Stay With One Love (Part 8)

page

TITLE             : Stay With One Love part VIII (sequel Forever Love With You)

AUTHOR       : Keyindra_clouds

MAIN CAST  :Yesung Super Junior, Yuri SNSD, Choi Siwon Super Junior, Im Yoona SNSD, Victoria song

GENRE          : Romance, Sad, Angst, Comedy, marriage life.

LENGHT        :  Chapter Series

 

Annyeong…..aku balik lagi dengan FF abal – abal and amatiran ini….hehe..mian baru bisa ngepost. #plak. Dilempar sepatu readers.

Gak usah ngebacod and cingcong lagi ya. Langsung cap cuz aja!!.

#mian Typo berserakan dimana – mana

#author Cuma sampai segini idenya. *ide lagi buntu, diperes terus*

#aku butuh banyak comment bwt semangat ngelanjutin FF ini. (entahlah FF ini sampe kapan akan kelar). #Intinya dikit lagi End.

Yang kemaren ngasih comment…thank you so much..selamat membaca gratiss…

######

Brakkk….

Sebuah pintu terbuka begitu saja menampakkan sesosok yeoja yang tengah menangis pilu. Sementara dua orang dihadapannya menatap yeoja itu terkaget. Jong Woon dan Victoria. Mereka berdua terdiam seketika dari emosi yang saling beradu diantara mereka.  Yuri berjalan pelan mendekati Victoria. Sungguh tak ada sedikitpun perasaan cemburu dalam benak Yuri pada mereka berdua. Yang ada hanya sekelibat masa lalu yang seolah – olah kembali berputar kembali pada memorinya.

“Qi..qi..aaniee..” ucap Yuri terbata. Victoria terdiam sesaat saat Yuri menyebut namanya Qianie.

“benarkah kau Qianie?.” air mata Yuri kini mulai turun saat ia menyebut nama seseorang yang telah membuatnya harus kehilangan memori masa kecil selama belasan tahun. Ia mencoba menahan hati dan pikirannya dari emosi yang akan muncul.

“omona. Yuri!.” pekik Jong Woon yang menyadari kehadiran Yuri tengah menangis. Sementara Yuri terus saja berjalan dengan tatapan kosong, hanya ada Victoria yang kini dihadapannya.

“Yuri-ya. Sebenarnya apa yang terjadi?.” Lerai Jong Woon yang mendekati Yuri dan mencoba menenangkannya, tapi Yuri tetap tak mengindahkannya.

“jawab aku!. Jika kau adalah Qianie!.” sentak Yuri sedikit keras didepan wajah Victoria.

“apa hak-mu Kwon Yuri menyebut nama itu?!.” Victoria juga tak mau kalah omongan dengan ucapan Yuri.

Yuri menghela napas sejenak masih dengan air mata yang keluar dan mengalir. Ia mengepalkan tangannya mencoba menahan emosi yang kini akan meledak.

“jika benar kau adalah Qianie. kau pasti ingat dengan yeoja kecil yang kau tinggalkan sendiri 15 tahun lalu. Dan kau tahu yeoja kecil itu mengalami sebuah kecelakaan yang tragis hingga ia kehilangan ingatan serta jati dirinya.”

“apa maksudmu KWON YURI!!.” suara Victoria semakin meninggi akibat perkataan Yuri yang menyulut emosinya dan seolah – olah memojokkannya.

“apakah aku harus menjelaskannya?!. Kau tanyakan pada dirimu sendiri Song Qian!.” Tunjuk Yuri pada diri Victoria dengan penuh emosi.

“bukankah kau selalu bilang jika kau dan aku berbeda. Kau masih mempunyai orang tua, tidak sepertiku yang tak tahu entah dimana orang tuanya atau bahkah orang tuaku telah membuangku?.” Teriak Yuri yang kini emosinya sudah diambang batas kontrol.

“kau ini bicara apa Kwon Yuri!!. aku bahkan tak mengenalmu sejak kecil?.” Sinis Victoria.

“kau tanyakan sendiri itu padamu!.”

“Kwon Yuri!. jawab aku!.” Dengan emosi yang sudah memuncak pula Victoria mendorong pelan Yuri dan menatapnya lekat, mencengkeram kuat lengan tangan Yuri.

“Victoria!. Jangan pernah kau menyakiti Yuri!.” Sentak Jong Woon menjauhkan tangan Victoria dari lengan Yuri.

“Tcih. Jadi hanya karena wanita ini kau tak mencintaiku lagi Kim Jong Woon!.”

“aku memang tak mencintaimu lagi Qianie!. itu sudah jalan kita masing – masing Victoria!.”

“Kim Jong Woon!.” Pekik Victoria histeris dan pergi meninggalkannya dengan tangisan yang tak kalah pilu juga.

*****

Jong Woon memeluk Yuri erat. Ia merasakan Yuri tengah menangis pilu. Air matanya turun dengan perlahan membasahi jas putih yang ia kenakan. Entah apa yang kini tengah Yuri pikirkan, ia tak mau yeojanya ini sedih berkepanjangan.

“aku tak akan memaksamu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kau boleh menceritakannya jika kau sudah siap.”

“mianhae. Aku membuatmu menyangsikanku lagi. Jujur aku tak ada lagi perasaan pada Victoria.” Lirih Jong Woon menumpukkan dagu di ujung kepala Yuri.

