Three Little Words (Chapter 2)

Three Little WordsTitle: Three Little Words (Chapter 2)

Author: tatabrigita

Main Character: Siwon, Tiffany, Donghae, Yoona, Kyuhyun, Seohyun, Sungmin, Sunny

Main Song: BoA – Only One

Started: 060313

Genre: Romance, angst

Rating: General

Author’s Note: Double update! FF ini juga author tulis di AsianFanFics, bisa dilihat di sini.

 

***

Rabu, 6 Juli, 2011

6.12 KST

Gym Karma Kandara, Denpasar, Bali, Indonesia

***

Tiffany berjalan menyeberangi jembatan cepat-cepat. Pagi itu lumayan, dan langit masih gelap. Dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk berolahraga. Tubuhnya jadi sehat sempurna dengan berolahraga.

Setelah berjalan melewati spa, dia membelok ke kanan dan menemukan gym itu. Sudah dibuka, tapi masih kosong. Tiffany tidak ingin membuang waktu lagi dan mendekati treadmill. Setelah mengatur kecepatan, dia memakai earphone-nya, memainkan musik, dan mulai berlari.

Tiffany berlari cepat dan lebih cepat, tapi dia tidak terengah-engah. Itu adalah rutinitas untuknya, dan dia tidak gampang lelah. Dia memakai treadmill selama sekitar lima belas menit, ketika pintu gym terbuka.

“Tiffany!”

Tiffany hampir jatuh dari treadmill saking kagetnya. Untungnya, dia memegang pegangannya dan mampu menjaga keseimbangan. Dia mendongak, dan matanya bertemu dengan mata orang itu.

“Siwon-ssi?”

Siwon berdiri di sana, memakai T-shirt dan celana pendek, dan berdiri di depannya, kelihatan khawatir. “Kau baik-baik saja?”

Tiffany menganggukkan kepalanya dan menghentikan treadmill. “Ya, aku baik-baik saja.”

Siwon tiba-tiba memegang bahu Tiffany, dan Tiffany merinding. Jantungnya segera berdetak lebih cepat, tapi dia tidak tahu kenapa. Mungkin itu karena dia jarang berinteraksi dengan pria. “Kau yakin?” tanya Siwon lagi.

Tiffany mengangguk tanpa berbicara.

“Kau tahu,” nada suara Siwon berubah lebih lembut dan santai, “aku tidak tahu berapa usiamu.”

Tiffany menatapnya, mengangkat alisnya. “Kenapa kau bicara tentang usiaku?”

Siwon terkekeh dan menyingkirkan tangannya dari bahu Tiffany. “Aku tidak bicara, Tiffany-ssi—aku bertanya.”

“Aku tidak tahu usiamu juga,” balas Tiffany cepat-cepat.

“Wanita duluan.”

“Apa untungnya bagimu kalau kau tahu usiaku?”

Siwon tersenyum. “Kau sangat keras kepala.”

Bibir Tiffany melengkung membentuk senyum tipis. “Aku sering mendapatkannya.”

“Baiklah.” Siwon menyerah. “Aku dua puluh lima.”

Tiffany kaget. “Kau tidak kelihatan seperti orang dua puluh lima tahun. Sebenarnya, kau kelihatan cukup muda.”

“Aku juga sering mendapatkannya.” Siwon melipat kedua tangannya di depan dada. “Kau?”

“Dua puluh tiga,” jawab Tiffany.

Siwon menatapnya. “Ternyata desainer sukses sepertimu masih muda.”

Tiffany berdecak dan melanjutkan berlari. “Kau tidak berolahraga, Siwon-ssi?”

“Hei, aku lebih tua daripadamu. Kau harus memanggilku ‘oppa’.”

Tiffany memutar kedua bola matanya. Siwon sama keras kepalanya seperti dia sendiri. “Kenapa aku harus memanggilmu itu? Bukankah kita berdua oke-oke saja dengan ‘-ssi’?”

“Aku tidak.” Siwon berjalan menjauh untuk duduk di salah satu kursi hitam. Dia mengambil sebuah barble dan mulai fokus ke tangannya.

Tiffany berusaha untuk tidak memandangi Siwon. Dia tidak pernah mengalami roman dengan pria manapun. Tidak pernah. Tidak pernah. Dan pemandangan Siwon berlatih di depannya, terasa begitu… aneh. Tiffany menaikkan volume MP3-nya supaya dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Siwon.

Setelah beberapa detik, Siwon berhenti dan menatap Tiffany. “Tiffany-ah, ada pesta pantai malam ini. Kau tahu tentang itu?”

