Baby’s Feeling [YeYul]

YY1 (2)

 

Author : Dian Senja

Genre : Family

Cast    : Yesung SJ, Yuri SNSD

 

Happy birthday Yuri eonni^^ sukses dan sehat selalu.

mumpung lagi ultahnya Yuri eonni, aku posting epep yeyul 2 sekaligus.hihi.

maaf untuk typo dan alur yang berantakan dan foto covernya yang aneh..haha jangan lupa komennya dan no bash :)

selamat menikmati

Baca lebih lanjut

DJ Yul [YeYul]

3ee909554bb03561b0351de  B2p5ywGCQAEcS2g

Cr pics :  Rb110620

YOONYUL.COM

Author : Dian Senja

Genre : Romance

Cast    : Yesung SJ, Yuri SNSD

 

Happy birthday Yuri eonni^^ sukses dan sehat selalu.

ini sebenernya Yuri menjadi DJ waktu bulan November tapi karena aku iseng jadi ya aku sambung-sambungin aja hehehe dan kata-kata selama siaran itu, aku sotoy banget ya cz  aku bukan DJ radio sih :D

ini idenya murni dari pemikiranku, cuma pinjem nama, fotonya aja. maaf untuk typo, alur berantakan plus ga nyambung. :P. aku masih belajar jadi mohon sarannya di kotak komen ya? makasih *bow*

okke selamat menikmati cerita gaje ini.

btw aku juga ngepost epep ini di blog pribadi aku formyjadeandpearl.wordpress.com ^^

Baca lebih lanjut

My Yuri [ YeYul]

yuri smile

Author : Dian Senja

Credit Pic : as tagged

Genre   : Family, Romance

Length  : Drabble/Shortstory

Cast       : Yesung (SJ)

Yuri (SNSD)

hi, selamat membaca cerita super pendek yang geje ini ya :D

Mereka sudah ada yang memilik dan aku hanya pinjam nama sebagai castnya^^. ini murni hasil pikiran aku, klo ada yang sama berarti jodoh :P

no bash, no plagiat, its just fanfiction, sorry for typo and don’t forget give your comment. ok?

Selamat menikmati….
Baca lebih lanjut

Houses of God chapter 5

req-houses-of-god

 

Judul : Houses of God

Author : Choi Yoo Rin

Cast : temukan sendiri

Genre : romance, friendship, family, sad.

Type : chapter

 

Happy reading J jangan lupa komen ya

oya, ff ini juga aku posting di Starmuseum SMFamily

 

*****

 

 

Changmin dan ibunya, Ny. Jaeshin telah sampai di depan sebuah rumah. Rumah yang alamatnya di beri oleh ahjussi yang kemarin Changmin temui di tempat ia mencari panti asuhan yang dulu. Tempat baru panti asuhan ini memang sudah masuk kawasan kota Seoul namun masih berada di pinggiran kota Seoul. Saat baru turun dari mobil, kedua orang itu Changmin dan ibunya telah disuguhkan pemandangan menarik. Beberapa anak terlihat tengah bermain-main di halaman rumah tersebut. Ada juga yang hanya duduk-duduk di teras. Sebuah papan nama yang tidak terlalu besar terpasang di dekat kawat pembatas rumah itu. papan nama dengan tulisan “Panti Asuhan”. Changmin menoleh ke ibunya.

“Changminie, lihatlah. Betapa polosnya wajah anak-anak itu.” Ny. Jaeshin terus tersenyum melihat anak-anak panti yang bermain.

“Ne.. tapi akan lebih baik jika kita masuk terlebih dahulu eomma. Tujuan kita kesini bukan untuk mengamati anak-anak itu bermain.” Ny. Jaeshin menatap sebal ke arah anak semata wayangnya itu. Changmin terkekeh melihat tampang ibunya. Baru kali ini ia berhasil mengerjai ibunya hingga menampilkan wajah seperti itu.

“Haha, sudahlah eomma. Kajja kita masuk.” Mereka lantas masuk ke rumah itu.

“Permisi..” Changmin mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar itu, ya terbuka karena ada anak-anak yang tengah bermain di luar. Seorang yeoja yang usianya sebaya dengan Ny. Jaeshin keluar dari dalam rumah menghampiri mereka berdua.

“Ne, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu ramah.

“Kami ingin bertemu dengan Choi Min Ah.” Wanita itu terdiam sejenak, memandang seksama Changmin dan ibunya bergantian.

“Ah kajja silahkan masuk.” Changmin dan Ny. Jaeshin menurut dan mengikuti wanita tadi untuk duduk di kursi yang berada di ruang tamu panti itu.

“Tunggulah sebentar, saya akan buatkan minuman.” Ny. Jaeshin tersenyum mengangguk. Mata wanita paruh baya itu lantas menatap sekelilingnya saat ini. Foto-foto terpajang di lemari-lemari kecil yang ada disana. Juga ada beberapa yang tergantung di dinding. Ny. Jaeshin berdiri. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah foto yang ada di atas lemari setengah badannya. Sebuah foto yang menampilkan dua anak, yeoja dan namja dan di tengahnya seorang wanita paruh baya. Namun bukan wanita tadi yang menyambut kedatangannya. Ibu jarinya mengusap foto itu. Ternyata anak kecil namja yang ada di foto itu adalah keponakannya, Kyuhyun. Wanita paruh baya tadi datang membawa nampan berisi dua cangkir teh. Jaeshin meletakkan foto tadi ke tempat semula lantas kembali duduk.

“Silahkan diminum.”

“Ne, kamsahamnida.” Ucap Changmin. Ia lantas meminum teh itu. berbeda dengan ibunya yang masih diam.

“Oh ya, yang kalian maksud Choi Min Ah dia adalah ibuku. Sebentar lagi akan kemari. Masih di belakang. Mohon ditunggu.”

“Ne..” tak lama seorang wanita tua namun masih terlihat cantik menghampiri mereka. Wanita itu duduk di sebelah wanita tadi -yang tak lain adalah anaknya-.

“Saya permisi dulu.” Wanita tadi pamit ke belakang setelah ibunya datang.

“Mianhae membuat anda sekalian menunggu. Saya Choi Min Ah. Ada yang bisa saya bantu?”

“Sebelumnya perkenalkan, saya Shim Changmin dan ini ibu saya Shim Jaeshin.” Ny. Jaeshin tersenyum menatap wanita itu. begitupun wanita itu balas tersenyum padanya.

“Ada yang ingin saya tanyakan pada anda.. ini mengenai saudara saya. 17 tahun yang lalu apakah anda masih ingat seorang kakek mengadopsi anak namja di panti asuhan ini? Ah, mian. Maksud saya sebelum panti asuhan ini pindah kesini.”

