Black Soshi 5정 – Surprisingly

Surprisingly Cover

Title :
Black Soshi

Sub-Title :
5정 – Surprisingly (Shot!?)

Author :
Cho Hyeyoung

Main Cast :
– Jessica Jung
– Lee Donghae

Other Cast :
– Choi Minho
– Kim Heechul
– Do Kyungsoo
– Kim Jonghyun
– Choi Sooyoung
– Kim Taeyeon
– Im Yoona
– Unknown Character
– And Other…

Type :
AU, Chaptered

Genre :
Suspense, Friendship, Action, Romance

Rating :
T (Teenager)

Poster :
Cho Hyeyoung

Disclaimer :
Plot is My and the Characters are belong to God
And DO NOT TRY TO RE-POST MY FANFICTION!!

Jweseonghamnida kalau ada yang tidak suka dengan pairing di dalam Fan Fiction ini *deepbow

Di Chapter ini, author akan membawa kalian berjalan-jalan ke USA~! Karna setiap setting scene, tak luput dari jajaran kota di USA *Plakjeduar
Dan mungkin FF ini akan END dalam 2 atau 3 Chapter lagi😦

Oh ya, di Chapter ini juga bang Heechul menampakkan dirinya! Akankah couple utama FF ini menjadi HeeSica? Atau tetap HaeSica? Langsung aja Cekidot!!

#Warning : Mungkin FF ini bertemakan Serius, Ada beberapa kalimat yang menggunakan bahasa asing, Alur seadanya. But pokoknya,

Happy Reading!

Part Sebelumnya :
Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

08.30 pm KST – Saturday, September 22nd 2012
Lee’s Old Mansion, Anyang

Beberapa box pizza terbuka dengan lebarnya serta botol-botol cola yang masing-masing tersisa setengah, setia menemani member Black Soshi–minus Jessica. Home Theater on Saturday Night usulan Yoona berhasil membuat rasa suntuk hilang dalam seketika. Hening. Film bergenre Sad-Romance dipadu Action yang sedang diputar sukses membuat mereka semua terpaku, sampai-sampai mereka terdiam, hanya fokus terhadap layar 49 inch, pizza serta cola dihadapan mereka.

Akhirnya, film berdurasi kurang lebih 2 jam itu selesai berbarengan dengan ludes(?)nya pizza dan cola mereka. Dan kini, mereka sedang menonton acara reality show mingguan favorite mereka sembari mengobrol satu sama lain.
Ditengah-tengah obrolan mereka, Seohyun melirik jam lalu bertanya pada member Black Sohi lain, “Eonnie, apa mereka sudah sampai?”

“Wakaranai… (Tidak tau)”

“Wae?” Seohyun menggeleng dan berkata “Ani, geunyang, Minho bilang setelah samapai nanti, ia akan mengabari”.

Mendengar itu, Tiffany mulai merasakan feeling buruk dihatinya, ikut berucap “Lebih baik kau hubungi Minho. I’m afraid something happened” Seohyun pun beranjak dan mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.

“Yoboseo, MinsPector”

“Ya Seo Joo Hyun! Mengapa kau menelpon disaat seperti ini?! Aiissshh!” Seohyun mengerutkan keningnya mendengar raut suara khawatir dan sedikit panik yang dilontarkan Minho disebrang sana.

“Apa maksudmu? Dimana kau sekarang Choi Minho?”

Newark International Airport, New York

Di area pintu keluar bandara, seorang yeoja dengan rambut blonde memegangi lengan kirinya yang sepertinya terluka–terlihat dengan bercak darah di jaketnya–diikuti seorang namja dengan garis wajah yang tegas namun menampakkan raut khawatir, menyeret 2 koper medium size dan sebuah tas dibelakangnya.

Kriiingg..! Krriiiinngg!

Ponsel namja itu berbunyi. Dengan segera, ia menekan tombol hijau di ponselnya. Tak beberapa lama, terdengar suara dari sebrang sana “Yoboseo, MinsPector”. Mendengar itu, Minho memekik “Ya Seo Joo Hyun! Mengapa kau menelpon disaat seperti ini?! Aiissshh!” dibalik pekikan itu, tersirat raut khawatir yang bisa ditebak siapapun yang mendengarnya.

“Apa maksudmu? Dimana kau sekarang Choi Minho?”

“Aku… Aissh! Jessica tertembak! Aku dibandara! Sudahlah!” Minho menutup sambungannya. Entah mengapa ia sangat khawatir akan keadaan yeoja didepannya sekarang ini. Dan entah mengapa juga, hal itu mempengaruhi rasa emosionalnya
Keduanya tampak berjalan tergesa sampai mereka berhenti tepat di depan sebuah mobil tipe sedan mewah keluaran BMW yang tak lain tak bukan adalah mobil kepunyaan yeoja itu, Jessica.

