Houses of God [chapter 2]

req-houses-of-god

cover by ZhyaART @YooRaART Design

 

Judul : Houses of God

Author : Choi Yoo Rin

Main Cast : Seo Joohyun / Lee Joohyun, Lee Kyuhyun / Cho Kyuhyun

Other Cast : Shim Changmin, Choi Sooyoung, etc.

Genre : romance, friendship, family, sad.

Type : chapter

Disclaimer : this story IS MINE !!!!! hahahahahah .. dilarang keras MENGCOPAST  ide cerita tanpa ataupun dengan seijin saya.😛

 

Happy reading J

Don’t forget to commen, or like J

 

Jauh di lubuk hatiku

Masih terukir namamu

Jauh di dasar jiwaku

Engkau masih kekasihku

 

 

*****

 

Chapter 2

Mata bulat Seohyun seketika melebar mendengar pengakuan ‘palsu’ namja yang baru saja datang. Namja itu mengaku-ngaku sebagai suaminya. Kenal saja tidak.

“ Ini ku berikan kau cek. Sisanya akan ku lunasi minggu depan. Dan satu lagi, jangan pernah menyentuh gadis ini serta ibunya. Jika sampai aku melihatnya, kau akan menyesali perbuatanmu itu.” Meskipun masih terlihat tenang, namun masih ada raut ketegasan di wajah namja itu.

“Oke, baiklah. Minggu depan aku akan kembali menagih janjimu itu anak muda.”

Sekelompok anak buah rentenir itu kemudian pergi.

“Kau siapa?” tanya Seohyun heran.

“Aku?? Aku… hanya orang yang kebetulan lewat.”

“Tapi apa yang kau lakukan tadi, itu-“

“Ne, maafkan aku telah mengaku sebagai suamimu. Ku pikir dengan begitu mereka tidak akan berani menyakiti kau dan ibumu lagi.” Namja itu menyela.

“Bukan itu maksduku. Tapi kenapa kau membayar hutangku? Kita kan sama sekali tidak kenal. Bagaimana mungkin kau melakukan itu.”

“Sudah sewajarnya kan sesama manusia saling membantu. Lagi pula itu tidak terlalu merepotkanku kan?”

“Terimakasih banyak. Aku janji akan mengganti uangmu. Tapi-“ Seohyun sebenarnya ragu mengucapkan hal itu. Ia sendiri bingung bagaimana cara mengganti uang namja itu. Sedangkan saat ini saja ia tidak mempunyai pekerjaan. Penghasilan dari warung ibunya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Aku bersedia menjadi pembantu di rumahmu.” Ucap Seohyun kemudian tanpa ragu sedikitpun.

“Nde??Tapi-“

“Aku tau kau mungkin ragu darimana aku bisa dapat uang. Oleh karena itu aku mau menjadi pembantu di rumahmu. Tanpa di bayarpun aku mau.”

“Mwo? Aku tidak sekejam itu juga agassi. Eemmm tapi di rumahku sedang tidak membutuhkan pembantu.”

“Kau pasti punya perusahaan kan? Aku mau jadi OB. Tidak usah di bayar tidak apa-apa.” Namja itu tampak berpikir.

“Baiklah. Tapi bukan di perusahaan ayahku. Kau akan ku pekerjakan di perusahaan kakekku. Setauku di sana sedang membutuhkan ob lagi.”

“Oke, aku mau. Terimakasih banyak sekali lagi-“

“Panggil saja aku Changmin.”

“Ne Changmin-ssi. Terimakasih banyak.”

“Ya, sama-sama. Oya namamu siapa? Sejak tadi kita belum mengenal satu sama lain.”

“Aku Seohyun.”

“Senang berkenalan denganmu Seohyun-ssi.”

“Nado bangapseumnida.”

 

*****

Hari ini Kyuhyun menemani istrinya belanja. Ia hanya ingin lebih dekat dengan sang istri. Bagaimanapun juga Sooyoung adalah istri sah nya. Meskipun namja itu tidak tau kapan ia bisa mencintai yeoja itu. Hingga saat ini ia hanya menganggap Sooyoung adalah adik yeoja yang selalu ingin ia sayang. Namun kadang sikap namja itu yang terkesan cuek membuat Sooyoung sebal.

“Oppa mau makan apa nanti malam?” tanya Sooyoun saat mereka berkeliling di mall bagian sayur mayur.

