Three Little Words (Chapter 3)

Three Little Words

Title: Three Little Words (Chapter 3)

Author: tatabrigita

Main Characters: Siwon, Tiffany, Donghae, Yoona, Kyuhyun, Seohyun, Sungmin, Sunny

Main Songs: BoA – Only One, Girls’ Generation – Not Alone

Started: 060313

Genre: Romance, angst

Rating: General

Author’s Note: Author juga bikin versi bahasa Inggris-nya, bisa dilihat di sini.

***

Kamis, 14 Juli, 2011

8.54 KST

Taman kota, Denpasar, Bali, Indonesia

***

“Hei, tunggu!”

Seohyun berhenti mengayuh. Dia menoleh ke belakang dan melihat Kyuhyun mengendarai sepedanya, terengah-engah. Dia hanya terkikik dan menunggu Kyuhyun berada di sampingnya.

“Aku tidak percaya kau sangat cepat,” gumam Kyuhyun ketika dia sampai di sisi Seohyun.

“Aku bersepeda setiap hari. Itu membuatku sehat,” kata Seohyun.

Kyuhyun menatapnya, tidak percaya. “Makan sehat dan berolahraga. Itu mustahil.”

Seohyun tertawa lagi. Dia menaruh kaki kirinya di salah satu pedal dan tangannya di stang sepeda. “Ayo, kita memutari taman sekali lagi baru istirahat.”

Kyuhyun mengerang, tapi dia mengikuti Seohyun, mengikuti jalan setapak. Kyuhyun jarang berolahraga, terutama bersepeda. Itu menjadi semacam hal baru baginya, dan memalukan bahwa Kyuhyun lupa dasar-dasar mengendarai sepeda beberapa jam sebelumnya, tepat di depan Seohyun.

Ketika Kyuhyun terlalu lelah untuk bersepeda cepat-cepat, Seohyun justru menikmati saat itu. Dia suka bagaimana angin meniup rambutnya dan mengenai wajahnya. Sudah seharusnya dia berolahraga, dan dia sangat bahagia ketika Kyuhyun memutuskan untuk ikut bersepeda dengannya.

Mereka sudah memutari taman, dan Seohyun berhenti. Dia turun dan memarkir sepedanya di depan sebuah bangku kayu, dan duduk di atasnya. Kyuhyun meniru tindakannya dan duduk di samping Seohyun. Dia menarik napas dalam-dalam, tersenyum.

“Akhirnya. Ini surga.”

Seohyun tertawa. “Kau harus terbiasa berolahraga di pagi hari, Kyuhyun-ssi.”

“Aku masih mengantuk dan capek. Itu bukan pertanda yang bagus,” Kyuhyun bercanda sebelum ikut tertawa.

Seohyun mengangkat bahu. “Kau juga harus bangun pagi.”

“Aku selalu bangun pagi… kalau ada alarm.” Kyuhyun tersenyum.

“Maksudku bangun sendiri. Tanpa alarm.”

“Itu terlalu susah.”

“Kau seorang dokter. Kataku bangun pagi itu gampang sekali.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya hanya untuk menghentikan Seohyun berbicara seperti ibunya. Dia berdiri dan menatap Seohyun. “Kenapa kita tidak sarapan saja?”

Seohyun berpikir sebentar, sebelum berdiri. “Oke.”

Mereka bersepeda ke kafe terdekat dan memarkirnya di parkiran khusus sepeda. Itu adalah kafe sederhana, tapi membuat mereka merasa nyaman. Kafe itu dipenuhi perabotan kayu dan tanaman segar di luar jendela.

Mereka duduk di sebuah meja, berhadapan, dengan pesanan mereka di atas meja. Kyuhyun makan dengan bersemangat, sementara Seohyun hanya menggigit rotinya sedikit demi sedikit.

“Hati-hati, Kyuhyun-ssi, kau bisa membuat tenggorokanmu sakit,” Seohyun memperingatkan dengan lembut.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Aku baik-baik saja.”

Seohyun kelihatan khawatir, tapi Kyuhyun hanya terkekeh. “Seohyun, ini hanya makanan. Tidak akan membunuhku—yah, kecuali kalau diracuni.”