“Apakah maksud anda saat panti masih di Busan?” Changmin mengangguk. Wanita itu menatap Changmin dan ibunya bergantian lantas memulai menjawab.

 

 

*****

 

Tuan Lee menatap geram cucunya. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun. Setelah mengatakan akan menceraikan Sooyoung semalam, cucunya itu memilih untuk tidur di kamar tamu. Kyuhyun yang pagi ini akan ke kantor memilih sarapan diluar karena malas mendengar ocehan kakeknya itu. ia sangat tau betul pasti Sooyoung telah mengadu pada kakeknya.

“Kyuhyun..” panggilan kakeknya sempat membuat namja tampan itu berhenti, tanpa berbalik. Namun tak lama ia kembali melangkah keluar menuju mobilnya.

“Kyuhyun!!” nada panggilan kakeknya semakin meninggi namun tak membuat Kyuhyun menghentikan aktivitasnya. Namja itu membuka mobil hyundai putihnya.

“Lee Kyuhyun!!!” kembali kakeknya berteriak penuh penekanan dan ketegasan memanggilnya. Bukan Kyuhyun jika berhenti dan dengan senang hati menerima omelan kakeknya itu. Namja itu melajukan mobilnya menuju kantor.

Terdengar helaan nafas berat dari pria tua itu. wajahnya kini terlihat sendu.

“Memang pantas cucuku bersikap seperti itu padaku. Aku berhak menerima hukuman darinya karena perbuatanku dulu.” Gumamnya.

“Haraboeji..” panggil seorang gadis yang Tn. Lee sudah hafal siapa gadis itu.

Pria tua itu berbalik, tersenyum hangat menatap cucu menantunya.

“Haraboeji, mianhaeyo.. ini semua karena aku yang tak bisa menjadi istri yang baik untuk Kyuhyun oppa.” Tn. Lee mendekat ke arah cucu menantunya, merangkul pundak yeoja itu.

“Aniya, ini bukan salahmu. Sudahlah jangan berpikir yang macam-macam. Haraboeji janji, nanti malam Kyuhyun akan tidur di kamar kalian lagi.”

“Haraboeji..” Sooyoung memeluk namja tua di sampingnya. Rasa sayangnya untuk kakek Lee memang tulus adanya. Begitupun untuk suaminya, Kyuhyun. Meskipun ia tau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan namun ia kukuh mempertahankan rumah tangganya karena sampai saat ini pun Kyuhyun tak pernah menunjukkan jika namja itu mencintai yeoja lain.

“Aku akan membuatkan makan siang untuk Kyuhyun oppa nanti haraboeji. Aku tak akan menyerah.”

“Begitu seharusnya Sooyoungie.. haraboeji akan selalu mendukungmu. Fighting!!”

 

 

*****

 

Seohyun mengerjap-ngerjapkan matanya saat memasuki gedung tempatnya bekerja. Sepi. Itu yang ia lihat. Ia tak salah hari kan?? Gadis itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 7 pagi. Apa masih terlalu pagi untuk datang ke kantor?

“Tak apa. Aku bisa membereskan ruangan-ruangan karyawan lebih nyaman jika belum ada yang datang.” Gumamnya. Gadis itu menuju lokernya di dekat pantry. Setelah mengganti bajunya dengan seragam ob, yeoja itu menuju tangga untuk ke lantai dua berniat membersihkan ruangan pimpinan kantor ini lebih dulu.

Karena masih sepi, dan ia pikir sang direktur belum datang, Seohyun langsung membuka pintu ruangan yang cukup luas dan mewah itu. Seohyun terdiam. Berdiri mematung menatap seseorang yang tertidur di sofa ruangan itu. wajah itu menyiratkan kelelahan. Seohyun berniat akan membangunkan namja itu. Namun ia ragu. Ia merasa kasihan jika harus mengganggu tidur dari pemimpin perusahaan tempatnya bekerja ini. Seohyun mengurungkan niatnya. Gadis itu hanya membereskan meja kerja sang bos, dan membuatkan secangkir kopi. Setelah meletakkan kopi di meja kerja atasannya, Seohyun berniat meninggalkan ruangan itu.

“Tunggu!!” Seohyun membelalakkan matanya kaget.

“M..mianhae sajangnim. Saya hanya ingin-“

“Gwaenchana.” Namja itu yang tak lain adalah Cho Kyuhyun bangun dari tidurnya lantas berdiri, berjalan menuju kursi kebanggaannya sebagai pemimpin perusahaan ini.

“Apa tidak terlalu pagi kau datang ke kantor?”

“Nde?”

“O iya kau kan ob. Harus datang lebih pagi.” Seohyun merengut sebal dengan ucapan bosnya barusan. Memang dia hanya ob. Tapi kenapa nada bicara bosnya itu seakan mengejek. Huh. Memang semua orang kaya itu sombong. Kembali pemikiran seperti itu datang.

“Kau sudah makan?” Seohyun mengerjap, ia bingung. Heran, dengan sikap bosnya yang mudah berubah-ubah itu. Labil.

“Tolong belikan makan untukku. Ini uangnya. Dua porsi ya.”

“Ne sajangnim.” Seohyun lantas melaksanakan perintah namja itu.

Seohyun menuju restoran depan kantor. Karena bosnya tidak menyebut makanan apa, gadis itu sedikit bingung harus membelikan apa untuk atasannya itu.

“Permisi, agassi… ee.. biasanya makanan yang biasa dimakan oleh bos-bos itu makanan apa ya?” tanya Seohyun pada pelayan restoran itu. sang pelayan tampak berpikir sejenak. Pertanyaan Seohyun memang aneh. Memangnya makanan bos dengan orang biasa itu berbeda ya?

“Ah, agassi bisa memberikan makanan yang pantas lah untuk dimakan seorang pemimpin perusahaan.” Ucap Seohyun karena sang pelayan restoran tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Ne baiklah.” Seohyun duduk di restoran yang masih sepi itu sembari menunggu pelayan tadi membawakan pesanannya.

“Nona ini pesanan anda.”

“Ah ne. Ini uangnya. Kamsahamnida.” Seohyun membungkuk sejenak lantas menyeberang untuk kembali ke kantor. Gadis itu menatap dua bungkus makanan yang ia beli barusan. Entah apa isi bungkusan itu. yang penting adalah makanan untuk bosnya yang labil.

“Sajangnim, bukanlah evil oppaku. Ya, dia bukan orang yang ku tunggu.” Gumamnya saat menaiki tangga menuju ruangan Kyuhyun. Seohyun menghembuskan nafas perlahan sebelum mengetuk pintu ruangan bosnya itu. tiba-tiba perasaannya menjadi tak menentu. Tok tok tok.

