My Destiny

Judul : My Destiny

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Tiffany Hwang, Choi Siwon, Choi Sooyoung

Length : oneshoot

Rating : general

Genre : romance

 

Disclaimer : Author Cuma minjem nama para tokoh, selebihnya karya author, milik author sendiri. Jika ada kesamaan judul maupun jalan cerita itu hanya kebetulan semata karena ini MURNI IDE SAYA.

 

Annyeong haseyo………..allohaaa apa kabar readersnim??? Ketemu lagi sama author Choi Yoo Rin. Ini FF oneshoot author yang kedua disini. Lebih dari satu bulan author vakum untuk posting FF. Author bener-bener sibuk, jadi mahasiswa baru itu gak segampang yang author pikirkan selama ini. Laporan seminggu empat kali, praktikum, pre-test, post-test….dan masih banyak lagi tugas-tugasnya dehh #curcol😀

Karena itu author ijin sama admin zyzy untuk vakum sementara sampai selesai ujian. Nah sekarang berhubung ujiannya udah selesai, author kembali ngelanjutin nulis FF yang sempat tertunda. Untuk menebus kevakuman(?) author kemarin, author post langsung lebih dari satu FF. FF ini salah satunya.. untuk yang nungguin kelanjutan FF I Choose Your Heart, tuh udah author post.. semoga gak mengecewakan readersnim😀 . Oke deh, cukup segitu dulu sambutannya(?) kekekeke.. yang mau kenal lebih deket atau barangkali ntar minta PW silahkan follow @ajeng_ElfSparkyu …kamsahamnida #bow

Happy reading, don’t copast! Don’t bash! Keep Comment!

 

 

Tiffany POV

Namaku Tiffany. Lengkapnya Tiffany Hwang. Sebenarnya sih nama asliku Hwang Mi Young. Tapi eommaku biasa memangilku Tiffany. Aku tak tau kenapa. Usiaku saat ini 22 tahun #author ngarang😀 dan aku sedang kuliah di Seoul University mengambil jurusan akuntansi manajemen. Mungkin kalian pikir aku ini hidup di keluarga yang berkecukupan, tapi itu salah besar. Appaku telah meninggal saat aku SMP, dan sekarang aku hanya tinggal berdua dengan eommaku. Untuk hidup kami, eomma membuka usaha kecil-kecilan di rumah dengan berjualan kue. Untungnya appaku juga mewariskan kami sebuah rumah lagi yang tidak terlalu besar di belakang rumah yang kami tempati saat ini. Ya, dulu tanpa sepengetahuan eommaku, appa membeli rumah tersebut. Dan sekarang rumah itu dijadikan tempat kost oleh eommaku, karena daerah tempat tinggalku dekat dengan pabrik-pabrik, perkantoran dan juga sebuah kampus besar yang merupakan kampusku juga. Jadi aku tidak terlalu banyak mengeluarkan ongkos untuk ke kampus. Kuliah pun aku mendapat beasiswa. Ah ani, aku yang berusaha untuk mendapatkan beasiswa itu..

“Tiffany, tolong antarkan kue ini ke Lee ahjumma.” Teriak eomma dari dapur.

“Ne eomma.” Aku segera memakai cardiganku lantas menemui eomma.

“Ini kuenya. Nanti sebelum pulang mampir dulu ke minimarket ya, bahan untuk membuat kue hampir habis.”

“Oh ne eomma.”

Aku pun pergi mengantar kue pesanan Lee ahjumma. Beliau ini bekerja di perusahaan yang tak jauh dari rumah. Perusahaan yang cukup berpengaruh di Seoul, Choi Corp. Walaupun bekerja di perusahaan yang besar tapi Lee ahjumma tidak sombong. Ia sangat baik padaku dan eommaku. Ia sering mempromosikan kue buatan eomma kepada teman-temannya di kantor. Tak ayal, pelanggan eomma kebanyakan dari teman-teman Lee ahjumma di kantornya. Kue buatan eommaku juga enak kok.

Aku sudah biasa keluar masuk kantor ini, jadi security sudah hafal.

“Annyeong Kang ahjussi.” Sapaku pada Kang ahjussi, salah satu security di kantor ini. Tak mungkin kan security di kantor sebesar ini hanya satu..

“Ah ne annyeong Tiffany.. mengantar kue lagi ya?”

“Hehe, ne ahjussi. Saya permisi masuk dulu ya ahjussi.”

“Ne,ne silahkan.”

Ku langkahkan kakiku mantap memasuki gedung kantor ini. Ruang kerja Lee ahjumma berada di lantai dua. Perlu kalian tau aku tak pernah naik lift saat mengantar pesanan kue para karyawan. Aku cukup tau diri kok, jadi aku lebih memilih menaiki tangga. Pemilik perusahaan ini pastilah sangat kaya #yaiyalah . aku dengar perusahaannya tidak hanya satu. Bahkan punya cabang di luar negeri.

Tok tok tok…

“Ahjumma, ini aku Tiffany.” Sebelum masuk aku ijin terlebih dahulu. Hey, walaupun aku ini berasal dari keluarga pas-pasan aku juga tau mengenai sopan santun kok.

“Oh, masuklah.” Terdengar jawaban dari dalam. Ceklek, aku membuka pintunya.

“Ahjumma, ini kue pesanan anda.” Kataku seraya meletakkan kue itu di meja.

“Ah ne. Oya kue yang kamu bawa tidak hanya satu kan?”

“Nde? Aku tidak tau ahjumma. Aku tak melihatnya. Silahkan ahjumma cek dulu.”

“Iya…sudah sesuai pesanan ahjumma kok.” Ucap Lee ahjumma setelah memeriksa kotak kuenya.

“Ahjumma bisa minta tolong lagi?” tanya Lee ahjumma padaku.

“Ah ne. Bisa kok ahjumma. Minta tolong apa??”

“Tolong antarkan sebagian kue ini pada Nona muda.” Jawab Lee ahjumma sambil kembali menutup kotak kue setelah mengambil beberapa potong kuenya.

“Nona muda?” tanyaku heran

“Ne, nona muda Choi. Ruangannya ada di lantai 10.”

‘Nona muda Choi. Lantai 10. Hemm….mungkin itu…..’

