Three Little Words (Chapter 4)

Three Little Words

Title: Three Little Words (Chapter 4)

Author: tatabrigita

Main Characters: Siwon, Tiffany, Donghae, Yoona, Kyuhyun, Seohyun, Sungmin, Sunny

Main Songs: BoA – Only One, Girls’ Generation – Not Alone

Started: 060313

Genre: Romance, angst

Rating: General

Author’s Note: Author juga bikin versi bahasa Inggris-nya, bisa dilihat di sini.

***

Selasa, 24 Juli, 2012

8.05 CEST

Cour des Petites Écuries, Paris, Prancis

***

“Dan pastikan kau punya kain sutranya jam sebelas, oke?”

“Ya, mademoiselle.”

“Baiklah. Terima kasih, Elise.” Tiffany menutup telpon dengan asistennya dan melanjutkan berjalan.

Hari musim panas lagi di Paris. Matahari yang terik tidak menghentikan orang-orang melakukan aktivitas di luar ruangan. Tiffany selalu menikmati pergi keluar dari sekarang. Dia tidak sering berada di kantor sekarang—justru, dia menghabiskan waktu di luar, tersenyum ke arah langit yang biru, atau hanya mengagumi kota yang indah itu.

Tiffany merapikan rambutnya yang panjang dan hitam sebelum memasuki sebuah kafe. Dia selalu pergi ke sana untuk sarapan daripada memakan panekuk sendirian di apartemennya.

Sudah menghafal jalannya, Tiffany berjalan ke arah meja yang biasa ditempatinya di dekat jendela, menghadap ke arah jalanan. Dia memeriksa ponselnya sambil berjalan. Rapat lagi dengan

Ada serangkai suara keras, dan hal berikut yang diketahui Tiffany, dia berada di lantai. Dia baru saja menabrak seseorang.

“Astaga! Apa kau baik-baik saja, mademoiselle?” Seorang pria berkata dalam bahasa Prancis.

Tiffany mengeluh dan berusaha untuk berdiri, dengan bantuan pria tersebut. Untungnya hanya beberapa orang melihat mereka bertabrakan. “Aku baik-baik saja,” kata Tiffany, merapikan rambut dan pakaiannya.

Pria itu menarik tangannya. “Aku sungguh-sungguh minta maaf—”

“Tidak apa-apa.” Tiffany mendongak. Dia tersenyum, berharap pria itu tidak merasa begitu bersalah. Dia anehnya kelihatan familiar. “Bukan masalah besar.”

Pria itu, yang sibuk merapikan pakaiannya, menatap Tiffany. “Yah, aku—Tiffany?”

Mata Tiffany terbelalak ketika pria itu menyebutkan namanya. Lalu dia sadar kenapa pria itu terlihat sangat familiar. “K-Kyuhyun?”

Kyuhyun kaget, tapi dia berhasil untuk tersenyum. “Tiffany! Sudah setahun! Ayo—” Dia melihat sekeliling dan menunjuk ke meja yang tadi dituju Tiffany. “Ayo kita duduk!”

Kyuhyun buru-buru duduk, dan Tiffany duduk dengan canggung di depannya. Melihat wajahnya yang bersemangat tapi menggemaskan, Tiffany ingin tertawa. Seorang pelayan datang dan memberikan mereka menu.

“Saya akan kembali setelah Anda mempertimbangkan pesanan Anda,” kata si pelayan sebelum pergi.

Tiffany tidak membaca menunya. Dia sudah membacanya ribuan kali dan selalu memesan makanan yang sama. Sementara, Kyuhyun membaca menunya hati-hati. “Aku belum pernah makan makanan Prancis sebelumnya. Apa saranmu, Tiffany?”

Tiffany mengangkat bahu. “Yah, ini kan sarapan. Menurutku kau harus memesan croissant-brioche dengan kopi sepertiku atau mungkin croque monsieur dengan jus de fruit.”

Croque apa?”

Croque monsieur. Roti panggang isi daging ham dan keju. Jus de fruit berarti jus jeruk. Croissant-brioche adalah semacam roti Prancis.”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya. “Oh. Aku mengerti sekarang. Aku akan memesan roti dan jus jeruk tadi.”

