Saranghae chap 8

CHAPTER 8

Judul : Saranghae

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Cho Kyuhyun, Cho Jonghyun, Seo Joohyun, Im Yoona, Lee Donghae etc.

Genre : fantasy, romance, sad

Length : chapter

Disclaimer : ide cerita murni milik author, castnya author hanya meminjam selebihnya mereka milik Tuhan, orang tua dan agensi mereka.

 

Sudah chapter 8,, hmmmm makin membosankan pastinya jalan cerita ff ini.. ya kan readers?? Saya sebagai author banyak-banyak mengucapkan terimakasih, jeongmal gomawoyo pada kalian semua yang sudah mau membaca ff karangan saya yang masih banyak kekurangan ini. Untuk silent readers juga terimakasih sudah menyempatkan diri membaca ff ini meskipun tanpa meninggalkan jejak.. oke lah, happy reading J don’t be plagiat !!

“Arrgghh..” Seohyun memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kilatan kejadian itu kian jelas di hadapannya. Kejadian-kejadian itu berputar seperti roll film.

“Seohyun-ah gwaenchana?” tanya orang yang bersamanya saat ini. 5 menit berlalu. Rasa sakit di kepala Seohyun sudah hilang. Gadis itu perlahan membuka kedua matanya yang tadi tertutup karena menahan rasa sakit. Seohyun menatap orang yang kini ada di hadapannya.

“Kau…………. siapa? Siapa sebenarnya dirimu?? Apa hubunganmu dengan Jonghyun?” tanya Seohyun sambil menatap tajam orang yang di hadapannya itu yang ternyata adalah Kyuhyun.

 

Chapter 8

“S..ss..Seohyun-ah…kk..kkau..-“

“Siapa kau sebenarnya?? Mengapa kau datang dalam kehidupanku? Jawab aku!!!” Seohyun menarik kerah baju Kyuhyun, membentak namja itu. Kyuhyun hanya diam. Seharusnya ia sendiri sudah siap akan hal seperti ini. Bagaimanapun, ingatan Seohyun pasti akan kembali. Dan sekarang semua itu terjadi. Ingatan Seohyun telah kembali. Seohyun terduduk di lantai kamarnya. Tubuhnya lemas. Menangis. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa ia alami. Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuknya? Takdir yang seperti apa? Disaat perasaannya pada namja yang di hadapannya saat ini telah tumbuh, kenyataan pahit itu datang. Bagaimana ia harus bersikap??

“Mianhae..” ucap Kyuhyun setelah hanya diam sedari tadi. Namja itu ikut mensejajarkan tingginya dengan Seohyun. Mencoba membantu Seohyun agar mau berdiri.

“Berdirilah. Lantainya dingin. Kau baru saja dari rumah sakit.” Seohyun menepis kasar tangan Kyuhyun yang mencoba menarik lengannya agar berdiri.

“Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Semuanya. Asal kau mau berdiri dan beristirahat di ranjang.”

“Jebal, Seohyun-ah..”

Seohyun berdiri. Gadis itu masih belum mau menatap Kyuhyun.

“Aku ingin sendiri. Pulanglah.” Kyuhyun pasrah dengan ucapan dingin Seohyun barusan. Memang sewajarnya Seohyun seperti itu padanya. Seohyun juga butuh waktu untuk menata hati dan pikirannya. Sebenarnya mereka berdua sama-sama tersakiti. Tersakiti oleh kenyataan pahit yang mereka alami.

“Baiklah aku akan pergi. Jika kau sudah siap, hubungi aku. Bagaimanapun juga aku tetap harus menjelaskan semuanya padamu.” Seohyun hanya diam tak merespon.

“Mianhae..” setelah mengucapkan kata itu, Kyuhyun benar-benar pergi. Tinggallah Seohyun yang berdiri mematung sendiri di kamarnya.

“Hikkss…hiikss….” gadis itu kembali menangis.

“Appo..hikksss…. eomma, appa, appoyo…hikkss..” Seohyun terus menangis sambil memukul dadanya. Sakit. Itu yang ia rasakan. Obat yang benar-benar ia butuhkan telah pergi. Bodoh. Seperti itulah saat ini dirinya. Jika memang gadis itu membutuhkan namja itu kenapa harus ia usir??

