Saranghae chap 1

Judul : Saranghae

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Cho Kyuhyun, Cho Jonghyun, Seo Joohyun, Im Yoona, etc.

Genre : fantasy, romance, sad

Length : chapter

Disclaimer : ide cerita murni milik author, castnya author hanya meminjam selebihnya mereka milik Tuhan, orang tua dan agensi mereka.

Ini ff fantasy karya author yang pertama. Yuppss… baru kali ini author berani nulis ff yang bergenre fantasy.. sebenarnya ini berawal dari mimpi author pribadi. Saking hobinya author bikin cerita, author kembangin deh jadi sebuah ff. Mungkin sedikit ada kesamaan dengan ff-ff yang seperti ini. Tapi ini benar-benar murni hasil pemikiran author sendiri dan idenya berawal dari mimpi author pribadi. Oke deh segitu aja cuap-cuapnya.

Happy Reading J

Don’t be plagiat !!

Summary : mimpi ini selalu datang dalam tidurku. Memimpikan seseorang yang tak ku kenal sama sekali. Sekali dua kali mungkin aku bisa menganggapnya hal wajar. Tapi ini sudah berkali-kali. Siapakah sebenarnya sosok dalam mimpiku itu?

 

Seohyun kembali terbangun dari tidurnya malam ini. Ia melihat jam dinding yang ada di kamarnya itu. Pukul dua dini hari. Seohyun menghembuskan nafas berat. Sesungguhnya ia merasa sedikit terganggu dengan mimpi yang sudah sebulan ini kerap datang dalam tidurnya. Sebenarnya bukan mimpi yang buruk. Tapi ia merasa aneh saja. Dalam mimpinya ia bertemu dengan seseorang. Seseorang yang tidak pernah ia kenal. Jika sudah terbangun seperti ini, Seohyun akan sulit untuk tidur kembali. Bukannya takut jika akan bermimpi hal yang sama, tapi rasa kantuknya sudah hilang. Penasaran. Itu yang Seohyun rasakan tiap kali bangun.

“Hhhhh…..” Seohyun kembali menghembuskan nafas beratnya. Kemudian ia mengambil segelas air minum yang ada di nakas sebelah ranjangnya. Meneguknya hingga tinggal separo.

“Siapa sebenarnya dia?” gumamnya. Karena bingung harus berbuat apa, akhirnya Seohyun putuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia lantas mengambil laptop dan mulai mengerjakan tugas kuliah yang sebenarnya masih lama deadline pengumpulannya.

$$$$$$$$

“Semalam mimpi itu lagi?” tanya Yoona, sahabat Seohyun. Saat ini ia dan Seohyun sudah ada di kantin fakultas mereka. Seohyun hanya mengangguk lemah.

“Mungkin namja yang ada di mimpimu itu kelak akan menjadi jodohmu Seohyun.” Ucapan Yoona barusan sukses membuat Seohyun mendelik tajam ke arah Yoona. Yoona yang menjadi objek tatapan hanya menampilkan cengiran.

“Ya kan siapa tau Seo Joohyun.” Lagi-lagi Yoona mencoba memperkuat argumennya.

“Sudahlah Yoon, jangan bahas itu lagi. Sudah kukatakan padamu dari dulu aku tidak percaya yang begituan.” Jawab Seohyun, lantas ia meminum jus jambu kesukaannya.

“Ne, ne…. o iya Seohyun nanti malam ada konser band favorit kita. Nonton yuk.”

“Sejak kapan aku bilang aku menyukai band itu?”

Yoona tak menjawab. Ia memang sadar jika Seohyun tidak begitu menyukai hal-hal seperti itu.

“Hanya kau yang menjadi fans berat mereka. Jadi ucapanmu tadi perlu diralat. Bukan favorit kita, tapi favoritmu.”

“Hhhh…ne ne nona Seo Joohyun. Tapi tak ada salahnya kan kau ikut aku. Sekali ini saja Seo….” rajuk Yoona.

“Aku malas keluar nanti malam Yoon… kalau acaranya siang aku masih bisa.”

“Haisshhh….kau ini. Ya sudahlah tak apa.” Yoona sedikit kecewa.

“Tapi aku janji, hari minggu kita akan jalan-jalan kemanapun kau mau. Shopping sampai tabunganmu habis juga aku mau.” Ucap Seohyun kemudian.

