My Yuri [ YeYul]

yuri smile

Author : Dian Senja

Credit Pic : as tagged

Genre   : Family, Romance

Length  : Drabble/Shortstory

Cast       : Yesung (SJ)

Yuri (SNSD)

hi, selamat membaca cerita super pendek yang geje ini ya :D

Mereka sudah ada yang memilik dan aku hanya pinjam nama sebagai castnya^^. ini murni hasil pikiran aku, klo ada yang sama berarti jodoh :P

no bash, no plagiat, its just fanfiction, sorry for typo and don’t forget give your comment. ok?

Selamat menikmati….
Baca lebih lanjut

Houses of God chapter 5

req-houses-of-god

 

Judul : Houses of God

Author : Choi Yoo Rin

Cast : temukan sendiri

Genre : romance, friendship, family, sad.

Type : chapter

 

Happy reading J jangan lupa komen ya

oya, ff ini juga aku posting di Starmuseum SMFamily

 

*****

 

 

Changmin dan ibunya, Ny. Jaeshin telah sampai di depan sebuah rumah. Rumah yang alamatnya di beri oleh ahjussi yang kemarin Changmin temui di tempat ia mencari panti asuhan yang dulu. Tempat baru panti asuhan ini memang sudah masuk kawasan kota Seoul namun masih berada di pinggiran kota Seoul. Saat baru turun dari mobil, kedua orang itu Changmin dan ibunya telah disuguhkan pemandangan menarik. Beberapa anak terlihat tengah bermain-main di halaman rumah tersebut. Ada juga yang hanya duduk-duduk di teras. Sebuah papan nama yang tidak terlalu besar terpasang di dekat kawat pembatas rumah itu. papan nama dengan tulisan “Panti Asuhan”. Changmin menoleh ke ibunya.

“Changminie, lihatlah. Betapa polosnya wajah anak-anak itu.” Ny. Jaeshin terus tersenyum melihat anak-anak panti yang bermain.

“Ne.. tapi akan lebih baik jika kita masuk terlebih dahulu eomma. Tujuan kita kesini bukan untuk mengamati anak-anak itu bermain.” Ny. Jaeshin menatap sebal ke arah anak semata wayangnya itu. Changmin terkekeh melihat tampang ibunya. Baru kali ini ia berhasil mengerjai ibunya hingga menampilkan wajah seperti itu.

“Haha, sudahlah eomma. Kajja kita masuk.” Mereka lantas masuk ke rumah itu.

“Permisi..” Changmin mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar itu, ya terbuka karena ada anak-anak yang tengah bermain di luar. Seorang yeoja yang usianya sebaya dengan Ny. Jaeshin keluar dari dalam rumah menghampiri mereka berdua.

“Ne, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu ramah.

“Kami ingin bertemu dengan Choi Min Ah.” Wanita itu terdiam sejenak, memandang seksama Changmin dan ibunya bergantian.

“Ah kajja silahkan masuk.” Changmin dan Ny. Jaeshin menurut dan mengikuti wanita tadi untuk duduk di kursi yang berada di ruang tamu panti itu.

“Tunggulah sebentar, saya akan buatkan minuman.” Ny. Jaeshin tersenyum mengangguk. Mata wanita paruh baya itu lantas menatap sekelilingnya saat ini. Foto-foto terpajang di lemari-lemari kecil yang ada disana. Juga ada beberapa yang tergantung di dinding. Ny. Jaeshin berdiri. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah foto yang ada di atas lemari setengah badannya. Sebuah foto yang menampilkan dua anak, yeoja dan namja dan di tengahnya seorang wanita paruh baya. Namun bukan wanita tadi yang menyambut kedatangannya. Ibu jarinya mengusap foto itu. Ternyata anak kecil namja yang ada di foto itu adalah keponakannya, Kyuhyun. Wanita paruh baya tadi datang membawa nampan berisi dua cangkir teh. Jaeshin meletakkan foto tadi ke tempat semula lantas kembali duduk.

“Silahkan diminum.”

“Ne, kamsahamnida.” Ucap Changmin. Ia lantas meminum teh itu. berbeda dengan ibunya yang masih diam.

“Oh ya, yang kalian maksud Choi Min Ah dia adalah ibuku. Sebentar lagi akan kemari. Masih di belakang. Mohon ditunggu.”

“Ne..” tak lama seorang wanita tua namun masih terlihat cantik menghampiri mereka. Wanita itu duduk di sebelah wanita tadi -yang tak lain adalah anaknya-.

“Saya permisi dulu.” Wanita tadi pamit ke belakang setelah ibunya datang.

“Mianhae membuat anda sekalian menunggu. Saya Choi Min Ah. Ada yang bisa saya bantu?”

“Sebelumnya perkenalkan, saya Shim Changmin dan ini ibu saya Shim Jaeshin.” Ny. Jaeshin tersenyum menatap wanita itu. begitupun wanita itu balas tersenyum padanya.

“Ada yang ingin saya tanyakan pada anda.. ini mengenai saudara saya. 17 tahun yang lalu apakah anda masih ingat seorang kakek mengadopsi anak namja di panti asuhan ini? Ah, mian. Maksud saya sebelum panti asuhan ini pindah kesini.”

“Apakah maksud anda saat panti masih di Busan?” Changmin mengangguk. Wanita itu menatap Changmin dan ibunya bergantian lantas memulai menjawab.

 

 

*****

 

Tuan Lee menatap geram cucunya. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun. Setelah mengatakan akan menceraikan Sooyoung semalam, cucunya itu memilih untuk tidur di kamar tamu. Kyuhyun yang pagi ini akan ke kantor memilih sarapan diluar karena malas mendengar ocehan kakeknya itu. ia sangat tau betul pasti Sooyoung telah mengadu pada kakeknya.

“Kyuhyun..” panggilan kakeknya sempat membuat namja tampan itu berhenti, tanpa berbalik. Namun tak lama ia kembali melangkah keluar menuju mobilnya.

“Kyuhyun!!” nada panggilan kakeknya semakin meninggi namun tak membuat Kyuhyun menghentikan aktivitasnya. Namja itu membuka mobil hyundai putihnya.

“Lee Kyuhyun!!!” kembali kakeknya berteriak penuh penekanan dan ketegasan memanggilnya. Bukan Kyuhyun jika berhenti dan dengan senang hati menerima omelan kakeknya itu. Namja itu melajukan mobilnya menuju kantor.

Terdengar helaan nafas berat dari pria tua itu. wajahnya kini terlihat sendu.

“Memang pantas cucuku bersikap seperti itu padaku. Aku berhak menerima hukuman darinya karena perbuatanku dulu.” Gumamnya.

“Haraboeji..” panggil seorang gadis yang Tn. Lee sudah hafal siapa gadis itu.

Pria tua itu berbalik, tersenyum hangat menatap cucu menantunya.

“Haraboeji, mianhaeyo.. ini semua karena aku yang tak bisa menjadi istri yang baik untuk Kyuhyun oppa.” Tn. Lee mendekat ke arah cucu menantunya, merangkul pundak yeoja itu.

“Aniya, ini bukan salahmu. Sudahlah jangan berpikir yang macam-macam. Haraboeji janji, nanti malam Kyuhyun akan tidur di kamar kalian lagi.”

“Haraboeji..” Sooyoung memeluk namja tua di sampingnya. Rasa sayangnya untuk kakek Lee memang tulus adanya. Begitupun untuk suaminya, Kyuhyun. Meskipun ia tau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan namun ia kukuh mempertahankan rumah tangganya karena sampai saat ini pun Kyuhyun tak pernah menunjukkan jika namja itu mencintai yeoja lain.

“Aku akan membuatkan makan siang untuk Kyuhyun oppa nanti haraboeji. Aku tak akan menyerah.”

“Begitu seharusnya Sooyoungie.. haraboeji akan selalu mendukungmu. Fighting!!”

 

 

*****

 

Seohyun mengerjap-ngerjapkan matanya saat memasuki gedung tempatnya bekerja. Sepi. Itu yang ia lihat. Ia tak salah hari kan?? Gadis itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 7 pagi. Apa masih terlalu pagi untuk datang ke kantor?

“Tak apa. Aku bisa membereskan ruangan-ruangan karyawan lebih nyaman jika belum ada yang datang.” Gumamnya. Gadis itu menuju lokernya di dekat pantry. Setelah mengganti bajunya dengan seragam ob, yeoja itu menuju tangga untuk ke lantai dua berniat membersihkan ruangan pimpinan kantor ini lebih dulu.

Karena masih sepi, dan ia pikir sang direktur belum datang, Seohyun langsung membuka pintu ruangan yang cukup luas dan mewah itu. Seohyun terdiam. Berdiri mematung menatap seseorang yang tertidur di sofa ruangan itu. wajah itu menyiratkan kelelahan. Seohyun berniat akan membangunkan namja itu. Namun ia ragu. Ia merasa kasihan jika harus mengganggu tidur dari pemimpin perusahaan tempatnya bekerja ini. Seohyun mengurungkan niatnya. Gadis itu hanya membereskan meja kerja sang bos, dan membuatkan secangkir kopi. Setelah meletakkan kopi di meja kerja atasannya, Seohyun berniat meninggalkan ruangan itu.

“Tunggu!!” Seohyun membelalakkan matanya kaget.

“M..mianhae sajangnim. Saya hanya ingin-“

“Gwaenchana.” Namja itu yang tak lain adalah Cho Kyuhyun bangun dari tidurnya lantas berdiri, berjalan menuju kursi kebanggaannya sebagai pemimpin perusahaan ini.

“Apa tidak terlalu pagi kau datang ke kantor?”

“Nde?”

“O iya kau kan ob. Harus datang lebih pagi.” Seohyun merengut sebal dengan ucapan bosnya barusan. Memang dia hanya ob. Tapi kenapa nada bicara bosnya itu seakan mengejek. Huh. Memang semua orang kaya itu sombong. Kembali pemikiran seperti itu datang.

“Kau sudah makan?” Seohyun mengerjap, ia bingung. Heran, dengan sikap bosnya yang mudah berubah-ubah itu. Labil.

“Tolong belikan makan untukku. Ini uangnya. Dua porsi ya.”

“Ne sajangnim.” Seohyun lantas melaksanakan perintah namja itu.

Seohyun menuju restoran depan kantor. Karena bosnya tidak menyebut makanan apa, gadis itu sedikit bingung harus membelikan apa untuk atasannya itu.

“Permisi, agassi… ee.. biasanya makanan yang biasa dimakan oleh bos-bos itu makanan apa ya?” tanya Seohyun pada pelayan restoran itu. sang pelayan tampak berpikir sejenak. Pertanyaan Seohyun memang aneh. Memangnya makanan bos dengan orang biasa itu berbeda ya?

“Ah, agassi bisa memberikan makanan yang pantas lah untuk dimakan seorang pemimpin perusahaan.” Ucap Seohyun karena sang pelayan restoran tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Ne baiklah.” Seohyun duduk di restoran yang masih sepi itu sembari menunggu pelayan tadi membawakan pesanannya.

“Nona ini pesanan anda.”

“Ah ne. Ini uangnya. Kamsahamnida.” Seohyun membungkuk sejenak lantas menyeberang untuk kembali ke kantor. Gadis itu menatap dua bungkus makanan yang ia beli barusan. Entah apa isi bungkusan itu. yang penting adalah makanan untuk bosnya yang labil.

“Sajangnim, bukanlah evil oppaku. Ya, dia bukan orang yang ku tunggu.” Gumamnya saat menaiki tangga menuju ruangan Kyuhyun. Seohyun menghembuskan nafas perlahan sebelum mengetuk pintu ruangan bosnya itu. tiba-tiba perasaannya menjadi tak menentu. Tok tok tok.

“Masuklah.” Seohyun mengumpulkan segala keberanian yang ia miliki sebelum memutar knop pintu. Entahlah, saat ini ia begitu takut jika bertemu atasannya. Bukan takut apa-apa, tapi takut jika pemikiran-pemikiran itu kembali datang. Sebisa mungkin yeoja itu terus menepis bahwa Lee Kyuhyun bukanlah orang yang 17 tahun ia tunggu.

Ceklek. Seohyun membuka perlahan pintu itu. Tampaklah Kyuhyun yang kini sudah sibuk dengan kertas-kertas di meja kerjanya.

“Sajangnim, ini makanan yang anda pesan.”

“Ne, letakkan saja di meja itu.” jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas itu.

“Kau boleh keluar.”

“Ne sajangnim. Permisi.” Seohyun membungkuk sejenak. Yeoja itu mengelus dadanya setelah keluar dari ruangan Kyuhyun. Ia lega karena tak bertatapan langsung dengan Kyuhyun.

“Seohyun-ah..” panggil seseorang.

“Taeyeon eonni..” ucapnya setelah melihat Taeyeon baru saja meletakkan tasnya di atas meja kerjanya yang berada di depan ruangan Kyuhyun.

“Sudah lama kau datang?”

“Ne eonni. Eonni mau ku bawakan sesuatu?” tawar Seohyun.

“Aniya… nanti saja.”

“Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu eonni.”

“Ne, fighting Seohyun.” Seohyun tersenyum melihat yeoja mungil itu menyemangatinya. Kembali ia bersyukur pada Tuhan telah memberinya teman seperti Taeyeon.

 

 

 

*****

 

 

 

Jaeshin memandang kolam renang yang ada di depan gazebo –tempat favoritnya- dengan tatapan kosong. Wanita paruh baya itu tengah memikirkan ucapan-ucapan sahabat dari Yoon Mi, kakak iparnya. Ucapan saat ia berkunjung ke rumah wanita itu. Hana.

Flashback On

“Hana-ssi, ku mohon jangan membuatku semakin bingung. Jebal…katakanlah siapa nama anak dari Yoon Mi eonni dan Jaebum oppa?” wanita itu, Hana menghembuskan nafas pelan sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Nama putri dari Jaebum dan Yoon Mi sebenarnya adalah Kim Joohyun.” Hana tersenyum mengejek dengan ucapannya sendiri barusan. Kim? Haruskah ia juga mengingkari marga sebenarnya putri sahabatnya itu?!

“Joohyun. Jadi namanya Joohyun.” Ulang Jaeshin.

“Yoon Mi memang awalnya menolak untuk pergi meninggalkan Seoul. Namun akhirnya ia sudah benar-benar tak tahan dengan gertakan-gertakan dari ayah anda agar segera pergi sejauh mungkin. Dan disaat usia putrinya menginjak empat tahun, Yoon Mi meninggalkan Seoul dengan membawa Joohyun. Ia pergi ke Busan. Yoon Mi juga menolak menerima uang pemberian dari Tuan Lee karena ia telah bersedia meninggalkan kota ini.” Jaeshin masih menunggu wanita di hadapannya itu melanjutkan bicara. Jaeshin tidak ingin mengulur penjelasannya. Ia ingin cepat menemukan keponakan yang sebenarnya.