“Masuklah.” Seohyun mengumpulkan segala keberanian yang ia miliki sebelum memutar knop pintu. Entahlah, saat ini ia begitu takut jika bertemu atasannya. Bukan takut apa-apa, tapi takut jika pemikiran-pemikiran itu kembali datang. Sebisa mungkin yeoja itu terus menepis bahwa Lee Kyuhyun bukanlah orang yang 17 tahun ia tunggu.

Ceklek. Seohyun membuka perlahan pintu itu. Tampaklah Kyuhyun yang kini sudah sibuk dengan kertas-kertas di meja kerjanya.

“Sajangnim, ini makanan yang anda pesan.”

“Ne, letakkan saja di meja itu.” jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu.

“Kau boleh keluar.”

“Ne sajangnim. Permisi.” Seohyun membungkuk sejenak. Yeoja itu mengelus dadanya setelah keluar dari ruangan Kyuhyun. Ia lega karena tak bertatapan langsung dengan Kyuhyun.

“Seohyun-ah..” panggil seseorang.

“Taeyeon eonni..” ucapnya setelah melihat Taeyeon baru saja meletakkan tasnya di atas meja kerjanya yang berada di depan ruangan Kyuhyun.

“Sudah lama kau datang?”

“Ne eonni. Eonni mau ku bawakan sesuatu?” tawar Seohyun.

“Aniya… nanti saja.”

“Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu eonni.”

“Ne, fighting Seohyun.” Seohyun tersenyum melihat yeoja mungil itu menyemangatinya. Kembali ia bersyukur pada Tuhan telah memberinya teman seperti Taeyeon.

 

 

 

*****

 

 

 

Jaeshin memandang kolam renang yang ada di depan gazebo –tempat favoritnya- dengan tatapan kosong. Wanita paruh baya itu tengah memikirkan ucapan-ucapan sahabat dari Yoon Mi, kakak iparnya. Ucapan saat ia berkunjung ke rumah wanita itu. Hana.

Flashback On

“Hana-ssi, ku mohon jangan membuatku semakin bingung. Jebal…katakanlah siapa nama anak dari Yoon Mi eonni dan Jaebum oppa?” wanita itu, Hana menghembuskan nafas pelan sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Nama putri dari Jaebum dan Yoon Mi sebenarnya adalah Kim Joohyun.” Hana tersenyum mengejek dengan ucapannya sendiri barusan. Kim? Haruskah ia juga mengingkari marga sebenarnya putri sahabatnya itu?!

“Joohyun. Jadi namanya Joohyun.” Ulang Jaeshin.

“Yoon Mi memang awalnya menolak untuk pergi meninggalkan Seoul. Namun akhirnya ia sudah benar-benar tak tahan dengan gertakan-gertakan dari ayah anda agar segera pergi sejauh mungkin. Dan disaat usia putrinya menginjak empat tahun, Yoon Mi meninggalkan Seoul dengan membawa Joohyun. Ia pergi ke Busan. Yoon Mi juga menolak menerima uang pemberian dari Tuan Lee karena ia telah bersedia meninggalkan kota ini.” Jaeshin masih menunggu wanita di hadapannya itu melanjutkan bicara. Jaeshin tidak ingin mengulur penjelasannya. Ia ingin cepat menemukan keponakan yang sebenarnya.

“Beberapa hari setelahnya, aku mendapat berita bahwa Yoon Mi meninggal karena tertabrak mobil.”

“Mwo? Lantas bagaimana dengan putrinya?” kali ini Jaeshin sudah tidak sanggup untuk tidak menyela. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib keponakannya itu setelah kakak iparnya pergi untuk selama-lamanya.

“Joohyun tinggal di sebuah panti asuhan di Busan. Sebelum pergi, Yoon Mi menitipkan putrinya di sana.”

“Jadi semua ini karena kesalah pahaman. Andaikan Yoon Mi eonni tidak berbohong pada aboeji, mungkin saat ini Joohyun sudah berada di tengah-tengah keluarga kami.”

“Maafkan aku juga. Andai waktu itu aku bisa memaksa Joohyun untuk mau ikut bersamaku, mungkin saat ini Joohyun hidupnya tak terlunta-lunta.”

“Maksudmu, kau sempat menemui Joohyun di Busan?”

“Ne, setelah menghadiri pemakaman Yoon Mi aku menemui Joohyun di panti asuhan itu. dia, menjadi sangat pendiam. Tidak mau bicara dengan siapapun. Apalagi ikut denganku. Saat itu benar-benar saat-saat tersulitnya yang masih dapat aku saksikan.” Hana menunduk. Wanita itu mengusap air mata di sudut matanya.

“Mianhae, karena ayahku kalian menjadi menderita. Terlebih Yoon Mi eonni serta Joohyun.”

“Aniya.. tidak ada yang salah. Semuanya sudah menjadi takdir yang harus dijalani. Kini aku hanya berharap, Joohyun baik-baik saja dimanapun ia berada.”

“Kau tenang saja. Aku saat ini tengah berusaha untuk menemukannya. Aku janji akan segera menemukan putri Jaebum oppa dan Yoon Mi eonni.”

Flashback Off

 

“Bagaimana aku bisa menemukan Joohyun, oppa?? bantu aku Jaebum oppa..” gumam Jaeshin.. ia bingung harus kemana lagi mencari putri kakaknya itu. setelah bersama-sama Changmin mengunjungi panti asuhan yang telah pindah di pinggiran Seoul kemarin, kembali kenyataan pahit mendatanginya. Menurut ibu panti dulu yang merawat Joohyun, Yoon Mi tidak pernah memberitahukan nama yang sebenarnya putrinya itu. Yoon Mi hanya pernah memanggil putrinya dengan panggilan Joo sehingga orang-orang panti memanggilnya demikian. Saat usia Joohyun menginjak 7 tahun, gadis kecil itu telah diadopsi oleh sepasang suami istri bermarga Seo. Mereka meninggalkan alamat yang ada di Mokpo.

Jaeshin mengusap air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya. Mokpo. Masih ada satu alamat yang harus ia datangi. Mungkin saja, keluarga yang mengadopsi Joohyun masih tinggal disana. Semoga saja.

 

 

*****

 

 

Sooyoung keluar dari taksi yang ia tumpangi untuk ke kantor tempat suaminya bekerja. Gadis bertubuh tinggi itu memang sengaja naik taksi agar nanti Kyuhyun mau mengantarnya pulang. Sooyoung tak henti-hentinya tersenyum menatap bekal yang ia bawa untuk suaminya, Kyuhyun. Ia berharap setelah ini akan kembali berbaikan dengan Kyuhyun.

