Duty 719 -4Shine-

Title                :           DUTY 719 ~4Shine~

Author           :           Denzycus

Cast                :           Seohyun, Kyuhyun, Woosung

Genre             :           Thriller, Tragedy, Romance

Length            :           2.300 word

duty

DUTY 719 ~4Shine~

Kepulan asap putih tipis keluar dari mulut dan hidung Seohyun. Udara musim dingin sangat kental pagi ini. Seohyun melangkah menuju tempat pembuangan sampah di sekitar rumahnya, dengan menenteng kantong plastik hitam yang cukup besar di tangannya.

            Sesampainya di bak sampah. Ia melempar dengan kasar kantong plastik di tangannya tadi. Lantas mengambil korek api yang berada di sakunya. Ia menghembuskan napas, mengeluarkannya dengan kasar. Terasa berat melakukan ini. Namun semua ini harus dilakukan. Demi menjalankan kewajibannya. Janjinya pada seseorang.

            Tanpa ragu ia menyalakan korek api. Lalu mengarahkan api pada kantong plastik itu. Kobaran api membakar secara perlahan kantong plastik itu. Seohyun menghembuskan napas. Lega. Ia berhasil lagi! Matanya menilik kantong plastik yang perlahan terbakar. Tatapannya dingin. Sebesat rasa benci dan bersalah mencuat di hatinya.

            Udara semakin dingin. Seohyun bergidik. Lantas merapatkan mantel tebal yang melekat di tubuhnya. Tak terpikir olehnya untuk bergegas melangkah pergi. Ia harus memastikan –seperti biasanya. Kantong plastik ini harus benar-benar terbakar tanpa sisa!

            “Seohyun-ah!” pekik seseorang dari arah belakang.

            Seohyun tak menoleh. Ia sudah kenal dengan suara ini. Suara satu-satunya seseorang yang ia miliki saat ini. Satu-satunya yang menyayanginya. Seorang laki-laki yang tahan menghadapi dirinya, Cho Kyuhyun.

            Seohyun bisa merasakan napas tersengal dari Kyuhyun. Telinga gadis ini sangat peka. Ia menduga saat ini Kyuhyun tepat berada di balik punggungnya.

            “Seohyun-ah…kau… melakukannya lagi?” tanya Kyuhyun dengan napasnya yang tersengal. Dengan ragu ia menyentuh pundak gadis di depannya.

            Hening. Tak ada jawaban apapun.

            Kyuhyun masih diposisi yang sama. Tak bergerak seinchi pun. Ia menelan ludah. Pahit. Melihat Seohyun yang seperti ini lagi. Benar-benar membuatnya frustasi. Ia tidak ingin gadis yang disayanginya ini melakukan semua itu. Melakukan hal yang sangat berdosa.

            Seohyun fokus menatap kantong plastik yang hanya tersisa secuil. Ia menghembuskan napas –lagi– kala melihat kantong plastik itu sudah musnah. Tak tersisa. Lantas ia menyentuh tangan yang berada di pundak sebelah kanannya. Ia berbalik. Matanya bertemu dengan tilikan mata Kyuhyun yang sendu. Tidak ada pancaran sinar bahagia sama sekali.

            Seohyun tersenyum. “Oppa, aku harus berlatih untuk melakukan kewajibanku. Tanggung jawabku pada Eomma.” ucapnya dengan lembut.

            Kyuhyun terdiam. Tercekat. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Perbuatan Seohyun adalah kewajiban sekaligus dosa besar.

            “Seharusnya… aku tidak meninggalkanmu sendirian kemarin. Jika aku berada disisimu, kau….pasti tidak akan melakukannya lagi. Mian..” jawab Kyuhyun dan menundukkan kepalanya. Ia merasa matanya sudah panas. Ia tak ingin air matanya mengalir dan terlihat oleh Seohyun.

            “Oppa tidak salah. Justru Oppa sangat membantuku.” Tukas Seohyun.

            Benar. Kyuhyun sangat membantu Seohyun dalam mempersiapkan kewajibannya. Kewajiban dari ibu Seohyun sepuluh tahun yang lalu. Gadis itu mengingatnya sampai saat ini. Mempersiapkan dengan mantap. Dendam dan rasa sakit hatinya mampu mendongkak kemantapannya untuk segera menjalankan kewajibannya itu. Ia akan membalas semua sakit yang dirasakan ia dan ibunya kala itu.

