Black Soshi 6정 – Disc and Twins

HaeSica 6

Title :
Black Soshi

Sub-Title :
6정 – Disc and Twins

Author :
Cho Hyeyoung

Main Cast :
– Jessica Jung
– Lee Donghae

Other Cast :
– Choi Minho
– Do Kyungsoo
– Kim Jonghyun
– Choi Sooyoung
– Kim Taeyeon
– Choi Seunghyun
– Park Jungsoo
– Unknown Character
– And Other…

Type :
AU, Chaptered

Genre :
Suspense, Friendship, Romance, dll~

Rating :
T (Teenager)

Poster :
Cho Hyeyoung

Disclaimer :
Plot is My and the Characters are belong to God
And DO NOT TRY TO RE-POST MY FANFICTION!!

Jweseonghamnida kalau ada yang tidak suka dengan pairing di dalam Fan Fiction ini *deepbow

Sedikit Curcol,
Maaf banget buat reader-deul karna kelamaan nge-post, Author punya banyak tugas akhir-akhir ini😥 Hueeeee ><

#Warning : Mungkin FF ini bertemakan Serius, Ada beberapa kalimat yang menggunakan bahasa asing, Alur seadanya. But pokoknya,

Happy Reading!

Part Sebelumnya :
Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

09.15 pm UTC (LA) – Saturday, 22nd September 2012
Jessica’s Old House, Los Angeles

Berada disebuah ruangan tertutup, sendirian dengan mata terpaku pada monitor, jari-jari menari di atas keyboard, rambut blonde yang sudah acak. Begitulah gambaran keadaan Jessica sejak satu jam lalu. Mencoba satu demi satu program yang ia kembangkan untuk crack. Mencoba mengetahui apa isi dari micro disc mencurigakan yang ditemukan bersama bangkai kelinci.

Ini sudah software yang ke 23, dan belum menunjukkan hasil yang diinginkan. Sekalinya ia dapat mengaksesnya, tidak ada apapun didalamnya. Tapi Jessica tidak menyerah, ia yakin bahwa terdapat sebuah ataupun beberapa file didalamnya, karna space kosong didalam micro disc itu 2,9 Gigabyte sementara jika benar-benar kosong micro disc itu seharusnya mempunyai 3,6 Gigabyte space.

‘Tok tok tok. Sebuah ketukan pintu membuat Jessica terhenti sejenak, “Ada apa?”

“Tiffany ingin bicara denganmu!” pekik Sooyoung diluar sana

“Sambungkan saja, Sooyoung-ah” balas Jessica. Jessica beralih dari komputer dan menyalakan PC-Tab nya. Tak beberapa lama munculah wajah Tiffany disana.

“Ada apa?”

“Apa sudah bisa Jessie?” Jessica menghela nafas, menatap monitornya dengan tatapan malasnya dan kembali pada tabnya. “Hh, tidak adakah pertanyaan lain? Tentu saja belum. Ini lebih rumit dari yang kubayangkan”

“Sudah coba semua software nya?”

“Hampir semuanya sudah kucoba. Dan hasilnya nihil. Tak ada file didalamnya. Apa mungkin ini semacam fool?” Jessica berfikir sejenak, dan melanjutkan “Tapi tak mungkin, micro disc itu sudah terisi sebagiannya”

“Hidden File?”

“No way. No one hidden in there. Aku sudah check” Jessica kembali memelas. Sampai sebuah deringan ponsel terdengar. Panggilan masuk.

Ia menatap tab nya sejenak, “Fany-ya, jamkkaman”. Tiffany hanya mengangguk meresponnya. Dan Jessica segera menekan tombol hijau disana, mendekatkan ponsel dan telinganya lalu berkata “Hello, who is this?”

“Sica-ya! Tolong buka gerbangnya” ucap seseorang disebrang sana. Suara ini… “Heechul oppa?!”

***

Jessica berlari kecil menuju gerbang utama rumahnya. Jangan heran, jarak antara pintu utama dan gerbang terpaut lumayan jauh. Jadi untuk mempercepat langkah, dengan kaki beralaskan sandal tidur berbulu dan mulut yang berkomat-kamit menggerutu tak jelas, terpaksa Jessica berlari kecil.