Tiffany menjentikkan jemarinya dan si pelayan kembali dengan buku catatan dan pulpen di tangan. “Apa saya bisa mengambil pesanan Anda sekarang?”

“Ya. Aku pesan croissant-brioche dan secangkir kopi hitam, dan temanku ini memesan croque monsieur dan jus de fruit,” ujar Tiffany tanpa kesukaran dalam bahasa Prancis.

Si pelayan menganggukkan kepalanya. “Pesanan kalian akan diantar secepatnya, monsieur, mademoiselle.” Dia tersenyum dan mengambil menu sebelum berjalan pergi.

Tiffany lalu memfokuskan perhatiannya kepada Kyuhyun. “Jadi, bagaimana kabarmu, Kyuhyun? Sudah setahun.”

Kyuhyun tersenyum. “Aku baru saja lulus tes untuk menjadi dokter bedah. Butuh waktu berbulan-bulan. Jadi aku pindah ke Paris, dan aku sudah mulai bekerja di rumah sakit internasional.”

Tiffany bertepuk tangan. “Selamat!” katanya. “Aku sangat bangga padamu. Kau baru saja lulus dari Harvard, dan sekarang kau sudah menjadi dokter resmi.”

“Trims,” balas Kyuhyun riang. “Tapi aku masih harus berlatih bahasa Prancis. Tata bahasanya membunuhku. Aksenku juga.”

Tiffany tertawa. “Kau akan menguasainya secepatnya. Aku menguasai bahasa Prancis dengan cepat karena tradisi keluargaku. Kau ingin aku mengajarimu?”

Kyuhyun tersenyum, tapi menggelengkan kepalanya. “Tidak, tidak apa-apa. Aku tidak ingin kau merasa terbebani.” Dia tetap diam. “Bagaimana denganmu, Tiffany? Apa beritamu?”

“Masih diriku yang dulu.” Tiffany mengangkat bahu lagi. “Kecuali rambutku tumbuh. Untung label fashion-ku berjalan dengan baik.”

“Aku senang mendengarnya. Aku bisa mendapatkan baju baru untuk menyesuaikan dengan fashion Prancis.”

Tiffany tidak bisa tidak tertawa. “Tidak begitu berbeda. Kau telah menguasainya dengan baik, Kyuhyun.” Dia memandangi pakaian Kyuhyun.

Si pelayan datang dengan pesanan mereka, dan Kyuhyun segera berkata, “Terima kasih.” Pelayan itu tidak terkejut dengan aksen aneh Kyuhyun—dia telah melihat banyak turis dengan aksen yang lebih buruk. Dia tersenyum sebelum meninggalkan mereka berdua sendirian.

Tiffany menggigit croissant-nya, masih mengawasi Kyuhyun. “Cobalah. Aku sudah makan croque monsieur ribuan kali. Percaya padaku. Rasanya enak.”

Kyuhyun memakan rotinya, tersenyum setuju. “Sangat enak,” pujinya. “Aku seharusnya makan makanan Prancis sejak dulu.”

Mereka melanjutkan berbicara, dan Tiffany sadar bahwa dia sangat merindukan Kyuhyun. Tidak hanya dia, tapi semuanya. Mereka berdelapan bersama-sama seperti setahun yang lalu.

Ketika mereka berdua berjalan keluar kafe, Kyuhyun menyentuh pundak Tiffany. “Apa kita hanya berpisah seperti ini?”

Tiffany berhenti berjalan. “Kau benar,” katanya, mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Kyuhyun .”Kita bertukar nomor telpon saja, oke? Untuk jaga-jaga.”

Kyuhyun menatap ponsel Tiffany sebentar, sebelum memberikan ponselnya juga. “Oke.”

***

Selasa, 24 Juli, 2012

10.00 CEST

Basilique du Sacre-Coeur, Paris, Prancis

***

Yang itu cantik!

Jepret.

Oh, yang itu kelihatan lucu!

Jepret.

Pohon! Tapi kelihatan keren!

Jepret.

Yoona melanjutkan memotret sampai baterai kamera digitalnya habis. Dia mendesah dan menyingkirkan rambut coklat panjangnya dari wajahnya. Dia masih ingin mengambil beberapa foto.