“Sooyoung-ah.” Sooyoung menolehkan kepalanya menatap orang yang telah memanggilnya.

“Changmin oppa..” Sooyoung tersenyum hangat setelah melihat siapa yang telah memanggilnya.

“Bekal untuk Kyuhyun lagi? Hah, betapa beruntungnya namja satu itu memiliki istri sepertimu..” gurau Changmin. Namun sebenarnya namja itu -Changmin- mengatakan yang sebenarnya. Tak ada yang tau bahwa sebenarnya ia sudah lama menyimpan perasaan pada istri sepupunya ini.

“Oppa, bisa saja. Ngomong-ngomong kapan oppa akan menginap di rumah aboeji lagi?”

“Kau merindukanku ya?? Haha, molla Sooyoung-ah.. eomma masih ingin aku tinggal di rumah.”

“Emmmhh begitu ya.. gwaenchana.. oppa temani saja ahjumma.. kurasa ahjumma kesepian karena sering oppa tinggal.”

“Kau benar. Apa lebih baik aku menyuruhnya untuk sering mengunjungimu saja ya? Sesama wanita akan lebih baik bukan?!”

“Ide yang bagus oppa.. aku juga kadang merasa kesepian.”

“Oke, aku akan mengusulkannya pada eomma.. kau akan langsung ke ruangan Kyuhyun kan?”

“Ne, aku keruangannya dulu oppa.”

“Ya sudah. Kalau Kyuhyun tak mau memakannya, aku siap menerima.”

“Isshh oppa..” Sooyoung memukul pelan lengan Changmin. Sudah sering namja itu mengatakan hal-hal seperti itu padanya, namun Sooyoung selalu menganggapnya hanya gurauan belaka. Namun tanpa ia tau, sejujurnya Changmin memang tulus mengatakan semua itu. dan memang benar seperti itu nyatanya.

Changmin masih memandangi punggung Sooyoung yang mulai menjauh. Namja itu kasihan terhadap yeoja yang sudah lama ia sayang itu. Changmin tau bagaimana selama ini Kyuhyun memperlakukan Sooyoung.

“Andai aku yang di jodohkan denganmu Sooyoung-ah.. akan ku pastikan kau selalu bahagia bersamaku.” Gumamnya.

 

 

*****

 

 

Seohyun menarik nafas panjang sebelum memasuki ruangan yang sebenarnya sangat dihindarinya. Tapi bagaimanapun juga ini adalah kantornya, jadi mau tidak mau juga Seohyun harus rela untuk berinteraksi dengan bosnya itu. Kebetulan Taeyeon, sekretaris Kyuhyun sedang tidak ada di mejanya jadi Seohyun tidak bisa meminta bantuan yeoja mungil itu untuk memberikan minuman pesanan Kyuhyun padanya. Seohyun mengetuk pelan pintu yang ada di hadapannya saat ini.

“Masuk.” Suara bass itu terdengar oleh Seohyun. Dengan berhati-hati menjaga nampan berisi minuman, Seohyun memutar knop pintu itu. Ceklek.

Seohyun berjalan mendekat ke arah meja bosanya yang tak lain adalah Kyuhyun. Dengan masih menunduk.

“Ini cappucino pesanan anda, Tuan.” Kyuhyun tak juga menjawab. Seohyun bingung harus tetap meletakkan pesanan itu di meja sang bos atau membawanya keluar kembali. Mungkin bosnya yang labil ini sudah tidak berminat untuk meminum cappucino yang telah dibawanya.

“Tu-tuan…” seru Seohyun.

“Letakkan saja di situ.” Kyuhyun mengarahkan dagunya ke mejanya. Dengan hati-hati, Seohyun meletakkan cappucino pesanan bosnya itu di mejanya.

“Saya permisi tuan.” Seohyun membungkuk sebelum berbalik akan meninggalkan ruangan itu. Yeoja itu benar-benar ingin segera menghindar dari namja ini. Entahlah, jika bersama Kyuhyun dirinya merasa ada yang aneh. Detak di jantungnya menjadi tak karuan dan itu yang membuat Seohyun takut.

Seohyun tergelak kaget saat sebuah tangan menarik pergelangan tangannya sehingga membuat dirinya berbalik dan menatap orang yang telah menariknya itu.

“Nuguya?” Seohyun mengeryit mendengar pertanyaan bosnya yang kini tengah menggenggam pergelangan tangan kanannya. “Nuguya?” kembali dengan pertanyaan yang sama, Kyuhyun lontarkan.

“Ma-maksud tuan si-siapa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Seohyun, Kyuhyun dengan beraninya mengangkat tangannya yang masih terbebas untuk membelai pipi kiri yeoja itu. Dengan pelan di usapnya pipi chubby itu.

“Tu-tuan..” Seohyun membelalakkan kedua matanya kaget dengan kelakuan bos nya ini. Dia tidak mau dianggap murahan karena menggoda bosnya yang jelas-jelas telah memiliki seorang istri.

Ceklek. Brraakkk..

Baik Seohyun maupun Kyuhyun sama-sama kaget dengan suara gebrakan pintu. Kedua mata Seohyun semakin melebar melihat siapa yang telah masuk dan menggebrak pintu ruangan bosnya itu. Seohyun menatap Kyuhyun yang masih belum melepas genggamannya pada tangannya. Akhirnya Seohyun yang memilih untuk menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun.

“Soo-Sooyoung sajangnim, ini-ini.. tidak seperti-” Seohyun tidak melanjutkan kalimatnya. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat saat Sooyoung menghampirinya dan akan menamparnya. Namun beberapa detik berlalu, Seohyun tidak merasakan apapun di pipinya. Dia mencoba membuka kembali kedua matanya.

Pemandangan yang kini di lihatnya adalah bosnya yang memandang datar sang istri dengan tangan kanan bosnya itu yang menahan tangan istrinya yang hendak menampar Seohyun. Seohyun dapat melihat kemarahan Sooyoung yang begitu kuat, kilatan kemarahan begitu terlihat dimata Sooyoung yang kini menatap Kyuhyun.

“Aku tidak suka memiliki istri yang ringan tangan sepertimu.” Ucap Kyuhyun. Sooyoung menarik tangannya dari Kyuhyun.

“Bagaimana aku tidak marah saat melihat suamiku sendiri tengah bermesraan dengan gadis lain.” Sooyoung ganti menatap Seohyun.

“Tapi ini tidak seperti yang anda lihat sajangnim. Tadi-, tadi itu-“

“Diam kau!! Ku peringatkan kau ya. Kau itu hanya office girl. Kau tidak pantas sekalipun bersaing denganku. Dan jangan coba-coba kau berani menggoda Kyuhyun agar berpaling dariku.”

