Three Little Words (Chapter 5)

Three Little Words

Title: Three Little Words (Chapter 5)

Author: tatabrigita

Main Characters: Siwon, Tiffany, Donghae, Yoona, Kyuhyun, Seohyun, Sungmin, Sunny

Main Songs: BoA – Only One, Girls’ Generation – Not Alone

Started: 060313

Genre: Romance, angst

Rating: General

Author’s Note: Author juga bikin versi bahasa Inggris-nya, bisa dilihat di sini.

***

Selasa, 24 Juli 2012

17.35 CEST

Rue Saint-Marc, Paris, Prancis

***

Tiffany berjalan sambil mengamati segala hal di sekelilingnya. Sudah nyaris gelap, dan dia hanya ingin kembali ke apartemennya (yang hanya beberapa meter dari sini) dan tidur nyenyak. Seperti biasa, harinya adalah hari yang melelahkan di kantor.

Dia lanjut berjalan hingga dia melihat apartemennya dari kejauhan. Tiffany tersenyum lega dan berjalan ke arahnya. Lalu, dari sudut matanya dia menangkap sesuatu—seseorang—yang familiar…

“Tiffany!”

Jelas-jelas dia tidak salah. Yoona berlari ke arahnya dari arah yang berlawanan dan memeluknya erat-erat. “Oh, Tiffany! Aku merindukanmu! Aku benar-benar merindukanmu! Aku merasa aku akan menangis sekarang!” teriaknya.

Tiffany masih kaget. Dia tidak menduga akan melihat Yoona berkeliaran di jalanan Paris pada waktu seperti ini. Dia baru saja bertemu dengan Kyuhyun—dan sekarang Yoona?

Yoona melepas pelukannya, tangan masih di bahu Tiffany. Dia tidak berhenti tersenyum, malah tersenyum lebih lebar. “Tiffany, bagaimana kabarmu? Aku selalu tahu kau di Paris, tapi aku tidak berpikir bahwa kita akan benar-benar bertemu!”

Tiffany mengedipkan matanya. “Eh, apa? Oh, ya—aku baik-baik saja. Aku juga merindukanmu, Yoona, dan yang lain, tapi aku baik-baik saja.” Dia memberikan eye-smile-nya untuk meyakinkan Yoona.

Yoona tertawa dan menyingkirkan rambut dari wajahnya. “Tiffany, kau tidak bisa membayangkan seberapa besar senangnya aku melihatmu.”

Tiffany tersenyum tulus dan memeluknya. “Aku tahu. Aku sangat, sangat senang untuk melihatmu juga. Tapi apa yang kaulakukan di sini? Bukannya kau di London?”

Yoona balas memeluknya. “Hanya berlibur. Capek menari terus, kau tahu.” Dia tertawa ringan.

Tiffany melepas pelukannya, tersenyum. “Kapan kau datang?”

“Bisakah kita berbicara sambil berjalan?” Yoona mengubah topik. “Tidak enak dilihat jika kita berbicara di luar dalam waktu seperti ini.”

Tiffany melihat sekeliling, menyadari bahwa nyaris tidak ada seorang pun di situ. Dia tidak ingin mengambil risiko ditangkap oleh penculik. “Kau benar,” katanya, berjalan ke arah kedatangan Yoona. Yoona cepat-cepat berjalan di sampingnya.

“Aku baru saja datang kemarin. Dan aku mengunjungi Sacre-Coeur pagi ini, dan kau tidak akan percaya siapa yang kutemui.”

“Siapa?”

“Sungmin!”

Mata Tiffany terbelalak. “Sungmin? Benarkah? Aku sedang sarapan di kafe dan aku bertemu Kyuhyun!”

Yoona berdecak. “Tidak mungkin hanya kebetulan,” ujarnya, memutar kepalanya untuk melirik Tiffany.

Yang lebih pendek mengangguk. “Ya. Mungkin ini sesuatu yang lain. Alam semesta berusaha memberitahu kita sesuatu?”

Keduanya tertawa.

“Omong-omong, kau mau ke mana, Fany?” tanya Yoona ceria. Dia hanya merasa sangat senang bisa bertemu temannya setelah waktu yang lama.

“Rumah. Aku capek,” balas Tiffany sambil mengeluarkan kunci apartemennya. “Kau boleh menginap bersamaku, Yoona.”

Yoona menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku menginap di sebuah hotel di Rue Saint-Honoré.”

Tiffany merasa sedikit kecewa—dia berharap bahwa mereka bisa menginap seperti yang mereka lakukan dulu sewaktu remaja. “Oh, baiklah, kalau begitu.” Kemudian perutnya berbunyi. “Apa kau ingin makan? Aku tiba-tiba sadar aku lapar.”

Wajah Yoona berubah lebih cerah. “Oke! Apa kau punya rekomendasi?”

Tiffany berjalan ke arah yang berlawanan. “Yah, ada yang satu ini—”

“Fany, awas!”

