[ONESHOT] When I Was Your Man

Title : When I Was Your Man
Author : Ndayoongie
Cast : Lee Donghae
Im Yoona
Support  cast : Choi Siwon
Lee Hyukjae
Kwon yuri as Im Yuri
Kim Hyoyeon
Genre : Hurt, Romance
Length : One Shoot
Rate : T
Disclaimer : I only have the story. All cast belongs to them self. I only borrow their name.

image

“This is my first fanfiction, sorry for bad plot and Typo’s. Actually I’m Yoonhae shipper. So this story I made for them. I want to make a song fict at first, but became a long story.”

Backsound : Bruno Mars – When I Was Your Man

Enjoy it ^^

WHEN I WAS YOUR MAN

Lelaki itu melangkahkan kakinya mantap di koridor ruangan bernuansa krem kecoklatan yg menampilkan kesan cukup mewah daripada kantor pada umumnya tersebut. Jas putih bercorak garis hitam vertical itu melekat pas pada tubuhnya yg terbilang tegap. Matanya menatap lurus ke depan. Kosong, itu yg terlihat jelas dari tatapan matanya. Tak lama kemudian langkah itu terhenti tepat di depan sebuah ruangan. Dibukanya pintu yg berukiran bunga dandelion di hadapannya. diteruskannya langkah kakinya memasuki ruangan tersebut. Pintu itu pun menutup dengan sendirinya setelah terlepas dari pegangannya. Di dudukkannya tubuhnya pada kursi empuk yg merupakan singgasananya yg berada di balik meja kerja berbahan kayu. Terdapat papan nama di atas meja, “Presdir” “Lee Donghae” hanya dua kalimat yg membuat orang-orang tahu betapa berkuasanya lelaki itu di dalam perusahaan yg cukup terkenal sekarang. “Lee corp” perusahaan yg berkembang di bidang konstruksi yg sedang menikmati puncak kejayaannya setelah keterpurukan yg melanda 10 tahun yg lalu saat sang pendiri meninggalkan dunia ini. Lelaki ini lah yg mengelolanya sejak itu di umurnya yg cukup terbilang muda. Bagaimana anak berusia 17 tahun harus membangkitkan perusahaan yg sudah berada di ujung tanduk. Tapi ini lah dia, seorang lelaki cerdas yg tumbuh dewasa dengan cepat karena tuntutan keadaan. Jadi jangan salahkan ia yg terus mempertahankan perusahaan ini, karna hanya inilah yg di wariskan sang ayah kepadanya tepat saat ulang tahunnya yg ke 17. Kado terindah sekaligus terpahit yg didapatnya saat itu. Sang ayahanda tercinta meninggalkan ia dan ibunya selamanya, hanya karna sakit jantung yg kumat di saat yg tidak tepat. Tidakkah itu begitu tragis untuk anak seusianya??

Mata itu mulai berembun, kenangan-kenangan itu layaknya film yg sedang diputar ulang dalam otaknya. Dikerjapkannya matanya untuk menghalangi air mata yg ingin keluar. Donghae mengalihkan pandangannya pada sebuah frame foto berukuran sedang di atas meja kerjanya. Tampak sepasang pria dan wanita yg sedang tersenyum disana.  Dengan posisi sang lelaki memeluk sang wanita dari belakang.  Tes… satu bulir bening menetes dari sudut mata kanannya. Di angkatnya tangannya kearah foto tersebut, memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya. Sorotan matanya menampakkan kesedihan yg mendalam melihat sosok yg sudah meninggalkannya selama setahun ini. Sosok yg hanya bisa di pantaunya dari jauh. “aku merindukanmu.. apa kau tak merindukanku?” lirihnya. “hiks.. hiks..” dia mulai menangis terisak sekarang. Apakah ia begitu cengeng? Tidak., dia lelaki yg tegar. Dia bahkan tak menangis saat pemakaman sang ayah saat itu, ia berusaha menjadi lelaki dewasa dihadapan ibunya. Karna dia tau, kehidupannya akan sulit mulai saat itu. Dan ia berhasil. Kini perusahaan yg dirintis sang ayah menjadi perusahaan terkuat nomor dua setelah rival sekaligus partner perusahaanya. Tapi itu sudah cukup untuknya. Dia bukanlah orang yg serakah. Tapi ini berbeda. Orang yg selalu ada disisinya pergi meninggalkan ia sendiri hanya karna ketidakpekaannya. Ya,, wanita yg masih dicintainya hingga sekarang.

“yoona-a,, apa kau benar-benar membenciku?” Ia melirik pada sebuah kalender yg terletak di sebelah kiri sudut meja. “ini ulang tahun pertama ku tanpa ada dirimu disisiku” ia tetap bermonolog ria di ruangan luas yg hanya di tempatinya seorang diri. “kau tau? Semuanya terasa semakin menyesakkan sekarang. Tidak ada senyuman yg menyambutku saat pulang, tak ada lagi suara nyaringmu yg membangunkanku. Setiap detik berlalu rasanya jiwaku semakin menguar keluar dari raga ini.” Lanjutnya lirih.

