Stay With One Love (Part 7)

page

TITLE             : Stay With One Love part VI (sequel Forever Love With You)

AUTHOR       : Keyindra_clouds

MAIN CAST  :Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Choi Siwon Super Junior, Im Yoona SNSD, Victoria song

GENRE          : Romance, Sad, Angst, Comedy, marriage life.

LENGHT        :  Chapter Series

Annyeong…..aku balik lagi dengan FF abal – abal and amatiran ini….hehe..mian baru bisa ngepost. #plak. Dilempar sepatu readers.

Gak usah ngebacod and cingcong lagi ya. Langsung cap cuz aja!!.

#mian Typo berserakan dimana – mana

#author Cuma sampai segini idenya. *ide lagi buntu, diperes terus*

#aku butuh banyak comment bwt semangat ngelanjutin FF ini. (entahlah FF ini sampe kapan akan kelar). #Intinya dikit lagi End.

 

#######

Yoona mengusap perutnya pelan serta merasakan gerakan yang ada dalam perutnya. 5 hari sudah ia berada diruang inap rumah sakit karena kejadian beberapa hari lalu. kejadian yang mungkin bisa menghilangkan sebuah nyawa yang kini tengah ia kandung. Kini ia menunggu seseorang yang akan menjemput dan mengantarkannya pulang.

“Yoong,” panggil sebuah suara.

“ne.” Yoona menoleh dan tersenyum seraya berjalan mendekat kearahnya.

“Yul, aku sudah sangat ingin pulang. Aku jenuh dengan bau obat – obatan dirumah sakit ini. kajja kita pulang.”

“ne. Tapi kumohon jangan seperti waktu itu. Kau jangan terlalu stress memikirkan masalahmu itu!.”

“um..ma.” sebuah suara kecil bersamaan lekas membuat keduanya menoleh pada sumber suara itu. Yuri lalu mensejajarkan dirinya dengan kedua malaikat kecilnya yang ikut bersamanya.

“ne. Let’s introduce yourself with Yoona ahjumma.” Perintah Yuri, mereka berdua pun mengangguk lucu lalu menatap wajah Yoona dengan raut muka yang polos sambil tersenyum.

“hello ahjumma I’m Jae Woon Kim.” Ucapnya sambil mendadakan tangannya tanda ia baru berjumpa dengan orang yang baru.

“anii. Please speake korean babe not english?.” Perintah Yuri sekali lagi, dan mereka berdua pun mengangguk menyetujuinya.

“Jae Woon nida (imnida). Bang..sepda (bangaseupda).”

“ahjumma. Youngie imda (imnida). Sal…lahae (saranghae).”

Seulas senyum tulus dari Yoona diperuntukkan bagi mereka berdua. Yoona mengusap kepala mereka lembut.“hey. Panggil aku Yoona ahjumma.” Mereka berdua pun mengangguk menyetujuinya.

*****

Myeongdong – Distrik Jong-gu, Seoul. South Korea @ 14.00  KST

Yuri terdiam sebentar saat akan memasuki kamar Yoona. Ia melihat sekilas wajah Yoona yang murung dan sendu menampakkan kesedihan dihatinya. Terlalu Banyak pikiran yang harus dipikirkannya. Sanggupkah ia melupakan Siwon sebagai orang yang dicintainya.

“Yuri-ya. Apakah aku bisa melupakan namja itu?. Kenapa bayang – bayang namja itu selalu melayang dipikiranku?.” Lirih Yoona.

“Yoong. Istirahatlah, jangan terlalu memikirkan masalahmu. Aku tahu kau mencintai Siwon tapi Siwon belum bisa mencintaimu. Kau percaya cinta sejati?. Cinta sejati itu cinta yang diperuntukkan untuk kebahagiaanmu dan setiap orang pasti mempunyai itu. Percayalah, pasti cinta sejati akan datang kepadamu. Jika Siwon adalah cinta sejatimu, pasti ia akan kembali padamu dan memberikan cinta terindahnya.”

“tapi ia tak akan pernah mencintaiku?.” Setetes air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.

Yuri memeluk Yoona sejenak yang terisak pelan mencoba menenangkan hatinya. Menjadi sahabat yang ada disaat sahabatnya jatuh terpuruk akan kehidupan yang dijalaninya.

“semuanya butuh waktu dan proses Yoong. Percayalah Siwon pasti akan melihatmu sebagai yeoja yang ia cintai.”

“Ahjum..ma.” panggil Jae Woon. Reflek keduanya menoleh pada namja kecil itu.

“ne.”

“dlon’t (don’t) clly (cry).” Imbuh Nam Young yang menyeka air mata Yoona dengan jemari kecilnya.

“smile..please…” ucap mereka berdua menunjuk mimik mukanya yang tersenyum lucu.

~CUP…Yoona sedikit terbelalak kaget mendapati kedua anak Yuri tengah mencium kedua pipinya secara bersamaan. Seketika itu Yoona tersenyum, sementara Yuri menatap kedua malaikat kecilnya terenyuh.

“thanks chagi. I’ll keep my smile.”

“kau tak memberi kiss untuk umma-mu ini chagi?.” Pinta Yuri sedikit mengerucutkan bibirnya menandakan cemburu.

“euhmm.” Mereka berdua mengetuk – ngetukkan jari mereka dipipinya. “appa kissue umma.” koor mereka serempak dan seketika itu mereka berdua tertawa lucu dan bersembunyi dibalik punggung Yoona.

“mwo?.” Yuri membulatkan mata seketika.

“Kim Jae Woon..Kim Nam Young!.”

“hahahahaah….” Yoona pun tak kuat menahan tawanya karena Yuri senjata makan tuan atas omongannya sendiri, bagaimana bisa balita seumuran mereka mengetahui adegan orang tuanya yang seperti itu.