“Mengapa kau kemari oppa?” ucap Jessica terengah-engah begitu melihat Heechul berdiri dibalik gerbang hitam yang tinggi menjulang. “Aku dan Minho hanya khawatir dengan kalian semua. Ah Ppali, buka gerbangnya!”

Lagi-lagi, Jessica hanya menghela nafas. Lalu ia berjalan menuju dinding yang menjadi penyangga gerbang tersebut. Menekan sebuah tombol disana. Keluarlah sebuah monitor tipis, lebar kurang lebih 7 inch dengan layar yang menunjukkan kalimat Enter the Password dan keyboard virtual disana.

Jessica memasukkan kombinasi angkanya sampai layar itu menunjukkan kata Passed dan kemudian layar itu berganti Sing the Song. Jessica mengambil nafasnya, dan dalam hitungan ketiga, ia menyanyikan sebuah lagu yang sangat tidak familiar di telinga Heechul ataupun Minho yang ada didalam mobil.

Lagu singkat yang dinyanyikan Jessica pun selesai, dan secara otomatis gerbang tersebut terbuka. Menyambut kedatangan Heechul dan Minho.

“Welcome to my House!”

***

Jung’s Mansion. Begitulah bunyi tulisan yang ada di gerbangnya. Bangunan luas nan megah dengan model klasik, berdiri ditengah padang rumput dipinggiran kota Los Angeles dan dikelilingi dengan tembok tinggi dengan proteksi keamanan yang sangat tinggi. Seperti halnya Lee’s Old Mansion di Anyang. Namun Jessica lebih suka menyebutnya ‘Rumah’ daripada ‘Mansion’. Dan disinilah mereka semua; Minho, Heechul, Sooyoung, Taeyeon, Yoona, Hyoyeon, Kyungsoo, Jonghyun, Donghae dan tentunya, Jessica yang notabene nya sebagai pemilik.

Jessica lagi-lagi berkutat dengan komputer di ruangan sebelumnya. Mengunci dirinya dan kembali dengan pekerjaannya. Dan untuk kesekian kalinya, Jessica mendecak frustasi atas hasil yang tak kunjung baik itu.

Tok tok tok. Merasa pintunya diketuk, Jessica berkata “Masuk!” tanpa berpaling dari layar monitor. Dan tak beberapa lama, masuklah Yoona dengan membawa sebuah disket berlabelkan JJ’s Dairy.

Yoona menyerahkan disket itu pada Jessica. Dan sebagai responnya, Jessica hanya berkata “Apa ini?”

“Disket yang ditemukan Donghae di Mansion beberapa waktu lalu. Inspektur meminta untuk mengcrack nya. Tiffany eonnie juga berpesan begitu”

Jessica hanya menghela nafas pelan, kemudian mengangguk, mengambil disket itu dan menaruhnya disamping keyboardnya. Ia berfikir akan meng-crack nya setelah masalah micro disc itu terselesaikan.

“Sebenarnya tempat apa ini?” tanya Yoona sembari duduk disebuah kursi disamping Jessica. “Rumahku. Seperti mansion. Dulunya aku dan keluargaku selalu kesini setiap akhir pekan”

“Lalu dimana keluargamu?” tanya Yoona hati-hati, takut menyinggung hati kecil Jessica.

Jessica beranjak, berjalan menuju jendela lalu menatap langit bertabur bintang sembari tersenyum tipis. “Mereka di atas sana”

Yoona tercenggang mendengar jawaban dari Jessica. Ia baru mengetahui bahwa Jessica hidup sebatang kara tanpa keluarga disisinya. Yona pun sedikit merundukkan kepalanya “Mianhae eonnie, aku tidak bermaksud–”

“Kau tidak perlu meminta maaf” ucap Jessica memotong perkataan Yoona. Entah mengapa sejak ditinggal keluarganya, Jessica tidak mau menerima permohonan maaf atau apapun itu yang bersangkutan dengan keluarganya. Melihat wajah Yoona yang merasa tidak enak, Jessica kembali ketempatnya semula. “Lebih baik kau bantu aku berfikir bagaimana caranya untuk cracking micro disc ini”

“Memangnya belum selesai?”

“Belum. Aku sudah mencoba berbagai macam cara. Hasilnya nihil” Sengaja atau tidak, Jessica memalingkan wajahnya. Menatap sebuah foto yang terbingkai rapi diatas meja kecil disudut ruangan. Seketika, terbesit sebuah ingatan dibenaknya.