Yang disebut terakhir merasakan dorongan di perutnya, membuatnya mengeluyur ke belakang. Hal berikut yang diketahuinya, dia sedang bersandar di dinding sebuah bangunan dan rasa sakit menusuk-nusuknya.

“Tiffany! Apa kau baik-baik saja?”

Yoona berusaha untuk membuat temannya berdiri tegak lagi. Dia terlalu panik ketika sebuah mobil hampir menabrak mereka di jalan; dia mendorong Tiffany menjauh, tidak mempertimbangkan rasa sakit yang disebabkannya. Bagaimanapun juga, Yoona punya lengan yang kuat.

Tiffany menganggukkan kepalanya. “Yeah… Aku baik-baik saja…”

Yoona menarik Tiffany naik perlahan-lahan hingga dia bisa berdiri tegak lagi. “Aku benar-benar minta maaf, Tiffany,” yang lebih tinggi meminta maaf. “Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya panik dan kupikir—”

“Tidak apa-apa, Yoona,” Tiffany memotongnya, tersenyum. “Aku baik-baik saja. Aku paham kenapa kau melakukannya, jadi tidak perlu khawatir.”

Yoona menarik napas dalam-dalam. “Kau yakin? Ayo kita langsung pergi ke restoran itu, oke?”

Tiffany mengangguk.

“Kalian?”

Keduanya menoleh ke belakang. Mobil yang hampir menabrak mereka diparkir di pinggir jalan, tapi sekarang jendelanya terbuka, menunjukkan seorang pria muda dengan rambut hitam yang dipotong rapi.

“Siwon?!” kata Tiffany dan Yoona bersamaan.

Siwon tersenyum. “Aku tidak percaya ini! Ayo, masuk!” Dia turun dari mobil dan membuka pintu untuk kedua orang yang kebingungan. Tapi keduanya masuk ke mobilnya. Yoona duduk di kursi belakang, sementara Tiffany duduk di kursi penumpang depan.

Pria muda itu kembali ke dalam dan mulai menyetir. “Aku tidak—aku—astaga, aku minta maaf karena hampir menabrak kalian berdua!” katanya, matanya melirik ke arah mereka beberapa saat. “Aku hanya sangat lelah soal kerja, aku nyaris tidak memperhatikan jalan.”

“Tidak apa-apa, Siwon,” ujar Yoona ringan. “Yang penting kami berdua oke. Benar kan, Tiffany?”

Tiffany tersentak mendengar namanya dipanggil, dan buru-buru mengangguk. “Yeah, aku baik, Yoona.”

Lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah, dan Siwon berhenti menyetir. Dia mengambil kesempatan untuk memandang Tiffany tepat di matanya. Tidak ada yang berubah dalam diri Tiffany—kecuali rambutnya jauh lebih panjang sekarang. Tapi bagi Siwon, Tiffany masih wanita muda yang ceroboh tapi manis yang membuatnya nyaris kehilangan napas.

Jantung berdegup kencang, Siwon mengulurkan tangannya dan memegang tangan Tiffany. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya. “Bagaimana denganmu, Tiffany? Sudah cukup lama.”

Mata Tiffany terbelalak. Dia tidak kaget atas apa yang dilakukan Siwon—dia hanya kaget karena Siwon memutuskan melakukannya di depan Yoona. Tiffany lalu melihat ke belakang lewat kaca spion. Yoona menyeringai, matanya terpaku di tangan Siwon dan Tiffany.

“Aku baik-baik saja,” jawab Tiffany, tersenyum tulus. “Lagipula, kami baru saja akan pergi ke restoran, ya kan, Yoona?”

Yoona mengangguk. “Yeah. Apa namanya, Tiffany? Kau belum sempat memberitahuku sebelumnya.”

Perlahan, Tiffany menarik tangannya dari Siwon, membuat Siwon kelihatan sedikit kecewa. “Restoran Ratatouille, di Rue Montmartre. Kau harus mencoba makanan mereka.”

“Yah, kau pasti mengenal Paris seperti punggung tanganmu.” Yoona mengerutkan bibirnya. “Ayo kita ke sana.”

Di jalan, ketigany mengobrol dan bertukar banyak berita. Ketiganya lalu sadar—lagi—bahwa mereka merindukan mereka berdelapan bersama-sama.

“Aku pergi ke toko buku pagi ini,” jelas Siwon. “Sepertinya aku bertemu Seohyun di sana, tapi aku tidak yakin. Dia tidak mengenaliku.”

Yoona mengerutkan alisnya. “Apa? Bagaimana bisa?”

Siwon mengangkat bahu. “Dia mengaku bahwa dia Seohyun.”

“Ada sesuatu yang terjadi,” Tiffany angkat bicara. “Aku bertemu Kyuhyun pagi ini juga. Tapi dia mengenaliku. Kami bahkan bertukar nomor, hanya untuk jaga-jaga.”

