Saranghae chap 10a

Judul : Saranghae

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Cho Kyuhyun, Cho Jonghyun, Seo Joohyun, Im Yoona, Lee Donghae etc.

Genre : fantasy, romance, sad

Length : chapter

Disclaimer : ide cerita murni milik author, castnya author hanya meminjam selebihnya mereka milik Tuhan, orang tua dan agensi mereka.

 

 Happy reading.

 

 

 

Jika aku bukan jalanmu

Ku berhenti mengharapkanmu

Jika aku memang tercipta untukmu

Ku kan memilikimu

 

 

 

Seohyun berjalan tergesa setelah keluar dari taksi yang ia naiki menuju taman tempat ia janji bertemu dengan seseorang. Seseorang yang meneleponnya tadi siang. Gadis itu memang telah terlambat dari waktu yang telah mereka sepakati. Setelah memasuki area taman, Seohyun mengedarkan pandangannya kesekeliling taman, mencari orang itu. Meskipun hanya sekali bertemu orang itu dulu, namun ia masih ingat wajah orang yang mengajaknya bertemu ini. Yang artinya ini adalah pertemuan kedua mereka. Seohyun menghembuskan nafas lega melihat orang itu masih menunggunya. Duduk di salah satu bangku taman. Tak mau menunggu lama, ia segera menghampiri orang itu.

“Sooyeon-ssi, maaf membuatmu menunggu lama.” Orang itu, Sooyeon mendongak menatap Seohyun.

“Oh, kau sudah datang. Gwaenchana. Silahkan duduk.” Sooyeon menggeser bokongnya, memberi tempat untuk Seohyun duduk. Suasana canggung sangat terasa diantara mereka. Banyak pertanyaan yang ada di benak Seohyun mengapa yeoja ini mengajaknya untuk bertemu.

“Pasti kau sudah bertanya-tanya mengapa aku mengajakmu bertemu saat ini.” Sooyeon menoleh pada Seohyun, namun Seohyun tetap menatap lurus kedepan.

“Ini menyangkut dirimu, aku dan Kyuhyun oppa.” Mendengar nama Kyuhyun disangkut pautkan membuat yeoja itu seketika menoleh pada Sooyeon. Dapat dilihatnya, Sooyeon tersenyum penuh arti.

“Aku…. tidak akan mengintrogasimu mengenai seberapa jauh hubungan kalian. Saat ini, hanya satu yang ingin aku tegaskan padamu. Apa kau tau Kyuhyun oppa dulu menyukaiku?”

“Nde?”

“Sepertinya kau tidak mengetahuinya. Itu dulu sebelum aku sekolah ke Paris. Aku tidak tau jika dia menyukaiku, andaikan aku tau aku tidak akan pergi ke Paris. Dan yah, sekarang aku telah kembali. Aku ingin mengejar cintaku yang sempat tertunda.”

“Ehm, Sooyeon-ssi…”

“Aku tau kau mengerti arah pembicaraanku. Ku harap kau bisa memakluminya Seohyun-ssi. Kau tidak akan menjadi penghalang dua insan yang sudah sempat terpisah bukan?”

Seohyun menunduk. Matanya mulai memanas. Sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan wajahnya sekarang dari tatapan Sooyeon.

“Mianhae jika aku telah menghalangi hubungan kalian.”

“Tidak masalah. Asal setelah ini kau pergi dari kehidupan Kyuhyun oppa. Dia akan sulit untuk mau menerimaku lagi jika masih ada yang mengganjal dihatinya. Dan mungkin dia menganggap kau hanya pelarian sesaatnya karena tak ada aku.”

“Ne, kau tak usah khawatir. Aku sudah selesai magang di kantornya. Setelah ini, aku tidak akan menemuinya lagi.”

“Baguslah. Aku pegang ucapanmu Seohyun-ssi. Sepertinya sudah selesai apa yang harus ku bicarakan denganmu. Kalau begitu aku permisi.”