“Aku tau caranya. Dan aku yakin ini akan berhasil”

***

Duduk di area meja makan yang bisa menampung 20-an orang. Dengan secangkir cappucino dihadapan masing-masing orang yang duduk disana. Atmosfir serius pun sangat terasa disana.

“Jadi maksud kalian… Mobil yang dikendarai Donghae sudah dipasangkan alat pelacak sejak awal?” Heechul menaruh secangkir cappucino yang baru saja disesapnya. Menatap orang-orang yang duduk tepat dihadapannya dengan matanya.

“Itu hanya dugaan sementara”

“Tapi mengapa mobil sewaan Jessica juga ada Transmitter yang serupa dengan Donghae?” tanya Kyungsoo sembari memutari pinggiran cangkir dengan jari telunjuknya.

“Aku bisa saja menarik kesimpulan seperti ini. Mungkin saja pelaku sudah memperkirakan tempat dimana Donghae akan menyewa mobil dan si pelaku secara diam-diam meletakan transmitter disetiap mobil di tempat penyewaan. Dan secara kebetulan, Jessica menyewa mobil ditempat yang sama. Masuk akal bukan?” Jonghyun menjelaskan hipotesanya yang mendapatkan respon positif dari yang lain. Namun Minho sepertinya tidak berfikir sejalan ‘Ada sesuatu yang janggal disini’

“Omong-omong mana anak itu?”

“Maksudmu Donghae? Dia sedang tidur” ucap Sooyoung menanggapi pertanyaan Hyoyeon.
Yah, tidur. Mereka sependapat kalau Donghae tidak boleh atau tidak harus tau tentang apa yang mereka bicarakan sekarang ini. Dan atas itu, Sooyoung berinisiatif memberikan obat tidur kedalam minuman Donghae. Ide ini cukup gila, namun alhasil, Donghae pun tidur dengan pulasnya di salah satu kamar.

‘Brak. Jessica datang dengan tiba-tiba, menaruh laptopnya dengan sedikit kasar diatas meja. Disusul Yoona yang membawa alat-alat seperti kapas, pinset dan sebotol kecil alkohol. Membuat orang-orang disekitar mereka menatap heran.

“Untuk apa benda-benda seperti itu?”

“Traditional Cracking” jawab Jessica dengan singkatnya, yang mengundang berbagai pertanyaan yang siap dilontarkan oleh beberapa orang disana.

“Perhatikan” tanpa menunggu atau menjelaskan lebih lanjut lagi, Jessica memulai pekerjaannya. Pertama ia mengambil sehelai kapas dan menetesinya dengan sedikit alkohol. Kemudian ia memoleskan kapas itu pada bagian micro disc tersebut. Dan ia mengusap bagian micro disc itu yang diberi alkohol dengan kapas baru sampai bagian–kuning–micro disc itu terlihat mengkilap. Terakhir, ia mengambil pinset dan mengambil sesuatu yang melekat di bagian–kuning–micro disc itu.

Orang-orang yang memperhatikan, terkejut dengan apa yang Jessica jepit di pinset itu. Benda semacam–lapisan–plastik kecil yang sangat tipis dan bening, bahkan hampir tidak terlihat saking tipis dan beningnya. Sementara Jessica terus saja melanjutkan pekerjaannya, tanpa berkomentar. Menyalakan laptopnya dan memasukkan micro disc tersebut kedalam Card Reader nya.

Sekali lagi, Jessica membuat orang disekelilingnya terkejut. Pertunjukkan singkatnya menuai sukses dengan hasil akhir micro disc itu bisa diakses. Sebuah file suara tertera disana. Dan langsung saja, Jessica meng-kliknya.

I already suppose that you’ll be able to access this on time. Congratulation, because the nightmare has truthfully begin!
Just wait and the music will be over.

(Aku sudah menduga kalian akan dapat mengakses ini tepat waktu. Selamat, karna mimpi buruk benar-benar telah dimulai!
Tunggu saja dan musik akan berakhir.)

“Apa ada sesuatu yang lebih konyol daripada ini?” tanya Jessica malas. Ini benar-benar Fool. Ia merasa sangat dibodohi oleh pengirim bangkai beserta micro disc yang tidak ia ketahui itu.