Tok.. tok.. tok.. ketukan dipintu menyadarkannya kembali ke dunia nyata. Dengan cepat dihapusnya air matanya, mencoba menormalkan nada suaranya yg sedikit serak. “masuk” jawabnya tegas.

Seorang wanita cantik masuk keruangan tersebut, “presdir, rapat akan dimulai 15 menit lagi. Saya sudah menyiapkan semua yg anda perintahkan.” Ucapnya lembut. Donghae menganggukkan kepalanya pelan “Gomawo Yuri-a. kajja” ucapnya sambil beranjak keluar. Wanita itu – yuri, mengikutinya dibelakang.

“anyeonghaseo” ucapnya sambil menundukkan kepalanya saat memasuki ruangan itu. Dua orang namja melakukan hal yg ada disana melakukan hal yg sama. “silahkan duduk” ucapnya sopan. Mereka pun memulai rapat penting itu.

“tunggu sebentar donghae-ssi”  ucap seorang namja berbadan atletis menghentikan langkah donghae. Rapat itu sudah selesai satu menit yg lalu. “ada apa siwon-ssi”jawab donghae singkat. Ia sangat tidak ingin berlama-lama dihadapian pria ini. Pria yg telah menggantikan posisinya di hati wanitanya – mantan wanitanya.

Choi Siwon – lelaki bertubuh atletis itu mendekat kearah donghae. “apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
“maksudmu?” donghae mengernyit heran.
“kulihat wajahmu sedikit pucat, apa kau sedang sakit?” Tanya siwon tulus.
“tidak” jawab donghae ketus.
“kau akan datang kan nanti malam?” Tanya siwon lagi.
“tentu saja” jawabnya. Dengan cepat donghae melangkah keluar dari ruangan yg terasa lebih panas sekarang. Bagaimana tidak, ia harus berada di ruangan yg hanya di huni olehnya dan siwon – orang yg kini telah mengambil miliknya yg paling berharga. Tapi itu bukan sepenuhnya kesalahan pria tampan itu. Salahkan ia yg terlalu pengecut untuk mempertahankan wanitanya. Dan kini ia menyesal, mengapa ia hanya diam saja saat yoona mengucapkan kalimat paling menyakitkan untuknya. ‘ kita berpisah saja oppa. Aku sudah tak sanggup hidup bersama orang yg lebih mementingkan pekerjaannya dari pada diriku. Aku juga butuh kau disisiku. Maafkan aku. Aku tak tahan lagi.’ Air mata itu menetes lagi. Sadarkah ia kini menjadi sosok yg lemah sejak kepergian sang pujaan hati?

Same bed but it feels just a little bigger now
Our song on the radio but it doesn’t sounds the same
When our friends talk about you, all it does is just tear me down
Cause my heart breaks a little when I hear your name
It all just sounds like..
Emmmm,, too young,, too dump,, to realize.

Donghae melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah berbentuk minimalis dengan taman bungan matahari di sampingnya. Terdapan sebuah ayunan tunggal di dekat taman, menambah kesan asri pada rumah itu. Ia terus melangkah lesu menaiki tangga menuju kamarnya – kamarnya dan yoona dulu. Braaakkkk .. Pintu itu tertutup sedikit kasar. Dihempaskannya tubuhnya ke tempat tidur king size miliknya. Tempat tidur yg kini terasa lebih luas dari sebelumnya. Di rebahkannya tubuhnya, menutup mata sejenak untuk menghilangkan sesak yg semakin bergemuruh di dadanya.
Drrtt.. Drrtt.. Ia hampir saja tertidur jika I-phone miliknya tak bergetar. “yeobseo” ucapnya serak. Diangkatnya panggilan itu tanpa melihat siapa yg sedang meneleponnya.
“YAAA.. LEE DONGHAEEEEE, apa yg kau lakukan sekarang. Kami sudah menunggumu sejak setengah jam yg lalu.” Teriak seorang namja dari seberang sana. Donghae tersentak kaget, ditepuknya pelan keningnya menyadari betapa pelupanya ia sekarang. “cepat kemari atau…”
“mianhe hyukkie-a, aku kesana sekarang” potong donghae cepat sebelum sahabatnya itu marah besar padanya. Bagaikan dikejar setan, ia berlari ke kamar mandi. Bersiap-siap memenuhi janji yg terlupakan olehnya.

“mian..he, aku ter..lam..bat” ucapnya terputus karena ia baru saja berlari dari parkiran menuju restoran ini.

“kenapa kau ada disini? Kami sudah mau pulang” ucap hyuk jae sinis sambil beranjak dari kursinya. “kajja, hyonnie-ah” hyukjae mengerling nakal pada wanita yg berdiri disampingnya. Wanita itu mengangguk mengerti. “mianhe oppa, kami harus pulang” ucap wanita bernama hyoyeon itu.

“maafkan aku, aku benar-benar lupa” ucap donghae sambil membungkukkan badannya berkali-kali. “jangan tinggalkan aku lagi” lirihnya pelan membuat Lee Hyuk Jae – sahabatnya tertegun, padahal maksudnya hanya ingin mengerjai donghae. Ia beranjak mendekati donghae.