“Sooyoung-ah!!” tegur Kyuhyun.

“Kau harus tau diri. Tau posisimu. Apa kata dunia jika seorang Lee Kyuhyun dikabarkan berselingkuh dengan office girl.” Sooyoung menekan kata selingkuh. Seohyun mulai berkaca-kaca. Kalimat-kalimat Sooyung barusan sangat menyakitinya.

“SOOYOUNG DIAM!!” Bentak Kyuhyun.

“Kau keluarlah!” Seohyun menuruti perintah Kyuhyun barusan. Dia memang lebih ingin pergi sekarang. Dia tidak ingin ketahuan jika telah menangis.

 

 

 

 

 

TBC

 

 

[ONESHOT] When I Was Your Man

Title : When I Was Your Man
Author : Ndayoongie
Cast : Lee Donghae
Im Yoona
Support  cast : Choi Siwon
Lee Hyukjae
Kwon yuri as Im Yuri
Kim Hyoyeon
Genre : Hurt, Romance
Length : One Shoot
Rate : T
Disclaimer : I only have the story. All cast belongs to them self. I only borrow their name.

image

Baca lebih lanjut

Blue Eyes

cover yeyul

Author n Cover : Dian Senja

Genre   : Fantasy, Romance

Length  : Oneshoot

Cast       : Yesung (SJ)

Yuri (SNSD) dll.

hallooooo, ketemu lagi di ff abal-abal aku.. kali ini makin geje jalan ceritanya..hehe

aku ga bisa bikin cover yang bagus jadi seadanya aja..hehe *maksa.com aku dah pernah post ff ini di WP pribadi aku jadi jangan kaget ya klo ada yang pernah baca.. *GR bgt aku* Oya, tolong jangan di bash castnya ini hanya FF jadi aku hanya pinjam namanya aja.. aku yakin kok readers semuanya bijak. :D

no bash, no plagiat, its just fanfiction, sorry for typo and don’t forget give your comment. ok?

Baca lebih lanjut

Houses of God chap 4

req-houses-of-god

poster by : ZhyaART @YooRa Art Design

 

Chapter 4

Judul : Houses of God

Author : Choi Yoo Rin

Main Cast : Seo Joohyun / Lee Joohyun, Lee Kyuhyun / Cho Kyuhyun

Other Cast : Shim Changmin, Choi Sooyoung, etc.

Genre : romance, friendship, family, sad.

Type : chapter

Disclaimer : this story IS MINE !!!!! hahahahahah .. dilarang keras MENGCOPAST  ide cerita tanpa ataupun dengan seijin saya. :P

Saya balik lagi membawa ff kelanjutan Houses Of God.. ada yang setia menunggu ff ini?? jeongmal mianhae lama postingnya.. hehe… lagi gak ada ide.. Kekeke… judul ff ini yang bila diartikan adalah Jodoh dari Tuhan, author dapat dari sebuah film.. namun jalan ceritanya 100 % berbeda… oke lah hanya segitu dulu informasinya..

Happy reading J jangan lupa komen ya

 

“Ehem!!” suara seseorang menghentikan aktivitas mereka. Sontak keduanya menoleh ke arah sumber suara. Taeyeon terkesiap kaget, gadis mungil itu lantas berdiri. Begitupun Seohyun.

“Sa-sajangnim.” Ucap Taeyeon.

“Ada yang ingin ku bicarakan padamu Taeyeon-ssi. Hanya sebentar.” Mereka berdua lantas sedikit menjauh. Seohyun masih diam terpaku di tempatnya. Tatapannya masih tertuju pada namja yang baru saja mengajak Taeyeon berbicara. Namja yang di panggil sajangnim oleh teman barunya itu. Wajah namja itu, mengingatkan Seohyun akan seseorang. Wajah yang tidak asing lagi baginya. Seseorang yang amat sangat ia rindukan 17 tahun ini. Namun ia tidak mau berfikir yang macam-macam dulu. Mungkin wajahnya hanya mirip. Toh terakhir ia bertemu dengan namjanya saat usia gadis itu 6 tahun sedangkan sang namja 7 tahun. Seohyun menggelengkan kepalanya pelan. Kalau memang itu ‘evil oppanya’, pasti akan langsung mengenali Seohyun. Seohyun terkesiap dari segala pemikirannya saat dilihatnya Taeyeon berjalan mendekat ke arahnya. Sedangkan namja itu, kembali meninggalkan mereka berdua. Seohyun terus memandangi punggung namja tersebut hingga hilang di balik pintu.

“Hhhhh….” terdengar helaan nafas Taeyeon yang kini sudah duduk di sebelahnya.

“Ada masalah apa?” Tanya Seohyun. Gadis itu ingin sahabat barunya ini sekedar membagi masalah yang dihadapi, mungkin akan bisa sedikit mengurangi bebannya.

“Bukan masalah yang fatal kok. Hanya permintaan bantuan seorang bos kepada sekretarisnya.”

“Bantuan apa? Oya, tadi itu bos kita?” Taeyeon seketika menoleh pada Seohyun, menatap Seohyun heran. Kemudian Taeyeon menepuk jidatnya sendiri.

“Aigoo, aku lupa memberitahumu. Iya, tadi itu atasan kita. Presiden Direktur perusahaan ini. Cucu dari pemilik perusahaan. Namanya Lee Kyuhyun.”

‘Oo jadi namanya Kyuhyun.’ Gumam Seohyun sambil mengangguk.

“Lantas bantuan apa yang diminta oleh namja itu padamu?”

“Berbohong pada istrinya.”

“Mwo???” Seohyun membulatkan matanya tak percaya. Kali ini ia merasa hatinya sakit tertusuk ribuan jarum. Rasanya dadanya sesak. Ia bingung kenapa merasakan seperti itu setelah mendengar bahwa namja tadi telah mempunyai seorang istri. Tanpa Taeyeon sadari Seohyun telah menghapus sudut matanya yang mengeluarkan air mata.

‘Itu bukan dia. Namja itu bukan evil oppaku. Evil oppaku tidak mungkin telah meninggalkanku bersama gadis lain.’ Gumamnya dalam hati.

“Ne, Kyuhyun sajangnim memintaku untuk mengatakan pada istrinya bahwa dirinya ada pertemuan di Daegu dan akan pulang terlambat.”

“Eeee, aku masih sedikit bingung eonni..”

“Setiap hari saat jam istirahat makan siang seperti ini, istri Kyuhyun sajangnim selalu datang ke kantor untuk mengantarkan makan siangnya. Jadi jika nanti istrinya bertanya padaku, aku harus mengatakan seperti yang ku bilang tadi.”

“Kenapa harus berbohong??”