“Bersikaplah professional. Walaupun hanya seperti ini kau tidak boleh menganggapnya enteng. Mungkin saja ini benar” timpal Hyoyeon. Jessica hanya mengangguk pasrah. Hyoyeon benar, ia harus bersikap professional. “Okay, thanks for remembering me Hyoyeon-ah”

“Bangunkan Donghae dan segera berkemas” ucap Minho yang membuat orang disekitarnya bertanya-tanya.

“Kita akan pulang dengan penerbangan akhir”

08.30 am KST – Monday, 24st September 2013

Mobil Porsche hitam melaju dengan pesatnya di jalanan. Dengan Taeyeon yang memegang kemudi dan Jessica yang berada di kursi penumpang. Mereka baru saja 45 menit lalu turun dari pesawat. Dan sekarang mereka akan langsung menuju ke sekolah. Berniat untuk masuk di pelajaran kedua. Tidak perduli dengan keterlambatan mereka.

“Kau membawa seragam bukan?”

“Geurom. Dan kau?” tanya Jessica balik pada Taeyeon. “Aku sudah meminta Seohyun membawanya” jawab Taeyeon sembari focus menyetir. Mereka sudah sampai di daerah kawasan Anyang. Dan secara tiba-tiba, Taeyeon menginjak rem nya.

“Ya! Mwonde?!!” pekik Jessica atas tindakan Taeyeon yang mendadak itu. Taeyeon diam, tidak mengubris pekikan Jessica. Pandangannya hanya lurus ke satu arah dimana ada–bayangan–dua orang anak kecil yang berjalan menyusuri rerumputan kuning nan tinggi menuju rumah pohon di atas pohon maple. Berlari saling mengejar sampai akhirnya mereka sampai dibawah pohon itu. Dan di mata Taeyeon, semua itu seperti film yang berputar dibenaknya secara tiba-tiba. Entah mengapa.

“Ya! Kim Taeyeon!” Jessica lagi-lagi melengkingkan suaranya. Berharap Taeyeon tersadar dari lamunannya. Jika tidak cepat, mereka akan tertinggal jam pelajaran kedua, pikir Jessica.

3 Hari Lalu…

Duduk di rumah pohon, sembari berkutat dengan pikiran masing-masing. Taeyeon yang diam terpaku. Dan Jungsoo yang tidak tau harus berbuat apa atas keterpakuan Taeyeon.

“Jadi… Kau bukan Leeteukie?” ucap Taeyeon memecah keheningan. “Secara teknis, benar aku Leeteuk. Secara psikis, bukan” Jungsoo mengambil nafasnya dan melanjutkan “Park Jung-il. Anak laki-laki yang kau kenal pasti adalah Park Jung-il. Kami kembar.” Taeyeon menatap Jungsoo. Seakan meminta penjelasan atas kalimatnya barusan melalui matanya.

“Ya, kami kembar. Namun kami dibesarkan ditempat berbeda. Jung-il di Korea, dan aku di Jepang. Dan kami mempunyai panggilan yang sama. Leeteuk”

“Geurigo…?” lirih Taeyeon. Rasa ingin taunya menguar. Tentang Jungsoo dan Jung-il. Tak cukup dengan Jungsoo yang menyatakan kalau Jung-il adalah saudara kembarnya. Ia ingin tau lebih banyak lagi.

“Jung-il mengidap Kanker di sejumlah organ dalamnya. Karna itu ia tinggal di Korea untuk mendapat pengobatan. Ingin tau lebih banyak?”

“Disaat terakhirnya, ia bercerita padaku kalau ia bermain dengan seorang anak perempuan di rumah pohon ini setiap harinya. Yeoja kecil itu membuatnya berjuang selama 5 tahun. Dan pada akhirnya Jung-il meninggal.” Taeyeon tercenggang, bulir-bulir bening mulai mengalir perlahan di pipinya. Jungsoo mendekatkan dirinya pada Taeyeon dan menaruh kepala Taeyeon dipundaknya. Membiarkan Taeyeon menangis disana.

“Dan… Kau tau kalimat terakhirnya? Ia berkata ‘Hyung, suatu saat kau akan bertemu dengannya dan kau harus menjaganya. Dia… Kim Tae –ye–eon.’