“Kau naik lift saja. Jangan naik tangga. Bisa-bisa kau tak bisa mengantar kue lagi jika tetap naik tangga.” Saran Lee ahjumma.

Aku garuk-garuk tengkukku yang tak gatal. Ia juga sih, bisa keder ini kaki. Secara lantai 10.

Tiffany POV END

 

 

 

Tiffany mengetuk pintu sebuah ruangan yang ia yakini lebih besar dari ruang kerja Lee ahjumma. Setelah mendapat ijin masuk,ia pun segera masuk. Bau lavender ruangan itu segera memenuhi rongga hidungnya.

“Permisi, saya mengantarkan kue pesanan anda.” Ucap Tiffany saat melihat seorang yeoja cantik duduk di kursi CEO. Dalam hati Tiffany berkata pasti ini anak dari pemilik perusahaan ini. Tiffany membaca papan nama yang ada di meja kerja yeoja itu. ‘Choi Sooyoung’.

“Oh…dari Hwang bakery kan?” tanya yeoja itu memastikan.

“Ne. Ini dari Hwang bakery.”

“Yasudah letakkan di meja itu saja.” Kata yeoja itu sambil menunjuk sebuah meja yang di depannya juga ada tv yang Tiffany rasa itu untuk tempat bersantai yeoja itu.

“Saya permisi dulu.” Ucap Tiffany setelah meletakkan kotak yang berisi kue itu di meja. Tak lupa ia membungkuk hormat pada yeoja di depannya.

“Ne, gomawo.” Jawab yeoja itu.

 

Tiffany keluar dari lobby gedung perusahaan itu sambil tersenyum. Lebih tepatnya mungkin lega. Ia tadi sempat takut jika nona muda Choi itu orangnya galak, sombong, dan suka seenaknya. Tapi dugaannya salah. Tak semuanya orang kaya itu sombong.

“Lepaskan aku!! Ku bilang lepas!!!” kata seorang namja yang baru turun dari mobil sambil kedua tangannya di pegangi oleh dua orang. Tiffany yang melihatnya hanya keheranan. ‘Siapa namja ini?? Kenapa di pegangi seperti itu??’ gumamnya dalam hati.

Namja itu terus memberontak berusaha melepaskan pegangan tangan dari para orang-orang yang Tiffany yakini mereka adalah bodyguard. “Kalau kalian tidak melepaskan tanganku sekarang juga, akan kusuruh noonaku untuk memecat kalian.” Para bodyguard itu terlihat takut.

“Berani-beraninya kalian seperti itu padaku!! Kalian tidak tau siapa aku, hah??”

‘cih, sombong sekali namja itu.’ Pikir Tiffany dalam hati

“Choi Siwon!! Masuk!!” tiba-tiba seorang pria paruh baya keluar dari dalam gedung menyuruh namja itu masuk. Di belakang pria paruh baya itu juga ada beberapa orang dan…….yeoja tadi. Nona muda Choi.

“Appa sudah, jangan membentaknya seperti itu.” Ucap yeoja itu pada pria paruh baya yang menyuruh namja ini masuk. Kemudian yeoja itu menghampiri namja ini.

“Kajja Siwon-a, masuklah. Jangan ribut disini.”

‘Oh jadi nama namja sombong itu Siwon.’ Gumam Tiffany dalam hati.

 

 

“Duduklah.” Perintah yeoja yang bernama Sooyoung pada namdongsaengnya saat mereka di ruangan Sooyoung. Sedangkan adiknya hanya menggerutu tidak jelas dari tadi.

“Siwon-a, tolonglah jaga sikapmu di depan para karyawan kantor ini. Besok itu kau dilantik menjadi Direktur Utama. Menggantikan appa.” Nasehat Sooyoung.

“Haiisshhh noona…. noona kan tau aku paling tidak suka berurusan dengan hal berbau kantor seperti ini. Jebal noona, bujuklah appa untuk tidak menyuruhku bekerja di kantor.”

“Kalau kau tidak bekerja di kantor ini, mau kerja apa??”

Siwon diam sejenak. Benar juga perkataan sang noona. Selama ini ia juga belum pernah mempunyai pengalaman bekerja di bidang apapun.

“Siwon-a… kau harus belajar menyukai pekerjaan ini. Perusahaan ini kau yang akan meneruskan. Noona hanya bisa mengawasimu dari belakang.”

“Tapi kan noona juga anak appa. Noona juga punya hak terhadap perusahaan ini.”

“Iya, tapi nantinya noona mempunyai suami dan akan ikut suami noona. Kau namja, lebih berhak memegang perusahaan yang besar ini. Noona akan tetap membantumu dari belakang. Jadi… noona mohon mulai sekarang belajarlah menjadi direktur yang baik, yang berwibawa, bertanggung jawab, jujur, dan……..tidak seenaknya terhadap karyawan. Arraseo Siwon-a?”

Siwon diam.

“Siwon-a???”

“Ah, ne ne noona. Arra.”

 

**********

Siwon POV

Aku Siwon. Choi Siwon, anak kedua dari pengusaha sukses sekaligus pemilik perusahaan yang cukup berpengaruh di kota ini Choi Dong Woon. Aku memiliki seorang kakak perempuan bernama Choi Sooyoung. Usianya 2 tahun diatasku. Hemmm….mungkin kalian berpikir hidupku sangatlah enak, beruntung menjadi putra orang kaya. Tapi tidak bagiku. Berpendidikan tinggi predikat lulusan Cambridge University, tampan, kaya benar-benar membosankan. Hidup banyak yang mengatur. Gadis-gadis diluar sana banyak yang tergila-gila padaku, tapi tak ada yang tulus. Aku tau itu, mereka hanya mengincar kekayaanku. Ah ani, kekayaan orang tuaku. Aku benci mereka semua. Hingga sekarang pun aku masih belum mau berpacaran. Aku bukannya kurang suka berkecimpung di dunia kantor, hanya belum siap saja. Aku kadang heran pada noonaku. Dari dulu ia selalu menurut apa yang appa bilang. Benar-benar anak kesayangan. Tapi walaupun begitu appa tak pernah membedakan kami. Beliau selalu adil pada kedua anaknya. Itu yang aku kagumi dari appa.

“Sooyoungie, mulai hari ini ajari adikmu segala sesuatu yang berhubungan dengan kantor. Jelaskanlah apa-apa saja yang harus ia tangani.” Ujar appa di sela-sela makan siang kami saat ini setelah acara pelantikanku sebagai Direktur Utama Choi Corp.