Yuri hanya bisa menatapnya takjub, akhirnya ia bisa tertawa lepas juga. Setidaknya ia dapat melihat senyum Yoona yang telah hilang untuk beberapa waktu lalu.

 

*****

 

Brukkk….setelah pulang mengantarkan Yoona, Yuri menjatuhkan dirinya diranjang king size miliknya dengan posisi tengkurap didalam kamar. Ia lelah seharian ini, rutinitasnya yang ia jalani sangat padat akhir – akhir ini. Matanya terasa berat untuk menahan kantuk akibat lelah hingga akhirnya ia matanya terpejam untuk beberapa saat.

“umma.” Panggil Nam Young.

Dengan malas Yuri pun menoleh melihat putri kecilnya ituyang terbari menatap lekat wajah Yuri yang sedikit terbuka., sementara Nam Young menyentuh dan memainkan ujung hidung Yuri dengan telunjuk mungilnya.

“ne?.”

“i love you mom.”

“dlon’t (don’t) leave me um..ma.” imbuh Jae Woon.

Yuri tersenyum menanggapinya. “i love you to babe and I’ll not leave you.”

“suell(sure) umma.” ucap Nam Young yang mengangkat jari kelingkingnya.

“ne, I’m sure.”

“umma..I’m  sleepy.” Tambah Jae Woon yang sedari tadi menguap tanda mengantuk.

“kajja kita tidur. Appa belum pulang.” Perintah Yuri. Kemudian direngkuhnya kedua malaikat kecilnya itu dalam pelukannya serta didekapnya erat lalu perlahan mereka bertiga memejamkan matanya.

 

*****

Jam menunjukkan pukul 7 malam. Dirasakannya suasana rumah dalam keadaan sepi tanpa seorang pun. Lekas Jong Woon pun berjalan pelan menuju kamarnya, ia tersenyum mendapati Yuri beserta kedua malaikat kecil mereka tengah tertidur pulas.

Jong Woon berjalan perlahan dan mendekati mereka bertiga. Ia duduk disebelah Yuri dan membelai lembut dahi beserta rambutnya lalu mengecup keningnya singkat. Terlihat sangat tampak raut wajah Yuri yang terlihat lelah, pasti ia disibukkan dengan rutinitas dikantornya. Sampai mengganti pakaian kerja pun ia tak sempat. Pikir Jong Woon.

“euuhhmmmm…” Yuri mengerang pelan dan mencoba membalikkan badannya tapi terhalang oleh sesuatu. Ia mulai mengerjap – ngerjapkan matanya sejenak.

“omona!!. Oppa!.” ujar Yuri kaget yang seketika itu terduduk. Jong Woon yang melihatnya hanya tersenyum, ia merapikan rambut Yuri yang sedikit berantakan serta menyelipkan rambut itu ditelinganya.

“kau tampak lelah hari ini chagi. Jangan terlalu memforsir dirimu dengan pekerjaan. Kau bisa sakit.”

“anii. Gwenchana.”

“oh God, ternyata sudah selama inikah aku tertidur?. Sebentar lagi oppa kusiapkan makan malam.” Yuri segera menurunkan kakinya dari ranjang dan mengikat rambutnya kembali. Ia berjalan keluar dari kamar diikuti Jong Woon dibelakangnya.

*****

 

“Yuri-ya.” Panggil Jong Woon seraya memeluk pinggang Yuri dari belakang serta menyandarkan dagu di bahu kanan Yuri. Saat ini Yuri tengah berkonsentrasi membuatkan makan malam untuk keluarga kecilnya.

Yuri merasakan sesuatu yang sangat ia rindukan. Jong Woon memeluknya dalam keadaan seperti ini. “I miss you so much dear. Give me 5 minutes like this.” Ucapnya dengan nada manja yang terdengar jelas ditelinga Yuri.

“oppa. Jangan seperti ini. bagaimana kalau salah satu dari mereka bangun dan melihat kita seperti ini. Please don’t like this (tolonglah jangan seperti ini) babe.” Yuri mencoba memprotes namun Jong Woon tak mau mendengarnya tetapi malah menghirup dan menghembuskan nafas serta membenamkannya dileher Yuri.

Spontan Yuri membalikkan badannya dan menatap lekat Jong Woon yang kini hanya berjarak 5 cm didepannya.

~CHU…Yuri mencium bibir Jong Woon sekilas. “currently the most beautiful, my life with you (saat ini yang terindah dalam hidupku, adalah bersamamu).

“jangan pernah tinggalkan aku seperti kemarin. Aku bisa gila jika kehilanganmu.” Yuri hanya mengangguk pelan.

Perlahan Jong Woon mendekatkan wajahnya pada Yuri, lalu mencium wajahnya dari kening, mata lalu ke hidung setelah itu mencium bibirnya lembut. Dirasakannya Yuri juga membalas perlakuan yang diberikan oleh Jong Woon. Makin lama kecupan yang mereka ciptakan menjadi lumatan – lumatan lembut dan basah.

Ciuman mereka semakin panas dan liar, mengeksplor lidah masing – masing agar bertautan hingga tercipta suara decakan bibir yang menggema. Mereka terus berciuman panas, bertukar saliva, menyedot lidah satu sama lain serta masih melumat bibir pasangannya.

Kaki Yuri bergetar dan cengkraman tangannya semakin menguat di kedua lengan Jong Woon. Sebelum Yuri benar – benar jatuh, Jong Woon langsung mengangkat tubuh Yuri dan diletakannya pelan tubuh Yuri di sofa serta dibaringkan. Lalu menempatkan tubuhnya diatas tubuh Yuri dan kembali mereka berciuman panas (?).