09.00 am KST – Sunday, 23rd September 2013
Anyang High School

Bel pergantian pelajaran baru saja dibunyikan. Dan dengan langkah terburunya, Seohyun bergegas ke lahan parkir sekolah guna memberikan seragam yang diminta Taeyeon.

“Eonnie! Igeo!” Seohyun memberikan seragamnya pada Taeyeon yang baru saja turun dari mobilnya. “Eonnie gwenchanna?” Seohyun mengerjapkan mata bingung, memperhatikan Taeyeon yang seperti kehilangan separuh nyawa.

“Geu sarameun michinde (Orang ini tak waras)” celetuk Jessica. Seohyun menoleh kearah Jessica dengan tatapan bingungnya. Ia tidak menau apa yang terjadi sebelumnya. Seohyun hanya tau ada yang tidak beres dengan Taeyeon belakangan ini.

“Tidak usah dipikirkan. Pergilah ke kelas masing-masing, kalian tidak mau dihukum bukan?” ucap Taeyeon seraya pergi meninggalkan Jessica dan Seohyun.

“Taeyeon benar. Lebih baik kita bergegas” ucap Jessica. Ia pun ergi meninggalkan lahan parkir diikuti Seohyun dibelakangnya.

***

Sejarah. Pelajaran penting namun membosankan menurut segelintir siswa. Membosankan. 1 kata yang tercetak jelas pada wajah setiap anak tak terkecuali Jessica. Gadis itu merutuki dirinya yang merelakan waktu berharganya untuk sekolah. Dan kini, ia hanya bisa melayani rasa kantuk yang perlahan mulai mengerayanginya.

“Jadi, kapan Dinasti Joseon diperkirakan berakhir?!”

Belum sempat para siswa menjawab pertanyaan Seonsangnim mereka, sebuah suara dari speaker kecil di sudut kelas memekakkan telinga mereka.

“Pemberitahuan. Porseni tahunan akan diselenggarakan pada tanggal 5 Oktober mendatang. Ada beberapa Kategori yang dilombakan. Dari cabang Seni kategorinya adalah; Menyanyi, Menari, dan Musik. Cabang Olahraga; Basket, Baseball, Lari Marathon, Lari Estafet, Taekwondo dan Judo. Bagi siswa-siswi yang ingin berpartisipasi, harap hubungi panitia yang bersangkutan diruang Administrasi. Terimakasih”

Jika anak-anak lain memilih membicarakan tentang Porseni, Jessica lebih memilih menjatuhkan kepalanya diatas buku tebalnya. Dia sangat tidak tertarik akan hal-hal seperti itu. Ditambah lagi, Donghae yang tidak hadir hari ini membuat Jessica leluasa meladeni kantuknya. Jelas saja, setiap harinya jika Jessica mengantuk, Donghae selalu mewanti-wantinya untuk tidak tidur di kelas. Dan sekarang, ia akan melancarkan aksinya itu.

08.00 pm KST – Wednesday, 3rd October 2012
Black Eyes Main Office, Seoul

Choi Minho. Berdiri menghadap keluar jendela yang menyuguhkan pemandangan Sungai Han ditemani secangkir cappuccino hangat ditangannya.

“Haahh” Minho menghela nafas, menaruh cangkirnya di meja kerjanya. Kemudian ia duduk di kursi besarnya sembari memijat pelan keningnya. Kasus yang sedang ditanganinya membuatnya pusing akhir-akhir ini.

Tok tok tok. Ketukan pintu memberhentikan kegiatan Minho, secara reflex ia berkata “Masuk”

“Minho-nim! Uri meokgo kajja! (Ayo kita makan!)” pekik Jonghyun yang hanya menampakkan kepalanya. “Hmm, geurae. Kau yang traktir” Minho meniyakan ajakan Jonghyun, tidak ada salahnya bukan mengisi perut kosongnya?

“Ok! Kajja!”

***

“Mengapa kau membawa laptop? Kita kan hanya makan, bukan meeting” Jonghyun menatap Minho aneh. Ia selalu berfikir kalau Minho adalah seorang yang hebat dan berkelakuan aneh. Hebat? Tentu saja! Dalam 16 bulan setelah training, Minho mendapat gelar Inspektur. Tak ada orang di Black Eyes yang mendapat jabatan tertinggi dalam hitungan bulan. Kecuali satu orang, Jessica. Setelah training ia ditempatkan pada posisi investigasi, siapa sangka dalam waktu 12 bulan, ia sudah berada di Divisi Satu spesialis Teknologi Informasi. Divisi satu, Tempat dan Jabatan tertinggi setelah Inspektur.