“Ne appa.” Jawab noonaku.

“Dan kau Siwonie, jangan pernah menyusahkan noonamu. Bersikaplah baik. Jangan pernah membantah perkataannya.”

“Ne.”

Siwon POV END

 

Siwon menatap kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya. Ia mengusap wajahnya kasar. Jenuh. Itu yang dirasakannya di hari kedua ia bekerja di kantor. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam makan siang ternyata. Siwon memutuskan keluar untuk mencari makan siang. Saat di depan lobby kantor Siwon memutuskan untuk jalan kaki. Meskipun Siwon orangnya agak sombong dan kadang menyebalkan tapi ia tak terlalu mau menonjolkan kekayaan yang dimilikinya. Siwon berjalan-jalan di sekitar kantor, mencoba mencari tempat makan yang dirasa enak.

Tanpa ia sadari, ia telah masuk-masuk ke area pemukiman penduduk. Ia berhenti di depan sebuah rumah yang di jadikan tempat kost. Ia terus menatap rumah itu. Tiba-tiba sebuah ide terbersit di otaknya. Lalu ia memutuskan untuk kembali ke kantor dan menemui noonanya.

“Jebal noona…kali ini saja bantulah aku.. bujuklah appa..”

“Noona tak janji Siwon. Lagipula keinginanmu ini aneh sekali. Kenapa tidak sebelum kau dilantik menjadi Direktur saja??”

Siwon hanya diam. Memasang tampang memelas pada kakak yang sangat ia sayangi itu.

“Hhhh….kau ini sudah resmi menjadi direktur Siwon-a… Direktur Choi Corp. Aneh jika kau ingin tinggal sementara waktu di tempat itu.”

“Tapi kan niatku baik noona. Jebal noona. Ya ya ya ya???”

“ Ya baiklah. Aku akan mencoba bicara pada appa. Kau berdo’a saja semoga appa mau mengijinkanmu.”

“Gomawo noona. Jeongmal gomawoyoo… kau memang noonaku yang paling baik, noona yang terbaik di dunia ini.” Siwon tersenyum lebar sambil memeluk noonanya.

“Ne,ne. Sekarang kembalilah ke ruanganmu. Ini sudah habis jadwal untuk istirahat, jangan sampai karyawan menilaimu tidak profesional terhadap waktu.”

“Sipp bos!!” Siwon lantas keluar dari ruangan kakaknya.

“Dasar…” gumam Sooyoung sambil tersenyum.

 

 

***************

Pagi ini Siwon diantar kakaknya ke tempat yang kemarin ia kunjungi. Ya, setelah berusaha keras meyakinkan appanya, akhirnya Siwon mendapat ijin untuk sementara waktu tinggal di tempat kost yang dekat dengan kantor. Dan kost itu adalah milik eomma Tiffany. Siwon juga menyuruh kakaknya membawa mobilnya. Siwon beralasan karena dekat kantor jadi tak perlu menggunakan mobil. Entah apa yang ada di pikiran namja berusia 24 tahun itu.

“Kau yakin tak apa aku membawa mobilmu??” tanya Sooyoung.

“Ne noona aku yakin 100%. Sudah sana pergilah. Sebentar lagi jam masuk kantor lho noona. Aku mau bersiap-siap dulu. Sana pulang, bersiap-siaplah juga.” Siwon mendorong Sooyoung agar masuk ke mobil.

‘Aneh’ pikir Sooyoung.

 

Tiffany POV

“Fanny-a, antar kue ini pada penghuni baru kost kita.” Suruh eomma padaku yang sedang bersiap-siap pergi ke kampus.

“Mwo? Penghuni baru? Nugu eomma??”

“Namanya Siwon. Dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Lee ahjumma.”

‘Seperti pernah dengar nama itu’ pikirku dalam hati.

Tanpa pikir panjang aku langsung melaksanakan perintah dari eomma. Kata eomma kamarnya nomor tiga dari depan. Ini dia. Langsung saja ku ketuk pintunya. Ceklek. Keluarlah seorang namja. Hah?? Jadi dia??

“Nugu??” tanyanya

“Aku anak pemilik kost ini. Ini eomma menyuruhku mengantarkan kue untukmu.”

“Oh ne gomawo. Kebetulan sekali aku belum sarapan.”

“Ne cheonma. Aku permisi.”

“Sampaikan terimakasihku pada eommamu juga ya. Kuenya enak.”

“Ne.”

 

“Eomma, kenapa namja itu kost disini?” tanyaku setelah mengantar kue tadi.

“Memangnya kenapa??” tanya eomma balik.

‘Haisshhh eomma ini bukannya menjawab malah balik bertanya. Aku jadi malas melanjutkan pembicaraan ini.’

“Aniya, gwaenchana. Ya sudah eomma aku mau berangkat kuliah dulu. Oya tadi kata namja itu terimakasih. Dan kuenya enak.” Ku lirik eomma hanya tersenyum.

Aku lantas mengeluarkan sepedaku untuk kugunakan pergi kekampus. Ku letakkan tasku di keranjang depan.

Tiffany POV END

 

 

Siwon baru saja pulang bekerja. Pekerjaan hari ini sangatlah banyak. Tak heran jika ia merasa badannya pegal-pegal. Setelah sampai di tempat kostnya, ia coba menyalakan lampu.

“Haisshhh…kenapa lampu ini?? Kok tidak menyala.” Gerutunya. Ia lantas ke rumah pemilik kost untuk minta bantuan.

“Permisi, lampu dikamarku tidak bisa nyala. Bisa tolong membantuku?” tanyanya saat melihat Tiffany sedang di dapur.

‘Mwo? Namja tapi tidak bisa membetulkan lampu?? Memalukan.’ Batin Tiffany.

“Ne tunggu sebentar. Aku akan menggantinya dengan yang baru.” Setelah mengambil lampu baru, Tiffany segera menuju kamar Siwon untuk mengganti lampu yang lama. Siwon mengekor di belakangnya.

Saat masuk kamar Siwon, yeoja itu clingak clinguk mencari sesuatu yang bisa di panjat. Akhirnya ia memanjat menggunakan kursi.