“Beberapa hari setelahnya, aku mendapat berita bahwa Yoon Mi meninggal karena tertabrak mobil.”

“Mwo? Lantas bagaimana dengan putrinya?” kali ini Jaeshin sudah tidak sanggup untuk tidak menyela. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib keponakannya itu setelah kakak iparnya pergi untuk selama-lamanya.

“Joohyun tinggal di sebuah panti asuhan di Busan. Sebelum pergi, Yoon Mi menitipkan putrinya di sana.”

“Jadi semua ini karena kesalah pahaman. Andaikan Yoon Mi eonni tidak berbohong pada aboeji, mungkin saat ini Joohyun sudah berada di tengah-tengah keluarga kami.”

“Maafkan aku juga. Andai waktu itu aku bisa memaksa Joohyun untuk mau ikut bersamaku, mungkin saat ini Joohyun hidupnya tak terlunta-lunta.”

“Maksudmu, kau sempat menemui Joohyun di Busan?”

“Ne, setelah menghadiri pemakaman Yoon Mi aku menemui Joohyun di panti asuhan itu. dia, menjadi sangat pendiam. Tidak mau bicara dengan siapapun. Apalagi ikut denganku. Saat itu benar-benar saat-saat tersulitnya yang masih dapat aku saksikan.” Hana menunduk. Wanita itu mengusap air mata di sudut matanya.

“Mianhae, karena ayahku kalian menjadi menderita. Terlebih Yoon Mi eonni serta Joohyun.”

“Aniya.. tidak ada yang salah. Semuanya sudah menjadi takdir yang harus dijalani. Kini aku hanya berharap, Joohyun baik-baik saja dimanapun ia berada.”

“Kau tenang saja. Aku saat ini tengah berusaha untuk menemukannya. Aku janji akan segera menemukan putri Jaebum oppa dan Yoon Mi eonni.”

Flashback Off

 

“Bagaimana aku bisa menemukan Joohyun, oppa?? bantu aku Jaebum oppa..” gumam Jaeshin.. ia bingung harus kemana lagi mencari putri kakaknya itu. setelah bersama-sama Changmin mengunjungi panti asuhan yang telah pindah di pinggiran Seoul kemarin, kembali kenyataan pahit mendatanginya. Menurut ibu panti dulu yang merawat Joohyun, Yoon Mi tidak pernah memberitahukan nama yang sebenarnya putrinya itu. Yoon Mi hanya pernah memanggil putrinya dengan panggilan Joo sehingga orang-orang panti memanggilnya demikian. Saat usia Joohyun menginjak 7 tahun, gadis kecil itu telah diadopsi oleh sepasang suami istri bermarga Seo. Mereka meninggalkan alamat yang ada di Mokpo.

Jaeshin mengusap air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya. Mokpo. Masih ada satu alamat yang harus ia datangi. Mungkin saja, keluarga yang mengadopsi Joohyun masih tinggal disana. Semoga saja.

 

 

*****

 

 

Sooyoung keluar dari taksi yang ia tumpangi untuk ke kantor tempat suaminya bekerja. Gadis bertubuh tinggi itu memang sengaja naik taksi agar nanti Kyuhyun mau mengantarnya pulang. Sooyoung tak henti-hentinya tersenyum menatap bekal yang ia bawa untuk suaminya, Kyuhyun. Ia berharap setelah ini akan kembali berbaikan dengan Kyuhyun.

“Sooyoung-ah.” Sooyoung menolehkan kepalanya menatap orang yang telah memanggilnya.

“Changmin oppa..” Sooyoung tersenyum hangat setelah melihat siapa yang telah memanggilnya.

“Bekal untuk Kyuhyun lagi? Hah, betapa beruntungnya namja satu itu memiliki istri sepertimu..” gurau Changmin. Namun sebenarnya namja itu -Changmin- mengatakan yang sebenarnya. Tak ada yang tau bahwa sebenarnya ia sudah lama menyimpan perasaan pada istri sepupunya ini.

“Oppa, bisa saja. Ngomong-ngomong kapan oppa akan menginap di rumah aboeji lagi?”

“Kau merindukanku ya?? Haha, molla Sooyoung-ah.. eomma masih ingin aku tinggal di rumah.”

“Emmmhh begitu ya.. gwaenchana.. oppa temani saja ahjumma.. kurasa ahjumma kesepian karena sering oppa tinggal.”

“Kau benar. Apa lebih baik aku menyuruhnya untuk sering mengunjungimu saja ya? Sesama wanita akan lebih baik bukan?!”

“Ide yang bagus oppa.. aku juga kadang merasa kesepian.”

“Oke, aku akan mengusulkannya pada eomma.. kau akan langsung ke ruangan Kyuhyun kan?”

“Ne, aku keruangannya dulu oppa.”

“Ya sudah. Kalau Kyuhyun tak mau memakannya, aku siap menerima.”

“Isshh oppa..” Sooyoung memukul pelan lengan Changmin. Sudah sering namja itu mengatakan hal-hal seperti itu padanya, namun Sooyoung selalu menganggapnya hanya gurauan belaka. Namun tanpa ia tau, sejujurnya Changmin memang tulus mengatakan semua itu. dan memang benar seperti itu nyatanya.

Changmin masih memandangi punggung Sooyoung yang mulai menjauh. Namja itu kasihan terhadap yeoja yang sudah lama ia sayang itu. Changmin tau bagaimana selama ini Kyuhyun memperlakukan Sooyoung.

“Andai aku yang di jodohkan denganmu Sooyoung-ah.. akan ku pastikan kau selalu bahagia bersamaku.” Gumamnya.

 

 

*****

 

 

Seohyun menarik nafas panjang sebelum memasuki ruangan yang sebenarnya sangat dihindarinya. Tapi bagaimanapun juga ini adalah kantornya, jadi mau tidak mau juga Seohyun harus rela untuk berinteraksi dengan bosnya itu. Kebetulan Taeyeon, sekretaris Kyuhyun sedang tidak ada di mejanya jadi Seohyun tidak bisa meminta bantuan yeoja mungil itu untuk memberikan minuman pesanan Kyuhyun padanya. Seohyun mengetuk pelan pintu yang ada di hadapannya saat ini.

“Masuk.” Suara bass itu terdengar oleh Seohyun. Dengan berhati-hati menjaga nampan berisi minuman, Seohyun memutar knop pintu itu. Ceklek.

Seohyun berjalan mendekat ke arah meja bosanya yang tak lain adalah Kyuhyun. Dengan masih menunduk.

“Ini cappucino pesanan anda, Tuan.” Kyuhyun tak juga menjawab. Seohyun bingung harus tetap meletakkan pesanan itu di meja sang bos atau membawanya keluar kembali. Mungkin bosnya yang labil ini sudah tidak berminat untuk meminum cappucino yang telah dibawanya.

“Tu-tuan…” seru Seohyun.

“Letakkan saja di situ.” Kyuhyun mengarahkan dagunya ke mejanya. Dengan hati-hati, Seohyun meletakkan cappucino pesanan bosnya itu di mejanya.

“Saya permisi tuan.” Seohyun membungkuk sebelum berbalik akan meninggalkan ruangan itu. Yeoja itu benar-benar ingin segera menghindar dari namja ini. Entahlah, jika bersama Kyuhyun dirinya merasa ada yang aneh. Detak di jantungnya menjadi tak karuan dan itu yang membuat Seohyun takut.

Seohyun tergelak kaget saat sebuah tangan menarik pergelangan tangannya sehingga membuat dirinya berbalik dan menatap orang yang telah menariknya itu.

“Nuguya?” Seohyun mengeryit mendengar pertanyaan bosnya yang kini tengah menggenggam pergelangan tangan kanannya. “Nuguya?” kembali dengan pertanyaan yang sama, Kyuhyun lontarkan.

“Ma-maksud tuan si-siapa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Seohyun, Kyuhyun dengan beraninya mengangkat tangannya yang masih terbebas untuk membelai pipi kiri yeoja itu. Dengan pelan di usapnya pipi chubby itu.

“Tu-tuan..” Seohyun membelalakkan kedua matanya kaget dengan kelakuan bos nya ini. Dia tidak mau dianggap murahan karena menggoda bosnya yang jelas-jelas telah memiliki seorang istri.

Ceklek. Brraakkk..

Baik Seohyun maupun Kyuhyun sama-sama kaget dengan suara gebrakan pintu. Kedua mata Seohyun semakin melebar melihat siapa yang telah masuk dan menggebrak pintu ruangan bosnya itu. Seohyun menatap Kyuhyun yang masih belum melepas genggamannya pada tangannya. Akhirnya Seohyun yang memilih untuk menarik tangannya dari genggaman Kyuhyun.

“Soo-Sooyoung sajangnim, ini-ini.. tidak seperti-” Seohyun tidak melanjutkan kalimatnya. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat saat Sooyoung menghampirinya dan akan menamparnya. Namun beberapa detik berlalu, Seohyun tidak merasakan apapun di pipinya. Dia mencoba membuka kembali kedua matanya.

Pemandangan yang kini di lihatnya adalah bosnya yang memandang datar sang istri dengan tangan kanan bosnya itu yang menahan tangan istrinya yang hendak menampar Seohyun. Seohyun dapat melihat kemarahan Sooyoung yang begitu kuat, kilatan kemarahan begitu terlihat dimata Sooyoung yang kini menatap Kyuhyun.

“Aku tidak suka memiliki istri yang ringan tangan sepertimu.” Ucap Kyuhyun. Sooyoung menarik tangannya dari Kyuhyun.

“Bagaimana aku tidak marah saat melihat suamiku sendiri tengah bermesraan dengan gadis lain.” Sooyoung ganti menatap Seohyun.

“Tapi ini tidak seperti yang anda lihat sajangnim. Tadi-, tadi itu-“

“Diam kau!! Ku peringatkan kau ya. Kau itu hanya office girl. Kau tidak pantas sekalipun bersaing denganku. Dan jangan coba-coba kau berani menggoda Kyuhyun agar berpaling dariku.”

“Sooyoung-ah!!” tegur Kyuhyun.

“Kau harus tau diri. Tau posisimu. Apa kata dunia jika seorang Lee Kyuhyun dikabarkan berselingkuh dengan office girl.” Sooyoung menekan kata selingkuh. Seohyun mulai berkaca-kaca. Kalimat-kalimat Sooyung barusan sangat menyakitinya.

“SOOYOUNG DIAM!!” Bentak Kyuhyun.

“Kau keluarlah!” Seohyun menuruti perintah Kyuhyun barusan. Dia memang lebih ingin pergi sekarang. Dia tidak ingin ketahuan jika telah menangis.

 

 

 

 

 

TBC

 

 

[ONESHOT] When I Was Your Man

Title : When I Was Your Man
Author : Ndayoongie
Cast : Lee Donghae
Im Yoona
Support  cast : Choi Siwon
Lee Hyukjae
Kwon yuri as Im Yuri
Kim Hyoyeon
Genre : Hurt, Romance
Length : One Shoot
Rate : T
Disclaimer : I only have the story. All cast belongs to them self. I only borrow their name.

image

Baca lebih lanjut

Blue Eyes

cover yeyul

Author n Cover : Dian Senja

Genre   : Fantasy, Romance

Length  : Oneshoot

Cast       : Yesung (SJ)

Yuri (SNSD) dll.

hallooooo, ketemu lagi di ff abal-abal aku.. kali ini makin geje jalan ceritanya..hehe

aku ga bisa bikin cover yang bagus jadi seadanya aja..hehe *maksa.com aku dah pernah post ff ini di WP pribadi aku jadi jangan kaget ya klo ada yang pernah baca.. *GR bgt aku* Oya, tolong jangan di bash castnya ini hanya FF jadi aku hanya pinjam namanya aja.. aku yakin kok readers semuanya bijak. :D

no bash, no plagiat, its just fanfiction, sorry for typo and don’t forget give your comment. ok?

Baca lebih lanjut

Houses of God chap 4

req-houses-of-god

poster by : ZhyaART @YooRa Art Design

 

Chapter 4

Judul : Houses of God

Author : Choi Yoo Rin

Main Cast : Seo Joohyun / Lee Joohyun, Lee Kyuhyun / Cho Kyuhyun

Other Cast : Shim Changmin, Choi Sooyoung, etc.

Genre : romance, friendship, family, sad.

Type : chapter

Disclaimer : this story IS MINE !!!!! hahahahahah .. dilarang keras MENGCOPAST  ide cerita tanpa ataupun dengan seijin saya. :P

Saya balik lagi membawa ff kelanjutan Houses Of God.. ada yang setia menunggu ff ini?? jeongmal mianhae lama postingnya.. hehe… lagi gak ada ide.. Kekeke… judul ff ini yang bila diartikan adalah Jodoh dari Tuhan, author dapat dari sebuah film.. namun jalan ceritanya 100 % berbeda… oke lah hanya segitu dulu informasinya..

Happy reading J jangan lupa komen ya

 

“Ehem!!” suara seseorang menghentikan aktivitas mereka. Sontak keduanya menoleh ke arah sumber suara. Taeyeon terkesiap kaget, gadis mungil itu lantas berdiri. Begitupun Seohyun.

“Sa-sajangnim.” Ucap Taeyeon.

“Ada yang ingin ku bicarakan padamu Taeyeon-ssi. Hanya sebentar.” Mereka berdua lantas sedikit menjauh. Seohyun masih diam terpaku di tempatnya. Tatapannya masih tertuju pada namja yang baru saja mengajak Taeyeon berbicara. Namja yang di panggil sajangnim oleh teman barunya itu. Wajah namja itu, mengingatkan Seohyun akan seseorang. Wajah yang tidak asing lagi baginya. Seseorang yang amat sangat ia rindukan 17 tahun ini. Namun ia tidak mau berfikir yang macam-macam dulu. Mungkin wajahnya hanya mirip. Toh terakhir ia bertemu dengan namjanya saat usia gadis itu 6 tahun sedangkan sang namja 7 tahun. Seohyun menggelengkan kepalanya pelan. Kalau memang itu ‘evil oppanya’, pasti akan langsung mengenali Seohyun. Seohyun terkesiap dari segala pemikirannya saat dilihatnya Taeyeon berjalan mendekat ke arahnya. Sedangkan namja itu, kembali meninggalkan mereka berdua. Seohyun terus memandangi punggung namja tersebut hingga hilang di balik pintu.