“Aku akan meneliti micro disc ini. Aku belum sempat melakukannya kemarin” ucap Minho sembari menyalakan laptopnya. Ini sudah hampir genap 2 bulan sejak Mr. Lee meminta Black Eyes menyelesaikan ‘seluruhnya’. Dan ia tidak mau harus menunda tugasnya lebih lama.

“Hey sudahlah, sebaiknya kita pesan sesuatu. Imo chogiyo!” Jonghyun mengangkat tangannya, memanggil pelayan “Cha, kau mau pesan apa Minho-ya? Sashimi eotte? Atau mie kerang? Soju tto!”

“Hmm, mie kerang kelihatannya enak, sashimi juga boleh. Dan tidak ada Soju, karna kita belum genap 20 tahun. Latte saja” ucap Minho tegas dan penuh penekanan dikalimat akhirnya–tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Karna menurutnya, minum adalah kegiatan buruk untuk manusia yang belum mencapai fase dan umur dewasa.

“Arraseo” Jonghyun sedikit kecewa, namun ia beralih pada pelayan tersebut “Imo, 2 porsi mie kerang, 2 latte dan satu paket sashimi. Jangan lupa acar timun nya”
Setelah pelayan itu pergi, Jonghyun meratapi Minho yang hanya focus pada laptonya. “Pantas saja jabatan Inspektur kau genggam dalam 16 bulan, kau sangat serius” Minho hanya menyeringai mendengar ucapan Jonghyun. Sesuatu yang tidak ditekuni dengan serius tidak akan membuahkan hasil baik menurut Minho.

“Y.NSUWD? Apa maksudnya ini?” Minho mengerutkan keningnya. Ini pertama kalinya ia membuka isi micro disc tersebut dan menemukan bahwa micro disc itu mempunyai nama yang aneh.

“Mungkin sandi?”

“Mungkin” ucap Minho singkat, lalu ia meng-klik sebuah file note yang ada disana. Note berisi surat ancaman yang penuh tanda tanya. Minho pun mem-blok semua tulisan yang ada disana. Dan sesuai dugaannya, ada sebuah kata yang tersembunyi disana. Kata yang hanya berukuran 2 pt. terletak di paling bawah, bahkan jika ukurannya tidak dibesarkan, kemungkinan tak akan terbaca.

“JSAXII?” lagi-lagi Minho mengerutkan keningnya. Ini cukup membuatnya sedikit kebingungan. Dimulai dari bangkai, micro disc, percobaan pembunuhan dan sekarang sandi. Jika boleh jujur, Minho akan mengaku bahwa kasus ini lebih rumit dari pada kasus-kasus sebelumnya yang pernah ia tangani.

“Hei berhentilah sejenak dan singkirkan laptopmu itu, makanannya sudah datang” Minho hanya menganggukkan kepalanya dan mematikan laptopnya sebagai respon. Bagaimanapun juga, perut kosongnya sudah meronta-ronta melihat makanan yang satu persatu dihidangkan.

Lee’s Old Mansion, Anyang

“YA! Bagaimana mungkin kau menang lagi?!” Donghae memekik keras, ia kesal lantaran Sooyoung mengalahkannya 3 kali berturut-turut dalam sebuah video game bertemakan Judo tersebut.

“Haha! Tentu saja! Aku kan terlatih” ucap Sooyoung bangga. Judo adalah spesialisnya. Tidak mungkin ia kalah didalam video game sementara ia bisa mengalahkan beberapa orang dalam pertarungan sungguhan. Tapi Donghae mengerutkan keningnya tanda bingung dengan ucapan Sooyoung barusan “Terlatih?”

Sooyoung mendapatkan tatapan membunuh dari beberapa orang disana. Sebut saja Jessica, Kyungsoo dan Hyoyeon. Sooyoung yang mengerti tatapan itu, berfikir keras mencari alasan “Maksudku, aku sudah pernah menamatkan game ini”

“Ini sudah larut, lebih baik kita pergi tidur” Jessica bangkit, berjalan keluar ruangan tanpa memperdulikan pandangan aneh dari orang-orang disana.