Donghae sedikit tersentak saat tiba-tiba ada yg memeluknya. Diangkatnya sedikit kepalanya. Sahabatnya memeluknya, sangat erat. “apa yg kau bilang babo? Aku tak kan pernah meninggalkanmu sampai aku mati. Bukankah aku sudah berbicara jelas soal itu” hyuk jae berbisik lembut ditelinga kirinya. Pertahanan donghae runtuh, hari ini benar-benar hari paling melelahkan untuknya. Ya ..  Hari dimana orang-orang yg dicintainya meninggalkannya. Dia masih bersyukur bahwa sahabatnya tak akan meninggalkannya. Ia menangis sekencang-kencangnya dipelukan sahabatnya. Menumpahkan perasaan sesak yg ditanggungnya setahun ini. “lupakan semuanya hae-ah. Hiduplah seperti dirimu sebelumnya Eoh ! menangis lah untuk hari ini, tapi kau harus berjanji untuk lebih baik di hari esok. Aku akan berada disampingmu.” Lanjut hyuk jae pelan. Dielusnya punggung donghae untuk menenangkannya. Hyoyeon hanya tersenyum haru melihat pemandangan di depannya.

Donghae sudah menghentikan tangisnya, dilepasnya pelukan hyuk jae. “gomawo hyuk jae-ah” ucapnya serak. Hyuk jae hanya tersenyum. Di alihkannya pandangannya ke seluruh restoran. Huhff.. ia menghela nafas lega. Tak ada orang lain disana, pasti hyuk jae yg menyewanya. Hanya ada ia, hyuk jae dan istrinya – Hyoyeon, dan Yuri. OMO.. donghae terbelalak kaget saat melihat sekretaris sekaligus mantan kakak iparnya ada disana juga. Astaga,, apa yg harus ia lakukan. Hancur sudah image “dingin” yg selama ini terlihat di kantor. Apalagi selama ini ia tak pernah menampilkan sosok lemahnya pada siapapun termasuk yoona kecuali hyukjae – orang yg tumbuh bersamanya sejak kecil. ‘bagaimana jika yuri melapor pada yoona, hancur lah harga diriku’ batinnya. Tapi tatapannya berubah sendu sedetik kemudian saat ia teringat bahwa sang kekasih sudah tak ada disampingnya lagi.

“kau baik-baik saja hae-ah?” Tanya hyukjae yg terus memperhatikan wajah sahabatnya itu.

Donghae mencoba tersenyum – senyum yg dipaksakan. “ aku baik-baik saja” kata donghae sambil menduduki salah satu kursi kosong. Hyukjae melakukan hal yg sama disampingnya. “bagaimana kau ada disini yuri-ah? Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Tanya donghae pada yuri yg duduk tepat dihadapannya.

“eh,, a,,a,,aku sudah menyelesaikan semuanya oppa, aku kemari karna ada yg mau kuberikan padamu” jawab yuri gugup karna jujur saja dia masih terkejut melihat orang yg masih dicintai adiknya menangis seperti itu. Karna setahunya donghae selalu tampak baik-baik saja selama di kantor. ‘apa dia sedang ada masalah’ batinnya.

“oohh apa itu?” Tanya donghae.

Yuri mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dari bag paper yg ada di bawah meja. Diberikannya kotak itu pada donghae. “saengil chukkae oppa” ucapnya kemudian.

Donghae tersenyum tipis mengambil kotak itu. Dibukanya kotak itu perlahan. Dia sedikit terkejut saat melihat ada setangkai bunga matahari diatas sebuah sweater berwarna biru laut. Ada rajutan namanya di sudut kiri sweater berwarna favoritnya itu. Ia tersenyum manis. Senyum manis pertamanya setahun ini. Diangkatnya bunga matahari itu, menghirup wangi bunga yg menjadi lambang seseorang. Ia tahu, bukan yuri yg memberikan hadiah itu. Yoonanya yg membuatkan untuknya. ‘gomawo, kau masih mengingatku’ bisiknya dalam hati. “gomawo yuri-ah” ucapnya tulus “ah, ucapkan juga terima kasihku padanya” lanjutnya yg membuat yuri tersenyum lega. Ia yakin, sangat yakin. ‘mereka masih saling mencintai’ yakinnya dalam hati.

“hei.. ada apa ini, kenapa aku merasa diasingkan disini” pekik hyukjae menggembungkan pipinya kesal. Donghae hanya nyengir, sedangkan yuri dan hyoyeon menahan senyumnya.
“mana hadiahku hyuk?” donghae memasang wajah memelas. Hyukjae memberikan sebuah paper bag pada donghae. “itu desain terbaru hyoyeon” ucapnya singkat sambil mulai memakan makanannya. Donghae kembali  tersenyum manis. Inilah dia yg sebenarnya. Hangat , hanya saja jika di kantor dia lebih terkesan “dingin” saat bekerja. Bukankah seorang pemimpin harus menampilkan sisi “wibawa” pada bawahannya. Hyukjae ikut tersenyum melihat sahabatnya. Senyuman itu kembali, hanya karena sebuah benda dari orang itu. Sebegitu besarnya cinta sahabatnya pada wanita itu. Pantas saja ia begitu terpuruk selama ini. ‘kenapa kau tak bercerita padaku hae-ah’ batin hyukjae sedih.