Seohyun masih duduk diam di tempatnya, memandang punggung Sooyeon yang mulai menjauh. Isakan mulai terdengar dari mulutnya. Air mata itupun akhirnya jatuh.

 

 

******

 

Yoona meremas kedua tangannya gelisah. Ia mondar-mandir di depan ruangan sidang Donghae. Sudah dua jam setengah kekasihnya itu berada di dalam namun tak kunjung keluar juga. Gadis itu resah, takut telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan olehnya maupun sang kekasih yang tengah menghadapi tiga dosen penguji itu.

Ceklek. Pintu ruangan itu pun terbuka. Melihat kekasihnya keluar, Yoona segera memeluk sang kekasih. Tanpa bertanya bagaimana hasil dari sidang barusan, gadis itu masih enggan melepas pelukannya. Sadar kekasihnya tak tenang, Donghae mengusap punggung sang kekasih. Bukankah dalam situasi ini harusnya Yoona lah yang menenangkan Donghae, sedangkan ini malah terbalik. Itulah Donghae, selalu bisa menenangkan sang kekasih disaat gadisnya panik atau apapun.

“Jadi bagaimana?” tanya Yoona akhirnya setelah melepas pelukan eratnya dari Donghae. Donghae tersenyum hangat menatap kekasihnya itu.

“Lancar? Tak dipersulit oleh dosen pengujimu kan oppa?” tanya Yoona lagi memastikan.

“Ne. Semuanya lancar. Aku sudah dinyatakan lulus dan siap di wisuda satu bulan lagi.”

“Jinjjayo??? Chukkae oppa…. hah syukurlah jika begitu. Aku sangat khawatir, pasalnya oppa dua jam setengah di dalam. Aku takut terjadi sesuatu.”

“Kau meragukan kekasihmu ini eoh?”

“Bukannya begitu oppa. Aku…..hanya takut saja.”

“Gwaenchana. Semuanya sudah berlalu. Emmm Yoon, sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”

“Sepertinya penting ya oppa? Oppa mau bicara disini atau kita cari tempat lain?”

“Kita ke taman kampus saja. Kajja.” Donghae menggandeng tangan Yoona, membawa yeoja itu ke taman kampus yang ada di belakang fakultasnya.

Melihat gelagat sang kekasih, Yoona merasa was-was. Ia takut akan sesuatu yang akan Donghae bicarakan. Pasalnya sang kekasih masih terlihat belum tenang setelah keluar dari ruangan sidang barusan.

“Jadi, apa yang mau oppa bicarakan padaku?” tanya Yoona setelah mereka duduk di salah satu bangku taman.

“Dosen pembimbingku menawarkan kerja sama perusahaannya yang ada di Amerika. Disana perusahaannya tidak ada yang menghandle. Oleh karena itu beliau memintaku untuk menghandle sekaligus selama menyelesaikan study S2 ku disana. Aku……mendapat tawaran beasiswa Yoon, S2 di Amerika.”

Yoona mengerjapkan kedua matanya, menatap sang kekasih. Bingung. Harusnya ia senang bukan mendengar berita itu? Namun tak dapat ia pungkiri, ada rasa tak rela dan sedih yang kini menyelimutinya.

“Aku meminta pendapatmu karena kau adalah bagian dari hidupku Yoon. Aku serius denganmu. Jika memang kau tak mengijinkan aku mengambil S2 itu, aku akan melepasnya.”

Yoona menggeleng kuat. “Aniyo, aniyo. Tidak boleh. Oppa harus mengambil beasiswa itu. Oppa tidak boleh menyia-nyiakannya. Aku mendukungmu oppa.”

“Kau yakin? Jika aku tetap mengambil beasiswa itu, otomatis 2 tahun kita akan berhubungan jarak jauh Yoon.”