“assshhh..opp..ppaahh.” Yuri semakin mendesah tak karuan saat ciuman Jong Woon menyusuri leher putihnya. Sedikit demi sedikit tangan Jong Woon mulai beraksi, satu persatu kancing kemeja kantor Yuri ia buka. Dan tanpa sadar Jong Woon telah berhasil membuka kemeja yang ia kenakan karena Yuri masih terlena akan sensasi ciuman yang mereka ciptakan.

Dan…..

“um..ma..huuuuaa…huuuaaa…ap..pa…” terdengar suara tangisan yeoja kecil dari dalam kamar yang menandakan ia baru saja terbangun dari mimpi buruknya. Dengan cepat Yuri tersadar dari aktivitasnya dan kembali merapikan kancing kemejanya yang telah terbuka serta  mendorong tubuh Jong Woon pelan lalu sedikit tergesa menuju kamar.

“astaga Youngie!. Kenapa menangis sekeras itu chagi?.” Pekik Yuri. spontan Yuri segera menghampirinya lalu menggendong putri kecilnya itu.

“monstell (monster) um..ma..hikss..hikss..hikss…”

“anii, chagi. Tidak ada monster, kau hanya mimpi buruk chagi. Kau ini sudah besar kenapa masih menangis?.” Ucap Yuri menenangkannya.

“ ap…pa..” panggil Nam Young yang masih sesenggukkan lalu merentangkan tangannya pada Jong Woon.

“ne. Jangan menangis. Nanti putri appa tambah jelek, dan appa tak mau itu.” Ucap Jong Woon menenangkan dan mengambil alih putrinya itu kemudian dari gendongan Yuri menggendongnya.

“appa, plomisse (promise) me. dlon’t (don’t) leave me.”

“ne, Im sure babe. Cause you’re my princess.” Nam Young menyenderkan kepalanya didada Jong Woon mencoba mencari ketenangan. Yuri hanya tersenyum melihatnya. Dimatanya sosok Jong Woon adalah appa yang sempurna bagi kedua malaikat kecilnya.

“aku sayang um..ma.” Imbuh Jae Woon yang terbangun dan begitu saja memeluk Yuri dari belakang.

“nado chagi. Kau tak menangiskan?.”

“aniyo umm..ma. I’ll keep smile umma.” kekeh Jae Woon.

 

*****

Matahari menyingsing menampakkan diri dari tempat persembunyiannya. Pagi yang cukup cerah dimusim gugur ini. Siwon terbangun dari tidurnya kemudian berjalan melihat indahnya pagi dari jendela apartemennya. Seperti pagi – pagi sebelumnya ia selalu sendirian diapartemennya, jarang sekali dongsaeng satu – satunya itu, Choi Sulli mengunjungnya sejak pertengkaran yang mereka berdua ciptakan 2 bulan lalu.

Siwon berjalan menuju kedapur dan mengambil sebotol air minum. Dilihatnya counter dapur itu masih seperti hari – hari sebelumnya, terlihat sepi. Padahal hampir 1 tahun lalu ia bisa melihat Yoona yang selalu berkutat didapur menyiapkan sarapan pagi meski ia tak pernah makan – makanan yang disajikannya.

Rasa gelisah kini menyelimuti batin dan pikirannya. Lima bulan sudah mereka berdua tak bertemu. Terakhir kali mereka berdua bertatap muka saat dimeja pengadilan untuk meresmikan perceraian mereka berdua.

Mungkinkah ia kini menjilat ludahnya sendiri?. Mencintai Yoona yang notabene adalah orang yang ia anggap menjadi penghalang hubungan antara dirinya dan Yuri?.  hanya karena alasan konyol seperti itu. Ia membenci Yoona. Tapi kenapa kini ia malah merindukannya?.

Siwon kembali bergelut dengan pemikirannya sendiri. Selama ini ia belum bia melupakan Yuri yang jelas – jelas telah bahagia bersama orang lain. Tapi kenapa Yuri bisa melupakannya begitu saja. Sedangkan ia tak pernah menganggp Yoona itu ada. Mungkinkah ia mulai menyukai Im Yoona?.

Untuk beberapa saat ia terdiam mencerna pemikirannya barusan. Dilirikya ponselnya tersebut kemudian menekan sebuah nomor yang tak asing untuk ia hubungi.

“Yeoboseo.”

“ne,”

*****

 

“kamshamida tuan Shim Changmin. Semoga bisa bekerja sama baik dengan anda.” Ucap Yuri membungkukkan badan memberi hormat pada rekan bisnis barunya itu.

“mianhae tuan. Apa anda akan kembali ke Frankfurt lusa?.”

“anii. Aku akan menetap dikorea. Putriku memintaku untuk menetap dinegara ini. jadi aku mau menerima kontrak kerjasama dengan perusahaan anda.”

“baiklah. Kurasa sudah cukup. Jika masih ada yang dibicarakan, meeting kita tunda hingga besok.” Titah Changmin. “Annyeong.” Ucap Changmin melangkahkan kakinya keluar dari gedung.

 

Sementara itu…

Victoria terhenti untuk sejenak saat menatap namja itu berjalan. Matanya menatap namja itu dengan sekasama. Perasaan benci itu muncul kembali. 7 tahun belumlah hilang kenangan antara dirinya dengan namja yang bernama Changmin itu. Haruskah ia membenci Changmin?. Mengingat Changmin tak tahu menahu hal perjanjian antara dirinya dan sang eomma. Tidak ia kini sudah melupakan Changmin yang ada sekarang hanya ada Jong Woon.

 

Flashback….

Victoria duduk terdiam bersama Changmin disampingnya. Sepi dan canggung, hanya itu yang mereka berdua rasakan. Mereka berdua bergelut dengan perasaan mereka masing – masing.

“kita menikah secepat mungkin. Aku tahu eomma tak merestui hubungan kita, tapi aku bahagia bisa menikah denganmu Qianie. kau tahu sekarang jika kini aku bahagia saat mendengar berita kehamilanmu Qiane?.”