“Hhhhh….” terdengar helaan nafas Taeyeon yang kini sudah duduk di sebelahnya.

“Ada masalah apa?” Tanya Seohyun. Gadis itu ingin sahabat barunya ini sekedar membagi masalah yang dihadapi, mungkin akan bisa sedikit mengurangi bebannya.

“Bukan masalah yang fatal kok. Hanya permintaan bantuan seorang bos kepada sekretarisnya.”

“Bantuan apa? Oya, tadi itu bos kita?” Taeyeon seketika menoleh pada Seohyun, menatap Seohyun heran. Kemudian Taeyeon menepuk jidatnya sendiri.

“Aigoo, aku lupa memberitahumu. Iya, tadi itu atasan kita. Presiden Direktur perusahaan ini. Cucu dari pemilik perusahaan. Namanya Lee Kyuhyun.”

‘Oo jadi namanya Kyuhyun.’ Gumam Seohyun sambil mengangguk.

“Lantas bantuan apa yang diminta oleh namja itu padamu?”

“Berbohong pada istrinya.”

“Mwo???” Seohyun membulatkan matanya tak percaya. Kali ini ia merasa hatinya sakit tertusuk ribuan jarum. Rasanya dadanya sesak. Ia bingung kenapa merasakan seperti itu setelah mendengar bahwa namja tadi telah mempunyai seorang istri. Tanpa Taeyeon sadari Seohyun telah menghapus sudut matanya yang mengeluarkan air mata.

‘Itu bukan dia. Namja itu bukan evil oppaku. Evil oppaku tidak mungkin telah meninggalkanku bersama gadis lain.’ Gumamnya dalam hati.

“Ne, Kyuhyun sajangnim memintaku untuk mengatakan pada istrinya bahwa dirinya ada pertemuan di Daegu dan akan pulang terlambat.”

“Eeee, aku masih sedikit bingung eonni..”

“Setiap hari saat jam istirahat makan siang seperti ini, istri Kyuhyun sajangnim selalu datang ke kantor untuk mengantarkan makan siangnya. Jadi jika nanti istrinya bertanya padaku, aku harus mengatakan seperti yang ku bilang tadi.”

“Kenapa harus berbohong??”

“Mollaseo Seohyun-ah. Ah, sudahlah kajja kita turun. Sepertinya sebentar lagi istri Kyuhyun sajangnim akan tiba di kantor ini. Dan aku harus sudah ada di ruanganku.”

“Baiklah kajja.” Sejujurnya Seohyun masih penasaran, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Namun ia tak mau mengintrogasi Taeyeon lebih dalam karena itu menyangkut pribadi orang lain. Apalagi kehidupan pribadi atasannya.

 

*****

Changmin telah sampai di alamat yang tertera pada kertas yang diberikan ibunya. Namun ia masih diam, berdiri di depan pagar besi setengah badan yang menjadi pembatas sebuah rumah. Rumah sederhana yang terlihat sudah tak berpenghuni lagi.

“Apa benar ini rumahnya?” sekali lagi namja itu mencocokkan nomor rumah yang ada di tembok sebelah pagar dengan nomor rumah yang tertulis pada kertas. Cocok. Itulah kesimpulan yang ia dapat. ia melihat sekelilingnya, mencari seseorang untuk menanyakan sesuatu. Seorang pria paruh baya mendekat ke arahnya dengan membawa sapu lidi.

“Permisi ahjussi, apa benar rumah ini panti asuhan?”

“Ne, benar. Tapi sekarang sudah tidak dijadikan panti asuhan lagi. Anda ada perlu apa?”

“Saya ingin bertemu dengan ibu panti di sini. Bisakah saya menemui beliau?”

“Sayang sekali, panti asuhan disini sudah pindah semenjak 10 tahun yang lalu. Saya disini setiap hari hanya bertugas membersihkan saja.” Changmin terhenyak. Jauh-jauh ia datang ke Busan, ternyata hanya mendapatkan harapan kosong. Kemanakah lagi ia akan mencari saudara sepupunya yang ‘asli’ ?

“Tapi saya bisa memberikan alamat panti asuhan yang baru pada anda.”

“Ne ahjussi. Saya memang sangat memerlukan alamat itu. Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan ibu pemilik panti.”

“Baiklah, mari ikut ke rumah saya terlebih dahulu. Letaknya ada di belakang rumah ini.” Changmin mengangguk. Ia mengekor pria paruh baya yang berjalan mendahuluinya. Mereka memasuki gang sempit di sebelah rumah yang dulunya panti asuhan itu. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di depan sebuah rumah sederhana.

“Kajja masuklah dulu.” Changmin mengedarkan pandangannya. Perabotan di rumah itu sangat sederhana.

“Duduklah, akan ku buatkan minum.”

“Tidak perlu repot-repot ahjussi.”

“Tidak apa-apa. Duduklah saja.” Changmin mendudukkan tubuhnya pada sebuah kursi kayu yang usang. Ia menatap foto-foto di dinding ruang tamu itu. Sebuah foto menyita perhatiannya. Foto yang menampakkan sekitar 20 anak kecil yang berjejer.

“Ini, minumlah. Maaf hanya bisa menyajikan sekedarnya.”

“Ah, ne. Gwaenchana ahjussi.”

“Oya, ini aku sudah menuliskan alamat panti asuhan yang baru.” Pria itu menyerahkan secarik kertas. Changmin menerimanya, setelah meminum teh suguhan dari pria itu. Changmin tersenyum menatap pria itu.

“Kamsahamnida ahjussi.”

“Ya, sama-sama. Nama mu siapa anak muda?”

“Saya, Changmin.”

Ahjussi itu mengangguk.

“Ahjussi saya permisi dulu kalau begitu. Sekali lagi terimakasih banyak ahjussi.”

“Ne, ne sama-sama.”

 

*****

Kyuhyun terus memacu mobilnya. Istirahat siang ini ingin ia gunakan untuk menenangkan fikiran. Ia sedang tidak mood untuk bertemu istrinya yang selalu datang saat jam makan siang. Ia sedikit melonggarkan dasi yang ia kenakan. Sebenarnya ia bingung akan ke mana. Namun, tanpa ia sadari ia telah tiba di sebuah pantai. Siang yang begitu terik tak membuatnya tetap berdiam di dalam mobil. Namja yang berusia 24 tahun itu telah berjalan menyusuri pasir pantai. Ia sedikit tersenyum memandangi pantai itu. Laut, adalah pemandangan yang disukai gadis kecilnya. Namun detik berikutnya ia tersenyum miris. Ia amat sangat menyesal seandainya saat itu tidak meninggalkan gadis kecilnya, mungkin mereka tidak akan berpisah.

“Maafkan aku Joo, tidak bisa memenuhi janjiku padamu.” Gumamnya. Kyuhyun terus berjalan, hingga ia tiba di depan sebuah toko pernak-pernik. Gantungan kunci dari kerang, lampu, hiasan kaca, hingga boneka-boneka berbentuk hewan-hewan laut ada disana. Mata Kyuhyun terpaku pada sebuah boneka lumba-lumba berwarna biru. Boneka yang pernah ia berikan pada gadis kecilnya saat berulang tahun.

“Ahjumma, aku membeli boneka ini.” Ucapnya pada ahjumma penjaga toko.

“Ne tuan. Sini saya bungkus.” Setelah membayar, Kyuhyun kembali ke mobilnya. Jam istirahat telah habis. Meskipun ia masih enggan kembali ke kantor, tapi ia harus tetap profesional. Pekerjaan yang utama baginya.

 

Seohyun POV

Setumpuk kertas yang ku bawa ini benar-benar membuatku kerepotan untuk melihat jalan di depanku. Setelah memfotocopykannya, aku berniat menyerahkan hasilnya pada salah seorang karyawan di sini. Jalanku sedikit limbung. Aisshh jinjja, aku tidak bisa melihat ke depan. Aku terus berjalan dengan sangat hati-hati. Untungnya saat ini lalu lalang karyawan tak terlalu ramai jadi tak terlalu menyusahkanku.

Brruuaakkk

Aku terjatuh, begitu pun kertas-kertas itu jatuh berserakan di lantai.

“Bagaimana sih kau ini? Kalau jalan lihat-lihat dong. Hampir saja aku jatuh terjengkang.” Yeoja yang ku tabrak lebih dulu menyemprotku. Aku segera bangkit berdiri, membungkuk berkali-kali untuk meminta maaf pada yeoja yang tak sengaja ku tabrak.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo. Saya tadi kesusahan untuk melihat karena tumpukan kertas itu terlalu tinggi. Mianhae.”

“Alasan.”

“Aniyo, saya mengatakan yang sejujurnya.”

“Hah, sudahlah. Aku malas meladeni karyawan rendahan sepertimu.” Yeoja bertubuh tinggi itu berlalu meninggalkanku. Ku tundukkan kepalaku. Ya, memang aku hanya karyawan rendah, namun tak seperti itu juga orang bersikap padaku.

“Seohyun-ah.” Seseorang menepuk bahuku pelan. Aku mendongak.

“Eonni…”

“Kau harus sabar. Tadi itu adalah istri dari Presdir. Sebenarnya ia baik, namun mungkin moodnya tadi sedang tidak baik. Kau tahu sendiri kan jika orang yang ingin dia temui sedang ‘kabur’.” Aku mengangguk. Mungkin memang seperti itu.

“Kajja aku bantu untuk membawa kertas-kertas ini.”

“Gomawo eonni.” Taeyeon eonni mengangguk sambil tersenyum manis padaku. Kami lantas memunguti kertas-kertas yang berserakan kemudian membawanya ke tempat karyawan yang membutuhkan kertas-kertas ini.

Seohyun POV END

 

*****

Jaeshin baru saja keluar dari area pemakaman tempat dimana kakaknya di makamkan. Ia teringat akan sesuatu. Dulu saat wanita paruh baya itu menghadiri upacara pernikahan sang kakak, disana ia melihat ada seorang sahabat dari istri kakaknya. Ia masih bingung mengapa ayahnya mengira anak dari kakaknya adalah namja, padahal sebenarnya yeoja. Ia ingin mencari tau penyebab kesalah pahaman ini. Mungkin sahabat istri almarhum kakaknya dapat memberitaukan sesuatu. Jaeshin lantas masuk ke dalam mobilnya. Mudah-mudahan saja sahabat kakak iparnya itu belum pindah rumah.

Tak butuh waktu lama, Jaeshin telah sampai di depan sebuah rumah. Rumah sederhana. Namun Jaeshin lebih terpaku pada rumah yang ada di sebelah rumah yang ia tuju. Ya, rumah kakaknya dan istrinya dulu tinggal ada di sebelah rumah yang ia tuju saat ini.

Jaeshin melangkahkan kakinya memasuki rumah yang menjadi tujuan awalnya. Seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda darinya tengah menyapu.

“Permisi..”

“Iya, ada yang bisa saya bantu?” wanita yang tengah menyapu tadi menghampiri Jaeshin.

“Saya Jaeshin. Lee Jaeshin.”

Wanita itu tampak berfikir, namun detik berikutnya matanya melebar menatap tak percaya seseorang yang ada dihadapannya.

“Aigoo, anda Jaeshin adik dari Jaebum?” Jaeshin mengangguk.

“Kajja silahkan masuk” Jaeshin mengikuti langkah wanita itu. Jaeshin masih ingat betul wajah sahabat kakak iparnya. Wanita inilah sahabat kakaknya.

“Silahkan duduk.” Jaeshin menurut saja. Wanita tadi menuju dapur. Mata Jaeshin tak sengaja menangkap sebuah foto yang tergantung di dinding. Ia sangat tau betul siapa yang ada di foto itu. Kakaknya Jaebum, istrinya Yoon Mi serta wanita tadi. Foto itu ia yakini diambil setelah upacara pernikahan kakaknya karena pakaian yang mereka kenakan. Lamunan Jaeshin seketika menghilang saat wanita tadi kembali membawa secangkir teh.

“Gomawo. Maaf merepotkan.” Ucap Jaeshin.

“Ah tidak. Aku senang kau datang kemari.” Jaeshin tersenyum.

“Hana-ssi, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu.” Jaeshin mulai menyampaikan niatnya mendatangi wanita yang bernama Hana itu. Hana, tersenyum. Ia sudah dapat mengira ada yang akan Jaeshin katakan atau tanyakan padanya. wanita itu sudah siap menjawab semua pertanyaan yang akan Jaeshin lontarkan.

”Ini mengenai istri kakakku serta putri mereka.” Jaeshin tak lantas melanjutkan ucapannya. Melihat ekspresi Hana, Jaeshin semakin yakin bahwa Hana telah mengetahui sesuatu. Sesuatu yang tidak ia ketahui sejak 17 tahun yang lalu.

“17 tahun yang lalu, ayahku Lee Jaeha telah mencoba mencari anak dari Jaebum oppa. ia menemukannya di sebuah panti asuhan yang terletak di Busan. Namun bukan seorang anak gadis yang ayah bawa, melainkan namja.” Lagi-lagi Jaeshin berhenti. Hana menatapanya miris.

“Bukankah anak dari Jaebum oppa dan Yoon Mi eonni adalah seorang yeoja. Lantas kenapa ayahku bisa salah mengadopsi?”

“Lantas anda diam selama 17 tahun?” pertanyaan Hana, seketika membuat Jaeshin terlonjak. Tak ia sangka jika Hana akan mempertanyakan hal itu. Ah tidak, bukan pertanyaan. Melainkan sebuah kalimat sindiran.

“ayah sudah sangat yakin dengan anak yang ia bawa adalah anak dari Jaebum oppa. ia bilang bahwa Yoon Mi eonni sendiri yang memberitahunya. Saat itu aku hanya bisa membungkam mulutku. Kebingungan terus melandaku selama ini. Bagaimana mungkin Yoon Mi eonni mengatakan hal itu pada ayah? Aku juga tak bisa meminta penjelasan dari Yoon Mi eonni karena dua tahun sebelumnya ia telah meninggal kecelakaan.”

“Memang Yoon Mi telah berbohong pada ayahmu. Hal itu terjadi sesaat setelah kau dipaksa pulang dari rumah Yoon Mi setelah kematian Jaebum”

Flashback On

“Setelah Jaebum, kini kau mencoba mendekati Jaeshin agar bisa masuk ke dalam keluargaku, hah?” lelaki paruh baya itu, Jaeha memaki Yoon Mi yang masih berkabung atas kepergian suaminya yang sekaligus putra lelaki yang memakinya ini.