            Saat ia melihat ibunya disiksa. Tangisan sang ibu yang sangat perih. Saat ia melihat ibunya dibunuh di depannya. Darah yang mengucur dari tubuh ibunya. Saat ia mendengar suara parau ibunya yang meminta bantuan. Semua adegan itu terekam dengan jelas di ingatan Seohyun. Ingatan yang selalu menghujam hatinya selama ini. Sakit dan marah jika ia teringat itu semua.

            Kehadiran Kyuhyun, membuat sebersit cahaya ketenangan muncul pada hati Seohyun. Dengan kasih sayang Kyuhyun yang diberikan padanya, ia merasa sangat nyaman.

Tetapi, setelah Kyuhyun tahu Seohyun akan melakukan kewajiban itu. Ia berusaha menghentikan Seohyun. Ia membujuk Seohyun agar melupakan semuanya. Ia mengajak Seohyun memulai hidup yang baru dan mengubur semua kenangan pahit gadis itu.

            Tidak semudah itu memberhentikan tekad Seohyun. Tidak bisa! Tidak akan! Itulah jawaban Seohyun. Rasa tekad yang sudah dipupuk dari sepuluh tahun yang lalu tidak bisa ia musnahkan. Bahkan jika demi Kyuhyun.

●●●

             Sebagai anak memang seharusnya kita mematuhi orang tua. Menjalankan tanggung jawab yang diberinya. Tidak ada orang tua yang menjerumuskan anaknya dalam dosa besar. Keyakinan itu sudah tertanam sejak kecil pada Seohyun. Ia menganggap semua yang diminta oleh ibunya adalah kewajiban baginya. Ia harus melakukannya. Demi menebus rasa bersalahnya pada sang ibu.

            “Seohyun-ah kau harus membunuhnya!”

            Kalimat itulah yang terus menghantui Seohyun. Permintaan ibunya pada hembusan napas terakhir. Seohyun harus membunuh orang yang sudah membunuh ibunya. Orang yang dengan tega membunuh ibu yang sangat dicintainya itu. Di depannya. Matanya dengan jelas melihat adegan itu.

            Apartemen yang sampai sekarang ia tempati. Apartemen nomor 719. Tempat dimana ia selalu terbayang akan kejadian itu. Bahkan sering ia melihat bayangan ibunya yang terlihat sangat nyata. Mengucapkan permintaannya pada Seohyun. Deraian air mata selalu mengiringinya. Tetapi sudah menjadi kewajibannya untuk tetap tinggal di apartemen ini. Menunggu objek kewajibannya tiba.

            Rasa bersalah dan takut menjadi momok hidupnya. Perih dan sakit di sana. Di dalam rongga hati. Kendati hati itu sudah terisi sedikit cahaya ketenangan.

            Seohyun duduk di pinggir kasurnya. Matanya menatap kedepan. Kosong. Pikirannya berkecamuk. Hatinya terasa nyeri. Ia menyentuh dadanya yang kian sesak. Menekannya.

            Samar ia melihat di hadapannya kini ada sang ibu. Ibunya tersenyum, namun deraian air mata mengalir. Seohyun semakin merasa sesak. Napasnya tersengal. Matanya mulai memanas. Ia mengerjapkan matanya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Sosok itu semakin jelas. Senyum dan air mata itu…. membuatnya tercekat.

            “Eomma…” lirih Seohyun yang terdengar perih. Sosok di depannya kini mengagguk pelan.

            “Eomma! Eomma….” Seohyun sedikit memekik. Meninggikan suaranya. Ia bangkit dari duduknya. Mencoba mendekati sosok itu.

            “Eommamianhe….” Seohyun semakin terisak mengucapkan itu. Sosok ibunya hanya mengagguk lagi. Air mata Seohyun semakin deras mengalir.

            Perlahan sosok ibunya itu membalikkan badannya. “Eomma!! Kajima…” ucap Seohyun. Ibunya terdiam. “Jebal…” lirihnya.