Sebuah lagu mengalun lembut menemani acara makan siang mereka. Donghae otomatis menghentikan makannya saat mendengar lirik lagu yg terus mengalun dengan Indahnya.  Hyukjae dan hyoyeon, yg sejak tadi memperhatikan donghae ikut berhenti. Mereka saling berpandangan sejenak. Mereka tau itu adalah lagu donghae dan yoona. Mereka terus memperhatikan ekspresi donghae. Ekspresi yg menunjukkan kesedihan yg amat dalam.

“oh, bukannya ini lagu Bruno mars” pekik yuri tiba-tiba. “yoona selalu memutar lagu ini dikamarnya, membuatku bosan”lanjutnya tak menyadari pandangan mematikan dari hyeoyon.

Donghae hanya tersenyum pahit mendengarnya. Pandangan matanya mulai kosong, berembun. Yuri yg mulai menyadari kesalahannya terdiam. “maafkan aku” ucapnya pelan.

“tak apa yuri-ah” donghae berusaha tersenyum. Semuanya sadar kondisi donghae sedang tidak baik-baik saja. “ah,yuri, apa kau ada acara nanti malam?” lanjutnya. Yuri menggeleng pelan. “kalau begitu temani aku ke pesta perayaan perusahaan Choi corp.” ucap donghae tegas.

“kenapa aku?” Tanya yuri heran.

“karena tidak ada wanita lain yg ku kenal, aku tak mungkin mengajak hyeoyon.” Donghae menjawab sambil mengedipkan sebelah matanya kearah hyeoyon yg tersenyum padanya.

“HEI,, APA YG KAU LAKUKAN LEE DONGHAEEEE. KAU MAU MATI?” pekik hyukjae histeris melihat kelakuan donghae.

Donghae mengusap telinganya yg terasa perih karena jeritan histeris hyukjae sedangkan hyoyeon sudah tertawa melihat kelakuan suaminya yg menurutnya berlebihan. Donghae mendekatkan wajahnya kearah yuri “kau sudah lihatkan apa yg terjadi? Aku tak mau menanggung yg lebih parah jika mengajak hyoyeon. Tolong aku!!” bisiknya dengan wajah memelas menyadarkan yuri dari tampang cengonya akan kejadian yg baru terjadi. Ia hanya menganggukkan kepalanya membuat donghae tersenyum. “gomawo yuri-ah, ku jemput jam 7 nanti” lanjut donghae.

“oke”

That I should’ve bought you flowers
And held your hand
Should’ve gave you all my hours
When I had a chance
Take you to every party
Cause all you wanted to do was dance
Now my baby’s dancing
But she’s dancing with another man

Donghae mematutkan dirinya didepan cermin di dalam kamarnya. Baru ia sadari kini, ia tampak jauh lebih kurus. Wajah tampannya semakin cekung. Pandangan matanya kosong seperti tak ada kehidupan disana. Tubuhnya yg tegap entah mengapa tampak lemah. “persis mayat hidup” gumamnya. Haaaahh,, “haruskah aku pergi” terlihat jelas keraguan di sorot mata teduh itu. “tidak, aku tak boleh egois, ini demi nama baik perusahaan” yakinnya pada diri sendiri.

“eonnie, aku pergi” ucap seorang wanita cantik sambil mengecup pipi yuri sekilas. “emmm” Yuri hanya menjawab dengan suara tenggorokannya karna ia sedang memoleskan sentuhan terakhir pada bibirnya. Wanita cantik itu melangkahkan kakinya keluar dari kamar yuri – kamar mereka dulu lebih tepatnya. Karena saat yoona dan yuri menikah kamar itu kosong. Dan kini mereka tinggal kembali dikamar itu karna alasan yg berbeda. Yuri, karena sang suami sedang pergi bertugas keluar negri mengharuskan ia tinggal bersama keluarganya daripada tinggal sendirian di apartemen miliknya. Sedangkan yoona, sejak perceraiannya setahun yg lalu ia resmi menjadi single woman saat ini.

“yoong…” panggilan yuri sontak membuat yoona membalikkan tubuhnya.

“ada apa eonnie?” jawabnya pelan. Sorotan mata itu, tampak sama dengan milik donghae. Kosong. Tapi itu tak membuat kecantikannya berkurang. Yuri tau, adiknya begitu tersiksa dengan perpisahannya dengan donghae. Hingga kini ia tak membuka hatinya kembali untuk orang lain. Ia masih menunggu donghae. Meski kini raganya berhubungan dengan siwon tapi hatinya tidak. Ia hanya tak mampu menyakiti hati lelaki yg selalu menemaninya 6 bulan belakangan ini. meski tak ada kata cinta diantara mereka, tapi ia juga tak bisa menolak kehadiran lelaki itu. Lelaki yg ditemuinya saat ia berada di Jepang untuk menenangkan diri pasca perceraian yg dihadapinya. Lelaki itu terus berada disisinya hingga kini.