“Gomawo Seo…” Yoona lantak memeluk Seohyun gemas. Meskipun terkadang sikap Seohyun terkesan angkuh, menyebalkan, tapi Seohyun adalah sahabat yang baik dan pengertian. Kalau Seohyun tak suka, ya siapapun  tidak akan bisa memaksanya. Tapi Seohyun selalu dapat mencari solusi karena penolakannya itu.

“ehem..” deheman seorang namja membuat aktivitas kedua yeoja itu terhenti.

“Eh, Donghae oppa. Tumben mencariku hingga ke kantin.” Sahut Yoona setelah menyadari namjachingunya datang.

“Aku dari tadi menunggumu di gerbang fakultasmu. Sudah kuhubungi ponselmu tapi kau tak kunjung mengangkatnya.” Jawab Donghae yang kini sudah duduk di hadapan yeojachingunya itu.

“Ehehe, mianhae oppa. Ponselku ketinggalan di kamar dan aku lupa memberitaumu. Mianhae.”

“Gwaenchana. Pelan-pelan coba hilangkan kebiasaan burukmu yang pelupa itu.”

“Ne oppa. Gomawo sudah mau mengerti. Oya oppa sudah tidak ada jadwal kuliah lagi kah?”

“Sudah tidak ada chagi. Dosenku ada keperluan mendadak keluar kota.”

“oooo…” jawab Yoona sambil menganggukkan kepalanya.

“Yoona-ya, Donghae-ssi aku permisi dulu ya. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan.” Ucap Seohyun tiba-tiba. Sebenarnya bukan urusan yang begitu penting juga. Hanya Seohyun risih menjadi obat nyamuk di antara Donghae dan Yoona meskipun itu tidak sengaja.

“Ah ne Seohyun. Kalau kau mau pergi, tak apa. Aku sudah ada Donghae oppa yang menemani.”

“Oke, aku pamit.” Dongahe hanya tersenyum menanggapi. Donghae memang tidak begitu akrab dengan teman-teman Yoona. Meskipun itu Seohyun. Apalagi Donghae berbeda fakultas dengan mereka.

“Oppa, tolong bersikap hangatlah pada Seohyun. Dia itu sahabatku oppa.” Ucap Yoona setelah Seohyun  pergi.

“Loh aku kan tadi sudah tersenyum padanya. Masih kurang?”

“Ya tapi berbicaralah padanya meskipun hanya sebentar.”

“Aku masih belum terbiasa chagi. Lagi pula jika aku terlalu dekat dengan teman-temanmu nanti kau cemburu. Kau kan pencemburu sekali.” Bela Donghae.

“Aisshhh oppa…” Yoona menggembungkan pipinya sebal. Donghae mengacak rambut Yoona gemas.

 

$$$$$$$$

“Seohyunie, eomma dan appa mau ke luar kota untuk beberapa hari. Kau tidak apa kan sendiri dirumah?” Ny. Seo menghampiri putrinya yang sedang asyik menonton tv di ruang keluarga rumah mereka.

“Kenapa mendadak sekali eomma?”

“Ne Seohyun. Kantor appa mu memberitahunya mendadak. Dan eomma khawatir jika membiarkan appamu sendiri diluar kota. Kau tau sendiri kan belakangan ini kesehatan appamu menurun.”

“Baiklah, tidak apa-apa eomma. Aku bisa sendiri di rumah.” Jawab Seohyun tersenyum.

“Gomawo Seohyunie. Ya sudah, eomma mau membereskan baju dulu. Malam ini appa dan eomma berangkat.”

“Ne eomma.”

 

Seohyun POV

Sudah pukul 11 malam. Tapi aku belum bisa tidur. Dua jam sudah aku tiduran di ranjang tapi rasa kantuk itu belum juga datang. Aku kembali teringat pada mimpiku. Siapa sebenarnya namja yang ada dalam mimpiku itu. Dan mau apa dia selalu datang ke mimpiku belakangan ini. Jujur, dalam mimpiku itu aku sedikit mengaguminya. Ia….tampan. dan anehnya, dalam mimpiku itu aku tak pernah menanyakan namanya.

Wusshhh….. tirai jendela kamarku tertiup kencang.