Seohyun menganggukkan kepalanya. Dia sering menghabiskan banyak waktu dengan Kyuhyun belakangan, daripada dengan teman-temannya. Dia meragukannya setiap menit. Di satu sisi, dia ingin bersama Kyuhyun sampai liburannya habis… Tapi di sisi lain, dia tidak bisa berhenti berpikir tentang orang yang mengganggu pikirannya.

“Hei, kau baik-baik saja?”

Seohyun sadar dari acara berpikirnya, melihat Kyuhyun melambaikan tangannya di depannya. Seohyun memaksakan seulas senyum. “Ya.”

Kyuhyun menghela napas. “Sekarang aku mengkhawatirkanmu. Makan yang banyak.” Dia mengangguk ke arah piring Seohyun.

Seohyun tidak punya selera makan dari awal. “Aku selesai.”

“Ayolah, roti juga sehat!” erang Kyuhyun.

Seohyun terkikik. “Sungguh. Apa kau sudah selesai?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, tapi dia tidak makan lagi. Malah, dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Benda itu bersinar di bawah cahaya lampu, menarik perhatian Seohyun.

“Ooh, apa itu?” tanyanya, menunjuk ke arah objek itu.

Kyuhyun tersenyum, tapi kali ini malu-malu. “Um, ini untukmu, sebenarnya.” Dia meraih tangan Seohyun, membukanya, dan menaruh  benda itu di tangannya.

Seohyun merasakan dingin di kulitnya. Sebuah kalung perak. Di bandulnya terdapat mutiara, yang berbentuk hati.

“Aku tahu ini terlalu biasa untuk laki-laki memberikan perempuan kalung dan perhiasan lain,” kata Kyuhyun, rasa panas mulai merayap ke pipinya. “Tapi aku tidak bisa menemukan apapun yang akan kelihatan lebih bagus denganmu daripada kalung itu.”

Seohyun tersenyum tulus. Dia memegang kalung itu dan memandangnya lebih dekat. “Aku menyukainya.” Dia mendongak ke arah Kyuhyun, mata mereka saling menatap. “Terima kasih.”

Kyuhyun menghela napas lega dan mengangguk. “Aku senang kau suka.”

Seohyun tidak berhenti tersenyum, dan dia baru saja akan memakai kalung itu, hingga Kyuhyun menghentikannya.

“Apa?” tanya Seohyun.

Kyuhyun mendadak berdiri dan berjalan ke belakangnya. “Biarkan aku memakaikannya untukmu.” Dia mengambil kalung itu dari genggaman Seohyun dan menyingkirkan rambut coklatnya dari punggungnya dengan hati-hati. Ketika kulit mereka bersentuhan, Seohyun merinding dan menggigit bibirnya. Kalung itu terasa dingin, meski jemari Kyuhyun terasa hangat ketika dia membelai bahunya.

“Nah.” Kyuhyun menyingkir ke kursinya dan tersenyum. “Kau kelihatan cantik. Seperti biasa.”

Pipi Seohyun memerah. “Terima kasih. Kau tidak perlu sebaik ini.”

Kyuhyun terkekeh. “Ini pertama kalinya aku memberikan sesuatu untuk cewek.”

Seohyun mengangguk, tidak berani menjawab. Jantungnya berdegup terlalu kencang. Dia melanjutkan memakan makanannya. Kyuhyun mengangkat alisnya dan mencondongkan tubuhnya. “Ada apa?”

Seohyun mendongak. Dia tiba-tiba merasa lemah di depan Kyuhyun. Matanya yang telah membuat hatinya serasa meleleh… “Aku hanya… Aku hanya senang aku bisa bertemu denganmu, Kyuhyun-ssi,” bisik Seohyun.

Kyuhyun tersenyum tulus. “Aku juga. Sungguh. Oh, dan aku lebih tua dua tahun darimu. Kau harus memanggilku ‘oppa’.”

“Baiklah, oppa.”

Kyuhyun bertepuk tangan senang. “Kau sangat lucu!”

Seohyun memutar bola matanya.

Ketika mereka selesai sarapan, Kyuhyun membayarnya setelah berdebat dengan Seohyun. Mereka berdua pergi keluar kafe, dan Kyuhyun memeluknya dengan lengan kanannya, sementara dia menaruh tangannya yang bebas di sakunya. Seohyun berusaha untuk tidak membuat pipinya panas, tapi sudah terlanjur.