“Aku percaya dan akan selalu percaya padamu oppa. Demi pendidikan dan karirmu aku ikhlas.” Donghae tersenyum hangat. Kekasihnya telah menjadi yeoja dewasa sekarang. Ia peluk gadis yang amat sangat ia sayang itu. Kini tinggal ia menjelaskan pada Tn. Im jika tahun depan ia tak bisa memenuhi janjinya untuk menikahi Yoona. Namun ia janji dan bertekad, dua tahun lagi ia akan segera melamar gadisnya itu. Tak ada penundaan lagi. Namun itupun jika Tn. Im menyetujui niatnya. Yah, semoga saja.

 

******

 

Seohyun berjalan lesu di koridor kampusnya. Hari ini ia telah kembali ke kampus setelah selesai magang selama dua bulan di perusahaan Kyuhyun. Kata-kata Sooyeon kemarin masih ternging-ngiang di otaknya. Ia bimbang, ragu harus berbuat apa. Disisi lain masih ada penjelasan yang ingin ia dapatkan dari Kyuhyun mengenai namja itu serta Jonghyun, namun ia juga telah berjanji pada Sooyeon bahwa ia akan menjauh dari kehidupan Kyuhyun setelah gadis itu selesai magang.

Getar ponsel membuyarkan lamunan Seohyun. Ia berhenti berjalan lantas merogoh tasnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Bibir gadis bermata bulat itu tertarik ke atas setelah melihat id sang penelepon.

“Yoboseyo Yoon…” ucapnya setelah mengangkat telepon yang ternyata dari sahabatnya.

“………………………..”

“Ne, aku dikampus sekarang. Kau dimana?”

“………………………..”

“Baiklah, aku akan kesana. Aku sudah tidak ada mata kuliah lagi.”

“……………………….”

“Oke, annyeong.”

Klik. Seohyun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang hitam miliknya itu. Ia kemudian keluar dari kampusnya, mencegat taksi menuju tempat Yoona berada sekarang. Sudah lama mereka tidak mengobrol berdua. Seohyun sangat merindukan sahabatnya itu. Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Yoona. Ya, hanya Yoona yang bisa berbagi keluh kesah dengannya saat ini. Beruntung sekali tadi Yoona meneleponnya. Ah, kenapa Seohyun tak kepikiran untuk menemui sahabatnya itu tadi??

15 menit, sampailah Seohyun di cafe yang tak jauh dari kantor tempat Yoona magang saat ini. Setelah membayar taksi, ia segera memasuki cafe tersebut dan mencari keberadaan sang sahabat.

“Apa kabar Yoon?” tanya Seohyun setelah mendekat ke meja tempat Yoona duduk. Ia memeluk sahabat yang entah beberapa hari ini tidak ia temui.

“Aku baik. Kau sendiri?” jawab Yoona setelah melepas pelukannya.

“Aku……. eemmm…” Seohyun ragu untuk menceritakan masalahnya pada Yoona. Ia melihat Yoona sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan Yoona yang biasanya. Batin Seohyun.

“Sepertinya ada yang harus kau ceritakan padaku Seo. Kajja, ceritakanlah. Aku siap menjadi pendengarmu.” Yoona tersenyum hangat pada sahabat yang sudah ia kenal sejak SMP itu.

“Aku belum meminta penjelasan dari Kyuhyun mengenai hubungannya dengan Jonghyun dan kenapa Jonghyun bisa mengetahui tentangku.”

“Mwo? Wae? Kenapa kau tidak meminta penjelasan darinya?”

“Aku belum siap Yoon. Akh, mungkin lebih tepatnya situasi saat ini yang tidak tepat.”

“Lho memangnya kenapa? Aku sarankan kau cepat meminta penjelasan padanya. Aku ingin kesalahpahaman kalian cepat berakhir.”

“Aku juga berharap begitu.. tapi…. ada sesuatu yang membuatku enggan berhubungan dengan namja itu lagi.” Hening. Yoona menatap intens sahabat yang ada di hadapannya itu yang kini tengah menerawang. Memikirkan sesuatu.