“Sedikitpun saya tidak ada niat untuk mendekati apalagi mempengaruhi Jaeshin tuan. Dia adik dari suami saya jadi wajar saya baik dengannya. Apa itu salah?”

“Ya itu salah. Pernikahanmu dengan putraku sama sekali aku tak merestuinya. Dan karena dirimulah putraku pergi. Dia pergi untuk selama-lamanya.” Yoon Mi menunduk. Menatap bayi mungil yang ia gendong. Kali ini ia tak dapat membalas  perkataan lelaki itu.

“Cih, bahkan kini kau telah memiliki anak. Aku tidak akan berbuat buruk padamu dan anakmu jika kau berhenti mendekati Jaeshin dan keluargaku. Aku ingin kau pergi dari kota ini. Menjauhlah dari keluargaku. Aku akan memberimu uang.” Yoon Mi mendongak. Ia tatap nanar lelaki itu.

“Sebegitu rendahnya anda melihat saya tuan. Sedikitpun saya tidak menginginkan uang dan belas kasih anda.”

Jaeha tersenyum mengejek. “Hilangkan jual mahalmu itu. aku tak mau tau, besok rumah ini harus segera kosong. Karena aku sudah membelinya pada pemilik kontrakan. Dan satu lagi, jangan sekali-sekali kau memberi nama margaku pada anakmu itu.”

“Baiklah. Sampai kapanpun anda tidak akan bisa melihat anak saya lagi. PUTRA saya dengan anak anda ini sampai kapanpun tidak akan tau siapa kakeknya.” Wanita itu, Yoon Mi menekankan ucapannya saat menyebut putra pada anaknya. Ia sangat tau bahwa lelaki yang di hadapannya ini sangatlah menginginkan cucu laki-laki. Yoon Mi sebenarnya ingin anaknya dapat hidup layak bersama kakeknya. Namun harapannya pupus setelah mendengar ucapan lelaki itu. Yoon Mi kembali menatap anaknya.

“Hyun-ah…sampai kapanpun eomma tidak akan membiarkanmu dekat atau mengenal keluarga tuan ini.” Ucapnya.

Flashback Off

 

“Jadi karena hal itu, Yoon Mi eonni berbohong pada aboeji?” Hana mengangguk lemah.

“Tapi anak namja yang diadopsi ayahku yang dikira putra dari Jaebum oppa juga bernama Hyun. Menurut ayah, namja itu hanya memiliki nama hyun. Dan di panti asuhan itu yang bernama hyun tanpa marga hanyalah anak namja itu.” Hana masih diam.

“Atau ayahku salah panti asuhan?” Hana menggeleng.

“Ayahmu tidak salah. Memang benar Yoon Mi menitipkan putrinya di panti asuhan itu sebelum ia meninggal. Saat itu usia putrinya 4 tahun.”

“Hana-ssi, ku mohon jangan membuatku semakin bingung. Jebal…katakanlah siapa nama anak dari Yoon Mi eonni dan Jaebum oppa?” hana menatap Jaeshin. Mungkin sudah saatnya semua ini terungkap. Dan sudah saatnya putri dari sahabatnya Yoon Mi merasakan kasih sayang keluarga yang sebenarnya.

 

******

Kyuhyun baru saja sampai di kantornya setelah berjalan-jalan di pantai tadi.

“Taeyeon-ssi, apa tadi Sooyoung kesini?” tanyanya saat sampai di depan meja sekretarisnya.

“Ne sajangnim. Dan seperti yang anda suruh, saya mengatakan anda sedang ada meeting di Daegu. Namun sepertinya nona Sooyoung tidak begitu percaya.”

“Biarkan saja.”

“Sajangnim itu boneka untuk siapa?” Taeyeon melihat boneka lumba-lumba yang dibawa oleh bosnya itu.

“Oh ini, bukan untuk siapa-siapa. Ini ambillah.” Kyuhyun meletakkan begitu saja boneka itu di meja Taeyeon lantas berlalu menuju ruangan pribadinya.

“Tapi kan aku tidak suka boneka lumba-lumba.” Gumam Taeyeon. Ia lantas membiarkan boneka itu dan kembali mengerjakan pekerjaannya.

Tililit..tililit…bunyi telepon di meja gadis mungil itu menyeruak.

“Ne, ada yang bisa saya bantu?”

“…………………….”

“Ne sajangnim.” Yang meneleponnya barusan adalah Kyuhyun, memintanya untuk memberitau ob agar membuatkan kopi seperti tadi pagi. Taeyeon segera menghubungi telepon yang memang terpasang di ruangan bagian ob agar ia tak perlu repot berjalan ke sana.

“Seohyun-ah, tolong kau butakan kopi untuk Presdir seperti kopi yang tadi pagi kau buat ya.”

“…………………”

“Ne, gomawo.”

 

Tak berapa lama Seohyun datang membawa secangkir kopi.

“Eonni ini kopinya.”

“Langsung kau bawa masuk saja Seohyun-ah.”

“Eonni aku takut bertemu secara langsung dengan Presdir. Eonni saja ya yang bawakan masuk. Jebal…”

“Hhhh ne baiklah. Sini.” Taeyeon mengambil alih cangkir berisi kopi itu dan membawanya masuk ke dalam ruangan Kyuhyun. Sedangkan Seohyun masih menunggunya di depan meja Taeyeon. Tatapan Seohyun terpaku pada sebuah boneka lumba-lumba yang ada di meja Taeyeon.

“Ini nampannya.” Taeyeon telah kembali dan membawa nampan kosong.

“Jeongmal gomawoyo eonni.”

“Ne, sama-sama.”

“Enggg, boneka lumba-lumba itu milik eonni?”

“Oh, aniyo. Itu bukan milikku. Apa kau mau?” kedua mata Seohyun seketika berbinar setelah mendengar tawaran dari Taeyeon. Ia mengangguk mantap.

“Ya sudah ambil saja.”

“Gomawo eonni. Aku memang suka sekali dengan boneka lumba-lumba.”

“Haha, baguslah kalau begitu.”

“Ne eonni. Aku permisi dulu. Terimakasih untuk semuanya.”

“Ne, ne Seohyun-ah.” Taeyeon menggelenglan kepalanya sambil tersenyum karena sikap Seohyun.

 

*****

“Aku tau oppa tadi siang tidak pergi ke Daegu.” Sooyoung menyambut kedatangan Kyuhyun dari kantor dengan ucapan dinginnya. Sooyoung tau suaminya itu berbohong karena setelah dari kantor tadi ia bertanya pada kakek Lee apakah ada proyek di Daegu atau tidak dan ternyata proyek di Daegu akan di mulai tahun depan.

Kyuhyun tak bergeming. Ia hanya diam menanggapi ucapan Sooyoung barusan. Kyuhyun lebih memilih melepas dasi dan jas kantornya lantas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

“Oppa sampai kapan akan terus seperti ini??” menahan lengan suaminya. Terlihat gadis itu tengah menahan amarahnya.

“Tidak bisakah kau merubah sikapmu padaku oppa? aku ini istrimu. Istri sahmu.” Kyuhyun menghempaskan pegangan Sooyoung pada lengannya.

“Oppa!! Aku tersiksa dengan sikapmu yang terus menerus seperti ini.”

“Bukankah sebelum pernikahan itu terjadi aku telah memperingatkanmu bahwa sampai kapanpun aku tidak akan bisa menerimamu Choi Sooyoung!!” Sooyoung menangis terisak. Tak disangka Kyuhyun akan mengatakan hal itu padanya.

“Baiklah. Jika kau tidak ingin merasa tersiksa dan terbebani olehku lagi, aku akan menceraikanmu.”

 

 

TBC

Saranghae chap 10b

Chapter 10 (b)

Judul : Saranghae

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Cho Kyuhyun, Cho Jonghyun, Seo Joohyun, Im Yoona, Lee Donghae etc.

Genre : fantasy, romance, sad

Length : chapter

Disclaimer : ide cerita murni milik author, castnya author hanya meminjam selebihnya mereka milik Tuhan, orang tua dan agensi mereka.

 

Huuaaahhhh ini akhirnya benar-benar ending… mianhae ne, kalo tidak sesuai harapan readers J

Happy reading

n Sory for typo :D

 

*****

Seohyun keluar dari cafe tempat ia bertemu dengan Kyuhyun tadi. Tempat dimana ia menjadi semakin yakin bahwa memang seharusnya ia menghapus perasaannya untuk Kyuhyun. Tempat dimana terakhir kalinya ia bertemu dengan namja itu. Mungkin lebih tepatnya jika ia yang memutuskan jika pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir mereka. Ya, Seohyun sudah putuskan untuk tidak akan bertemu Kyuhyun lagi. Tidak akan mau berurusan dengan namja itu. Sudah cukup sakit hati yang ia rasakan. Toh Kyuhyun juga telah memiliki gadis lain disampingnya yang lebih pantas.

Langkahnya gontai, kepalanya terus tertunduk. Menatap sebuah buku diary yang tadi Kyuhyun berikan padanya. Buku diary milik Cho Jonghyun. Namja yang mengaku telah mencintai dirinya semenjak masih SMP. Sesuatu yang baru ia tau setelah namja itu meninggalkan dunia ini. Sesuatu yang membuatnya merasa bersalah terhadap namja itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ketidak tahuannya tentang semua ini bukanlah salah dia kan?

Seohyun mendongak saat mendengar beberapa mobil ambulans melaju beriringan di jalan menuju arah yang berlawanan dengan langkahnya saat ini. Keningnya berkerut. Tiga mobil ambulans berjalan beriringan, melaju cukup kencang dengan suara sirine yang memekakkan telinga. Pasti telah terjadi kecelakaan, pikirnya. Seohyun kembali melangkahkan kakinya. Menyusuri jalan, entah kemana kaki itu membawanya ia tak peduli.

Hingga akhirnya gadis itu berhenti di sebuah taman. Ia putuskan untuk duduk disana. Seohyun mulai membuka lembaran demi lembaran diary milik Jonghyun.

 

12 November 2005

Hari ini aku menyelamatkan seorang yeoja. Ia hampir tertabrak mobil. Untunglah aku datang disaat yang tepat. Sebelum aku sempat menanyakan namanya, yeoja itu berlari meninggalkanku. Hmmm…..yeoja yang manis.

Seohyun menerawang, menggali ingatannya. Tanggal itu memang tanggal dimana ia hampir saja tertabrak sebuah mobil. Namun ada seorang namja yang lebih tua darinya beberapa tahun yang menyelamatkan gadis itu dari maut. Seohyun tidak begitu hafal dengan wajah namja itu karena ia kemudian lari.

 

30 Desember 2005

Tanpa sengaja aku melihat yeoja yang aku selamatkan dulu di toko buku tadi sore. Tapi aku tidak berani menghampirinya. Aku takut dia lari lagi.

15 Maret 2007

Hari ini aku mengantar adikku Sulli untuk ke sekolah. Ia akan mendaftar di sebuah SMP. Dan aku kembali bertemu yeoja itu. Ternyata ia bersekolah di SMP tempat Sulli mendaftar. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh.

 

Bingo, dia baru ingat sesuatu lagi. Seohyun memang satu SMP dengan adik Kyuhyun setelah bertemu saat pembukaan cabang baru Cho Grup dan saat dia kuliah.

“Dunia begitu sempit” gumamnya.

Seohyun menatap langit yang mulai mendung. Awan gelap telah menutupi kota Seoul. Gadis itu memutuskan untuk pulang. Sebelumnya, ia telah memasukkan diary Jonghyun ke dalam tasnya.

*****

Sooyeon hanya bisa duduk lemas, air matanya sudah mengalir deras sedari tadi. Ruangan itu tak kunjung terbuka, ruangan dimana sekarang terdapat seseorang yang berarti untuknya. Cho Kyuhyun. Dalam hati gadis itu terus berdo’a, memohon pada Tuhan untuk menyembuhkan namja itu. Bahkan ia rela bila Tuhan mengambil nyawanya sebagai pengganti untuk kesembuhan Kyuhyun. Ia rela. Rela jika memang Kyuhyun sudah tidak memiliki perasaan terhadapnya. Ia akan lebih bahagia jika melihat namja itu –Kyuhyun- dalam keadaan baik-baik saja, dalam keadaan bahagia, meski bukan bersamanya. Meski bersama yeoja lain.

 

Flahsback On

Sooyeon tengah menyelesaikan desain rancangan gaun pagi itu. Semenjak butiknya sudah resmi dibuka, terkadang gadis itu memilih untuk menginap di butiknya. Ia memang sengaja membuat butiknya menjadi rumah keduanya. Dan pagi ini, ia langsung mengerjakan pekerjaan semalam yang sempat ia tunda karena kehilangan ide.

Kegiatannya terhenti, saat ada panggilan masuk ke ponselnya. Senyum tipisnya tercipta saat melihat id sang penelepon.

“Yoboseyo Kyuhyun oppa.”

“…………….”

“Oh, aku sedang di butik. Waeyo oppa?”

“…………….”

“Ne, tidak begitu kok oppa. Oppa datang saja.”

“……………..”

“Ne, aku tunggu. Annyeong.”

Setelah menutup sambungan teleponnya, gadis itu membereskan meja kerjanya. Kertas-kertas yang berserakan di meja ia tata rapi. Seseorang yang berarti untuknya akan datang, tentu ia harus berbenah bukan?

Tak berapa lama orang yang ditunggu pun datang.

“Annyeong oppa..” sapa Sooyeon mengawali. Tak lupa gadis itu suguhkan senyum termanis yang ia miliki.

“Nado annyeong..” balas Kyuhyun

“Silahkan duduk oppa. Oppa mau ku buatkan minum apa?”

“Terserah kau saja.”

“Baiklah. Oppa tunggu sebentar ne, akan ku buatkan minum.” Kyuhyun hanya mengangguk. Sebenarnya tujuan namja itu mendatangi Sooyeon sepagi ini karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Sesuatu yang berkaitan dengan perkataan Donghae. Sesuatu yang membuat Seohyun enggan bertemu dengannya. Ia menemui Sooyeon sepagi ini karena semalam telah membuat janji dengan Seohyun untuk bertemu pukul 10 di cafe yang juga tak jauh dari butik Sooyeon. Jadi, sebelum bertemu Seohyun, Kyuhyun ingin meminta penjelasan dari Sooyeon.

“Sepagi ini kau sudah ada di butik, kau menginap ya?” tanya Kyuhyun setelah Sooyeon meletakkan secangkir teh hangat di hadapannya.