Sedikitpun tak terlintas dalam pikiran Yuri untuk kembali merenggangkan hubungannya dengan Jong Woon. Dengan tangan yang bergetar, Yuri merogoh isi tas-nya dan menyerahkan sebuah amplop berwarna putih pada Jong Woon. Sebuah amplop putih yang membuatnya menangis kareana mengetahui kenyataan ini.

Dibacanya dengan perlahan dan seksama apa saja yang tertera dalam isi amplop tersebut. Jong Woon tercengang dan menatap tidak percaya apa yang sekarang ia baca. Benarkah semua ini?. kenapa semuanya diluar dugaan?. Ia menghela napas sejenak dan menatap Yuri yang masih menangis dengan air mata yang masih mengalir dan isakan yang dapat didengar. Sedetik kemudian ia kembali merengkuh Yuri dalam pelukannya mencoba membuat perasaannya jauh lebih tenang.

“apakah aku pantas membencinya oppa.” isak Yuri disela – sela tangisnya.

“kau harus percaya jika semua pasti akan indah sampai waktunya tiba.” Ujar Jong Woon mengecup kening Yuri singkat untuk meredakan tangisnya.

Dddrrrrtttt….ddrrrtttt…

“Yeoboseo.”ia menyeka air matanya dan berusaha meredam tangisnya.

“nona..nona..nona Kwon Yuri…nona Im Yoona…” ucap seseorang dari balik telepon  dengan nada cemas.

“ne. Waeyo ahjumma?. Ada apa dengan Yoona?.”

“nona Im sedang dalam keadaan kritis dan sekarang ia tengah berada diruang operasi.”

“MWOO!!.”

*****

Dengan langkah yang Secepat mungkin Yuri berjalan menyusri koridor rumah sakit yang kebetulan memang satu rumah sakit dengan tempat Jong Woon bekerja. Rasa khawatir dan takut kini melanda dirinya. Yuri takut jika terjadi apa – apa dengan Yoona dan aeginya. Ia terlalu kalut dengan kondisinya saat ini ditambah lagi masalah Yoona yang tak kunjung selesai.

“Bagaimana dokter?” tanya Yuri panik. Saat ini dokter baru saja keluar dari ruang operasi.

“Maaf, dengan siapa saya bicara?” tanya dokter itu untuk memastikan Yuri adalah keluarga dari pasiennya atau bukan.

“bisakah saya bertemu dengan suaminya. Kami harus mengambil tindakan untuk ibu dan bayinya. Air ketuban di rahimnya sudah mulai mengering akibat pendarahan dan itu sangat berbahaya bagi si bayi. Kami harus mengoperasi Caesar bayi tersebut, jadi kami butuh persetujuan dari suami nyonya Im Yoona. Dan kami juga harus mencari golongan darah O negative.” jelas dokter

Hati Yuri seketika melemas, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Baginya yang terpenting adalah keselamatan Yoona.

“Jebal…Lakukan apapun dokter. Selamatkanlah Yoona  dan bayi di kandungannya,” pinta Yuri pada dokter itu.

Yuri menatap orang kepercayaan Yoona dibelakangnya yang hanya dibalas oleh anggukan oleh orang itu. Seakan mengerti Yuri segera menjalankan apa yang ada dipikirannya.

“Aku kakak-nya. Tolong lakukan yang terbaik untuk adikku.” Ujar Yuri. ia tahu jika ia salah tapi terpaksa Yuri sengaja berbohong. Namun apakah ia harus mencari Siwon, jika Yoona sedang sekarat didalam.

“Yuri-ya!.” Sebuah teriakan spontan menghentikan Yuri seketika dilihatnya Jong Woon berjalan pelan kearahnya.

“apa maksudmu Yuri-ya?!.”

“semuanya akan kujelaskan oppa. jika aku sudah menemukan pendonor darah O negative itu. Jebal bantu aku, keadaanya semakin kritis didalam.” Kaki Yuri melemas, ia terduduk dilantai seketika.

“siapa maksudmu?!.” Jong Woon semakin tak mengerti dengan sikap Yuri yang seperti ini. “siapa dibantu apa?.”

“Im Yoona. Istri Siwon.” ucap Yuri bergetar.

“Jebal bantu aku oppa.” isak Yuri yang semakin menjadi memohon pada Jong Woon.

*****

“gomawo uisa. Berarti bulan ini aku sudah donor darah dua kali. Semoga orang yang menerima darahku ini bisa sehat kembali.” Ucapan tulus dari seorang gadis manis itu keluar secara tulus dari mulutnya. Gadis berambut pendek itu akhirnya keluar melangkahkan kakinya dari ruangan sang dokter. (bayangin rambut Sulli pas di MAMA 2012)

Sejenak ia berpikir tentang kerenggangan hubungan antara dirinya dengan sang kakak. “salahkah aku mendiamkan oppa?. oppa sudah menyesal akan perbuatannya dan ia pun sekarang sudah mencari Yoona eonni.”

Sulli berjalan gontai keluar dari rumah sakit, tak sengaja ia melihat seorang yeoja yang ia kenal tengah berlutut dihadapan sang namja. Samar – samar ia mendengar dengan keras jika tengah menyebutkan nama orang yang kini ia cari. “astaga!. Sajangmin Kwon!.” Spontan teriakan itu membuat Yuri dan Jong Woon menoleh dan mencari sumber suara tersebut.

“Sajangmin Kwon!. Apa maksud anda?. Im Yoona?!.”

“Sulli. Choi Sulli.”

“apa maksud anda sajangmin?. Im Yoona?. Siapa dia?.” Tanya Sulli yang sedikit Shock mendengar nama Yoona disebut.