“aku tak bisa Changmin –ah. lebih baik kau meninggalkanku dan carilah kehidupan yang lebih baik untukmu. Aku akan membesarkan anak ini sendirian.”

“Victoria!. Aku mencintaimu. Tidak kau akan tetap menikah denganku dan kau harus menikah denganku, apapun keputusan eomma.”

“Changmin-ah.” wajah Victoria menengok kearah Changmin. Dia tengah menangis, tetes demi tetes air mata turun menuju pipinya. Ia terisak menangis, meangisi kehidupan percintaannya kini.

“saranghae Song Qian. Aku hanya mencintaimu.” Ucap Changmin memeluk Victoria erat.

 

Seminggu Kemudian….

 

Plaaakk…..tamparan keras itu bersarang dipipi Victoria. Benci dan amarah kini tengah menguasai penuh pikiran yeoja setengah baya itu. Kebenciannya terhadap Victoria itu semakin menjadi saat mengetahui jika putra satu – satunya itu menikah diam – diam dengan yeoja ini.

Victoria menangis sambil bersimpuh didepan nyonya Shim, ia menangis terisak sejadi – jadinya yang terdengar sangat menyakitkan. Hatinya telah mati akan belas kasihan yang harus diberikan pada Victoria.

“kau harus memilih saat ini juga. Kau pilih meninggalkan anak itu ketika terlahir dengan Changmin dan pergi menjauh atau Changmin akan kusiksa batinnya sampai ia gila karenamu.”

Ini terlalu sulit bagi Victoria mengingat ia sangat mencintai keduanya. Aeginya dan Shim Changmin. Dengan berat hati akhirnya ia memutuskannya. “baiklah, aku akan meninggalkan Changmin. Tapi tolong jangan benci anak ini. bagaimanapun ia juga darah daging dari Changmin.”

“baiklah. Tinggalkan mereka berdua setelah anak itu lahir. Kau pergi sejauh mungkin dan jangan sekali – sekali menampakkan wajahmu dihadapan Changmin. Jika tidak Changmin akan kusiksa batinnya hingga maut menjemputnya.”

 

9 bulan kemudian….

“Qianie. kau tahu jika aegi kita sangat cantik sepertimu. Apa kau ingin memberi nama untuknya?.” Ucap Changmin mengecup kening Victoria lembut pasca melahirkan.

“aku tak ingin melihatnya. Dia anakmu, kau yang berhak atas dia bukan aku.” Changmin merasakan dadanya sesak saat Victoria mengatakan hal yang tidak seharusnya keluar dari mulutnya itu.

“apa maksudmu Qianie?.”

“aku lelah. Tinggalkan aku sendiri disini.” Tukas Victoria ketus. Ia ingat akan perjanjiannya dengan nyonya Shim jika ia harus pergi setelah melahirkan anaknya dengan Changmin. Sementara Changmin memilih pergi keluar untuk meninggalkan Victoria sejenak daripada akan memancing keributan dengan Victoria.

Tak berapa lama kemudian yeoja setengah baya itu muncul dan membawa seorang laki – laki dibelakangnya. “malam ini juga kau harus pergi. Tinggalkan Changmin dan anakmu. Kau harus mengakui jika laki – laki dibelakangku ini adalah kekasih barumu. Katakan jika kau selingkuh dan sesegera mungkin tinggalkan Changmin!.”

“jangan banyak protes!. Atau anakmu akan ku buang dan itu akan membuat Changmin menjadi depresi dan akhirnya…” ucapnya menggantung.

“baiklah aku akan pergi sekarang juga. Kumohon rawatlah anakku, jangan siksa dia dan membencinya.” Nyonya Shim mengangguk pelan menyetujuinya. Hidup memang tak adil, Victoria kini tak mempunyai pilihan lain selain pergi dari kehidupan Changmin. Meninggalkan orang yang ia cintai.

 

Flashback End…..

 

Dengan cepat Victoria berjalan menuju ruangannya kemudian mengunci pintu ruangannya. Ia terduduk dilantai meratapi nasibnya kembali 7 tahun lalu. bagaimanapun ia juga seorang ibu, ia merindukan aegi yang pernah ia lahirkan, bahkan sekalipun ia tak pernah melihat wajah putri kecilnya itu. Ia tak memungkiri memang jika kini Victoria ingin bertemu dengan putri kandungnya itu dan menanyakan kabarnya selama 7 tahun berlalu.

 

*****

 

Yuri tengah berkonsentrasi menatap layar monitor komputer didepannya setelah beberapa jam lalu ia melakukan meeting dengan salah satu perusahan yang akan bekerja sama dengannya. Tangannya masih berkutat dengan tombol di keyboard mengetikkan suatu kata demi kata hingga tersusun lembaran demi lembaran. Satu persatu map yang tergeletak menumpuk dimejanya pun diambil untuk  dilihat dan dituliskannya kembali.

Sreet….sebuah map tiba – tiba terjatuh dan isinya sedikit tercecer begitu saja dari tumpukkannya, ia pun berjongkok untuk mengambilnya. Dilihatnya sekilas sebuah kertas keluar dari map tersebut. Merasa penasaran dengan kertas itu, lekas Yuri membukanya dan mendapati sesuatu yang mungkin sedikit mengagetkan untuknya.

Map merah berisi biodata lengkap dari seorang bernama Victoria itu, ia baca dengan jelas dan cermat. Mungkin dengan kertas biodata ini, Yuri bisa mengetahui siapa itu Victoria dan apa hubungannya dangan umma-nya.

“mungkinkah dia…..” lirih Yuri menggantung. Tapi secepat mungkin ia menepis dugaan itu dan kemudian tak mau membuat kesimpulan bodoh itu.

Drrrttt…..drrtttt…. sebuah suara getaran ponsel menyadarkan Yuri dari semua lamunannya. Sedetik kemudian ia tersenyum melihat sebuah nama yaang terpampang jelas pada layar ponselnya.