Yoona mendengus. “Aku juga bertemu Sungmin dan bertukar nomor dengannya. Tapi tebak siapa yang bersamanya?”

“Siapa?”

“Seorang wanita!”

Mata Siwon melebar, tidak percaya. “Tidak akan! Sungmin benar-benar mencintai Sunny, aku yakin. Sungmin tidak akan mengkhianatinya seperti itu.”

“Yah, itu yang dikatakannya padaku,” Yoona memberitahu mereka. “Mungkin mereka hanya mengalami kisah cinta musim panas. Sungmin tidak akan melupakan Sunny.”

Mobil berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah lagi. Siwon bersandar di kursinya. “Entah dia punya pacar atau tidak, Sungmin pasti masih punya perasaan terhadap Sunny.”

“Omong-omong tentang Sunny…” Tiffany menegakkan badan dan menunjukkan ke pemandangan di luar. “Lihat siapa di sana.”

Dua lainnya melihat ke arah yang ditunjuk Tiffany. Wanita muda pendek itu berdiri di depan sebuah department store, dan jelas-jelas membeli banyak barang, dilihat dari jumlah tas belanja yang dibawanya. Sunny memakai kacamata hitam, tapi dia gampang dikenali oleh ketiganya, bahkan ketika rambutnya berbeda dari setahun yang lalu.

“Kita harus menawarinya tumpangan,” usul Yoona, berusaha melihat Sunny dengan lebih jelas.

Tiffany menekan tombol untuk membuat kaca jendela turun. “Sunny!”

Yang dipanggil tersentak. Dia menoleh kiri dan kanan, hingga matanya menangkap gerakan tangan Tiffany. Sunny berkedip beberapa kali, dan bibirnya melengkung membentuk senyuman.

Dia buru-buru berjalan menyeberangi zebra cross, dan sampai di sisi lain jalan. Sunny berlari ke arah mobil hitam Siwon, tepat ketika Yoona membuka pintu belakang dan dia meluncur masuk.

“Sunny!” Yoona langsung menariknya untuk sebuah pelukan.

Sunny menutup pintu dengan kakinya dan tersenyum. “Yoona! Astaga, sangat menyenangkan untuk bertemu kalian semua!”

Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau, dan Siwon menginjak pedal, membuat mobil bergerak lagi. “Bagaimana kabarmu, Sunny? Sudah cukup lama.”

“Selama ini menyenangkan,” jawab Sunny cerah, menaruh tas-tas belanjanya di sampingnya. “Kecuali bahwa aku sangat merindukan kalian. Aku bilang ke anak-anak di Cina tentang liburan kita bersama—mereka selalu ingin aku menceritakannya berulang kali.

Tiffany tersenyum. “Hal yang bagus bahwa aku terkenal di kalangan anak lima tahun.”

Sunny tertawa. “Tapi sekarang kita kembali bersama! Yah, tidak kita semua. Tapi aku tadi bertemu Donghae di Cannes. Aku berada di sana dengan sepupuku.”

Yoona berkedip beberapa kali, kelihatan kaget. “D-Donghae?” dia terbata-bata.

“Yeah,” Sunny mengiyakan. “Dia sudah debut sebagai pianis dengan album terbaru. Katanya dia akan datang besok.”

“Kenapa kita tidak menelpon ketiganya dan bertanya tentang makan malam bersama?” Siwon berbicara.

Tiffany mengangguk, antusias. “Ya, itu ide bagus!”

“Oh, bagus,” erang Sunny. “Kelihatannya aku akan menambah lebih dari beberapan pon.”

***

Selasa, 24 Juli, 2012

18.15 CEST

Restoran Ratatouille, Rue Montmartre, Paris, Prancis

***

“… Dan kau menumbuhkan rambutmu?”

“Sama seperti Tiffany!”

“Tapi Sunny, sungguh, kau kelihatan cantik dengan rambut pirang panjangmu.”

Sunny terkikik. “Trims, Kyuhyun. Kau belum pernah semanis ini.”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Apa yang bisa kukatakan? Aku menyesuaikan diriku dengan gaya hidup Prancis.” Semuanya tertawa.

Di perjalanan, Tiffany dan Yoona menelpon. Kyuhyun bisa datang untuk makan malam, tapi sayangnya Sungmin tidak bisa (“Aku minta maaf, Yoona, tapi aku tidak bisa pergi dengan kalian. Ada sesuatu dengan anak-anak—aku harus mengajar mereka sekarang. Bisakah kau menyampaikan salamku pada mereka?”). Sunny sedikit kecewa ketika Yoona memberitahu mereka, tapi ketidakdatangan Sungmin tidak akan membuat Sunny tidak menikmati waktu bersama teman-temannya.

Siwon terutama, mengalami waktu yang luar biasa. Di antara kedelapan orang, hanya Siwon dan Tiffany yang saling memiliki “partner” mereka. Dan Siwon sangat senang dengan itu. Dia tidak pernah merasa serileks ini dalam waktu yang sepertinya sangat lama.