“Ne. Aku memang sengaja membuat butik ini menjadi rumah keduaku. Ya barangkali aku lupa waktu, atau malas untuk pulang.”

“Ck.. jangan terlalu terlena dengan dunia butikmu ini Sooyeon-ah. Sebaiknya kau segera mencari pasangan. Sudah cukup bagimu untuk menikah.”

“Aish jinjja. Oppa menyindir diri oppa sendiri ya?”

“Mwo?”  Sooyeon terkikik melihat ekspresi lucu Kyuhyun saat ini. Sebenarnya ada sisi Sooyeon yang membuat Kyuhyun menyayanginya. Sisi berbeda gadis itu. Namun rasa sayang itu tak lebih dari sayang seorang kakak kepada adiknya. Sooyeon telah mendapat tempat tersendiri bagi Kyuhyun. Tempat sebagai seorang adik. Kyuhyun terlalu menyayangi gadis itu, hingga ia ragu untuk mempertegas perasaannya pada Sooyeon. Ia tak tega.

“Sooyeon-ah..”

“Nde oppa?” Sooyeon menatap bingung Kyuhyun yang terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Kyuhyun oppa, waeyo?”

“Kau…….ekhm…. apa kau pernah bertemu Seohyun? Ani, maksudku bertemu dengannya hanya berdua?”

Sooyeon sedikit tersentak kaget. Namun sudah ia persiapkan jawaban bila Kyuhyun menanyakan hal itu. Tak Sooyeon sangka jika Seohyun benar-benar akan mengatakan pertemuan mereka pada Kyuhyun.

“Ne, pernah oppa. Emm….pasti yeoja itu sudah mengatakan yang tidak-tidak ya pada oppa. Padahal, aku sama sekali tidak mengatakan hal kasar padanya. Justru dia yang memulai. Aku sakit hati oppa. Aku dilarang menemuimu lagi olehnya. Karena itu aku tidak pernah menghubungimu semenjak pertemuan terakhir kita saat pembukaan butikku.”

“Sooyeon, mianhae. Maafkan aku.”

“Kenapa oppa minta maaf?”

“Maaf karena aku tak bisa membalas perasaanmu. Sebegitu egoisnyakah kau ingin memilikiku hingga berkata seperti itu?”

“Nde? Maksud oppa?”

“Aku mengenal Seohyun jauh sebelum kau mengenalnya. Dan aku tau gadis seperti apa yang telah membuat saudara kembarku jatuh hati padanya. Jonghyun tak akan asal menaruh hati pada gadis yang tega berbuat seperti itu. Begitu juga denganku. Seohyun adalah gadis baik-baik. Tidak akan mungkin dia berkata seperti itu padamu.”

“Op…oppa…ak..aku-“

“Dan dari ucapanmu tadi sudah dapat kusimpulkan jika kau lah yang membuat Seohyun enggan menemuiku. Padahal masih ada sesuatu yang harus ia selesaikan denganku. Aku…..kecewa padamu Sooyeon-ah. Kau sudah berubah.” Kyuhyun berdiri hendak meninggalkan gadis itu.

“Oppa jebal. Maafkan aku. Aku…..aku hanya ingin …hanya ingin…” Kyuhyun menghempaskan pegangan tangan Sooyeon pada lengannya. Ia sudah kecewa dengan sikap gadis itu. Kyuhyun berjalan, keluar meninggalkan Sooyeon yang kini menangis.

Flashback Off

 

“Hikkss…hikkss….oppa, mianhaeyo..”

“Sooyeon-ah..” Sooyeon menolehkan kepalanya ke asal suara. Ia berdiri saat mendapati Ny. Cho dan Sulli datang.

“Ahjumma, Sulli-ah.”

“Sooyeon-ah, apa yang terjadi? Bagaimana keadaan Kyuhyun sekarang?”

“Dokter masih menanganinya di dalam ahjumma. Ahjumma, mianhae.”

“Kenapa kau meminta maaf? Ini bukan salahmu nak. Sudah, kau tenang ne.” Meskipun berkata seperti itu, Ny. Cho sendiri sebenarnya merasa tak tenang.”

“Eonni, apa saat kecelakaan oppa bersamamu?”

“Aniyo Sulli-ah. Aku sedang di butik tadi. Tiba-tiba pihak rumah sakit meneleponku memberi kabar bahwa Kyuhyun oppa kecelakaan. Mereka menghubungiku karena pada panggilan terakhir di ponsel Kyuhyun oppa adalah panggilan untukku.”

 

 

*****

 

Seohyun baru saja tiba di kampusnya. Hari ini pukul 10 pagi ia ada janji untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya. Rencananya, ia akan konsultasi untuk penyusunan skripsi yang akan ia mulai bulan depan. Semester ini, memang gadis itu telah menyelesaikan semua sks yang harus ia tempuh. Seohyun merupakan gadis yang cerdas, jadi tak heran jika ia cepat menyelesaikan kuliahnya, dan hendak mulai menyusun skripsinya.

“Annyeong seongsaengnim..” sapanya sambil membungkuk hormat pada Kim seongsaengnim, selaku dosen pembimbingnya.

“Kau sudah datang Seohyun-ah.. Nado annyeong. Duduklah.”

“Ne, kamsahamnida seongsaengnim.”

“Jadi, bagaimana?”

“Ini seongsaengnim.” Seohyun menyerahkan beberapa judul skripsi yang akan ia konsultasikan pada dosen Kim. “Ada beberapa judul yang saya buat untuk menyusun skripsi. Saya ingin meminta pendapat anda, kira-kira judul yang mana yang cocok.”

“Hemmm…….. judul yang pertama kau buat ini sudah cukup bagus kok. Sesuai. Aku punya usulan untuk tempatmu melakukan penelitian skripsi ini.”

“Usulan tempat? Apakah jika dilakukan di Seoul tidak bisa seongsaengnim?”

“Bisa-bisa saja. Tapi akan lebih akurat data yang kau dapat jika menelitinya ditempat yang ku usulkan nanti. Bagaimana?”

“Jika boleh saya tau, tempatnya dimana seongsaengnim?”

“Di kota Busan. Aku punya kenalan dosen disana, jadi kau tak usah khawatir jika mengalami kesulitan dalam melakukan penelitianmu.”

Seohyun tampak berpikir. Bagaimanapun juga hal ini tak mudah untuk nya langsung mengambil keputusan. Penelitiannya tidak hanya sehari, dua hari atau seminggu dua minggu. Bisa berbulan-bulan. Apakah ia siap jika harus tinggal di luar kota, cukup jauh dari Seoul dalam waktu yang cukup lama?

“Apa saya boleh meminta waktu seongsaengnim? Saya ingin membicarakannya dengan kedua orang tua saya dulu.’

“Baiklah. Bagaimanapun juga kau harus membicarakan hal ini dengan orang tuamu.”

“Kamsahamnida seongsaengnim. Saya berjanji, tidak lebih dari 3 hari lagi saya akan memberikan jawabannya.”

“Ya.”

“Kalau begitu saya permisi seongsaengnim. Annyeong.” Seohyun membungkuk hormat pada Dosen Kim sebelum meninggalkan ruangan namja paruh baya itu.

 

 

******

Tiga orang itu sedang terlibat dalam obrolan serius di ruangan kerja Tn.Im. Yoona, Donghae dan juga Tn.Im sendiri.

“Maafkan saya ahjussi. Saya tidak bisa memenuhi janji saya untuk melamar Yoona tahun depan. Saya mendapat tawaran beasiswa S2 di Amerika. Sekali lagi maafkan saya.”

“Beasiswa?? Bagus itu anak muda. Tapi bukannya kau sudah berasal dari keluarga mampu?”

“Ne ahjussi. Tapi saya tidak mau merepotkan orang tua lagi. Saya berharap dengan bisa melanjutkan sekolah lagi dapat membahagiakan Yoona kelak. Tanpa embel-embel orang tua.” Tn. Im tersenyum menatap calon menantunya itu. Tak ia pungkiri, dirinya bangga terhadap Donghae. Betapa beruntungnya putrinya jika kelak mereka memang berjodoh. Yah, mudah-mudahan.

“Oke, tak masalah. Kau fokuslah dulu pada pendidikan dan karirmu. Biar Yoona juga fokus dengan kuliahnya dulu lantas menyelesaikannya.”

“Ne, jeongmal kamsahamnida ahjussi.”

“Tapi aku tetap memberimu batas waktu. Jika lebih dari tiga tahun kedepan kau tak kunjung melamar putriku, maka aku akan melepas Yoona pada namja lain yang siap menjadi pendampingnya.” Yoona menoleh pada ayahnya.

“Banyak anak dari kolega appa yang diam-diam menyukaimu Yoon.” Ucap Tn. Im pada putrinya.

“Tapi appa..”

“Baiklah ahjussi. Tiga tahun lagi, Yoona akan resmi menjadi istri saya.” Jawab Donghae mantap. Ia tidak marah dengan ucapan Tn. Im. Justru ia bersyukur memiliki calon mertua seperti Tn. Im. Dengan batas waktu yang telah ditentukan itu, otomatis akan membuat Donghae bersemangat menyelesaikan sekolahnya dengan tepat waktu. Ia juga tak ingin Yoona jatuh ke namja lain. Yoona hanya untuknya.

 

******

Wanita paruh baya itu menatap sendu putranya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sudah satu minggu berjalan. Namun sang putra tak kunjung membuka matanya. Ny. Cho selalu menepis kemungkinan hal negatif yang akan terjadi pada putranya ini. Ia tidak ingin kejadian seperti pada putranya yang dulu -Jonghyun-  terjadi juga pada putranya yang ini -Kyuhyun-.  Ia tidak ingin Tuhan mengambil orang yang dia cintai untuk kesekian kalinya. Ia berharap dan akan selalu berdo’a agar Tuhan dapat menyembuhkan Kyuhyun dan memberi kebahagiaan pada keluarga mereka.

“Eomma..” panggil putri bungsunya, Cho Sulli.

“Sulli-ah, kapan kau datang?”

“Baru saja. Eomma melamun ya sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku?!” Ny. Cho tak menjawab. Beliau lebih memilih diam, dan kembali memandangi wajah putranya. Meski terlihat pucat, namun sang putra masih terlihat tampan.

“Eomma aku bawakan makanan kesukaanmu. Ja, makanlah. Dari pagi eomma belum makan.”

“Eomma tidak lapar Sulli-ah..”

“Eomma,,, jebal-yo jangan menyiksa dirimu seperti ini. Appa dan almarhum Jong oppa akan sedih jika melihatmu seperti ini. Kyu oppa pasti sembuh eomma. Dia adalah namja kuat. Dia adalah oppa terbaikku, selain Jong oppa.”

“Eomma….” Sulli menyentuh pundak ibunya.

“Ka, suapi eomma.” Akhirnya Ny. Cho mau makan. Sulli tersenyum lega karena ibunya akhirnya mau untuk makan karena sejak pagi tadi sang ibu tidak mau makan.

Ceklek. Pintu terbuka. Baik Ny. Cho maupun Sulli sama-sama menoleh pada pintu, melihat siapa yang datang.

“Annyeong..” sapa salah seorang dari yang datang tadi.

“Ne, annyeong.. nuguya?” tanya Ny. Cho. Sebelumnya beliau belum pernah bertemu dengan dua orang ini. Mungkin saja mereka adalah teman dari putranya.

“Yoona eonni.” Ucap Sulli. Meskipun Sulli tidak begitu mengenal Yoona, tapi ia tau mengenai Yoona, dan juga sahabat Yoona yang tak lain adalah Seohyun. Yeoja yang disukai almarhum oppanya.

“Kau mengenal mereka Sullia-ah?”

“Ne eomma. Ini Yoona eonni, sunbaeku di fakultas. Dia ini adalah sahabat dari Seohyun eonni. Eomma ingat kan Seohyun eonni?”

“Ohh.. ne, Seohyun yang magang dikantor oppamu itu ya?”

“Ne eomma.”

“Sebelumnya kenalkan kami ahjumma. Saya Yoona, dan ini Donghae namjachingu saya sekaligus teman dari Kyuhyun-ssi.”

“Oo… ne, senang berkenalan dengan kalian. Hah, senang jika Kyuhyun punya banyak teman seperti ini. Semoga dengan kehadiran teman-temannya bisa cepat membuat dia sadar.”

Yoona menatap Sulli penuh tanya.

“Kyuhyun oppa sudah satu minggu tidak sadarkan diri. Meskipun operasi telah dilakukan. Bahkan kata dokter, oppa bisa mengalami koma jika belum sadar juga.” Yoona menatap Donghae, dan beralih menatap sendu ke arah Kyuhyun.

“Oya eonni, Seohyun eonni kemana sekarang? Kok aku jarang melihatnya di kampus? Dan kenapa Seohyun eonni tidak ikut kesini?”

Yoona menatap lirih Sulli.

 

Flashback On

Hari itu setelah menemui dosen Kim, Seohyun meminta untuk bertemu Yoona. Seohyun bilang banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Yoona.

“Mianhae Seo terlambat. Aku tadi habis bertemu Donghae oppa bersama appa.”

“Gwaenchana Yoon. Justru aku minta maaf karena telah menyita waktumu.”

“Aishhh aku tak suka kau bicara seperti itu. Ka, ada masalah apa?”

“Aku dan Kyuhyun sudah bertemu. Kyuhyun yang memintaku bertemu untuk menjelaskan semuanya.”

“And than?” Seohyun menunduk.

“Semuanya telah berakhir Yoon..” air mata Seohyun mulai keluar. Yoona yang semula duduk berhadapan dengan Seohyun, kini beralih duduk disamping yeoja itu dan mengusap punggungnya.

“Kyuhyun oppa mendekatiku karena dia telah berjanji pada saudara kembarnya Jonghyun. Jonghyun sudah lama memendam rasa padaku. Namun ia tak sempat mengutarakannya padaku sewaktu masih hidup.”

“Kau tidak mengatakan tentang perasaanmu padanya?’ Seohyun menggeleng.

“Aku tak mau bertemu dengannya lagi Yoon. Aku benci dia. Aku tidak akan menemui dan berurusan dengan Cho Kyuhyun itu lagi..hiiikksss….hiikksss….”

Yoona diam membeku. Tadi setelah pembicaraannya selesai dengan sang ayah juga Donghae, Tn. Im memberitahukan sesuatu. Bahwa Kyuhyun tengah dirawat di rumah sakit karena kecelakaan.Tn. Im tau hal itu karena mereka adalah partner kerja. Dan rencananya setelah ini Yoona akan menceritakannya pada Seohyun. Namun melihat Seohyun yang seperti ini, ia urungkan niatnya. Ia memilih untuk bungkam.