“yeoboseo. Aisshh..Jinja. kau tahu ini jam berapa?.”

“wae?. so what’s wrong with me if call you. I Miss you so much my dear.”

“sepertinya kau berusaha untuk menggombaliku. Tapi aku tak merindukanmu.”

“cepat buka pintumu. Kau tahu aku sudah berada didepan sejak dari tadi.” Titahnya.

Yuri menghela nafasnya sejenak lalu meniupkan poninya keatas. Suaminya itu memang susah untuk ditebak. Seulas senyum tipis mengembang dibibirnya, ia berjalan pelan lalu dibukanya pintu ruang kerjanya dan tampaklah sesosok namja dengan tampang cute tersenyum kearahnya.

“jadi sudah berapa lama kau menunggu didepan ruanganku Tuan Kim.” Ucap Yuri pura – pura kesal sambil melipat tangan didadanya dan membuang muka.

Jong Woon tersenyum kecil, lekas ditampakkannya tangan yang menggenggam sesuatu dibalik punggungnya. Seikat mawar putih dengan pita berwarna serupa dibawahnya.

“tersenyumlah. Aku tak mau melihat muka masammu yang seperti itu!.” Dengan dua tangan ia menyerahkah bunga itu didepan Yuri langsung.

~CHU.. kecupan kilat itu akhirnya mendarat dibibir Yuri. seketika itu wajah Yuri merona merah mendapat perlakuan seperti itu.

“bukankah ini sudah malam. Apa kau melupakan mereka berdua dan aku yang menunggumu?.”

“anii. Hanya saja masih ada sedikit pekerjaan  yang harus kuselesaikan.”

“akan kutemani hingga selesai. Jadi apakah kau tak mengajak suamimu yang tampan ini masuk untuk menemanimu nyonya Kim?.” Kekeh Jong Woon tersenyum jahil.

“kajja kita pulang. Semuanya sudah selesai saat kau datang. mereka berdua sudah menunggu kita dirumah.” Jong Woon mengangguk tersenyum lalu menarik tangan Yuri dan menggandengnya.

 

*****

 

“oppa. kau ingin makan apa untuk malam ini?.” teriak Yuri dari dapur sambil melihat – lihat bahan makanan yang ada didalam kulkas. Ia rasa Jong Woon akan memakan sesuatu apapun yang akan dibuatnya kecuali makanan instan.

“umma.” panggilan dari namja kecil itu kontan membuat Yuri sedikit menghentikan aktivitasnya dan menggendong pangeran kecilnya itu dan mendudukannya di dekat wastafel.

“ne. How your day chagi?.”

“glleat (great umma).”

“umm..ma. I wanna to something umma.” ucap Jae Woon polos. Tapi Yuri sepertinya tak mengindahkan perkataan Jae Woon.

“umm..ma.” rengeknya manja.

“hmmm.”

“um..mma.” kembali teriakan panggilan itu memanggil Yuri. tapi kali ini berbeda melainkan putri kecilnya itu kini yang memanggilnya diikuti Jong Woon yang berjalan dibelakangnya.

“ne. Kau ingin mengatakan sesuatu chagi?.” Tanya Yuri mengusap pelan kepala Jae Woon yang sedari tadi sedikit mempoutkan bibirnya tanda kecewa akan Yuri yang mengacuhkannya. “you wanna something chagi?.” Jae Woon pun mengangguk diikuti oleh Nam Young.

“oh ne. I agree oppa.” imbuh Nam Young.

“maybe appa know yo what it’s.”

“uhhm. I wanna little dongsaeng appa.. umma.” jawab Jae Woon spontan.

“MWO!!!.” Mata Yuri membulat seketika, sedangkan Jong Woon hanya terkikik geli mendengar pernyataan yang keluar dari mulut anak laki – lakinya tersebut.

“so…” imbuh Jong Woon tersenyum evil sementara Yuri menatapnya dengan tatapan death glare.

“give me little dongsaeng umma.” rengek Jae Woon sekali lagi.

Yuri menghela napasnya sejenak. “Jae Woon oppa. bukankah sudah punya dongsaeng?.”

“nugu eomma?.”

“Youngie. Sebentar lagi kalian akan masuk kesekolah. Jadi pasti banyak teman tidak perlu dongsaeng lagi.” Jelas Yuri.

“anii umma. he’s my twins.” sanggah Nam Young.

“aku mau dongsaeng umma.” Tambah Nam Young menekankan kata dongsaeng sambil mengerucutkan bibirnya.

“kalian sudah punya dongsaeng. Jung Yeon itu dongsaeng kalian. But she’s live with Taeyeon auntie and Jung Soo ahjusshi.”

“jinja eomma?.” Dan Yuri pun mengangguk mengiyakan.

“euhm..apa kalian serius menginginkan dongsaeng?. Get real?.”

“sulely (surely) appa.”

“baiklah kalau begitu. Malam ini kalian segera tidur, tapi tak boleh bangun dan menangis. Appa dan umma akan memberikan kalian dongsaeng. Arra.”

“alla (arra).” Kompak mereka berdua.

“Yak!. Kim Jong Woon!!. Apa yang kau bicarakan?. Jangan berbicara yang tidak – tidak pada mereka berdua!.”

“wae?. Apa salahnya kita kabulkan. Mereka berdua juga yang memintanya.” Jawab Jong Woon polos.

“dasar pervert!. Namja mesum!. Kau buat sendiri saja!.” Teriak Yuri berjalan menjauhi mereka bertiga menghentikan aktivitas memaksanya sementara. Jong Woon, Jae Woon serta Nam Young hanya bisa menatapnya melongo.