“Kau tau? Aku sudah berhenti magang di perusahaannya.” Kembali Seohyun bersuara. Yoona masih diam. Menunggu Seohyun melanjutkan bicaranya.

“Kyuhyun-ssi, dia……. sudah ada seseorang yang ia sayang. Dia sudah menyimpan rasa itu sejak dulu.” Yoona mengerutkan kedua alisnya. Sebenarnya dalam masalah hadirnya Jonghyun dalam kehidupan Seohyun saat ini tidak ada hubungannya dengan Kyuhyun sudah punya seseorang yang ia sayang apa belum. Dan dari pernyataan Seohyun barusan, Yoona menarik kesimpulan jika Seohyun memanglah ada rasa terhadap mantan bosnya itu.

“Jinjja?? Nugu??”

“Sooyeon. Yeoja cantik yang baru saja kembali dari Paris dan baru membuka butik di sini. Dia adalah teman lama Kyuhyun-ssi dan juga Jonghyun.” Seohyun menunduk. Meremas kedua tangannya.

“Seohyun-ah….. apa kau menyukai Kyuhyun?” pertanyaan Yoona barusan membuat Seohyun mendongakkan kepalanya lagi, menatap Yoona.

“Mollaseo Yoon. Aku bingung apakah aku sudah bisa dikatakan menyukainya atau tidak.”

“Aisshhh jinjja… “ Yoona menatap gemas sahabatnya itu. Bagaimana mungkin tidak mengerti apa yang ia rasakan sendiri. Dasar pabo. Umpat Yoona dalam hatinya. Saking gemasnya.

“Emmm, begini saja. Apa kau merasa tidak suka saat tau Kyuhyun bersama gadis lain? Merasa tidak rela begitu?” Seohyun mengangguk.

“Lalu apa kau merasa jantungmu berdetak dua kali lipat dari biasanya saat bersama Kyuhyun?” Seohyun kembali mengangguk. Terdengar helaan nafas dari Yoona.

“Saranku, kau sebaiknya menemui Kyuhyun untuk menyelesaikan persoalan kehadiran Jonghyun. Saat itu juga kau harus mengakui perasaanmu padanya.”

“Mwo?? Andwae andwae!!” tolak Seohyun mentah-mentah.

“Ooo jadi kau mau masih ada kesalahpahaman diantara kalian?? Bukannya kau sempat marah dan mengusir Kyuhyun saat ingatanmu baru pulih dulu?”

“Tapi Yoon, tidak mungkin aku mengatakan perasaanku padanya. Aku tidak mau.”

“Okkee, masalah perasaanmu kita pikirkan nanti. Yang penting adalah menyelesaikan kesalahpahaman diantara kalian.” Seohyun tidak menolak, namun tidak juga mengiyakan. Ia memandang kearah lain, menerawang, memikirkan sesuatu. Yoona yang awalnya ingin mencurahkan keluh kesah yang ia alami hari ini, mengurungkan niatnya. Bukan tidak ingin berbagi, hanya waktunya saja yang belum tepat. Seohyun jauh membutuhkan dirinya saat ini.

 

******

 

Dua namja itu masih terdiam. 15 menit berlalu tidak ada yang memulai pembicaraan. Memang saling tatap, tapi pikiran keduanya menerawang jauh. Memikirkan sesuatu.

“Ehm.. Kyuhyun-ssi, seperti yang sudah aku katakan semalam lewat telepon aku ingin kita bertemu hari ini membahas sesuatu. Ini mengenai Seohyun.” Namja yang satu, Donghae akhirnya membuka suara. Ya memang dia yang mengajak Kyuhyun untuk bertemu. Semalam, Yoona meneleponnya. Mencurahkan semua yang telah Seohyun alami padanya. Yoona memintanya untuk bicara dengan Kyuhyun, lebih tepatnya menyarankan Kyuhyun agar mau mengajak Seohyun untuk bertemu dan membicarakan semua. Semua masalah mereka. Dan Donghae menyanggupinya. Ia sudah menganggap Kyuhyun dan Seohyun sebagai sahabat meski tidak terlalu akrab.