“Bagaimana kalau kita kembali?” ujar Seohyun tiba-tiba.

Kyuhyun menatapnya, berhenti berjalan. “Kau tidak mau menikmati hari ini?”

“Aku ingin, setelah aku membawa sepedaku kembali ke resor.” Seohyun hati-hatimelepas pelukan Kyuhyun. Dia tiba-tiba merasa kosong, tapi Seohyun mengabaikannya.

Kyuhyun mengangkat bahu dan mengambil sepedanya juga. “Sayang sekali liburan kita akan berakhir,” katanya.

Seohyun memandangnya, tersenyum. “Kita harus menghabiskan sisa waktu ini bersama, oppa.”

Kyuhyun tersenyum. Menghabiskan sisa waktu ini bersama. Dia suka itu. Dia suka bahwa Seohyun mengatakannya.

“Kejar aku, oppa!”

Kyuhyun mengerang. “Oh, jangan ini lagi!”

***

Kamis, 14 Juli, 2011

10.23 KST

Taman Hiburan, Denpasar, Bali, Indonesia

***

“Tadi hebat sekali! Ayo, kita lakukan sekali lagi!”

Siwon mengerang. Dia menatap Tiffany, tidak percaya. “Menurutmu aku ingin menaiki roller coaster lagi?”

Tiffany cemberut. “Ayo!” dia memohon. “Aku benar-benar ingin naik sekali lagi!”

Siwon menggeleng dan menyeret Tiffany dari pintu masuk wahana roller coaster. “Tidak. Kali ini, kita pergi ke istana boneka.”

“Tapi—kita bisa pergi ke sana nanti!” Tiffany berusaha untuk melepaskant angannya, tapi Siwon terlalu kuat untuknya.

Sementara Tiffany terus mengeluh tentang menaiki roller coaster lagi, mereka berdua melihat istana biru raksasa di depan mereka. Ramai, seperti wahana yang lain, tapi Siwon tetap membeli tiket dan menunggu di antrean orang yang akan pergi masuk ke istana.

“Aku tidak percaya kita akan pergi ke tempat untuk anak kecil,” gumam Tiffany sedih.

Siwon terkekeh. “Kita sudah menaiki banyak wahana, tapi kita belum naik yang ini.” Dia tersenyum ke arah Tiffany, dan reaksinya hanya mengedipkan matanya beberapa kali.

Setelah menghabiskan beberapa jam di taman hiburan (kebanyakan menggenggam tangan satu sama lain), keduanya memutuskan untuk makan siang bersama. Mereka tidak mengatakan apapun, berjalan menuju restoran, masih saling berpegangan tangan.

“Kau ingin makan apa?” tanya Siwon ketika mereka duduk di kursi masing-masing di restoran.

Tiffany membaca menu itu dengan teliti. “Aku akan memesan steak.”

“Aku juga.” Siwon menarik menu Tiffany dan memberikannya kepada pelayan. Pelayan itu pergi, dan Siwon memfokuskan perhatiannya kepada Tiffany. Dia suka sekali melihat Tiffany duduk diam seperti itu. Cantik, seperti biasa.

“Tiffany,” panggilnya.

Tiffany menatapnya. “Ya?”

Sedikit ragu, Siwon mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Perak dan menyilaukan, menarik perhatiannya. Tiffany mencondongkan diri ke depan untuk melihat apa yang ada di tangan Siwon.

“Gelang?” Tiffany berbicara.

Siwon menganggukkan kepalanya. “Menurutku ini sedikit klise, tapi aku masih ingin memberikan ini padamu.” Dia menaruh benda perak itu di tangan Tiffany.

Tiffany hanya menatapnya. Gelang itu terbuat dari rantai perak, saling berhubungan. Tidak ada yang spesial—hanya gelang biasa. Tapi Tiffany merasa tersanjung telah memiliki benda itu.

“Terima kasih,” katanya, mendongak. Ketika mata mereka bertemu, dia merasakan gelombang kebahagiaan yang aneh menelannya.

Siwon tersenyum lebar. “Itu tidak mewah atau semacamnya, tapi menurutku kau akan menyukainya. Yang sederhana.”

Tiffany terkikik. “Ya. Aku akan menyimpannya. Ini sangat cantik.”