“Aishhh” gerutuku. Ku tutup jendela yang memang lupa untuk ku tutup tadi. Anginnya lumayan deras sehingga aku sedikit kesulitan. Tapi akhirnya aku dapat menutup rapat jendelaku. Saat aku berbalik…..

“Ss….siapa kau? Kenapa tiba-tiba ada di kamarku?” tanyaku dengan ketakutan. Di dekat pintu kamarku tiba-tiba muncul seorang namja. Sepertinya aku pernah melihat namja ini. Tapi dimana ya?

“Kau bisa memanggilku Jonghyun.”

Aku mengerutkan kening. “Jonghyun, siapa? Aku tak mengenalmu dan merasa asing dengan namamu.”

Namja itu tersenyum. Kemudian ia mendekat ke arahku. Sontak aku mundur. Aku takut ia akan berbuat yang tidak-tidak padaku. Awas saja kalau sampai itu terjadi. Sambil mundur aku melirik sekitar untuk mencari benda-benda yang dapat kujadikan senjata barangkali namja ini melakukan sesuatu yang buruk padaku.

“Tenang saja aku tidak akan berbuat yang macam-macam padamu.” Ia berhenti mendekat. Aku pun berhenti mundur.

“Dengar ya, aku bingung kenapa kau tiba-tiba ada dikamarku. Dan sebenarnya mau apa kau? Kau mau menculikku ya?”

“Hhaha…. aniyoo… sudah kubilang aku tidak akan berbuat yang macam-macam padamu. Emmm…..sebaiknya kau tenanglah dulu. Aku akan menjelaskan semua padamu. Tapi….”

“Tapi apa?”

“Kau tidak boleh takut. Dengarkan aku sampai aku selesai menjelaskan dahulu.”

Karena rasa penasaran yang sudah membuncah kuturuti saja kemauannya. Aku mendengarkan dengan seksama penjelasannya tanpa memotong sedikitpun.

“MWOOYAA??” pekikku. Ia lantas membungkam mulutku.

“Sssttttttt” jangan teriak-teriak. Ini sudah larut malam. Aku melepas bungkamannya pada mulutku. Aku menatapnya tak percaya.

“Jadi…k.kkau….hantu?” tanyaku tak percaya. Tuhan apa lagi ini. Dikamarku ada sesosok hantu.

“Ne, tapi aku tak ada niat untuk menakutimu. Aku…aku hanya ingin berteman denganmu. Bolehkan?”

“Denganku? Apa tidak salah?” ia menggeleng.

“Hhhhh…….lantas?” tanyaku kemudian.

“Apanya?”

Aisshhh…..namja hantu ini ternyata pabo juga.

“Dunia kita beda. Lagipula kenapa harus aku? Kita sebelumnya tidak pernah kenal kan?” kulihat wajahnya menjadi sayu. Aku jadi tidak enak.

“Atau mungkin dulu saat kau masih hidup kita pernah bertemu?” tanyaku lagi. Ia menggeleng kuat.

“Hah yasudahlah tak apa. Jika itu maumu aku turuti.”

“Jadi kita teman?” tanyanya dengan antusias sambil mengulurkan tangannya.

“Ne.” Jawabku kemudian sambil menyambut uluran tangannya.

“Aku akan menemuimu saat-saat tertentu saja kok. Dan aku tidak akan menempati rumahmu ini.” Ucapnya.

“Ne, terserah kau saja.” Gila. Aku masih belum percaya. Aku berteman dengan hantu namja.

“Seohyun-ssi, kau masih belum bisa tidur?” tanyanya memecahkan lamunanku.

Aku menggeleng lemah.

“Kau mau ikut aku ke suatu tempat? Aku jamin kau akan menyukainya.”

“Boleh lah. Aku juga suntuk disini.”

Kemudian ia menggenggam kedua tanganku. “Pejamkan matamu.” Aku hanya menurut saja. Ku pejamkan kedua mataku. Aku merasa seperti terbang, melayang dengan sangat cepat.

“Bukalah matamu!” ucapnya. Aku lantas membuka kedua mataku.

“Whooaaa neomu yeppuda..” ucapku mengagumi tempat ini.

“Ini dimana? Indah sekali pemandangannya.” Aku tak henti-hentinya mengagumi tempat ini. Tempat ini seperti sebuah bukit, yang menghadap ke kota Seoul. Kerlap-kerlip lampu kota menambah keindahan.