“Give me the key (Berikan aku kuncinya)”

“In my bag pouch (Dikantung tasku)” Minho merogoh kantung depan tas putih berbordir JJ yang ia pegang sedari tadi. Setelah Minho menemukan kunci mobil Jessica, mereka langsung masuk kedalam mobil itu.

Segera, Jessica mengikat rambutnya, membuka jaket hijau tuanya, menyisakan baju rajutan cream yang lengannya digulung sampai pundak, serta mengeluarkan kotak P3K dari tasnya dan mulai mengobati luka tembak dilengannya. Sementara Minho, ia bersiap menjalankan mobil Jessica keluar dari area bandara, dan bertanya-tanya arah untuk mencapai Kantor cabang Black Eyes didaerah Downtown, New York City. “Jessica-ya, jalan mana yang harus ku ambil?”

Jessica melirik Minho sejenak, “Kau bisa lihat GPS nya” lalu kembali kepada kegiatannya. Ia sudah menyuntikkan obat bius ke lengan kirinya, tangan kanannya pun sudah memegang pinset untuk mengambil peluru berdiameter 5,8 mm yang masih bersarang dilengan kirinya.

“Akh!” Jessica meringis pelan, oprasi kecilnya berhasil. Peluru itu berhasil keluar ditemani bercak darah disekelilingnya. Minho yang melihatnya mulai menyetir tidak tenang. Bagaimana bisa Jessica terkena tembakan? Pikirnya.
Minho memutar kejadian beberapa menit yang lalu.

Orang yang mencurigakan diarah pukul tujuh. Tak beberapa lama, Minho mendengar Jessica memekik di walkie-talkie nya. Dan setelah itu, orang tersebut menghilang. Minho pun menoleh ke arah lorong tempat toilet berada, matanya menangkap Jessica kembali masuk toilet wanita, bertepatan dengan keluarnya Donghae dari pintu toilet pria. Ia yakin sekali kalau Donghae menjadi incaran orang itu. Yang menjadi pertanyaannya adalah; Mengapa Jessica yang tertembak? Dan bagaimana bisa orang tersebut meluncurkan peluru terpaut jarak 50 meter lebih dari tempatnya dengan hanya mengandalkan handgun?

‘Pasti penembak jitu. Aku yakin itu’

Jessica berkata sesuatu yang membuat gambaran Minho akan kejadian sebelumnya buyar “Choi Minho, I think that… Luka tembak ini harus di jahit” Jessica menunjukkan lengan kirinya yang berbalut perban putih, namun tetap mengeluarkan banyak darah “See?”

“Dimana rumah sakit terdekat?”

“Aniya, kita kerumah temanku. Cukup keluar tol Lincoln Hwy, berbelok di Marin Blvd., dan Montogomey St., lanjut di Greene St. Atau jika bingung, check GPS dan search dengan keyword Hee’s Apartment” Minho yang mendengarnya hanya mangut-mangut mengerti. Jika boleh jujur, Minho akan mengaku bahwa ia tidak terlalu tau jalan didaerah Jersey, tempat mereka berada sekarang ini.

“Menyetirlah dengan baik Minho, aku mau tidur”

08.45 am UTC (NY)
Greene St., Jersey

Sudah lebih dari 30 menit yang lalu mereka sampai ditempat tujuan. Tapi mereka belum kunjung turun dari mobil yang mereka tumpangi, lantaran Jessica yang masih tertidur pulas di jok belakang dan Minho yang enggan membangunkan Jessica. Bahkan entah mengapa mata Minho tidak lepas dari wajah Jessica yang terlihat innocent saat tidur.

Mata Minho melirik lengan kiri Jessica. Warna perban yang semula putih itu telah bergantikan merah darah. Seketika, Minho bertekad untuk membangunkan Jessica. Bagaimanapun juga, luka tembak itu harus segera dijahit, tidak mungkin dibiarkan bergitu saja karna akan membuat Jessica kehilangan sebagian darahnya. Dan Minho tidak mau hal itu terjadi.

“Jessica-ya, ireona” Minho mengguncang pelan tubuh Jessica. Dan itu membuat sang empunya tubuh menggeliat pelan dan terbangun dari tidurnya. “Apa kita sudah sampai?”

“Sejak 30 menit lalu, Nona”

“Aish! Mengapa kau tidak membangunkanku?!” Jessica menggerutu kesal, ia segera memakai jaket tebalnya dan turun dari mobilnya. Dan sebelum ia mebutup pintunya, ia berkata sesuatu. “Parkirkan mobilku dibasement. Aku tidak mau mobilku ditilang. Kutunggu kau di lobby”

Minho hanya menurutinya. Setelah selesai Minho segera menuju lobby. Dan Minho mematung sejenak, melihat Jessica tersenyum senang bersama dengan namja yang tak dikenalnya. Momen langka bagi Minho karna biasanya ia hanya melihat ekspresi datar Jessica. She more beauty with that smile, batinnya.