Tiffany sedang menceritakan pada mereka sebuah lelucon Prancis ketika Siwon merasakan ponselnya bergetar. Dia mengeluarkannya dari sakunya. SMS lain.

Dari: Ibu

Siwon, apa kau sudah mengunjungi adikmu? Aku baru saja menelpon salah satu pelayan di sana. Katanya kau belum datang dan tidak meninggalkan pesan. Siwon, kumohon. Setidaknya cobalah untuk berbicara dengannya.

Siwon mendengus. Memang jarang, tapi hubungannya dengan ibunya sedang tidak baik. Hubungan mereka baik-baik saja sebelumnya, karena mereka berdua jujur satu sama lain, sama seperti orangtua dan anak yang lain.

Tapi satu dari mereka tidak sepenuhnya jujur.

Ibunya, Moon Ahyoung, telah menyembunyikan fakta bahwa dia berselingkuh sewaktu Siwon masih bayi. Tentu saja, ayahnya tahu—tapi Siwon masih merasa dikhianati. Apa dia anak yang buruk? Kenapa ibunya sendiri menyembunyikan fakta yang sudah seharusnya diketahuinya sejak waktu yang lama?

Ibunya berselingkuh dengan salah satu pewaris keluarga Kim, dan memiliki seorang putra. Siwon tidak ingat bagaimana ibunya bisa menyembunyikan fakta bahwa dia sedang hamil, meski mereka dan ayah Siwon tinggal di bawah satu atap yang sama. Tidak seperti Siwon, ayahnya sudah tahu sejak dulu. Sekarang Siwon tahu kenapa hubungan kedua orangtuanya buruk sejak dia kecil.

Pertengkaran mereka akhirnya berujung ke suatu keputusan. Kedua orangtuanya akan bercerai. Siwon adalah pria dewasa sekarang, dan dia bisa mengendalikan diri dengan baik. Tapi Moon Ahyoung, tetap saja, masih ibu biologisnya. Dia adalah orang paling penting dalam hidup Siwon. Siwon tidak bisa mengabaikannya seperti itu.

Ibunya ingin Siwon bertemu adik tirinya. Siwon telah melihat fotonya, tapi dia belum pernah bertemu dengannya karena adik tirinya berada di Paris, sementara Siwon berada di Seoul. Jelas-jelas, dia tidak ingin pergi keluar negeri hanya untuk melihat adik tiri yang tidak pernah diketahuinya.

Siwon hampir melupakan namanya. Ah, ya. Kim Ryeowook. Setahun lebih muda darinya. Siwon ingat bahwa mereka tidak punya kesamaan secara fisik—Siwon tinggi dan berotot, sedangkan Ryeowook sedikit pendek untuk usianya dan sedikit kurus.

Dia tidak tahu kapan dia akan bertemu Ryeowook. Malam ini? Besok? Dia masih belum siap.

Dia hanya ingin melupakan seluruh masalahnya dan melanjutkan hidup.

“Hei, kau baik-baik saja?”

Siwon dibawa kembali ke dunia nyata. Tiffany memandanginya lekat-lekat, menggenggam tangannya. Seperti yang sering dilakukannya dulu. Tiffany kelihatan khawatir, dan telah meninggalkan percakapan ria dengan ketiga orang lainnya.

“Aku baik-baik saja.” Siwon mengangguk. “Kau harus makan, Tiffany. Makananmu bertambah dingin.”

Tiffany mengabaikan perkataannya. “Persetan dengan itu. Ada yang menganggu pikiranmu, Siwon. Apa itu?”

Siwon tahu bahwa dia adalah pria yang jujur kepada orang lain—tapi tidak ingin membuat orang lain stres dengan masalahnya berbeda dengan berbohong.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya capek. Makan yang banyak, Tiffany. Kau lebih kurus daripada setahun yang lalu, kau tahu?”

***

“Maksudkmu kau akan benar-benar mengambil organ seseorang?”

Kyuhyun terkekeh. “Tergantung. Jika diperlukan—kalau organnya ada semacam virus atau penyakit apapun—dan aku akan melakukannya.”

Yoona melirik ravioli-nya. Tiba-tiba dia kehilangan selera makannya. “Misalnya kau akan mengoperasi jantung seseorang. Kau mengeluarkan jantung itu dari sistemnya untuk sementara. Benda… itu berdetak tepat di tanganmu. Dan kau tidak akan merasa… takut?”

“Tidak, tentu saja tidak!” Kyuhyun tertawa keras. “Aku sudah berlatih di Harvard. Aku sudah siap untuk apapun, kapanpun, dan di manapun.”

“Lalu, bisakah kau membuat daftar tentang cara menurunkan berat badan dalam beberapa hari?” Sunny angkat berbicara, memandangi panacotta di depannya.

Kyuhyun menatapnya. “Itu bidang yang berbeda di dunia medis, Sunny.”