Sacre-Coeur adalah pemandangan Prancis terbaik yang dilihat Yoona sejauh ini. Dia datang ke Paris untuk berlibur, beristirahat dari menjadi instruktur tari di London. Rasanya senang sekali untuk mengunjungi tempat yang ingin sekali dilihatnya.

Yoona duduk di bangku terdekat dan mengeluarkan botol airnya. Yoona tidak ingin menghabiskan terlalu banyak uang di sini, meski dia tahu masakan Prancis sangat enak.

Setelah meneguk air minum, Yoona menarunya kembali ke tas dan lanjut berjalan. Setelah beberapa langkah, matanya menangkap sebuah titik di depan Sacre-Coeur yang dipenuhi orang-orang. Ada apa, ya? Dia berlari turun undakan tangga dan berjinjit di belakang orang-orang itu.

Beberapa anak-anak Paris sedang berlatih karate. Mereka tidak memakai pakaian putih karate—hanya pakaian sehari-hari mereka. Yoona menduga bahwa mereka adalah sekelompok anak yang berkumpul untuk berlatih bersama. Dia mengeluarkan kameranya, hingga dia ingat bahwa baterainya telah habis.

“Ugh. Tidak adil,” keluhnya pada diri sendiri, membuat beberapa orang di kerumunan menoleh ke arahnya.

Yoona mengabaikan mereka dan melanjutkan menonton anak-anak itu (“Ha! Ha!”) dan melihat seorang pria tinggi, mungkin berusia sebaya dengannya, berjalan mengelilingi anak-anak, melatih mereka. Rambutnya berwarna coklat dan agak runcing, dan wajahnya terlalu menggemaskan.

Apa itu… Sungmin?

Guru itu meneriakkkan sesuatu dalam bahasa Prancis yang tidak dapat dipahami Yoona, dan anak-anak tersebut mulai melakukan gerakan yang lebih kompleks, membuat kerumunan tersebut bertepuk tangan. Yoona pun lebih fokus kepada guru itu daripada anak-anak.

Setelah memperhatikan guru tersebut, Yoona yakin bahwa guru itu Sungmin. Gaya rambutnya memang berubah, tapi Yoona mengenali wajahnya. Tiba-tiba dia bertanya-tanya apakah Sungmin masih berkontak dengan Sunny dan “geng” mereka.

Sungmin meneriakkan beberapa kalimat dan melambai ke arah kerumunan orang, yang satu demi satu meninggalkan tempat mereka. Yoona tahu bahwa latihan sudah selesai. Anak-anak itu berlari ke arah yang berbeda setelah berterima kasih kepada Sungmin. Sungmin berjalan ke bangku kayu terdekat, membuka tasnya dan meminum air dari botol miliknya.

Yoona cepat-cepat berlari ke arahnya. “Sungmin!”

Yang dipanggil melihat ke arah Yoona dan hampir tersedak. Yoona kaget—semuanya terjadi begitu cepat. Hal yang diketahuinya selanjutnya, Sungmin batuk keras-keras.

“Astaga, Sungmin!” Yoona berjalan ke arahnya, tercengang. “Maaf! Aku—aku tidak bermaksud melakukannya! Kau tak apa-apa?”

Sungmin berhasil mengatur napasnya, dan menatap Yoona. “Yoona. Kau… Apa? Bagaimana ini bisa terjadi? Apa ini benar-benar kau?”

Yoona tersenyum dan mengangkat bahu. “Yeah. Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya. “Kukira kau di Roma, berlatih karate.”

“Aku sudah selesai,” jawab Sungmin. “Aku datang ke sini untuk mengajar. Seperti yang kaulihat sebelumnya, aku baru saja mengajar.” Dia melambaikan tangannya di udara.

“Oh.” Yoona menganggukkan kepalanya.

Sungmin lalu menyunggingkan senyumnya yang ramah. “Bagaimana denganmu sendiri, Yoona? Kenapa kau di sini?”

Yoona membalas senyumnya. “Liburan. Untung aku pergi ke sini atau aku takkan pernah bertemu denganmu.”

Sungmin terkekeh. “Ya, sudah lama, ya?” Hidungnya berkerut sedikit, dan matanya menunjunkkan sedikit ketidaknyamanan. Yoona melihatnya, tapi tidak berkata apa-apa.