“Eh agassi, kau yakin akan memanjatnya?” cegah Siwon sebelum Tiffany mulai memanjat.

“Ne, aku yakin. Sudah kau diam saja dan tolong pegangin kursi ini agar tak goyang.” Siwon menurut. Tiffany langsung mengangkat kakinya memanjat kursi itu. Setelah seimbang ia memutar bola lampu yang lama lalu menggantinya dengan lampu yang baru.

“Nah, sudah. Coba kau nyalakan!” perintahnya pada Siwon. Siwon pun melepas pegangannya pada kursi untuk menyalakan sakelar lampu. Ctek ctek. Lampu pun akhirnya menyala. Mereka berdua tersenyum lega. Tapi beberapa detik kemudian kursinya goyang, Tiffany yang tak bisa menjaga keseimbangan pun akhirnya terjatuh. Bruakkk… Tiffany yang menutup matanya karena takut seketika membuka matanya karena ia tak merasa menyentuh lantai. Ternyata ia terjatuh di atas tubuh Siwon. Ani, sebenarnya tadi Siwon sengaja menopang tubuh Tiffany agar tak membentur lantai.

Mata mereka berdua saling beradu. Cukup lama.

Deg. Jantung Tiffany berdetak tak normal.

‘Yeppo’ gumam Siwon dalam hati.

Tiffany mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia pun segera bangkit dari tubuh Siwon.

“Em..m..mianhae.” setelah mengucapkan kata itu Tiffany keluar dari kamar Siwon. Siwon sendiri juga bingung harus apa. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedetik kemudian ia tersenyum.

************

Pagi ini Siwon bangun kesiangan. Ia pun buru buru pergi ke kantor. Ia tak mau sampai appanya marah besar karena mengetahui dirinya terlambat. Saat keluar rumah tempat ia kost, ia melihat Tiffany baru mengeluarkan sepeda.

“Emm agassi, boleh aku menumpang sampai depan perusahaan Choi Corp.? Akuu sudah telat, tidak mungkin jika aku tetap jalan kaki.” Siwon mencoba memelas.

Tiffany awalnya hanya diam, tapi kemudian ia mengangguk.

“Gomawo” balas Siwon.

“Kau bisa memboncengku?” tanya Tiffany.

“Nde?” Siwon menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sejujurnya ia tak pernah naik sepeda jadi bisa disimpulkan namja satu itu tak bisa menaiki sepeda apalagi membonceng. Sedetik kemudian ia meringis di depan Tiffany sambil geleng-geleng.

“Sudah kuduga. Yasudah biar aku yang membonceng. Kajja naiklah.”

Tiffany sedikit kurang nyaman dengan keadaan seperti ini, ia jadi tak fokus mengendalikan sepedanya. Apalagi bobot yang di boncengnya juga lumayan, secara ia yeoja membonceng namja. Siwon juga kurang nyaman. Ia bingung harus pegangan dengan apa.

“Berpeganglah padaku. Jangan banyak gerak. Aku susah mengatur keseimbangan.”ujar Tiffany.

“M..mwo??” Siwon kembali menggaruk tengkuknya yang saat ini juga tak gatal.

“Kau mau kita jatuh?”

Beberapa detik kemudian dengan ragu Siwon meletakkan tangannya di pinggang Tiffany. Tiffany sedikit kaget, tapi ia akhirnya bisa mengontrol dirinya karena ialah yang menyuruh Siwon berpegangan padanya.

 

“Sudah sampai. Cepat turunlah.” Kata Tiffany setelah mereka sampai di depan kantor Siwon.

“Gomawo…dan maaf merepotkanmu.”

“Gwaenchana. Aku pamit dulu ya. Besok-besok jangan bangun kesiangan lagi.” Ujar Tiffany sebelum ia meninggalkan Siwon.

“Gadis yang manis” gumam Siwon setelah Tiffany menghilang

 

 

Siwon POV

Tok..tokk.tokk “Masuklah” jawabku terhadap orang yang mengetuk ruangan kerjaku

“Oh kau sekretaris Jung. Ada apa?” tanyaku

“Ini tuan, saya mau menyerahkan berkas-berkas yang harus anda tanda tangani sekarang juga.” Sekretaris Jung meletakkan beberapa lembar map di mejaku.

“Ah ne, tunggu sebentar biar ku tanda tangani langsung.”

“Tuan setelah ini anda ada jadwal bertemu klien di luar untuk membahas rencana pembangunan resort di Jeju. Setelah makan siang ada rapat dengan para dewan direksi.”

“Hari ini hanya itu jadwalku?” tanyaku setelah selesai menandatangani berkas-berkas. Sekretaris Jung terkesiap kaget. Ya sudah genap 2 minggu aku menjadi Direktur perusahaan ini. Dan tiap hari semangatku bekerja makin bertambah saja. Hal itu membuat heran sekretarisku ini. Padahal di awal kerja aku selalu mengeluh karena terlalu banyak yang harus kukerjakan. Tapi sekarang??

“Ne tuan hanya itu untuk hari ini.” Jawab sekretaris Jung.

“Oke, baiklah. Kau boleh kembali.”

“Permisi tuan.” Sekretaris Jung membungkukkan badannya hormat sebelum keluar.

“Ne.” Jawabku.

Aku tersenyum samar mengingat kelakuanku. Ahahaha….entahlah, aku memang sedang ingin giat bekerja akhir-akhir ini. Ya mungkin karena ini pengalaman pertamaku menjadi seorang direktur perusahaan besar.

 

 

 

Hahh….aku meregangkan otot-ototku. Kulihat jam tanganku, tak terasa sudah jam 5 sore. Waktunya pulang.

“Siwon-a, sore ini noona ingin mampir sebentar ke tempat kostmu” kata noona saat bertemu denganku di depan pintu lift.

“Untuk apa noona?”

Bukannya menjawab, noona langsung masuk kedalam lift yang pintunya baru terbuka.

“Noona mau mencari namja baru ya? Mau selingkuh dari Hankyung hyung ya?? Disana itu kan tempat kost namja noona.”

“Mwoya?? Dasar kau ini.” Noona terus menjewer telingaku hingga lobby karena pernyataanku tadi. Haisshhh turun sudah imageku di depan para karyawan kantor ini.

“Noona hentikan.” Mohonku.