“Kenapa kau yang menemuiku untuk membicarakan masalah itu? Apa Seohyun yang memintamu?”

“Aniyo, bukan begitu. Semalam Yoona telah menceritakan semuanya padaku. Mungkin aku dan Yoona terkesan ikut campur masalah kalian, tapi bukan begitu maksud kami. Kau namja dewasa Kyu, kurasa kau sudah bisa mengerti maksudku.”

“Ne, aku mengerti. Terimakasih sudah mau membantu kami. Lantas darimana kita mulai bahas masalah aku dengan Seohyun?”

“Sepertinya harus kau yang berinisiatif mengajaknya bertemu dan membicarakan masalah kalian. Itu yang Yoona sarankan untuk ku bicarakan padamu.”

“Artinya Seohyun tidak mau bertemu denganku? Mengajakku dahulu begitu?” Donghae mengedikkan bahunya, tanda ia tidak begitu memahami yang Seohyun mau atau tidak mau sebenarnya.

“Mungkin ini ada hubungannya dengan yeoja yang bernama Sooyeon.” Kedua alis Kyuhyun bertaut. Sooyeon? Memangnya ada apa dengan Seohyun dan Sooyeon? Pertanyaan itu seketika terlintas di benak Kyuhyun setelah Donghae menyebut nama Sooyeon.

“Maksudmu Donghae-ssi?”

“Aku juga kurang begitu tau Kyu. Sekali lagi sebaiknya kau telepon Seohyun, ajak dia bertemu dan selesaikan masalah kalian.”

 

******

 

 

Gadis cantik itu meletakkan sebuket bunga di depan nisan bertuliskan nama seseorang. Cho Jonghyun. Sang gadis mengusap nama yang terukir di sana. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca. Gadis itu, Seohyun tersenyum getir menatap nama Jonghyun. Ia merasa bukanlah orang yang baik untuk Jonghyun. Jonghyun yang tulus mencintainya, bahkan hingga ia sudah meninggalpun masih mau menemui Seohyun. Sedangkan Seohyun? Ia malah tidak menyadari jika sejak SMP sudah ada yang menyayanginya begitu tulus.

“Mianhae Jong-ssi.. jeongmal mianhaeyo..” ucapnya serak. Seohyun tersentak saat merasakan ada yang menyentuh pundaknya. Mata bulatnya yang masih mengalirkan air mata itu bertambah bulat setelah melihat siapa yang menyentuh pundaknya.

“Jong-ssi, kau?” Jonghyun tersenyum. Ah, yeoja ini masih saja penakut. Pikir Jonghyun.

“Mianhae, jika aku mengagetkanmu Seohyun-ah.”

“An…aniyo… aku…aku…”

“Kajja, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Seohyun hanya pasrah. Ia berdiri, mengikuti langkah Jonghyun.

“Pejamkan kedua matamu.” Seohyun memejamkan kedua matanya. Ia tidak merasakan apapun. Perlahan genggaman tangan Jonghyun terlepas dari tangannya,, karena Jonghyun tak kunjung menyuruhnya membuka mata, Seohyun lantas membuka matanya. Ia kerjap-kerjapkan kedua matanya, menyesuaikan dengan cahaya.

Ia melihat Jonghyun berdiri tak jauh darinya. Memandang ke arah pemandangan kota.

“Jong-ssi, ini…..”

“Ya, ini adalah tempat yang pertamakali kita kunjungi bersama. Tapi bedanya saat itu malam hari. Kalau tidak salah kau saat itu tidak bisa tidur bukan?”

“Ne… emmm kenapa kau mengajakku kesini?”