“sesuatu yg dipaksakan akan menyakitkan yoong” yuri berucap pelan namun tegas. Ia terdiam sejenak memperhatikan raut wajah yoona yg berubah tegang. “eonnie tak ingin kau terluka nanti” lanjutnya.

“lalu apa yg harus kulakukan eon?” tatapan yoona berubah sendu. “kau tau aku selalu menunggunya bukan? Tapi ia seakan tak menginginkan ku lagi. Air mata mulai menetes di pipinya.

“siapa bilang?” sanggah yuri cepat membuat Yoona mengernyit bingung. “aku sudah melihat dengan mata kepala ku sendiri yoong, dia amat terpuruk. Pernahkah kau mencoba tuk mengunjunginya? Yg kau lakukan hanya menunggu tanpa berbuat sesuatu yg berarti. Kau tak melihat betapa bahagianya dia saat menerima kado yg kau titipkan padaku. Ada senyuman di wajahnya yg tak pernah kulihat semenjak kau meninggalkannya. Aku tau kau menyesal. Maka jangan hanya memikirkan perasaan orang lain, pikirkan perasaanmu dan dia. Aku selalu mendukungmu.” Jelas yuri panjang lebar.

Yoona hanya tersenyum pahit. “aku tau, tapi…”  ucapannya terputus saat I-phone miliknya bergetar. Segera diangkatnya panggilan itu. “yeobseo,oppa. baiklah,, aku segera turun.” Ditutupnya panggilan itu. Dia berkaca sejenak merapikan make up yg sedikit berantakan. “eonnie, aku pergi” ucapnya seraya berlari-lari kecil keluar kamar.

Yuri hanya menghela nafas melihat tingkah adik semata wayangnya itu. “sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri yoong” gumamnya pelan. Tiiittttt Tiittt… Ia tersentak saat mendengan klakson mobil, diintipnya dari jendela kamarnya. Sebuah mobil Audy putih terparkir manis dihalaman rumahnya. Segera disambarnya mantel bulu yg ada di atas tempat tidurnya kemudian keluar dari kamar itu.

“oppa” ucapnya pelan saat melihat donghae berdiri di depannya saat ia membuka pintu rumahnya. Terlihat donghae menggunakan tuxedo hitam dengan kemeja putih yg dua kancing teratasnya tak terkancing. Serasi dengan dirinya yg menggunakan gaun malam tak bertangan berwarna hitam polos dengan butiran permata di sekitar bahu hingga perutnya. Menampilkan kesan seksi namun tetap sopan. Mereka tertawa kompak saat menyadari pakaian mereka yg serasi. Padahal tak ada perjanjian yg mengatakan dresscot mala mini adalah warna hitam. Syukurlah suaminya tak ada, dan ia sudah meminta izin tadi siang. Kalau tidak mungkin ia sudah dikira berselingkuh dengan donghae. “kajja” ajak donghae. Yuri mengikutinya sampai ke mobil. Donghae membukakan pintu penumpang. Yuri hanya tersenyum membalas perlakuan istimewa itu. Ia hanya terseyum membalasnya.

“kita tampak serasi yuri-ah” donghae menekukkan sedikit lengannya yg langsung disambut oleh yuri. “untung saja suamiku tak ada disini oppa, kalau tidak habislah aku” bisik yuri pelan yg hanya disambut kekehan dari donghae.

Mereka berjalan diatas karpet merah menuju pintu masuk hotel mewah tempat dilangsungkannya acara. Setelah memasuki ruangan, yuri langsung menuju meja minuman disudut ruangan sedangkan donghae hanya berdiri di dekat pintu masuk sembari mengobrol singkat dengan orang-orang yg dikenalnya. Matanya terpaku saat melihat sosok yg amat dikenalnya berada tak jauh dihadapannya. Sosok wanita yg menggunakan dress berwarna kuning lembut polos dengan high heels berwarna keemasan itu berdiri membelakanginya. Tiba-tiba seorang pria merangkul mesra pinggang sang wanita. Tampak senyuman manis hadir diwajah cantiknya melihat kedatangan pria itu. Yah.. Senyuman yg selalu menenangkan jiwa seorang Lee Donghae. Kini senyuman itu bukan untuknya lagi. Donghae tersenyum miris. Hatinya sungguh sakit sekarang. Inilah mengapa ia ragu untuk menghadiri acara ini. ia takut bertemu langsung dengan sosok itu. Lee Yoona. Ah tidak lagi mungkin, mungkin saja ia sudah mengubah marga depannya kembali menjadi Im Yoona atau mungkin akan segera menjadi Choi Yoona. Entahlah. Donghae tak berani berharap yoona masih mencintainya. Terlalu banyak kata ‘mungkin’ berputar dikepalanya.

Sentuhan lembut dipundaknya menyadarkan donghae. Yuri – sang pelaku tersenyum manis. “kau baik-baik saja oppa?” ucapnya lembut. Diangsurkannya segelas orange juice kepada donghae. Tampaknya ia tahu apa yg sedang terjadi.