“dimana eonniku sajangmin?.”

“kk..aauu mengenal Yoona?.” Ujar Yuri terbata dan mencoba berdiri dengan bantuan Jong Woon yang menopangnya.

“tentu saja sajangmin. Dia eonniku, sekarang dimana dia.” Sulli merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kejadian ini.

“dia didalam. Ia butuh pendonor darah O negative, untuk kelancaran operasi Caesarnya.”

“apa maksudnya semua ini?. Yoona eonni hamil?. Kapan?. Kenapa oppa tak memberi tahuku?.”

Yuri mencoba mendudukan diri dan menjelaskan semuanya pada Sulli, disampingnya ada Jong Woon yang mencoba untuk menenangkannya sejenak.

“Yoona sudah bercerai dengan Suaminya. Saat bercerai ia tengah mengandung hampir 3 bulan. Suaminya terlalu membencinya, maka ia lebih baik mengalah dan menjauh dari kehidupan suaminya itu, daripada suaminya tak menganggap anak itu ada. Dan sekarang ia tengah sekarat membutuhkan pendonor darah untuknya.”

Tangan Sulli bergetar hebat, wajahnya diselingi keringat dingin yang mengaliri pelipisnya menatap tak percaya pada apa yang ada di depannya saat ini. air matanya tiba – tiba mengalir sendiri dari pelupuk matanya. Sebegitu menderitakah nasih Yoona yang terlalu mencintai Siwon. batin Sulli.

“ambil darahku Uisa, jika memang Yoona eonni membutuhkannya.” Suara Sulli meninggi dan menatap Jong Woon, seolah – olah meminta bantuannya.

“Sulli-sshi..” lirih Yuri.

“sekarang yang terpenting adalah keselamatan eonniku. Lakukan apapun asal eonniku bisa selamat!.” Histeris Sulli.

*****

Saat ini Sulli tak dapat berpikir Jernih, ia melajukan kecepatan mobilnya dengan kecepatan kencang membelah jalanan Seoul. Sekarang yang ada dipikirannya adalah Siwon harus bertanggung jawab atas semua ini.

Betapa bodoh kakaknya itu menelantarkan Yoona yang tengah mengandung anaknya sendiri. Bahkan ia sendiri tak mengetahuinya. Ia berjalan cepat dengan penuh emosi dan seakan ingin melampiaskannya pada Siwon.

PLAK…

Sebuah tamparan keras itu akhirnya mendarat dipipi kiri Siwon. Sulli tak dapat lagi menahan amarahnya. Baginya perbuatan kakak laki – lakinya itu keterlaluan. Bagimana ia bisa tahan jika ada seorang namja yang tega membuang istri dan anaknya tersebut.

“kau ini namja macam apa heh?!.”

“apa maksudmu Sulli-ya?!. Kau datang dan langsung menamparku.”

“kau tahu sekarang Yoona eonni tengah meregang nyawa dirumah sakit dan kau hanya diam saja dirumah?. Apa itu bisa dikatakan kau seorang namja?!.” Teriak Sulli didepan muka Siwon.

“CHOI SULLI!!. Apa maksud dari perkataanmu itu?. Apa yang terjadi dengan Yoona?.” Siwon juga tak kalah berteriak didepan Sulli.

“jika kau seorang namja yang bertanggung jawab. Cepat ikut aku. Akan kubuka matamu jika kau masih bisa kuanggap sebagai manusia berperasaan.” Lirih Sulli yang mulai frustasi dan mengakhiri pertengkaran mereka berdua.

*****

3 jam sudah Yuri, Jong Woon beserta Siwon dan Sulli ,menunggui Yoona yang tengah bertaruh nyawa melahirkan anak semata wayangnya. Perasaan was–was kini tengah menghinggapi mereka semua.

Menyesal. Tentu saja hanya itu yang isa Siwon lakukan. Bagaimana ia bisa tak mengetahui jika Yoona tengah mengandumg anak-nya. Dimana ia selama ini?. matanya seakan tertutup oleh obsesi cinta masa lalunya dengan Yuri.

Yuri berjan perlahan dan ,mendekati Siwon yang tengah terduduk Frustasi dilantai dan menepuk pelan pundaknya. “penyesalan memang datang terlambat.” Lirih Yuri mencoba menenangkan Siwon. sementara Siwon hanya diam termangu meratapi nasibnya.

“kau tahu selama ini Yoona berjuang untuk bisa melupakanmu. Ia sengaja pergi dari hidupmu agar ia tak lagi mengganggu hidupmu dengan kehadirannya. Tapi apa bisa Yoona melupakanmu?. Tidak Choi Siwon, justru ia makin mencintaimu ditambah lagi dengan hadirnya malaikat kecil kalian yang ada dirahim Yoona.”

“aku tahu aku salah, aku memang bodoh. Selama ini tak menyadari perasaannya. Tapi apa aku pantas dimaafkan, semuanya sudah terlambat.” ucap Siwon frustasi

“tidak ada kata terlambat untuk bisa dimaafkan. Yoona sangat mencintaimu. Kau tahu pasti ada kesempatan kedua.”

Kreekk… pintu ruangan operasi mulai terbuka dan menampakkan sesosok dokter yang tengah menggendong seorang bayi cantik nan mungil.

“kakak dari nyonya Im.” Panggil sang dokter.

”ne.” Yuri segera beranjak menghampiri sang dokter dan menerima sang bayi cantik itu. Bayi ini sungguh cantik dan tanpa dosa, wajahnya mirip sekali dengan Yoona. Perpaduan antar wajah Yoona dan Siwon. Lalu ia pun bergegas menghampiri Siwon.