“Mollaseo Seohyun-ah. Ah, sudahlah kajja kita turun. Sepertinya sebentar lagi istri Kyuhyun sajangnim akan tiba di kantor ini. Dan aku harus sudah ada di ruanganku.”

“Baiklah kajja.” Sejujurnya Seohyun masih penasaran, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Namun ia tak mau mengintrogasi Taeyeon lebih dalam karena itu menyangkut pribadi orang lain. Apalagi kehidupan pribadi atasannya.

 

*****

Changmin telah sampai di alamat yang tertera pada kertas yang diberikan ibunya. Namun ia masih diam, berdiri di depan pagar besi setengah badan yang menjadi pembatas sebuah rumah. Rumah sederhana yang terlihat sudah tak berpenghuni lagi.

“Apa benar ini rumahnya?” sekali lagi namja itu mencocokkan nomor rumah yang ada di tembok sebelah pagar dengan nomor rumah yang tertulis pada kertas. Cocok. Itulah kesimpulan yang ia dapat. ia melihat sekelilingnya, mencari seseorang untuk menanyakan sesuatu. Seorang pria paruh baya mendekat ke arahnya dengan membawa sapu lidi.

“Permisi ahjussi, apa benar rumah ini panti asuhan?”

“Ne, benar. Tapi sekarang sudah tidak dijadikan panti asuhan lagi. Anda ada perlu apa?”

“Saya ingin bertemu dengan ibu panti di sini. Bisakah saya menemui beliau?”

“Sayang sekali, panti asuhan disini sudah pindah semenjak 10 tahun yang lalu. Saya disini setiap hari hanya bertugas membersihkan saja.” Changmin terhenyak. Jauh-jauh ia datang ke Busan, ternyata hanya mendapatkan harapan kosong. Kemanakah lagi ia akan mencari saudara sepupunya yang ‘asli’ ?

“Tapi saya bisa memberikan alamat panti asuhan yang baru pada anda.”

“Ne ahjussi. Saya memang sangat memerlukan alamat itu. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan ibu pemilik panti.”

“Baiklah, mari ikut ke rumah saya terlebih dahulu. Letaknya ada di belakang rumah ini.” Changmin mengangguk. Ia mengekor pria paruh baya yang berjalan mendahuluinya. Mereka memasuki gang sempit di sebelah rumah yang dulunya panti asuhan itu. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di depan sebuah rumah sederhana.

“Kajja masuklah dulu.” Changmin mengedarkan pandangannya. Perabotan di rumah itu sangat sederhana.

“Duduklah, akan ku buatkan minum.”

“Tidak perlu repot-repot ahjussi.”

“Tidak apa-apa. Duduklah saja.” Changmin mendudukkan tubuhnya pada sebuah kursi kayu yang usang. Ia menatap foto-foto di dinding ruang tamu itu. Sebuah foto menyita perhatiannya. Foto yang menampakkan sekitar 20 anak kecil yang berjejer.

“Ini, minumlah. Maaf hanya bisa menyajikan sekedarnya.”

“Ah, ne. Gwaenchana ahjussi.”

“Oya, ini aku sudah menuliskan alamat panti asuhan yang baru.” Pria itu menyerahkan secarik kertas. Changmin menerimanya, setelah meminum teh suguhan dari pria itu. Changmin tersenyum menatap pria itu.

“Kamsahamnida ahjussi.”

“Ya, sama-sama. Nama mu siapa anak muda?”

“Saya, Changmin.”

Ahjussi itu mengangguk.

“Ahjussi saya permisi dulu kalau begitu. Sekali lagi terimakasih banyak ahjussi.”

“Ne, ne sama-sama.”

 

*****

Kyuhyun terus memacu mobilnya. Istirahat siang ini ingin ia gunakan untuk menenangkan fikiran. Ia sedang tidak mood untuk bertemu istrinya yang selalu datang saat jam makan siang. Ia sedikit melonggarkan dasi yang ia kenakan. Sebenarnya ia bingung akan ke mana. Namun, tanpa ia sadari ia telah tiba di sebuah pantai. Siang yang begitu terik tak membuatnya tetap berdiam di dalam mobil. Namja yang berusia 24 tahun itu telah berjalan menyusuri pasir pantai. Ia sedikit tersenyum memandangi pantai itu. Laut, adalah pemandangan yang disukai gadis kecilnya. Namun detik berikutnya ia tersenyum miris. Ia amat sangat menyesal seandainya saat itu tidak meninggalkan gadis kecilnya, mungkin mereka tidak akan berpisah.

“Maafkan aku Joo, tidak bisa memenuhi janjiku padamu.” Gumamnya. Kyuhyun terus berjalan, hingga ia tiba di depan sebuah toko pernak-pernik. Gantungan kunci dari kerang, lampu, hiasan kaca, hingga boneka-boneka berbentuk hewan-hewan laut ada disana. Mata Kyuhyun terpaku pada sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru. Boneka yang pernah ia berikan pada gadis kecilnya saat berulang tahun.

“Ahjumma, aku membeli boneka ini.” Ucapnya pada ahjumma penjaga toko.

“Ne tuan. Sini saya bungkus.” Setelah membayar, Kyuhyun kembali ke mobilnya. Jam istirahat telah habis. Meskipun ia masih enggan kembali ke kantor, tapi ia harus tetap profesional. Pekerjaan yang utama baginya.

 

Seohyun POV

Setumpuk kertas yang ku bawa ini benar-benar membuatku kerepotan untuk melihat jalan di depanku. Setelah memfotocopykannya, aku berniat menyerahkan hasilnya pada salah seorang karyawan di sini. Jalanku sedikit limbung. Aisshh jinjja, aku tidak bisa melihat ke depan. Aku terus berjalan dengan sangat hati-hati. Untungnya saat ini lalu lalang karyawan tak terlalu ramai jadi tak terlalu menyusahkanku.

Brruuaakkk

Aku terjatuh, begitu pun kertas-kertas itu jatuh berserakan di lantai.

“Bagaimana sih kau ini? Kalau jalan lihat-lihat dong. Hampir saja aku jatuh terjengkang.” Yeoja yang ku tabrak lebih dulu menyemprotku. Aku segera bangkit berdiri, membungkuk berkali-kali untuk meminta maaf pada yeoja yang tak sengaja ku tabrak.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo. Saya tadi kesusahan untuk melihat karena tumpukan kertas itu terlalu tinggi. Mianhae.”

“Alasan.”

“Aniyo, saya mengatakan yang sejujurnya.”

“Hah, sudahlah. Aku malas meladeni karyawan rendahan sepertimu.” Yeoja bertubuh tinggi itu berlalu meninggalkanku. Ku tundukkan kepalaku. Ya, memang aku hanya karyawan rendah, namun tak seperti itu juga orang bersikap padaku.