“Nan paboya..hiikkss…hikss..”

*****

Setelah dari rumah Seohyun tadi, Kyuhyun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Lelah, cukup lelah namja itu dengan semua yang terjadi belakangan ini dalam hidupnya. Belum beres urusan kantor, ia kembali menerima masalah karena ingatan Seohyun yang telah kembali. Salah. Namja itu salah bila menganggap pulihnya ingatan Seohyun sebagai masalah untuknya. Harusnya ia senang karena Seohyun telah pulih.

“Kyuhyun-ah..” Kyuhyun menolehkan pandangannya pada sang ibu yang tengah duduk di depan tv.

“Eomma..” namja itu menghampiri ibunya lantas duduk di sebelahnya.

“Kau sudah pulang?” Kyuhyun tak menjawab. Namja itu malah merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya diatas paha sang ibu. Ny. Cho hanya tersenyum melihat tingkah manja putranya itu. jika sudah seperti ini, sesuatu telah terjadi pada putranya. Sebagai seorang ibu, Ny. Cho paham betul sifat putra putrinya.

“Ada masalah apa? Ceritakanlah pada eomma, siapa tau eomma bisa membantu.” Ny. Cho sembari membelai rambut putra keduanya itu dengan sayang.

Kyuhyun memejamkan matanya. Haruskah ia menceritakan semuanya pada eommanya?? Tidak. Belum saatnya. Hey, ia adalah namja yang sudah dewasa. Lebih baik menyelesaikan semuanya dulu, baru menceritakannya pada sang ibu. Begitukah lebih baik?!

“Gwaenchana eomma.. aku hanya lelah.”

“Sembilan bulan eomma mengandungmu bersama almarhum Jonghyun, melahirkanmu, merawatmu hingga dewasa seperti sekarang. Kau pikir eomma akan percaya dengan jawabanmu barusan??”Kyuhyun membuka matanya. Namja itu menatap mata eommanya yang juga tengah menatapnya. Tak mudah memang berbohong pada orang tua. Apalagi seorang ibu. Naluri seorang ibu pada anaknya memang sangatlah kuat.

Kyuhyun bangun. Ia melonggarkan dasi yang ia kenakan.

“Apa ini mengenai investor Jepang itu?”

Kyuhyun kembali menoleh pada Ny. Cho. Tatapan hangat Ny. Cho tak mampu membuatnya untuk tetap menyimpan semuanya sendiri. Ya, ia punya keluarga. Keluarga yang siap mendengar keluh kesahnya.

“Ne, itu salah satunya eomma.” Ny. Cho mengernyit. Dalam benak wanita paruh baya itu berarti saat ini putranya sedang menghadapi lebih dari satu masalah. Bisa-bisanya hanya memendamnya sendirian. Ingin rasanya Ny. Cho menjitak kepala putranya itu saat ini karena hanya menyimpan semua masalahnya sendiri. Bodoh, benar-benar bodoh.

“Eomma yakin, kau pasti bisa menyelesaikan urusan kantor itu dengan baik. Nilai bagusmu saat lulus kuliah harus kau buktikan saat ini. Jika investor itu masih belum bisa kau luluhkan, masih banyak investor-investor diluar sana yang mau menanamkan sahamnya di perusahaan. Tinggal bagaimana caramu meyakinkan mereka serta membuat perusahaan kembali stabil seperti sebelum krisis itu terjadi.” Bingo. Ya, Ny. Cho benar. Kyuhyun harus mencoba dahulu membujuk Tuan Takeshi dengan segala kemampuannya. Bila Tuan Takeshi masih tidak mau bekerja sama, apa boleh buat. Yang penting, image krisis pada perusahaannya harus bisa ia selesaikan terlebih dahulu. Selanjutnya, tinggal ia mencari investor lain. Tidak boleh ada campur tangan orang lain untuk dia meyakinkan Tuan Takeshi, apalagi menyangkut pautkan dengan urusan pribadi. Kyuhyun yakin bisa menyelesaikan semua sendiri. Bahkan tanpa bantuan ayah Sooyeon.

Kyuhyun kini tersenyum menatap eommanya. Sedikit ada rasa lega menyelimuti dirinya.