“Hya, kau mau kemana? Kita belum selesai!” ujar Sooyoung begitu melihat Donghae keluar meninggalkan permainannya. “Kita lanjutkan lain kali, ok?”

Donghae pergi mengikuti Jessica yang berjalan menuju halaman belakang. Terus berjalan sampai ia–Jessica–berhenti disebuah ayunan disana dan menaikinya. Langkah Donghae pun terhenti tepat beberapa meter dari posisi Jessica “Suka main ayunan?”

“Dulu. Sekarang tidak terlalu” Jessica bangkit begitu melihat Donghae, mencoba masuk kedalam mansion lantaran takut perasaan tak wajarnya pada Donghae akan timbul–lagi–karna namja itu ada didekatnya. Dan bodohnya, ia hanya bisa diam saat Donghae meraih lengannya. “Ayo main!”

Donghae mendudukkan Jessica di ayunan tersebut dan mulai mengayunkannya dari belakang dengan kencang dan itu membuat Jessica juga mulai meronta “YA! YA! Mwonde!!?” Sementara Donghae? Ia hanya menikmati pekerjaannya sekarang ini. Tidak ada salahnya bukan mengerjai Jessica seperti ini sesekali?

“YA! AIDEN HAJIMASEYO! YAA! (Aiden Berhenti!)”

Donghae berhenti seketika. Bukan berhenti akibat perintah Jessica, namun berhenti karna sebuah nama yang teramat sangat familiar disebut oleh yeoja didepannya. “Ka–kau… Panggil aku apa?”

Jessica terhenyak, ia bangkit dengan wajah tanpa ekspresinya, “Aku mau tidur.” Belum sampai Jessica masuk kedalam, Jessica terhenti, tubuhnya ditahan oleh sebuah pelukan hangat dari belakang. Donghae.

“Temani aku disini, dan panggil aku Aiden lagi.” Donghae mempererat pelukannya, dan suatu hal yang Jessica takutkan muncul. Detak jantungnya tak terkontrol. Entah mengapa Jessica ingin berbalik dan membalas Donghae. Tetapi tubuhnya terlalu kaku untuk melakukan itu.

Donghae membalik tubuh Jessica, mendekapnya dan mengusap kepala Jessica pelan “Aku tidak tau darimana kau tau nama itu, tapi aku senang kau tau.”

“Hanya satu orang di dunia ini yang memanggilku seperti itu. Jika dia masih hidup, aku harap itu adalah kau”

Seakan Jessica bisa mendengar kata hati Donghae, ia membalas pelukan namja dihadapannya. Menyalurkan sebuah perasaan yang tak dapat diartikan secara harfiah. Merasakan jantung Donghae yang berlaku sama dengannya.

“Dan jika ‘dia’ yang kau sebut adalah seorang gadis kecil, maka itu adalah aku”

Black Eyes Main Office, Seoul

“Jadi, kode-kode seperti ini yang kau maksud?” Seunghyun menatap layar dihadapannya dan wajah Minho secara bergantian. Seakan meminta penjelasan tentang apa yang dibicarakan sekarang ini.

“Ye. Dan aku sendiri tidak tau apa maksud dari kode-kode ini”

“Ok, let’s start with this code. JSAXII. Bagaimana menurutmu?” Minho berfikir sejenak, berfikir tentang hal-hal yang berhubungan dengan huruf J. ‘Jaggeun? Jjangmyun? Janji? Juice? Journal? Atau…’

“Judo?”

“Musun Judo? (Judo apa?)” Minho tersadar dari lamunanya dan segera meralat kata-katanya “Aniyo, aku hanya berfikir tentang huruf J dalam kode itu”

“Ah begitu. Ju–”

“Choi-nim! Paket Amunisi baru sudah datang!” seseorang datang memotong perkataan Seunghyun. Seketika Seunghyun mengembangkan senyumnya, “Cepat sekali Sungmin-ah?! Kalau begitu antar aku kesana”

Seunghyun bangkit dari kursi besarnya, ia melirik Minho yang masih ditempatnya “Kau juga ikut Minho-ya. Ppali!”

***

Minho duduk di kursi besarnya. Ia sudah berada diruangannya setelah tadi Sungmin memperkenalkan beberapa amunisi baru terhadapnya.