“Y-Yeah. Sudah lama,” katanya terbata-bata. Lalu, dia ingat. “Oh, tunggu, bagaimana dengan Sun—”

“Oppa!”

Mereka berdua berputar. Yoona melihat sosok seorang perempuan dari kejauhan. Jelas-jelas, perempuan itu berbicara dengan Sungmin. Yoona mengawasi Sungmin, curiga. Apa tadi pacarnya? Tidak mungkin. Sungmin tidak mungkin punya pacar. Sunny adalah segalanya bagi dia, dan Yoona tahu itu. Berkencan dengan orang lain berarti membuat Sungmin mengkhianati Sunny.

Sungmin berdeham. “Umm, Yoona, kurasa aku akan melihatmu… kapan-kapan, oke?” Dia baru saja akan berlari ke arah perempuan itu, ketika Yoona menghentikannya.

“Tunggu! Kau akan meninggalkanku begitu saja? Kita baru saja bertemu! Setidaknya aku boleh punya nomor telponmu.”

Sungmin mengangkat bahu dan memberikan Yoona ponselnya. Yoona juga melakukan yang sebaliknya. Setelah bertukar nomor, Sungmin tersenyum, meski itu tidak se-“asli” sebelumnya. Yoona mengawasi wanita tadi, yang berjalan semakin dekat ke arah mereka.

“Siapa itu, Sungmin?”

Sungmin melirik ke arah wanita itu, yang sekarang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat mereka berdiri. “Oh, dia. Dia pacarku.”

Mata Yoona terbelalak.

“P-Pacar?”

“Oppa, kenapa kau lama sekali?” Wanita itu sekarang berdiri di samping Sungmin, mencondongkan badan ke arahnya. “Aku sudah menunggumu!”

Yoona masih tidak percaya apa yang dilihatnya. Dia menatap Sungmin, tidak percaya.

“Bagaimana—”

“Maaf, Yoona, aku harus pergi.” Sungmin memaksakan seulas senyum dan menarik tangan wanita itu, menyatukan jemari mereka. “Sampai jumpa!”

Sebelum Sungmin berjalan pergi dengannya, Yoona menatap wajah wanita itu hati-hati.

Matanya terasa dingin, seperti bisa melihat menembus tubuhmu, seperti seorang putri es.

***

Selasa, 24 Juli 2012

10.03 CEST

Bandara Internasional Charles de Gaulle, Paris, Prancis

***

Suara orang-orang berbicara terdengar ketika Siwon lanjut berjalan keluar dari bandara. Penerbangannya tadi lumayan. Sebagai seorang businessman, sudah keharusan baginya untuk bepergian kapan saja dan ke mana saja.

Choi Company sukses sekali belakangan ini. Mereka kini memperluas perusahaan ke Eropa—dengan Prancis sebagai target pertama mereka. Sebagai CEO perusahaan, Siwon bertanggung jawab atas semua itu.

Ponselnya bergetar—dia belum mengaturnya ke mode normal karena dia baru saja turun dari pesawat. Siwon berhenti berjalan dan mengambil ponselnya dari saku. Sebuah SMS.

Dari: Ibu

Aku dan ayahmu akan datang secepatnya. Dan jangan lupa untuk mengunjungi keluarga Kim, Siwon. Adikmu menunggu.

Siwon mendengus. Dia mematikan ponselnya, menaruhnya kembali ke sakunya.

“Persetan dengannya.”

***

Selasa, 24 Juli 2012

10.35 CEST

Champs-Elysées, Paris, Prancis

***

Siwon menaruh buku berjudul Bagaimana Menjadi Sukses Dalam Bisnis kembali ke raknya. Dia belum menemukan buku yang menarik. Menghabiskan waktu di toko buku setelah penerbangan mungkin bisa membuatnya “bersemangat” lagi.

Siwon lanjut menjelajahi gedung yang luas itu, mengambil acak buku-buku dan membaca cover belakangnya. Ada banyak orang di toko itu—dia kerap menabrak orang-orang yang meminta maaf (asumsinya) setiap kali. Sungguh keputusan yang buruk untuk memperluas perusahaan saat musim panas.

Dia menaiki tangga, tiba di lantai dua. Lantai itu dipenuhi buku-buku juga. Siwon berjalan melewati beberapa rak, menyadari bahwa sebagian besar buku di sini adalah buku pengembangan diri.