“Lalu masalahmu yang lain apa?” senyum Kyuhyun seketika menghilang. Kali ini memang sang ibu belum saatnya tau. Karena ini juga berhubungan dengan Jonghyun, saudara kembarnya. Ia tak mau sang ibu sedih bila membicarakan Jonghyun. Kyuhyun mencium pipi Ny. Cho sekilas lantas sedikit berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Kabur, seperti itu lebih baik.. hihihi, dasar Cho Kyuhyun.

“Belum saatnya eomma tau.” Jawabnya lantas menghilang di balik pintu kamarnya yang berwarna putih itu.

“Dasar..” Ny. Cho geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya. Namun ia sudah bisa menebak, jika masalah yang masih dirahasiakan putranya itu pasti menyangkut wanita. Naluri seorang ibu memang kuat ya.

*****

 

Yoona telah sampai di depan sebuah gedung perusahaan. Perusahaan yang akan menjadi tempatnya magang. Memang perusahaan ini adalah rekomendasi dari dosen pembimbingnya. Ia menatap gedung di hadapannya dengan tatapan geli sekaligus sebal. Ya, ini adalah perusahaan ayahnya sendiri. Bagaimana mungkin dosen pembimbingnya merekomendasikan perusahaan ini? Apa tidak ada perusahaan lain? Apa hanya perusahaan ini yang mau menerimanya sebagai mahasiswa magang? Menyebalkan.

Yoona melangkahkan kakinya memasuki gedung yang tak asing lagi untuknya itu.

“Annyeong nona muda..” sapa karyawan-karyawan yang berpapasan dengan yeoja cantik itu. Yoona hanya tersenyum ramah membalasnya. Tak lama, sampailah ia di ruangan manajer perusahaan ini. Ia tak mau langsung menuju ruangan ayahnya.

“Nona muda…” kaget Park ahjussi saat Yoona memasuki ruangannya begitu saja.

“Mianhae ahjussi mengagetkanmu. Aku kesini untuk menyerahkan ini.” Yoona meletakkan surat ijin magangnya di meja kerja pria paruh baya itu.

“Nona akan magang disini?” Yoona mengangguk.

“Jadi aku bisa mulai kapan magang?”

“Anda yakin dengan posisi ini?” Yoona memutar bola matanya jengah. Hal ini yang ia khawatirkan bila magang di perusahaannya sendiri. Siapapun dia, tak boleh diperlakukan ‘istimewa’ di sini.

“Ne, ahjussi. Aku yakin. Aku tak mau dipindah lagi. Itu sudah keputusanku. Oke lah ahjussi, aku pamit dulu. Jangan bilang appa jika aku kesini.”

“Ne nona.”

Yoona keluar dari ruangan manajer Park, yeoja itu hendak menuju lift untuk turun ke lantai bawah.

“Im Yoona !!” Yoona membelalak kaget mendengar ada yang memanggilnya. Ia hafal betul suara siapa yang memanggilnya ini. Gadis itu berbalik dan memaksakan senyuman muncul di wajahnya saat bertatapan dengan orang yang telah memanggilnya itu.

“Kau sudah datang. Ka, ikutlah ke ruanganku.” Pria paruh baya yang memanggilnya tadi yang tak lain adalah Tn. Im berbalik menyuruh putrinya untuk mengikutinya. Sedikit manyun, Yoona mengikuti langkah ayahnya itu.

“Aku tadi sudah menyerahkan surat ijin magang ke manajer Park.” Yoona membuka suara setelah tiba di ruangan ayahnya.

“Kenapa tidak langsung menemui appa saja? Memang kau akan magang di posisi apa?” Tn. Im duduk di sofa yang ada dalam ruangannya diikuti oleh putrinya.

“Aku tak mau mengganggu appa. Aku di bagian HRD.” Tn. Im tersenyum penuh arti memandang putrinya. Tn. Im sebenarnya ingin bermain-main sebentar dengan putri kesayangannya itu, namun ia urungkan niat itu.