 

*****

 

“babe.” Panggil Jong Woon yang beranjak berdiri mendekati Yuri yang baru saja mengganti pakaiannya dengan pakaian yang menurutnya sedikit sexy itu.

“hm?. Ne wae?.” Sahut Yuri sekenanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah akan air dengan handuk.

Jong Woon tak menjawabnya dan terus melangkah mendekati istrinya itu, hingga tak ada jarak pembatas diantara mereka berdua. Dibalikkannya tubuh Yuri agar keduanya bisa saling menempel (?).

“you look so sexy babe, you wanna tease me huh?.” Jong Woon menatap Yuri seduktif. Smirk itu pun muncul kemudian membuat Yuri sedikit bergidik ngeri.

“oh no. I’m So tired my dear.” Kilah Yuri menghindari tatapan mata Jong Woon.

“but Your clothes tempting me to touch you again. So, what continue this…?.” kata Jong Woon sambil terus menerus menciumi bahu Yuri serta tak lupa menurunkan tali baju Yuri.

“oppa, don’t ever try to__”

Hmmppttt. Belum juga Yuri berkata sesuatu, Jong Woon sudah memojokkannya pada dinding kamar mereka dan menyerangnya dengan french kiss yang lembut dibibir Yuri.

“treat me well tonight. I waiting so long this night.” Bisik Jong Woon seduktif.

“do you wanna fulfill request of my baby twins…eunnggh~..”

“maybe yes maybe no. I miss You so much. Love you more..”

Jong Woon mulai menciumi leher Yuri, sesekali ia menggigitnya kecil dan menciptakan tanda kepemelikan. Yuri mencoba menggigit bibir bawahnya. Tapi desahannya tetap tak bisa ia tahan lagi.

“oppa..euungghh~.”

“don’t arrest it.”

“ahh..oppa..aahh~sshh~.”

Jong Woon semakin bergairah mendengar suara merdu Yuri yang seperti itu. Tak ragu lagi ia mengangkat tubuh Yuri dan membaringkannya diranjang. Tangannya mulai beraksi berani membuka pakaian yang Yuri pakai.

Yuri mengelijang hebat taatkala Jong Woon meraba-raba perutnya dan perlahan naik keatas untuk memulai aksinya.. ‘mencari titik tersensitivenya’

(Skiippp…readers bayangin aja sendiri ya..)

 

*****

 “euuggh…” Yuri sedikit mengerang pelan, merasakan ada sesuatu yang memelukkanya erat. Ia mulai membuka matanya pelan. Dilihatnya namja yang tidur disebelahnya tampak tidur dengan wajah polos seperti bayi. Dikecupnya singkat bibir Jong Woon itu dan ia sedikit menggeser tubuhnya.

“auh..appo.” ia menggeser tubuhnya dari pelukan Jong Woon yang tertidur. Dirasakan bagian bawah tubuhnya yang merasakan sakit. Ia mulai sadar sepenuhnya bahwa mereka berdua tertidur dalam keadaan polos tanpa busana setelah ‘berolahraga malam’ selama beberapa ronde.

“tetaplah seperti ini chagi. Aku lebih menginginkan posisi seperti itu.” Tiba – tiba Jong Woon menarik tubuh Yuri dan seketika itu posisi Yuri kini tengah berada diatas Jong Woon dengan mata masih pura – pura tertidur.

“wae?. Wajahmu merona lagi. Bukankah kau sudah melihatnya berkali kali, bahkan sampai bisa menghasilkan mereka berdua.”

“yaakk!. Namja mesum!. Kenapa masih dibahas peristiwa itu. Oppa turunkan aku, badanku lengket semua. Aku mau mandi.”

“shirreo. Morning Kiss.” Ucapnya menunjukkan bibirnya.

~CHU.. dikecupnya lembut bibir Jong Woon dan melumatnya sebentar. Tapi tak segan Jong Woon membalasnya lebih intens dan mendalam hingga akhirnya menimbulkan suara sexy dari Yuri kembali.

“eeuungghh..aaahhsss..”

 

“stop it!.” Berontak Yuri pelan.

“kau tahu aku lebih suka kau dalam keadaan seperti ini. tanpa sehelai benang pun.” Kekeh Jong Woon tersenyum evil.

“dasar pervert!.”

*****

Suasana sarapan pagi terlihat ramai dari celotehan riang Jae Woon dam Nam Young yang sudah cerdas untuk berbahasa inggris fasih. Sementara Yuri dan Jong Woon terlihat tengah berkonsentrasi dengan sarapan pagi mereka.

“umma. Did you know last night?.”

“what happened is’t ?.”

“ghost… umma.”

“mwo? Ghost?. Are you sure?.” Tanya Yuri yang sedang mengunyah makanan.

“suara aneh umma.” tambah Nam Young. “we heall (hear) umma and appa faster run.” Yuri semakin heran dengan perkataan kedua anaknya itu tak kalah juga dengan Jong Woon .

“i can heal (hear) umma said ‘fass.tt..eeerr op…pppahh.” tutur Jae Woon dengan polosnya menirukan suara Yuri tadi malam.”

“MWOO??!!.” Koor Jong Woon dan Yuri bersamaan.

“jadd..di. semalam kalian belum tidur ketika eomma menidurkan kalian.” Ucap Yuri terbata menyembunyikan raut muka merahnya.

“kami tak bisa tidur umma.”

“hahaha…” Jong Woon menutup mulutnya menahan tawa akibat pernyataan anak laki – lakinya yang polos itu. Mana ada suara orang mendesah seperti dikejar hantu.

“umma. this is Vampire bite (apa itu gigitan Vampire)?. Tunjuk Nam Young yang melihat dua buah bercak kemerahan di leher putih Yuri. Sementara Jong Woon masih belum bisa menahan tawannya, bahkan tawanya semakin menjadi saat Nam Young berkata Yuri digigit oleh vampire.