            Sosok itu perlahan mulai mengabur. Perlahan hilang dari pandangan mata Seohyun. “Eomma!! Andwae!!” pekiknya dengan keras. Kedua tangannya ia letakkan di kedua sisi telinganya.

            Seketika isakan tangis dan lontaran kalimat dari ibunya terdengar nyaring di telinganya. Adegan menyakitkan itu berputar kembali di kepalanya. Semakin membuatnya sakit. Pahit. Isakan yang keluar semakin terdengar menyakitkan.

            “Seohyun-ah!”

            Kyuhyun tercekat melihat keadaan Seohyun. Ia menghampiri Seohyun. Pekikan Seohyun tadi mampu membuatnya panik. Sekarang ia melihat gadis itu terduduk dengan tangisan yang menyakitkan. Sungguh ia tak sanggup melihat Seohyun seperti ini. Seakan dirinya tidak ada gunanya lagi.

            “Seohyun-ah, ada apa?” ucap Kyuhyun dengan mengelus pundak Seohyun. Keringat dingin bercucuran. Panik. Keadaan seperti ini bukan pertama kalinya untuk Kyuhyun. Tetapi kali ini Seohyun kolaps lebih buruk dari biasanya.

            Isakan tangis Seohyun semakin menjadi-jadi. Kyuhyun seketika memeluk erat Seohyun. Cukup. Kyuhyun akan ikut terisak jika seperti ini. Hatinya terlalu rapuh jika melihat Seohyun yang seperti ini. Lemah.

            “Seohyun-ahgwenchana. Oppa disini menemanimu,” bisik Kyuhyun. “Gwenchana…” ia semakin mengeratkan pelukannya. Ia tahu Seohyun sangat lelah dengan semua keadaan. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Mencoba untuk membujuk Seohyun, mengajaknya memulai kehidupan baru. Ia tidak bisa! Karena apa yang dilakukan Seohyun adalah kewajibannya. Tanda Seohyun sayang dan memegang erat janji ibunya.

            Bisikan Kyuhyun manjur. Isakan tangis Seohyun perlahan meredah. Hati memang tidak ada yang tahu. Kala hati itu merasa nyaman. Menenangkan semuanya.

            Seohyun mendengar dengan jelas bisikan Kyuhyun. Entah apa yang terkandung dalam bisikan Kyuhyun yang mampu membuatnya percaya. Semuanya akan baik-baik saja Seohyun. Kau harus bertahan. Itulah bisikan hati kecil Seohyun. Hatinya percaya jika laki-laki yang kini memeluknya itu memberikan janji yang pasti.

●●●

            “Kau kelaparan atau memang suka pada masakan Eomma?” tanya Kyuhyun yang melihat Seohyun melahap bulgogi buatan Eommanya.

            Seohyun mengangguk. “Aku tidak makan sejak pagi tadi. Tetapi masakan Eomma memang tiada duanya!” jawab Seohyun dengan mengangkat satu ibu jarinya. Ia melanjutkan suapannya.

            Kyuhyun tersenyum. Ia lega. Seohyun sudah tenang setelah tertidur tadi. Tidak sia-sia pengorbanannya berlari menuju rumah. “Eomma membuatnya khusus untukmu.” Jelas Kyuhyun.

            Seohyun mendongak. Matanya menilik manik Kyuhyun. Sendu. Tenang. Laki-laki di depannya itu sekarang sedang tersenyum. “Benarkah? Jika begitu sampaikan terima kasihku.” Jawab Seohyun seraya mengeluarkan senyuman simpul dari bibirnya.

            Kyuhyun mengacak lembut rambut Seohyun. Bisakah kau melupakan semuanya dan hidup seperti ini denganku? Selamanya?

            Ting! Tong!

            Dentingan bel itu mampu membuat keduanya terpaku. Siapa di tengah malam seperti ini bertamu? Teman Seohyun? Tidak mungkin! Tidak ada satu pun teman Seohyun. Semua temannya menganggap gadis ini depresi berat. Jadi tidak ada yang berani mendekatinya.

            “Lanjutkan makanmu. Aku akan membuka pintu,” ucap Kyuhyun lalu melesat ke arah pintu.