Tiffany tetap berlari. “Pesta pantai? Di mana?”

“Di sini, di Pantai Namos. Dibuka untuk semua orang, bahkan untuk yang tidak menginap di sini,” jelas Siwon. Mata pria itu entah kenapa berbinar-binar. “Apakah kau akan datang?”

“Apa kau akan datang?” Tiffany balik bertanya.

Siwon tersenyum. Tanpa sengaja, Tiffany juga ikut tersenyum. “Aku datang bila kau datang,” kata pria itu.

Tiffany berhenti berlari dan beristirahat sebentar, meregangkan kakinya. “Yah, kurasa aku akan datang,” gumamnya. “Aku bawa teman-temanku juga.”

Siwon menganggukkan kepalanya sebelum mengangkat barble lain, kali ini lebih berat. “Ah, bakal jadi malam khusus cewek-cewek, kalau begitu.”

Tiffany terkikik. “Tidak. Mereka tidak seperti cewek-cewek lain. Mereka sangat enak untuk diajak bergaul.”

“Apa mereka menginap di sini?”

“Ya, tapi kurasa mereka bukan orang-orang yang suka bangun pagi.” Tiffany menutup mulutnya sebentar sebelum bertanya. “Bagaimana denganmu? Kau datang, kan, Siwon-ssi?”

Siwon menatapnya. Sekali itu, jantungnya berhenti berdetak. “Ya. Aku juga akan membawa teman-temanku.”

“Siapa?” Tiffany otomatis bertanya.

Siwon mengangkat bahu. “Hanya beberapa cowok. Tiga. Mereka bilang mereka ketemu cewek beberapa hari yang lalu, tapi aku tidak tahu apa mereka masih saling kontak. Dan mereka bukan tipe yang romantis. Yah, jika mereka bersamaku. Aku tidak mengenal mereka bila kami semua berada dekat cewek. Mereka sungguh berbeda. Lebih manis dan romantis.”

Siwon tidak tahu kenapa dia baru saja “menumpahkan” penjelasan ke Tiffany. Bagaimanapun juga, dia baru mengenal Tiffany selama beberapa hari. Tapi entah bagaimana, Siwon percaya padanya. Siwon mempercayai Tiffany Hwang.

“Apa aku mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal?” tanya Siwon malu-malu.

Tiffany menunjukkan eye-smile-nya sambil tertawa. “Semacam itu. Teman-temanku juga. Mereka bertemu cowok beberapa hari yang lalu.”

“Mungkin kita bisa—” Siwon segera berhenti berbicara.

Tiffany mendongak. “Apa?”

Siwon menggeleng. “Bukan apa-apa.”

“Apa? Menjodohkan mereka?”

Mata Siwon berbinar. Tiffany mengerucutkan bibirnya. “Kurasa kita bisa melakukannya, Siwon-ssi. Maksudku, kita bisa mencoba.”

Siwon tersenyum lebar. “Berapa banyak temanmu?”

“Tiga.”

“Aku juga.”

“Ada apa sih, dengan kebetulan-kebetulan ini?” gumam Tiffany. “Aku sering mendapatkannya belakangan.”

Siwon tersenyum dan berdiri. “Mungkin itu hal yang bagus.” Dia mengedipkan mata ke arah alat-alat angkat beban. “Seberapa berat beban yang bisa kautangani?”

***

Rabu, 6 Juli, 2011

7.15 KST

Restoran Karma Kandara, Denpasar, Bali, Indonesia

***

Yoona menunggu.

Dia baru saja menerima telpon menyebalkan dari Tiffany ketika dia masih tertidur, menyuruhnya pergi ke restoran resor untuk sarapan dengan dua orang lainnya. Yoona datang secepatnya, tapi tetap saja, belum ada yang datang dari ketiga orang itu.

Dia melihat pemandangan di depannya. Restoran itu berada di sebuah balkon, dan dia bisa melihat kolam-kolam renang di bawah dan suara ombak di Pantai Namos. Yoona duduk di kursi di sebelah pagar besi balkon, dan bisa melihat apabila ada orang yang akan memasuki restoran. Tempat itu sangat indah. Amat sangat indah.

“Kau di sini juga?”

Yoona mendongak. Sunny berdiri di sana, memakai T-shirt merah dan celana pendek denim. Kelihatannya dia baru saja menghabiskan waktu di pantai. Sebelum Yoona bisa menjawab, Sunny duduk di depannya. “Tiffany baru saja menelponku. Aku baru saja akan pergi ke pantai.”