Tiiing….suara dentingan piring Yuri yang sengaja menudahi makan paginya itu. Ia berjalan dengan sedikit menahan amarah dan rasa malunya akibat ketahuan oleh kedua anaknya mendesah keras akibat sentuhan Jong Woon.

“sudahlah. Jangan anggap perkataan mereka berdua. Kau tahu semalam aku suka mendengar suara sexy-mu itu chagi.” Ucap Jong Woon memeluk Yuri dari belakang.

“YAK!!.”

*****

 

PRRANGGG!!!…

Sebuah lemparan gelas tepat mengenai kaca tepat sasaran. Begitu lelahnya Victoria menangis meratapi nasibnya. Ia hanya bisa melampiaskannya lewat barang – barang yang ada didekatnya. Lelah hati maupun pikiran kini tengah dirasakannya, sudah terlalu lama ia menangis dan menguras tenaganya hingga akhirnya ia menundukkan kepalanya kembali. Mengingat kejadian beberapa hari lalu.

Flashback……

Tak susah memang menemukan alamat dari Shim Changmin yang kini tengah tinggal di Korea. Bagi Victoria apapun ia lakukan asal ia bisa mendapatkan keinginannya. Ia tahu jika kini Changmin tengah bekerja sama dengan Yuri. maka tak sulit baginya untuk memperoleh alamat rumah Changmin.

Dilihatnya Changmin tengah memasuki mobil dan mengndarainya. Diam – diam Victoria mengikutinya dari belakang. Masihkah ia memendam rasa rindu terhadap namja itu?. Tujuh tahun bukanlah waktu singkat untuk bisa melupakannya.

“Daddy..” suara kecil itu berteriak memanggil nama Changmin. Spontan Changmin menoleh pada suara gadis kecil itu dan tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya.

Benarkah yang didepannya itu adalah putri kecilnya itu. Putri yang tujuh tahun lalu ia lahirkan tanpa melihat sama sekali wajahnya hanya demi perintah seorang yeoja setengah baya yang kejam itu.

“secantik itukah putriku?. Bahkan aku tak pernah melihatnya sama sekali.” Desis Victoria lirih.

Victroia memandang pilu putri kecilnya itu dari spion mobil, ingin rasanya ia memelukanya tapi apa daya tampaknya rasa rindu itu tak dapat tersalurkan.

“Dad. I wish in my birthday, i’ll meet my mommy.”

“sure. I Wish my sweety.” Ucap Changmin yang terlihat nanar menatap sendu putri kecilnya itu.

Victoria merasa sesak dadanya mendengar semua itu. Pelan namun terdengar keras oleh telinga Victoria dari dalam mobil.

“aku harap kau bisa memaafkan umma dan appamu ini.” lirih Victoria.

 

Flashback End……

“aku harus menemui putriku sekarang juga. Persetan dengan semuanya, aku tak peduli Changmin. Yang kuinginkan sekarang hanya dia. Putriku!.”

Victoria berjalan cepat dan mengambil kunci mobilnya. Tak peduli dengan darah yang mulai menetes dari hidunya itu. Sekarang yang terpenting adalah bisa bertemu dengan putri kandungnya itu.

 

*****

 

Sebulan Kemudian…..

Siwon semakin frustasi tak kunjung menemukan Yoona. Rasa besalah semakin menghantuinya. Ia tak tahu apa yang harus ia laukan sekarang. Menyesal. Tentu saja ia menyesal. Sekian lama ia membenci Yoona dana tak memandangnya sebagai yeoja, kini berbalik 180 derajat. Perlahan – lahan ia mulai melupakan Yuri dan mengakui keberadaan Yoona.

“miahae. Aku telah menyakitimu sekian lama ini. Tapi sekarang Tuhan sedang menghukumku karena mencintaimu.”

Jujur dari dalam hatinya ia berharap Yoona akan kembali. Tapi apa bisa ia mengembalikan keadaan seperti semula. Hujan pun turun membasahi tempat itu. Siwon tetap berada di posisinya tidak bergerak sedikitpun.

““ARRRRGHHHHHH!!!!!” teriak Siwon karna merasa begitu terluka hatinya. Lelaki itu mulai menangis, menyadari betapa bodohnya ia yang telah menyia – nyiakan Yoona. Hatinya benar – benar sakit.

“saranghae Im Yoona. Aku mencintaimu Yoong…tidakkah kau mengetahuinya.” Isak Siwon pelan menatap kosong pemandangan didepan matanya. Kembali air matanya menetes.

 

Sementara itu ditempat lain…….

Hamil dengan keadaan seorang diri sungguhlah sangat memperihatinkan bagi wanita. Dimasa seperti ini seharusnya ada seorang suami yang berada didekatnya sambil mengelus perutnya itu. Mungkinkah itu akan terjadi?. Yoona tersenyum miris mencoba memikirkan semua itu.

Ia menangis kembali memandangi foto pernikahannya dengan Jong Woon itu. “kau tahu baby Choi. Foto ini adalah foto appamu. Dia sangat tampan bukan.” Kata Yoona memandangi bayi yang ada diperutnya itu.”

“sesungguhnya umma masih mencintai appamu itu chagi. Tapi apakah kini appamu sudah melupakan eomma?. Entahlah chagi. Umma bingung apa umma harus membenci appamu itu, tapi umma tak bisa. Umma terlalu mencintainya. Kadang umma iri melihat kehidupan Yuri ahjumma dengan kedua anak kembarnya, ingin rasanya umma memiliki keluarga bahagia seperti itu.”

Tiba-tiba saja pandangan Yoona menjadi kabur. Ia pikir itu pasti karna air matanya terlalu banyak yang mengabut di bola matanya. Yoona pun jatuh terkulai di lantai jatuh dari ranjangnya saat akan berdiri. Dia pingsan. Bersamaan dengan itu, di kakinya mengalir darah. Air ketubannya pecah!.