Dia tidak butuh pengembangan diri (menurut dirinya sendiri), tapi dia membaca beberapa buku di situ.

Setelah menghabiskan lima belas menit berkeliaran tanpa guna, Siwon kembali berjalan menuju tangga. Saat dia berjalan, dia mengamati orang-orang yang berkunjung. Ada banyak orang Prancis berbicara, dan Siwon tidak memahami satu kata pun yang mereka bicarakan.

Seorang gadis kecil bermain dengan bonekanya di pojokan. Seorang remaja cowok membaca cover belakang sebuah buku tentang pengembangan diri dalam berkencan. Sepasang tua yang tertawa ketika memeriksa cover belakang sebuah buku.

Dan seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang, membaca sebuah buku tentang pengembangan diri mengenai kesehatan.

Siwon menyipitkan matanya. Tentunya, wanita muda itu kelihatan familiar. Dia tidak tahu di mana dia pernah melihatnya sebelumnya.

Siwon berhenti berjalan, matanya terpaku pada wanita muda itu. Dia tinggi, sedikit kurus, dan kelihatan seperti orang Asia. Siwon berpikir tentang masa lalu, ke tempat-tempat yang pernah dikunjunginya, ke orang-orang yang pernah ditemuinya…

Dapat!

Tanpa ragu, Siwon berjalan ke arah wanita muda itu, yang hampir tidak memperhatikannya. “Permisi.”

Yang dipanggil mendongak, melihat Siwon. “Ya?”

Siwon berdeham. “Joo… Joo Seohyun?”

Alis wanita muda itu berkerut, dan dia tersenyum aneh. “Ya? Apa aku mengenalmu?”

Siwon mendesah lega. “Seohyun!” Dia ingin memeluknya, tapi ekspresi wanita muda itu membuatnya berhenti. “Sudah lama! Kukira kau di Sydney?”

Seohyun—asumsi Siwon—menyipitkan mata ke arahnya. “Maaf, saya tidak tahu dari mana Anda mengetahui namaku, tapi saya tidak mengenal Anda. Menurut saya Anda salah orang. Maaf, permisi.”

Wanita muda itu membawa buku tadi dengannya dan pergi, berjalan menuruni tangga. Siwon ditinggal di sana, membeku.

Tidak mungkin. Itu pasti Seohyun. Tadi memang benar Seohyun, kan?

***

Selasa, 24 Juli 2012

12.08 CEST

Pantai Palm, Cannes

***

“Sunny! Hentikan! Kau merusaknya!”

“Tidak!”

“Sunny!”

Dua wanita muda itu mengawasi saat istana pasir itu runtuh karena air yang dituangkan di atasnya. Wanita yang lebih tinggi cemberut, sementara yang lebih pendek tertawa.

“Sunny! Lihat apa yang kaulakukan!” Kwon Yuri berteriak ke arah sepupunya. “Aku sudah menghabiskan banyak waktu membangun istana pasir itu, dan kau hanya menumpahkan air di atasnya!”

Sunny tertawa. “Karena itu menyenangkan!”

Yuri tetap cemberut.

“Oh, ayolah!” Sunny menyodoknya, menyingkirkan rambut pirang panjangnya dari wajahnya. “Bicara padaku! Tidak mau? Oke. Kalau begitu aku akan membeli es krim.”

Mata Yuri melebar senang. “Es krim? Belikan aku juga! Vanila untukku!”

Sunny mendengus. “Traktiranku. Hanya saat ini.” Dia memakai sandalnya dan berjalan menuju kios-kios di mana orang-orang menjual cemilan dan yang lainnya di dekat pantai.

Sampai di sebuah kios es krim, Sunny mengantre. Matahari begitu menyengat, dan dia tidak bisa berhenti memikirkan es krim yang dingin dan manis yang akan dimakannya beberapa menit lagi.

Keringatnya mulai membuat wajahnya basah saat menunggu. Sunny mengeluarkan dompetnya dari saku, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan menaruh dompet itu di atas kepalanya untuk mengurangi sinar matahari. Hanya membantu sedikit.

Karena antreannya terlalu panjang, antrean itu dibagi menjadi dua. Sunny menunggu di sisi kanan sampai gilirannya. “Dua es krim vanila dalam cup,” katanya dengan bahasa Inggris-nya yang buruk.