“Hanya ingin kesini bersamamu saja. Mungkin dapat dikatakan yang terakhir kalinya.”

“Maksudmu?”

“Aisshh jinjja, kau ini pabo juga ya.” Seohyun merengut sebal. Jonghyun tersenyum, lega karena berhasil membuat suasana mencair, setidaknya dengan lelucon yang ia buat.

“Kau kan tau aku ini hantu. Tidak akan selamanya aku ada di dunia dan bisa menemuimu. lagipula, nanti Kyuhyun akan marah padaku jika terus-terusan mengajakmu bertemu hanya berdua.”

“Apa hubungannya dengan Kyuhyun?”

“Sudahlah, aku sudah tau semuanya. Menurutku kalian itu hanya mementingkan ego masing-masing. Kalo sudah saling suka, ungkapkan saja.”

“Saling suka?”

“Ahahahahaha, tuh kan. Pasti hanya potongan kalimat itu yang benar-benar kau cerna dalam otakmu. Kau senang kan?”

“Nde? Aa…ak…aku tidak mengerti maksudmu Jonghyun-ssi.” Seohyun terlihat gugup. Sebenarnya ia mengerti yang Jonghyun maksud. Tapi ia terlampau malu untuk bicara jujur jika ada perasaan senang yang kini tengah ia rasakan.

“Seohyun-ah, sudahlah. Hilangkan egomu dulu sejenak. Ajak Kyuhyun bertemu. Selesaikan masalah kalian. Aku minta maaf, semua ini terjadi karena kehadiranku di kehidupanmu. Kyuhyun sama sekali tidak tau menau tentang yang ku rencanakan. Dia hanya tau satu hal, yaitu permintaanku untuk selalu melindungimu.” Seohyun tertegun. Sebegitu besarnyakah cinta Jonghyun untuknya? Hingga maut menjemputnya pun masih mau memikirkannya, meminta Kyuhyun untuk melindunginya?

 

 

*****

 

 

Seohyun terus meremas kedua tangannya. Mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia tidak berani menatap seseorang yang kini duduk berhadapan dengannya. Meskipun suasana cafe tempat mereka bertemu saat ini cukup ramai, namun Seohyun merasa suasana nya hening. Hanya ia dan orang itu yang ada. Gadis itu tidak tahan dengan suasana seperti ini. Ia beranikan diri untuk mendongak, menatap orang itu. Kyuhyun.

“Bukankah saat kau terakhir magang dikantorku aku sudah bertanya padamu, apakah tidak ada penjelasan yang kau inginkan dariku. Kau bilang tidak ada. Tapi nyatanya? Banyak yang harus kita selesaikan.” Seohyun menatap tak percaya pada Kyuhyun. Mengapa Kyuhyun berkata seperti itu padanya??

“Mianhae. Itu karena aku merasa waktunya belum tepat.”

“Lantas? Kenapa kau tidak kunjung menghubungiku lagi? Sampai-sampai orang lain yang harus ikut campur masalah kita.” Seohyun mengerutkan alisnya.

“Donghae dan Yoona. Bukankah mereka sudah jauh ikut campur dalam masalah kita? Kenapa kau lebih memilih bercerita semuanya pada mereka dulu dibanding aku? Bukannya yang punya masalah denganmu adalah aku?”

“Kyuhyun-ssi, aku…. aku-“

“Oke, niatmu mungkin hanya ingin berbagi dengan Yoona. Tapi aku tidak suka.” Seohyun menunduk. Kenapa menjadi ia yang terpojok? Bukankah harusnya dia yang marah disini?

“Jonghyun adalah saudara kembarku. dia begitu mengagumi dan menyayangimu sejak pertama kali kalian bertemu. Saat dia SMP. Ini, dari buku diary ini kau bisa tau lebih jauh mengenai semuanya.” Kyuhyun menyerahkan sebuah buku diary pada Seohyun. Diary milik Jonghyun. Seohyun menerima diary itu, membuka halaman awalnya.