Siwon tersenyum. “Sepertimu.”

Tiffany terkikik lagi. “Kau harus berhenti dengan godaan-godaan itu.”

“Aku tidak menggoda, itu kenyataan!” Siwon membela diri sendiri.

Tiffany tertawa. Dia memasang gelang itu di pergelangan tangan kirinya, memeriksanya di bawah cahaya lampu. “Pas.”

Siwon tersenyum. “Aku tahu pasti pas.”

“Apa harganya mahal?”

“Tidak, lumayan murah sebetulnya, tapi kualitasnya bagus.”

Tiffany mengangguk dan mendongak begitu pesanan mereka tiba. “Apa kau selalu seperti ini?”

Siwon mengangkat alisnya. “Seperti apa?”

Tiffany menarik piringnya lebih dekat dan mulai makan. Dia tidak pernah memakan sesuatu yang lebih enak daripada ini. “Bersikap baik kepada cewek,” katanya setelah berpikir. “Kau tahu, membawa mereka ke berbagai tempat. Membelikan mereka hadiah.”

Dia menduga Siwon akan marah—dia menduga Siwon akan berpikir Tiffany menganggapnya seorang playboy. Bagaimanapun juga, Tiffany berpikir kata-katanya sedikit kurang nyaman. Dia tidak bermaksud meragukan perasaan Siwon padanya—atau perasaannya kepada Siwon—tapi itu hanya rasa ingin tahu belaka.

Tapi Siwon hanya tertawa. “Kenapa kau bertanya?”

“Hanya ingin tahu.”

Siwon tersenyum. Menurutnya pertanyaan Tiffany agak… konyol. Apa dia cemburu? Yah, Siwon tidak bisa menyalahkannya. Semua orang berpikir bahwa Choi Siwon yang kaya dan tampan telah berkencan dengan banyak wanita.

“Tidak. Kau yang pertama.”

Tiffany terbelalak. “Maksudmu kau selalu bersikap dingin ke cewek-cewekmu?”

“Cewek-cewekku?” Siwon terkekeh. “Aku belum pernah berpacaran. Aku selalu fokus ke pekerjaanku. Menurutku pacaran hanya… mengganggu.”

Hal itu cukup mengejutkan. Tapi Tiffany memahaminya. Seperti di film-film—si pria ideal, pria yang diidolakan semua wanita, tidak tertarik dengan cinta. Si pria ideal terlalu sibuk membenamkan diri dengan kewajibannya.

Tiffany sadar bahwa dia dan Siwon punya banyak kemiripan. Mereka berdua hampir mengucilkan teman-teman dan keluarga mereka, mereka sering dibilang terobsesi dengan pekerjaan mereka, dan mereka tidak pernah tertarik dengan cinta—sampai sekarang.

“Apa yang kaupikirkan, Tiffany?” Kata-kata Siwon menyadarkannya.

Tiffany cepat-cepat menggelengkan kepala. “Tidak ada. Hanya saja… menurutku kita punya banyak kesamaan.”

Siwon tersenyum senang. “Benar. Mungkin karena itu kita sangat dekat.”

Dekat? Mungkin. Mereka memang menghabiskan hari-hari liburan mereka bersama, dan Tiffany selalu merasa nyaman bersama Siwon—kehadirannya, senyumnya, kepribadiannya. Selalu bahagia baginya untuk berada di sekitar Siwon, dan mungkin Tiffany mengenal Siwon lebih daripada yang dia ketahui.

Siwon menarik napas, dan Tiffany menatapnya.

“Untuk sekarang, menurutku ini adalah waktu yang tepat untuk jatuh cinta.”

***

Kamis, 14 Juli, 2011

10.52 A.M.

Toko Buku Gramedia, Denpasar, Bali, Indonesia

***

Suara buku-buku ditaruh di atas rak, halaman dibolak-balik, orang-orang berbicara, terdengar. Yoona tidak peduli dengan apapun dan tetap melanjutkan pencariannya. Dia berjalan melewati rak demi rak, tapi masih belum ditemukan.

“Beruntung?” Donghae tiba-tiba berdiri di depannya.

Yoona mendongak. Setelah beberapa detik, dia mendesah. “Tidak. Tidak beruntung sama sekali.”