Sunny mendengus dan mendorong piring itu. Dia juga kehilangan selera makannya. Mungkin karena dia tidak takut berat badannya naik (yah, mungkin sedikit takut) tapi karena Sungmin yang mengganggu pikirannya.

Kenapa dia tidak datang? Sungmin yang dikenalnya adalah orang yang perhatian. Orang yang sangat baik. Dia tidak akan meninggalkannya—mereka—seperti ini. Yoona bahkan mengatakan pada Sungmin bahwa Sunny juga datang untuk makan malam. Dan kenapa Sungmin masih menolaknya?

Sunny sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Tentu, dia sangat bahagia karena bertemu dengan teman-temannya (kecuali Sungmin dan Seohyun yang tidak ada di sini) tapi tawa dan senyumnya hanyalah kecoh untuk perasaannya yang sebenarnya.

Sunny sering mengkhawatirkan sesuatu dalam jangka waktu yang lama. Dan dia sedang mengkhawatirkan Sungmin. Bagaimana kalau dia sudah melanjutkan hidup? Bagaimana kalau Sungmin telah menerima bahwa dia tidak akan pernah melihat Sunny lagi, dan tidak mencintainya lagi?

Pikiran bahwa Sungmin tidak mencintainya lagi membuat hati Sunny patah. Meski mereka tidak pernah bertemu selama setahun, tapi cinta Sunny untuknya masih ada. Dia tidak akan pernah bisa mengabaikan perasaan yang begitu besar.

“Sunny?”

Sunny mendongak. Yoona sudah setengah selesai menghabiskan panacotta Sunny—dia tahu Sunny takkan keberatan. Matanya yang mirip mata kelinci betina menatap Sunny, berusaha menemukan sesuatu di bawah wajah cantiknya.

“Yeah? Ada apa?” tanya Sunny, berusaha terdengar ceria.

“Aku bisa melihat kau punya banyak pikiran,” Yoona menyimpulkan setelah mengamatinya. “Sekarang, ada apa denganmu?”

Sunny menghela napas. Dia ingin merahasiakan semuanya, tapi dia sudah terlalu sering melakukannya. Kadang, dia menangis pada malam hari atas segala tekanan yang diterimanya. Dia akan memberitahu Yoona sekali saja. Untuk membuatnya merasa lega.

“Aku hanya khawatir Sungmin tidak mencintaiku lagi.”

Sunny menduga Yoona akan mengasihaninya dan memeluknya erat, berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bukan karena Sunny ingin itu terjadi, tapi karena dia tahu Yoona adalah tipe yang akan melakukan hal itu pada situasi seperti ini.

Tapi ekspresi Yoona memancarkan rasa kasihan yang berbeda.

“Sunny, aku minta maaf.”

Sunny mengangkat alisnya. “Untuk apa?”

Yoona melirik ketiga orang lainnya—mereka sibuk berbicara sambil makan di sisi lain meja. Dia mencondongkan tubuh ke arah Sunny, berbicara pelan. “Kau tahu kan, aku bertemu Sungmin pagi ini?”

“Ya, ada apa memangnya?”

Yoona menghela napas. “Sunny, aku melihatnya. Tapi tidak sendirian.”

“Tentu saja tidak. Kau melihatnya dengan anak-anak yang diajarinya, kan?”

“Ya, tapi ada orang lain.”

“Kerumunan orang yang menonton?”

“Bukan.”

“Lalu siapa?”

Yoona benar-benar mengasihani Sunny, tapi yang disebut terakhir tidak ingin Yoona mengasihaninya seperti ini.

“Yoona.” Sunny memegang tangan orang yang lebih tinggi itu. “Katakan saja.”

“Pacarnya,” Yoona akhirnya menjawab. “Dia punya pacar. Aku tidak tahu namanya, tapi dia kelihatan dingin dan tegas.” Melihat ekspresi Sunny, Yoona cepat-cepat menepuk bahunya. “Sunny, aku minta maaf. Huh. Aku seharusnya tidak memberitahumu dari awal.”

Sunny menggelengkan kepalanya, memalingkan wajah. Dadanya tiba-tiba terasa berat, terlalu berat. “Tidak… apa-apa. Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Tapi, Sunny—”

“Jika dia sudah melanjutkan hidupnya tanpaku, biarlah. Aku harus melakukan hal yang sama. Aku bodoh sekali, berpikir bahwa dia akan menunggu setahun untukku.”

“Sunny—”

“Tidak, Yoona, aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja.” Sunny tersenyum samar tapi meyakinkan. “Lihat? Aku sempurna. Jangan mengkhawatirkanku. Aku senang kau memberitahuku tentang hal itu. Aku tidak bisa tinggal di abu-abu selamanya, meragukan apa dia masih mencintaiku atau tidak. Kau baru saja membantuku. Dan tolong jangan beritahu siapapun tentang hal ini. Aku tidak ingin mereka khawatir. Dan kau juga jangan mengkhawatirkanku.”