            Kyuhyun membuka pintu. Betapa terkejutnya ia melihat sosok pria paruh baya yang berada di depannya. Ia masih tak percaya. Ia mengerjapkan matanya. Mencoba meyakini jika yang dilihatnya itu bukanlah halusinasi semata.

            “Kyuhyun-ah!” panggil pria paruh baya itu. Pria itu. Orang yang sangat ditunggu kedatangannya oleh Seohyun. Pria iru adalah penyebab semua kesakitan Seohyun. Pria itu Woosung, ayah dari Seohyun. Orang yang membunuh ibu Seohyun.

Objek kewajiban Seohyun….telah tiba. Kyuhyun tahu ini akan terjadi. Tetapi mengapa sekarang? bisakah ia menunda kejadian ini? setidaknya besok –seperti apa yang Seohyun rencanakan.

            Kyuhyun tercekat. Lidahnya kelu. Ia berpikir keras. Tidak mungkin membiarkan ayah Seohyun masuk. Bahaya. Keadaan Seohyun memang sudah pulih. Tetapi tidak menutup kemungkinan gadis itu bisa kolaps lagi dan berubah menjadi sosok yang mengerikan.

Ah-ahjussi?” sangat sulit bagi Kyuhyun mengatakan hal lain. Woosung mengangguk.

“Apa Seohyun disini?” tanya Woosung.

            Kyuhyun menelan ludahnya. Sejenak ia alihkan pandangannya dari wajah Woosung. Tidak! Ia akan berusaha untuk menunda semuanya. “Seohyun tidak ada! Pergilah!” ucap Kyuhyun dan tanpa menunggu jawaban dari Woosung, ia menutup pintu.

            Kyuhyun bersandar pada pintu. Ia menghembuskan napas. Semoga Woosung sudah tidak berada di balik pintu lagi. Semoga semuanya berjalan dengan yang direncanakan. Ia mencoba mengatur ekspresi, agar tak terlihat telah terjadi apapun.

            “Siapa?” tanya Seohyun yang sudah berada di depan Kyuhyun saat ini.

            Kyuhyun kaget. Ia mengelus dadanya dan menghembuskan napas kasar. Tenang Kyuhyun! Kau harus tenang! “Kau mau membuatku sakit jantung? Hanya orang yang salah alamat.” Jawab Kyuhyun. Sebisa mungkin ia tak menunjukkan kebohongan di wajahnya.

            Seohyun mengangguk. Rupanya gadis ini percaya dengan Kyuhyun. Kendati keningnya sempat berkerut melihat ekspresi Kyuhyun. Ia sangat mengenal laki-laki itu. Setiap ekspresi yang keluar ia bisa merasakannya. Kyuhyun aneh, seperti ada yang disembunyikan.

            “Kau sudah selesai makan?” tanya Kyuhyun yang mencoba mengalikan pembicaraan.

            “Hm.” Jawab Seohyun.

            “Sebaiknya kau tidur lagi. Pasti kau sangat lelah,” tutur Kyuhyun.

            Ia menggiring Seohyun masuk ke dalam. Ia mengantar Seohyun masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu seperti tidak curiga sedikit pun pada Kyuhyun.

            “Seohyun-ah… bisakah kali ini kau menurutiku?” pintah Kyuhyun. Matanya menatap manik Seohyun. Sebersit kecemasan terlihat dari mata Kyuhyun. Ia semakin mendekat pada Seohyun. Lantas memeluk tubuh Seohyun erat. “Bisakah kau tidak membuatku khawatir kali ini?”

            Seohyun terdiam. Ia semakin yakin jika saat ini Kyuhyun menyembunyikan sesuatu. Jangan membohongiku oppa! Pelukan Kyuhyun semakin erat kala merasakan anggukan dari Seohyun yang bersandar di pundaknya.

●●●

            Bukan Seohyun jika mudah di bohongi begitu saja. Ia seakan sudah terlatih dengan dibohongi dan membohongi. Licik. Sejak ia mempersiapkan semuanya, sifat itu muncul dalam dirinya.