Donghae tersenyum sementara dia menunjukkan Yoona sesuatu dari belakang punggungnya. “Yah, aku beruntung.”

An Autumn Symphony!” Yoona terperangah. Dia meraih buku itu dan menatapnya, tidak percaya. Dia memandang Donghae. “Kau menemukannya!”

Donghae mengangkat bahu. “Gampang, sungguh. Aku hanya bertanya kepada salah satu staf.”

Yoona merasa pipinya mulai memerah.

Donghae terkekeh. Melihat Yoona seperti itu hanya membuatnya bahagia. “Ayo,” katanya, menggenggam tangan Yoona. “Kita keluar dari sini. Yah, setelah kau membayarnya.”

Yoona menunggu di antrean di konter, dan mengalami sedikit kesulitan saat membayar karena perbedaan bahasa. Ketika dia selesai, dia berjalan keluar toko, di mana Donghae menunggunya.

“Terima kasih banyak,” ujar Yoona ketika mereka berjalan bersampingan di trotoar. “Aku pernah bertanya ke salah satu staf di sana dan katanya stoknya habis.”

Donghae menganggukkan kepalanya. “Mungkin mereka menambahnya.” Dia menarik napas. “Kalau begitu, ayo kita beli sesuatu.”

“Beli apa?”

“Es krim.”

Yoona tertawa, tapi dia setuju. Dia merasa lebih ringan dengan setiap langkah yang diambilnya. Dunia kelihatan indah, jauh lebih indah. Dan ketika dia menjatuhkan pandangannya ke Donghae… Yah, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaannya.

Mereka berjalan di trotoar. Donghae tidak mengatakan apa-apa, begitu juga Yoona. Tapi itu bukan keheningan yang canggung. Itu adalah keheningan yang saling memahami.

Meski tidak ada kata-kata, Donghae bisa memahami semuanya. Dia merasa damai. Dia tahu bahwa segalanya akan baik-baik saja asal Yoona berada di sisinya. Yoona semacam oksigennya—Donghae tidak bisa bertahan bila bukan karena dia.

Donghae tidak pernah merasakan dia benar-benar membutuhkan sesuatu. Sekarang dia begitu. Dia benar-benar membutuhkan Yoona. Dia bertanya-tanya apabila dia tidak pernah bertemu Yoona. Mungkin dia akan tetap menjadi Donghae yang sama dengan yang dulu. Yah, sekarang dia Donghae yang berbeda.

Sekarang, dia adalah Donghae yang lebih periang daripada Donghae saat dia pertama kali datang ke Indonesia. Hari itu, segalanya terasa begitu muram, begitu gelap karena masalah-masalahnya. Masalah yang tidak bisa dipecahkannya hingga sekarang. Dia berpikir bahwa dengan datang ke sini, setidaknya dia akan terbebas dari masalah-masalah itu untuk sementara. Dan memang itu benar terjadi.

Tapi bahkan dalam kebebasannya, dia masih membutuhkan Yoona.

Mereka sampai di taman kota. Hari itu cerah, jadi taman itu ramai. Donghae tiba-tiba menggenggam tangan Yoona, menyatukan jemari mereka, sebelum mereka memasuki taman kota.

Sambil berjalan, Yoona mendekat ke arah Donghae. Ketika dia sedang bersamanya, Yoona merasa aman. Tentu, Yoona adalah orang yang riang dan keras kepala, dan dia berpikir bahwa orang sepertinya tidak butuh banyak perlindungan. Meski Donghae tidak melakukan apa-apa, Yoona mampu mengontrol rasa keras kepalanya, dan untuk pertama kalinya, dia menaruh kebahagiaan orang lain lebih dulu daripada kebahagiaan dirinya sendiri.

“Rasa apa?” tanya Donghae ketika mereka sampai di kios es krim.

“Vanila,” jawab Yoona.

Donghae memesannya, lalu dia memegang dua cone es krim. Yoona mengambil satu dan mulai makan. “Trims, Donghae.”

Dia menganggukkan kepalanya. “Bukan masalah,” balas Donghae, meraih tangan Yoona dan mereka berdua duduk di atas bangku.