“Sabar Seo…” hanya kata itu yang dapat keluar dari bibir Yoona.

“Hiikkss…. aku…. aku juga akan melakukan penelitian untuk skripsiku ke Busan Yoon.”

“Mwo? Busan? Kenapa tidak di Seoul saja?”

“Itu atas usul dari Dosen Kim. Aku pikir, ada untungnya juga jika aku ke Busan. Mungkin dengan begitu, akan membuatku cepat melupakan nya Yoon.”

“Seo, lari dari masalah bukanlah hal yang tepat. Lagipula apa kau sudah meminta ijin orang tuamu? Apa mereka mengijinkanmu?”

“Mereka pasti akan mengijinkanku jika sudah menyangkut pendidikanku Yoon. Aku ingin menenangkan diri disana …”

Flashback Off

“Yoon…” Yoona terkesiap dari lamunannya setelah Donghae memanggilnya.

“Nde? Ah ne Sulli-ah.. Seohyun sedang ada penelitian untuk skripsinya di Busan.”

“Ooo…pasti sibuk ya dia… “ Yoona hanya tersenyum menanggapi ucapan Sulli barusan.

 

 

******

Musim semi telah memasuki Korea Selatan. Daun-daun mulai tumbuh. Seorang gadis cantik berjalan menyusuri jalan dengan senyum yang selalu ia ukir di wajah cantiknya. Seo Joohyun, atau biasa dipanggil Seohyun baru saja pulang dari tempat ia melakukan penelitian. Gadis itu kini tinggal di sebuah rumah yang disana juga tinggal mahasiswa-mahasiswa asal Seoul yang sedang ada keperluan di Busan. Sudah genap satu bulan gadis itu di Busan. Langkahnya terhenti saat ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Dahinya mengernyit. Sudah lama sekali orang yang mengirimi pesan padanya itu tak pernah meminta bertemu dan kini tiba-tiba meminta bertemu. Ada apalagi?

Seohyun segera mengetik balasan pesan untuk yeoja yang meminta bertemu dengannya itu. Selesai membalas, ia lantas melangkahkan kaki dimana yeoja tadi memberitau keberadaannya sekarang. Dan ternyata tak jauh juga dari tempat Seohyun.

Seohyun sedikit takut untuk bertemu yeoja itu. Takut akan mendengar kata-kata yang dapat menyakitkan hatinya lagi. Seperti dulu.

“Ah kau sudah datang. Cepat sekali. Ka, duduklah.” Sapa yeoja itu ramah. Seohyun dapat melihat senyuman tulus yang yeoja itu berikan untuknya.

“Ne, tadi aku kebetulan sedang berada tak jauh dari sini. Kau sedang ada urusan apa di Busan?” Seohyun mencoba bersikap ramah pada yeoja itu.

“Hanya mencari inspirasi untuk gaun rancanganku saja. Oh ya kau mau pesan apa? Biar aku yang traktir.”

“Terserah kau saja.” Yeoja itu memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua.

“Rancangan gaunmu bagus-bagus Sooyeon-ssi… sudah cukup terkenal di Korea.”

“Jinjja? Haha…. gomawo untuk pujianmu.. eemmm Seohyun-ssi, ada sesuatu yang ingin ku beritaukan padamu.” Dahi Seohyun berkerut. ‘Tuhan semoga ini tak ada hubungannya dengan Kyuhyun.’ Pikirnya dalam hati. Sudah cukup Seohyun merasa sakit hati. Sebulan gadis itu di Busan, sudah sedikit mengobati luka hatinya. Dan ia tak mau luka itu terbuka lagi. Cukup sudah.

“Ini mengenai Kyuhyun oppa.”

“Sooyeon-ssi, maafkan aku bukannya aku tak mau menghargaimu. Tapi aku sudah tak mau lagi berurusan dengannya. Aku lelah.”

“Kyuhyun oppa koma. Sudah sebulan ini ia tak sadarkan diri. Dan kemarin, ahjumma Cho membawanya ke Amerika untuk berobat disana.”

Tubuh Seohyun seakan membeku. Kyuhyun? Koma? Dan dia tak tau apa-apa? Bahkan sudah sebulan kejadian itu. Mengapa tak ada yang memberitaunya?

“Lantas mengapa kau memberitauku mengenai hal itu?” Seohyun masih gengsi untuk mengakui isi hatinya pada Sooyeon bahwa sebenarnya ia khawatir dengan keadaan Kyuhyun.

“Jangan bohongi perasaanmu Seohyun-ssi… maafkan aku. Ini semua karenaku. Kyuhyun oppa, sebenarnya dia mencintaimu. Dan aku tau kau juga mencintainya. Aku hanyalah seorang adik dimatanya. Tak lebih. Mungkin dengan kau mau membuka hati untuk memaafkannya, dia akan sadar.”

Sooyeon menggenggam tangan Seohyun. “ Kau boleh marah padaku. Luapkan semuanya padaku. Tapi jangan pada Kyuhyun oppa. Cintanya padamu memang tulus adanya. Bukan karena janjinya pada Jonghyun oppa. Dia memang benar-benar mencintaimu. Jebal Seo… maafkan dia..”

“Tapi….tapi apa pengaruh untuk nya jika aku sudah memaafkannya? Toh dia ada di Amerika.”

“Aku akan merekam suaramu. Katakanlah sesuatu untuknya. Mengenai isi hatimu. Aku akan mengirimnya pada ahjumma Cho.” Sooyeon meletakkan sebuah voice recorder di hadapan Seohyun.

 

 

******

2,5 years later

“Ayolah Seo…ikutlah denganku.. tak lama kok.” Yoona sedari tadi terus merengek meminta antar ke suatu tempat yang masih Yoona rahasiakan.

“Aniyo aniyo. Kau merahasiakan kita akan kemana. Tentu aku tidak akan mau. Lagipula aku masih banyak pekerjaan Yoon.”

“Jinjja kau ini. Nanti aku akan beritahukan padamu saat kita di mobil. Yaksok.”

Seohyun memutar bola matanya jengah.

“Kenapa tidak meminta antar Donghae saja?”

“Oppa sedang menjemput temannya di bandara Seo. Ah sudahlah kajja.” Yoona menarik tangan Seohyun, sebelum yeoja itu kembali membuat seribu alasan untuk menolak ajakannya.

Dua setengah tahun berlalu, kini Seohyun telah bekerja di Cho Grup. Ia sebenarnya diminta Minho untuk bekerja disana. Dan kebetulan setelah lulus, Seohyun belum mendapat pekerjaan. Jadi ia terima saja. Minho meminta bantuannya untuk menghandle Cho Grup selama sang pemimpin tidak ada. Dan setelah bekerja selama satu tahun di Cho Grup, yeoja itu sudah cukup membawa keberhasilan bagi perusahaan itu. Tentunya bersama Minho juga. Sedangkan Yoona? Gadis itu baru beberapa bulan ini bekerja di perusahaan milik ayahnya. Dan dua bulan yang lalu, Donghae telah kembali dari Amerika lantas melamarnya. Rencananya, sebulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. Hemm….mengenai Kyuhyun? Bagaimana ya kabar namja itu? Dua setengah tahun sudah meninggalkan Korea.

 

“Kau mengajakku ke tempat seperti ini? Memaksaku untuk menelantarkan pekerjaanku? Isshhh jinjja kau ini Yoon..”

“Kau ini seperti nenek lampir saja. Sudah diam, duduk disini. Jangan kemana-mana.”

“Loh, kau mau kemana? Loh loh loh… Yoon… Im Yoonaa…. “ teriak Seohyun saat Yoona berlari meninggalkannya. Gadis itu menghembuskan nafas kesalnya. Dia hanya bisa duduk, diam. Menuruti kata sahabatnya tadi.

Seohyun terus menggerutu sebal. Pasalnya Yoona dengan seenaknya meninggalkannya, menyuruhnya hanya duduk diam di kursi taman yang cukup sepi ini. Apa maksudnya coba?? Gadis itu berdiri, hendak meninggalkan taman.

“Eh.” Kagetnya saat merasa ada yang menahan pergelangan tangannya. Seohyun menunduk, menatap tangan yang menggenggam pergelangan tangannya. Lantas mendongak menatap orang yang menggenggam tangannya itu.

Deg. Jantungnya berpacu lebih cepat saat kedua bola matanya bertatapan dengan bola mata coklat hazel yang ia rindukan itu. Dua setengah tahun berlalu, akhirnya ia bisa bertemu dengan namja itu lagi. Cho Kyuhyun.

“Maafkan aku telah membuatmu menunggu lama.” Seohyun tak dapat berkata apa-apa. Lidahnya kelu untuk berucap. Ia bersyukur akhirnya Tuhan mau mendengar do’anya, untuk membuat Kyuhyun kembali sembuh.

Grep… Kyuhyun membawa tubuh Seohyun ke dalam pelukannya. Membawa kehangatan dan kenyamanan untuk gadis itu. Tubuh Seohyun bergetar, menahan agar suara tangisnya tak keluar. Tapi percuma, Kyuhyun tau jika gadis itu kini tengah menangis.

“Mianhae Seohyun-ah… jeongmal mianhaeyo…”

“Kyuhyun-ssi…..hikkkss…..hiikksss…..”

“Uljima…..” mereka kembali diam. Mencoba menikmati moment ini. Kyuhyun membiarkan Seohyun meluapkan semuanya. Biarlah saat ini gadis itu menangis. Setelah ini namja itu tak akan dan takkan pernah membuat Seohyun menangis lagi. Janji.

 

 

*****

Takdir. Sesuatu yang telah Tuhan tetapkan untuk umatnya. Meskipun terkadang mungkin beberapa orang memiliki takdir yang tidak seperti harapannya, namun percayalah. Tuhan tak akan membuat umatnya merasa sengsara. Kebahagiaan itu pasti datang, meskipun kita tidak tau kapan datangnya. Singkatnya, kebahagiaan itu akan datang di akhir cerita. Dan inilah akhir cerita dari seorang Seo Joohyun. Awal perkenalannya dengan namja hantu bernama Jonghyun membawanya hingga mengenal Kyuhyun. Seseorang yang telah Tuhan takdirkan untuknya.

Tak henti-hentinya Seohyun memandangi wajah Kyuhyun yang tengah serius membaca dokumen di ruang kerjanya. Dua bulan setelah pernikahan Yoona nanti, giliran ia dan Kyuhyun yang akan melangsungkan pernikahan. Dan sekarang, ia selalu menemani Kyuhyun untuk mempelajari dokumen-dokumen perusahaan.

Seohyun bersyukur, usahanya selama 2,5 tahun tak sia-sia. Selama 2,5 tahun itu pula ia selalu mengirimkan rekaman-rekaman suaranya untuk Kyuhyun pada Ny.Cho. berharap namja itu segera bangun dari komanya. Dan ternyata sebulan sebelum kembalinya Kyuhyun ke Korea, namja itu telah sadar. Namun Kyuhyun meminta pada ibunya serta Donghae dan Yoona agar merahasiakannya dari Seohyun. Ingin memberi kejutan.

“Kau akhir-akhir ini hobi sekali memandangiku chagi. Apakah aku setampan itu?”

“Ne, kau tampan oppa. Sangat tampan.”

“ahaahaha… kau ini. Kau juga cantik sayang… lebih cantik dari siapapun.”

“Hmmm…..gombal.”

“Aniyo…aku bicara yang sesungguhnya.”

“Ne ne ne, aku memanglah gadis cantik.”

“Sayang..”

“Nde oppa?”

Grep, Kyuhyun memeluk tubuh ramping Seohyun.

“Saranghaeyo….saranghaeyo….saranghaeyo….” Seohyun terseyum mendengarnya.

“Oppa sudah terlalu sering mengucapkannya padaku sejak kembali dari Amerika.”

“Apa kau bosan mendengarnya?”

“Aniyo… aku senang, sangat senang… nado jeongmal saranghaeyo Kyuhyun oppa..” Kyuhyun menunduk, menatap wajah cantik sang gadis. Seohyun mendongak, ikut menatap Kyuhyun. Mereka sama-sama tersenyum. Segala syukur mereka panjatkan pada Tuhan karena masih memberi kesempatan pada mereka untuk dapat berbagi, menjalani hidup bersama sebagai suami istri kelak.

Seohyun menutup kedua bola matanya. Menikmati sentuhan bibir Kyuhyun pada bibirnya. Menyalurkan perasaan mereka berdua. Namun masih dalam batas wajar. Bukankah dua bulan lagi pernikahan mereka akan dilangsungkan? Jadi sudah ada waktunya sendiri. Untuk saat ini, mereka hanya ingin berbagi cinta melalui ciuman hangat.

 

 

END

Kya kyaaa kyaaaa….. akhirnya berakhir sudah… #lapkeringet ffffiiuuhhhhh….. hah, maafkan saya readers sekalian, gak bisa bikin ending yang memuaskan. Ini sudah batas maksimal kemampuan saya… mianhae…. yang penting SeoKyu YoonHae happy ending kan? Kekekekeke….. maaf juga Sooyeon(Jessica) author bikin jadi antagonis disini,, tapi kan akhirnya dia insaf(?) hehehe….

Okkeee lah, terimakasih banyak untuk readers setia yang selalu mengikuti ff ini… terimakasih banyak.

Sampai jumpa di ff Choi Yoo Rin selanjutnya J

Saranghae chap 10a

Judul : Saranghae

Author : Choi Yoo Rin

Cast : Cho Kyuhyun, Cho Jonghyun, Seo Joohyun, Im Yoona, Lee Donghae etc.

Genre : fantasy, romance, sad

Length : chapter

Disclaimer : ide cerita murni milik author, castnya author hanya meminjam selebihnya mereka milik Tuhan, orang tua dan agensi mereka.

 

 Happy reading.

 

 

 

Jika aku bukan jalanmu

Ku berhenti mengharapkanmu

Jika aku memang tercipta untukmu

Ku kan memilikimu

 

 

 

Seohyun berjalan tergesa setelah keluar dari taksi yang ia naiki menuju taman tempat ia janji bertemu dengan seseorang. Seseorang yang meneleponnya tadi siang. Gadis itu memang telah terlambat dari waktu yang telah mereka sepakati. Setelah memasuki area taman, Seohyun mengedarkan pandangannya kesekeliling taman, mencari orang itu. Meskipun hanya sekali bertemu orang itu dulu, namun ia masih ingat wajah orang yang mengajaknya bertemu ini. Yang artinya ini adalah pertemuan kedua mereka. Seohyun menghembuskan nafas lega melihat orang itu masih menunggunya. Duduk di salah satu bangku taman. Tak mau menunggu lama, ia segera menghampiri orang itu.