            Dua puluh menit sudah ia terdiam di kamarnya. Lima menit yang lalu Kyuhyun berpamitan untuk pulang sebentar. Tak menyia-nyiakan waktu. Seohyun melangkah keluar dari kamarnya. Ia teramat penasaran. Siapa sebenarnya tadi? Alasan yang diberikan Kyuhyun cukup logis memang. Seohyun ingin memastikannya sendiri.

            Ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera membuka pintu itu. Sejenak ia berpikir. Apa orang itu masih berada di luar? Mungkin. Seohyun menepis rasa ragu dalam hatinya. Dengan gerakan mantap ia membuka pintu.

            Kosong. Pandangan matanya tak menemukan sosok apapun. Hembusan napas kecewa keluar dari mulutnya. Merutuki dirinya yang begitu yakin jika orang tadi menunggunya.

            “Seohyun-ah…”

            Suara itu…mampu membuat Seohyun tercekat. Sekujur tubuhnya kaku melihat sosok itu. Tatapannya berubah menjadi dingin. Sedingin salju. Tilikan matanya membunuh. Orang yang ditunggunya telah tiba…ia melihat ayahnya.

            “Ini Appa Seohyun-ah,” Woosung meyakinkan anaknya itu. Ia berpikir setelah sepuluh tahun tidak bertemu, anaknya akan lupa akan wajahnya.

            Seohyun tetap diam. Bibirnya terkatup rapat. Perlahan kakinya berjalan mudur. Memancing ayahnya untuk masuk ke dalam apartemennya.

            Woosung memasuki apartemen Seohyun. Dulu, disinilah ia berbagi kasih dan tawa dengan Seohyun. Tempat ini tak banyak berubah.

            Woosung mendudukkan dirinya di sofa putih. Pandangannya menyapu keseliling, dengan menunggu Seohyun yang mungkin sedang mempersiapkan sesuatu.

            Sekitar tiga menit kemudian, Seohyun kembali dengan membawa cangkir di tangannya. Lantas ia meletakkan cangkir itu di meja.

            Woosung berdiri tepat di depan anaknya. Seketika ia memeluk Seohyun erat. “Seohyun-ahjeongmal mianhe…” ucapnya dengan lembut. Dengan ketulusan hati sang ayah pada anaknya.

            Seohyun terdiam. Matanya tertutup sejenak. Sebutir air mata mengalir. Ia perlahan melepaskan pelukan sang ayah. Menatap manik mata sang ayah yang sendu itu. Tatapan Seohyun kali ini lembut, penuh sayang. Tidak ada tatapan membunuh. Bagaimanapun Seohyun tetaplah seorang anak yang merindukan ayahnya.

            Tiba-tiba bayangan wajah ibunya muncul. Membuatnya sesak seketika. Ia hrus melakukannya. Ia mencoba meyakinkan dirinya. Matanya kembali menatap ayahnya. Ia sangat menyayangi ayahnya. Seohyun memeluk ayahnya. Dan… ia menyuntikkan obat bius pada ayahnya.

            Setelah memastikan ayahnya sudah tidak sadar. Lantas ia menyeret tubuh ayahnya ke dapur. Menempelkan plester pada mulut ayahnya. Tetesan air mata kembali mengalir. Ia mencoba menguatkan mentalnya lagi. Diraihnya pisau dapur yang berada di sampingnya.

            Woosung tersadar. Ia membuka perlahan matanya. Seketika matanya terbelalak melihat Seohyun dengan deraian air mata memegang pisau di tangannya. Takut.

            Dengan mengingat semua adegan mengerikan itu, Seohyun mendekati ayahnya. Dengan satu hentakan ia menusuk pada perut ayahnya. Kewajiban itu merupakan tanggung jawab yang besar ia harus melakukannya.

            Woosung masih tak percaya dengan apa yang dilakukan anaknya. Mungkin inilah balasan untuknya.

            Tidak tega, Seohyun kembali menyuntikkan obat bius. Kendati ia sudah melakukan tiga kali pembunuhan secara keji. Tetap saja mentalnya turun kala ia membunuh ayahnya. Setidaknya ayahnya tidak akan merasa sakit saat Seohyun memotong bagian tubuhnya.