Pemandangan kota kelihatan indah. Yoona selalu ingin pindah dari London. Tentu, London adalah kota yang sangat cantik, tapi dia hanya ingin pengalaman yang berbeda. Mungkin dia bisa pindah ke sini, ke Bali. Atau mungkin dia bisa pindah ke Tokyo, tempat Donghae tinggal…

Tapi itu tidak masuk akal. Dia masih punya pekerjaan yang harus dilakukan, dan dia juga tidak bisa meninggalkan teman-temannya di London begitu saja. Dan bagaimana dengan orangtuanya? Meninggalkan London dengan alasan seperti itu tidak akan meyakinkan mereka.

Yoona hanya bosan dengan hidupnya. Terus-menerus. Dia ingin sesuatu yang berbeda. Meski dia masih punya semangat muda dan riangnya, dia merasa bahwa dia dikurung.

Dan Donghae membuatnya merasa aman. Tapi aman yang berbeda. Yoona tidak merasa terkurung ketika dia bersama Donghae. Seperti seseorang melindunginya, tapi dia juga masih bisa mempunyai semangatnya. Seperti seseorang menontonmu dari jauh, tapi kau tidak akan terluka.

Yoona suka perasaan itu. Dia suka apa yang dia rasakan ketika dia bersama Donghae. Mungkin hidupnya tidak semembosankan seperti yang diduganya.

“Terima kasih,” kata Yoona tiba-tiba.

Donghae menatapnya. “Untuk apa?” Dia memandangi es krim mereka yang meleleh. “Oh. Ini? Bukan masalah. Aku masih punya banyak u—”

Yoona menggelengkan kepalanya. “Bukan itu.” Dia menggigit bibirnya, berpikir untuk sesaat. “Tapi karena telah menemukanku.”

Donghae sadar apa maksudnya, dan dia memberikannya seulas senyum—senyum yang bisa membuat hati Yoona meleleh seperti es krim yang dipegangnya. Yoona tidak merasa lemah atau kuat—dia hanya merasa pas, benar.

“Sama-sama.”

***

Kamis, 14 Juli, 2011

11.02 KST

Kebun Binatang, Denpasar, Bali, Indonesia

***

“Ayolah!”

“Aku tidak mau ke sana! Menyeramkan!”

“Berhenti bersikap seperti itu!”

Sungmin hanya mengeluh sementara Sunny menyeretnya masuk ke mobil. Dia menginjak pedal gas dan mobil mulai bergerak menuju para binatang. Di sini, binatang-binatang di kebun tidak dikurung, tapi di hutan di pegunungan. Kebun binatang itu cukup jauh dari kota, tapi Sunny yang menyarankan mereka pergi ke sana, dan Sungmin setuju.

Sungmin menatap keluar jendela. Mereka melewati sekumpulan rusa, dan Sunny memandang ke arah pemandangan beberapa kali. “Aku tidak sabar hingga kita sampai ke singa-singa.”

“Singa?” Sungmin menelan ludah.

Sunny menganggukkan kepalanya. “Yeah. Singa. Kenapa? Kau kedengaran takut.”

Sungmin menggelengkan kepalanya. “T-Tidak, aku tidak takut.”

Sunny hanya terkikik. “Tentu saja kau takut,” ujarnya, memutar mobil menuju jalan lain. Setelah lima belas menit yang panjang, mereka memasuki tempat para singa berada.

“Stop! Putar balik! Putar balik!” teriak Sungmin, berusaha menarik Sunny menjauh dari roda kemudi.

Sunny menggelengkan kepalanya. “Tidak! Tidak putar balik!”

Gerbang dibuka dan Sungmin bisa melihat singa di mana-mana. Dia membeku di kursinya, sementara Sunny menikmati Sungmin yang ketakutan. Ketika mereka akhirnya selesai melihat para binatang, Sunny memarkir mobilnya dan tertawa.

“Aku tidak tahu orang sepertimu bisa begitu takut terhadap singa,” katanya, masih tertawa.

Sungmin cemberut. “Aku panik, oke? Aku kira mereka akan melompat ke mobil dan merobek kita.”

“Itu tidak akan terjadi.” Sunny berputar ke kiri untuk menatap Sungmin.

Sungmin menatapnya. “Kenapa?”

“Karena aku akan melindungimu bila begitu.” Sunny tersenyum senang.

Sungmin hanya diam—dia senang, tentu saja, tapi dia tidak bermaksud Sunny harus melindunginya setiap saat. “Aku bisa melindungimu juga.”