Penjualnya menganggukkan kepala dan menoleh ke arah pelanggan di samping Sunny. “Dan apa pesanan Anda?”

“Es krim… coklat,” pelanggan pria itu menjawab, juga dengan bahasa Inggris-nya yang buruk.

“Dalam cup?”

“… Ya.”

Penjual itu tersenyum dan membuat pesanan mereka. Sunny bersiul pelan, membuat pelanggan pria itu menolehkan kepala ke arahnya. Tiba-tiba, matanya terbelalak.

“Sunny?”

Sunny menoleh ke kiri. Ternyata si pelanggan pria itu. Tapi ingatan Sunny mulai muncul ke permukaan…

“Donghae?”

Pria muda itu tersenyum. “Aku tidak percaya ini kau! Sudah berapa lama, setahun? Apa yang kaulakukan di sini? Dan ada apa dengan rambutmu? Kau kelihatan menggemaskan!”

Sunny tersenyum. “Trims,” balasnya. “Aku sedang berlibur. Mengajar di Shanghai cukup melelahkan, kau tahu. Kau juga berubah! Apa kau memotong rambutmu? Apa yang kaulakukan di sini?”

“Aku memang memotongnya,” kata Donghae, tertawa. “Juga sedang berlibur. Mempromosikan albumku adalah kegiatan yang cukup keras.”

Sunny baru saja akan mengatakan sesuatu, tapi penjual itu menghentikannya. “Es krim kalian,” katanya sambil mendorong es krim di atas konter.

“Trims,” kata Sunny dan Donghae bersama-sama. Mengambil cup mereka, mereka berjalan menjauh dari antrean dan berjalan kembali ke pantai bersama-sama.

“Album?” tanya Sunny. “Album apa?”

Donghae mengangkat bahu. “Yah, aku telah debut sebagai pianis, Sunny. Maaf, aku tidak memberitahumu sejak dulu. Ini album terbaruku, yang kedua. Judulnya Apricot.”

Sunny terkikik sambil memakan es krimnya. “Apricot. Nama yang sepertinya menggemaskan.”

“Memang.” Donghae tertawa.

“Sepertinya aku telah mendengar namamu beberapa kali. Aku tahu kau Donghae, tapi aku tidak tahu kau Donghae yang kukenal.”

“Yah, kau tahu sekarang. Aku sudah menjalani tur keliling duniaku, jadi sedikit tenang bagiku untuk berada di sini.”

“Sepupuku adalah salah satu penggemarmu. Kurasa dia menonton konsermu semalam.”

Mata Donghae melebar, tidak percaya. “Benarkah? Kuharap dia menikmatinya.”

Sunny menganggukkan kepalanya. “Tentu saja. Dia penggemar beratmu.”

Hampir sampai di tempat di mana Yuri berada, Sunny berhenti berjalan. “Aku harus pergi, Donghae. Apa kau… mau bertukar nomor telpon atau apa? Kita tidak bisa pergi seperti ini.”

Donghae setuju. “Ide bagus.” Dia memberikan Sunny ponselnya, dan Sunny mengetikkan nomornya sementara Donghae melakukan hal sebaliknya.

“Ini,” kata Sunny ketika mereka mengambil ponsel mereka masing-masing. “Kuharap kita bertemu lagi, Donghae.”

Donghae tersenyum. “Aku juga berharap begitu. Aku akan pergi ke Paris lusa. Mungkin kita bertemu lagi di sana?”

“Aku akan pergi ke sana besok!” ujar Sunny cerah. “Yeah, mungkin kita akan bertemu lagi di sana. Sampai jumpa!”

***

[A/N]: Annyeonghaseyo! Maaf ya, update-nya lama, hehe. Tapi hari ini author update dua chapter! Jadi bisa langsung dibaca, yaa~ Makasih udah baca FF ini! ^^

8 thoughts on “Three Little Words (Chapter 4)

  1. waahhh..bgaimana bisa terjadi seperti ini? fany ktemu kyu,yoona brtmu sungmin,siwon bertmu seo, dan sunny brtmu donghae…
    kok bisa?dan seo knpa? ilang ingtan pa gmna??

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s