“Seohyun-ah.” Seseorang menepuk bahuku pelan. Aku mendongak.

“Eonni…”

“Kau harus sabar. Tadi itu adalah istri dari Presdir. Sebenarnya ia baik, namun mungkin moodnya tadi sedang tidak baik. Kau tahu sendiri kan jika orang yang ingin dia temui sedang ‘kabur’.” Aku mengangguk. Mungkin memang seperti itu.

“Kajja aku bantu untuk membawa kertas-kertas ini.”

“Gomawo eonni.” Taeyeon eonni mengangguk sambil tersenyum manis padaku. Kami lantas memunguti kertas-kertas yang berserakan kemudian membawanya ke tempat karyawan yang membutuhkan kertas-kertas ini.

Seohyun POV END

 

*****

Jaeshin baru saja keluar dari area pemakaman tempat dimana kakaknya di makamkan. Ia teringat akan sesuatu. Dulu saat wanita paruh baya itu menghadiri upacara pernikahan sang kakak, disana ia melihat ada seorang sahabat dari istri kakaknya. Ia masih bingung mengapa ayahnya mengira anak dari kakaknya adalah namja, padahal sebenarnya yeoja. Ia ingin mencari tau penyebab kesalah pahaman ini. Mungkin sahabat istri almarhum kakaknya dapat memberitaukan sesuatu. Jaeshin lantas masuk ke dalam mobilnya. Mudah-mudahan saja sahabat kakak iparnya itu belum pindah rumah.

Tak butuh waktu lama, Jaeshin telah sampai di depan sebuah rumah. Rumah sederhana. Namun Jaeshin lebih terpaku pada rumah yang ada di sebelah rumah yang ia tuju. Ya, rumah kakaknya dan istrinya dulu tinggal ada di sebelah rumah yang ia tuju saat ini.

Jaeshin melangkahkan kakinya memasuki rumah yang menjadi tujuan awalnya. Seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda darinya tengah menyapu.

“Permisi..”

“Iya, ada yang bisa saya bantu?” wanita yang tengah menyapu tadi menghampiri Jaeshin.

“Saya Jaeshin. Lee Jaeshin.”

Wanita itu tampak berfikir, namun detik berikutnya matanya melebar menatap tak percaya seseorang yang ada dihadapannya.

“Aigoo, anda Jaeshin adik dari Jaebum?” Jaeshin mengangguk.

“Kajja silahkan masuk” Jaeshin mengikuti langkah wanita itu. Jaeshin masih ingat betul wajah sahabat kakak iparnya. Wanita inilah sahabat kakaknya.

“Silahkan duduk.” Jaeshin menurut saja. Wanita tadi menuju dapur. Mata Jaeshin tak sengaja menangkap sebuah foto yang tergantung di dinding. Ia sangat tau betul siapa yang ada di foto itu. Kakaknya Jaebum, istrinya Yoon Mi serta wanita tadi. Foto itu ia yakini diambil setelah upacara pernikahan kakaknya karena pakaian yang mereka kenakan. Lamunan Jaeshin seketika menghilang saat wanita tadi kembali membawa secangkir teh.

“Gomawo. Maaf merepotkan.” Ucap Jaeshin.

“Ah tidak. Aku senang kau datang kemari.” Jaeshin tersenyum.

“Hana-ssi, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu.” Jaeshin mulai menyampaikan niatnya mendatangi wanita yang bernama Hana itu. Hana, tersenyum. Ia sudah dapat mengira ada yang akan Jaeshin katakan atau tanyakan padanya. wanita itu sudah siap menjawab semua pertanyaan yang akan Jaeshin lontarkan.

”Ini mengenai istri kakakku serta putri mereka.” Jaeshin tak lantas melanjutkan ucapannya. Melihat ekspresi Hana, Jaeshin semakin yakin bahwa Hana telah mengetahui sesuatu. Sesuatu yang tidak ia ketahui sejak 17 tahun yang lalu.

“17 tahun yang lalu, ayahku Lee Jaeha telah mencoba mencari anak dari Jaebum oppa. ia menemukannya di sebuah panti asuhan yang terletak di Busan. Namun bukan seorang anak gadis yang ayah bawa, melainkan namja.” Lagi-lagi Jaeshin berhenti. Hana menatapanya miris.

“Bukankah anak dari Jaebum oppa dan Yoon Mi eonni adalah seorang yeoja. Lantas kenapa ayahku bisa salah mengadopsi?”

“Lantas anda diam selama 17 tahun?” pertanyaan Hana, seketika membuat Jaeshin terlonjak. Tak ia sangka jika Hana akan mempertanyakan hal itu. Ah tidak, bukan pertanyaan. Melainkan sebuah kalimat sindiran.

“ayah sudah sangat yakin dengan anak yang ia bawa adalah anak dari Jaebum oppa. ia bilang bahwa Yoon Mi eonni sendiri yang memberitahunya. Saat itu aku hanya bisa membungkam mulutku. Kebingungan terus melandaku selama ini. Bagaimana mungkin Yoon Mi eonni mengatakan hal itu pada ayah? Aku juga tak bisa meminta penjelasan dari Yoon Mi eonni karena dua tahun sebelumnya ia telah meninggal kecelakaan.”

“Memang Yoon Mi telah berbohong pada ayahmu. Hal itu terjadi sesaat setelah kau dipaksa pulang dari rumah Yoon Mi setelah kematian Jaebum”

Flashback On

“Setelah Jaebum, kini kau mencoba mendekati Jaeshin agar bisa masuk ke dalam keluargaku, hah?” lelaki paruh baya itu, Jaeha memaki Yoon Mi yang masih berkabung atas kepergian suaminya yang sekaligus putra lelaki yang memakinya ini.

“Sedikitpun saya tidak ada niat untuk mendekati apalagi mempengaruhi Jaeshin tuan. Dia adik dari suami saya jadi wajar saya baik dengannya. Apa itu salah?”

“Ya itu salah. Pernikahanmu dengan putraku sama sekali aku tak merestuinya. Dan karena dirimulah putraku pergi. Dia pergi untuk selama-lamanya.” Yoon Mi menunduk. Menatap bayi mungil yang ia gendong. Kali ini ia tak dapat membalas  perkataan lelaki itu.

“Cih, bahkan kini kau telah memiliki anak. Aku tidak akan berbuat buruk padamu dan anakmu jika kau berhenti mendekati Jaeshin dan keluargaku. Aku ingin kau pergi dari kota ini. Menjauhlah dari keluargaku. Aku akan memberimu uang.” Yoon Mi mendongak. Ia tatap nanar lelaki itu.