“Baiklah jika itu memang maumu. Besok kau bisa mulai magang. Appa harap kau benar-benar menjalani magang ini dengan serius.” Yoona menatap tak percaya appanya. Biasanya sang appa akan menawarkan hal hal yang pastinya akan Yoona tolak. Semisal magang di posisi yang lebih baik. Namun saat ini, sang appa langsung menyetujuinya.

“Ne, gomawo appa. Aku tak akan main-main jika sudah mengenai pendidikanku.”

“Ngomong-ngomong, kapan kekasihmu itu di wisuda?”

“Lusa Donghae oppa akan menjalani sidang appa. Kalau tak ada halangan, dua bulan lagi akan wisuda.”

“Oh begitu. Sampaikan salam appa padanya. appa ingin tahun depan dia sudah melamarmu.”

“Mwoya?? Tapi aku kan masih belum lulus appa.”

“Mangkanya itu kau belajarlah yang rajin, biar cepat lulus. Appa tidak mau tau, tahun depan si ikan itu harus melamarmu.”

“Aigoo appa.. keterlaluan..” Yoona meninggalkan ruangan appanya begitu saja. Namun sebenarnya ada rasa senang yang menyelimuti hati yeoja itu. Ini berarti ayahnya sudah memberikan lampu hijau terhadap hubungannya dengan Donghae.

 

*****

Seohyun hari ini sudah mulai kembali magang. Sebenarnya waktu magangnya tinggal beberapa hari saja dikantor ini. Jika boleh jujur, gadis itu enggan pergi magang karena pasti akan bertemu dengan Kyuhyun. Semenjak kejadian kemarin, Seohyun memang belum menghubungi namja itu untuk meminta penjelasan. Seohyun hanya menelepon Yoona dan meminta bertemu sepulang ia magang nanti sore.

Seohyun langsung duduk di kursi tempatnya bekerja tanpa melihat ke dalam ruangan atasannya. Ia masih enggan bertemu dengan Kyuhyun.

“Seohyun-ah..” Seohyun mendongak, lantas berdiri. Gadis itu tersenyum saat melihat bahwa Choi Minho lah yang memanggilnya barusan.

“Annyeong Minho-ssi.”

“Kau sudah sembuh? Bukannya kemarin baru pulang dari rumah sakit?”

“Ne, aku sudah merasa baikan. Aku bosan di rumah saja Minho-ssi. Lagi pula tidak enak jika bolos magang terlalu lama.”

“Emm, kau memang semangat sekali. Ya sudah aku permisi mau masuk dulu ya.”

“Ne, Minho-ssi.” Seohyun kembali duduk setelah Minho masuk ke dalam ruangan Kyuhyun.

Tululut tululut tululut, telepon di meja Seohyun tiba-tiba berbunyi.

“Nde sajangnim?”

“……………………”

“Ne sajangnim, saya akan segera membawakannya.” Seohyun menghembuskan nafas lemah setelah menutup telepon dari Kyuhyun barusan. Kyuhyun menyuruhnya membawakan file-file ke dalam ruangannya. Profesional, salah satu sikap yang harus ia utamakan. Ya, meskipun ia dan Kyuhyun sedang ada persoalan, namun ia tak boleh membawanya hingga ke kantor.

Seohyun menarik nafas kuat-kuat lantas menghembuskannya sebelum mengetuk pintu ruangan Kyuhyun. Tok tok tok

“Masuklah” Seohyun memutar knop pintu itu setelah mendapat jawaban dari dalam. Setelah pintu benar-benar terbuka, Seohyun hanya menunduk sambil berjalan menuju meja kerja Kyuhyun. Meskipun otaknya terus mengatakan ‘harus profesional’ namun hatinya masih menolak untuk bertatap langsung dengan namja itu.

“Sajangnim ini file yang anda minta.” Tak sopan memang, meletakkan file itu di meja Kyuhyun tanpa menatapnya. Tapi mau bagaimana lagi?

Kyuhyun terdiam, menatap gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Sebenarnya namja itu ingin sekali bertanya banyak hal pada Seohyun. Namun karena melihat Seohyun yang seolah ‘kaku’ berhadapan dengannya, ia urungkan niatnya itu. Lagipula ada Minho juga disini.

“Ya, terimakasih. Kau boleh kembali ke mejamu.”

“Ne sajangnim. Permisi.” Seohyun membungkukkan badannya sejenak pada Kyuhyun serta Minho lantas keluar dari sana.