“lihatlah putri kecilmu ini. kau tak ingin melihatnya?. Dia putrimu dengan Yoona. Dan sekarang kau sudah resmi menjadi seorang appa”

Siwon menatap pilu putri kecilnya itu. Hatinya bergetar taatkala ia melihat bayi cantik nan mungil itu digendongan Yuri. Dengan lapang hati ia menerima bayi itu dan mencium keningnya singkat.

“mianhae. Selama ini aku menelantarkan kalian berdua.” Isak Siwon memandang lekat putri kecilnya itu yang baru saja lahir kedunia.

“lalu bagaimana dengan keadaan Yoona?.” Siwon mulai panik memikirkan Yoona yang masih juga belum keluar dari ruangan operasi.

“jeongsohamnida tuan. Nona Im mengalami pendarahan yang cukup parah. Jadi untuk beberapa hari kedepan ia belum tentu sadarkan diri.”  Kalimat itu kembali membuat Siwon menangis meratapi nasibnya yang semakin bersalah akan dirinya sendiri.

“mianhae..” hanya kata itu yang terlontar dari mulut Siwon yang menyesal akan semuanya.

*****

Yuri terbangun tengah malam saat ia merasakan ada yang memeluknya erat saat tertidur. Ia tak tahu jika kini ia tengah tertidur dikamarnya. Terakhir kali ia menyandarkan kepalanya dibahu Jong Woon saat merasakan lelah menunggui Yoona yang terbaring belum sadarkan diri.

Dilihatnya Jong Woon tengah tertidur pulas, Ia mencoba membuka matanya dan menyesuaikan keadaan dan terduduk menekuk lututnya. Kembali pikirannya mencuat akan kejadian diruang kerja Jong Woon beberapa jam lalu.

Ia beranjak dari ranjang dan meninggalkan Jong Woon yang tengah tidur terlelap dan menuju ke ruang makan untuk mencoba menghilangkan semua kepenatannya. Haruskah ia membenci Victoria?. Mengingat ia dan Victoria kini adalah saudara sedarah. Kenyataan pahit yang harus dihadapi jika Victoria adalah kakak kandungnya

“Arrrggghhh!!!!” Yuri menjerit frustasi. Tangisnya mulai pecah. Dia sangat takut jika kenyataannya jika Victoria akan menjadi bayang – bayang masa lalu Jong Woon dan akan merebut Jong Woon dari sisinya, meskipun Jong Woon tak mencintainya lagi tapi Victoria tak akan menyerah untuk mendapatkan Jong Woon.

Disisi lain, dia benar-benar merasa bersalah telah menyembunyikan-nya dari sang umma. Dia juga tidak bisa hanya diam. Semua harus diperjelas, apapun itu keputusannya. Ia harus menemui Victoria secepatnya.

“kenapa takdir harus berkata seperti ini. Tapi kenapa sifatmu tak berubah Qianie “ kenapa kau seperti ini pada ku. 15 tahun sudah kita tak bertemu, kau jahat padaku!. Kau tega membuangku dan meninggalkanku ketika kita pergi bersama hingga akhirnya peristiwa menakutkan itu terjadi dan berujung ketika aku kehilangan memoriku masa lalu selama 15 tahun. Kenapa kau bisa begitu jahat pada ku, apa salah ku?.”

Yuri terduduk lemas dan merosot dari kursi yang ia duduki. Dua jam sudah ia menangis, tubuhnya terasa lelah karena terlalu lama menangis hingga akhirnya membuat ia tertidur dalam keadaan terduduk menyandar di dinding ruang makan.

*****

Victoria melangkah terburu sambil sesekali melirik aroliji ditangannya. Mungkin ini bisa disebut hari keberuntungannya, karena sebentar lagi ia akan melihat putri kecilnya itu pulang dari sekolah.

Mata Victoria menatap lekat yeoja kecil yang kini tak berada jauh didepan matanya. Ia tahu sampai saat ini yeoja kecilnya itu belum mengetahui jika ia adalah ibu kandungnya.

“maafkan umma yang telah meninggalkanmu Charie. Ternyata melihatmu dari dekat kau lebih cantik.” Desis Victoria pelan.  Benar kata Changmin dulu, bahwa Charie ternyata sangat mirip dengannya. Ia berjalan pelan mencoba mendekati yeoja kecil itu.

“hey. Gadis kecil, apa kau sedang menunggu seseorang?.” Tanya Victoria pada Charie.

Charie menoleh dan melihat seksama Victoria yang baru saja menegurnya. “Daddy bilang, jika ia sedikit terlambat menjemputku.” Jawabnya dengan tampang sendu.

“bolehkah ahjumma bertanya. Siapa namamu cantik dan kenapa kau murung sedih seperti itu.

“namaku Shim  Charie.”

“hei kenapa masih murung seperti itu. Kau bisa cerita pada ahjumma, ahjumma bukan orang jahat!.” Ada rasa sesak didada saat Victoria melihat putri kecilnya itu sedih..

“Aku ingin seperti teman – temanku ahjumma. Aku ingin punya Mommy yang selalu menjemputku sepulang sekolah. Kata Daddy, Mommy-ku itu sangat cantik dan dia masih ada didunia ini. aku ingin dihari ulang tahunku na nti aku bisa bertemu dengan Mommy, aku tak ingin pesta meriah, kue tart yang besar tapi aku berharap semoga Tuhan mengabulkan doa-ku ini bertemu dengan Mommy. Hanya itu saja ahjumma.”

