah cinta terakhirnya, melainkan salah satu jalan untuk mencintai seseorang yang akan memberi kebahagian. Ia sekarang percaya akan Cinta sejati, bahwa cinta sejati bukanlah cinta pertama. Haruskah ia marah meliht Yuri seperti itu. Tidak, ia kini bukan siapa – siapa lagi bagi Yuri.

“apakah Yoona adalah yeoja terbaik untukku?.” Desah Siwon pelan meninggalkan kebahagiaan mereka berempat. Tanpa sengaja Siwon merasakan dadanya sakit, entah mengapa perasaan khawatir akan sesuatu muncul begitu saja. Sebenarnya apa yang terjadi?.

“Kenapa aku mengkhawatirkan seseorang?.” Pikir Siwon

*****

 

Yoona menangis terisak melihat foto pernikahannya bersama Siwon. Kenapa ini terlalu sulit baginya untuk bisa mnghadapi kenyataan ini. kehidupan memang pahit, ini yang ia rasakan sekarang. “Tuhan. Kenapa aku harus mencintai namja itu?. Aku lelah dengan semuanya. Ingin rasanya aku mati?. Tapi apakah mati adalah jalan terbaik?.”

Air mata Yoona semakin mengalir deras. Dadanya sesak menahan kenyataan ini. Tapi ia harus kuat membesarkan anak ini sendirian. Tiba – tiba ia merasakan pusing yang teramat sangat, perutnya sedikit berkontraksi. Yoona mencoba berdiri mengambil obatnya kembali yang tergeletak diatas meja riasnya.

Brukk…Seketika itu kakinya tak dapat menopang tubuhnya kembali. Ia terjatuh dari atas ranjang. Semuanya terasa berputar – putar dan lama kelamaan gelap. Cairan kental merah segar itu mengalir begitu saja menuju kakinya.

“Astaga Nona Im!!!.”

 

TBC

9 thoughts on “Stay With One Love (Part 6)

  1. Thor, FF lu daebak paraaah dah (y)
    Nomer satu dah FF lu ini (y) =))
    Kekurangannya cuman masalah ngepost kkk~~ Tapi gapapalah, guenya nunggu kok ;;) Stay with one Blog&FF bwaaahahaha

  2. Akhirnya ini yg aku tunggu ketegasan,sudah saat dan memang seharusnya yuri dan jongwoon oppa lebih tegas ma victoria biar ga ganggu rumah tangga mereka lagi.aku mau dong konflik yoonwon diperbanyak lg bolehkah?

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s