“Pergi ke pantai di pagi hari?” gumam Yoona.

Sunny memutar bola matanya, tapi tidak menjawab. Malah, dia memanggil pelayan dan memesan es teh lemon. Meski baru pukul tujuh di pagi hari, matahari sudah terasa menyengat di kulitnya.

“Tiffany menelponmu juga?” tanya Yoona.

Sunny mengangguk. “Katanya tentang sesuatu yang penting.”

“Dia tidak memberitahuku itu.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Tentang sarapan di sini. Kita berempat.”

Sunny mengangguk, dan pelayan datang kembali dengan pesanannya. Dia menyeruput minumannya sebelum berbicara, “Kau tahu, kau tidak memberitahuku apapun soal cowok itu.”

Yoona mengerutkan keningnya. “Cowok apa?”

“Cowok yang bertemu denganmu beberapa hari lalu. Kau tidak mengatakan apapun tentangnya.”

Yoona terkekeh dan bermain dengan jemarinya. “Sungguh, tidak ada yang spesial,” jelasnya. “Dia hanya mentraktirku makan setelah membawaku ke rumah sakit.”

Sunny nyaris tersedak. “Rumah sakit?” Matanya melebar. “Kenapa kau ke rumah sakit?”

“Aku tenggelam di tumpukan buku,” balas Yoona sederhana.

“Apa aku telat?” Kali ini, Seohyun muncul. Dia duduk di kursi di antara dua gadis lain dan tersenyum. “Tiffany unnie baru saja menelponku. Aku tidak menyangka dia akan menelpon kalian berdua juga.”

Sunny duduk tegak. “Tiffany lebih baik muncul,” katanya, mengubah topik.

Ketiganya menghabiskan beberapa menit berbicara, sebelum akhirnya Tiffany yang terengah-engah muncul. Rambut pendeknya basah dan berantakan, menunjukkan bahwa dia baru saja mandi. Dia duduk di antara Seohyun dan Yoona, menarik napas dalam-dalam.

“Sekarang, bisakah kau jelaskan kenapa kita di sini?” tanya Sunny. “Kita tidak berada di sini hanya untuk sarapan,kan?”

Tiffany menenangkan dirinya, dan kali ini ketiganya bisa merasakan kegembiraannya. Dia menunjukkan eye-smile-nya sebelum berbicara. “Ada pesta pantai malam ini. Kalian mau datang? Aku datang.” Dia berhenti. “Dengan cowok yang kutemui beberapa hari lalu.”

“Kau bertemu dengannya lagi?” Yoona angkat bicara.

“Kita jangan ngomong tentang hal itu dulu. Maukah kalian? Kumohon?” Tiffany memohon.

Sunny mengerucutkan bibirnya. “Kenapa kita harus datang? Kita hanya akan jadi penghalang atau apa di antara kau dan cowokmu.”

“Tidak!” desak Tiffany. “Dia akan membawa cowok-cowok lain juga.”

Seohyun terperangah. “Unnie! Kau akan menjodohkan kita bertiga?”

Tiffany mengangkat bahu. “Yang penting datang!”

“Aku tidak mau kencan buta,” keluh Yoona.

“Ya ampun, coba datang dan lihat cowoknya?” kata Tiffany.

Sunny tertawa. “Kenapa kita harus datang?”

Tiffany memutar bola matanya. “Karena ini temanmu yang meminta?”

Ketiga orang lainnya tidak berbicara untuk sementara.

“Baiklah, aku akan datang,” kata Yoona, menerima pandangan dengan mata terbelalak dari Sunny. “Apa? Tidak ada ruginya. Lagi pula, kupikir pantainya pasti keren saat malam hari.”

Seohyun menganggukkan kepalanya. Dia bukan tipe gadis yang suka berpesta, tapi dia suka menghabiskan waktu dengan teman-temannya. “Aku juga datang, unnie.” Dia mengalihkan perhatiannya ke Sunny. “Bagaimana denganmu, unnie?”

Sunny menyipitkan matanya. “Aku benci kalian.”

***

Rabu, 6 Juli, 2011

18.00 KST

Pantai Namos, Denpasar, Bali, Indonesia

***

“Aduh!”

“Sunny! Hati-hati!”

“Berhenti bicara! Aku benci sandal ini!”

“Kau harus berhenti mengeluh, unnie.”