“Minho-ya! Yeogi!” Minho tersadar saat Jessica memanggilnya. Minho pun menghampiri Jessica dan namja yang tak dikenal Minho itu.

Jessica mulai mengenalkan kedua namja yang tidak saling mengenal itu “Minho-ya ini temanku, Kim Heechul. Divisi 1 Medical in Black Eyes America. Dan Heechul oppa, ini Choi Minho. Chief Inspector Black Eyes Korea” Baik Minho maupun Heechul, saling berjabat tangan. Dan setelahnya Heechul berpaling pada Jessica “Mari kita ke apartmentku, kajja!” Heechul merangkul pundak Jessica, dan itu membuat Jessica meringis kesakitan. “Neo gwenchanna?”

“Eobseo. Lengan kirinya tertembak. Maka dari itu kami kesini karna luka tembaknya harus segera dijahit” ucap Minho. Sebagai respon, Heechul hanya memangutkan kepalanya, dan segera mengajak Jessica serta Minho naik ke apartmentnya guna menjahit luka tembak Jessica.

***

“Tahan, sedikit lagi selesai” Heechul mencoba menenagkan Jessica yang merintih kesakitan. Ini aneh, walalupun lengan kiri Jessica sudah dibius, namun tetap saja Jessica masih merasakan sakit saat proses penjahitan.

“Cha, sudah selesai. Tapi sebaiknya kau minum obat penambah darah. Darahmu banyak yang terbuang sepertinya” Heechul memberikan botol kecil yang didalamnya terdapat banyak capsul merah. Jessica hanya mengiyakan perkataan Heechul tanpa berkomentar apapun. Aku benci obat, pikirnya.

“Oppa, apa kau punya makanan? Aku lapar”

“Aku punya lasagna, aku baru selesai memasaknya sebelum kalian datang” ucap Heechul seraya berjalan ke arah ruang makan diikuti Jessica dan Minho. Dan mereka akhirnya makan bersama disana. Ditemani suara dentingan sendok dan piring yang beradu.

Selesai makan, Jessica menawarkan diri untuk mencuci piring. Awalnya, baik Heechul maupun Minho tidak mengizinkannya lantaran lengan kiri Jessica yang terluka itu. Tapi pada akhirnya 2 namja itu mengalah atas keras kepalanya Jessica. “Aish, sudahlah oppa, mengobrol saja diruang tamu ne?” Jessica melemparkan senyumanya pada Heechul, dan Minho yang melihatnya hanya terheran-heran.

“Apa dia selalu tersenyum didepanmu?” ucap Minho saat ia dan Heechul duduk di ruang tamu. “Aniya, tidak hanya denganku, dengan orang-orang yang menurutnya bisa membuatnya nyaman dan terlindungi. Walaupun hanya sesekali”

“Maksudmu?”

“Dia hanya terseyum untuk orang yang bisa membuatnya nyaman dan terlindungi” ulang Heechul. “Dibalik kesan dingin yang selalu diperlihatkannya, Jessica sebenarnya bisa diibaratkan bagai barbie kaca yang rapuh. Bahkan aku pernah memergokinya menangis saat tengah malam. Ia punya masa lalu kelam yang aku tidak tau itu apa, yang membuatnya selama ini jarang mengukir senyuman indah. Maka dari itu jika aku melihatnya tersenyum, aku akan sangat bersyukur didalam hati” Minho tercenggang, Sebegitu besarnya dampak akan masa lalu yang dialami Jessica? Dan lagi, apa hubungan Heechul dan Jessica?

Downtown, New York

Limousine hitam produksi Mercedes Benz terlihat berjalan diantara mobil-mobil lain yang memadati jalanan Downtown. Didalamnya, terdapat 3 orang namja belasan dan seorang namja dengan setelan jaz yang sedang membolak-balikkan sebuah buku catatan.

“Pukul 10.30 ; meeting bersama beberapa pemegang saham serta kontraktor. Tolong pelajari ini” Donghae menerima beberapa kumpulan kertas semacam makalah, dan mulai membacanya. “Hanya ini?”

“Ne tuan muda, dan setelah itu anda akan survei lahan perumahan baru yang dibahas dalam meeting”

“Eodie?” ucap Donghae dengan mata yang masih fokus pada makalah ditangannya.

“Los Angeles”

***

Donghae, Kyungsoo dan Jonghyun sudah sampai ditempat yang akan mereka jadikan tempat bermalam selama di Amerika. Kyungsoo sedang merapikan barang bawaannya, Donghae sedang duduk sembari mempelajari bahan untuk meetingnya. Sementara Jonghyun, ia berada di balkon dengan ponsel ditelinganya.

“LA? Mengapa bisa?”