Minho menyalakan laptopnya, mencoba untuk mengetahui lagi apa maksud dari micro disc mencurigakan tersebut. Baru beberapa saat, Minho sudah mendecak frustasi. Tanpa disengaja, ia melihat sebuah disket yang tergeletak di mejanya. Disket berjudul JJ’s Diary. Dan Minho mencoba mengecek isi disket itu. Sebelumnya Jessica sudah meng-crack nya, jadi Minho dapat mengaksesbnya dengan mudah.

Minho membuka isi disket itu dan membacanya. Benar saja, sebuah diary. Dan Minho menemukan beberapa note yang aneh disana.

18 April 1995
My First Daughter was born! Hope she’ll be a beautiful music.

12 Agustus 1997
Hari ini, tepat dihari ulang tahunku, aku harus menerima kenyataan kalau kami kembar.

24 Oktober 1997
Kecelakaan beruntun. God, please help us.

25 Oktober 1997
Maafkan aku.

26 Oktober 1997
Semoga ia tidak tau.

17 Februari 1999
Ia hampir mengetahuinya.

20 Maret 2000
Kami bertengkar hebat tadi siang.

31 Mei 2002
Musim panas. Kami berlibur di Korea. Semoga hal baik terjadi.

1 July 2002
Anakku menemukan paket yang aneh. Bangkai.

7 July 2002
Bangkai itu lagi… Pertanda apa ini Tuhan?

10 July 2002
Aku merasakan feeling buruk. Ya Tuhan, semoga hal buruk tidak terjadi pada keluargaku.

Minho mendecak frustasi, “Apa maksudnya note ini?” Minho berfikir kalau-kalau pemilik asli disket ini ada hubungannya dengan kasus yang ditanganinya tapi ia segera menggelengkan kepalanya “Aniya, tak mungkin”

Perhatian Minho teralihkan begitu mendengar ketukan pintu, “Masuk!”

“Hyung, kami ingin ke tempat karoke. Ikut tidak?” Minho menimang perkataan Kyungsoo, dan pada akhirnya Minho mengangguk setuju. Sudah lama ia tidak pergi karaoke.

In the same time,
Unknown Place

Seorang namja berperawakan tegap dengan setelan jas duduk di sebuah kursi besar, menunggu laporan anak buahnya, “Apa mereka tau itu?”

“Kemungkinan besar, mereka masih belum tau”

Namja itu mengeluarkan smirk nya, ia puas dengan jawaban anak buahnya. “Ok. Pada waktunya Falcon akan melakukannya bersamaku, dan groupmu boleh mengurus sisanya”
Anank buah manja tersebut terkaget, “Sajangnim tapi–”

“Aarrggghh! Tidak ada tapi-tapian! Aku yang harus membunuhnya dengan tanganku sendiri!” namja itu berteriak, tidak terima dengan perkataan anak buahnya, “Dengan begitu impas sudah!!”

“Panggilkan Falcon, Segera!!”

Anak buah namja itu membungfkuk sopan, lalu keluar untuk melaksanakan perintah sajangnimnya. Tak beberapa lama, seorang pemuda dengan rambut coklat pekat acak masuk.

“Ah, Falcon. Bagaimana? Sudah disiapkan?”

“Ne sajangnim. Persiapan sudah dilakukan. Kita hanya menunggu hari H dalam waktu kurang dari 65 jam lagi. Jadi mohon bersabar.” Jawab namja yang disebut Falcon dengan sopannya namun tetap menyiratkan kesan licik dalam perkataannya.

“Good boy” Falcon hanya tersenyum licik mendengar pujian bosnya.

‘Being a killer it’s more fun than being a dangerous kid’

To Be Contiuned

Aaaaaa! Omona… Semoga memuaskan /_\
Reader-deul, sebelumnya maaf, author baru sempet nge-post sekarang ><

Gimana? Diwajibkan meninggalkan jejak ne? Harus loh, klo ngga nanti author nangis ._.
Annyeong~! See you on the next chapter! ^^

17 thoughts on “Black Soshi 6정 – Disc and Twins

  1. Ping-balik: Black Soshi 7 정 – Game Over (Part A) | Twinklesupergeneration

  2. Ping-balik: Black Soshi 7정 – Game Over (Part B) [FINAL CHAPTER] | Twinklesupergeneration

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s