Keempat gadis itu tetap berjalan menuju lift yang akan membawa mereka turun ke pantai. Tiffany telah menghabiskan seharian menyiapkan dirinya sendiri dan teman-temannya untuk pesta pantai. Untungnya, dia ingat dia telah meluaskan label fashion-nya ke Indonsia. Sangat mudah untuk menemukan pakaian yang pas untuk masing-masing. Tapi Sunny, yang tidak begitu suka fashion, mengeluh tentang sepatunya.

“Sandal ini bunyi kalau aku jalan.” Dia cemberut.

“Kau kelihatan cantik dengan itu,” ujar Tiffany.

Sunny mendengus.

Lift-nya datang, dan mereka berempat plus satu staf turun ke pantai. Sudah gelap, dan pestanya sudah mulai. Musik terdengar, dan pantai itu sangat ramai. Ada atraksi api, pertunjukan tari tradisional, bahkan permainan. Tiffany mendadak teringat akan Hawaii.

“Di mana teman cowokmu?” tanya Yoona antusias.

Tiffany tersenyum. “Kita turun dulu.”

Sunny telah berhenti mengeluh, karena dia melepas sandal berisik itu dari kakinya ketika menginjak pasir. “Ah, ini lebih baik,” bisiknya, kembali ke dirinya sendiri.

“Unnie, lihat bintangnya!” tunjuk Seohyun ke langit yang hitam.

Bintang-bintang itu terlihat seperti lampu sorot mini yang menerangi pantai. Bulan sabit berada di tengah-tengah langit, dan kau bisa melihat permukaannya dari jauh. Itu memang malam yang indah, dan tidak ada dari mereka berempat yang ingin menyia-nyiakannya.

Tiffany sibuk memandangi langit, ketika dia merasakan sentuhan lembut di bahunya. Dia berbalik.

“Siwon-ssi!”

Siwon tersenyum. Hatinya berbunga-bunga ketika dia melihat wajah Tiffany. Dia kira Tiffany takkan datang. “Jadi, ini teman-temanmu?” Dia mengangguk ke arah ketiga orang lainnya.

Tiffany tersenyum. “Ya, itu mereka. Ini Yoona, Seohyun, dan Sunny.” Dia menunjuk ketiga gadis itu.

“Senang bertemu dengan kalian semua.” Siwon membungkuk sopan, dan ketiga gadis itu membungkuk juga.

Tiffany berputar ke Siwon lagi. “Bagaimana dengan teman-temanmu yang kita bicarakan?”

Sunny menahan diri agar tidak memutar bola matanya.

“Mereka akan datang ke sini sebentar lagi,” jawab Siwon. “Mereka menggunakan waktu mereka dengan sangat serius untuk bersiap-siap—ah, ini mereka!”

Senyum merayap ke wajah Siwon, dan keempat gadis berbalik, menghadap sebuah bar yang berada di dekat lift. Tapi pemandangan itu mengejutkan ketiga gadis lain lebih dari yang diduga Siwon dan Tiffany.

“Kau?!” Yoona, Seohyun, dan Sunny berkata bersama-sama, kaget.

Donghae, Kyuhyun, dan Sungmin hanya berdiri di situ, membeku.

***

“Aku berani bertaruh Siwon hyung akan menjodohkan kita dengan cewek-cewek seksi,” kata Kyuhyun riang.

“Hei, jaga pikiranmu,” Donghae terkekeh.

“Apa gunanya? Dia sudah begitu sejak awal,” timpal Sungmin.

Ketiga pria itu berjalan menuju lift pantai. Lift-nya berada di bawah, jadi mereka harus menunggunya naik.

Kyuhyun melihat sekeliling. “Mana Siwon hyung?”

“Dia sudah di bawah sana,” jawab Donghae. “Mungkin dengan cewek-ceweknya.”

Lift datang dan mereka masuk. Ketika lift berhenti, mereka berjalan keluar, menikmati angin sepoi-sepoi yang dingin. Mereka sibuk berbicara dan memukul satu sama lain dengan kekanak-kanakan ketika mereka akhirnya menginjak pasir.

“Akhirnya,” bisik Sungmin, mendongak. Tapi matanya terpaku pada tiga gadis—salah satunya familiar.

“Kau?!” Ketiga gadis itu berteriak.

Sungmin memandang Donghae dan Kyuhyun, yang juga membeku sepertinya.

“Kalian kenal satu sama lain?” tanya Siwon, kaget.

Yoona terperangah. “Dia yang kutemui,” bisiknya, matanya tertuju pada Donghae.