“Asisten sementaranya bilang kalau ada survei lahan untuk perumahan disana”

“Kalian ikut dengannya?” Jonghyun diam, berfikir keras. Ada beberapa detik kosong sebelum ia bersua lagi “Entah. Menurutku sih ikut”

“Jjong seriuslah!”

“Hei aku benar-benar tidak tau! Lagipula–”

“Lagipula apa? Kau mau kejadian beberapa jam lalu terulang?! Lalu misi kita gagal?! Kita tidak bisa begitu saja mengandalkan bodyguard, walaupun mereka ada banyak, mereka hanya tau kejadian yang ada didepan mata! Tidak tau menau tentang apa yang terjadi. Jika dibiarkan, nantinya malah pertumpahan darah yang terjadi! Aish, kau ini! Berfikirlah sedikit lebih matang Kim Jonghyun” Jonghyun diam, benar ucapan lawan bicaranya bahwa mereka tidak dapat mengandalkan bodyguard semata. “Lalu bagaimana Minho-ya?”

“Calm down a bit, Jjong. Seunghyun-nim sudah mengambil langkah setelah mendengar insiden di Newark. Yoona, Taeyeon, Hyoyeon serta Sooyoung sedang dalam perjalanan. Dan setelah ini aku akan memberitahukan bahwa mereka harus memutar haluan ke LA”

“Tapi–”

“Tidak ada tapi-tapian! Ikuti saja anak itu, dan lindungi dia!” Minho memutuskan sambungan telponnya sebelum Jonghyun menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya ia hanya ingin menanyakan mengapa tidak ada orang dari divisi medis yang dikirimkan?
‘Drrt drrrt’ – ponsel Jonghyun bergetar tanda sms masuk. Segera ia membacanya, dan berdecak malas.

From : Minho
Don’t forget to make sure the boy wear a bullet-proof suit that I give you, before you go. (Jangan lupa pastikan anak itu memakai setelan jas anti peluru yang aku berikan padamu, sebelum kalian pergi)

“Jonghyun-ah! Eodiga?! Cepat siap-siap! Kau mau ikut tidak? Kita akan berangkat 15 menit lagi!” sebuah teriakan membuat Jonghyun kembali berdecak.

Ia pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap dan tak beberapa lama Jonghyun keluar dengan penampilan yang berbeda dari semula. Rambut acak, kaus tanpa lengan, celana jeans serta sneakers telah tergentikan dengan kemeja merah maroon dengan 2 kancing teratas dibuka dilapisi setelan jas hitam, celana senada dan sepatu kulit, bahkan rambut coklat pekatnya sudah tidak acak-acakan lagi. Tak lupa ia membawa setelan jas hitam untuk diberikan kepada Donghae.

“Oi Tuan muda Lee! Pakai yang ini saja. Ini lebih bagus dengan kemeja kotak-kotak putihmu” Jonghyun menyodorkan Donghae apa yang ada ditangannya. Sejenak Donghae menimang 2 setelan jas dihadapannya. Donghae meraba jas yang ia pilih sebelumnya “Cream, halus, hangat, glow” dan berpaling pada jas yang dibawa Jonghyun “Hitam, lebih halus dan hangat, cool and glow”

“I choose this” Donghae akhirnya memakai jas yang dibawa Jonghyun. Tak beberapa lama, Kyungsoo keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sama. Bertepatan dengan itu, Asisten sementara Donghae datang dengan beberapa bodyguard dibelakangnya. Dan merekapun pergi meninggalkan Hotel yang didirikan atas nama Lee’s Group itu.

11.00 am UTC (NY)
Downtown, New York

Minho melirik 2 manusia dihadapannya dengan tatapan yang sama sekali tidak dapat diartikan. Bosan? Malas? Risih? Atau mungkin Cemburu? Enyahlah itu jika cemburu. Yang pasti ekspresinya tidak dapat diartikan.

Jessica dan Heechul. Sejak awal mereka berangkat dari rumah Heechul, kedua manusia itu tak henti-hentinya berbincang, walau kemudi mobil sedang dipegang Heechul.
“Seberapa jauh lagi?” tanya Minho yang mulai jengah. “Dua blok lagi dari sini” jawab Heechul.

“Oh ya, bagaimana bisa mobilmu ada di Newark?” Heechul mulai membuka pembicaraan–lagi–dengan Jessica. Dan entah itu karna reflex, ataupun apa, Jessica menjawabnya disertai senyuman mengembang yang membuat Minho makin merasa aneh.

Bebeapa saat kemudian, sampailah mereka disebuah gedung perkantoran yang tinggi menjulang dengan belasan lantai. Orang-orang berpakaian rapi–rata-rata berjas–sibuk hilir mudik disana. Minho, Heechul dan Jessica pun masuk kedalamnya.