Donghae menolehkan kepalanya. “aku baik-baik saja yuri-ah.” Dialihkannya lagi tatapannya kedepan. Tatapan kosong itu kembali. “aku harus baik-baik saja, harus.” Bisiknya pelan entah pada siapa. Yuri menatap sendu sosok disampingnya, ia tak tahu harus berbuat apa lagi.

Acara berlanjut lebih santai. Lantai tengah ruangan yg dipenuhi para pebisnis itu tampak ramai dengan pasangan dansa. Diiringi music orchestra lembut menambah kesan romantis. Yuri asyik mengobrol dengan seorang wanita yg dikenalnya. Sedangkan, Donghae hanya memandang sendu seorang wanita yg tengah berdansa di tengah sana. Itu memang hobi sang wanita, ia maklum akan hal itu. Namun yg membuat hatinya teriris adalah sosok lelaki yg merangkul pinggang sang wanita. Ya.. wanitanya sedang berdansa. Tapi bersama lelaki lain. Ia tersenyum kecut mengingat masa lalunya.

Flashback..
“oppaa” pekik seorang wanita mengejutkan donghae yg sedang serius mengerjakan berkas-berkas perusahaannya. Ia hanya menolehkan kepalanya sebentar melihat sosok yg sedang berdiri di depan meja kerjanya tersebut. “ada apa yoong?” jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas – yg mungkin tak lebih menarik dari sosok cantik itu.

Yoona mengerucutkan bibirnya kesal karna diacuhkan. “kenapa kau tak datang oppa? Kau tau aku sudah menunggumu berjam-jam di tempat itu. Untung ada hyoyeon eonnie dan hyukjae oppa yg menemaniku. Kalau tidak pastilah aku tampak menyedihkan disana. Mereka berdansa dengan pasangan masing-masing sedangkan aku?” protes itu mengalir dari bibir tipis miliknya. Ia menarik nafas pelan “SENDIRIAN. KAU MENYEBALKAN OPPAAAAAAA !!!!!”pekiknya pada akhirnya. Ia sungguh kesal sekarang dan respon yg didapatnya hanya diacuhkan oleh sang suami.

Donghae tersentak kaget mendengar amukan istrinya. Ia melirik jam dinding yg ada di atas pintu ruangannya, tepat di belakang yoona. Pukul 11 malam. Ditepuknya keningnya pelan menyadari kebodohannya, lagi. Entah sudah berapa kali ia melupakan janjinya pada yoona hanya karna sibuk mengurus perusahaan yg sedang dikembangkannya ini. ia langsung beranjak dari kursinya mendekati yoona. Didekapnya sosok yg kini mulai terisak pelan. “maafkan oppa yoona-ah. Oppa benar-benar lupa. Tadi tiba-tida ada rapat penting dan oppa tak mungkin meninggalkannya. Maafkan oppa. Lain kali tak akan begini” Bisiknya pelan berusaha menenangkan yoona. Yoona menghentikan tangisnya. Ditatapnya wajah teduh sang suami, lelah. Itu yg tampak jelas. ‘lagi-lagi begini. Kapan kau akan mengerti keinginan ku oppa. Aku hanya ingin kau ada disampingku, menemaniku.’ Batinnya. Donghae membelai lembut pipinya. “maafkan oppa ya? Nanti oppa akan menemanimu berdansa setelah selesai memeriksa berkas ini” bisik donghae. Yoona hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia menatap nanar punggung donghae yg sudah berbalik menuju meja kerjanya.
Flashback end –

“selamat malam” sebuah suara membuyarkan lamunan donghae. Diperhatikannya ruangan itu. Tak ada yg berdansa lagi. ‘apa aku terlalu lama melamun’ batinnya. “terima kasih atas kehadiran anda malam ini, sebenarnya saya ingin memberitahukan sebuah pengumuman.” Tampak seorang lelaki berdiri diatas panggung kecil di sudut kanan ruangan tersebut. Sorot lampu mengarah padanya, membuat sosok itu – Choi Siwon menjadi pusat perhatian. Ia menarik nafas sejenak. “im yoona, aku tahu kita belum lama kenal. Tapi maukah kau menikah denganku? Biarkan aku mengobati luka dihatimu.” Ucapnya to do point yg sontak membuat ruangan ricuh. Sorot lampu mengarah pada sosok yoona yg ada didepan panggung itu. Siwon mendekati yoona kemudian berlutut dihadapannya. Ia menjulurkan sebuket bunga mawar putih – bunga yg melambangkan ketulusan kepada yoona. Yoona terkejut, ia tampak gelisah memandang siwon. Ia sadar betul jika moment ini akan terjadi, tapi tak secepat ini. ia tidak mencintai lelaki dihadapannya ini. yg ada di pikirannya adalah donghae yg melamarnya dua tahun lalu dengan bunga yg berbeda. Bunga matahari. Tepat di hari ulang tahunnya.

Ia terdiam cukup lama membuat siwon menegakkan tubuhnya. Memeluknya lembut. “kuanggap kau setuju yoona-ah” bisiknya pelan membuat yoona tersadar kembali. Ia tak membalas pelukan itu. ‘tak selamanya diam itu berarti ‘iya’ siwon-ssi’ pikirnya. Tapi bibirnya tak berkata apapun. Ia sedang bingung saat ini. semakin membuat seorang choi siwon salah mengartikan arti ‘diam’ miliknya. Ia tak menyadari tatapan terluka donghae melihat kejadian itu. Sedangkan orang-orang mulai riuh bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada pasangan itu.