Tiffany mendesah. “Yah, itu bagus. Ini berarti kalian semua sudah saling mengenal, dan tidak ada tujuan untuk menjodohkan. Kalian masing-masing kelihatan bagus bersama-sama.” Dia menggerakkan tangannya di udara, di antara keenam orang itu.

“Aku—aku—” Donghae tergagap.

“Ini sangat keren,” gumam Kyuhyun, dan semua orang menatapnya. “Apa. Kebetulan ini. Ini keren.”

Siwon berdeham. “Tapi aku yakin kita berdelapan tidak tahu satu sama lain.”

Masing-masing mengenalkan diri mereka sendiri, tapi di akhirnya, mereka semua tertawa karena pipi Seohyun mendadak memerah.

“Yah, kenapa pipimu?” Sunny terkikik, memeluk Seohyun dengan lengan kirinya.

“Aku tidak tahu,” balasnya, menekan pipinya dengan kedua tangan. “Mungkin karena…” Dia mendongak menatap Kyuhyun sebelum menunduk lagi.

Tiffany tersenyum. Dia belum pernah sebahagia ini untuk teman-temannya—terutama karena dia tidak punya begitu banyak teman. “Oh, aku dan Siwon akan melihat penampilan tari itu,” ujarnya cepat-cepat, menarik Siwon ke tengah-tengah pantai. “Sampai jumpa!”

***

Musik terdengar semakin keras, tapi Tiffany tidak keberatan. Para penari bergerak sesuai irama, menarikan tari bernama tari Pendet. Dia belum pernah melihat orang-orang menari sebegitu anggunnya. Dia mulai berpikir bahwa datang ke Bali bukan ide yang buruk.

“Mereka bagus.” Siwon mengangguk, terhibur.

“Bagus?” Tiffany terkekeh. “Mereka luar biasa!”

Siwon tertawa. Dia melanjutkan menonton penampilan tari, dan menyadari bahwa Tiffany mulai bertepuk tangan sesuai irama, seperti yang lain. Tiffany tersenyum lebar—dan dia kelihatan cantik. Jantung Siwon mendadak berdegup kencang, seperti jatuh ke perutnya.

“Bagus untuk tahu kebudayaan seperti ini,” kata Tiffany keras supaya Siwon bisa mendengarnya. “Aku belum pernah melihat tarian seperti ini.”

Siwon membutuhkan waktu lama untuk merespon. “Oh? Um, yeah.”

Ketika tarian itu selesai, musiknya berubah menjadi semacam musik remix rap dan R&B. Penari breakdance mulai muncul, dan menampilkan formasi tarian luar biasa, dengan bermacam-macam popping, locking, dan handstand.

“Woah!” Siwon terkesiap ketika salah satu penari melakukan moonwalk di atas pasir. “Aku mendukung dia.”

Tiffany terkekeh lagi. “Tidak ada lomba. Kenapa kau mendukung cowok itu?”

“Aku tidak tahu, dia bisa moonwalk,” kata Siwon, tertawa.

Tiffany tersenyum ketika dia melihat wajah Siwon. Dia sangat tampan, sangat… menakjubkan. Tiffany merasa bahagia ketika dia melihat Siwon lagi. Gelombang rasa senang menghampirinya, seperti sekarang. Dia tidak tahu kenapa, tapi melihat Siwon membuatnya bahagia.

Lalu, para penari mulai berjalan mendekati para penonton. Mereka menari sangat dekat, tepat di depan mereka. Tiffany jelas-jelas tidak mau melewatkan ini. Tanpa berpikir, dia meraih tangan Siwon, dan menyeretnya ke barisan depan kerumunan.

Siwon tersentak ketika dia merasakan kulit Tiffany yang hangat di atas kulitnya. Tiffany menggenggam tangannya, seraya dia tidak ingin melepasnya. Dan Siwon sangat senang soal itu. Dia tidak pernah punya perasaan terhadap orang lain—atau setidaknya sesuatu yang spesial—tapi ada sesuatu tentang Tiffany Hwang yang menariknya lebih jauh, untuk mengenalnya lebih jauh, untuk berada di situ bersamanya.

Dan Tiffany tidak melepas tangannya sepanjang malam.

***

Karena pantai itu luas, ada banyak pertunjukan diadakan sekaligus. Setelah Siwon dan Tiffany pergi untuk melihat para penari, Donghae menggandeng tangan Yoona menuju kerumunan orang yang menari.

“Apa yang kita lakukan?” tanya Yoona penasaran.