“Kau bisa pulang lebih cepat hari ini. Jangan terlalu lelah bekerja, kau masih dalam tahap pemulihan.” Bingo.. akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Kyuhyun. Meskipun otaknya menolak, namun hati namja itu tidak. Meskipun sedang ada masalah dengan gadis itu, namun rasa sayang dan perhatiannya masih tetap ada.

Seohyun hanya diam, malah mempercepat langkahnya untuk keluar dari ruangan itu. Minho yang dari tadi hanya menjadi ‘penonton’, menahan geli adegan yang ada di hadapannya. Namja yang lebih muda dari Kyuhyun itu paham, pasti ada sesuatu terjadi antara bosnya dengan sekretaris magang itu. Kyuhyun terlihat salah tingkah saat menyadari tatapan Minho padanya yang penuh tanya.

*****

Seohyun terlonjak kaget saat Kyuhyun keluar dari ruangannya.

“Seohyun-ah, aku akan menemui Tuan Takeshi. Jika ada yang ingin bertemu denganku, suruh kemari saja besok karena sepertinya aku akan lama.”

“Apa saya perlu ikut sajangnim?” Seohyun menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan pertanyaan itu. pertanyaan yang ia anggap bodoh. Bagaimana mungkin ia bertanya seperti itu saat ia sedang menghindari Kyuhyun. Seohyun pabo, Seohyun pabo.

“Tidak perlu. Kau di kantor saja. Aku akan pergi dengan Minho.” Ffiiuhh… Seohyun lega karena Kyuhyun menolaknya..hihihi, gadis aneh.

“Baiklah sajangnim.”

“Aku pergi.” Seohyun menatap punggung Kyuhyun yang mulai menjauh. Biasanya dulu, selalu Seohyun yang menemani Kyuhyun menemui klien serta investor-investor. Namun sekarang?? Seohyun merasa ada sesuatu yang telah terjadi dengan perusahaan ini.

Yeoja itu sebenarnya jenuh hanya duduk, berdiam diri tak melakukan apapun. Pekerjaan hari ini tak seperti biasanya.

“Annyeong…” Seohyun mendongak, lantas berdiri membungkuk setelah melihat siapa yang datang.

“Annyeong Nyonya.. ada yang bisa saya bantu?”

“Kyuhyun apa ada di dalam?”

“Sajangnim sedang ada urusan, beliau keluar dengan Manajer Choi nyonya. Sajangnim berpesan bila ada yang mencarinya harap kembali besok karena sajangnim akan lama.”

“Oh begitu ya? Sayang sekali, padahal saya ingin memintanya untuk mengantar ke suatu tempat.”

“Bagaimana jika saya saja yang mengantar anda nyonya? Itupun jika anda bersedia.”

“Kau yakin? Apa tidak masalah meninggalkan pekerjaanmu?”

“Kebetulan saya sedang tidak begitu sibuk nyonya. Jadi bagaimana nyonya?”

“Oke, baiklah kalau begitu. Kajja.”

 

*****

Kyuhyun menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya untuk yang kedua kalinya. Saat ini ia tengah bersama Minho berada di restoran yang ada hotel Queen untuk menemui Tuan Takeshi. Sudah 30 menit mereka menunggu investor asal Jepang itu.

“Sepertinya kita yang terlalu awal datang sajangnim.” Ucap Minho. Kyuhyun sadar, jika saat ini Minho tengah mencoba membuat suasana hatinya baik karena sebenarnya Tuan Takeshilah yang terlambat datang.

“Maaf membuat kalian menunggu lama.” Kyuhyun serta Minho segera berdiri saat Tuan Takeshi datang bersama asistennya.

“Tidak masalah Tuan. Mari kita duduk.” Jawab Kyuhyun ramah.

“Ku kira Presdir Cho akan datang bersama putri Jung Sanghee..”

“Maksud anda Sooyeon? Saya hari ini tidak bertemu dia sama sekali.”

“Mungkin gadis itu sedang sibuk untuk persiapan pembukaan butiknya besok.”