Donghae hanya dapat tersenyum pahit.  Matanya mulai berembun. Rasanya cukup sakit mengingat sidang perceraian mereka setahun silam yg jatuh tepat pada hari ini. dan kini ia harus melihat orang yg dikasihinya dilamar lelaki lain tepat dihadapannya. ‘Tuhan,, mengapa semua kado yg kau berikan terlalu menyakitkan untukku. Apa aku memang tak pantas hadir di dunia mu ini’ hatinya mendesis pedih.

Sebuah sentuhan lembut dilengannya membuat donghae menoleh. Tes, setetes cairan bening turun melalui pipinya yg terlihat tirus. Ia langsung menghapusnya saat melihat orang yg menyentuhnya. “eoh yuri” bahkan suaranya pun terdengar menyedihkan. Yuri hanya mengangguk sambil terus mengelus lengan donghae. Berusaha menenangkan lelaki itu. Ia tau bagaimana perasaan donghae sekarang. Tes.. tes.. air mata itu terus turun dari mata indah donghae. Sorot kepediham pada obsidian coklat itu cukup membuktikan betapa terlukanya hati lelaki tampan itu. “ah, maaf” ucapnya kalang kabut menghapus aliran di pipinya. “kenapa aku jadi cengeng begini” lanjutnya serak.

Yuri berusaha menahan tangisnya sekarang. Oh betapa menyedihkannya wajah orang yg begitu dihormati dikantornya ini. “ayo pulang oppa” ajaknya lembut. Donghae hanya mengangguk. Mereka mulai mélangkah keluar dari tempat menyesakkan itu.

“Donghae-ssi” panggilan itu sontak menghentikan langkah mereka. Donghae membalikkan tubuhnya. Wajah ‘dingin’ itu kembali saat melihat siapa yg memanggilnya. Tampak siwon sedang memegang erat tangan seorang wanita – yoonanya.

Yoona hanya menunduk saat donghae beralih menatapnya. “ada apa?” nada suara itu. Nada suara yg tak pernah didengarnya. Dingin dan datar. Ia mendongakkan kepalanya melihat donghae yg sudah beralih menatap siwon dingin. Astaga.. ia sangat merindukan wajah itu. Tapi apa itu? Ia melihat sekilas bekas air mata dipipi pria yg dicintainya itu. Ia melihat yuri dengan tatapan bertanya. Yuri hanya memandangnya dengan tatapan kecewa. Omo,, ia tahu. Bodohnya ia tak menyadari kehadiran donghae sejak tadi. Ia terus mengutuki dirinya sendiri.

“maaf baru menyapamu donghae-ssi. Apa kau menikmati pestanya?” Tanya siwon berbasa-basi. Donghae kembali  melihat kearah yoona. Kali ini yoona balas menatapnya. Mereka terdiam. Tatapan donghae beralih ke tautan tangan yoona dan siwon. Tatapan terluka tampak jelas di sorot matanya. Yoona menyadarinya. Dengan cepat dilepasnya genggaman siwon ditangannya. Siwon tersentak kaget.

“terima kasih atas jamuannya siwon-ssi. Tapi kami harus pulang.” Donghae berkata datar sembari menarik tangan yuri. Yuri membungkuk sekilas pada siwon kemudian mengikuti langkah cepat donghae. Yoona mematung di tempatnya sedangkan siwon hanya tersenyum kaku.

My pride, my ego, my needs, and my selfish way
Cause the girl strong woman like you walk out my life
Now I’ll never, never get to clean up the mess I made
And it haunts me everytime I close my eyes…

Buuugghhhhhs… Crasshhh… serpihan kaca berserakan diruangan yg gelap itu, hanya ada sinar rambulan dari jendela yg tirainya terbuka. Tak ada suara apa pun disana, seperti rumah kosong. Hening, hingga.. “AAARRRGGGGHHHHHH” teriakan memilukan terdengar dari sosok yg bersandarkan dinding tak jauh dari cermin naas itu. Tes.. Tess.. tetesan darah segar mengalir dari punggung tangan kanannya. Ia menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya yg ditekuk. Tak di perdulikannya bajunya yg sudah kotor terkena darah. Ia diam. “Hikss… Hiksss…” isakan lirih mulai terdengar memecah kesunyian malam. Lama kelamaan isakan  itu berubah menjadi tangisan yg memilukan. Ayolah,, Lee Donghae. Bukankah kau sudah terlalu banyak menangis hari ini? tampaknya hal itu tak lagi dipedulikan oleh sosok itu – Donghae. Ya, setelah mengantar yuri pulang, disinilah ia berada. Di kamar yg penuh kenangan miliknya dan yoona. Tak ada tanda-tanda ia akan menghentikan tangisnya. Seperti gunung berapi yg tak henti mengeluarkan larvanya. Seperti itu pula ia menangisi takdirnya. Ia terlihat amat menyedihkan sekarang. Kemana sosok tegar yg selama ini melekat pada dirinya?