Sunny tertawa. “Oke, kita akan melindungi satu sama lain.” Dia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Sungmin, membuat lingkaran di tangannya dengan jemarinya.

“Apa yang kaulakukan?” tanya Sungmin penasaran.

“Menulis namaku,” jawab Sunny, lalu mendorong tangan Sungmin untuk menyentuh dada pria itu—di mana jantungnya terletak. “Nah. Sekarang namaku akan berada di hatimu selamanya.”

Sungmin terkekeh. Dia sungguh kekanak-kanakkan. Tapi, kekanak-kanakannya membuatnya berbeda. Perbedaan Sunny dengan orang lain banyak sekali. Tapi dia masih punya hati yang baik seperti orang-orang yang Sungmin kenal. Hati yang baik. Hati yang selalu menjadi milik Sungmin.

“Kau tidak perlu melakukannya,” kata Sungmin lembut. “Aku akan selalu mengingatmu.”

Sunny cemberut. “Tapi itu berbeda. Kalau kau mengingatku, kau melakukannya dengan pikiranmu, bukan hatimu.”

Sungmin tersenyum. Dia akan selalu mengingat Sunny. Bagaimana dia bisa melupakan orang yang telah membuatnya seperti ini? Sunny membuatnya merasa begitu nyaman, begitu bahagia. Bahkan kalau otak Sungmin dicuci, Sungmin ragu apakah dia akan melupakan Sunny. Dampak Sunny terhadapnya terlalu besar, bahkan untuk dirinya sendiri.

“Jangan khawatir, Sunny. Aku akan selalu mencintaimu.”

Sunny mengedipkan matanya.

Langsung. Sunny berpikir bahwa Sungmin terlalu takut untuk membicarakan perasaannya, tapi Sunny salah. Sungmin dengan jelas menyatakan bahwa dia mencintainya. Sunny tidak tahu harus menjawab apa.

Mungkin itu terlalu cepat. Mereka bersama hanya beberapa minggu. Tapi Sunny tidak bisa membantah bahwa bersama Sungmin adalah perasaan terbaik yang pernah dirasakannya.

“… Aku tahu.”

***

Rabu, 27 Juli, 2011

8.05 KST

Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Indonesia

***

“Kau akan baik-baik saja?”

“… Tidak.”

Siwon mendesah. Dia menarik Tiffany untuk sebuah pelukan erat, dan Tiffany langsung merasakan sakit. Mendadak, wajahnya dipenuhi air mata, dan Siwon sibuk mengusapnya.

Seohyun berdiri dan memeluk Tiffany erat. Dia akan jelas-jelas merindukan ini. Semua ii. “Unnie, aku tahu apa yang kaurasakan…”

“Aku… akan… merindukanmu…” Tiffany terisak.

Yoona berusaha untuk menahan tangis, tapi mustahil. Dia buru-buru mengusapnya, tapi katanya sambil gemetaran, “Kita semua akan merindukan ini.”

Kedelapannya seharusnya meninggalkan Bali pada hari yang berbeda, tapi mereka mengaturnya sehingga bisa pergi pada hari yang sama, meski bukan di pesawat udara yang sama. Kedelapannya akan pergi ke kota yang berbeda, negara yang berbeda, bagian dunia yang berbeda.

Dan Sungmin-lah yang akan pergi pertama.

Speaker memberikan pengumuman bahwa pesawat Sungmin sudah datang. Sunny membeku, dan dia memandang Sungmin. Dia merasa tidak enak. Lebih dari tidak enak. Sunny merasa sangat buruk, seperti sebuah boneka rusak.

Sungmin menghela napas dan berdiri. Dia memeluk semua orang untuk yang terakhir kalinya, dan ketika dia sampai di Sunny, dia memeluknya erat, lebih lama dari yang lain. “Janji padaku bahwa kau tidak akan pernah melupakanku.”

Sunny menjadi lemah dengan cepat. Dia jelas-jelas tidak punya kekuatan untuk berdiri tegak lagi. “T-Tidak akan…”

Sungmin melepas pelukannya dan pergi ke gerbang keberangkatan ke Roma secepatnya. Sunny menangis dalam diam, merasa mati rasa. Seohyun cepat-cepat menarik Sunny ke pelukannya juga.