“Sooyeon-ssi, maaf membuatmu menunggu lama.” Orang itu, Sooyeon mendongak menatap Seohyun.

“Oh, kau sudah datang. Gwaenchana. Silahkan duduk.” Sooyeon menggeser bokongnya, memberi tempat untuk Seohyun duduk. Suasana canggung sangat terasa diantara mereka. Banyak pertanyaan yang ada di benak Seohyun mengapa yeoja ini mengajaknya untuk bertemu.

“Pasti kau sudah bertanya-tanya mengapa aku mengajakmu bertemu saat ini.” Sooyeon menoleh pada Seohyun, namun Seohyun tetap menatap lurus kedepan.

“Ini menyangkut dirimu, aku dan Kyuhyun oppa.” Mendengar nama Kyuhyun disangkut pautkan membuat yeoja itu seketika menoleh pada Sooyeon. Dapat dilihatnya, Sooyeon tersenyum penuh arti.

“Aku…. tidak akan mengintrogasimu mengenai seberapa jauh hubungan kalian. Saat ini, hanya satu yang ingin aku tegaskan padamu. Apa kau tau Kyuhyun oppa dulu menyukaiku?”

“Nde?”

“Sepertinya kau tidak mengetahuinya. Itu dulu sebelum aku sekolah ke Paris. Aku tidak tau jika dia menyukaiku, andaikan aku tau aku tidak akan pergi ke Paris. Dan yah, sekarang aku telah kembali. Aku ingin mengejar cintaku yang sempat tertunda.”

“Ehm, Sooyeon-ssi…”

“Aku tau kau mengerti arah pembicaraanku. Ku harap kau bisa memakluminya Seohyun-ssi. Kau tidak akan menjadi penghalang dua insan yang sudah sempat terpisah bukan?”

Seohyun menunduk. Matanya mulai memanas. Sebisa mungkin gadis itu menyembunyikan wajahnya sekarang dari tatapan Sooyeon.

“Mianhae jika aku telah menghalangi hubungan kalian.”

“Tidak masalah. Asal setelah ini kau pergi dari kehidupan Kyuhyun oppa. Dia akan sulit untuk mau menerimaku lagi jika masih ada yang mengganjal dihatinya. Dan mungkin dia menganggap kau hanya pelarian sesaatnya karena tak ada aku.”

“Ne, kau tak usah khawatir. Aku sudah selesai magang di kantornya. Setelah ini, aku tidak akan menemuinya lagi.”

“Baguslah. Aku pegang ucapanmu Seohyun-ssi. Sepertinya sudah selesai apa yang harus ku bicarakan denganmu. Kalau begitu aku permisi.”

Seohyun masih duduk diam di tempatnya, memandang punggung Sooyeon yang mulai menjauh. Isakan mulai terdengar dari mulutnya. Air mata itupun akhirnya jatuh.

 

 

******

 

Yoona meremas kedua tangannya gelisah. Ia mondar-mandir di depan ruangan sidang Donghae. Sudah dua jam setengah kekasihnya itu berada di dalam namun tak kunjung keluar juga. Gadis itu resah, takut telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan olehnya maupun sang kekasih yang tengah menghadapi tiga dosen penguji itu.

Ceklek. Pintu ruangan itu pun terbuka. Melihat kekasihnya keluar, Yoona segera memeluk sang kekasih. Tanpa bertanya bagaimana hasil dari sidang barusan, gadis itu masih enggan melepas pelukannya. Sadar kekasihnya tak tenang, Donghae mengusap punggung sang kekasih. Bukankah dalam situasi ini harusnya Yoona lah yang menenangkan Donghae, sedangkan ini malah terbalik. Itulah Donghae, selalu bisa menenangkan sang kekasih disaat gadisnya panik atau apapun.

“Jadi bagaimana?” tanya Yoona akhirnya setelah melepas pelukan eratnya dari Donghae. Donghae tersenyum hangat menatap kekasihnya itu.

“Lancar? Tak dipersulit oleh dosen pengujimu kan oppa?” tanya Yoona lagi memastikan.

“Ne. Semuanya lancar. Aku sudah dinyatakan lulus dan siap di wisuda satu bulan lagi.”

“Jinjjayo??? Chukkae oppa…. hah syukurlah jika begitu. Aku sangat khawatir, pasalnya oppa dua jam setengah di dalam. Aku takut terjadi sesuatu.”

“Kau meragukan kekasihmu ini eoh?”

“Bukannya begitu oppa. Aku…..hanya takut saja.”

“Gwaenchana. Semuanya sudah berlalu. Emmm Yoon, sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”

“Sepertinya penting ya oppa? Oppa mau bicara disini atau kita cari tempat lain?”

“Kita ke taman kampus saja. Kajja.” Donghae menggandeng tangan Yoona, membawa yeoja itu ke taman kampus yang ada di belakang fakultasnya.

Melihat gelagat sang kekasih, Yoona merasa was-was. Ia takut akan sesuatu yang akan Donghae bicarakan. Pasalnya sang kekasih masih terlihat belum tenang setelah keluar dari ruangan sidang barusan.

“Jadi, apa yang mau oppa bicarakan padaku?” tanya Yoona setelah mereka duduk di salah satu bangku taman.

“Dosen pembimbingku menawarkan kerja sama perusahaannya yang ada di Amerika. Disana perusahaannya tidak ada yang menghandle. Oleh karena itu beliau memintaku untuk menghandle sekaligus selama menyelesaikan study S2 ku disana. Aku……mendapat tawaran beasiswa Yoon, S2 di Amerika.”

Yoona mengerjapkan kedua matanya, menatap sang kekasih. Bingung. Harusnya ia senang bukan mendengar berita itu? Namun tak dapat ia pungkiri, ada rasa tak rela dan sedih yang kini menyelimutinya.

“Aku meminta pendapatmu karena kau adalah bagian dari hidupku Yoon. Aku serius denganmu. Jika memang kau tak mengijinkan aku mengambil S2 itu, aku akan melepasnya.”

Yoona menggeleng kuat. “Aniyo, aniyo. Tidak boleh. Oppa harus mengambil beasiswa itu. Oppa tidak boleh menyia-nyiakannya. Aku mendukungmu oppa.”

“Kau yakin? Jika aku tetap mengambil beasiswa itu, otomatis 2 tahun kita akan berhubungan jarak jauh Yoon.”

“Aku percaya dan akan selalu percaya padamu oppa. Demi pendidikan dan karirmu aku ikhlas.” Donghae tersenyum hangat. Kekasihnya telah menjadi yeoja dewasa sekarang. Ia peluk gadis yang amat sangat ia sayang itu. Kini tinggal ia menjelaskan pada Tn. Im jika tahun depan ia tak bisa memenuhi janjinya untuk menikahi Yoona. Namun ia janji dan bertekad, dua tahun lagi ia akan segera melamar gadisnya itu. Tak ada penundaan lagi. Namun itupun jika Tn. Im menyetujui niatnya. Yah, semoga saja.

 

******

 

Seohyun berjalan lesu di koridor kampusnya. Hari ini ia telah kembali ke kampus setelah selesai magang selama dua bulan di perusahaan Kyuhyun. Kata-kata Sooyeon kemarin masih ternging-ngiang di otaknya. Ia bimbang, ragu harus berbuat apa. Disisi lain masih ada penjelasan yang ingin ia dapatkan dari Kyuhyun mengenai namja itu serta Jonghyun, namun ia juga telah berjanji pada Sooyeon bahwa ia akan menjauh dari kehidupan Kyuhyun setelah gadis itu selesai magang.

Getar ponsel membuyarkan lamunan Seohyun. Ia berhenti berjalan lantas merogoh tasnya untuk melihat siapa yang meneleponnya. Bibir gadis bermata bulat itu tertarik ke atas setelah melihat id sang penelepon.

“Yoboseyo Yoon…” ucapnya setelah mengangkat telepon yang ternyata dari sahabatnya.

“………………………..”

“Ne, aku dikampus sekarang. Kau dimana?”

“………………………..”

“Baiklah, aku akan kesana. Aku sudah tidak ada mata kuliah lagi.”

“……………………….”

“Oke, annyeong.”

Klik. Seohyun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang hitam miliknya itu. Ia kemudian keluar dari kampusnya, mencegat taksi menuju tempat Yoona berada sekarang. Sudah lama mereka tidak mengobrol berdua. Seohyun sangat merindukan sahabatnya itu. Banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Yoona. Ya, hanya Yoona yang bisa berbagi keluh kesah dengannya saat ini. Beruntung sekali tadi Yoona meneleponnya. Ah, kenapa Seohyun tak kepikiran untuk menemui sahabatnya itu tadi??

15 menit, sampailah Seohyun di cafe yang tak jauh dari kantor tempat Yoona magang saat ini. Setelah membayar taksi, ia segera memasuki cafe tersebut dan mencari keberadaan sang sahabat.

“Apa kabar Yoon?” tanya Seohyun setelah mendekat ke meja tempat Yoona duduk. Ia memeluk sahabat yang entah beberapa hari ini tidak ia temui.

“Aku baik. Kau sendiri?” jawab Yoona setelah melepas pelukannya.

“Aku……. eemmm…” Seohyun ragu untuk menceritakan masalahnya pada Yoona. Ia melihat Yoona sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan Yoona yang biasanya. Batin Seohyun.

“Sepertinya ada yang harus kau ceritakan padaku Seo. Kajja, ceritakanlah. Aku siap menjadi pendengarmu.” Yoona tersenyum hangat pada sahabat yang sudah ia kenal sejak SMP itu.

“Aku belum meminta penjelasan dari Kyuhyun mengenai hubungannya dengan Jonghyun dan kenapa Jonghyun bisa mengetahui tentangku.”

“Mwo? Wae? Kenapa kau tidak meminta penjelasan darinya?”

“Aku belum siap Yoon. Akh, mungkin lebih tepatnya situasi saat ini yang tidak tepat.”

“Lho memangnya kenapa? Aku sarankan kau cepat meminta penjelasan padanya. Aku ingin kesalahpahaman kalian cepat berakhir.”

“Aku juga berharap begitu.. tapi…. ada sesuatu yang membuatku enggan berhubungan dengan namja itu lagi.” Hening. Yoona menatap intens sahabat yang ada di hadapannya itu yang kini tengah menerawang. Memikirkan sesuatu.

“Kau tau? Aku sudah berhenti magang di perusahaannya.” Kembali Seohyun bersuara. Yoona masih diam. Menunggu Seohyun melanjutkan bicaranya.

“Kyuhyun-ssi, dia……. sudah ada seseorang yang ia sayang. Dia sudah menyimpan rasa itu sejak dulu.” Yoona mengerutkan kedua alisnya. Sebenarnya dalam masalah hadirnya Jonghyun dalam kehidupan Seohyun saat ini tidak ada hubungannya dengan Kyuhyun sudah punya seseorang yang ia sayang apa belum. Dan dari pernyataan Seohyun barusan, Yoona menarik kesimpulan jika Seohyun memanglah ada rasa terhadap mantan bosnya itu.

“Jinjja?? Nugu??”

“Sooyeon. Yeoja cantik yang baru saja kembali dari Paris dan baru membuka butik di sini. Dia adalah teman lama Kyuhyun-ssi dan juga Jonghyun.” Seohyun menunduk. Meremas kedua tangannya.

“Seohyun-ah….. apa kau menyukai Kyuhyun?” pertanyaan Yoona barusan membuat Seohyun mendongakkan kepalanya lagi, menatap Yoona.

“Mollaseo Yoon. Aku bingung apakah aku sudah bisa dikatakan menyukainya atau tidak.”

“Aisshhh jinjja… “ Yoona menatap gemas sahabatnya itu. Bagaimana mungkin tidak mengerti apa yang ia rasakan sendiri. Dasar pabo. Umpat Yoona dalam hatinya. Saking gemasnya.

“Emmm, begini saja. Apa kau merasa tidak suka saat tau Kyuhyun bersama gadis lain? Merasa tidak rela begitu?” Seohyun mengangguk.

“Lalu apa kau merasa jantungmu berdetak dua kali lipat dari biasanya saat bersama Kyuhyun?” Seohyun kembali mengangguk. Terdengar helaan nafas dari Yoona.

“Saranku, kau sebaiknya menemui Kyuhyun untuk menyelesaikan persoalan kehadiran Jonghyun. Saat itu juga kau harus mengakui perasaanmu padanya.”

“Mwo?? Andwae andwae!!” tolak Seohyun mentah-mentah.

“Ooo jadi kau mau masih ada kesalahpahaman diantara kalian?? Bukannya kau sempat marah dan mengusir Kyuhyun saat ingatanmu baru pulih dulu?”

“Tapi Yoon, tidak mungkin aku mengatakan perasaanku padanya. Aku tidak mau.”

“Okkee, masalah perasaanmu kita pikirkan nanti. Yang penting adalah menyelesaikan kesalahpahaman diantara kalian.” Seohyun tidak menolak, namun tidak juga mengiyakan. Ia memandang kearah lain, menerawang, memikirkan sesuatu. Yoona yang awalnya ingin mencurahkan keluh kesah yang ia alami hari ini, mengurungkan niatnya. Bukan tidak ingin berbagi, hanya waktunya saja yang belum tepat. Seohyun jauh membutuhkan dirinya saat ini.

 

******

 

Dua namja itu masih terdiam. 15 menit berlalu tidak ada yang memulai pembicaraan. Memang saling tatap, tapi pikiran keduanya menerawang jauh. Memikirkan sesuatu.

“Ehm.. Kyuhyun-ssi, seperti yang sudah aku katakan semalam lewat telepon aku ingin kita bertemu hari ini membahas sesuatu. Ini mengenai Seohyun.” Namja yang satu, Donghae akhirnya membuka suara. Ya memang dia yang mengajak Kyuhyun untuk bertemu. Semalam, Yoona meneleponnya. Mencurahkan semua yang telah Seohyun alami padanya. Yoona memintanya untuk bicara dengan Kyuhyun, lebih tepatnya menyarankan Kyuhyun agar mau mengajak Seohyun untuk bertemu dan membicarakan semua. Semua masalah mereka. Dan Donghae menyanggupinya. Ia sudah menganggap Kyuhyun dan Seohyun sebagai sahabat meski tidak terlalu akrab.