“Minho-ya, Heechul oppa, kalian tunggu saja disini, aku tak akan lama” Jessica pergi meninggalkan 2 namja itu dan bergegas naik ke lantai 10, dimana ruangannya berada. Sementara Jessica pergi, Minho mulai membuka pembicaraan dengan Heechul. “Tidak terlalu berbeda dengan di Seoul. Apa penyamaran yang dilakukan disini?”

“Sama dengan kantor pusat tempatmu, Trading Company” jawab Heechul. Kemudian mereka terdiam, tidak ada yang meneruskan pembicaraan itu lagi. Sampai Jessica datang menghampiri mereka dengan sebuah tas kertas berisi banyak CD-Rom dan Disket. Dan merekapun pergi meninggalkan gedung perkantoran itu, dengan kemudi yang dikuasai oleh Jessica.

Sekitar hampir dua jam perjalanan, mobil BMW itu kembali sampai di Newark International Airport. Mengetahui itu, Minho mengeluarkan protesnya lantaran heran karna beberapa jam lalu, “Apa kau tidak salah? Mengapa kita kemari lagi?”

“Los Angeles is my destiny for now”

Beberapa jam kemudian…
Pemakaman, LA

Sinar oranye dari matahari senja seakan menyinari seorang gadis yang berjalan memasuki area pemakaman dipinggiran kota Los Angeles. Dengan membawa 3 bucket lili putih ditangannya, gadis itu menuju 3 makam yang berdekatan.

“Mom, Dad, Soojung-ah, I’m coming”. Gadis itu berlutut dan menaruh bunga lili yang ia bawa didepan masing-masing nisan sembari tersenyum getir, “Soojungie, eonnie membawakan bunga favoritemu”. Gadis itu menambahkan “Maaf aku baru dapat berkunjung kesini. Kalian baik-baik saja bukan di surga sana?”

Matanya mulai berkaca-kaca, bulir-bulir bening pun sudah mengalir disana. Gadis itu menangis. Namun ia tetap beucap disela-sela tangisnya “Sudah 10 tahun aku hidup tanpa kalian. Aku sangat merindukan kalian. Tapi aku tau kalian selalu mengawasiku diatas sana bukan?”

Gadis itu menambahkan “Akhir-akhir ini, aku sedang menangani sesuatu yang jalannya mirip dengan kejadian 10 tahun lalu. Dan… aku berharap akulah incarannya, bukan dia”. Buliran bening dari mata gadis itu makin deras keluar. “Aku yakin akan itu. Entah mengapa. Karna itu… tolong siapkan tempat untukku disurga sana”

Gadis itu mengusap-usap ketiga nisan itu secara bergantian, dan melanjutkan kembali kalimatnya dengan pelan seperti bisikan “Andai saja saat itu aku tidak sembunyi…”. Gadis itu berdiri, mengusap air matanya “Eomma, Appa, Soojungie, maaf aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus pergi sekrang. Aku pasti akan berkunjung lagi. Annyeong, I love you”

Gadis itu mulai melangkah pergi dengan merunduk menelusuri jalan setapak untuk keluar dari area pemakaman. Beberapa langkah lagi sebelum melewati pintu gerbang seorang namja berdiri tepat dihadapannya yang membuat gadis itu berhenti, tanpa mendongak ia berkata “Excuse me”
Namja itu terlihat kaget melihat gadis dihadapannya. “Apa yang kau lakukan disini… Jessica?”

Bagai tersambar petir gadis itu terkaget. Perlahan ia menatap namja dihadapannya. Tak berucap satu kata pun. “Aku hanya menunjungi makam kerabatku”. Berbohong. Hanya itu yang dapat gadis itu–Jessica–lontarkan agar identitas aslinya tak terbongkar.

“Kalau begitu… Bisa kau temani aku melakukan hal yang sama denganku?”
Namja itu–Donghae–menarik tangan Jessica. Dan Jessica lagi-lagi tersentak. Donghae membawanya kembali.

“Annyeong haseo eommanim, abeonim dan Soojung-ah. Bagaimana kabar kalian disana? Maaf aku baru sempat kemari–”

Jessica berdiri mematung. Hanya diam melihat Donghae yang seakan mengajak bicara ketiga jasad yang terpendam didalam tanah sana. Melihat pula sorot mata Donghae yang terlihat sedih namun tetap menampakkan senyum diwajahnya.

Sekitar 15 menit, Donghae akhirnya berpamitan. “Eommanim, Abeonim, Soojung-ah, sudah waktunya aku dan temanku ini pamit. Lain kali aku akan kemari bersama appa. Annyeong”
Jessica berjalan keluar area pemakaman diikuti Donghae dibelakangnya. Beberapa langkah lagi sebelum mereka keluar dari area pemakaman, Donghae berhenti, menatap punggung Jessica yang berjalan didepannya. Walaupun dari punggung saja, Donghae sudah bisa tau bahwa gadis dihadapannya itu sangat sedih tanpa alasan yang ia ketahui.