“Aku tidak pernah tau ada tempat seindah ini di Seoul.” Ucapku. Karena tak ada yang merespon, aku menoleh sekitarku. Kemana namja hantu itu?

“Kau sedang apa?” tanyaku saat melihatnya memetik bunga-bunga yang ada disini. Tanpa menjawab, ia lantas mendekat dan menyerahkan rangkaian bunga itu pada ku.

“Ige mwoya?”

“Untukmu. Jangan sampai layu.” Jawabnya santai lantas duduk menghadap pemandangan kota Seoul. Aku mengikutinya duduk.

“Kau suka tempat ini?” tanyanya.

“Ne, pemandangannya indah.”

“Dulu jika aku sedang ada masalah, aku selalu datang ke tempat ini.”

Kami terdiam. Menikmati suasana tenang yang ada. Benar-benar menenangkan. Namja hantu itu tiba-tiba membaringkan tubuhnya ke tanah. Memejamkan matanya. Tanpa pikir panjang aku mengikutinya. Ku pejamkan mataku. Menikmati semilir angin malam yang berhembus. Benar-benar suasana yang ku suka, tenang.

Seohyun POV END

 

$$$$$$$

Seorang namja tampak tergesa-gesa menuju sebuah ruangan untuk menemui seseorang. Tok.tok..tok… ia mengetuk pintu ruangan tersebut.

“Masuklah.” Jawab orang yang berada di dalam ruangan tersebut.

Namja itu pun masuk. “Mianhae songsaengnim saya terlambat.” Ucap namja itu dengan raut wajah penuh penyesalan.

“Gwaenchana. Duduklah.”

“Ne, kamsahamnida. Songsaengnim ini proposal skripsi yang telah saya perbaiki.” Namja itu menyerahkan sebuah map yang berisikan proposal skripsinya. Namja paruh baya yang dipanggil songsaengnim itu menerima lantas membaca sekilas isi map yang diberikan padanya.

“Oke, Kyuhyun kau boleh keluar. Besok kau bisa menemuiku lagi untuk hasil perbaikan proposal ini.”

“Ne songsaengnim, saya permisi.” Sebelum keluar, namja itu yang bernama Kyuhyun membungkukkan badannya hormat pada sang dosen.

 

“Fffiiuhhh… untung tidak kena marah” ucapnya sambil mengelus dada setelah keluar dari ruangan dosen pembimbing skripsinya itu.

“Oppa ! Kyuhyun oppa!” seorang yeoja berlari ke arahnya sambil meneriakkan namanya.

“Eh Sulli. Ada apa?”

“Oppa sudah selesai menemui dosen?”

“Sudah. Waeyo?”

“Kajja oppa temani aku ke toko buku. Aku belum begitu mengerti apa yang dijelaskan dosenku tadi.”

“Kau harus membiasakan diri. Di dunia perkuliahan tidak sama dengan SMP ataupun SMA. Memangnya kau sudah tidak ada jadwal kuliah lagi?”

“Hari ini hanya ada satu mata kuliah oppa.”

“Yasudah kajja. Tapi sepulang dari toko buku kita mampir ke makam Jong oppa dulu ya.”

“Okke deh oppa. Aku juga kangen dengannya, sudah lama tidak berkunjung ke makamnya.”

 

“Oya oppa, kemarin lusa saat aku disuruh eomma membersihkan kamar Jong oppa aku menemukan sesuatu. Sepertinya itu diary Jong oppa.” Ucap Sulli saat mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan ke toko buku.

“Jinjja? Boleh oppa melihatnya?”

“Ne oppa. Nanti jika sudah sampai rumah aku berikan pada oppa. Sekarang masih aku simpan dikamarku.”

“Kau sudah membukanya?”

“Ishh oppa. Aku ini bukan tipe orang seperti itu oppa. Meskipun itu barang milik keluargaku sendiri, aku tidak akan lancang menggunakannya.”

“Kau memang adik yang baik.” Puji Kyuhyun sambil mengacak rambut Sulli.

“Tapi mungkin jika oppa yang membaca diary itu, akan lebih berguna daripada aku.” Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi perkataan adiknya barusan.

 

$$$$$$$

Cling… tiba-tiba sosok Jonghyun muncul disamping Seohyun yang tengah memilih-milih buku di perpustakaan kampusnya.