“Sudahkan? Hanya itu kan yang kau butuh untuk ku jelaskan?”

“Nde? Ah..ne..”

“Baiklah, aku permisi dulu. Masih banyak pekerjaan di kantor.

Seohyun menggigit bibir bawahnya, menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menghilang di balik pintu masuk cafe. Sebenarnya masih ada 1 hal yang ingin ia selesaikan dengan Kyuhyun, tapi… ah sudahlah. Mungkin memang dirinya harus memendam perasaannya sendiri. Menghapusnya lebih baik. Hubungannya dengan Kyuhyun tak lebih dari mantan bos dan sektretaris. Hanya itu.

 

*****

 

Tuk …. tuk …. tuk …. suara ketukan bolpoin terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ruangan kerja seorang Im Yoona. Sedari tadi ia hanya melamun, mengetuk-ngetukkan bolpoin ke meja kerjanya. Pikirannya saat ini ada dimana-mana. Lebih tepatnya kepikiran akan Donghae yang beberapa bulan lagi pergi ke Amerika, meninggalkannya untuk melanjutkan study S2. Yoona ikhlas memang, membiarkan Donghae melanjutkan sekolahnya ke luar negeri tapi dalam lubuk hati terdalamnya ia hanyalah gadis biasa. Ia juga merasa was was, takut. Selama ini ia tidak pernah membina hubungan jarak jauh dengan kekasihnya itu.

Ceklek.. suara pintu terbuka akhirnya membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.

”Appa….” gumamnya lirih saat melihat ayahnya yang masuk ke dalam ruang kerjanya.

“Mau makan siang dengan appa?” tawar Tn. Im.

“Ah, sudah jam makan siang ya? Baiklah. Kajja.” Tn Im tersenyum simpul melihat putrinya itu. Sesuatu memang telah terjadi pada sang putri. Hey, meskipun ia seorang ayah ia juga telah merawat putrinya selama 22 tahun tentu sangat hafal betul sifat-sifat putri semata wayangnya itu. Meskipun ikatan batin mereka tak sekuat dengan ikatan batin sang putri dengan ibunya. Jika boleh diakui, sebenarnya Yoona lebih dekat dengan sang ayah daripada ibunya. Bukannya tidak dekat juga dengan ibunya, hanya Yoona merasa nyaman berkeluh kesah dengan ayahnya dulu baru ke ibunya.

“Kau mau makan apa sayang?” tanya Tn. Im, saat ini mereka dalam perjalanan.

“Terserah appa saja.” Tuh kan, benar memang ada sesuatu yang telah terjadi. Biasanya Yoona akan antusias memilih menu makan bila keluarganya akan makan diluar.

“Baiklah.” Tn. Im lantas melajukan mobilnya menuju tempat makan favorit sang putri. Tak butuh waktu lama, sampailah mereka di rumah makan yang menyediakan makanan khas Korea. Yoona memang lebih suka makanan khas dalam negeri ketimbang makanan barat.

Setelah memarkir mobil, mereka memasuki rumah makan itu yang terlihat cukup padat pengunjung. Tn. Im memilih tempat duduk di dekat jendela menghadap ke arah jalan. Yoona hanya diam, mengikuti ayahnya.

“Appa mau membuatku gemuk memilih makan disini?’ ucapnya setelah duduk dan meletakkan tasnya.

“Ne, kau memang harus menambah berat badanmu sayang.” Yoona hanya tersenyum menanggapi.

Seorang pelayang menghampiri keduanya, setelah sama-sama memesan makan Tn. Im kembali membuka suara.

“Appa serius Yoon. Kau memang harus menambah berat badanmu. Kau tidak mau kan Donghae melirik wanita lain karena kau terlalu kurus?”