“Nde?? Pembukaan butik?” Kyuhyun sedikit kaget mendengar berita itu.  biasanya hal sekecil apapun akan selalu Sooyeon beritahukan padanya. apalagi jika akan ada acara besok? Kyuhyun merasa seperti orang bodoh saja yang mengetahui hal itu dari orang lain.

“Kau tidak tau?” Tuan Takeshi menatap heran Kyuhyun.

“Ku kira hubunganmu sudah sejauh itu dengan putri sulung Jung Sanghee..” ucap Tuan Takeshi karena Kyuhyun hanya diam merespon pertanyaannya barusan.

“Kami hanya berteman. Saya sudah menganggapnya sebagai adik saya sendiri.” Tuan Takeshi tersenyum mendengar penuturan Kyuhyun barusan.

“Oke, jadi bagaimana? Aku tak punya banyak waktu hari ini.”

“Manager Choi tolong file nya..” Minho segera mengeluarkan beberapa file dari tas kantor yang ia bawa tadi.

“Ini Tuan.. beberapa file yang dapat anda pelajari mengenai perusahaan kami. Saat ini krisis yang tengah kami alami sudah mulai membaik. Beberapa investor lama juga masih bertahan di perusahaan kami. Saya berjanji, tak lama lagi Cho Grup akan benar-benar pulih.” Tuan Takeshi menutup file yang telah ia baca sekilas itu kemudian menatap Kyuhyun.

“Anda tau kan jika saya tak main-main menyangkut bisnis? Saya tak mau rugi karena mudah mempercayai kata-kata manis orang lain.”

“Ne Tuan, saya mengerti. Saya tidak main-main dengan ucapan saya tadi.”

“Oke, baiklah. File ini akan ku bawa ke Jepang karena akan ku pelajari lebih dalam disana. Besok aku akan kembali ke Jepang.” Tuan Takeshi berdiri, diikuti Kyuhyun dan Minho.

“Akan ku kabari jika aku sudah selesai mempelajari file ini, sekaligus memberi keputusanku.”

“Baiklah Tuan. Terimakasih banyak atas waktu anda.” Kyuhyun membungkuk sebelum orang itu pergi.

“Jadi kita masih belum bisa bernafas lega?” tanya Minho setelah Tuan Takeshi benar-benar pergi.

“Gwaenchana, jangan khawatir Minho-ah.. jika memang Tuan Takeshi tidak mau menanamkan investasi di perusahaan kita tak masalah. Yang penting saat ini kita harus mengembalikan image Cho Grup terlebih dahulu.”

 

*****

Seohyun saat ini mengantar Ny. Cho ke makam Jonghyun. Yang tadi datang memang adalah ibu dari atasannya. Seohyun baru tau jika wanita paruh baya itu akan ke makam Jonghyun setelah mereka tiba disana. Seohyun diam membeku menatap makam yang ada di hadapannya. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca melihat nisan yang bertuliskan nama Cho Jonghyun. Seohyun baru sadar bila namja itu -Jonghyun- tak pernah menemuinya lagi semenjak ia kecelakaan dan hilang ingatan. Terakhir kali mereka bertemu saat malam pesta ulang tahun Yoona, dimana mereka bicara sesuatu yang masih belum terselesaikan.

“Mianhae Jongie.. mianhae eomma baru mengunjungimu sekarang.” Seohyun terkesiap dari lamunannya saat Ny. Cho mulai berucap. Gadis itu dapat melihat raut kesedihan di wajah Ny. Cho. Seohyun ikut bersimpuh seperti Ny. Cho. Ia mengelus punggung wanita itu.

“Jongie, kau tau? Kyuhyun sekarang tengah mencoba menstabilkan perusahaan yang mengalami krisis. Eomma kasihan padanya. Andai kau ada, mungkin kalian bisa bersama-sama mengurus perusahaan.”  Seohyun kaget mendengar berita itu. jadi memang benar bahwa Cho grup sedang mengalami masalah.

“Nyonya, uljima.. Jonghyun-ssi akan sedih bila melihat anda seperti ini.. anda harus kuat.”

“Kau lihat Jongie?? Tiap orang yang melihatku menangisimu pasti akan berusaha menenangkanku. Aku seorang ibu, ibu yang merindukan putranya.. eomma merindukanmu Jongie-ah.. hikss..hikss..”