“Aisshhh bisakah kau tidak muncul tiba-tiba seperti itu?” gerutu Seohyun.

“Hehe, kau takut ya nona Seo?” sebenarnya Jonghyun bertanya seperti itu bukan untuk menggoda Seohyun. Ia punya maksud tersendiri. Ia masih ragu dengan kemauan Seohyun untuk berteman dengannya. Ia sadar, Seohyun hanyalah manusia biasa yang pasti memiliki rasa takut. Sosok hantu Jonghyun sebenarnya tidak menakutkan. Sosoknya sama seperti manusia pada umunya. Tidak ada darah maupun luka. Hanya saja Jonghyun tidak pernah berganti pakaian tiap menemui Seohyun.

“Bukannya takut, aku hanya kaget saja. Ya, ku akui terkadang aku sedikit merasa takut denganmu. Tapi kupikir selama kau tidak mengganggu dan berbuat macam-macam padaku, kenapa harus takut.” Seohyun kemudian melangkah menuju barisan bangku yang disediakan untuk mahasiswa yang ingin membaca di perpustakaan itu. Jonghyun mengekor dibelakangnya.

“Gomawo Seohyun.” Ucap Jonghyun tulus. Kini ia sudah yakin jika gadis itu tulus mau berteman dengannya.

“Seohyun, kalau boleh aku bertanya, kenapa kamu mau berteman denganku?” tanya Jonghyun yang kini telah duduk berhadapan dengan Seohyun.

“Aku kasihan padamu.  Karena hanya aku yang dapat melihatmu, dan kau tidak bisa menjadikan orang lain temanmu ya sudah aku terima saja.”

“Kau terpaksa?”

“Molla…” jawaban Seohyun barusan, seketika membuat Jonghyun tutup mulut. Ia tidak membuat pertanyaan-pertanyaan lagi untuk Seohyun. Dan Seohyun pun sudah larut dalam kegiatannya membaca.

 

Kyuhyun POV

Aku membuka lembaran-lembaran diary Jonghyun hyung. Kadang aku ingin tertawa geli, pasalnya dia itu namja. Sempat-sempatnya menulis diary seperti ini. Aku berhenti di salah satu halaman.

12 November 2005

Hari ini aku menyelamatkan seorang yeoja. Ia hampir tertabrak mobil. Untunglah aku datang disaat yang tepat. Sebelum aku sempat menanyakan namanya, yeoja itu berlari meninggalkanku. Hmmm…..yeoja yang manis.

Kemudian aku kembali membaca lembar demi lembar isi curahan hati hyungku satu-satunya ini.

30 Desember 2005

Tanpa sengaja aku melihat yeoja yang aku selamatkan dulu di toko buku tadi sore. Tapi aku tidak berani menghampirinya. Aku takut dia lari lagi.

15 Maret 2007

Hari ini aku mengantar adikku Sulli untuk ke sekolah. Ia akan mendaftar di sebuah SMP. Dan aku kembali bertemu yeoja itu. Ternyata ia bersekolah di SMP tempat Sulli mendaftar. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh.

28 Februari 2008

Setelah sedikit memaksa Sulli untuk mau membantuku, akhirnya aku bisa mengetahui nama yeoja itu. Seo Joohyun. Nama yang indah.

21 Juni 2010

Setelah yeoja itu lulus SMP, aku tidak dapat bertemu dengannya lagi. Ralat. Maksudku aku tidak dapat melihatnya secara diam-diam lagi. Sulli tidak bisa mencarikanku info tentang dimana SMA dia.

Jadi ini hyung yang membuatmu tidak bisa menerima Sooyeon. Aku menutup diary itu.

Flashback

“Maaf Sooyeon-ssi, aku tidak bisa.” Ucap Jonghyun. Saat ini ia bersama seorang yeoja cantik. Temannya saat SMA sekaligus anak dari teman appanya.

“Tapi oppa, tidak bisakah kau mencobanya? Mungkin rasa itu akan datang seiring kita menjalaninya. Oppa…..aku benar-benar mencintaimu..”

“Mianhae…..jeongmal mianhae aku tidak bisa. Kau bisa memiliki namjachingu yang menyayangimu dengan tulus, yang bisa membahagiakanmu.”