Donghae hanya tersenyum dan berbalik, menghadap Yoona. Yang disebut terakhir tersentak karena berhenti tiba-tiba. Dia hampir saja memeluk Donghae. Yoona cepat-cepat berjalan mundur, tapi Donghae keburu memeluk pinggangnya.

Sentuhannya membuat Yoona merinding. Bahunya menggigil karena sentuhan hangatnya. Donghae hanya tertawa dan mengaitkan jemarinya dengan jemari Yoona.

“Apa yang kita lakukan?” ulang Yoona, kali ini suaranya lebih kecil.

Donghae menjawab, “Menari.”

Mata Yoona melebar.

Ide menari membuatnya terkejut. Dia tidak takut untuk memalukan dirinya—dia adalah seorang instruktur tari, bagaimana bisa?—tapi menari dengan Donghae, itu berbeda. Meski di pertemuan pertama mereka, mereka hanya pergi ke rumah sakit dan makan dan lainnya, tapi sekarang? Yoona akan menari dengan orang asing yang membuatnya merinding!

Mereka mulai berputar pelan, dan Donghae memutar Yoona dua kali. Itu adalah tarian waltz, dan Yoona baik-baik saja dengan itu. Dia menerima fakta bahwa dia perlu menyentuh Donghae di tarian macam ini, tak peduli seberapa cepat jantungnya berdegup saat itu.

“Aku tidak akan pernah terbiasa dengan orang asing,” gumam Yoona.

“Aku orang asing?” tanya Donghae sebelum terkekeh. “Lalu, kenapa kita tidak menjadi orang asing?”

Dia memutar Yoona lagi, sebelum memeluknya.

Yoona mengangkat bahu. “Kurasa itu boleh saja. Kenapa kau di sini?”

“Liburan,” jawab Donghae riang. “Manajerku sangat cerewet soal album baruku.”

Yoona mengangkat alisnya. “Album?”

Donghae mengangguk. “Aku telah dilatih sebagai seorang pianis. Aku akan merilis album debut sebentar lagi.”

Yoona tersenyum. Dia tidak pernah tahu cara bermain piano, tapi dia selalu menikmati ketika seseorang memainkannya. “Aku akan membelinya.”

Donghae terkekeh. “Masih lama,” dia mengingatkan. “Aku belum selesai rekaman.”

“Harus, di sini,” ujar Yoona, kali ini memberanikan dirinya untuk memeluk leher Donghae dengan lengannya. “Atau aku harus mendengarmu bermain piano mungkin.”

“Aku tidak sebagus itu.”

Yoona cemberut, dan Donghae hanya tertawa dan menyentuh bibirnya. “Aku berani bertaruh kau bagus,” ujar Yoona, berani.

Donghae tersenyum. Yoona kelihatan menggemaskan ketika dia cemberut dan berakting keras kepala seperti itu.

Irama mulai bergerak lebih cepat, dan akhirnya berubah menjadi tarian salsa. Semua orang tertawa dan menari cepat, dan Yoona adalah salah satu dari mereka. Dia mulai menari lebih cepat, dan Donghae terkejut bahwa Yoona menari dengan bagus.

“Donghae-ssi! Berputar!” pekik Yona ketika mereka tiba-tiba berpegangan tangan.

Donghae melakukan seperti apa yang disuruhkan, dan Yoona juga ikut berputar. Mereka mulai berdansa dengan aneh, membawa tawa ke keduanya. Donghae sadar bahwa dia sangat bahagia ketika dia melihat Yoona tersenyum dan tertawa. Dia tidak tahu kenapa—dia hanya merasa bahagia.

***

“Satu… Dua… Tiga…”

“Kita selesai di dua puluh! Kenapa kau mulai dari awal?”

“Oh, yeah, benar. Dua puluh satu… Dua puluh dua… Aku lupa.”

Seohyun tertawa. Dia mengangkat lengannya tinggi di udara, menunjuk satu bintang di langit, dan mulai menghitung. “Satu, dua, tiga… Itu bintang atau kembang api?” Dia menunjuk ke cahaya perak yang terang.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Bilang saja itu bintang. Jadi itu empat…”

Kyuhyun dan Seohyun melanjutkan menghitung bintang-bintang. Mereka duduk jauh dari kerumunan orang, di atas batu karang dekat laut. Keduanya tidak suka tempat yang ramai, dan menghitung bintang—meski itu mungkin kedengaran payah—bisa menjadi hal yang bagus untuk menghabiskan waktu bersama.

“… Lima belas.” Seohyun selesai menghitung di satu sisi langit.