Seohyun akhirnya memeluk wanita itu. Seohyun juga ikut menangis.

“Kau jadi ikut menangis karena aku.. maaf” ucap Ny. Cho setelah melepas pelukan mereka.

“Saya menangis haru melihat betapa sayangnya anda pada almarhum putra anda..”

“Kau benar. Meskipun Jonghyun dan Kyuhyun saudara kembar, namun kehilangan salah satu dari mereka tetap rasanya ada yang kurang. Mereka berbeda. Bisa saling melengkapi. Namun aku juga lega, karena dengan begitu Jonghyun bisa menemani appanya disana.”

“Jadi suami anda juga telah meninggal?”

“Ne, suamiku meninggal saat anak-anak masih di bangku sekolah.” Mereka kembali terdiam.

“Kajja, aku juga ingin ke makam suamiku. Letaknya tak jauh dari sini.” Seohyun membantu Ny. Cho berdiri. Mereka berjalan menuju sebuah makam yang tak terlalu jauh dari makam Jonghyun.

 

*****

Kyuhyun serta Minho hendak meninggalkan hotel Queen. Kyuhyun berniat akan menemui beberapa calon investor lain serta meninjau beberapa proyek. Langkahnya terhenti saat melihat Sooyeon baru saja keluar dari lift.

“Sooyeon-ah!!” Kyuhyun menghampiri gadis itu.

“Kyuhyun oppa, sedang apa disini?” Kyuhyun sedikit heran dengan pertanyaan Sooyeon barusan. Biasanya jika mereka bertemu, Sooyeon akan langsung berucap senang bisa bertemu denganmu disini oppa atau oppa pasti membuntutiku ya. Namun sekarang?

“Tadi aku menemui Tuan Takeshi.”

“Oh.. emm, aku masih ada sesuatu yang harus di urus oppa. aku duluan ne.”

“Chakkaman!” Kyuhyun menahan pergelangan tangan Sooyeon. Sooyeon memandang tangannya yang di pegang oleh Kyuhyun.

“Apa benar kau besok akan mulai membuka butik? Kenapa tidak memberitauku??”

“Mianhae oppa.. ku pikir oppa pasti sibuk dengan pekerjaan oppa. apalagi Tuan Takeshi itu bukanlah orang yang mudah diluluhkan.”

“Kau tenang saja. Aku Cho Kyuhyun, pasti bisa menyelesaikan semuanya. Jadi?”

“Jadi apanya oppa?” Kyuhyun mengacak gemas rambut yeoja itu.

“Kau tak berniat mengundangku?”

“Isshhh oppa kenapa mengacak rambutku segala? Ne, ne.. datanglah besok ke acara pembukaan butik baruku. Nanti akan ku sms kan alamatnya.”

“Tanpa undangan? Menyebalkan sekali.”

“Ne, tanpa undangan. Biarlah. Oppa tamu yang berbeda. Tamu spesial. Yasudah oppa aku pamit dulu ne. Annyeong..”

“Jadi, Seohyun-ssi atau Sooyeon-ssi hyung?” tanya Minho yang sedari tadi hanya diam setelah Sooyeon pergi.

“Apa maksudmu Minho-ah?” Minho meringis melihat tatapan mematikan dari Kyuhyun

*****

 

Matahari perlahan mulai menghilang, senja mulai muncul. Seohyun baru saja pulang dari kantor, hendak ke cafe tempat ia dan Yoona janji bertemu. Sebenarnya sudah sejak tadi gadis itu bisa meninggalkan kantor, namun karena tak enak jika ia pulang dulu padahal Kyuhyun belum juga kembali sejak keluar tadi. Namun ternyata Kyuhyun mengiriminya sms agar ia pulang saja dulu. Dan yah, disinilah sekarang Seohyun. Menunggu Yoona.

“Kau sudah lama datang Seo?” tanya Yoona yang baru saja tiba lantas duduk berhadapan dengan Seohyun.

“15 menitan lah.. pesanlah dulu, aku masih kenyang. Ini aku sudah memesan minuman sejak tadi.” Yoona mengangguk. Gadis itu segera memanggil pelayan untuk memesan minuman serta makanan ringan untuk mereka berdua.