“Aisshhh appa ada-ada saja. Mana ada laki-laki selingkuh karena kekasihnya kurang berat badan.” Setelah menjawab itu, Yoona menatap ke arah luar kaca jendela. Pandangannya sayu, kembali teringat Donghae. Ia tidak sanggup jika yang dikatakan ayahnya benar terjadi. Bagaimana jika nanti Donghae menduakannya dengan wanita lain yang lebih seksi di Amerika sana?? Melihat tingkah sang putri, sudah dapat Tn. Im tebak jika masalah sang putri ada hubungannya dengan Donghae.

“Kau ada masalah dengan lelaki itu?”

“Nde? Aaa, bukan hal serius kok appa.” Yoona mencoba tersenyum, namun dimata ayahnya senyum itu terkesan terpaksa.

“22 tahun kau bersama ayah. 22 tahun ayah merawat dan membesarkanmu, jadi jangan berusaha menutupi apa-apa dari ayah. Ayah tau betul sifatmu Yoon.” Yoona menghembuskan nafas lelahnya. Memang salah jika ia mencoba terlihat baik-baik saja dihadapan sang ayah karena percuma. Oke, mungkin ini saatnya ia berbagi keluh kesahnya dengan sang ayah.

Sebelum ia mulai bercerita, seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka.

“Kamsahamnida agassi.” Ucapnya Yoona pada pelayan.

“Mau bercerita sambil makan atau makan dulu?” tawar Tn. Im.

“Aku ingin menikmati makanan ini dulu appa.” Tn. Im tersenyum. Setidaknya masalah yang sedang dihadapi sang putri, tak membuat putrinya itu kehilangan selera makan.

 

****

 

 

Kyuhyun tak fokus mengendarai mobilnya. Berkali-kali ia memukul stir mobilnya. Ia frustasi. Menyalahkan diri sendiri, betapa bodohnya dirinya, mengatakan hal-hal kasar pada Seohyun. Gadis yang ia cintai. Apalagi nada bicaranya tadi cukup dingin. Ia juga menyesal, mengapa tadi ia tak mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada yeoja itu?

“Mianhae Seohyun-ah..” gumamnya.. kedua tangannya meremas stir, kakinya menginjak pedal gas semakin kencang. Ya, ia harus kembali ke cafe tempat ia bertemu Seohyun tadi.. Minta maaf karena telah berkata kasar pada Seohyun, sekaligus mengutarakan perasaannya. Semoga saja Seohyun belum pergi dari sana.

Setelah hatinya benar-benar mantap, Kyuhyun memutar arah. Ia berbalik, kembali ke tempat dimana tadi ia meninggalkan Seohyun. Ia berharap semoga gadis itu masih disana. Senyum tipisnya tercipta, membayangkan ia akan mengutarakan perasaannya pada seorang gadis untuk pertama kalinya. Apapun jawaban Seohyun nantinya, ia sudah siap menerima. Yang terpenting, ia sudah lega. Daripada terus memendam.

Melihat rambu lalu lintas menyala merah, Kyuhyun segera menginjak rem. Namun sayang, rem nya tiba-tiba tidak berfungsi. Berkali-kali ia berusaha menginjak rem, namun mobilnya tak kunjung berhenti.

Bruukk

Brruuaakkkk

Duuaakkkkk

Dduuuaarrr…..

Mobil Kyuhyun menabrak beberapa mobil dihadapannya yang tengah berhenti, lantas terguling

 

To Be Continued

 

Ini part sebenarnya rencana mau langsung end, tapi takutnya terlalu panjang. Jadi author bagi jadi 2 part yang chapter 10..

5 thoughts on “Saranghae chap 10a

  1. ihh tu apa mksd sooyeon ngomong kek gtu ke seo. bkannya kyu dah jlasin ya law dy cma anggap sooyeon sbgai adik. Ga ngerti jga apa?? -_-
    Huh seouni lge npa msh mkiri yg aneh2. Law cnta ya blg aj. Aigoo kyuppa kcelakaan?? Smga dy ga lpakan seouni deh amin😉

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s