Yoona memandangnya. Dia tidak ingin menyetujuinya (Sunny adalah temannya! Yoona tidak ingin melihatnya terluka dalam cara apapun) tapi dia tidak punya pilihan lain. Ini demi Sunny.

“Baiklah.”

Sunny tetap tersenyum. “Terima kasih.”

Yoona mengangguk cepat.

Dan Sunny berputar ke arah yang lain, memakai senyum yang lebih lebar—salah satu senyum paling palsu yang pernah dilihat Yoona, tapi juga salah satu senyum yang paling meyakinkan.

“Jadi, siapa yang bayar?”

***

Rabu, 25 Juli, 2012

9.03 CEST

Monoprix, Avenue de l’ Opéra, Paris, Prancis

***

“Tiga bungkus mie instan… Enam apel… Empat coklat batangan…”

Kyuhyun sibuk memeriksa daftar belanja di ponselnya ketika dia menemukan rak penuh dengan keripik kentang. Dia tersenyum dan menaruh dua bungkus keripik itu di dalam trolinya. Ini acara belanja pertamanya di Paris, dan dia sedikit bangga bahwa orang lain bisa memahami bahasa Prancis-nya, yang menurutnya sendiri sangat buruk.

Setelah berbelanja selama satu jam, Kyuhyun mengantre untuk membayar makanan yang telah dibelinya. Karena itu hari Rabu, tidak banyak orang yang berbelanja. Lalu, giliran Kyuhyun untuk membayar.

Dia memandang ke sekelilingnya. Supermarket itu sangat bersih dan rapi. Aku bisa terbiasa dengan ini. Matanya berkeliaran ke manapun, memandangi orang-orang yang memasuki gedung itu…

Kyuhyun berkedip.

Tidak mungkin.

Melihat orang itu hampir meninggalkan supermarket, Kyuhyun tidak akan memiliki kesempatan lain bila dia menundanya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan mengambil belanjaannya, berlari ke arah orang itu.

Ketika Kyuhyun berada di luar, udara hangat musim panas menyambutnya. Masih pagi, tapi matahari sudah menyengat. Dia berlari lebih cepat, dan lebih cepat, berharap bahwa dia bisa melihat…

Dan ketika jarak mereka cukup dekat, dia memeluknya dari belakang.

“Seohyun!”

Seperti orang lain, wanita muda itu melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun dan berputar. Dia cukup tenang untuk seseorang yang kaget. Kyuhyun tersenyum, berusaha untuk tidak memeluknya lagi.

“Seohyun. Sudah cukup lama,” katanya, nyaris berbisik. “B-Bagaimana keadaanmu?”

Seohyun mengangkat alis. “Maaf?”

Kebahagiaan yang mengalir dalam Kyuhyun hilang. “A-Apa?”

“Maaf, tapi saya tidak mengenal Anda,” katanya. Seohyun merapikan rambutnya dan tersenyum sopan. “Saya rasa Anda telah salah orang. Permisi.”

Seohyun berputar pada tumitnya dan berjalan pergi.

Kyuhyun tidak memercayai matanya. Apa itu benar-benar Seohyun? Tapi memang benar! Dia sangat yakin. Rambutnya mungkin berbeda, dan dia sedikit lebih tinggi sekarang, tapi itu masih dia! Kyuhyun akan tetap mengenalinya dalam keadaan apapun.

Sekarang, kenapa Seohyun tidak mengenali Kyuhyun?

“Seohyun! Tunggu dulu!” Kyuhyun berlari lagi, mengejarnya. Dia terengah-engah—menjadi dokter terlatih tidak berarti dia adalah orang atletis. Dia akhirnya berhasil menyamai langkah-langkah Seohyun, menerima tatapan darinya.

“Maaf, tapi Anda—”

“Seohyun!” Kyuhyun melangkah ke depannya, menghalangi Seohyun untuk berjalan maju. Dia berusaha mengatur detak jantungnya kembali ke normal, tapi dia tidak bisa membuang sedetik pun. “Ini aku! Kenapa kau tidak mengenaliku? Apa kau tidak mengingatku?”

Seohyun mengerutkan bibirnya. Dia berusaha untuk sabar (baru kemarin, ada pria lain yang berkata bahwa dia mengenalinya) dengan semua ini, tapi apa yang sedang terjadi? Seohyun tidak tahu orang-orang ini, dan kenapa mereka mengenalnya?

Kecuali…

Wajah Seohyun berubah cerah.

Kyuhyun bingung melihat ekspresinya sekarang, tapi dia juga senang. Apa Seohyun sudah mengenalinya? Apa Seohyun mengingatnya?

“Tolong, ikut saya.” Seohyun berjalan melewati Kyuhyun, memimpinnya.

Kyuhyun mengangkat alisnya. Dia tidak yakin apa yang direncanakan Seohyun, tapi dia tetap mengikutinya.

Mereka sampai di tempat parkir, dan Seohyun berjalan ke sebuah mobil silver yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka. Dia membuka pintu depan, di mana kakak tirinya menunggu di dalam.