Sang pembantu pun  terkejut saat melihat tubuh Yoona yang tergeletak dengan darah dimana-mana. Ia segera meminta pertolongan supir kepercayan Yoona untuk mengangkat tubuh Yoona menuju rumah sakit.

 

*****

Dengan tangan yang gemetar hebat Yuri mencoba menguatkan hatinya membuka amplop putih hasil tes laboratorium ruamah sakit. Dadanya terasa sesak saat terpampang jelas angka 99,9% tes akurat. Benarkah ini semua terjadi?. Tidak semua ini tidak mungkin.

Yuri menangis seketika mendapati tulisan hasil tes DNA dilembar kertas itu. Semuanya cocok, jadi selama ini Victoria adalah anak kandung yang pernah ditinggalkan umma-nya lebih dari 20 tahun lalu itu.

Sebulan lebih ia menyelidiki tentang semua ini. Tak sia – sia memang membuahkan hasil. Tapi ini sungguh menyakitkan. Ia secara diam – diam mengambil sample rambut Victoria dan sang umma. pikirannya setiap hari terganggu akan kedekatan Victoria dan sang umma. yang lebih mencurigakan lagi Yuri melihat dengan seksama betul bagaimana cara makan Victoria dan sang Umma. sungguh sangat mirip.

“mungkinkah ia Qianie, yeoja bergelang biru yang membuatku kecelakaan 20 tahun lalu apakah dia kakakku?.

Sesempitkah dunia ini?. kenapa harus Victoria yang ditadirkan sebagai kakak kandungnya. Mengetahui jika Victoria adalah sosok Yeoja yang mengancam keharmonisan hubungannya dengan Jong Woon.

“benarkah kau adalah Song Qianie?. lalu kenapa kau jahat kepadaku sejak lama.”

Dilangkahkannya kaki Yuri menuju ruangan kerja Jong Woon setelah mengambil surat menyakitkan itu. Ia usap air matanya itu berusaha menutupinya didepan Jong Woon.

“kau mencintainya Victoria.” Teriakan sedikit keras itu kontan membuat Yuri menajamkan telinganya didepan pintu ruang keja Jong Woon.

“kau tahu Jong Woon-ah. Dia jahat padaku. Changmin jahat padaku. Ia tega memisahkan aku dengan putriku.” Tangis Victoria semakin menjadi saat Emosi Victria dan Emosi Jong Woon saling beradu.

“tapi kau mencintainya hingga saat ini Qianie!!.”

“jangan panggil aku dengan nama itu. Namaku Victoria bukan Qianie. Qiane sedah mati Kim Jong Woon.”

“terserah saja!. Bagiku kau dan Qianie itu sama. Sama – sama mencintai Shim Changmin. Kau tahu bahkan kau memakai kalung pemberian dari Shim Changmin hingga saat ini.”

“mwo?. Kau salah Kim Jong Woon. Ini adalah kalung pemberianmu waktu itu.” Kilah Victoria.

“heh, jinja?. Aku memang yang memberikannya, tapi jelas itu pemberian dari Changmin. Dia mencintaimu Qianie sama seperti kau mencintainya.” Tutur Jong Woon pelan menahan bahu Victoria agar emosinya sedikit terkontrol.

Brakkk….

Sebuah pintu terbuka begitu saja menampakkan sesosok yeoja yang tengah menangis juga. Keduanya pun tak kalah kaget mendapi Yuri tengah menangis seperti itu. Ia menangis bukan karena cemburu terhadap suaminya melainkan pada yeoja bernama Victoria itu akan masa kecilnya bersama dengan Victoria.

“Qi..qi..aaniee..” ucap Yuri terbata.

 

—TBC­­­—

 

#NB: Mungkin ada alur yang kecepetan, tp itu semua akan aku jwb di part selanjutnya, jd ga usah bingung dengan alurnya itu.

 

11 thoughts on “Stay With One Love (Part 7)

  1. Ga alurnya pas ko ga kecepetan ga juga lambat.
    waduh dasar nih yesung oppa dan yuri ko bisa kecolongan gitu sampe ga sadar klw si kembar belum tidur,untung mereka masih pada polor jadi ga sadar klw itu suara desahan ortu mereka hehe…
    malang bgt nasibnya victoria harus dipisahkan dari suami dan putri yg bahkan belum pernah dia lihat,tapi setelah semua terbongkar klw victoria adalah saudara kandungnya yuri kira2 sikap yuri kedepannya gimana yah?

  2. sumpah keren abieeeeeees!
    suka couple’a..suka crita’a!!huaaaa
    Yuri malu bgt tuch ketahuan anak’a!!kekeke
    moga2 pa Yoona ngelahirin Siwon msh sempet nemanin peralinan!!
    lanjuttttttt

  3. ahh, akhirnya lanjutan ff ne ad juga.. Saia suka bagian yg akhir, Yuri tdk cemburu pada Vict, tapi dia bersedih dan prihatin terhadap nasib unnienya selama terpisah dgn x,
    Siwon jga udh sdar akan perasaan x pda Yoona..

    Sepertinya udh mau ending nih ky x, udh bnyak titik terangnya.. *reader sok tau -.-‘
    di tunggu part selanjutnya ne…

  4. Maaf min aku bru comment😀
    Ngakak min gara-gara si kembar ngira ada hantu ternyata eomma sama appanya lgi buat dongsaeng, sama itu yg dikira gigitan vampir xD
    Ternyata victoria changmin punya anak._. kasihan jg sih sama victoria:(
    lanjut ya thor penasaran apa hubungan yuri sama victoria😀 Fightingg!!

  5. Fighting lanjut jangan lama2 ya!
    Bagus kok gak kecepatan alurnya pas
    makin penasaran ama kehidupannya qian
    cepet ya part selanjutnya

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s