Donghae mengedarkan pandangannya, ia melihat bangku panjang seperti bangku taman. Sebuah ide terlintas begitu saja dibenaknya.

“Mau menenangkan diri?” Jessica menghentikan jalannya, berbalik menatap Donghae dengan tatapan bingungnya. Donghae menampakkan senyumannya, dan mengajak Jessica duduk di bangku panjang.

Mereka berdua hanya diam. Mengamati pemandangan di hadapan mereka. Area Pemakaman di perbukitan ini tak disangka dapat menyuguhkan pemandangan indah. Hamparan kota Los Angeles yang dikelilingi perbukitan, burung-burung yang berterbangan, tulisan Hollywood yang terpampang menjadi ciri khas kota ini, ditambah langit senja oranye yang menyinari semua itu. Menambah kesan indah yang tidak dapat dilewatkan begitu saja.

“Aku baru menyadari LA bisa seindah ini” ucap Donghae. Jessica tidak mengubrisnya, ia hanya terpaku dengan pemandangan dihadapannya sembari memejamkan mata, mendengarkan kicauan burung disekitarnya. Namun pendengarannya menangkap sesuatu yang tak beres. Spontan saja Jessica merundukkan kepalanya dan Donghae secara bersamaan sambil berteriak “Merunduk!!”

Keduanya menyembunyikan kepala dibalik sandaran bangku yang mereka duduki. Dan selang beberapa detik, sebuah peluru melesat dengan sangat cepat diatas kepala mereka. Jessica yang menyadarinya, mengeluarkan handgun yang selalu ada dikantung dalam jaket tebalnya. Mulai menembaki kearah peluru tadi berasal.
Donghae mencoba mendongak, berusaha melihat dan mengetahui apa yang terjadi. Namun tangan Jessica menahannya. “Tetaplah merunduk bodoh!” bentak Jessica sembari terus menembak.

Jessica berhenti, sedikit mendongak mengedarkan pandangannya dan mengecek keadaan, kemudian kembali merunduk saat medengar letupan shotgun dari arah baratnya. “Dengar aku, saat penembak itu tidak menembak lagi, kita harus bergerak ke mobilmu. Kita hanya punya satu kali kesempatan. Saat peluru shotgunnya habis”. Jessica kembali menembak dan merunduk, mengisi 6 pelurunya yang sudah kosong “Ini sudah peluru kesebelas, sekali lagi…”

Jessica kembali menembak, memancing ‘penembak’ itu untuk menembak peluru terakhirnya. Dan sesuai dugaan, peluru itu kembali melesat hampir mengenai kepala Jessica.

“Sekarang!” Jessica menarik Donghae, berlari. Akan tetapi terdengar sebuah tembakan lagi yang membuat mereka terhenti dan berlindung dibalik batu besar terdekat. Saat Jessica melirik ke arah suara tembakan itu, terdapat Hyoyeon, Yoona dan Taeyeon yang sedang adu tembak dengan ‘penembak’ itu.

Walkie-talkie berbentuk pin yang tertempel di baju Jessica berkedip, menandakan ada panggilan, dan tak beberapa lama terdengar suara disana. “Jessica, bawa Donghae pergi dari sini, Sooyoung sudah menunggu di mobil! Kami akan mengalihkan perhatian!”

***

“Micheo! Percobaan pembunuhan ini benar-benar aneh!”

Sooyoung. Begitu ia disapa. Sedang menggerutu tak jelas sembari mengendarai mobil sewaannya menuju kawasan pinggiran kota Los Angles. Bersama 2 orang lainnya, sebut saja Jessica dan Donghae.

“Percobaan pembunuhan? Apa maksudmu?” Donghae memapilkan wajah bingungnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Percobaan pembunuhan apa? Siapa yang akan dibunuh?. Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berseliweran diotaknya tanpa ada satupun yang terjawab.

“Apapun itu yang jelas bukan urusanmu” ucap Jessica dingin, disusul dengan anggukan setuju dari Sooyoung. Karena baik Sooyoung, Jessica ataupun yang lain sependapat bahwa Donghae tidak boleh tau apa yang terjadi sebelum semuanya terselesaikan.

“Kita mau kemana?”

“Gas station”

“Untuk?”

“Heissh anak ini! Sudah diam saja!!” Sooyoung memekik, ia mulai frustasi dengan pertanyaan yang menurutnya tidak perlu dijawab itu.

‘Trililiit triliiliiit

Ponsel Sooyoung berbunyi, panggilan masuk. Sooyoung menekan tombol kecil di bluetooth stereo headset yang sudah berada ditelinganya sejak tadi. “Yoboseo”

“Yoboseo Sooyoung-ah, dimana kau?”