Bagai dihantam batu besar, Victoria menangis pilu dalam diam. Selama ini putri kecilnya selalu mencarinya. Impiannya hanya kecil yaitu bisa bertemu dengannya. Bagaimana mungkin anaknya sendiri memiliki impian yang harusnya didapatkan oleh semua anak seusianya?. Yaitu bertemu dengannya selaku ibu kandungnya.

Charie menatap lekat Victoria. Ia melihat dengan seksama raut wajah Victoria mulai dari mata, hidung dan seluruh wajahnya. “ahjumma. Kenapa kau mirip sekali dengan Mommy?.”

“….” Victoria terdiam sesaat  tak menanggapi pertanyaan putri-nya itu. Ia tahu jika hidupnya mungkin tinggal sebentar lagi. Dan ia takut jika tak bisa melihat putri kecilnya itu lagi. Haruskah sekarang ia mengakui semuanya dihadapan putri kecilnya itu?.

“ahjumma…ahjumma…” ucap Charie mendada-dadakan tangannya didepan wajah Victoria.

“bolehkah aku bertanya ahjumma?.”

“ne.”

“kenapa wajahmu seperti mommy-ku ahjumma. Apa kau adalah mommy-ku yang menghilang ahjumma?.” Tanya Charie dengan polosnya.

“apakah kau rindu dan ingin bertemu dengan Mommy-mu cantik?.” Ujar Victoria memeluk Charie.

“jika ahjumma adalah Mommy-ku aku harap ia akan disini memelukku dan menciumku.”

“Charie-aa. Yeoja yang sekarang didepanmu adalah orang yang selama ini kau cari.” Air mata Victoria kini kembali turun. Saat ini hatinya bergetar melihat putri semata wayangnya yang ia rindukan selam tujuh tahun lebih itu akhirnya berdiri didepan-nya.

“momm…mmyy. benarkah kau adalah Mommy-ku yang selama ini Charie rindukan?. Mommy!.” Ucap Charie terbata lalu berhambur memeluk Victoria dan menangis.

*****

“apa yang harus kulakukan?.” Siwon menatap sedih yeoja yang tidur terbaring belum sadarkan diri. 3 hari sudah ia menunggui Yoona dalam keadaan seperti ini pasca melahirkan.

“mianhae. Aku menelantarkan kalian berdua. Aku begitu bodoh tak mengetahui jika kau hamil setelah kejadian malam itu dan dengan bodohnya aku begitu saja menyetujui perceraian kita.” Siwon kembali menangis memegang erat jemari tangan Yoona. Ia tahu sekarang jika Yoona adalah yeoja yang ia cintai.

“bogoshipeo. Jebal, bangunlah. Apa kau tak mau melihat putri kita?. Dia begitu cantik sepertimu. Ku beri dia nama sesuai keinginanmu Choi Jaeseumin, yang artinya ia cantik seperti bunga melati.

“saranghae. Jeongmal saranghae. Mianhae, selama ini aku menyakitimu.”

Siwon menyentuh lembut wajah Yoona dengan ujung jemarinya, menyentuh wajahnya, lalu bergerak ke arah matanya, dan ke hidungnya, dan ke bibirnya. Sentuhan yang teramat lebut dan halus, seakan takut melukai paras cantiknya. Dan Air mata Siwon kembali menetes.

“Siwon-sshi.” Panggil seseorang dari belakang yang baru saja datang. ia tak sengaja mendengar semua perkataan Siwon. reflek Siwon menoleh dan mendapati Yuri kini tengah berdiri dihadapannya.

“Yuri-ya.”

Yuri memandang Siwon yang sangat Frustasi. Sudah 3 hari Yoona terbaring koma tak sadarkan diri, dikarenakan mengalami pendarahan yang cukup parah. Pendarahan yang hampir merenggut nyawa Yoona setelah melahirkan malaikat kecil mereka.

“kenapa kau tak memberitahuku akan semua ini?. Yoona hamil dan dengan bodohnya aku tak mengetahuinya.”

“Yoona melarangku untuk tak memberitahukannya. Ia tak mau mengganggu hidupmu lagi, cukup ia yang tersakiti daripada ia melihatmu sakit akan pernikahan yang kalian jalani.”

Sebegitu menderitakah Yoona karena mencintai-nya?. Namja macam apakah dia yang tega menyakiti anak dan istrinya seperti ini. “lalu apa yang harus kulakukan sekarang Yuri-ya?. Aku tak tahu bagaimana cara memperbaiki hubunganku dengan Yoona?.”

Sejenak Yuri memandang Siwon dengan seulas senyum tipis. Ia rasa Siwon sudah sadar akan semuanya, bahwa ia tak bisa membohongi perasaannya jika kini ia tengah mencintai Yoona. “teruslah berada disisinya, tunggu ia hingga sadar. Lalu berusahalah memperbaiki hubungan kalian berdua. Sekarang keadaannya berbeda Choi Siwon. kalian telah memiliki Jaeseumi, itu adalah pengikat kalian.” Tutur Yuri panjang mencoba menjelaskan dari hati ke hati dengan Siwon.

“Jaeseumi.” Lirih Siwon yang berjalan mengambil Jaeseumi dari box bayi. Bayi cantik itu menggeliat kecil dalam tidurnya sekan menandakan interaksi jika kini ada orang yang menyayangi-nya.

“bolehkah aku minta tolong?.” Yuri mengangguk pelan menyetujuinya.