“Kenapa kau yang menemuiku untuk membicarakan masalah itu? Apa Seohyun yang memintamu?”

“Aniyo, bukan begitu. Semalam Yoona telah menceritakan semuanya padaku. Mungkin aku dan Yoona terkesan ikut campur masalah kalian, tapi bukan begitu maksud kami. Kau namja dewasa Kyu, kurasa kau sudah bisa mengerti maksudku.”

“Ne, aku mengerti. Terimakasih sudah mau membantu kami. Lantas darimana kita mulai bahas masalah aku dengan Seohyun?”

“Sepertinya harus kau yang berinisiatif mengajaknya bertemu dan membicarakan masalah kalian. Itu yang Yoona sarankan untuk ku bicarakan padamu.”

“Artinya Seohyun tidak mau bertemu denganku? Mengajakku dahulu begitu?” Donghae mengedikkan bahunya, tanda ia tidak begitu memahami yang Seohyun mau atau tidak mau sebenarnya.

“Mungkin ini ada hubungannya dengan yeoja yang bernama Sooyeon.” Kedua alis Kyuhyun bertaut. Sooyeon? Memangnya ada apa dengan Seohyun dan Sooyeon? Pertanyaan itu seketika terlintas di benak Kyuhyun setelah Donghae menyebut nama Sooyeon.

“Maksudmu Donghae-ssi?”

“Aku juga kurang begitu tau Kyu. Sekali lagi sebaiknya kau telepon Seohyun, ajak dia bertemu dan selesaikan masalah kalian.”

 

******

 

 

Gadis cantik itu meletakkan sebuket bunga di depan nisan bertuliskan nama seseorang. Cho Jonghyun. Sang gadis mengusap nama yang terukir di sana. Mata bulatnya mulai berkaca-kaca. Gadis itu, Seohyun tersenyum getir menatap nama Jonghyun. Ia merasa bukanlah orang yang baik untuk Jonghyun. Jonghyun yang tulus mencintainya, bahkan hingga ia sudah meninggalpun masih mau menemui Seohyun. Sedangkan Seohyun? Ia malah tidak menyadari jika sejak SMP sudah ada yang menyayanginya begitu tulus.

“Mianhae Jong-ssi.. jeongmal mianhaeyo..” ucapnya serak. Seohyun tersentak saat merasakan ada yang menyentuh pundaknya. Mata bulatnya yang masih mengalirkan air mata itu bertambah bulat setelah melihat siapa yang menyentuh pundaknya.

“Jong-ssi, kau?” Jonghyun tersenyum. Ah, yeoja ini masih saja penakut. Pikir Jonghyun.

“Mianhae, jika aku mengagetkanmu Seohyun-ah.”

“An…aniyo… aku…aku…”

“Kajja, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Seohyun hanya pasrah. Ia berdiri, mengikuti langkah Jonghyun.

“Pejamkan kedua matamu.” Seohyun memejamkan kedua matanya. Ia tidak merasakan apapun. Perlahan genggaman tangan Jonghyun terlepas dari tangannya,, karena Jonghyun tak kunjung menyuruhnya membuka mata, Seohyun lantas membuka matanya. Ia kerjap-kerjapkan kedua matanya, menyesuaikan dengan cahaya.

Ia melihat Jonghyun berdiri tak jauh darinya. Memandang ke arah pemandangan kota.

“Jong-ssi, ini…..”

“Ya, ini adalah tempat yang pertamakali kita kunjungi bersama. Tapi bedanya saat itu malam hari. Kalau tidak salah kau saat itu tidak bisa tidur bukan?”

“Ne… emmm kenapa kau mengajakku kesini?”

“Hanya ingin kesini bersamamu saja. Mungkin dapat dikatakan yang terakhir kalinya.”

“Maksudmu?”

“Aisshh jinjja, kau ini pabo juga ya.” Seohyun merengut sebal. Jonghyun tersenyum, lega karena berhasil membuat suasana mencair, setidaknya dengan lelucon yang ia buat.

“Kau kan tau aku ini hantu. Tidak akan selamanya aku ada di dunia dan bisa menemuimu. lagipula, nanti Kyuhyun akan marah padaku jika terus-terusan mengajakmu bertemu hanya berdua.”

“Apa hubungannya dengan Kyuhyun?”

“Sudahlah, aku sudah tau semuanya. Menurutku kalian itu hanya mementingkan ego masing-masing. Kalo sudah saling suka, ungkapkan saja.”

“Saling suka?”

“Ahahahahaha, tuh kan. Pasti hanya potongan kalimat itu yang benar-benar kau cerna dalam otakmu. Kau senang kan?”

“Nde? Aa…ak…aku tidak mengerti maksudmu Jonghyun-ssi.” Seohyun terlihat gugup. Sebenarnya ia mengerti yang Jonghyun maksud. Tapi ia terlampau malu untuk bicara jujur jika ada perasaan senang yang kini tengah ia rasakan.

“Seohyun-ah, sudahlah. Hilangkan egomu dulu sejenak. Ajak Kyuhyun bertemu. Selesaikan masalah kalian. Aku minta maaf, semua ini terjadi karena kehadiranku di kehidupanmu. Kyuhyun sama sekali tidak tau menau tentang yang ku rencanakan. Dia hanya tau satu hal, yaitu permintaanku untuk selalu melindungimu.” Seohyun tertegun. Sebegitu besarnyakah cinta Jonghyun untuknya? Hingga maut menjemputnya pun masih mau memikirkannya, meminta Kyuhyun untuk melindunginya?

 

 

*****

 

 

Seohyun terus meremas kedua tangannya. Mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia tidak berani menatap seseorang yang kini duduk berhadapan dengannya. Meskipun suasana cafe tempat mereka bertemu saat ini cukup ramai, namun Seohyun merasa suasana nya hening. Hanya ia dan orang itu yang ada. Gadis itu tidak tahan dengan suasana seperti ini. Ia beranikan diri untuk mendongak, menatap orang itu. Kyuhyun.

“Bukankah saat kau terakhir magang dikantorku aku sudah bertanya padamu, apakah tidak ada penjelasan yang kau inginkan dariku. Kau bilang tidak ada. Tapi nyatanya? Banyak yang harus kita selesaikan.” Seohyun menatap tak percaya pada Kyuhyun. Mengapa Kyuhyun berkata seperti itu padanya??

“Mianhae. Itu karena aku merasa waktunya belum tepat.”

“Lantas? Kenapa kau tidak kunjung menghubungiku lagi? Sampai-sampai orang lain yang harus ikut campur masalah kita.” Seohyun mengerutkan alisnya.

“Donghae dan Yoona. Bukankah mereka sudah jauh ikut campur dalam masalah kita? Kenapa kau lebih memilih bercerita semuanya pada mereka dulu dibanding aku? Bukannya yang punya masalah denganmu adalah aku?”

“Kyuhyun-ssi, aku…. aku-“

“Oke, niatmu mungkin hanya ingin berbagi dengan Yoona. Tapi aku tidak suka.” Seohyun menunduk. Kenapa menjadi ia yang terpojok? Bukankah harusnya dia yang marah disini?

“Jonghyun adalah saudara kembarku. dia begitu mengagumi dan menyayangimu sejak pertama kali kalian bertemu. Saat dia SMP. Ini, dari buku diary ini kau bisa tau lebih jauh mengenai semuanya.” Kyuhyun menyerahkan sebuah buku diary pada Seohyun. Diary milik Jonghyun. Seohyun menerima diary itu, membuka halaman awalnya.

“Sudahkan? Hanya itu kan yang kau butuh untuk ku jelaskan?”

“Nde? Ah..ne..”

“Baiklah, aku permisi dulu. Masih banyak pekerjaan di kantor.

Seohyun menggigit bibir bawahnya, menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menghilang di balik pintu masuk cafe. Sebenarnya masih ada 1 hal yang ingin ia selesaikan dengan Kyuhyun, tapi… ah sudahlah. Mungkin memang dirinya harus memendam perasaannya sendiri. Menghapusnya lebih baik. Hubungannya dengan Kyuhyun tak lebih dari mantan bos dan sektretaris. Hanya itu.

 

*****

 

Tuk …. tuk …. tuk …. suara ketukan bolpoin terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ruangan kerja seorang Im Yoona. Sedari tadi ia hanya melamun, mengetuk-ngetukkan bolpoin ke meja kerjanya. Pikirannya saat ini ada dimana-mana. Lebih tepatnya kepikiran akan Donghae yang beberapa bulan lagi pergi ke Amerika, meninggalkannya untuk melanjutkan study S2. Yoona ikhlas memang, membiarkan Donghae melanjutkan sekolahnya ke luar negeri tapi dalam lubuk hati terdalamnya ia hanyalah gadis biasa. Ia juga merasa was was, takut. Selama ini ia tidak pernah membina hubungan jarak jauh dengan kekasihnya itu.

Ceklek.. suara pintu terbuka akhirnya membuatnya kembali tersadar dari lamunannya.

”Appa….” gumamnya lirih saat melihat ayahnya yang masuk ke dalam ruang kerjanya.

“Mau makan siang dengan appa?” tawar Tn. Im.

“Ah, sudah jam makan siang ya? Baiklah. Kajja.” Tn Im tersenyum simpul melihat putrinya itu. Sesuatu memang telah terjadi pada sang putri. Hey, meskipun ia seorang ayah ia juga telah merawat putrinya selama 22 tahun tentu sangat hafal betul sifat-sifat putri semata wayangnya itu. Meskipun ikatan batin mereka tak sekuat dengan ikatan batin sang putri dengan ibunya. Jika boleh diakui, sebenarnya Yoona lebih dekat dengan sang ayah daripada ibunya. Bukannya tidak dekat juga dengan ibunya, hanya Yoona merasa nyaman berkeluh kesah dengan ayahnya dulu baru ke ibunya.

“Kau mau makan apa sayang?” tanya Tn. Im, saat ini mereka dalam perjalanan.

“Terserah appa saja.” Tuh kan, benar memang ada sesuatu yang telah terjadi. Biasanya Yoona akan antusias memilih menu makan bila keluarganya akan makan diluar.

“Baiklah.” Tn. Im lantas melajukan mobilnya menuju tempat makan favorit sang putri. Tak butuh waktu lama, sampailah mereka di rumah makan yang menyediakan makanan khas Korea. Yoona memang lebih suka makanan khas dalam negeri ketimbang makanan barat.

Setelah memarkir mobil, mereka memasuki rumah makan itu yang terlihat cukup padat pengunjung. Tn. Im memilih tempat duduk di dekat jendela menghadap ke arah jalan. Yoona hanya diam, mengikuti ayahnya.

“Appa mau membuatku gemuk memilih makan disini?’ ucapnya setelah duduk dan meletakkan tasnya.

“Ne, kau memang harus menambah berat badanmu sayang.” Yoona hanya tersenyum menanggapi.

Seorang pelayang menghampiri keduanya, setelah sama-sama memesan makan Tn. Im kembali membuka suara.

“Appa serius Yoon. Kau memang harus menambah berat badanmu. Kau tidak mau kan Donghae melirik wanita lain karena kau terlalu kurus?”

“Aisshhh appa ada-ada saja. Mana ada laki-laki selingkuh karena kekasihnya kurang berat badan.” Setelah menjawab itu, Yoona menatap ke arah luar kaca jendela. Pandangannya sayu, kembali teringat Donghae. Ia tidak sanggup jika yang dikatakan ayahnya benar terjadi. Bagaimana jika nanti Donghae menduakannya dengan wanita lain yang lebih seksi di Amerika sana?? Melihat tingkah sang putri, sudah dapat Tn. Im tebak jika masalah sang putri ada hubungannya dengan Donghae.

“Kau ada masalah dengan lelaki itu?”

“Nde? Aaa, bukan hal serius kok appa.” Yoona mencoba tersenyum, namun dimata ayahnya senyum itu terkesan terpaksa.

“22 tahun kau bersama ayah. 22 tahun ayah merawat dan membesarkanmu, jadi jangan berusaha menutupi apa-apa dari ayah. Ayah tau betul sifatmu Yoon.” Yoona menghembuskan nafas lelahnya. Memang salah jika ia mencoba terlihat baik-baik saja dihadapan sang ayah karena percuma. Oke, mungkin ini saatnya ia berbagi keluh kesahnya dengan sang ayah.

Sebelum ia mulai bercerita, seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka.

“Kamsahamnida agassi.” Ucapnya Yoona pada pelayan.

“Mau bercerita sambil makan atau makan dulu?” tawar Tn. Im.

“Aku ingin menikmati makanan ini dulu appa.” Tn. Im tersenyum. Setidaknya masalah yang sedang dihadapi sang putri, tak membuat putrinya itu kehilangan selera makan.

 

****

 

 

Kyuhyun tak fokus mengendarai mobilnya. Berkali-kali ia memukul stir mobilnya. Ia frustasi. Menyalahkan diri sendiri, betapa bodohnya dirinya, mengatakan hal-hal kasar pada Seohyun. Gadis yang ia cintai. Apalagi nada bicaranya tadi cukup dingin. Ia juga menyesal, mengapa tadi ia tak mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada yeoja itu?

“Mianhae Seohyun-ah..” gumamnya.. kedua tangannya meremas stir, kakinya menginjak pedal gas semakin kencang. Ya, ia harus kembali ke cafe tempat ia bertemu Seohyun tadi.. Minta maaf karena telah berkata kasar pada Seohyun, sekaligus mengutarakan perasaannya. Semoga saja Seohyun belum pergi dari sana.

Setelah hatinya benar-benar mantap, Kyuhyun memutar arah. Ia berbalik, kembali ke tempat dimana tadi ia meninggalkan Seohyun. Ia berharap semoga gadis itu masih disana. Senyum tipisnya tercipta, membayangkan ia akan mengutarakan perasaannya pada seorang gadis untuk pertama kalinya. Apapun jawaban Seohyun nantinya, ia sudah siap menerima. Yang terpenting, ia sudah lega. Daripada terus memendam.

Melihat rambu lalu lintas menyala merah, Kyuhyun segera menginjak rem. Namun sayang, rem nya tiba-tiba tidak berfungsi. Berkali-kali ia berusaha menginjak rem, namun mobilnya tak kunjung berhenti.

Bruukk

Brruuaakkkk

Duuaakkkkk

Dduuuaarrr…..

Mobil Kyuhyun menabrak beberapa mobil dihadapannya yang tengah berhenti, lantas terguling

 

To Be Continued

 

Ini part sebenarnya rencana mau langsung end, tapi takutnya terlalu panjang. Jadi author bagi jadi 2 part yang chapter 10..