“Dalam perjalanan menuju pom bensin terdekat, Yoon. Bagaimana dengan pemenbak itu?” jawab Sooyoung dengan masih tetap fokus mengendarai mobilnya.

“Ia menghilang setelah mendapat 2 tembakan di kaki kanannya. Ada sebuah mobil yang menjemputnya. Aku rasa ini hanya semacam April Fool. And… You know huh? Aku dan Hyoyeon menemukan sebuah transmitter di bawah mobil Donghae, juga Jessica”

“Transmitter? Tato-eba? (Seperti apa?)” Sooyung mulai menyetir tak tenang lantaran mendengar berita yang ia dengar itu

“Taeyeon eonnie bilang semacam alat pelacak”

“Hontoni? (Benarkah?)” Sooyoung membelalakkan matanya. Bagaimana bisa alat pelacak berada disana? Pikirnya.

Sooyoung beralih pada Jessica dan Donghae yang duduk dibelakang. “Dimana kalian menyewa mobil tadi?”

“Dua blok dari Los Angeles Airport” Jessica dan Donghae berucap bersamaan, dan jelas saja entah mengapa Sooyoung mual mendengarnya. Namun Sooyoung menghiraukan itu, dan beralih pada Yoona. “Sekarang kalian dimana?”

“Baru keluar dari area pemakaman. Kami memakai mobil yang dibawa Donghae dan Jessica, tenang saja Transmitternya sudah kami lenyapkan. Dan sekarang kami harus menuju kemana?”

Sooyoung sedikit berfikir, ia tidak tau banyak tentang tempat aman di LA. Sooyoung lagi-agi beralih pada Jessica. “Jessica, sebaiknya kita kemana setelah ini?”

“Jangan dipikirkan, lebih baik kau menyetir sampai pom bensin dan setelah itu aku yang akan mengambil alih kemudi. Dan beritahu Yoona agar ia bergegas pula ke pom bensin”

Donghae baru keluar dari sebuah ruangan. Toilet. Dan ia menuju sebuah mobil yang terparkir manis tak jauh dari posisinya.

Belum sesampainya, Donghae terhenti lantaran sebuah tangan kecil menarik ujung bajunya. Reflex, Donghae menoleh dan ia mendapati seorang anak perempuan dibelakangnya.

“Excuse me, do you see a grandma wearing brown dress? (Permisi, apa anda melihat seorang nenek yang memakai dress coklat?”

“I’m afraid I don’t, why? (Sepertinya tidak, mengapa?)” Donghae sedikit merunduk, mensejajarkan tingginya dengan anak itu. “Are you lost?” tanya Donghae dan dibalas anggukan kecil dari anak itu.

“Where is your house? I’ll take you home (Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang)” ucap Donghae pada anak itu. Anak itu langsung memberitaukan dimana alamatnya. Dan mereka pun pergi mendatangi sebuah mobil yang didalamnya sudah ada Taeyeon, Sooyoung dan Jessica. Dan terlihat pula 3 mobil lain dibelakangnya.

“Who is she?” tanya Jessica, langsung mengintrogasi Donghae yang membawa anak kecil tak dikenal itu.

“Dia tersesat. Bisakah kita mengantarnya? Aku kasihan padanya” Jessica hanya menghembuskan nafasnya. Mengangguk pasrah menerima permintaan Donghae. Tak ada salahnya bukan menolong anak yang tersesat?

Mobil yang dikemudikan Jessica berhenti tepat disebuah bangunan tua dengan komponen kayu yang kokoh yang terletak didaerah pinggiran LA. Berdasarkan alamat yang diperoleh dari gadis kecil itu, alamat ini memang mengarah ke bangunan itu.

Beberapa detik berselang, 3 mobil yang masing-masing di kemudikan Kyungsoo, Hyoyeon dan Yoona sudah terparkir manis didepan bangunan tua itu. Mereka pun juga sudah keluar dari mobil masing-masing. Namun dalam sekejap, pandangan mereka tertuju pada seorang wanita paruh baya membuka pintu bangunan tua itu dengan raut wajah yang terlihat khawatir.

“Caroline! Where have you been sweetheart?” wanita paruh baya itu merengkuh tubuh gadis kecil yang bersama Donghae sebelumnya.

“So, the girl already meet her grandma. Can we go now? (Jadi, anak itu sudah bertemu neneknya. Bisakah kita pergi sekarang?)” ucap Jessica.

“Why so hurry? I must thank to you. So, come in and have a tea! (Mengapa terburu? Aku harus bertrima kasih padamu. Jadi, masuklah dan minum teh!)”
Donghae dan yang lain mengangguk setuju dan masuk kedalam bangunan tua itu mengikuti gadis kecil dan neneknya tersebut. Sementara Jessica ia hanya pasrah, mendesah pelan dan mengikuti yang lainnya. Ini akan lama, pikirnya.