“aku ingin sementara ini Jaeseumi kau rawat sebelum Yoona sadar. Karena aku akan menunggui Yoona hingga ia sadar dan memperbaiki hubungan kami untuk Jaeseumi. Apa itu tak memberatkanmu?. Lalu bagaimana dengan suamimu?.”

“aniya. Gwenchana. Jong Woon oppa sudah mengerti keadaan yang terjadi. Mungkin Jaeseumi bisa menjadi teman untuk kedua anak-ku.”

“jeongmal gomawo Yuri-ya. Mianhae, aku selama ini ingin memilikimu dan merusak hubunganmu dengan Kim Jong Woon.”

Yuri tersenyum simpul menanggapinya. “sudahlah, itu hanya masalalu. Sekarang kau sudah menemukan masa depanmu kan?. Percayalah, hingga saat ini Yoona masih mencintaimu.”

*****

Charie tersenyum penuh bahagia. Impiannya kini terwujud juga, bertemu dengan Mommy-nya dan berjalan bersama bergandengan tangan menyusuri jalan menikmati indahnya panorama peralihan musin gugur ke musim dingin.

“mommy. Aku ingin Ice Cream.” Rajuknya manja pada Victoria.

“ne. Kajja kita cari Ice cream untuk Putri Mommy yang cantik. You know my dear, mommy wanna be with you.” Ucap Victoria mengelus rambut panjang Charie yang terikat 2.

“Mommy. What the hell is that?.” Tunjuk Charie yang menunjuk jalanan didepannya.

~CUP..tiba – tiba saja Charie mencium pipi Victoria mendadak dan berlari setelah menciumnya. Saat ini dipikiran Victoria hanya ada Charie. Putri yang 7 tahun lalu ia tinggalkan.

“Charie-aa. Kau mau berjanji satu hal pada mommy jika kau tak akan sedih lagi?.” Victoria memangku sejenak putri kecilnya itu dan duduk disebuah bangku taman.

“sure Mommy. Asal Mommy selalu disampingku.” Celoteh Charie riang sambil memakan ice cream-nya itu.

“Mom. Apa Mommy tak merindukan Daddy. Aku ingin Mommy tinggal bersama Daddy.” Pinta Charie.

Hati Victoria kembali merasakan sakit. Mendengar kalimat itu. Apa dia harus membohongi dirinya sendiri jika kini ia masih mencintai dan merindukan Changmin. “meskipun Mommy tak tinggal dengan Charie, tapi Mommy selalu ada untuk Charie. Kapanpun Charie butuh Mommy, Mommy selalu ada untuk Charie.”

“Charie. Sekarang kajja kita pulang. Hari sudah petang, Daddy pasti mencarimu.”

“tapi Mom..” rengek Charie.

“hey besok masih ada hari dimana Charie bisa bersama Mommy. Apa Charie mau membuat Daddy sedih dan Khawatir karena Charie tak pulang. Mommy tak mau itu chagi.”

“arraseo Mommy.” Angguk Charie.

Mobil Samsung Renault berwarna silver itu akhirnya mengantarkan Charie kembali kerumah Changmin selaku ayah kandung-nya. setidaknya hati Victoria jauh lebih bahagi karena bisa bertemu dengan putri kandungnya.

Dengan langkah gontai Charie berjalan menyusuri trotoar disekitar rumahnya. Charie berjalan senyum – senyum sendiri mengingat kebersamaannya dengn sang Mommy. Victoria memang sengaja tak menurunkan Charie didepan ruahnya. Ia takut jika bertemu lagi dengan Changmin.

“Charie!!.” Spontan Changmin terkaget melihat putri-nya itu baru saja pulang dari sekolah, berjalan santai memasuki rumah. Seharian penuh ia mencari keberadaan Charie yang entah pergi kemana setelah pulang dari sekolah.

*****

Jae Woon dan Nam Young tengah meminum susu mereka didalam dot sambil badan mereka tidur – tiduran menggeliat tak tentu arah. Yang ada dipikiran mereka hanya bagaimana mereka berdua agar tak sepi dirumah bersama dengan pengasuhnya.

“opp..pa. I’m Vely (Very) bolling (boring).” Ujar Nam Young yang tidur terlentang menatap langit – langit kamar mereka berdua. Jae Woon yang meresponnya segera memberikan PSP milik appa-nya itu pada dongsaeng-nya itu.

“anii. I wanna Dongsaeng oppa not game!.” tegas Nam Young yang seketika itu terduduk menatap Jae Woon.

Ckrrekk….tiba – tiba saja terdengar pintu baru saja terbuka yang menhentikan pertengkaran kecil dua bocah kecil itu. Dua orang yang sangat mereka berdua rindukan kini tengah berada dihadapannya. Tapi mereka berdua terheran seketika dengan apa yang dibawa oleh sang umma.

“Umm..ma. What it’s?.”

“baby?.” Imbuh Jae Woon yang melihat seorang bayi digendongan Yuri.

“Jae Woon oppa, Youngie chagi. Kalian tak keberatan jika sementara ini ada seorang aegi cantik bersama kalian.” Pinta Yuri memperlihatkan Jaeseumin pada mereka berdua.

“saeng umma?.” koor mereka berdua. Jong Woon beserta Yuri sedikit salah tingkah menghadapi  pertanyaan mereka berdua.

“anii. She’s Yoona ahjumma aegi.” Jelas Yuri.

“where’s my dongsaeng umma?.” pinta mereka berdua yang langsung membuat Yuri dan Jong Woon terdiam seketika. Tak bisa berkutik.