Dia tidak sadar bahwa lengannya menggigil. Dia menurunkan lengannya dan memeluk kedua kakinya. Mata Kyuhyun terpaku di langit, menghitung dalam diam.

“Kurasa ada dua puluh—hei, lihat!”

Seohyun mengedipkan matanya dan melihat apa yang dibicarakan Kyuhyun. Bintang jatuh. Seohyun melihatnya dengan takjub, setelah akhirnya bintang jatuh itu lenyap. Dia kembali ke dunia nyata, dan dia menoleh ke kanannya, melihat Kyuhyun menutup matanya sambil tersenyum.

“Apa kau memohon sesuatu?” tanya Seohyun senang.

Kyuhyun membuka matanya dan tersenyum. “Ya.”

“Apa yang kau minta?”

“Aku tidak bisa memberitahumu. Nanti tidak terwujud.”

Seohyun cemberut. Dia benci orang yang menyimpan rahasia darinya. “Kumohon? Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa.”

Kyuhyun terkekeh dan menggelengkan kepalanya. “Tidak.”

Seohyun mendesah, menyerah. Dia mendongak melihat langit, sementara Kyuhyun melihat Seohyun. Dia terlihat seperti seorang putri dari negeri dongeng. Ah, apa yang dipikirkannya?

“Kau kedinginan,” kata Kyuhyun.

Seohyun memandangnya. Wajahnya menunjukkan kebingungan. “Apa maksudmu?”

Kyuhyun menunjuk ke arah bahu Seohyun. “Kau kedinginan. Ini.” Dia melepas jaketnya dan mengenakannya pada Seohyun. Jaket itu terlalu besar untuknya, tapi Kyuhyun mengenakannya mengitari lengan dan bahu Seohyun untuk membuatnya hangat. “Nah. Hangat?”

Seohyun tersenyum lebar. “Ya. Terima kasih, Kyuhyun-ssi.”

“Bukan masalah,” katanya, lengkungan senyum di wajahnya. Dia tidak tahu apa yang dilakukannya, tapi dia merangkak lebih dekat ke Seohyun dan merangkul tubuhnya dengan lengannya. “Bagaimana dengan sekarang?”

Pipi Seohyun mendadak memerah. Dia menggigit bibirnya. “Terlalu hangat.”

Kyuhyun tertawa dan membuat Seohyun menaruh kepalanya di bahu Kyuhyun. “Aku tidak keberatan, tuh.”

“Kenapa kau sangat baik padaku?”

“Mungkin karena aku seorang gentleman?”

Seohyun tertawa. “Tidak, kau tidak terlihat seperti itu.”

“Mungkin karena…,” Kyuhyun berhenti selama beberapa saat. “Aku tidak tahu. Kau hanya membuat hatiku berbunga-bunga, Seohyun-ssi.”

***

“Lihat sebelah sana.”

“Ketemu!”

Sunny melompat girang. Di tangannya ada kerang berwarna pink terang. Kerang itu bergaris-garis putih, dan terlihat indah. Sunny terkikik dan memberikannya kepada Sungmin, yang sedang mencari kerang di sisi lain pantai. “Untukmu. Katamu kau suka warna pink.”

Sungmin menatap kerang itu dan tersenyum lebar. “Terima kasih,” katanya tulus, menerima kerang itu. “Kelihatannya indah. Kita harus datang ke sini lebih sering.”

Sunny mengerucutkan bibirnya. “ ‘Kita’?”

Sungmin tersentak. Pipinya mulai terasa panas. “Eh, um—aku—maksudku—”

Tapi Sunny hanya terkikik dan menepuk bahu Sungmin, membuat yang disebut terakhir merinding. “Tidak apa-apa. Aku hanya bercanda. Ayo kita cari lebih banyak kerang!” Dia berbalik dan mulai berlari kekanak-kanakan.

Sungmin menenangkan dirinya dan mengikuti Sunny, yang mencari-cari kerang di dekat batu karang. Keduanya tidak tertarik untuk menikmati pesta—justru, mereka mencari kerang. Pada awalnya, Sungmin ingin melihat atraksi api dan mengikuti permainan, tapi itu tidak lagi berada di pikirannya.

Sunny adalah satu-satunya yang berada di pikirannya.

“Sungmin-ssi, lihat!” Sunny menunjuk ke arah gumpalan keras dan mengangkatnya. Sebuah kerang putih. Kerang itu tidak sama persis dengan kerang pink Sungmin, tapi ukurannya sama.

Sungmin tersenyum lebar. “Untukmu, kalau begitu. Kutebak kau suka warna putih.”