“Akhirnya!” ujar Kim Hyoyeon. “Kenapa lama sekali?”

Seohyun menaruh belanjaannya di kursi depan. “Unnie, seseorang mengenaliku. Mungkin sebelum…?”

Wajah Hyoyeon berubah cerah. Dia mengangguk. “Begitu. Aku akan bertemu dengannya.” Dia membuka pintu dan berjalan ke arah Kyuhyun, yang berdiri dengan canggung.

“Halo, aku Hyoyeon, kakak tiri Seohyun,” Hyoyeon mengenalkan diri, membungkuk. “Senang bertemu denganmu…?”

“Oh, aku Cho Kyuhyun,” balas Kyuhyun, masih kebingungan.

Hyoyeon tersenyum. “Kurasa kau bertemu Seohyun setahun yang lalu di Indonesia?”

Kyuhyun mengangkat alisnya. “Ya.”

Hyoyeon tetap tersenyum. “Kau bisa ikut kami, Kyuhyun-ssi. Aku akan menjelaskan semuanya setelah aku dan Seohyun berada di rumah.”

Kyuhyun ragu-ragu. Dia tidak ingin semobil dengan orang asing. Tapi Seohyun bukan orang asing. Dia adalah orang yang paling dikenal Kyuhyun, meski dalam waktu yang sedikit. Dia mencari jawaban kenapa Seohyun tidak mengenalinya—dan Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

***

Rabu, 25 Juli, 2012

9.39 CEST

Rue de l’Exposition, Paris, Prancis

***

“Apa kau mau minum?”

“Teh saja.”

Hyoyeon mengangguk dan berjalan ke dapur. Kyuhyun sangat tenang dalam perjalanan ke apartemen, sementara Seohyun sedikit gugup. Seohyun segera mengikuti kakaknya, meninggalkan Kyuhyun sendirian di ruang tamu apartemen mereka yang mewah.

Hyoyeon mengerutkan alisnya. “Apa yang kaulakukan? Temani tamu kita!”

“Aku tidak mengenalnya!” bisik Seohyun, panik.

“Aku juga!”

Hyoyeon memutar bola matanya dan mengambil bungkus the dari kontainer. “Seohyun, aku sudah bilang berkali-kali. Dia pria itu.”

Seohyun mengerutkan bibir. “Bahkan bila dia yang kubicarakan, aku tetap tidak punya perasaan apapun padanya sekarang.”

“Maka kau harus mengenalnya,” yang lebih pendek menaruh bungkus teh di sebuah cangkir dan meraih ketel. “Kalian berdua akan sangat cocok. Aku janji.”

“Kurasa kau harus menjelaskan semuanya kepada dia dulu,” usul Seohyun.

Hyoyeon menuang air ke dalam cangkir dan mengaduknya. “Kenapa tidak kau saja?”

“Aku buruk dalam menjelaskan sesuatu.”

“Tentu saja tidak. Kau seorang penulis.”

Seohyun menggembungkan pipinya. “Kumohon, unnie?”

Hyoyeon mendesah. “Baiklah. Aku saja. Menyingkir, sekarang,” balasnya, membawa cangkir teh di tangannya.

“Trims, unnie!” teriak Seohyun.

Hyoyeon keluar dari dapur dan memasuki ruang tamu. Dia tersenyum pada Kyuhyun dan menaruh tehnya di atas meja, lalu duduk di sofa di seberang ruangan.

“Terima kasih,” ujar Kyuhyun ringan, meneguk tehnya. “Bisa aku bertanya, apa yang terjadi pada Seohyun?”

Hyoyeon menegakkan punggungnya. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. “Yah… Beberapa hari setelah Seohyun pulang dari Indonesia, dia mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya hilang ingatan sementara. Seohyun tidak ingat apapun tentang dirinya pada awalnya. Untungnya, ketika Seohyun mengalami kecelakaan itu, dia membawa identitasnya dan mudah bagi para polisi untuk mengidentifikasi dia dan mereka menelponku.

“Setelah Seohyun pulih dari kecelakaan, dia mulai belajar tentang dirinya sendiri. Kubilang kalau kami tinggal bersama karena orangtua kami berada di Korea. Lalu kami pindah ke sini beberapa bulan setelahnya. Seohyun mengalami kecelakaan itu seminggu sejak kepulangannya. Selama seminggu itu, dia memberitahuku tentangmu. Kalian semua. Tapi ingatannya hilang setelah kecelakaan. Kata dokter hanya sementara, tapi sudah setahun dan kami tidak yakin…”

Ketika Hyoyeon mengakhiri penjelasannya, semuanya menjadi jelas untuk Kyuhyun. Siwon bilang di restoran bahwa dia bertemu Seohyun di toko buku. Jadi itu kenapa Seohyun tidak mengenalinya!

“Kau sebaiknya berbicara dengan Seohyun,” tambah Hyoyeon tiba-tiba. “Aku sudah bilang padanya dia punya perasaan terhadapmu, tapi dia tidak pernah yakin.”