“Terserah kau saja.” Kyuhyun fokus pada gadget miliknya. Ada beberapa urusan kantor yang harus ia pantau melalui benda canggih itu. Sooyoung menghela nafas melihat kelakuan suaminya. Namun karena sudah terbiasa akan sikap Kyuhyun, ia tidak terlalu mempermasalahkan. Kembali mereka berjalan memilih-milih beberapa sayur, kemudian ke tempat daging. Sooyoung sangat tau suaminya menyukai masakan berbahan daging. Jadi ia membeli cukup banyak daging.

Setelah selesai memilih-milih mereka beranjak ke kasir untuk membayar belanjaan.

“Biar aku saja.” Kyuhyun mencegah Sooyoung yang akan membayar semua belanjaan itu. Kemudian ia mengeluarkan dompetnya, lantas menyerahkan beberapa lembar uang pada petugas kasir.

“Ambil saja kembaliannya.” Ucap Kyuhyun lagi, kemudian membawa dua kantong plastik besar tanpa berkata apapun pada Sooyoung. Namun gadis itu tersenyum melihat tingkah suaminya yang jarang terjadi seperti ini.

“Ku antar kau pulang. Setelahnya aku mau ke suatu tempat, ada urusan mengenai kantor.”

“Baiklah oppa.” Sooyoung hanya menurut. Hari ini adalah hari minggu jadi Kyuhyun tidak pergi ke kantor. Namun ada sesuatu yang harus ia urus. Suaminya itu seorang pekerja keras. Urusan kantor adalah hal nomor satu untuknya.

“Nanti malam aku makan di rumah. Jadi sediakan makanan kesukaanku.” Kyuhyun terus berkata secara ketus pada yeoja yang ada disebelahnya. Ia tetap menatap lurus ke depan, fokus mengemudikan mobilnya.

“Ne oppa. aku akan memasak makanan kesukaanmu.” Sooyoung tersenyum menatap suaminya. Meskipun terdengar ketus, namun sebenarnya ia yakin bahwa Kyuhyun adalah namja yang hangat. Ia hanya heran, apa yang telah membuat suaminya menjadi seperti itu. Namun ia bertekad akan terus berusaha membuat suaminya luluh dan bisa menerima dirinya sebagai istri namja itu seutuhnya. Ia akan terus menunggu. Menunggu Kyuhyun membuka hati untuknya. Entah sampai kapan.

“Kau hobi sekali menatapku seperti itu.” Sooyoung terkesiap dengan ucapan singkat Kyuhyun barusan.

“Memangnya salah menatap suami sendiri?”

“Terserah kau sajalah.”

“Oppa, sampai kapanpun aku akan terus menunggumu. Menunggu hingga kau mau menerimaku.” Kyuhyun tidak langsung menjawab. Ia jengah dengan kalimat itu. Sudah sering telinganya mendengar kalimat itu dari mulut Sooyoung. Kali ini ia sedang malas menanggapi yeoja itu. Meskipun ia sedang berusaha bersikap ‘manis’ pada Sooyoung, namun ia paling tidak suka mendengar kalimat itu.

 

*****

Hari ini Seohyun berangkat ke kota ikut namja yang telah menolongnya, Changmin. Ia sedikit berat meninggalkan ibunya sendiri di Jeju. Sebelumnya ia sangat kerepotan meyakinkan ibunya agar mau ia tinggal. Sang ibu tidak ingin Seohyun pergi kemana-mana, apalagi ke kota. Sebenarnya Seohyun sempat menawari ibunya untuk ikut, tapi ibunya menolak karena ibunya tau biaya hidup di kota sangatlah mahal. Ibunya tidak ingin menambah beban Seohyun, gadis itu sudah harus bekerja keras untuk mengganti hutangnya. Apalagi jika ia ikut, takutnya gaji Seohyun tidak mencukupi. Oleh karenanya, ibu Seohyun menelepon sahabat dekatnya yang tinggal di kota. Ia menyuruh Seohyun untuk tinggal dengan teman ibunya. Ahjumma Jung, yang tak lain teman ibunya itu telah menyetujui Seohyun tinggal bersamanya selama di kota. Selama ini ahjumma Jung hanya tinggal sendiri di kota. Ia berjualan ikan di pasar setiap hari untuk menyambung hidup.