*****

“oppa. kau terlihat pucat?. Kau sakit oppa?.” Tanya Yuri yang sedari tadi melihat aneh raut wajah Jong Woon saat masih dirumah sakit.

Yuri semakin dibuat khawatir karena saat diperjalanan pulang Jong Woon tidak banyak bicara dan sesampainya dirumah setelah menemui Jae Woon dan Nam Young ia langsung masuk kedalam kamar dan berbaring.

“apa Jaeseumi sudah tertidur?.” Ucap Jong Woon melepas kacamata-nya dan dan langsung berbaring diatas ranjang.

“ne, sementara ini Jaeseumi kutaruh dikamar mereka berdua dan mereka berdua pun senang akan kehadiran Jaeseumi.”

“Omona oppa?!. badanmu panas sekali!.” Yuri tak sengaja menempelkan punggung tangannya didahi Jong Woon. Ia melihat ada sesuatu yang tidak beres akan Jong Woon.

“anii. Gwenchana. Aku hanya lelah saja.” Jawab Jong Woon yang langsung menarik selimut untuk membalut tubuhnya dan tertidur.

Perlahan Yuri bangkit menuju dapur dan mengambil air es untuk mengompres Jong Woon agar panasnya turun. Ia tahu jika Jong Woon kini tengah berbohong, padahal ia kini tengah sedikit demam.

“oppa. makanlah dan minum obat dulu. Aku tahu jika oppa sedang sakit. Tak usah berbohong.”

“anii. Yuri-ya.”

“oppa!. Kalau kau tidak minum obat bagaimana kau bisa sembuh.” suara Yuri sedikit meninggi.

“baiklah kalau oppa tak mau makan tak ada morning kiss atau Night kiss untuk sebulan kedepan!.”

“arraseo.” Pasrah Jong Woon. “tapi bolehkah aku meminta sesuatu.” Yuri pun mengangguk pelan.

“give me your kiss.” Rajuknya manja.

“oppa. Berhentilah meminta yang aneh-aneh atau….!.”

~CHU…belum sempat Yuri meneruskan omongannya Jong Woon sudah menempelkan bibirnya dibibir Yuri dan seketika itu Yuri mengatupkan bibir. Entah mengapa Yuri justru menikmatinya dan memejamkan matanya.

Yuri menyenderkan dahinya pada dahi Jong Woon hingga mereka sekarang bertatapan, Yuri benar-benar tengah dimabukkan olehnya tangannya dengan tanpa dikomandani melingkar di leher Jong Woon bahkan dengan lancangnya Jong Woon menariknya agar kembali memperdalam ciuman mereka berdua. Mereka kembali saling mencumbu, Yuri  bisa merasakan Jong Woon mulai melumat bibirnya dan menerobos lidahnya untuk masuk kedalam. Dengan senang hati Yuri membalasnya, lumatan mereka semakin lama semakin dalam bahkan suara decitan dari bibir mereka terdengar sangat jelas.

“Appa!!!…Umma!!. stop it.” Teriakan dari kedua malikat kecil mereka itu spontan membuat mereka berdua menghentikan acara romantis mereka berdua.

Mereka berdua berjalan dengan pelan menghampiri sang umma sambil menutup mata mereka. “have you done (apakah kalian sudahkah selesai dengan kegiatan kalian?) umma..appa?.” sementara Jong Woon dan Yuri salah tingkah setelah ketahuan tengah saling berciuman.

Jae Woon mulai merenggangkan jari tangannya dan mengintip apakah kegiatan orang tuanya itu sudah selesai. Setelah memastikan semuanya aman. Jae Woon memberikan intruksi pada Nam young untuk membuka matanya.

“appa..umma..” panggil mereka berdua yang terduduk dipangkuan Jong Woon dan Yuri.

“hmm.” Jawab Yuri yang masih dengan raut muka merah akibat ketahuan berciuman.

“could I ask something (bolehkah aku bertanya sesuatu) appa umma?.” ujar Nam Young yang memainkan ujung rambut Yuri.

“oh. Ne. How about it?.”

“how to make a baby dongsaeng umma.” tanya Nam Young polos.

“MWO!!.” Ucap Yuri dan Jong Woon serentak yang terlihat shock dengan pertanyaan yeoja kecilnya.

“euumm..” Jong Woon menggaruk – garuk lehernya yang tak gatal berusaha untuk menanggapi pertanyaan putri kecilnya itu.

“Kiss Ungie (Youngie).” Sela Jae Woon yang memandang sang appa untuk mencari kebenaran jawabannya. Jong Woon berusaha menelan ludah-nya ketika diskakk matt oleh kedua anaknya.

“really appa..umma?.” Aigoo kenapa balita sepolos mereka mengerti bagaimana membuat dongsaeng. Jong Woon berpikir sejenak. Sebenarnya mereka berdua itu polos tak mengerti apa kelewat terlalu pintar. Batin Jong Woon.

“sebentar lagi dongsaeng kalian akan hadir.” Jong Woon tersenyum nakal menatap wajah Yuri yang kembali memerah dan menengahi pembicaraan mereka berdua.

“kau setuju kan chagi jika secepatnya memberi dongsaeng pada mereka berdua?.” Goda Jong Woon.

“bukankah kau sedang sakit oppa. jangan membahas hal itu.”

“anii. Sekarang aku sudah sehat. Bagaimana kalau setelah ini kita..” Goda Jong Woon kembali. Kali ini Smirk evil lord itu muncul kembali.