“Andwae. Sampai tempat kostmu baru aku lepas.”

“Mworago????? Andwaeeee………”

Siwon POV END

 

“Jadi benar kau mau magang di kantor kami?” tanya Sooyoung pada Tiffany. Saat ini ia di rumah Tiffany. Ya, tadi Sooyoung bilang pada adiknya mau mampir karena hal ini. Lee ahjumma bercerita pada Sooyoung kalau Tiffany sedang bingung tempat untuk magang. Dan Sooyoung merasa Tiffany cocok untuk magang di kantornya.

“N..ne nona muda.” Jawab Tiffany. Sejujurnya ia merasa tak enak karena Sooyoung langsung yang mendatanginya. Harusnya ia yang datang langsung ke kantor itu karena dirinyalah yang butuh semua ini.

“Jangan memanggilku seperti itu Tiffany. Panggil saja aku Sooyoung.”

“Nde?? Ah n..ne, Sooyoung-ssi.”

“Jadi jabatan apa yang cocok dengan jurusan yang kau ambil saat ini?” tanya Sooyoung.

“Mwo? Silahkan anda saja yang memutuskannya. Saya tidak punya hak untuk memutuskan itu.”

“Emmm…….. sekretaris adikku saja.”

“Mwo??” tanya Tiffany.

“Ne Tiffany-ssi, kebetulan sekretarisku sedang hamil dan akan melahirkan. Biar sekretaris Siwon menggantikan sekretarisku dan kau yang menjadi sekretarisnya.”

‘Kenapa tidak menjadi sekretaris nona Sooyoung saja ya?’ heran Tiffany dalam hati. Tapi ia tak mau protes. Syukur-syukur ada yang mau menerimanya magang.

“Baiklah, saya mau.”

“Oke, besok kau bisa mulai bekerja.”

“Ne Sooyoung-ssi. Kamsahamnida.”

“Ne cheonma. Aku cicipi kuenya ya, aku penggemar kue buatan ibumu.” Ucap Sooyoung sambil mengambil sepotong kue.

“Ah, ne ne silahkan.”

 

 

***********

 

 

Tiffany POV

Hah. Genap satu bulan sudah aku magang menjadi sekretaris Choi Siwon. Oke, memang dengan magang ini aku bisa mendapat pengalaman kerja yang yah sesuai lah dengan jurusan yang ku ambil di bangku kuliah saat ini. Namja itu dan kakaknya juga sangat welcome padaku, dengan senang hati membimbingku yang masih awam di dunia kantor. Tapi ada hal lain yang kadang membuatku geregetan mempunyai bos seperti Siwon. Bagaimana tidak, mentang-mentang aku anak magang, sekretarisnya yang bisa ia suruh seenak jidatnya. Pernah suatu hari………….

Flashback

“Tiffany-ssi, tolong belikan saya makan siang di restoran ini.” Perintahnya sambil menyerahkan selembar kertas yang berisikan sebuah alamat restoran.

“Ne sajangnim.” Tanpa pikir panjang aku langsung saja menuju tempat yang ia suruh. Satu jam kemudian, tolong author digaris bawahi ya SATU JAM KEMUDIAN aku baru kembali ke kantor membawa makanan pesanan bosku itu. Keluar dari taksi aku berlari-lari tergesa-gesa karena takut jika ia sudah kelaparan menungguku.

“Hosshh…hoosshh… sa..sajangnim ini-“ kata-kataku terputus saat melihatnya dengan santai melahap makanan di ruang kerjanya.

“Eh kau Tiffany-ssi sudah datang. Itu makananku ya? Untukmu saja. Aku sudah menyuruh OB tadi membeli makan ini di restoran depan kantor. Hemm ternyata makanan ini enak juga lhoo” ujarnya dengan tampang innocentnya. Betapa geramnya aku saat itu. Kalau tidak mau menunggu lama kenapa ia menyuruhku membeli makan di restoran yang jauh dari kantor. Aku tak meresponnya.

Flahsback END

 

Mungkin itu bentuk balas dendamnya padaku. Ya ya, memang saat di rumah aku jutek terhadapnya, tidak ada kata manis yang keluar dari mulutku untuknya ketika kami sudah di rumah. Huh. Untuk apa?? Toh bukan di kantor. Mengenai ia seorang direktur?? Apa peduliku. Mau dia anak presiden juga aku tak peduli. Sebenarnya aku bisa saja ramah terhadapnya, tapi diriku sudah terlanjur menjudge dia buruk karena diawal aku melihatnya sikapnya terlihat angkuh, seenaknya dan sulit diatur. Sangat beda dengan kakaknya yang baik, ramah, tidak menyombongan diri meskipun putri orang kaya, cantik pula..

Menjadi sekretaris seorang direktur utama juga tak segampang perkiraanku. Aku hampir sama sibuknya dengan bosku itu. Kesana kemari menghadiri rapat, bertemu klien, keluar  kota meninjau proyek pembangunan yang ia handle.. dan lebih gilanya lagi setiap hari ia selalu memintaku untuk memboncengnya saat akan ke kantor. Aku jadi risih dengan tatapan-tatapan para karyawati muda disini yang tergila-gila pada namja aneh satu itu. Mereka pikir aku ini penjilat keluarga pemilik perusahaan ini. Isshhh…..apa aku kurang kerjaan melakukan hal memalukan itu. Aku tak pernah merespon mereka, ku biarkan saja sampai mereka capek sendiri. Toh yang mereka gosipkan itu tidak benar.

 

“Hey sedang apa?” aku tersentak kaget saat ada yang bertanya padaku. Kulihat, cih namja aneh ini lagi.

“Tidak lihat aku sedang mengaduk adonan kue?!!” jawabku sinis. Ku lanjutkan kegiatan membuat kueku tadi yang sempat tersendat karena melamun. Hihihi…

“Orang kamu melamun kok. Hati-hati nanti kuenya tidak enak kalau kelamaan diaduk.”

“Sok tau!! Ngapain kamu disini?” tanyaku.

“Aku bosan dikamar. Hari ini kan weekend, kau tidak ada niat mau jalan-jalan gitu??

“Tidak!! Aku sibuk.”

Ia menggerutu tak jelas. Kemudian berkeliling dapurku, ani dapur eommaku melihat-lihat kue-kue yang sudah matang.