“Baiklah oppa… tapi aku tidak akan dengan mudah menggantikanmu dengan orang lain dalam hatiku. Sampai kapanpun aku akan menunggumu oppa. Menunggumu mau menerimaku.”

Jonghyun hanya diam. Ia tak mampu berkata apapun. Sooyeon adalah gadis yang cantik, baik, dan anak dari keluarga terpandang. Sooyeon bisa mendapatkan namja yang lebih baik darinya.

“Dan aku pamit oppa. Aku memutuskan untuk melanjutkan studyku ke Paris. Aku ingin mewujudkan impianku menjadi designer.”

“Ne Sooyeon, oppa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

Flashback END

 

“Hyung……..bogoshippo….” aku memeluk sebuah bingkai foto yang terdapat fotoku dan Jonghyun hyung.

Kyuhyun POV END

 

$$$$$$$$

Sesuai janji Seohyun, hari minggu ia dan Yoona pergi jalan-jalan. Dan Jonghyun juga ikut. Tentunya tanpa Yoona ketahui, karena orang lain tidak akan bisa melihat Jonghyun selain Seohyun. Dan orang-orang tertentu yang Jonghyun kehendaki.

“Hahh….Seohyun-ah, aku benar-benar puas hari ini.” Saat ini Yoona dan Seohyun berada di cafe yang ada di mall tempat mereka berbelanja. Mereka memutuskan untuk istirahat sekaligus makan siang melepas lelah setelah kurang lebih 4 jam berputar-putar di mall itu.

“Haha….jangan terlena, cek tabunganmu. Jangan-jangan beneran udah ludes.”

“Tidak akan… aku sudah mengaturnya semalam. Kita memang lama berkeliling mall ini tapi seperti yang kau lihat, belanjaanku hanya sedikit. Justru belanjaanmu yang banyak.”

“Aku juga tidak tau Yoon, hari ini aku begitu mood untuk berbelanja. Oya kau mau makan apa, daritadi kita belum pesan apapun.”

“Terserah kau saja. Aku mau menelepon Donghae oppa dulu.” Yoona kemudian beranjak pergi menuju tempat yang agak sepi.

“Haisshhh dasar. Giliran ingat Donghae saja aku di cuekin.” Seohyun lantas memesan dua porsi makanan dan dua gelas jus.

“Ehem..”

“Eh, mianhae Jong-ssi.” Ya, daritadi Seohyun seperti melupakan keberadaan Jonghyun. Lagipula ini konsekuensinya. Kalau Seohyun mengajak ngobrol Jonghyun, bagaimana Yoona? Nanti Yoona pikir Seohyun sudah gila karena bicara sendiri.

“Gwaenchana.. eemm….ku lihat tadi kau begitu bersemangat berbelanja.”

“Ah ne, hehe aku juga heran kenapa. Biasanya juga tak seperti ini.” Jawab Seohyun malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Seohyun-ah, Donghae oppa akan menyusul kesini sebentar lagi. Dia mengajakku jalan. Tidak apa kan?” tanya Yoona yang kini sudah kembali duduk.

“Ne, gwaenchana. Lagipula jika aku melarangmu kau akan tetap merayuku.”

Yoona hanya menanggapinya dengan cengiran. Kemudian ia mencubit gemas pipi chubby Seohyun. “Kau memang sahabat yang paaaaaaaling baik sedunia.” Puji Yoona.

“Kau berlebihan.” Makanan pesanan mereka pun datang.

“Saatnya makaaannn..” ucap Yoona antusias bersiap menyantap makan siangnya.

“Kau tidak menunggu Donghae dulu?”

“Aniyo.. oppa bilang aku langsung makan saja. Setelah ini kami langsung jalan-jalan.”

“Oohh… yasudah. Kajja kita makan.”

“Temanmu ini lucu ya.” Bisik Jonghyun pada Seohyun, tentunya tanpa diketahui oleh Yoona. Seohyun menaikkan sebelah alisnya karena heran. Seohyun tak mau menanggapi, karena masih ada Yoona.

 

Seohyun POV

“Seohyun-ssi, kau kuliah semester berapa?” tanya Jonghyun si-hantu itu tiba-tiba memecah kesunyian diantara kami saat ini. Sekarang aku tengah jalan berdua dengannya dari halte bis menuju rumahku.

“Semester 5.” Jawabku singkat. Hah, entahlah. Aku belum begitu sepenuhnya nyaman dengan namja hantu ini.