“Yoon, aku…… sudah ingat semuanya.”

“Nde? Maksudmu kau… ani, ingatanmu sudah kembali?” Seohyun mengangguk.

“Sejak kapan?” tanya Yoona lagi.

“Kemarin, setelah pulang dari rumah sakit.”

“Syukurlah..” Yoona lega mendengar kabar itu dari Seohyun, namun ia juga sedikit was was.

“Yoon, aku ingin kau menjelaskan sesuatu padaku.” Akhirnya, saat yang Yoona tunggu-tunggu datang juga. Saat dimana ia ingin menjelaskan semuanya pada sahabatnya itu. termasuk unek-uneknya selama ini.

“ Kyuhyun….. siapakah Kyuhyun sebenarnya??”

“Kyuhyun adalah saudara kembar Jonghyun. Kau kecelakaan karena mengejar mobil Kyuhyun saat pesta ulang tahunku beberapa bulan lalu. Ingatanmu hilang. Namun kau tidak seperti orang hilang ingatan. Bahkan kau tak ingat jika pernah mengejar mobil Kyuhyun. Ku pikir kau sudah pernah bertemu Jonghyun, jika kau berusaha mengejar Kyuhyun saat itu karena wajah mereka yang mirip. Tapi yang membuatku bingung, kapan kau bertemu Jonghyun? Jonghyun kan sudah meninggal karena kecelakaan bulan Juni tahun lalu.” Seohyun terdiam. Memang ia belum memberitau siapa-siapa bahwa arwah Jonghyun sering menemuinya dulu sebelum kecelakaan. Haruskah Seohyun memberitahukannya pada sahabatnya ini??

“Sebelum kecelakaan itu terjadi, Jonghyun sering menemuiku. Bahkan kami berteman.”

“Nde?????”

“Jonghyun menemuiku Yoon. Namun dalam wujud………” Yoona menggelengkan kepalanya. Serasa mau pingsan saat ini juga gadis itu. bagaimana mungkin hal-hal seperti itu masih terjadi di jaman yang sudah modern seperti sekarang ini???

“Seohyun-ah, ini tidak lucu. Bukan saatnya untuk bercanda.”

“Aniyo.. aku tidak bercanda Yoon.. Jonghyun memang menemuiku dalam wujud hantu. Namun wujudnya tidaklah mengerikan seperti di tv-tv. Wujudnya sama seperti manusia pada umumnya.”

“Jjj…jadi…”

“Mianhae Yoon.. aku baru memberitaumu sekarang. Aku hanya tidak ingin kau menganggapku macam-macam. Namun ku rasa sekarang, sudah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya padamu.” Yoona mencoba meminum jus nya. Dapat Seohyun lihat bahwa tangan gadis itu gemetar.

“Jadi, orang yang ku lupakan saat aku hilang ingatan adalah Jonghyun..” gumam Seohyun.

“Seo, aku…. aku tak punya kewenangan lebih untuk bicara panjang lebar padamu mengenai semua ini. Sebaiknya kau bicara dengan Kyuhyun. Ia lah satu-satunya yang berhak menjelaskan semuanya padamu.” Yoona benar. Seohyun harus segera meminta penjelasan pada Kyuhyun.

 

*****

“Hhhh…” Seohyun menghembuskan nafas lelah nya untuk yang kesekian kalinya. Ia tengah menatap langit langit kamarnya. Seohyun berharap Jonghyun akan menemuinya serta menjelaskan semuanya. Ia ingin semuanya jelas, sejelas-jelasnya. Atau sebaiknya ia menelepon Kyuhyun? Meminta penjelasan yang telah namja itu janjikan padanya?

“Andwae andwae.. Kyuhyun pasti lelah karena seharian ini bertemu klien kliennya di luar kantor.” Ucapnya..

“Aigoo aigoo… apa yang harus ku perbuat???? Eoteokkae??? Tuhan….. tolonglah aku..”

Cling… Seohyun terlonjak bangun. Kedua mata bulat gadis itu semakin melebar melihat siapa yang saat ini berada di kamarnya selain dirinya.

“Jj…Jong-ssi…”

 

To Be Continued

 

3 thoughts on “Saranghae chap 8

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s