“Ahjumma memangnya kemana?”

“Ada urusan keluar.”

“Ooo…..” dia kembali diam. “Emm…..boleh aku membantumu?”

“Mwoya? Andwae, andwae!! Kau bisa merusak semuanya. Sudah sana kembali kekamarmu saja.”

“Tidak mau :P”

Kubiarkan saja dia mengamatiku yang sedang memasukkan adonan kue ke loyang.

“Apa-apaan kau ini?” gerutuku karena tiba-tiba ia mencolek pipiku dengan tepung. Dia tersenyum meringis. Awas kau ya Choi Siwon. Jadilah sekarang kami colek-colekan saling membalas. Lempar-lemparan tepung, dan apapun yang bisa dijadikan senjata untuk saling membalas.

“Eh jakkaman. Kau mau melempar telur itu? Jangan, jangan!! Bisa marah eomma kalau telurnya habis. Dan lihat karena ulahmu dapur eomma jadi seperti kapal pecah. Mati aku!!”

“Kau ini kebanyakan omong. Kajja kita bersihkan sebelum eommamu kembali.”

Praakk.. “Tuh kan, aduuhhhhh!!” gerutuku karena namja aneh ini menjatuhkan sebuah telur.

“Mian….” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya. Haha..tampang melasnya menggemaskan. Jadi ingin kucubit pipinya. ‘Hah?? Sadar Tiffany, sadarlah.’ Aku menggeleng.

“Sini biar aku yang membersihkan pecahan telur ini.” Tak sengaja aku malah terpeleset isi telur yang jatuh ke lantai tadi.

“Huwaaaaaaaaaa!!!”

GREBBB. Syukurlah aku tidak jatuh. Tapi….kenapa ini?? Aku jatuh di pelukannya. Mata kami saling pandang. Cukup lama. 1detik, 5detik, 1menit, 3 menit. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Ku dorong tubuhnya dan aku sendiri kembali berdiri tegak. Rasa canggung  menyelimuti kami saat ini.

‘Eomma eotokkhae?? Kenapa lama sekali sih eomma kembalinya.’

Tiffany POV END

 

Siwon POV

Kulihat gadis itu kembali melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda karena ulahku tadi. Aku sendiri bingung harus berbuat apa. Suasana saat ini benar-benar canggung. Akuu….sejujurnya aku sudah tertarik padanya semenjak pertamakali melihatnya. Menurutku dia………dia gadis yang berbeda. Unik.

“Emm…….Tiffany-ssi nanti malam kau ada acara?” tanyaku mencoba mencairkan suasana ini.

“An..aniyo… wae??” tanyanya balik tanpa menatapku. Mungkin ia masih merasa tidak enak.

“Maukah kamu jalan-jalan denganku nanti malam?? Kata noonaku ada festival kembang api di Sungai Han.”

“Aku usahakan.” Jawabnya.

“N..ne. yasudah aku kembali kekamar dulu.” Sebelum keluar, samar-samar kulihat gadis itu tersenyum.

 

Hah..aku merebahkan tubuhku di ranjang. Aku terus tersenyum mengingat kejadian tadi.. ‘Tiffany kau membuatku seperti orang gila saja.’ Apa aku jatuh cinta pada gadis aneh itu ya??!!

Kulirik handphoneku. Ah, sebaiknya kutelepon noonaku saja.

Siwon POV END

 

 

Tiffany masih mondar-mandir di kamarnya. Tubuhnya masih berbalut baju handuk setelah selesai mandi. Ia membuka lemari pakaiannya. Memilih-milih baju. Ia keluarkan satu persatu, ia coba tempel ke badannya sambil berkaca.

“Ah jelek” gerutunya kemudian mengeluarkan lagi baju-bajunya. 30 menit ia hanya sibuk memilih baju.

“Arrgghhhh kenapa tak ada yang cocok sih!!!” ia mngacak rambutnya gusar. Sudah pukul setengah 7. Jam 7 ia janji jalan bersama Siwon.

“Hah…” ia duduk di tepi ranjang dengan tampang kusut. eommanya tiba-tiba masuk.

“Lho kok belum siap.. Siwon sudah menunggumu di depan.”

“Mwoya?? Kan janjinya jam 7.” Tiffany menatap eommanya heran. Eommanya hanya mengedikkan bahu.

“Sini eomma yang pilihkan baju.” Ny.Hwang berjalan mendekati lemari pakaian anaknya, kemudian memilihkan baju untuk putri semata wayangnya itu. Tak butuh waktu lama untuk menemukan baju yang pas untuk putrinya.

“Baguskan??” tanya Ny.Hwang saat putrinya menghadap kaca dengan sudah berpakaian rapi.

“Ne, tidak buruk.” Sahut Tiffany. Ny.Hwang tersenyum. Kemudian ia dandani putrinya itu, hanya polesan bedak tipis dan lipgloss sekedarnya. Putrinya memang tak terlalu menyukai dandan.

“Yeppo..” ujar Ny.Hwang setelah selesai mendandani anaknya. Tiffany hanya tersenyum malu.

 

Tiffany dan Siwon berjalan di tepi Sungai Han. Dinginnya udara malam membuat Tiffany menggosokkan kedua tangannya. Siwon yang melihatnya merasa kasihan. Apalagi Tiffany hanya memakai dress selutut. Ia pun melepas jaketnya dan memakaikan pada Tiffany.

“Eh?” kaget Tiffany.

“Pakai saja. Kau lebih memerlukannya. Aku tidak apa kok.”

“Tapi-“ sebelum Tiffany mengeluarkan sejuta alasan untuk menolak memakai jaketnya, Siwon segera menarik tangan Tiffany menuju sebuah bangku yang tak jauh dari mereka.

“Kita duduk disini saja.” Kata Siwon. Kemudian mereka mendudukkan diri mereka di bangku itu.

“Gomawo jaketnya.” Ucap Tiffany.

“Ne, cheonma.”

Tar..tar..tar….(jelek banget ya efek suara kembang apinya)

Tiffany melihat kagum keindahan berbagai macam warna kembang api yang saat ini menghiasi langit diatas Sungai Han. Siwon tersenyum senang. Dalam hatinya ia berterima kasih pada noonanya yang memberi saran untuk ketempat ini.

“Yeppoo” gumam Tiffany yang tak henti-hentinya melihat kembang api dilangit.