Kyuhyun menghela napas. Dia ingin. Tapi bagaimana reaksi Seohyun nanti?

Tanpa menunggu jawaban, Hyoyeon berdiri dan memanggil Seohyun.

“Ya, unnie?” Seohyun muncul.

Hyoyeon berjalan ke kamar tidurnya, melewati Seohyun di jalan. “Bicara dengannya,” bisiknya sebelum pergi.

Seohyun membeku. Berbicara dengan Kyuhyun? Dia bahkan tidak mengenalnya! Yah, mereka pernah mengenal satu sama lain, tapi tidak sekarang. Apa yang harus kukatakan? Apa yang harus kulakukan?

Kyuhyun lalu memandangnya. Dia tersenyum ke arah Seohyun, berharap bahwa dia akan tersenyum balik. “Hei. Sini dan duduk.” Dia menepuk sofa yang didudukinya.

Seohyun menelan ludah. Perlahan, dia berjalan ke arah Kyuhyun dan duduk di ujung sofa, menjauhkan diri dari Kyuhyun. Pria itu hanya terkekeh. “Kita tidak akan dekat bila kau duduk di situ.”

“Tapi kita baru saja bertemu.” Seohyun tidak menghentikan mulutnya berbicara.

Kyuhyun tersenyum, dan Seohyun bisa melihat rasa kasihan di matanya. “Tapi kita pernah bertemu sebelumnya. Dan hari di mana kita membaca buku bersama? Mungkin itu hari terbaik yang pernah kualami.”

Seohyun cemberut. “Membaca buku? Lalu, kenapa hari yang terbaik?”

“Karena aku bisa bertemu denganmu.”

Jantung Seohyun berhenti berdetak.

“Coba,” Kyuhyun berbicara, mencondongkan tubuh lebih dekat. “Bagaimana kalau kau bertemu dengan yang lain?”

“Yang lain?”

“Teman-teman yang kita temui di Indonesia. Kau bisa mengenal mereka dari awal.”

Seohyun menggigit bibirnya. “Aku… tidak yakin.”

Kyuhyun cemberut. “Tidak ada salahnya bertemu orang baru. Lagi pula, aku akan ada di sana. Kau aman.”

Seohyun memandangnya, matanya. Mereka baru saja bertemu, tapi ada sesuatu dalam kata-katanya yang membuat Seohyun yakin. Dia tidak tahu kenapa, tapi dia tahu bahwa dia bisa mempercayai Kyuhyun.

“Baiklah.”

***

[A/N]: Makasih ya, udah baca ^^ Tadinya author mau update langsung tiga chapter, tapi chapter keenam masih diusahakan (?) Oh ya, author juga pengin bikin FF baru! Ada saran pairing apa aja? Boleh lebih dari 1 kok ^^ Jangan lupa comment, ya! Kamsahamnida~~

17 thoughts on “Three Little Words (Chapter 5)

  1. Ternyata seohyun hilang ingatan,oh y makasih tror udah publis ff ini 2 chapter langsung.
    Klo boleh saran buat ff terbaru author pairingnya yg jarang aja contoh kyufany atau yefany.

  2. huaaaaaaaaaaa, gitu toh yg terjadi ama seo…
    kirain kenapa, hehehehe
    lanjut min…
    gak sabar niy baca chapter berikutnya.

  3. seo hlang ingtan? poor kyu!
    sungmin kok tega gitu,dijodoin atau ada alasan lain?
    kapan yoonhae ketemu? ah,yg plg lega sifany nih! next

  4. Annyeong thor~~ aku reader baru di ff kamu B-) J
    aku suka sama alurnya, terus sama penggunaan kalimat kamu, apalagi ada seokyu couplenya :*
    tapitapi kenapa seo jadi amnesia sih?😦 kalo bisa tambahin org ke3 di couple seokyu ya, sama kaya sunsun..tapi org ke3nya cowo, jgn cewe;D /banyakmau\
    btw, author domisili dimana? Bali, kah?
    Ohya aku saranin buat pairing SeoHae ya, lagi pingin banget baca couple itu.. Abis jarang bgt sih, muehehe:D cepet dilanjut~

  5. sunny eonni…hiks T.T jangan sedih eo;mngkin sungmin oppa pnya alsan untuk itu, yoona bkal ktemu donghaee kyaaaa ><
    makin seru nih

  6. yeay semuanya kembali bertemu, tapi seohyun malah lupa ingatan -_- trus sungmin udah punya pacar. tapi akhirnya bakalan happy ending kan thor? lanjut thor cepetan di post yaaa chapter selanjutnya …..

  7. Hi thor🙂 sy readers baru. Daebak thor, begitu nemu ff ini, langsung sy habisin dr part 1-5. Lanjut ya thor😉 mudah2an seo bs cpt ingat kyu, & semua’a bs menyelesaikan masalah masing2

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s