“Sebegitu rendahnya anda melihat saya tuan. Sedikitpun saya tidak menginginkan uang dan belas kasih anda.”

Jaeha tersenyum mengejek. “Hilangkan jual mahalmu itu. aku tak mau tau, besok rumah ini harus segera kosong. Karena aku sudah membelinya pada pemilik kontrakan. Dan satu lagi, jangan sekali-sekali kau memberi nama margaku pada anakmu itu.”

“Baiklah. Sampai kapanpun anda tidak akan bisa melihat anak saya lagi. PUTRA saya dengan anak anda ini sampai kapanpun tidak akan tau siapa kakeknya.” Wanita itu, Yoon Mi menekankan ucapannya saat menyebut putra pada anaknya. Ia sangat tau bahwa lelaki yang di hadapannya ini sangatlah menginginkan cucu laki-laki. Yoon Mi sebenarnya ingin anaknya dapat hidup layak bersama kakeknya. Namun harapannya pupus setelah mendengar ucapan lelaki itu. Yoon Mi kembali menatap anaknya.

“Hyun-ah…sampai kapanpun eomma tidak akan membiarkanmu dekat atau mengenal keluarga tuan ini.” Ucapnya.

Flashback Off

 

“Jadi karena hal itu, Yoon Mi eonni berbohong pada aboeji?” Hana mengangguk lemah.

“Tapi anak namja yang diadopsi ayahku yang dikira putra dari Jaebum oppa juga bernama Hyun. Menurut ayah, namja itu hanya memiliki nama hyun. Dan di panti asuhan itu yang bernama hyun tanpa marga hanyalah anak namja itu.” Hana masih diam.

“Atau ayahku salah panti asuhan?” Hana menggeleng.

“Ayahmu tidak salah. Memang benar Yoon Mi menitipkan putrinya di panti asuhan itu sebelum ia meninggal. Saat itu usia putrinya 4 tahun.”

“Hana-ssi, ku mohon jangan membuatku semakin bingung. Jebal…katakanlah siapa nama anak dari Yoon Mi eonni dan Jaebum oppa?” hana menatap Jaeshin. Mungkin sudah saatnya semua ini terungkap. Dan sudah saatnya putri dari sahabatnya Yoon Mi merasakan kasih sayang keluarga yang sebenarnya.

 

******

Kyuhyun baru saja sampai di kantornya setelah berjalan-jalan di pantai tadi.

“Taeyeon-ssi, apa tadi Sooyoung kesini?” tanyanya saat sampai di depan meja sekretarisnya.

“Ne sajangnim. Dan seperti yang anda suruh, saya mengatakan anda sedang ada meeting di Daegu. Namun sepertinya nona Sooyoung tidak begitu percaya.”

“Biarkan saja.”

“Sajangnim itu boneka untuk siapa?” Taeyeon melihat boneka lumba-lumba yang dibawa oleh bosnya itu.

“Oh ini, bukan untuk siapa-siapa. Ini ambillah.” Kyuhyun meletakkan begitu saja boneka itu di meja Taeyeon lantas berlalu menuju ruangan pribadinya.

“Tapi kan aku tidak suka boneka lumba-lumba.” Gumam Taeyeon. Ia lantas membiarkan boneka itu dan kembali mengerjakan pekerjaannya.

Tililit..tililit…bunyi telepon di meja gadis mungil itu menyeruak.

“Ne, ada yang bisa saya bantu?”

“…………………….”

“Ne sajangnim.” Yang meneleponnya barusan adalah Kyuhyun, memintanya untuk memberitau ob agar membuatkan kopi seperti tadi pagi. Taeyeon segera menghubungi telepon yang memang terpasang di ruangan bagian ob agar ia tak perlu repot berjalan ke sana.

“Seohyun-ah, tolong kau butakan kopi untuk Presdir seperti kopi yang tadi pagi kau buat ya.”

“…………………”

“Ne, gomawo.”

 

Tak berapa lama Seohyun datang membawa secangkir kopi.

“Eonni ini kopinya.”

“Langsung kau bawa masuk saja Seohyun-ah.”

“Eonni aku takut bertemu secara langsung dengan Presdir. Eonni saja ya yang bawakan masuk. Jebal…”

“Hhhh ne baiklah. Sini.” Taeyeon mengambil alih cangkir berisi kopi itu dan membawanya masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Sedangkan Seohyun masih menunggunya di depan meja Taeyeon. Tatapan Seohyun terpaku pada sebuah boneka lumba-lumba yang ada di meja Taeyeon.

“Ini nampannya.” Taeyeon telah kembali dan membawa nampan kosong.

“Jeongmal gomawoyo eonni.”

“Ne, sama-sama.”

“Enggg, boneka lumba-lumba itu milik eonni?”

“Oh, aniyo. Itu bukan milikku. Apa kau mau?” kedua mata Seohyun seketika berbinar setelah mendengar tawaran dari Taeyeon. Ia mengangguk mantap.

“Ya sudah ambil saja.”

“Gomawo eonni. Aku memang suka sekali dengan boneka lumba-lumba.”

“Haha, baguslah kalau begitu.”

“Ne eonni. Aku permisi dulu. Terimakasih untuk semuanya.”

“Ne, ne Seohyun-ah.” Taeyeon menggelenglan kepalanya sambil tersenyum karena sikap Seohyun.

 

*****

“Aku tau oppa tadi siang tidak pergi ke Daegu.” Sooyoung menyambut kedatangan Kyuhyun dari kantor dengan ucapan dinginnya. Sooyoung tau suaminya itu berbohong karena setelah dari kantor tadi ia bertanya pada kakek Lee apakah ada proyek di Daegu atau tidak dan ternyata proyek di Daegu akan di mulai tahun depan.

Kyuhyun tak bergeming. Ia hanya diam menanggapi ucapan Sooyoung barusan. Kyuhyun lebih memilih melepas dasi dan jas kantornya lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

“Oppa sampai kapan akan terus seperti ini??” menahan lengan suaminya. Terlihat gadis itu tengah menahan amarahnya.

“Tidak bisakah kau merubah sikapmu padaku oppa? aku ini istrimu. Istri sahmu.” Kyuhyun menghempaskan pegangan Sooyoung pada lengannya.

“Oppa!! Aku tersiksa dengan sikapmu yang terus menerus seperti ini.”

“Bukankah sebelum pernikahan itu terjadi aku telah memperingatkanmu bahwa sampai kapanpun aku tidak akan bisa menerimamu Choi Sooyoung!!” Sooyoung menangis terisak. Tak disangka Kyuhyun akan mengatakan hal itu padanya.

“Baiklah. Jika kau tidak ingin merasa tersiksa dan terbebani olehku lagi, aku akan menceraikanmu.”

 

 

TBC