Donghae dan yang lainnya membelalakkan mata begitu mereka masuk. Anak-anak kisaran 2 – 9 tahun berada disekeliling mereka. Raut wajah mereka–anak-anak–terlihat khawatir, namun setelah melihat sosok gadis kecil yang di temukan Donghae sebelumnya, wajah polos khas anak-anak itu berubah. Ekspresi senanglah yang ada terlukis disetiap anak. Senang akibat teman mereka yang beberapa jam lalu menghilang ditemukan.

“Exactly, what place is this? (Sebenarnya, tempat apa ini?)” tanya Kyungsoo yang kebingungan atas banyaknya anak-anak disekelilingnya. “It looks like a orphange. I and my friend caring some child here. The child who discarded and have no place to stay (Seperti panti asuhan. Aku dan temanku merawat beberapa anak disini. Anak yang dibuang dan tidak punya tempat untuk tinggal)”

***

Jessica duduk di sofa dipojok ruangan. Melihat kearah teman-temannya yang asik bercengkrama dengan anak-anak disekelilingnya. Donghae dan Kyungsoo menirukan aksi super hero ala Amerika pada sebagian anak. Hyoyeon, Yoona dan Sooyoung, pertunjukan boneka kaus kaki. Jonghyun, bernyanyi. Dan Taeyeon, mendongeng. Semua itu dilakukan untuk menyenangi anak-anak kurang beruntung tersebut. Namun Jessica tidak berbuat apa-apa, ia hanya menampakkan senyum tipisnya, ia bingung harus berbuat apa untuk anak-anak itu.

“Mengapa kau tidak bergabung dengan yang lain?” sebuah suara mengagetkan Jessica. Teman dari wanita paruh baya itu duduk disampingnya. Seorang wanita Korea yang menghabiskan semasa hidupnya di negara bagian barat ini. Tak heran kalau ia bisa berbahasa Korea dengan lancar.

“Aku tidak tau harus berbuat apa”

“Hmm… Kalau begitu, siapa namamu?”

“Jessica” Jessica menjawab dengan singkat, dan entah mengapa itu membuat wanita paruh baya tersebut tersenyum. Wanita itu pun pergi sejenak, kembali membawa sebuah album foto usang dan menyodorkannya pada Jessica.
Jessica pun membuka lembaran demi lembarannya dengan perlahan. Jessica terhenti, menatap sebuah halaman yang menampilkan sebuah foto yang–sepertinya–pernah dilihatnya entah dimana. Foto 2 orang anak laki-laki kembar yang tersenyum.

“Mereka Jonathan dan Jacob. 2 anak yang kutemukan di pinggiran jalan. Saat aku menemukanya mereka baru berumur 2 atau 3 hari. Kasihan sekali”
Wanita tua itu menatap Jessica sejenak, “Kau mengingatkanku pada mereka. Mata dan hidungmu sangat mirip dengan mereka”

“Jacob sangat pintar dalam perhitungan. Tapi Jonathan sangat pintar dalam teknologi, aku ingat saat itu Jonathan berumur 7 tahun, ia bisa membetulkan mesin ketikku dengan sempruna” ucap wanita itu sembari terkekeh pelan. “Hah, tapi Jacob lebih dulu meninggalkan kami. Ia diadopsi oleh sepasang suami istri yang tidak mempunyai keturunan. Sementara Jonathan diadopsi oleh seorang duda selang 2 tahun setelah Jacob” tambahnya.

Jessica hanya mengangguk pelan sembari membolak balik halaman album foto usang itu. Sampai sebuah pertanyaan membuatnya terhenti.

“Jessica, apa kau anak dari Jonathan atau Jacob?”

To Be Contiuned

Haduh, kayaknya disini ngga ada nyelip momen TaeTeuk ato KyuYoung ya? Sama kebanyakan bahasa inggris sepertinya… ._. Jweseonghamnida *bow
Dan lagi, panjang banget pula >< Ketauan author amatiran -_-b

Buat yang minta adegan berantem di Chapter sebelumnya, Author usahain lebih banyak di Chapter selanjutnya ne? Jweseongieyo *deepbow

Tapi gimana? Bagus? Amburadul? Typo? Berikan komentar kalian! *maksa._.v
Sekalian minta kritik plus sarannya please… Karna kayaknya makin kesini makin sedikit yang comment😦

Oh ya, yang mau ngobrol sama author langsung check ini aja @YoungKkuma *promosi._.v
Udah deh, Annyeong! See ya on the next chapter of Black Soshi! ^^

15 thoughts on “Black Soshi 5정 – Surprisingly

  1. Ping-balik: Black Soshi 6정 – Disc and Twins | Twinklesupergeneration

  2. Ping-balik: Black Soshi 7정 – Game Over (Part B) [FINAL CHAPTER] | Twinklesupergeneration

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s