Sunny mengangkat bahu. “Aku suka semua warna.” Dia tiba-tiba tersenyum malu-malu ketika melakukan kontak mata dengan Sungmin.

Sungmin tertawa. “Kau sangat kekanakan, kau tahu itu?” Dia mengangkat tangannya untuk mengacak-acak rambut Sunny yang berwarna coklat gelap.

Sunny cemberut, menunjukkan aegyo-nya, dan merapikan rambutnya dengan tangannya yang bebas. “Aku tahu itu. Aku sering mendapatkannya. Kurasa aku lahir dengan wajah ini.”

“Wajah yang cantik,” puji Sungmin. “Dan kau cantik. Sangat cantik.”

Sunny berhenti merapikan rambutnya, dan buru-buru menyentuh pipinya yang memerah dengan tangannya. “Hentikan. Kau membuatku malu.”

Sungmin hanya tersenyum dan bermain dengan kerang di tangannya. “Tapi itu benar.”

Sunny memaksakan senyum tulus. “Terima kasih,” katanya, sepelan bisikan.

Sungmin tertawa dan memegang tangan Sunny dengan tangan kirinya. Mereka berjalan menuju kerumunan orang, meninggalkan sisi pantai yang kosong. Sunny awalnya merasa gelisah, tapi kehangatan tangan Sungmin berhasil menenangkan hatinya.

“Apa kau masih menyimpan Lee?” Sungmin tiba-tiba bertanya.

Sunny mengangguk dan malu-malu mulai mengayunkan kedua tangan mereka, maju-mundur. “Ya. Kurasa aku akan membawanya pulang.” Dia menatap Sungmin. “Atau kau mau membawanya pulang bersamamu?”

Sungmin menggelengkan kepalanya. “Tidak, kau pantas mendapatkannya.”

“Kau kedengaran seperti pria tua menyeramkan.”

Sungmin tertawa. “Benarkah?”

“Ya. Tapi kau tidak menyeramkan, kok. Kau…” Sunny berusaha untuk menemukan sebuah kata. “… Menggemaskan?”

Sungmin tersenyum dan menatap Sunny. Matanya yang coklat gelap berbinar bahagia. Dan Sungmin berharap bahwa dia bisa menjadi alasan Sunny bahagia selamanya.

***

Sudah pukul sembilan malam, tapi pestanya belum selesai. Tapi mereka semua sudah ingin pergi tidur.

“Kurasa kita semua harus menghabiskan liburan ini bersama-sama,” usul Kyuhyun ketika mereka berdelapan menunggu lift. “Pasti akan sangat keren!”

Yoona menggelengkan kepalanya. “Maksudmu seperti menyewa bus mini dan pergi keliling kota?”

Kyuhyun cemberut.

“Lift-nya datang,” kata Seohyun, berdiri dan memasuki lift, diikuti oleh gadis-gadis yang lain. Karena lift itu kecil dan tidak bisa membawa terlalu banyak orang, para gadis menggunakannya terlebih dulu. “Kyuhyun-ssi, sampai jumpa… secepatnya.”

“Jaga diri,” ujar Siwon sambil melambaikan tangan.

Lift itu mulai naik, dan keempatnya tersenyum.

Mendadak, semuanya berubah menjadi indah.

***

 

 

 

15 thoughts on “Three Little Words (Chapter 2)

  1. keren thor,, ceritanya bgs 4 pasangan itu pnya kisahnya sendiri2 tp aku plg suka Yoonhae^^
    Next thor jgn lama2 yah, kamsa🙂

  2. aku suka first meeting seokyu,sunsun,yoonhae!
    disini aku suka yoonhae moment-nya!!
    tapi aku paling suka sifat fany,kayaknya keren tuh! kalo cowok cassanova kali ya?
    next

  3. kyaa… sweet bgt si Seo eonni ngitung2 bintang ma Kyuppa, emang bintang bisa di itung eon? *plakk
    Yoong eonni ma Haeppa ga sekalian break dance tu, atau dance mr.simple gt, kkk~

    Sunsun couple = aegyo couple, pasti bikin gemes deh liatnya. SiFany perfect couple, but its ok koq
    di lanjut ya thor, moga pas selesei liburan mereka masing2 udah punya status, *ngarep

  4. seru,lucu…jd pngen ikut…
    meriah bnget pstiny..
    kren deh..YoonHae daebak
    seokyu lucu ><
    sifany hehe rmntis..
    sunsun..kocak hehe

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s