“PROJECT MEMBUAT DONGSAENG DIBATALKAN!.” Tegas Yuri menolak.

“Mwo?. Mana bisa begitu. Bukankah mereka berdua yang meminta bukan aku. Dan aku hanya bisa mengabulkannya”

Jong Woon berdecak kesal. Ditatapnya Yuri  tajam yang balik menatapnya tak kalah tajam. tapi, tak lama kemudian seringai smirk khas yang dimilikinya  itu terpatri diwajah tampannya. Yuri mendelik sebal melihat seringaian smirk itu.

Bukannya merasa bersalah, Jae Woon dan Nam Young  hanya cekikikan tak jelas melihat kedua orang tuanya yang tengah adu mulut. Karena tak mengerti pembicaraan orang dewasa.

“Aku tidak setuju jika project membuat dongsaeng itu dibatalkan. Pokoknya harus jadi!.” Kekeuh Jong Woon. Tapi Yuri justru berjalan keluar kamar tak menaggapi omongan dari Jong Woon itu.

“shirreo. Kau buat saja sendiri!.” Teriak Yuri keluar dari kamar.

“aigoo. Kim Jae Woon, Kim Nam Young. Kau harus merayu umma-mu itu agar kalian bisa cepat mendapatkan dongsaeng.”

“appa…figh..thing.,” koor Mereka menyemangati.

*****

Seminggu Kemudian….

Siwon menikmati pemandangan kota Seoul dari jendela ditemani segelas Arabian Coffe dan Pai susunya. Dia sedang berada di kamar rawat Yoona. Sesekali ia menengok putri kecilnya yang kini tengah Yuri rawat.

Siwon bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah Yoona.Namun, matanya terbelak kaget.

“Yoo…na.”

Tangan Yoona bergerak. Ini bukan mimpi, batin Siwon. Perlahan, Siwon melihat dengan kesadaran penuh dan akal sehat, mata Yoona perlahan terbuka. Dan, matanya kini terbuka secara Utuh.

“uh…”

Siwon masih tidak dapat berkata apa apa. Kelu dan masih menganggap semuanya mimpi.

“Yoong?”panggil Siwon.

“kkk..aau..” perlahan Yoona meraba perutnya. Namun ia mendadak kaget ketika merasakan perutnya tak ada isinya.

“dimana dia?. Dimana sekarang kau chagi?. Kenapa perutku begitu kurus?.” kata Yoona merasa panik.

“Yoong..dengarkan aku. 2 minggu lalu kau baru saja melahirkan bayi yang cantik untukku.” Ucap Siwon terharu.

“wae kau ada disini?.” Sinis Yoona.

Siwon  membungkukkan badannya ke tubuh Yoona. Ia memandangi wajah Yoona sangat dekat. “Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau hamil?. Tetapi kenapa kau malah meminta bercerai denganku.”Apakah kau mau membunuhku karna telah mencampakkan anaknya sendiri?” kata Siwon sambil membelai rambut Yoona lembut.

“bukankah jauh lebih bahagia jika aku dan anakku tak mengganggu kehidupanmu?. Bukankah kau membenciku?.” Yoona menangis dan  membuang mukanya dari tatapan Siwon.

“mianhae. Aku sempat membuatmu kecewa. Baboya namja, aku sadar jika aku hanya terobsesi pada Yuri dan tak pernah melihatmu. Tapi sekarang aku sadar jika kini aku mencintaimu.” Ujar Siwon menyesal.

“Melihatlah kemari dan tatap aku. Kenapa kau selalu menghindariku?. Aku mencintaimu, chagiya…,” kata Siwon yang membuat Yoona akhirnya menoleh memandangi Siwon.

“Yoong. Kembalilah padaku. Aku akan menebus semua kesalahanku terhadapmu. Kita besarkan Jaeseumi bersama.

Yoona memejamkan matanya sejenak dan mengalihkan pandangannya kembali dari Siwon, mencoba berpikir. Siwon berbicara lagi, “Ya! Kenapa kau diam saja? Kau seharusnya mengatakan aku juga mencintaimu, begitu. Apa kau sudah benar-benar membenciku sekarang?!” kata Siwon kesal.

“aku juga.” Balas Yoona lirih dan tersenyum.

“katakan sekali lagi. Aku tidak dengar.”

Yoona mengecup bibir Siwon singkat. “Saranghaeyo, Choi Siwon.” kata Yoona malu-malu.

“nado saranghae..Choi Yoona.”

“Mwo?. Choi Yoona. Namaku Im Yoona bukan Choi Yoona!.” Tegas Yoona mendelikan matanya.

*****

—TBC—

Mungkin ada alur yang kecepetankah?..hehe mian..

Mian kalo kependekan. Ide author dadakan and cukup sampai disini.

So tolong hargai karya kami dengan meningalkan jejak melalu komentar.

Komentar panjang justru author suka..karena author bisa merefleksikan diri untuk buat FF lebih baik kedepan.

Gamsha chingundeul……

8 thoughts on “Stay With One Love (Part 8)

  1. q bolak blik buat nungguin nie FF..akhir’a dpot juga..
    Yoonwon tuntasss!!
    YesYul Tuntass!!
    Changtoria..belom!!
    Dongasaeng buat Jaewon+Namyoung belom!!
    Hub YulVic belom!!
    lanjutttttttt jangan lama2!!

  2. Fighting thor!
    Ampun thor aku bolak – balik ke blog ini cmn buat nungguin ni ff
    tapi kependekan thor
    next part jangan lama” and yang panjangan napa??

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s