“Ne” balas Siwon. Tapi sebenarnya yang dilihat Siwon bukanlah kembang apinya melainkan wajah Tiffany yang ada disampingnya. Tiba-tiba Tiffany menoleh pada Siwon. Siwon yang tertangkap basah sedang mengamati wajahnya seketika kaget. Siwon mengira Tiffany akan mengomelinya habis-habisan setelah ini tapi dugaannya salah. Tiffany tersenyum.

“Mianhae..” ucap Siwon.

“Gwaenchana.” Jawab Tiffany. “Ehm, Siwon-ssi kajja kita berfoto. Pemandangan kembang apinya sangat bagus. Aku ingin mengabadikan moment ini.” Tiffany mengeluarkan handphone Samsung miliknya.

“Ne kajja.” Mereka berfoto dengan berbagai pose. Kadang Tiffany mencubit pipi Siwon yang membuat Siwon meringis saat kamera dipencet oleh Tiffany.

“Haha…lihat wajahmu Siwon-ssi..! sangat lucu sekali. Kau tau, sudah lama aku ingin mencubit pipimu itu..” Tiffany terus tertawa terbahak-bahak tanpa menyadari Siwon terus menatapnya kagum..

“Siwon-ssi ini-“ ucapan Tiffany terpotong saat ia menoleh pada Siwon dan mendapati Siwon kembali menatapnya seperti tadi. Kali ini ia lumayan merasa risih. “Si…Si..Siwon-ssi a..ap..apa yang kau lakukan??” Tanya Tiffany terbata-bata karena Siwon perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany. Cup. Bibir Siwon menempel di bibir Tiffany. Tiffany mengerja-ngerjapkan matanya. Ia masih tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Jantungnya terus berdetak lebih kencang sejak jalan bersama namja itu. Apalagi dengan kejadian barusan.

“Si…Siwon-ssi kenapa kau-“

“Saranghae..”

“Mwo??”

“Saranghae Tiffany. Saranghae Tiffany Hwang,, saranghae, jeongmal saranghaeyo.”

Tiffany diam. Ia bingung dengan yang terjadi malam ini.

“Aku tau tak mudah untukmu percaya padaku. Tapi yang kurasakan saat ini bahwa aku mencintaimu Tiffany. Sejak awal melihatmu aku sudah tertarik padamu, dan setelah banyak hari yang kita lalui bersama semakin meyakinkanku jika perasaanku ini tak main-main.

“Siwon-ssi aku……” Tiffany bimbang. Ia masih ragu terhadap perasaanya sendiri.

“Tak apa jika kau tidak bisa memberi jawaban sekarang. Aku akan menunggu.” Siwon tersenyum. Ia tak ingin terkesan memaksa Tiffany untuk menjawab. Ia hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dihatinya. Tak enak jika hanya dipendam terus menerus.

“Hah perutku lapar, kajja kita cari tempat makan terdekat.” Siwon menarik tangan Tiffany. Tiffany hanya diam saja, ia benar-benar bingung harus apa.

 

Tiffany POV

Aku terus menatap jalan yang kupijaki bersama Siwon saat ini. Kami sedang jalan pulang setelah makan tadi. Ia terus menggenggam tanganku. Tak taukah dia bahwa perbuatannya itu membuat jantungku terus berdetak lebih cepat.

“Udaranya dingin, jadi biarkan aku menggenggam tanganmu supaya tidak merasa kedinginan. Bagaimanapun juga aku tak mau diomeli eommamu jika nanti kau sakit sepulang jalan-jalan bersamaku.” Ucapnya.

Aku mendongak menatapnya. Ia tersenyum hangat. “Ne.” Jawabku. Entahlah. Sejak kejadian tadi aku masih enggan untuk bicara lebih. Aku takut….

Tak terasa kami sudah sampai didepan rumahku. Ia berhenti, menatap sebuah mobil yang ada di halaman rumah.

“Eh ini mereka..” ucap eomma saat aku dan Siwon masuk ke rumah.

“Appa, noona.” Kaget Siwon yang melihat appa dan noonanya duduk di ruang tamu. Aku hendak melepas genggaman tangannya karena sungkan tapi ia tetap mempererat genggaman tangannya padaku.

“Siwon-a, akhirnya kau datang juga. Kajja bereskanlah barangmu. Ikutlah kami pulang sekarang juga. Appa kira sudah cukup kau berusaha mandiri.”

“Tapi appa…”

“Besok calon tunanganmu datang kerumah. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Amerika.”

“Mwoya?? Tapi appa aku-“

“Sudahlah Siwon-a.. kau pasti menyukainya. Dia anak teman appa. Dulu saat masih kecil kalian sering bermain bersama.”

Aku terkesiap kaget. Kuberanikan diri untuk menatap namja itu. Ada perasaan tidak enak menyergap saat Tn.Choi bilang calon tunangan Siwon akan datang. Siwon menatapku. Cukup lama kami saling pandang. Mungkin dengan saling pandang seperti ini kami dapat mengutarakan isi hati masing-masing. Seolah-olah kami sedang berbicara melalui mata kami. Tanpa kusadari, kuanggukkan kepalaku seakan-akan memberinya ijin untuk pergi. Namun setelahnya aku benar-benar menyesali kebodohanku. Kebodohanku telah membiarkannya pergi. Kini ia sudah pulang bersama kakak dan ayahnya. Sedangkan aku?? Yang kulakukan hanyalah menangis dikamar. Menangisi semuanya.

“Sayang…..sudahlah… relakan Siwon.. mungkin dia bukan jodohmu.. kita tidak sebanding dengan mereka. Eomma mohon, hentikanlah tangisanmu. Eomma semakin tak tega melihatmu seperti ini.” Eomma terus mencoba menenangkanku.

“Hikss hikkss eomma…..” aku langsung menghambur ke pelukan eomma. Eomma mengusap punggungku.