“Ini tidak… baik-baik saja…” tangis Sunny.

Donghae lalu menepuk bahu Sunny. Dia tahu bagaimana rasanya. Dia akan merasakan rasa itu sebentar lagi. Ketika Yoona…

Suara koper ditarik membawa Donghae kembali. Dia berputar dan melihat Yoona memeluk Kyuhyun, lalu Siwon.

Dan dia berjalan ke arah teman-temannya.

“Jaga diri, kalian semua,” Yoona berbisik pelan karena isakannya. “Aku akan merindukan kalian. Kita akan bertemu lagi, aku janji.”

Donghae menarik napas dalam-dalam ketika Yoona berjalan ke arahnya.

“Tidak, jangan…” Donghae berusaha menghentikannya, tapi Yoona sudah terlanjur memeluknya. Hati Donghae pecah berkeping-keping—itu adalah perasaan paling buruk di dunia.

Yoona tidak mengatakan apa-apa. Dia tahu bahwa berbicara hanya akan membuat Donghae sedih. Yoona hanya berusaha mengingat baunya, lengan Donghae melingkari pinggangnya, perasaan meninggalkan seseorang.

Yoona melepaskan pelukan, dan menarik napas. Panggilan terakhir, dan Yoona pergi ke gerbang keberangkatan menuju London, dan menghilang dari pandangan. Donghae merasakan rasa sakit mengguyurnya.

Siwon selanjutnya. Tiffany sudah selesai menangis, tapi orang-orang bisa melihat rasa terluka di matanya. Kyuhyun memeluk Siwon erat, dan Siwon pergi ke Seoul.

“Orang… orang… pergi…” Sunny tidak berhenti menangis.

Seohyun tetap memeluknya. “Unnie…”

Sunny terisak lagi, dan akhirnya gilirannya. Dia menarik kopernya sambil memeluk yang lain dalam diam. Dia mengusap air matanya dan berjalan menuju gerbang keberangkatan ke Shanghai.

Tidak ada yang berbicara, tapi akhirnya Seohyun menangis. Dia cepat-cepat mengusapnya, dan Tiffany memeluknya kali ini. Semuanya terasa buruk untuk mereka berempat.

Speaker pun menyala dan pesawat menuju Sydney sudah tiba. Seohyun menarik kopernya dan memeluk mereka semua, berkata, “Aku akan merindukan kalian.” Sebelum dia sempat berjalan ke arah Kyuhyun, pria itu telah menariknya untuk dipeluk, membuat Seohyun nyaris jatuh.

“Ingat aku.”

Seohyun tersenyum setengah hati. “Selalu, oppa.”

Seohyun lalu berjalan pergi, dan tepat setelah itu, giliran Donghae. Dia memeluk Kyuhyun dan Tiffany, dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Mereka semua tahu bagaimana rasanya.

“Jadi, tinggal kita,” kata Tiffany sambil mendesah.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Kau tahu bahwa aku akan merindukanmu juga, Tiffany?”

Tiffany memaksakan seulas senyum. “Tentu saja.” Speaker pun menyala lagi, dan dia mengangkat bahu. “Giliranmu, Kyuhyun. Aku akan merindukanmu juga.” Dia memeluk Kyuhyun dan memerhatikannya pergi ke Boston.

Aku selalu yang belakangan.

Setelah beberapa menit, penerbangan Tiffany ke Paris sudah siap. Dia menarik kopernya dan berjalan menuju gerbang keberangkatan, meninggalkan segala memori dan perasaan di belakang.

***

[A/N]: Eits, tunggu dulu! FF-nya blom selesai, lho! Inget teaser-nya? “Satu tahun berlalu”… Jadi itu petunjuknya, hehe. Tunggu ya, update selanjutnya!

 

13 thoughts on “Three Little Words (Chapter 3)

  1. Di satu sisi, dia ingin bersama Kyuhyun sampai liburannya habis… Tapi di sisi lain, dia tidak bisa berhenti berpikir tentang orang yang mengganggu pikirannya.

    => maksudnya seo udah punya orang yg disuka yah?

    yah pada kepisah, cepet disatuin dong

  2. Buruan ya thor, part selanjutnya di update secepatnya!!!!^______^
    Penasaran banget dengan part selanjutnya!!!!

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s