“Sekali lagi terimakasih banyak Changmin-ssi.” Seohyun baru saja tiba di depan rumah ahjumma Jung diantar Changmin. Iya memang belum pernah sama sekali ke kota. Lebih tepatnya ke Seoul. Jadi Ny. Seo menitipkan Seohyun sepenuhnya pada namja jangkung itu.

“Iya, sama-sama. Besok kau bisa datang ke alamat kantor yang ku berikan tadi. Dan ya satu lagi, aku tetap akan memberikan gajimu.”

“Tapi Changmin-ssi,”

“Akan aku potong. Aku tau kau pasti akan menolak jika aku berkata aku ikhlas membantumu tanpa kau ganti.” Keduanya terkekeh.

“Kalau begitu aku permisi dulu ya. Semoga kau betah tinggal di kota.”

“Ne Changmin-ssi. Hati-hati di jalan.” Seohyun masih terus menatap mobil Changmin yang semakin menjauh. Ia bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan namja sebaik Changmin. Kemudian ia berbalik, membuka pagar kecil rumah yang merupakan rumah ahjumma Jung. Ia mengetuk pintu. Tak lama, pintu terbuka menampilkan sesosok yeoja paruh baya yang Seohyun yakini adalah ahjumma Jung.

“Seohyun?” tanya ahjumma Jung meyakinkan. Mereka memang belum pernah bertemu satu sama lain.

“Ne ahjumma. Saya Seohyun.” Seohyun membungkuk hormat.

“Kajja-kajja masuklah. Ibumu sudah menceritakan semuanya.” Seohyun mengikuti ahjumma Jung, duduk di ruang tamu yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu.

“Ne, ahjumma. Mianhae jika ibu serta aku telah merepotkanmu karena aku akan tinggal disini.”

“Jangan bicara seperti itu Seohyun-ah. Ahjumma senang kau tinggal disini. Ahjumma jadi tidak sendiri lagi. Biasanya ahjumma kesepian.” Seohyun sebelumnya sudah diberitau ibunya jika suami ahjumma Jung telah meninggal dan ahjumma Jung tidak memiliki anak. Seohyun tersenyum.

“Aku janji tidak akan merepotkan ahjumma, dan akan siap membantu ahjumma mengurus rumah.”

“Hhahaha, kau sepertinya gadis yang periang ya. Pantas saja, ibumu begitu menyayangimu. Ah ya, hampir lupa. Ahjumma bikinkan kau minum dulu ya.”

“Tidak perlu ahjumma. Aku bikin sendiri saja. Ahjumma sebaiknya beristirahat.”

“Kau memang anak yang manis. Ya sudah. Tapi ahjumma akan menunjukkan kamarmu dulu. Kajja.” Seohyun kembali mengekor di belakang ahjumma jung. Tiba di depan sebuah pintu berwarna coklat, yang warnanya sudah terlihat kusam. Ahjumma Jung, membuka pintu itu.

“Ini dia kamarmu. Maaf, kamarnya tidak begitu bagus.” Mereka memasuki kamar kecil itu.

“Tidak apa-apa ahjumma. Bisa tinggal disini saja aku sudah sangat senang.”

“Baiklah jika kau suka. Kau beristirahatlah. Kalau lapar, panggil ahjumma. Biar ahjumma siapkan.”

“Ne ahjumma. Kamsahamnida.” Ahjumma Jung tersenyum hangat, kemudian keluar menutup pintu kamar baru Seohyun.

Seohyun melihat kamarnya. Memang hanya ada lemari kecil, yang diatasnya ada sebuah cermin kecil tergantung serta sebuah ranjang kecil. Namun Seohyun sudah sangat bersyukur. Kehidupannya selama ini di Jeju tak jauh beda seperti ini, jadi gadis itu tidak perlu beradaptasi. Ia membuka tas yang berisi baju-bajunya. Lantas memasukkannya ke dalam lemari itu. Sebenarnya ia ingin bersitirahat barang sejenak, namun hari yang sudah beranjak sore ia memutuskan untuk membantu ahjumma Jung di dapur menyiapkan makan malam mereka. Saat  di dapur ia melihat ahjumma Jung memasak.

“Sini ahjumma biar aku saja yang memasak. Ahjumma duduk manis saja. Biarpun masih muda, aku pandai memasak lho ahjumma.”

“Jinjja? Baiklah ahjumma ingin menyicipi masakan mu.” Seohyun mengambil alih pekerjaan ahjumma Jung. Sedangkan ahjumma Jung duduk di kursi tak jauh dari Seohyun. Wanita paruh baya itu mengamati Seohyun. Baru bertemu dengan gadis itu saja, ia merasa sangat menyayanginya. Seohyun gadis yang baik, gadis yang ceria.