            Bayangan wajah-wajah orang yang dibunuhnya terlihat. Orang-orang yang dibunuhnya secara membabi buta. Ia semakin terisak. Namun tangannya tak berhenti…

●●●

            Pagi ini apartemen Seohyun di periksa oleh polisi. Ia hanya tersenyum melihatnya. Kyuhyun yang berada di sampingnya terlihat cemas. “Oppa, gomawo.” Ucap Seohyun seraya menggenggam erat tangan Kyuhyun. Sebelum akhirnya genggaman tangan itu terlepas kala polisi memborgol Seohyun.

            Semua yang terjadi sudah di rencanakan sejak awal. Seohyun membuang jasad ayahnya dan tidak membakarnya seperti sebelumnya. Ia memang sengaja memancing polisi. Agar ia dihukum tentu saja. Setelah membunuh banyak orang, Seohyun merasa semakin sakit. Melakukan pembunuhan secara keji agar ia mendapatkan hukuman seberat-beratnya.

Ia ingin hukuman yang benar-benar membuatnya menderita, setidaknya dapat mengurangi rasa bersalahnya. Rasa bersalahnya terasa lebih menyakitkan daripada mati. Ia memilih untuk mendapatkan hukuman itu dari Tuhan, rasa sakit yang tak akan pernah hilang…..selamanya.

THE END

NOTES

Bagaimana? Semoga banyak yang suka hehehe
ada yang tau maksud dari judul ini tak?😄
Jadi kenapa judulnya lumayan alay DUTY 719 4shine?
Ada judul tersembunyi dari judul diatas…
719 adalah nomor apartemen Seohyun *sudah disinggung di cerita*
nah 4shine itu artinya empat kematian.. dari bahasa Jepang.
4 yang berarti ‘yon’ dan shine sendiri di bahasa Jepang artinya mati.
Jadi judul 4shine bukan bahasa inggris haha
Okelah cukup tinggalkan komentar Anda ya🙂

 

31 thoughts on “Duty 719 -4Shine-

  1. ya ampun kasihan seo, eommanya kok memberi pesan nyuruh ngebunuh orang? -_-
    jd yg dikantong plstik itu korban pembunuhan seo? haduuh” serem, trus kyu itu critanya siapa nya seo??

  2. gak pengen lebay sih, tapi penpiq kamu bagus zy, aku suka ma yg kayak ghini, berbeda genre dari kebanyakan penpiq lain, yg menyajikan hanya sekedar roman picisan,. tapi maaf yah zy, sejujurnya aku kurang nge-feel ma cerita kamu kali ini, mungkin karena kurang greget kali yah hehe.. pengennya sih, motif ayahnya seohyun ngebunuh ibunya di perjelas lagi kalau bisa detailnya di kasi, karna menurutku kalau cerita ngeri begini, jangan setengah-setengah ngasi momen pembunuhannya, sekalian yang ‘wow’ ghitu..hehe

    over all, aku suka ma cara penulisan kamu, rapi^^
    okey, terus berkarya zy ^^ fighting

  3. aku kaya pernah ngerasa baca cerita ini, tau novel aidoru ni sekai ni yoroshiku?? itu kaya ni ff kaya adegan yg ada di novel itu. tapi bagus kok ^^

  4. Gegara ribut di PM aku jd kepo pngen tau epep mu nduk..

    Weleh weleh..itu maduku npa jd menyeramkan bgt? Aku smpet kget dan nahan nfas wkt maduku mau nusuk appanya..U,U

    Idenya kren nduk, tp aku ngeri jd byangin sumanto masa? Wkwkwk

    kasian my baby upil ditinggal maduku kepenjara..ama aku aja bang sinih/peluk upil :v

    over all..kren nduk..DAEBAK! Lanjutkan epep yg lainnya ^^

  5. Astaga seohyun serem banget . Kali ini nemu karakter serem dri seo joo hyun . Hm… kyuhyun pake segala ditinggal seohyunnya jadikan ya udah deh.
    Kasihan liat seokyu sebenarnya di pisahin gitu. Tapi keren!!! Zy keren kalo bikin ff thriller haha
    Update soon ^^

  6. ini mirip cerita di novel aidoru blabla (lupa judulnya) bkn sih? judulnya juga sama deh kayaknya. tapi bagus tokohnya seo sama kyu sih hahaha

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s