“Ooo…..” kami kembali saling diam. Mungkin ia kehabisan stok pertanyaan untukku. Dan aku pun belum berminat bertanya sesuatu padanya. Bukan apa-apa, aku takut pertanyaanku menyinggungnya.

Tak terasa sampailah kami di depan rumah. Aku segera membuka pintu gerbang rumahku.

“Hah….aku benar-benar lelah..” ucapku sambil duduk merentangkan kedua tanganku di sofa ruang tamu. Merasa tak ada yang merespon, aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah. ‘kemana perginya namja hantu itu? Mentang-mentang hantu seenaknya saja pergi diam-diam dan datang diam-diam pula.’

Saking lelahnya, aku memejamkan mataku. Tanpa peduli dimana aku sekarang.

“Non…, nona Seohyun..” kudengar samar-samar suara seseorang membangunkanku.

“Ah bibi. Ada apa bi?”

“Sebaiknya nona beristirahat dikamar saja biar lebih nyaman.”

“Ne bi. Kalau begitu saya permisi kekamar dulu ya. Oya bi, tolong bawakan segelas air putih ke kamar saya ya.”

“Ne nona.”

Aku pun beranjak menaiki tangga menuju kamarku. Saat ku buka pintu kamarku, aku sedikit terkejut karena namja si-hantu itu sudah duduk manis di kursi yang ada di balkon kamarku.

“Kau ini, mentang-mentang bisa menghilang seenaknya saja meninggalkanku.” Gerutuku sambil merapikan barang belanjaanku tadi. Namja itu masih belum merespon ucapanku. Tidak biasanya. Ada apa dengannya ya? Kulirik dia, sedang memandang pemandangan dari atas balkon. Dari raut wajahnya, seperti memikirkan sesuatu.

Aku jadi tidak enak hati. Kuputuskan untuk menghampirinya. Namanya teman, harus bisa meringankan beban temannya saat menemui kesusahan. Hey, aku tulus kok mau berteman dengannya meskipun ia…..

“Kau kenapa? Sepertinya ada yang kau fikirkan.” Ia menoleh padaku, tersenyum. Senyumannya begitu hangat, meneduhkan. Padahal aku tau ia sedang memikirkan sesuatu.

“Ayolah….ceritakanlah padaku.. katanya kita teman.” Bujukku setelah ia tak mau menjawab dan kembali menatap kedepan.

“hhhhh…….aku hanya merindukan seseorang. Ah, ani merindukan beberapa orang.” Ungkapnya kemudian.

“Kalau boleh aku tau siapa yang kau rindukan? Pasti yeojachingumu ya?”

Dia tertawa terkekeh.

“Aniyo… aku tidak punya yeojachingu selama aku masih hidup.”

“Lalu siapa? Biar kutebak saja. Pasti kau rindu keluargamu ya?”

Ia kembali menoleh padaku. Lalu mengangguk lemah.

“Kenapa kau tidak menemui mereka saja?”

“Aku tidak mau mereka sedih.”

“Jawaban konyol.” Ucapku lantas berdiri kembali menuju lemariku untuk menata baju. Namja itu benar-benar. Kalau dia kangen ya temui saja. Cukup melihat dari jauh kan bisa. Asal bisa melihat saja itu sudah cukup. Tidak usah menampakkan diri juga.

“Harusnya kau itu tetap kesana. Tidak perlu menampakkan diri di depan mereka. Cukup melihat, bagiku itu sudah lebih dari cukup.” Tambahku.

“N…nona…bicara dengan siapa?” tiba-tiba bibi Nam sudah berdiri di pintu. Aku lupa menutup pintu kamarku tadi.

“Nde??? A..aa..aku…”

 

TBC

11 thoughts on “Saranghae chap 1

  1. Namja yg datang dimimpi seo eonnie itu jonghyun atau kyuhyun??
    Abis muka mereka kan rada” mirip,,
    wkwk..😀

    jadi jonghyun waktu masih hidup suka sama seo eonnie
    #manggut”
    mungkin kah itu alasan jonghyun mendatangi seo eonnie??
    tpi saat jadi arwah (?) masih kah jonghyun suka seo eonnie??

    omo!!O_o
    bibi nam ngeliat seo eonnie ngomong sendiri

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s