“aku pulang” Yoona melangkah lesu memasuki kamarnya dan yuri. Syukurlah ayah mereka sedang di China saat ini. kalau tidak mungkin ia sudah pusing memikirkan pertanyaan-pertanyaan yg akan di lontarkan ayahnya. Diliriknya sang kakak yg sudah terlelap membelakanginya di tempat tidur.  Tanpa mengganti pakaian, ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur yg sama. Ia teringat raut wajah donghae tadi. Belum lagi kondisi yg terlihat lebih kurus. “donghae oppa” lirihnya. Ia menangis dalam diam. Digigitnya bibir bawahnya agar tak terisak.

Yuri membuka matanya. Ia belum tertidur sejak tadi. Ia juga mendengar lirihan sang adik. ‘segeralah sadar yoong’ doanya dalam hati.

Yuri tampak gelisah di mejanya. Ia berulang kali mengecek I-phone miliknya. Baru saja ia menghubungi hyukjae bahwa donghae belum datang padahal sudah hampir jam makan siang. Ini terasa ganjil mengingat betapa rajinnya donghae datang ke kantor selama ini. ‘apa ia baik-baik saja’ gumamnya pelan. Tiba-tiba hpnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. ‘hyukjae oppa’ nama itu terpampang di layar membuat yuri segera mengangkatnya. “eoh oppa, bagaimana? Kau sudah bertemu hae oppa?” tanyanya bertubi-tubi. “tenanglah yuri-ah, dia ada dirumahnya. Hanya saja..” suara hyukjae terdengar serak.

“donghae oppa kenapa?”potong yuri tak sabar.

“dia .. terlihat agak mengenaskan..” suara yg lebih menyerupai bisikan itu sukses membuat yuri membelalakkan matanya. Dimatikannya panggilan suara itu kemudian bergegas pergi ke rumah donghae.

“Astagaaaaa….” Pekik yuri begitu sampai di kamar donghae. Hyukjae hanya menatapnya sendu. “hae oppa kenapa oppa?” bisiknya lirih. Ia mendekati ranjang donghae. Tampak seorang lelaki berwajah pucat dengan tangan yg diperban tertidur pulas diatasnya. Yuri menutup mulutnya tak percaya. “ba..ba..bagaimana bisa?” gumamnya. Ia terduduk di pinggir ranjang itu.

“aku juga tak tau, ketika aku sampai pintu rumahnya dalam keadaan tak terkunci. Aku langsung menuju kamarnya dan melihatnya terduduk disana dengan serpihan kaca dimana-mana.” Hyukjae berkata pelan. “kurasa ia memukul cermin itu menggunakan tangannya.” Ditunjuknya cermin yg tampak berantakan. Yuri mengikuti arah tangannya.

“kenapa tak dibawa kerumah sakit oppa?” Tanya yuri pelan.

“kau tau ia membenci rumah sakit kan” ujar hyukjae sarkatis. Yuri hanya mengangguk. “tenang saja, aku sudah mengobati lukanya. Ia hanya butuh istirahat” Ia memberi jeda sebentar “tapi kurasa hatinya takkan terobati” ia menatap sendu pada wajah pucat sahabatnya yg tampak seperti mayat hidup sekarang. Ya,, ia tau apa penyebab sahabatnya frustasi seperti ini. berita pernikahan orang yg dicintai sahabatnya sudah tersebar luas. Dan itu akan terjadi seminggu lagi. Haahh GILA…

“Eunggghhh” sebuah lenguhan terdengar dari sosok pria yg terkenal dengan gummy smilenya itu. Hyukjae menggeliat pelan dalam tidur tak nyamannya. Bagaimana tidak, ia tidur dalam posisi duduk di kursi dengan kepala yg diletakkan di ranjang di hadapannya. ia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Mencoba beradaptasi dengan cahaya yg menembus retina matanya. Perlahan kelopak mata itu terbuka, menampilkan mata indah miliknya. Ditatapnya sosok yg tertidur di ranjang yg ada dihadapannya. Miris. Itu yg dirasakannya saat melihat sosok yg enggan membuka matanya – Donghae. Kondisi sahabatnya semakin terlihat mengenaskan – menurutnya. Hanya dua hari, namun sukses membuat tubuh yg biasanya tampak kuat itu kini tampak seperti tak bernyawa. Hanya hembusan nafas yg teratur dan bunyi detak jantung dari monitor pendeteksi yg terletak tak jauh darinya yg membuktikan bahwa sosok lemah itu masih hidup.

3 thoughts on “[ONESHOT] When I Was Your Man

  1. Haaaaah…….miris banget bacanya YoonHae masih sama2 cinta, mereka sama2 terluka Yoong berharap haeppa yang menghampiri dia lebih dulu dan minta dia kembali begitu juga haeppa karena setahu haeppa yoong sudah bersama siwon……siwon kurang peka menanggapi sikap Yoong ama dia…..itu yg terakhir yg hyukjae lagi nungguin haeppa berarti haeppa koma ya????? Sequel thorrrrrr gantung thor end nya…….

We wait for your comment^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s