“Seohyun-ah.”

“Ne ahjumma.” Seohyun masih fokus pada pekerjaannya.

“Kau kapan mulai bekerja?”

“Besok aku sudah bisa bekerja.”

“Memangnya kau akan bekerja di perusahaan apa?”

“Menurut namja yang memberiku pekerjaan itu adalah Lee corporation.” Jawab Seohyun sambil mengambil mangkuk untuk meletakkan masakannya.

“Mwo? Lee corp.?”

“Ne, ahjumma tau?”

“Tentu tau Seohyun-ah. Perusahaan itu adalah perusahaan yang sangat besar saat ini di Korea Selatan. Kalau tidak salah, perusahaan itu sedang membangun proyek resort baru di Jeju.”

“Pantas saja namja yang memberiku pekerjaan itu berada di Jeju.”

“Jangan-jangan, namja itu adalah keluarga dari pemilik Lee corp. Seohyun-ah. Kalau bukan orang penting di perusahaan itu, mana mungkin namja itu bisa begitu saja memasukkanmu di perusahaan sebesar itu.”

“Molla ahjumma. Aku tidak ingin memikirkan yang macam-macam dulu. Aku ingin fokus bekerja, agar hutangku pada namja itu cepat lunas.” Seohyun meletakkan masakannya di meja dekat ahjumma Jung duduk.

“Kau memang anak yang berbakti pada orang tua. Oya, ahjumma ada sepeda yang sudah tidak ahjumma pakai lagi. Kau bisa menggunakannya untuk pergi bekerja. Daripada naik angkutan umum, akan boros.”

“Jinjja ahjumma? Terimakasih banyak ahjumma.” Seohyun memeluk ahjumma Jung dari samping.

*****

 

Kyuhyun memasuki sebuah restoran dengan sedikit tergesa. Seseorang telah menunggunya. Setelah menemukan letak duduk orang itu, ia segera menghampirinya.

“Mianhae Tuan Kim saya terlambat.”

“Oh Kyu kau sudah datang, tak masalah. Aku juga baru saja tiba kok. Tadi sempat mampir ke toko boneka.”

“Nde? Toko boneka?”

“Ne, putriku sedang berulang tahun hari ini. Ia sangat menyukai boneka lumba-lumba, jadi aku membelikannya boneka ini.” Pria yang lebih tua dari Kyuhyun itu menunjukkan sebuah boneka lumba-lumba yang cukup besar pada Kyuhyun.

“Anda memang ayah yang baik.”

“Haha, ya begitulah. Namanya anak Kyu. O ya, kau mau pesan apa?”

“Terserah anda saja Tuan.” Kyuhyun, teringat akan masa kecilnya. Masa kecilnya dulu saat masih di panti asuhan. Bersama seorang gadis. Dulu, ia pernah memberikan sebuah boneka lumba-lumba pada gadis itu. Alasannya karena sang gadis begitu menyukai mamalia laut tersebut. Ah, betapa ia sangat merindukan gadis itu. 17 tahun sudah mereka berpisah.

Flashback On

“Oppa jangan sedih.. kita tetap bisa bertemu kok.” Gadis kecil itu mencoba menghibur seorang namja yang lebih tua setahun darinya yang tak lain adalah Kyuhyun. Mereka sedang duduk di teras panti.

“Tapi Joo-“

“Harusnya oppa bahagia karena sudah menemukan keluarga oppa. Yang mengadopsi oppa bukan orang lain, tapi keluarga oppa sendiri. Pokoknya aku tidak mau melihat oppa lagi jika oppa masih saja cemberut.” Gadis itu menyedekapkan tangan mungilnya di depan dada. Mempoutkan bibirnya, pura-pura marah pada sang namja.

“Baiklah, baiklah. Aku janji akan terus tersenyum. Aku akan bahagia ikut mereka, demi kau Joo.” Sang gadis yang di panggil Joo, kemudian tersenyum pada namja itu.

“Joo, aku mau kau bersabar menungguku.”

“Menunggu untuk apa oppa?”

“Setelah tinggal dengan kakek tua itu,” Kyuhyun melirik ke arah seorang pria yang tengah berbicara dengan ibu panti mereka sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku akan membujuknya untuk mau mengadopsimu juga.”