 

************

 

Sejak kejadian malam itu aku memutuskan untuk berhenti magang di kantor Siwon. Menghindar. Ya, itu yang kulakukan saat ini. Aku juga selalu menolak saat eomma menyuruhku mengantar kue ke kantor itu. Aku takut….takut tak bisa melupakannya. Sebentar lagi dia akan menjadi milik orang lain. Disaat aku mulai menyadari akan perasaanku padanya. Sejak kejadian itu Siwon tak pernah menemuiku. Mungkin ia dilarang oleh appanya. Terakhir sehari setelah kepergiannya, ia menitipkan surat pada Lee ahjumma. Ia mengatakan bahwa ia sangat merindukanku. Ia berjanji sampai kapanpun akan terus menjaga cintanya untukku. Ia juga meminta maaf telah meninggalkanku. Kata ‘Saranghae’ banyak ia tuliskan pada surat itu. Hanya surat itu kenangan terakhir darinya. Tuhan….jika memang dia bukan takdirku kumohon kuatkanlah hatiku. Buatlah aku cepat bisa melupakannya.

“Sayang, malam ini berdandanlah yang cantik ya. Ikutlah eomma ke pesta pernikahan orang yang memesan kue pengantin ini.” Ucap eomma saat aku membantunya membuat sebuah kue pengantin yang cukup besar dengan 3 tingkat.

“Ne eomma.”

 

******

 

Aku dan eomma telah sampai di hotel tempat diadakannya pesta pernikahan orang yang memesan kue ini pada eomma. Kami di bantu beberapa pelayan hotel mengangkat kue ini untuk dibawa masuk. Tidak mungkin jika aku hanya membawanya berdua dengan eomma.

Betapa kagetnya aku saat memasuki tempat resepsi.

“Eomma itu…….itu yang menikah bukannya-“

“Ne sayang. Itu nona Sooyoung. Beliau menikah dengan pengusaha asal Cina bernama Hankyung.” Aku melihat sekelilingku. Aku takut jika bertemu dengannya. Mungkin saat ini ia tengah bersama tunangannya dan keluarga besar mereka.

“Eomma kajja kita pulang saja.”

“Tapi sayang nona Sooyoung sudah mengundang kita..”

“Eomma badanku tidak enak. Aku ingin cepat pulang.” Aku hendak meninggalkan eomma namun sebuah panggilan membuatku berhenti.

“Tiffany jakkaman.” Sontak aku berbalik. Kulihat di atas podium, Choi Siwon yang memanggilku. Kenapa ia memanggiku seperti itu… semua orang jadi menatap ke arahku.

Tiba-tiba appa Siwon juga ikut naik dan berdiri di sebelah putranya. Dengan menggunakan pengeras suara ia berkata. “ Malam ini, di pesta pernikahan putriku Choi Sooyoung aku akan memperkenalkan calon istri dari putraku Choi Siwon. Ya, dimalam ini aku juga akan menyelenggarakan pertunangan putraku. Untuk itu aku akan memanggil calon istrinya untuk maju.”

Hening…semua diam, menanti gadis mana yang beruntung menjadi menantu keluarga ini. Termasuk aku. Aku penasaran seperti apa gadis itu.

“ Tiffany Hwang, silahkan maju ke atas panggung.”

‘mwoyaaa?????? Apa aku tidak salah dengar?? Barusan Tn.Choi memanggil namaku. Mungkin aku salah dengar karena terbawa perasaanku yang campur aduk.

“Sekali lagi nona Tiffany Hwang putri dari Ny.Hwang Jae Im dipersilahkan untuk maju ke atas panggung.”

“Sayang, kajja majulah. Tn.Choi memanggilmu.” Eomma mendorongku. Jujur aku masih tak percaya dengan semua ini. Kenapa jadi seperti ini..?!! aku melangkahkan kakiku dengan ragu ke depan.

Siwon menatapku dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Aku hanya mengerucutkan bibirku sebal. Merasa telah dibohongi mentah-mentah oleh semua orang.

“Chagiya…mianhae…sudah dong ngambeknya… awalnya juga aku tidak tau apa-apa. Ini semua rencana noona dan appa ku. Jebal mianhae…”

flashback

sore itu setelah mengajak Tiffany jalan-jalan, Siwon menelepon noonanya.

“Noona, aku sudah jatuh cinta padanya. Malam ini aku akan mengajaknya ke sungai han seperti yang kau sarankan.”

“…………..”

“Nde? Tapi aku takut noona.

“…………..”

“Haisshhh kau ini, ne, ne. Baiklah aku akan mengatakan padanya.”

“…………..”

“Ne, gomawo noona.”

Flashback end

“Ne, Tiffany-a… noona yang mempunyai ide ini. eonni merasa kau agak berat mengakui perasaanmu pada adikku. Eonni pikir dengan cara inilah kau akan mengakui bahwa kau meiliki perasaan yang sama dengan adikku yang aneh ini.” Ucap Sooyoung eonni.

Flashback

malam itu Sooyoung mengajak appanya ke rumah Tiffany untuk melamar gadis itu tanpa sepengetahuan Tiffany maupun Siwon. Siwon juga tidak tau mengenai lamaran mendadak itu.

“ Ne ahjumma. Kurasa adikku sangat menyayangi putrimu. Untuk itu kami melamarnya secara diam-diam seperti ini dulu. Menurutku putrimu belum mau mengakui perasaanya.”

“Begitukah?? Omo dasar Tiffany itu. Bagaimana bisa dia bersikap sombong pada adikmu nona Sooyoung.”

“Aku punya rencana, bagaimana kalau….”

Flashback end

 

“Siwon tau semuanya setelah sampai di rumah malam itu. Maafkan eonni ya..”

Aku tersenyum. “gwaenchana eonni. Gomawo, karena rencana eonni aku secara tidak langsung telah menunjukkan perasaanku.”

“Maafkan eomma juga ya sayang karena membohongimu.”

“Ne eomma, gwaenchana.”

“Maaf untukku mana??” tagih Siwon.

“Tidak ada maaf untukmu oppa..”

“Haisss…. tak apalah yang penting tanpa kuminta kau dengan sukarela memanggilku oppa.” Siwon oppa lantas mencium pipiku secara tiba-tiba.

 

END

7 thoughts on “My Destiny

  1. Wah, bagus gan. Tapi lucu aje kalo Sooyoung jadi noona n eonninya Siwon n Tiffany, padahal kan aslinya Sooyoung lebih muda dari mereka. Terus juga lucu aja pas Fany ngebonceng Siwon pake sepeda, aslinya kan Fany gak bisa naik sepeda, apalagi sambil ngebonceng cowok segede Siwon. Wakakak.

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s