“Tapi oppa,”

“Tidak ada tapi-tapian. Kali ini kau yang harus menuruti permintaanku. Aku tidak sanggup berpisah denganmu Joo. Aku menyayangimu.” Mendengar ucapan Kyuhyun, gadis itu tersenyum. Jantungnya berdebar saat mendengar pernyataan namja itu.

“Aku juga sayang oppa. Aku janji akan menunggu oppa. Sampai kapanpun.”

“Yaksok?”

“Ne yaksok.” Mereka saling menautkan jari kelingking mereka.

Flashback Off

 

“Kyuhyun-ssi.”

“Nde? Ah, mian tuan.”

“Gwaenchana. Sepertinya anda sedang banyak masalah. Hingga melamun seperti tadi.”

“Hanya teringat seseorang. Ah, sebaiknya kita mulai saja pada pembicaraan inti.”

Ya, Kyuhyun menemui Tuan Kim karena akan membuat proyek baru. Dan Tuan Kim itulah salah satu investor ‘incarannya.’

“Haha, baiklah jika kau tak ingin membicarakan masalahmu. Oke, aku sekarang ingin mendengar garis besarnya saja mengenai proyek yang kau rencanakan.” Kyuhyun tersenyum. Sepertinya Tuan Kim akan menjadi investor barunya.

 

*****

Seohyun memeluk sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru. Boneka kesayangannya sejak dulu. Kemanapun ia pergi, ia akan selalu membawa boneka tersebut. Seperti saat ini, setiap tidur selalu memeluk erat boneka pemberian dari seseorang di masa lalunya itu. Ia mencoba memejamkan kedua matanya, namun beberapa saat setelah menutup mata, buliran air mata mengalir di pipinya.

“Oppa aku merindukanmu.” Gumamnya masih dengan mata terpejam serta memeluk boneka itu semakin erat. Aliran air mata di pipinya semakin deras keluar dari pelupuk matanya. Ia tak pernah bisa melupakan ‘oppanya’ itu meski sudah bertahun-tahun mereka berpisah. Terlalu banyak kenangan mereka yang membuat Seohyun sulit melupakannya. Ia juga telah berjanji akan selalu menunggu sang namja datang padanya. Karena namja itu sendiri yang telah berjanji akan menemuinya setelah ‘perpisahan terpaksa’ mereka.

 

Changmin POV

Setibanya di Seoul, aku langsung pulang ke rumah. Ibuku meneleponku untuk segera menemuinya. Biasanya aku tinggal bersama kakek dan saudara sepupuku. Namun untuk beberap hari ini ibu menyuruhku untuk tinggal di rumah.

“Eomma dimana bi?” tanyaku pada bibi Han.

“Nyonya sedang duduk di gazebo belakang, tuan muda.” Aku segera menuju halaman belakang rumah, dimana terdapat sebuah gazebo. Gazebo itu memang tempat favorit eomma di rumah ini.

“Eomma..” panggilku. Eomma yang tengah membaca majalah, mendongak menatapku kemudian terseyum.

“Changmin-ah, kau sudah datang.” Aku duduk di sebelah eomma.

“Ne eomma. Eomma katanya ada yang ingin di bicarakan denganku. Tentang apa eomma?” eomma meletakkan majalahnya. Kemudian menatapku lekat.

“Sudah saatnya eomma memberitahumu tentang ini.” Eomma memalingkan wajahnya. Menatap kolam renang yang ada di hadapan kami.

“Kyuhyun, bukanlah cucu kandung kakekmu.”

“Nde???????”

 

TBC

 

Wehehehehehehe…… sepertinya jalan cerintanya sudah bisa ketebak… ya sudah tunggu di next chap ne readers… J

 

 

8 thoughts on “Houses of God [chapter 2]

  1. bener deh yng nolong seo itu changmin…
    huff itu kyu jangan sampe deh suka ma soo..heee
    soo ma changmin ajjj…

    lanjutannya ditunggu…

  2. berarti kyuseo bakal jumpa diperusahaan itu dong, apa mereka akan saling mengenali dipertemuan mereka yg pertama nanti setelah 17 tahun terpisah ??
    soo sama changmin aja, biar kyu sama seo. kkkkk~

    next next

  3. jdi yg nlong seo it changmin!!
    changmin baek bgt sich mw nlongin seo!!
    klo seo krja dsna brarti n’tr bklan ktmu kyuppa donk!!

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s